Archive for the ‘MENGETUK DINDING JIWA’ Category

MENGETUK DINDING JIWA BAG. II

July 25, 2011

BAGIAN II

MAKNA HIDUP DAN MATI DALAM MENEMUKAN JATI DIRI

I. PENDAHALUAN

Seperti yang telah kita utarakan dalam tulisan „ Menggapai perjalanan abadi“ akan terkait dengan pemahaman atas pandangan hidup dan mati, oleh karena itu sebagai pendekatan untuk menggugah kekuatan pikiran positif diperlukan daya dorong agar kita selalu untuk membangun kebiasaan yang produktif sebagai suatu cara dalam usaha menemukan jati diri, agar kita selalu tertuntun kejalan yang benar menuju perjalanan abadi.

Jadi sebagai muslim, pendekatan untuk memberikan daya dorong dalam bersikap dan berperilaku, maka dua kata (hidup dan mati) dalam mengungkapkan hihmak berpikir untuk menentukan kadar iman dan amal manusia dalam kehidupan beragama dimana manusia mengungkapkan keyakinan dan kepercayaan yang terkait dalam siapa, darimana dan kemana manusia.

Sejalan dengan pemikiran tersebut diatas, untuk menggerakkan kekuatan „OTAK“ dalam keyakinan anda atas makna „Orang, Tawakal, Amanah, Kerja) dapat diaktualisasikan dalam mengungkit kekuatan berpikir „dari yang tidak tahu menjadi tahu“ dengan memanfaatkan alat pikir yang kita sebut dengan „Kesadaran, Kecerdasan, Akal“, maka ia berusaha untuk mengungkit makna „HIDUP“ dalam arti Hijrah, Insyaf, Durhaka, Usaha, Pahala dan MATI dalam arti Malaikat, Ajal, Takdir, Istrihat.

Bertolak dari pikiran diatas, seberapa jauh anda dapat merenungkan makna kata tersebut menjadi suatu untaian kalimat yang dapat mnggugah anda berpikir, sangat bergantung keinginan ingin tahu anda untuk melakukan perubahan dalam bersikap dan berperilaku. Jadi keinginan merupakan salah satu pondasi dari kebiasaan yang produktif haruslah berpinjak kepada niat anda untuk anda dapat menggerakkan kekuatan pikiran.

II. AKTUALISASI MAKNA HIDUP

Bila kita sejenak mau berpikir tentang perjalanan hidup ini, maka untuk menjawab siapa, darimana, dan kemana manusia, untuk itu kita pikirkan bagaimana sebaiknya kita menjalani hidup ini sebaik mungkin sesuai dengan ajaran agama yang diyakini.

Makna hidup seperti yang terungkap dalam surat dan ayat dalam Al Qur’an akan mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan :

  • Kehiupan sebenarnya adalah di akhirat
  • Kehidupan di dunia hanya permainan
  • Kehidupan di akhirat lebih baik dan kekal
  • Kafirin lebih senang kehidupan dunia
  • Jangan menyia-nyiakan di dunia karena sangat sebentar
  • Harta dan anak merupakan perhiasan ke hidupan dunia
  • Di hari kiamat Tuhan menghidupkan manusia seperti biasa
  • Akhir dari kehiduan adalah pertemuan dengan Tuhan, dan seterusnya.

Dengan menyimak dan merenungan apa yang tertuang dalam SQ. No.2, 3, 4,5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 36, 37, 39, dan seterusnya dengan ayat- ayat yang melekat didalammya.

Sebagai contoh lihat dalam SQ. 2 28” Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

Jadi dengan membaca, menterjemahkan, meneliti, mengkaji, menghayati, memahmi, dan mengamalkan, diharapkan seberapa jauh kita dapat menyingkap sifat dasar manusia yang tidak lepas dari kesalahan dan dosa, maka dalam perjalanan hidup ini dalam usaha menuju kesucian jiwa, maka setiap kita melangkah dalam bersikap dan berperilaku kita menyadari sepenuhnya tujuan, tugas, fungsi dalam hidup ini.

III  MAKNA HIDUP DALAM ISLAM 

Untuk menggugah pikiran, maka diperlukan daya dorong melalui penguraian makna „HIDUP“ dari unsur huruf menjadi kata yang bermakna kedalam kata (H)ijrah, (I)nsyaf, (D)urhaka, (U)saha, (P)ahala.

1. Makna „HIJRAH“ dapat kita ketemukan dalam Al Qur’an pada surat dan ayat yang tercantum dalam SQ. 2 : 218 ; 3 :195 ; 4 : 89, 97, 98, 100 ; 8 : 72, 74, 75 ; 9 :20 ; 16 : 41, 110 ; 22 : 58 ; 24 : 22 ; 29 : 26 ; 59 : 8, 9 ; 60 : 10, sebagai contoh dibawah ini dingkapkan pada surat :

SQ. 2 : 218 „Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“

Dengan pmikiran itu, kita selalu harus mengingat-ingat pada setiap saat bahwa kita perlu melaksanakan hijrah dari perbuatan yang tidak dibenarkan menuju ke jalan yang benar agar kita selamat menuju perjalanan hidup abadi dari perbuatan seperti yang kita kemukakan dibawah ini :

  • Dengan keterbatasan ilmu dapat menimbulkan salah pandang yang berdampak pengetahuan ketidak ketahuan hamba terhadap penciptanya.
  • Dengan sadar dari kemampuan berpikir menjadi perbuatan yang disebut „bid’ah“ artinya manusia secara sadar dalam beribadah mengada-adakan dengan cara baru.
  • Perbuatan manusia yang menimbulkan dosa besar yan tersembunyi karena sifat manusia yang dikendalikan nafsu menjadi manusia sombong, angkuh, bangga diri dsb.
  • Perbuatan manusia ang berbuat dosa yang zahir seperti merampok, memakan dan meminum yang terlarang dsb. Bila manusia berbuat sesuatu dosa kecil menjadi dosa besar karena sikap dan perilaku 1) dilakukan secara terus menerus 2) tidak memperdulikan dosa, 3) bangga dengan dosa 4) mengabaikan usaha Allah Swt untuk menutupi perbuatannya 5) manusia yang membuka aib 6) pemimpin yang tidak berakhlak diikuti.
  • Tidak berpaling dari dosa kecil yang dibuatnya, manusia haus menyadari apa yang terjadi dan berbalik untuk menemukan dirinya.
  • Perbuatan manusia yang bersifat syirik sebagai akibat ketidak mampuan manusia menuju dalam kesempurnaan dan kesucian hati, perbuatan ini yang paling berbahaya karena hati yang sakit dan mati.
  • Perbuatan manusia yang berlebihan dan melampaui batas menjadi hal yang mubah karena bjukan syetan yang mempengaruhi kepribadiannya.
  • Melalaikan kewajiban sebagai muslm sehingga ketidak kemampuan berpikir ntuk selalu mengingat Allah Swt.
  • Dampak dari adat istiadat dan kebiasaan yang merugikan manusia dalam kehidupannya seperti pecandu dsb.
  • Ketidak kemampuan manusia dalam mewujudkan tujuan hidupnya tanpa melibatkan Allah Swt.

Sejalan dengan pemikiran diatas, untuk memberikan daya dorong dalam menjalankan kehidupan ini, simaklah apa yang tercantum dalam Al Qur’an pada surat dan ayat sbb.

SQ. 4 : 100“ Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

SQ. 3 : 102“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.“

Seberapa jauh kita dapat memahami dan mengamalkan makna surat dan ayat tersebut kedalam pikiran kita yaitu :

  • Kasih akan harta lupa akan kubur
  • Kasih akan dosa lupa akan tobat
  • Kasih pada dunia lupa akan akhirat.

Sehingga mereka lupa pada agama dan lupa kepada Allah Swt, oleh karena itu hidup ini penuh dengan sandiwara, alau kita tidak hati-hati menjalaninya, maka kita akan terperangkap oleh bujukan syetan, sehingga bila kita merasakan terpeleset dalam kehidupan ini, perlulah kita hijrah pada saat kita menghadapi cobaan dan peringatan yang diberika oleh Allah Swt. Dalam hidup yang kita jalani sebagai ujian keimanan seseorang. Apakah kita tetap dalam kemampuan berpikir mengagungkan kebesaran Allah St. Sebagai suatu wujud dari suatu keyakinan bahwa yang nampak seluruhnya terjadi qudrad Allah Swt.

2. Makna „INSYAF“ , manusia setelah dicoba dan diperingatkan atas ketidakmampuannya dalam menjalankan hidup yang diridhoi oleh Allah Swt, yang dapat menghancurkan dirinya, maka ia sadar dengan memohon ampun atas dosa yan dibuatnya. Jalan pikirannya manusia dengan insyaf itu manusia dalam perjalanan hidupnya ingin menebus dosa artinya dalam buah oikiran ia merasa takut dan menyerahkan diri dengan penuh harapan kepada Allah Swt.

Dengan pemikiran itu, marilah kita menyimak makna kata taubat dalam Al Qur’an yang tertuang pada surat dan ayat yaitu  SQ.2 : 279 ; 3 : 128 ; 4 : 26, 27, 92 ; 5 : 74 ; 7 : 143 ; 9 : 5, 11, 74, 102, 106, 117, 118 ; 33 : 24 ; 38 : 24 , 34; 46 : 15, 27 ; 50 : 33 ; 58 : 13 ; 60 : 4 ; 66 : 4, 5.

Sebagai contoh dibawah ini diungkap pada :

SQ.2 : 279“ Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya“.

SQ. 3 : 128“ Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim“.

SQ. 4 : 26“ Allah hendak menerangkan (hukum syari`at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana“.

SQ.5 : 74“ Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.

Dengan pemahaman kata taubat tersebut maka manusia dalam kemampuan berpikir kedalam keinginan „Insyaf“ dalam bersikap dan berperilaku menuju kesucian hati, maka dalam Al Qur’an menunjukkan aturan bertaubat seperti yang tercantum dalam surat dan ayat pada SQ.4 : 17,18 ; 6: 54 ; 16 : 119 ; 25 : 70, 71

SQ.4 : 17“ Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

SQ.4 : 18“ Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.

SQ. 6 : 54“ Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sedangkan perintah bertaubat termuat pada surat dan ayat seperti yang tercantum dalam surat dan ayat seperti yang terungkap dibawah ini :

SQ. 2 : 54” Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

SQ. 11 :3” dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.

SQ.11 : 52” Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”

SQ.11 :61” Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya).”

SQ. 11 :90” Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.

SQ.24 : 31” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

SQ. 66 : 8” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Dengan merujuk aturan dan perintah taubat yang kita ungkapkan dari Al QR’an berdasarkan surat-surat dan ayat tersebut diatas, maka timbul pertanyaan kepada manusia, apakah takut dan harapan kepada Allah Swt. Merupakan wajah dalam usaha menuju kesucian hati karena insyaf dengan hijrah memperbaiki dengan jalan bertaubat.

Jadi dengan kemampuan manusia berpikir yang dibekali ilmu pengetahuan agama mampukah ia mengobati hati yang mati dan sakit menucu kesucian hati artinya segala perintah dan hukum-Nya aku taati dan suruh-Nya aku kerjakan, larangan-Nya aku hentikan dengan segenap kerelaan, maka disitulah ia menyadari sepeuhnya hati yang bersih dalam usaha menuju perjalanan abadi yaitu selamat pada kamat.

Sejalan dengan pemkiran diatas, maka perjalanan hidp ini sesuai dengan kemampuan berpikir manusia harus membangun kebiasaan yang produktif untuk bersikap dan berperilaku kedalam usaha-usaha menuju kesucian hati dengan :

  • Meninggalkan perbuatan maksiat
  • Selalu membangun keinsyafan atas apa yang dibuatnya.
  • Bertekad dengan keinginan yang ditopang oleh niat secara ikhlas untuk tidak mngulanginya lagi.

Dengan memperhatikan hal-hal yang kita utarakan diatas, maka kita harus memanfaatkan kemampuan berpikir dalam menentukan sikap dan perilaku dalam menjalankan taubat dimana manusia akan digolngkan kedalam :

  • Golongan pertama adalah manusia yang sungguh-sungguh menjalankan taubat sepanjang akhir hidupnya yang terus berusaha menuju kesucian hati dengan harapan ia dapat diterima disisi Allah Swt.
  • Golongan kedua adalah manusia setelah berbuat menyimpang dari aturan dan perintah Allah Swt., timbul rasa takut kepada Allah, rasa penyeselan, ksedihan, dan kenistaan menimpa diringa sikap dan perilaku dicoba, diperingatkan namun menuju kesucian hati dalam keterpaksaan karena dosa besar dan kecil yang dilakukannya.
  • Golongan ketiga adalah manusia yang tidak mampu mengendalikan bujukan setan, bila ingat ia merasa bersalah dan ingin taubat tapi dilain waktu karena sifat indrawi, maka timbul perbuatan maksiatnya, sadar akan perbuatan namun memohon ampun tidak diikuti dengan kesucian hati.
  • Golongan keemat adalah manusia bertaubat tapi kebiasaan tidak berubah sehingga dalam waktu singkat dia berbuat dosa kembali tanpa perasaan insyaf.

3. Makna „DURHAKA“ adalah perbuatan manusia dengan kedangkalan berpikir tidak mampu memahami aqidah, syari’ah dan akhlaq. Mengenai kata durhaka ini dapat kita hayati dan dipahami dalam Al Qur’an pada surat dan ayat SQ.2 : 61 ; 3 : 112, 152 ; 4 : 14, 42, 117 ; 5 : 64, 68, 78 ; 6 : 5 ; 10 : 91 ; 11 : 170 ; 19 : 14, 44, 69, 86 ; 20 : 121 ; 25 : 55 ; 26 : 200 ; 37 : 7 38 : 59 ; 39 : 13 ; 40 : 58 ; 49 : 7 ; 53 : 82 ; 58 : 8, 9 ; 60 : 12 ; 65 : 8 ; 71 : 21 ; 72 : 23 ; 79 : 21 ; 80 : 42 ; 82 :6, 9, 14 ; 83 : 17 ; 96 : 15

Sebagai contoh dibawah ini diungkapkan surat-surat dan ayat pada :

SQ. 2 : 61” Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.

SQ.3 : 112” Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

SQ.4 : 14” Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.

SQ. 5 : 64” Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila`nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

SQ. 6 : 5”Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur’an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.“  

Jadi memahami surat dan ayat diatas mengingatkan kita kepada makna DURHAKA yang dikaitkan bahwa di dunia lebih mudah membuat kebaikan dari kejahatan. Tetapi manusia lebih condong membuat kejahatan dari kebaikan. Sebabnya nafsu lebih tua umurnya dari akal. Iblis lebih tua umurnya dari manusia.

Sedang manusia dikepung oleh empat penjuru musuh, kiri hawa, di kanan nafsu, di muka dunia, di belakang setan yang menunda ke muka. Tubuh dan dunia dalam kekotoran karena itu perlu pengetahuan dan keimanan serta bersihkan jiwa.

Jadi dengan hikmah berpikir dengan dituntun oleh Al Qur’an, maka kita selalu akan mengagungkan kebesaran Tuhan, sehingga kita menangkap apa yang diajarkan dan diperintah, oleh karena itu dengan kyakinan dan kepercayaan yang bulat dalam bersrah diri, maka seharusnya kita memiliki kemampuan berpikir untuk menghayati sebagai mulim mengenai

  • Ancaman Allah terhadap perbuatan durhaka
  • Balasan terhadap orang yang durhaka
  • Celaan terhadap manusia durhaka
  • Contoh balasan untuk manusia durhaka
  • Keadaan orang durhaka pada hari kiamat
  • Manusia menjadi durhaka karena merasa cukup
  • Perbuatan orang durhaka dicatat dalam kitab
  • Perbuatan mendurhakai

4. Makna „USAHA“ adalah kemampuan secara berkelanjutan untuk menumbuh kembangkan kebiasaan yang produktif sebagai perjalanan hidup artnya dengan lmu (berdasarkan informasi), pengetahuan (bersandarkan pengalaman) dan keinginan (bersandarkan niat) merupakan tonggak yang harus kita miliki dalam usaha-usaha menjalani perjalanan hidup didunia dan akhirat.

Dibawah ini kita ungkapkan sebagai daya dorong untuk dapat menarik hihmah berpikir untuk menyadarkan kita seperti yang tercantum dalam surat dan ayat dibawah in :

SQ.39 : 51“ Maka mereka ditimpa akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.

Dari surat dan ayat ini mengingatkan kita bahwa akibat buruk yang menimpa manusia karena usahanya, maka kta harus ingat pula Allah membalasi usaha orang yang sungguh mengharapkan ke hidupan akhirat seperti yan termuat dalam :

SQ. 17 : 19“ Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.

Dengan pemikiran itu untuk mengingat kita dalam berpikir bahwa Allah mengetahui segala yang diusahakan manusia karena itu hayatilah isi Al Qur’an yang tercantum pada:

SQ.6 : 3“ Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.

SQ. 13 : 42“ Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.

SQ. 47 : 19“ Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu“.

Dengan memahami dan menghayati apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, maka dalam mengamalkan atas aturan dan perintah-Nya sebagai mahluk yang dimuliakan-nya, maka ingat peringatan Allah Swt mengenai hal-hal yang terkait dengan :

  • Anggota badan menjadi saksi atas apa yang diusahakannya di dunia.
  • Usaha manusia kelak akan diperlihatkan
  • Manusia sesat karena usahanya
  • Pada hari kiamat tiap diri mendapat balasan dari yang diusahakannya.
  • Sesuatu yang di usahakan akan mendapatkan balasan
  • Tiap diri mendapat balasan dari yang diusahakannya.

Dengan menarik hihmak berpikir mengenai hal-hal yang dingkapkan diatas, marilah kita berpikir mengenai umur dan ikhtiar dimana dalam perjalanan hidup ini kita akan melangkah dengan dengan menghayati makna ikhtiar dan pertolongan Allah Swt.

Merupakan kunci keselamatan melaksanakan perjalanan hidup ini dala mengaktualisasikan berpikir bekerja, belajar menuju keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Sejalan dengan pemikiran diatas, hendaklah kita renungkan sabda Rasullah Saw. Yang sangat peduli kepada pengikutnya „ Rebutlah lima peluang sebelum terjadi lima perkara: masa mudamu sebelum tiba masatua, masa sehatmu sebelum tiba masa sakit, masa lapangmu sebelum tiba masa papa dan masa hidupmu sebelum tiba ajalmu“ (H.R. Al-Hakim)

5. Makna „PAHALA“, Hidup ini penuh dengan sandiwara bagi manusia yang selalu memikirkan kesadaran inderawi belaka, sedangkan kita diajarkan bahwa pahala amal manusia kembali pada dirinya.

Untu itulah kita berpikir dan merenung untuk memahami kata makna „PAHALA“ seperti yang terungkap dam Al Qur’an  pada SQ. No.2,3,4,5,6,7,8,9,10,11, 12, 16,17,18, 19, 20,21, 28, 29, 30, 32, 33, 35, 36, 39, 41, 42, 47, 48, 49, 52, 53, 56, 57, dan ayat-ayat yang mengikat didalamnya sebagai contoh :

SQ. 2 : 62“ Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka „

SQ.3 : 57“ Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.

SQ. 4 : 40“ Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.

SQ. 5 : 9“ Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

SQ. 6 : 160“ Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

SQ.7 : 161“ Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil): “Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi) nya di mana saja kamu kehendaki.”. Dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu”. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.

Bila kita merenung surat dan ayat tersebut diatas, maka dorongan untuk menghayati, memahami dan mengamalkan dengan menjalankan aturan dan perintah Allah Swt. Akan mendapatkan pahala bagi yang berbuat baik, beriman, bertakwa dsb, yang kesemuanya terbentuk karena akhlak dan martabat dalam bersikap dan berperilaku sebagai pancaran dari takut dan harapan kepada Allah, oleh karena itu manusia hidup dalam usaha menuju kesucian hati.

PENUTUP

Bertitik tolak dari kemampuan mengungkit kekuatan berpikir melalui dengan (M)embaca, (M)enterjemahkan, (M)Meneliti, (M)engkaji, (M)enghayati, (M)emahami, (M)engamalkan, maka kita ungkapkan makna huruf dalam kata „HIDUP“ dari huruf menjadi untaian kalimat yang bermakna.

Dengan pemahman itu diharapkan menjadi daya dorong dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan pemikiran untuk membangun kbiasaan yang prouktif, sehingga dalam pikiran ini, hakekat HIDUP dapat kita rumuskan menjadi manusia sesuai dengan fitrahnya akan selalu HIJRAH  dari perbuatan yang salah menuju ke jalan yang benar sesuai dengan aturan dan perintahNYA, maka manusia berusaha menghayati arti hidup dengan INSYAF dalam menebus dosa dengan bertaubat sebagai manusia seutuhnya menuju kesucian hati untuk tidak termasuk golongan orang DURHAKA sehingga diperlukan membangun kebiasaan yang produktif kedalam USAHA untuk mewujudkan PAHALA yang dianugerahkan leh Allah Swt.

Dengan memahami makna HIDUP yang kita rumuskan diatas, maka sesungguhnya umur manusia memang singkat, maka dalam menempuh perjalanan hidup, manusia tidak terlepas dari berpikir, bekerja dan belajar dari tahn ke tahun, dari bulan ke bulan, dari minggu ke minggu, dari hari ke hari, jam demi jam, detik demi detik akan memperlihatkan sikap dan perilaku kita dalam kehidupan ini dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Oleh karena itu, sebagai seorang mukmim sejati ia harus menyadari sepenuhnya tentang dirinya bahwa tiada pintu kebaikan yang terbuka dan kesempatan yang terbentang, melainkan dimanfaatkannya secara maksimal menabung selaksa kebaikan demi akhir kehidupannya kelak, ia tidak merasa puas dengan kebaikan yang banyak yang ia lakukan dan tidak merasa cukup dengan bekal ketaatan yang pernah diamalkannya.

Setiap waktu dari umurnya dan setiap pintu hidup dalam kehidupannya senantiasa dipergunakan untuk berpacu memperbanyak amal-amal kebajikan yang dilandasi ke ikhlasan semata-mata menuju kesucian hati dengan menharapkan ridho Allah Swt.

BAGIAN III

MAKNA IMAN DAN AMAL DALAM PANDANGAN BATHIN

I.  P E N D A H U L U AN

Dapatkah kita membayangkan seseorang yang berada di puncak kekuasaan dengan memiliki gudang dunia dan seorang penguasa besar yang memiliki harta yang melimpah, kedua-duanya mengaku seorang muslim.

Tidak diragukan lagi bahwa mereka memahami arti syahadat : “Tiada Tuhan selain Allah” dan begitu pula mereka memahami syahadat : “Bahwa Muhammad itu Rasul Allah”

Tapi sebaliknya dalam kehidupan ini, kaum muslimin tidak memahami kalimah syahadatain tersebut, itulah ssatu kenyataan yang kita hadapi.

Renungkanlah kembali surat dan ayat dibawah ini :

S.Q.2 : 37 “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

S.Q. 4 : 64 “Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

S.Q. 59 : 7  “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

Ketiga surat tersebut, seandainya ia mengaku muslim. akan mem-berikan getaran jiwa untuk memahami arti syahadat, tapi karena mereka berpaling dari Allah, suka mengumbar nafsu dan lalai. Otanya terserang tumor. Setiap dokter ia datangi dan setiap obat ia coba sehingga ia harus banyak mengeluarkan uang. Tetapi semua itu tidak ada hasilnya, karena ia akhirnya meninggal dunia tanpa membawa amal dan tanpa membawa harta.

Apa artinya itu semua bagi perjalanan hidup ini, bayangkanlah mahalnya IMAN itu. Kita tahu arti iman tetapi kita belum dapat menghayatinya bahwa iman adalah asas penting, yang menjadi landasan tempat berdirinya pribadi mukmin. Kalau manusia diiba-ratkan seperti sebatang pohon, maka iman adalah akar tunjang untuk pohon itu. Kalau manusia diibaratkan seperti sebuah rumah, maka iman adalah pondasi tempat berdirinya rumah itu.

Demikianlah pentingnya iman dalam usaha melahirkan seorang manusia yang sempurna dan diridhoi Allah Swt. Tanpa iman sese-orang itu akan sama seperti pohon yang tidak berakar tunjang atau rumah rumah yang tidak memiliki pondasi. Maknanya seseorang yang tidak memiliki iman tidak akan memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan hidup.

Untuk menghayatinya cobalah renungkan hal yang kita ungkapkan dibawah ini :

“Setiap sesuatu mempunyai hakikat. Seseorang belum akan dapat mencapai hakikat iman, hingga ia maklum sungguh bahwa suatu kebenaran tiada akan membimbingnya kepada kesalahan, dan sesuatu kesalahan tiada akan membimbingnya kepada kebenaran” (Al Hadisth, riwayat Abi Addardak)

“Takutlah dirimu kepada Tuhan  seolah-olah engkau selalu menampaknya , sekalipun engkau tak menampaknya, tetapi ia selalu melihat setiap gerakmu, sebelum maut menyentuhmu! Takutlah kepada permohonan seseorang yang teraniaya, karena permohon-annya itu akan dikabulkan Tuhan! “ (Al Hadisth, riwayat Zaid bin Arqam).

II. MAKNA IMAN

Islam dapat tegak dan kekal dalam pribadi atau masyarakat manusia hanya karena ada dan kuatnya iman, oleh karena itu marilah kita mencoba dalam memahami IMAN dan AMAL dengan menguraikan dari sudut unsur huruf menjadi kata bermakna yaitu :

I menjadi IKRAR

M menjadi MANUSIA

A menjadi ALLAH

N menjadi NABI

A menjadi AKHLAK

M menjadi MARTABAT

A menjadi AJARAN

L menjadi LANGKAH

Kedua kata ini memiliki makna saling terkait dalam pandangan muslimku, karena kedua kata ini dapat menggugah kemampuan untuk menggerakkan makna “OTAK” dalam berpikir sehingga ia dapat menuntun muslimku dalam bersikap dan berperilaku.

Kemampuan menggerakkan berpikir berarti seberapa jauh kita dapat mengungkapkan pikiran dalam perjalanan hidup ini dimana kita hidup di zaman baru bahwa kita berada saat ini, bukan zaman dimana wahyu diturunkan secara bertahap dalam masa yang berbeda dalam masa kehidupan nabi, para rasul, dan pengikutnya.

Oleh karena itu sebagai muslim, aku berserah diri dengan keyakinan bahwa dalam keterbatasan kemampuan berpikir itu aku berserah diri dalam menuju perjalanan abadi untuk itu maka aku berpikkir dalam posisi takut dan harapan kepada Allah Swt hingga dalam bersikap dan berperilaku untuk selalu berpikir melibatkan Allah. Dengan pendekatan itu kita diingatkan untuk menempatkan diri menuju kesucian hati.

Dengan kemampuan berpikir itu, kita akan selalu mengaktualisasi-kan alat pikir yang disebut KESADARAN, KECERDASAN dan AKAL. Kedalam berpikir yang disadari dan tidak disadari artinya disatu sisi kita dapat mengungkapkan pikiran yang tidak disadari yang disebut INTUISI artinya hasil kerja hati dengan penghayatan, dan disisi lain kita dapat mengungkapkan pikiran yang disadari artinya hasil kerja dari OTAK sebagai alat pikir dengan HATI sebagai alat menghayati.

Sejalan dengan pemikiran diatas maka dalam berpikir yang disadari kita dapaat menggerakkan kemampuan berpikir kedalam bentuk berpikir biasa, berpikir logis, berpikir ilimiah, berpikir filsafat dan berpikir theologis.

Dengan demikian tersebut dalam pandangan muslimku bahwa   Islam adalah amalan lahir. Iman adalah amalan hati (batin). Kalau iman kuat. Islam pasti kuat. Tetapi bila islam yang kuat belum tentu imannya kuat. Hal itu seharusnya menjadi perhatian dalam kehidupannya. Jangan sampai kita menjadi orang kuat beramal saja tetapi lemah imannya, sebaliknya jadilah orang kuat beriman dan kuat beramal. Allah menjanjikan keuntungan tertentu hanya bagi orang-orang yang beriman dan beramal. Renungkanlah Firman Allah Swt. seperti yang termuat dalam Al Qur’an pada :

S.Q. 103 : 1, 2, 3 “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Dari surat tersebut Allah menyebutkan iman terlebih dahulu, sebagai syarat bahwa amalan yang diawali atau didorong oleh iman saja yang dinilai. Rasulullah turut mengingat itu dengan sabda baginda “Allah tidak melihat kepada rupamu dan hartamu (gambaran lahir) tetapi Dia melihat hati kamu dan amalan kamu” (Riwayat : Muslim).

Dalam kehidupan sehar-hari kita biasa mendengar kata iman diucapkan oleh setiap individu yang mengaku sebagai muslim. Tapi apakah ia sadar apa yang diucapkannya. Dalam kata iman itu sendri mengandung makna yang harus dihayati kedalam kesucian hati menjadi janji sebagai muslim artinya orang yang beragama islam.Menjadilah seorang mukmin artinya orang yang beriman di jalan Allah Swt, dan diharapkan menjadi muttaqin artinya orang yang tawakal.

Dengan kemampuan seseorang berpikir, maka ia dapat merenung-kan arti janji yang kita utarkan diatas, sehingga janji adalah sebagai ukuran sampai dimana keluhuran budi seseorang karena bagi mereka janji adalah hutang. Jadi yang dinamakan janji tidak bisa dibayar dengan apapun, kecuali melaksanakan janji itu.

Sebagai suatu pendekatan untuk menghayati arti iman dapat kita ungkapkan dari unsur hudruf menjadi kata bermakna kedalam un-taian kalimat yang dapat dipergunakan untuk memberikan daya dorong menjalankan kehidupan ini yang bersumber dari firman Allah Swt yang dimuat dalam Al Qur’an sebagai berikut :

I menjadi IKRAR

M menjadi MANUSIA

A menjadi ALLAH

N menjadi NABI

1. IKRAR dalam unsur kata (I)MAN

Kata ikrar artinya janji seseorang dalam membuat pengakuan.

Dalam Al Qur’an, kata ikrar dapat kita ketemukan dalam surat :

S.Q. 2 : 84 “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.”

S.Q. 2 : 89” Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.

S.Q. 9 : 75 “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.

S.Q. 9 : 77” Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.”

Dari keempat surat yang kita ungkapkan diatas, mendorong untuk kita menghayati arti pengakuannya kedalam kalimah Syahadatain. Dengan demikian setiap yang kita ucapkan sebagai muslim, mukmim dan muttaqin kita dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan ikrar yang kita ucapkan.

Di jaman modern ini, manusia tahu arti syahadat : Tiada Tuhan selain Allah.Dan bahwa Muhammad itu Rasul Allah.

Bila ia mengaku sebagai muslim hanya didasarkan bahwa paham ia mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagai ikrar untuk masuk islam, tapi dalam kehidupan selama niat itu tidak direalisasikan dalam perbuatan bersikap dan berperilaku, maka menurut penilaian Allah Swt, ia belum mempunyai arti, selama niat itu belum ditun-jukkan dalam penyerahan sebulat hati artinya segala perintah dan hukum-Nya aku taati, suruh-Nya aku kerjakan, larangan-Nya aku hentikan deengan segenap kerelaan.

Dalam S.Q. 13 : 25 “Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).”

Dari surat tersebut harus dapat menggugah dalam menuju kesucian hati untuk mengingatkan dalam perjalanan hidup bahwa balasan untuk orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan.

2. MANUSIA dalam unsur kata I(M)AN :

Mengenai manusia begitu banyak diungkapkan dalam Al Qur’an dari 114 surat, tidak kurang 77 surat pada surat No. 2 – 36, 38-39, 41-47, 49-59, 62-64, 66, 70-72, 80, 82-84, 86, 89-90, 95-96, 99-100,103,110,114.  yang membicarakan kata manusia dalam surat-surat tersebut.  Bila kita mengungkapkan soal manusia dalam pikiran kita mempertanyakan yang terkait dengan SIAPA, DARIMANA dan KEMANA ?

SIAPA, adalah manusia sebagai khalifah di muka bumi. Firman Allah Swt yang termuat dalam:

 S.Q. 2 : 30 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

DARIMANA. sejarah manusia dimulai dari diciptakannya Adam. Adam menurut Al Qur’an adalah manusia pertama dari mana generasi manusia dimulai. Jadi Allah menciptakan manusia bergenerasi. Untuk telah difirman dalam Al Qur’an pada

S.Q. 76 : 1” Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”

S.Q. 20 : 53, 54, 55 “Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.(53)

“Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguh-nya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.(54)

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.(55)

Jadi Allah Swt tidak membatasi bahwa yang diciptakan dari unsur debu maupun tanah itu hanya Adam sendiri, tetapi semua manusia diciptakan dari unsur debu juga dan kepadanya kita akan kembali.

KEMANA, Adam telah dijanjikan untuk menjadi khalifah di bumi semenjak sebelum diciptakan, dalam waktu sekejap mata yang memberitahukan tentang akan datangnya makhluk baru (manusia).

Dalam S.Q. 33 : 72 “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,”

Dari surat diatas bahwa manusia memikul “amanat”, merupakan kekhususan yang dapat membedakan antara manusia dengan makhluk-makhluk lain di antaranya para malaikat.

Sejalan dengan pemahaman kita diatas, bila kita dapat memelihara serba sedikut tentang sifat-sifat manusia sebagai muslim, mukmim, muttaqin sebagaimana yang dikhndaki oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Semoga dapat menuntun kita dalam perjalanan hidup ini. Didalam Al Qur’an banyak diungkapkan. Sedikit kita ungkapkan untuk kita hayati, namun bila yang sedikit ini dapat kita aktualisasi-kan, insya Allah yang banyak akan mudah dilaksanakan

S.Q. 23 – 1-9” Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.”

Pada surat dan ayat tersebut menyebutkan sifat-sifat yang membu-at orang-orang mukmin itu menang dan beruntung yaitu :

  • Beriman
  • Khusyuk dalam shalat
  • Menunaikan zakat
  • Menjaaga kemaluan
  • Memelihara amanah dn janji
  • Memelihara shalat

Dengan menjaga dan memelihara sifat-sifat yang sedikit diatas untuk menuntunnya. Manusia mengaku berpenghaarapan pada Allah, namun ia berdusta, demi Tuhan Yang Mahaagung ! Kenapa tak tampak tanda-tandanya dalam amalnya ?!. Siapa saja yang berharap kepada seseorang pasti terlihat buktinya dalam apa saja yang dilakukannya, namun anehnya  harpan kepada Allah selalu tak lepas dari kepalsuan. Semua ketakutan adalah pasti, tapi ketakutan terhadap Allah selalu diliputi keraguan.

3. ALLAH dalam unsur kata IM(A)N :

Didalam Al Qur’an, mengenai kata Alllah banyak diungkapkan dari 114 Surat, dimana terdapat 87 surat yang membicarakannya. Hanya 27 surat yang tidak mengungkapkan yaitu surat No.60, 68, 75, 77, 78, 80, 83, 86, 89, 90, 92-94, 97, 99, 100-103, 105-109, 111, 113, 114.

Disamping itu banyak kita ketemukan didalam surat dan ayat yang dapat memberikan daya dorong dalam kita berpikir untuk mengha-yati dalam hal-hal yang berkaitan dengan :

  • Balasan Allah untuk orang yang berbuat kebajikan
  • Bantahan Allah terhadap ocehan kaum musyrikin
  • Ciptaan Allah menurut ukuran teertentu
  • Keagungan Allah
  • Kekuasaan Allah yang tergambar pada alam semesta
  • Ketenteraman bagi orang yang mengingat Allah
  • Allah lambat dalam menghukum
  • Mata manusia tidak dapat melihat Allah
  • Allah mengazab setelah memperingatkan
  • Allah mengetahui yang lahir dan yang bathin
  • Allah mengetahui yang tersembunyi
  • Allah menunjukkan jalan pada orang yang berjihad
  • Pemeliharaan Allah atas\wahyu yang diturunkannya
  • Allah pencipta alam semesta
  • Penegasan Allah bahwa wahyu yang diturunkan kepada naba Muhammad adalah benar.
  • Dan seterusnya.

Pemahaman mengenai hal-hal diatas mendorong kita memiliki kesadaran untuk takut dan menaruh harapan kepada Allah Swt, oleh karena itu marilah kita ungkap yang terdapat dalam Al Qur’an

S. Q. 2 : 74 “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”

S.Q. 2 : 40 “Hai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).

S.Q. 2 : 150 “Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan ni`mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.”

S.Q. 2 : 235 “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma`ruf. Dan janganlah kamu ber`azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”

Dari surat dan  dayat yang kita ungkapkan diatas mengingkatkan kita bahwa hanya kepada tuhanlah harus takut. Sejalan dengan itu kita dapat membayangkan manusia yang mengharapkan Allah Swt. tapi dalam kehidupan manusia lupa beramal untuknya. Oleh karena itu seandainya kita mau berpikir untuk mempertebal keyakinan dan percaya atas kebesaran Allah Swt, maka anjuran untuk takut kepada Allah, alangkah banyaknya ayat-ayat yang terdapat dalam Al Qur’an yang mulia yang mengingatkan kita tentang ktakutan kepada Allah.

Yang menjadi pertanyaan kita bahwa mampukah kita memahami mengenai masa beredar detik demi detik, tidak pernah berhenti. Satu detik yang ditinggalkan berarti satu detik umur kita hilang. Satu detik berlalu bermakna satu detik juga bertambah dekat dengan kematian.

Dengan pikiran itu, diharapkan dapat menggugah hati kita untuk selalu belajar, hanya dengan ilmulah kita menangkap bayang-bayang ketakutan dalam arti menuju kepangkuan harapan kepada Allah. Bila selalu kita bangkitkan kesadaran rohanniah, maka ter-buka pintu hati untuk berpikir ke arah dari yang tidak tahu menjadi tahu dengan begitu kita akan menyadari arti kehidupan dalam me-nuju perjalanan abadi.

Dibawah ini kita ungkapkan surat dan ayat tentang ketakutan kepada Allah Swt pada :

S.Q. 2 : 48 “Dan jagalah dirimu dari (`azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa`at dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.

S.Q. 3 : 102 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

S.Q. 3 : 169 – 175 “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”(169)

“mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(170)

“Mereka bergirang hati dengan ni`mat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.(171)

“(Yaitu) orang-orang yang menta`ati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.(172)

“(Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (173)

“Maka mereka kembali dengan ni`mat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (174)

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (175)

S.Q. 6 : 15 –18 “Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.”

“Barangsiapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. (16)

“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (17)

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(18)

S.Q. 6 : 48 – 49 “Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik.(49)

S.Q. 8 : 2 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,”

S.Q. 22 : 1-2 “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).

“(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.  (2

S.Q. 22 : 34-35 “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),

“(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka.” (35)

S.Q. 23 : 57 – 61 “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,

“Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka,

“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun),

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,

“mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

S.Q. 23 : 101 – 111” Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.

“Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.

“Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.

“Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.

“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?

“Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat.

“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”

“Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.

“Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdo`a (di dunia): “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.

“Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka.

“Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.”

S.Q. 24 : 36-38 “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,

“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

“(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

S.Q. 33 : 63-68 “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.

“Sesungguhnya Allah mela`nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka),

“mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong.

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul”.

“Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).

“Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”.

S.Q. 52 : 25-28 “Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya.

“Mereka berkata: “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)”.

“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.

“Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.

S.Q.55 : 46 “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.

S.Q. 80 : 34-37 “pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,

“dari ibu dan bapaknya,

“dari isteri dan anak-anaknya.

“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.

Apa yang kita ungkapkan diatas serta memahami apa yang tercan-tum dalam surat dan ayat tersebut, maka kita menyadari sepenuh-nya bahwa anjuran takut kepada Allah Swt didasarkan petunjuknya secara langsung yang kita sadari untuk menyadarkan dalam ke-mampuan kita berpikir dari menghayati atas ciptaannya termasuk manusia itu sendiri sebagai khalifah di bumi.

Dengan menggerakkan alat berpikir berupa kesadaran, kecerdasan dan akal dalam memanfaatkan makna “OTAK” dalam perjalanan hidup ini, maka seluruh keyakinan dan kepercayaan dengan berse-rah diri secara bulat akan mendukung dalam bersikap dan berperi-laku untuk takut kepada Allah Swt.

Sahabat Anas Ibnu Malik r.a. telah menceritakan dari Nabi saw. Bahwa Nabi saw telah bersabda :

“Seseorang di antara kalian tidak beriman sebelum mencintai diriku lebih dari kecintaannya terhadap orang tuanya, anak-anaknya dan manusia semuanya” (Riwayat Syaikhain dan Imam Nasai)”

Maksudnya, Nabi saw. Lebih dicintai olehnya daripada manusia semuanya. Atau dengan kata lain, tidaklah sempurna iman seseorang sebelum ia mendahulukan hal-hal yang diridai Allah dan Rasul-Nya daripada hal-haal yang memuaskan kaum kerabat terdekatnya.

Jadi apa yang telah kita utarakan bahwa keutamaan takut kepada Allah swt. melalui ayat-ayat untuk membuka mata hati manusia yang ditunjukkan ungkapan dalam Al Qur’an mengenai :

  • Beberapa perintah dan larangan Tuhan kepada Bani Israil ; Keharusan menjaga persatuan ;
  • Pahala orang-orang yang mati syahid ;
  • Keagungan Allah dan persaksiannya atas kenabian Muhammad Saw
  • Kesempurnaan ilmu Allah dan bukti-bukti ksaksiannya
  • Sifat-sifat orang mukmin
  • Kedahhsyatan hari kiamat
  • Haji , manasiknya dan syi’arnya
  • Sifat-sifat seorang muslim yang mukhlis
  • Peristiwa-peristiwa pada hari kiamat dan kedahsyatannya
  • Mereka yang mendapat pancaran nur ilahi
  • Hanya Allah yang mengetahui kapan terjadinya hari berbangkit
  • Ancaman terhadap orang-orang kafir
  • Sumpah-sumpah yang menandaskan bahwa azab Allah pasti datang kepada orang-orang yang mendustakan dn krunianya pasti akan dilimpahkan kepada orang-orang yang takwa
  • Pahala bagi orang-orang yang bertakwa
  • Peringatan Tuhan kepada manusiayang tidak tahu hakikat dirinya.

Selain dari apa yang kita utarakan diatas, takut kepada Allah Swt, dapat juga digugahkan oleh pikiran yang kita peroleh dari pengamatan dan atau pengambilan pelajaran yang ditunjukkan oleh Allah dengan beragam kejadian dalam bentuk peringatan, cobaan, musibah dan azab.

Disamping itu kita ketahui pula melalui hadits yang melukiskan misalkan dalam mengembangkan pikiran seperti untuk memahami makna ciri iman yang sempurna sebagai contoh :

Sahabat Anas Ibnu Malik r.a. telah menceritakan dari Nabi saw. Bahwa Nabi saw telah bersabda :

“Seseorang di antara kalian tidak beriman sebelum mencintai diriku lebih dari kecintaannya terhadap orang tuanya, anak-anaknya dan manusia semuanya” (Riwayat Syaikhain dan Imam Nasai)”

Maksudnya, Nabi saw. Lebih dicintai olehnya daripada manusia semuanya. Atau dengan kata lain, tidaklah sempurna iman seseorang sebelum ia mendahulukan hal-hal yang diridai Allah dan Rasul-Nya daripada hal-haal yang memuaskan kaum kerabat terdekatnya.

4. NABI dalam unsur kata IMA(N) :

Memahami syahdat Muhammad itu Rasul Allah, bahwa Rasulullah itu benar-benar Rasul Allah yang dipercayakan untuk menyampai-kan risalah. Risalah petunjuk yang senantiasa menyertai ummat manusia  untuk ditaati dan diikuti.Dialah satu-satunya orang yang dipercayai Allah untuk mnyampaikan ayat-ayat yang wajib dipa-tuhi bersama dengan kepatuhan kepada Allah Swt.

Mengenai nabi ini didalam Al Qur’an banyak diungkapkan dalam surat-surat No.2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 12, 16, 17, 19, 21, 22, 25, 33, 37, 39, 43, 49, 65, 66, 71. Sebagi contoh dari surat tersebut dapat diungkapkan pada ;

S.Q. 2 :136 “Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

S.Q. 3 : 81 “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

S.Q. 4 : 26 “Allah hendak menerangkan (hukum syari`at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

S.Q. 5 : 20 “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah ni`mat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.

S.Q. 6 : 87 “(dan Kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

S.Q. 7 : 94 “Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.

S.Q. 8 : 64 “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mu’min yang mengikutimu.

Kita pahami bahwa Wahyu adalah petunjuk yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertam ketika beliau berusia 40 tahun. Mengenai wahyu itu banyak kita ketemukan dalam Al Qur’an dan bila kita merenung dan menghayatinya, maka kita melangkah dalam perjalanan hidup ini untuk menjahui atas perbuatan kekufuran, bid’ah, lalai dan cinta dunia

Cobalah kita renungkan surat dan ayat yang diungkapkan dibawah ini untuk lebih menggerakkan menuju kesucian hati pada :

S.Q. 6 : 19 “Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.

S.Q. 11 : 14 “Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka (katakanlah olehmu): “Ketahuilah, sesungguhnya Al Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?”

S.Q. 12 : 3 “Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.”

S.Q. 13 : 30 “Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat”.

Dengan surat dan ayat tersebut diatas menunjukkan kepada kita bahwa Al Qur’an di wahyukan kepada nabi Muhammad, selanjutnya kita yakini pula dengan surat dan ayat dibawah ini :

S.Q. 2 : 33 “Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

S.Q. 3 : 44 “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.”

KESIMPULAN

Di jaman modern ini, manuia dalam perjalanan hidup ini terperangkap kedalam pola pikir yang disebut dengan paham sekulerisme yang sangat mendorong orang kedalam kesadaran inderawi yang amengagungkap pandangan hidup yang bersifat materistik, sehing-ga orang kaya dan terhormat terlalu disanjung sedangkan orang miskin dan tidaak berpangkat dianggap orang hina. Kiranya pikiran ini tidak perlu kita perdebatkan dalam menyelami pandangan iman.

Diatas telah kami ungkapkan satu pendekatan untuk memandang kadar iman yang dilihat dari unsur huruf dalam kata iman menjadi kata yang bermakna dalam hidup ini. Oleh karena itu bila kita ru-muskan menjadi dari huruf menjadi untaian kalimat yang bermakna maka kata IMAN dapat dirumuskan bahwa :

IMAN adalah suatu pernyataan yang diucapkan oleh orang tuanya setelah melahirkan sang bayi, setelah berumur dengan memahami berdasarkan ilmu pengetahuan agama, ia meluruskan IKRARnya dengan mengucapkan syahadatin sebagai MANUSSIA dengan yakin dan percaya dalam berserah diri secara bulat kepada ALLAH dan RASULNya artinya segala perintah dan hukumnya aku taati ; suruhNya aku kerjakan, laranganNya aku hentikan.

Berdasarkan konsep berpikir diatas, maka kita membedakan ting-katan iman dalam kehidupan manusia sejalan dengan kemampuan berpikir manusia.

Dalam berpikir manusia dapat menggerakan alat berpikir yang kita sebut dengan KESADARAN, KECERDASAN dan AKAL. Setiap kita melangkah dalam bersikap dan perilaku akan dituntun oleh kemampuan kita menggerakkan alat berpikkir tersebut.

Dengan memanfaatkan makna “OTAK” untuk berpikir, bekerja dan belajar, sehingga dapat diaktualisasikan secara produktif sesuai dengan visi hidup anda, agar kita percaya diri maka pada usia lanjut tidak mengenal pikun kecuali faktor-faktor yang harus di-pertimbangkan seperti kondisi medis. Sejalan dengan pemikiran tersebut, memperhatikan tahapan usia seperti yang dikemukakan oleh Ibnul Jauzi yang membagi umur ini menjadi lima masa yaitu :

  • Masa kanak-kanak, sejak dilahirkan hingga mencapai 15 th.
  • Masa muda dari 15 th s/ d 30 th.
  • Masa dewasa dari 30 th s/d 50 th.
  • Masa tua dari 50 th s/d 70 th.
  • Masa usia lanjut dari 70 th s/d hingga akhir umur yang dikaruniakan oleh Allah Swt.

Dengan memahami umur manusia diharapkan ia menyadari selalu siap bila saat tiba di panggil oleh penciptaNya, oleh karena itu dapat memberikan daya dorong dalam menghayati arti hidup ini dengan memanfaatkan otak untuk mengerjakan berbagai ketaatan, menunjukkan hatinya kepada Allah Swt dan selalu bertobat kepadaNya, sejalan dengan itu ingat kepada ucapan Iamam Syafi’I setelah mencapai umut 40 tahun, berjalan dengan bertongkat sebatang kayu. Ketika ditanya sebabnya, beliau berkata “supaya aku senantiasa ingat bahwa aku adalah seorang musafir yang sedang berjalan menuju akhirat”

Dengan menggerakkan kemampuan berpikir dengan memanfaatkan otak atas kanan dengan menggerakkan kesadaran dan otak kiri dengan menggerakkan kecerdasan serta otak bawah dengan meng-gerakkan akal untuk menghayati, maka berpikir disini terwujud dari proses mental yang sadar. Oleh karena itu aktualisasi dalam berpikir dapat berbentuk yang disebut dengan :

  • Berpikir Biasa yaitu memahami situasi dalam lingkungannya sendiri dan pengarug faktor dari luar diri dirinya.
  • Berpikir Logis yaitu teknik penalaran untuk dapat menarik kesimpulan yang korek.
  • Berpikir Ilimiah yaitu berpikir secara sistimatis, metodis dan objektif dalam mencari kebenaran dalam ilmu pengetahuan.
  • Berpikir Filsafat yaitu berpikkir dialektis yang terarah untuk mendapatkan kebenaran hakiki, integral dan universal.
  • Berpikir Theologis yaitu berpikir berdasarkan Al Qur’an yang bertujuan untuk mencapai keyakinan dan kepercayaan kepada kebesaran Allah Swt kedalam wujud Al Haq.

Dengan pola berpikir diatas yang sifat disadari (Otak dan hati) dan kita juga tidak boleh melepaskan kemampuan berpikir yang tidak disadari hati) Dengan menyatukan kemampuan berpikir tersebut  kita dapat mengungkapkan kemampuan berpikir dalam memahami dan menghayati tingkatan IMAN manusia kedalam kelompok-kelompok sebagai berikut :

PERTAMA, IMAN DENGAN TINGKAT KESADARAN TER-BAWAH (pada tarap tahu) artinya ia beriman dalam posisi sekedar ikut-ikutan, disini ia memanfatkan kemampuan dalam berpikir biasa yang hanya didorong sekedar mengikuti orang lain karena percaya kepada rukun iman, dia sendiri tidak pernah memikirkan untuk mencari tahu dalam menjawab 4W 1H dalam kehidupannya. Mengapa ia berpikir demikian tidak lain sikap dan perilaku yang didorong oleh indrawinya saja.

KADUA, IMAN DENGAN TINGKAT KESADARAN RENDAH (tahu dan mengerti) artinya ia beriman berdasarkan kepada pemikiran yang rasional, dimana keyakinan hanya dengan pertimbangan bahwa segala sesuatu berpijak dengan logika apa yang dinyatakan dengan benar menurut pikirannya.

KETIGA, IMAN DENGAN TINGKAT KESADARAN CUKUP (mengerti dan menghayati) artinya ia beriman berdasarkan kepada pemikiran yang bersifat ilimiah berusaha mencari pembenaran dari realita terhadap objektifnya.

KEEMPAT, IMAN DENGAN TINGKAT KESADARAN BAIK ( menghayati dan meyakini) artinya ia beriman berdasarkan kepada pemikiran yang bersifat filsafat berusaha meyakinkan kedalam kebenaran yang hakiki.

KELIMA, IMAN DENGAN TINGAKT KESADARAN TAUHID artinya iman yang tertinggi yang dicapai oleh para nabi dan rasul serta manusia yang telah mampu berpikir yang bersandar kepada yang bersifat agamis seperti empat imam-imam mazhab termasuk wali Allah yang besar seperti Imam Ghazali, Hasan Al Basri dsb.

Dari kelima tingkatan kita berada dimana, itulah yang menjadi per-tanyaan besar dalam kehidupan manusia saat ini, mampukah kita masuk kedalam ketingkatan keempat, itulah usaha manusia akan menuju perjalanan abadi dengan meningkatkan kemampuan berpi-kir intuisi untuk mendorong kesadaran dalam menemukan siapa, darimana dan kemana saya.

Dengan pemahaman IMAN dari sisi huruf menjadi kata bermakna kedalam (I)KRAR, (M)ANUSIA, (ALLAH), (NABI), diharapkan menjadi daya dorong untuk lebih mendalami dari sisi intuisi dan perasaan seperti yang terungkap pada kata dalam Al Qur’an yang begitu banyak dapat kita ketemukan, sebagai contoh :

 S.Q. 3 : 49 “Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”

Beriman dapat kita ketemukan pada S.Q. 2 : 3 “(payaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,”

Orang beriman dan berilmu ditinggikan derajatnya seperti yang termuat pada S.Q. 58 : 11 “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Sikap yang lemah iman dalam menghaadapi cobaan pada S.Q. 29 : 10-11 “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?

“Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.

III. MAKNA AMAL

Untuk mengembangkan kemampuan kita berpikir dalam memaha-mi makna amal, sebaiknya kita mengingatkan kembali nasehat dua perkara yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw, sesungguh-nya belaiau bersabda :

“ Ada dua perkara yang paling utama tiada tandingannya, yaitu iman kepada Allah dan memberikan manfaat untuk orang-orang muslim”

“ Hamba yang paling dicitai Allah Swt. adalah hamba yang paling bermanfaat bagi hamba lain. Amal yang paling utama adalah memberikan kegembiraan kepada hati orang mukmin, suatu kegembiraan yang menghindarkannya dari kelaparan atau kesusahan  atau membayarkan utangnya. Ada dua perkara yang paling jahat, yang tiada tandingannya yaitu mempersekutukan Allah dan membahayakan orang-orang muslim”

Dari kedua ungkapan diatas, bila kita renungkan dan hayati, maka memberikan daya dorong untuk kita mengungkapkan pemikiran mengenal amal yang kita lihat dari perangainya artinya bagaimana manusia dalam perjalanan hidup untuk bersikap dan berperilaku.

Oleh karena itu, kita merenungkan kembali ungkapan yang diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw, mengatakan bahwa :

“Tidak ada bahan lain untuk surga dan neraka bagi manusia setelah mati, kecuali atas amal perbuatannya selagi di dunia”.

Dengan mengingat hal-hal yang kita ungkapkan diatas, maka tim-bul pertanyaan pada diri kita, bagaimana caranya kita memufuk suatu kebiasaan yang produktif agar membentuk keperibadian untuk mampu mempergunakan otak dan hati. Atau dengan kata lain bahwa berpikirlah sesuka hati ini, tapi hati-hati dalam menyatakan pikiran, sehingga kalau saja kita berpikir tanpa membatasi tujuan, kita hanya pada pemikiran saja. Itu berarti kita tidak membentuk kebiasaan menjadi amal dalam bersikap dan berperilaku.

Dengan kemampuan berpikir intuisi, maka seseorang telah mengakui percaya kepada Allah dan kepada hari kemudian, dan telah me-ngakui pula kepada Rasul-rasul utusan Tuhan, niscaya dengan sendirinya kepercayaan itu mendorongnya mencari perbuatan-perbuatan yang diterima dengan rela oleh Tuhan. Niscaya dia bersiap-siap sebab dia telah percaya bahwa kelak dia akan berjum-pa dengan Tuhan. Niscaya dia senantiasa berusaha di dalam hidup menempuh jalan lurus. Jadi seorang mengakui dirinya dermawan, berusaha mencari lobang untuk menafkahkan harta bendanya kepada orang yang patut dibantu.

Dengan pemahaman diatas, maka dalam membentuk perangai menjadi suatu kepribadian yang dapat menuntun dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan dunia, marilah kita menguraikan makna amal dari sisi unsur huruf menjadi kata bermakna sehingga dapat membayangkan bahwa seorang mengaku muslim tetapi tidak mengamalkannya, bagaikan peluru yang tidak dipergunakan. Jadi nilai manusia hidup bukan hartanya saja, tetapi amalnya terhadap sesama manusia.

 

AMAL, adalah menyangkut perintah Allah SWT melalui pesuruh-Nya Nabi Muhammad SAW untuk menjalankan syariat yang menyeluruh persoalan hidup lahir dan batin, artinya Allah SWT menetapkan bahwa syariat lahir adalah untuk diamalkan oleh jasad lahir, sedangkan syariat batin adalah untuk diamal-kan oleh jasad batin (roh)

Didalam Al Qur’an kata amal dapat kita ketemukan dalam surat dan ayat pada S.Q. 2 : 167, 223 ; 3 : 57 , 136, 139 ; 5 : 53 ; 6 : 88 , 160 ; 7 : 53 , 171 ; 11 : 7 ; 17 : 13 ; 42 : 15 ; 49 : 2, 14 ; 50 : 17 ; 58 : 6 ; 67 : 2.

Sebagai contoh S.Q. 2 : 167 “Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api Neraka “

S.Q. 2 : 223 “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”

Bila kita renungkan ayat tersebut diatas dan memahami pula arti amalan, maka kita akan dapat lebih mendalami kandungan surat dan ayat lain yang akan memberikan arti dalam pemahaman keberadaan manusia sebagai khalifah di dunia ini untuk menjalan-kan AMANAH sesuai dengan perintah-NYA.

Untuk itu sebagai daya dorong dalam usaha-usaha manusia untuk selalu ingat kepada keyakinan dan berserah diri kepada Allah SWT, maka diperlukan adanya suatu cara pendekatan dalam mendorong untuk menciptakan hihmak berpikir agar kita selalu dapat menempatkan sikap dan perilaku untuk menjalankan AMANAH dengan mengingat hal-hal yang termuat dalam surat dan ayat yang menjadi batasan tentang diri kita yaitu :

  • Pemahaman arti amal saleh.
  • Balasan Allah kepada amal seseorang menurut niatnya.
  • Balasan masing-masing tergantung amalannya.
  • Balasan untuk yang beramal baik
  • Derajat seseorang disisi Tuhan sesuai dengan amalnya.
  • Hendaknya segala amal dikerjakan karena Allah.
  • Balasan terhadao orang beramal buruk.
  • Jaji Allah bagi yang mengerjakan amal saleh.
  • Kemuliaan manusia terletak pada amal dan imannya.
  • Amal salleh mempertemukan manusia dengan Tuhannya.
  • Amal saleh yang kekal lebih baik dari perhiasan dunia.
  • Setiap amal mendapat pahala dari Tuhan.
  • Setiap orang akan memetik buah amalnya sendiri.
  • Setiap orang telah ditetapkan amal perbuatannya.
  • Tuhan tidak menyianyiakan amal seseorang.
  • Amal untuk kebaikan dirinya sendiri.
  • Yang menerima buku amal dari kanan akan menerima pemeriksaan yang mudah.
  • Yang menerima buku amal dari belakang akan masuk neraka.
  • Yang mengerjakan amal dalam keadaan beriman akan diberi pahala.

Demikianlah bila kita selalu mengingat-ingat hal-hal yang kita sebutkan diatas, maka setiap kita berpikir dalam melaksanakan sesuatu akan menuntun kita dalam bersikap dan berperilaku ke jalan yang benar, maka disitulah letak kebahagian kita menyiapkan bekal dalam menuju perjalanan abadi.

Dengan pikiran itu pula, kita dapat mengembangkan pikiran untuk meletakkan landasan yang kuat dalam mewujudkan amalan dalam bersikap dan berperilaku berdasarkan pemahaman kita dari huruf menjadi kata bermakna dari amal. Oleh karena itu untuk mengembangkan kemampuan manusia dalam menemukan tentang dirinya, mari kita menghayati unsur huruf dalam amal sebaga berikut :

A menjadi AKHLAK

M menjadi MARTABAT

A menjadi AJARAN

L menjadi LANGKAH

1. AKHLAK dari unsur huruf (A)MAL :

AKHLAK, sistem nilai yang  sesuai dengan ajaran dianut oleh manusia yang sejalan dengan keyakinan dan kepercayaan yang dapat menuntun manusia dalam bersikap dan berperilaku.Oleh itu dalam islam maka sistem yang dimaksud adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber nilainya.

Jadi akhlak yang menuntun dan membentuk kepribadian individu manusia sehingga setiap individu berbeda dari orang lain, oleh karena itu seberapa jauh seseorang dapat berakhlak dengan kepribadian sesuai dengan tuntunan Allah SWT, tergantung yang bersangkutan mengangkat derajatnya di mata Allah.

Mengenai dasar-dasar akhlak dapat kita ketemukan dalam Al Qur’an pada surat-surat S.Q. 7 : 199, 200, 201 ; 2 :109 ; 3 : 134, 159 ; 4 : 149 ; 5 :13. Dibawah ini kita ungkapkan surat dan ayat yang dimaksud sebagai berikut :

S.Q. 7 : 199 “Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

S.Q. 7 : 200 “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

S.Q. 7 :201 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

S.Q. 2 : 109 “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.

Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

S.Q.  3 : 134 “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

S.Q. 3 : 159 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Dari contoh surat dan ayat yang kita ungkapkan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa bimbingan yang diberikan Islam merupakan pendekatan yang paling luhur dan paling berharga yang dapat menuntun akhlak dengan kepribadian yang luhur sehingga dapat dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan fitrah dan bakat untuk memanfaatkan hikmah berpikir ke jalan Allah SWT.

2. MARTABAT dari unsur huruf A(M)AL :

MARTABAT, tingkat harkat kemanusiaan dimata Allah SWT, dimana manusia memahami secara bulat apa maksud ia diciptakan-Nya untuk beribadah, sebagai khalifah, sebagai Ummat Nabi Saw dalam melanjutkan perjuangannya. Inilah dambaan manusia untuk menuntun harga darinya.

Untuk beribadah bukan hanya manusia tetapi seluruh makhluk di muka bumi ini beribadah menurut caranya masing-masing. Untuk itu perhatikan perintah Allah SWT dalam Al Qur’an seperi yang termuat dalam

S.Q. 24 : 41 “Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Jadi ibadanya Matahari yaitu dengan bergerak setiap hari dari tumur ke barat, begitu juga ibadahnya air yaitu senantiasa me-ngalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Apalagi manusia makhluk yang paling sempurna asal kejadiannya.

Sebagai khalifah, ketika Allah SWT menciptakan manusia, maka malaikat protes, seperti yang termuat dalam surat :

S.Q. 2 : 30 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Oleh karena itu, manusia sebagai penanggung jawab di muka bumi dan sebagai khalifatullah yang diberi sifat kasih sayang kepada seluruh manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sejalan dengan pikiran itu bahwa pada diri setiap manusia terdapat empat sifat sesuai dengan kehendak Allah SWT yaitu 1) sifat hewanniyah, menggunakan harta dan diri untuk makan, minum, dan keperluas jasmani lainnya ; 2) sifat Malaikat menggunakan harta dan diri untuk ibadah ; 3) sifat Khalifah menggunakan harta dan diri untuk memberi manfaat kepada orang lain ; 4) sifat Nubuwwah menggunakan harta dan diri di jalan Allah (untuk memperjuangkan agama Allah).

Sebagai Ummat Nabi Saw, setelah meninggal Rasulullah Saw, maka tugas untuk mangajak manusia taat kepada Allah SWT, maka tugas ini diembankan kepada ummat ini. Seperti yang termuat dalam surat dibawah ini :

S.Q. 12 : 108 “Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”.

Cobalah renungkan bahwa orang yang bertaqwa kepada Allah dengan martabat yang tinggi seperti yang tercantum dalaam Al Qur’an pada S.Q. 25 : 75 “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

3. AJARAN dari unsur huruf AM(A)L :

Dalam menjalankan kehidupan ini sesuai dengan perintah Allah Swt seperti yang termuat dalam Al Qur’an dan petunjuknya melaui Sunnah Nabi Muhammad Saw., maka ajaran syariat lahir untuk di-amalkan oleh jasad lahir dan syariat batin adalah untuk diamalkan oleh jaasad batin (roh).

Oleh karna itu ajaran jasad lahir semua anggota kita yang nampak dengan mata kasar manakala jasad batin ialah jasad ghaib yeng menggrakkan seluruh anggota lahir yang boleh berpikir, merasa, mengingat, mengetahui, memahami dan apa sahaja yang kita mili-ki dalam diri kita masing-masing yang dikenali sebagai roh.

Dengan pemahaman itu, maka amalan batin (hakikat) baik achlak dengan manusia maupun akhlak dengan tuhan tidaklah mudah, ditambah lagi bila amalan syariat (lahir) baik hablumminallah maupun hablumminannas haruslah dijalankan serentak dan seiring.

Kita menyadari  bahwa tidak mudah melaksanakannya seperti yang difirmankan Allah Swt dalam Al Qur’an pada :

S.Q. 2 : 45 “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`,

S.Q. 2 : 46 “(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Jadi dengan meningkatkan ajaran itu, maka dalam perjalanan hidup ini, kesemuanya itu untuk memperindah iman, islam serta ihsan seorang muslim sehingga terwujud sifat dan watak takwa kepada Allah Swt. dengan sebebanr-benar takw pada diri seseorang. Disamping itu dalam hati mengandung niat untuk membuat sesuatu yang baik dan bermanfaat selamanya bagi manusia.

Oleh karena itu, meningkatkan syariat lahir dan batin kedalam lahir batin yang berpadu erat tanpa terpisah-pisah makan amalan lahir dan batin wajib dilaksanakan serentak dalam satu masa di semua waktu dan keadaan. Untuk itu dalam berpikir, bekerja dan belajar haruslah kita tumbuhkan secara berkelanjutan untuk memahami dan manghayati yang terkait dengan keutumaan dalam :

  • Ilmu dan ulama
  • Laa Ilaaha Illallooh
  • Bismillaahir Rohmananir Rohiim
  • Sholawat Nabi Saw.
  • Iman
  • Wudhu
  • Siwak
  • Adzan
  • Sholat Jamaah
  • Jum’at
  • Masjid
  • Serban
  • Puasa
  • Fardhu
  • Sholat Sunnat
  • Zakat
  • Sedekah
  • Salam
  • Doa
  • Istighfar
  • Dzikrullooh
  • Tasbih
  • Taubat
  • Fakir
  • Nikah
  • Ancaman Zina
  • Ancaman homoseks
  • Larangan minuman khomer
  • Kepandaian memanah
  • Berbhakti kepada dua orang tua
  • Mendidik anak
  • Tawadhu’
  • Tidak bicara
  • Sedikit makan, tidur, bersuka ria
  • Sedikit ketawa
  • Mengoh orang sakit
  • Mengingat mati
  • Mengingat kubur dan ketakutan di dalamnya
  • Larangan meratapi orang mati
  • Sabar ketika mendapat musibah.

Hal-hal yang kita ungkapkan diatas, dapat kita pahami dan dipelajari dari beragan penulis, yang masalah maukah kita meluangkah waktu membaca, berpikir dan belajar. Seandainya kita me-nyadari hidup di dunia adalah tempat ujian iman dan amal, maka dengan memanfaatkan “OTAK” diharapkan mampu memberikan daya dorong untuk mengenal tentang diri ini untuk menghayati hal-hal yang berkaitan maksud dan keperluan hidup dalam kesiapan menuju perjalanan abadi melalui rasa hati.

4. LANGKAH dari unsur huruf AMA(L)

Mampukah kita membangkitkan semangat untuk tumbuh sebagai sesuatu dalam menjalani khidupan ini menjadi kebiasaan yang produktif.

Kebisaan yang produktif, apabila kita mampu menempatkan dan menegakkan kedalam tiga tonggak dalam memahami kemampuan kita berpikir yaitu :

Tonggak pertama adalah ilmu yang harus kita cari dari seperangkat informasi untuk menggerakkan apa yang harus dilakukan dan mengapa.

Tonggak kedua adalah pengetahuan yang harus kita cari dan direnungkan dari pengalaman diri sendiri dan atau orang lain untuk menggerakkan bagaimana melakukan.

Tonggak ketiga adalah keinginan yang harus digerakkan dari suatu penghayatan yang bermula dari niat sebagai daya dorong mau melakukannya.

Bertumpu kepada pemahaman tersebut kita akan menyadari setiap apa kekurangan yang terjadi pada diri kita untuk mengenal diri melalui rasa hati dengan demikian kita terus meningkat kemampuan berpikir dari tidak tahu menjadi tahu, yang kesemuanya kita dalam melangkah selalu melibatkan Allah.

Dengan pemikiran itu kita selalu berpikir “jangan mengikuti langkah syeitan, seperti yang termuat dalam firman Allah sbb.:

S.Q. 6 : 142 “Dan di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu,

S.Q. 24 : 21 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dengan peringatan terrsebut cobalah renungkan kembali, bagai-mana kita dapat memahami, menghayati dan mengaktualisasikan kedalam kehidupan sehar-hari dari pemanfaatan “OTAK”. Oleh karena itu gerakkan alat berpikir yang kita sebut KESADARAN, KECERDASAN DAN AKAL dalam kerangka kita menangkap keinginan untuk menarik pelaajaran dari hikmak berpikir sepan-jang hidup sebagai tuntunan kita bersikap dan berperilaku.

KESIMPULAN

Pemahaman dari sisi huruf pada kata amal, dapat kita rumuskan menjadi untaian kalimat yang bermakna seperti dibawah ini :

AMAL adalah sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh gambaran keperibadian seseorang yang ber-AKHLAK dengan landasan nilai yang dianutnya untuk menumbuh kembangkan MARTABAT seba-gai gambaran harga dirinya melalui pemahaman AJARAN yang terkait dengan satu syariat menyeluruh persoalan hidup lahir dan batin kedalam LANGKAH-langkah untuk membangun suatu kebiasaan yang produktif.

Bertitik tolak dari pemahaman diatas, maka kita dapat mrenungkan kata amal yang begitu banyak tercantum dalam Al Qur’an sebagai contoh kita ungkapkan pada :

S.Q. 2 : 167 “Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.”

Amal Saleh terungkap pada S.Q. 2 : 25 “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.”

IV. P E N U T U P

Kita disuruh oleh Allah Swt untuk berpikir, dengan kemampuan mempergunakan alat berpikir berupa kesadaran, kecerdasan dan akal kita dapat menghayati kekayaan dan keindahan alam semesta ciptaaan illahi.

Sejalan dengan pemikiran itu, kita mencoba untuk menghayati dari sisi huruf dalam kata.

Kedua kata yang kita ungkapkan itu memili-ki sifat ketergantungan yaitu iman dan amal. Dengan pemahaman itu diharapkan memotivasi perasaan dan menghayati untuk meng-gerakkan kemampuan berpikir dalam usaha menemukan tentang diri sebagai jalan yang lebih dekat untuk mengenal Tuhan.

Sebagai muslim dengan kemampuan berpikir seharusnya ia mampu membina pribadinya sesuai dengan alunan syariat lahir batin serta mengaktualisasikan sepenuh kemampuan dan sebulat hati.

Sejenak bila kita merenung dan menghayati yang difirmankan pada S.Q. 9 : 119 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”

Jadi dengan pemahaman itu, maka orang-orang yang bertakwa, merekalah manusia-manusia bijak dengan setulus hati, sehingga kebenaran merupakan inti ucapan mereka, kesederhanaan adalah pakaian mereka dan kerendahan hati mengiringi gerak gerik dalam menjalankan kehidupan.

Dengan pikiran itu mereka tundukkan pandngan mereka terhadap segala yang diharamkan Allah. Dan mereka gunakan pendenga-rannya hanya untuk mendengarkan ilmu yang berguna.Jadi jiwanya selalu diliputi ketenangan dalam menghadapi cobaan sama seperti dalam menerima kenikmatan. Dan sekiranya bukan karena kepas-tian ajal yang teelah ditetapkan, niscaya roh mereka takakan tinggal diam dalam jasad-jasad mereka hanya sekejap, baik sifat kerinduannya kepada pahala Allah atau ketakutannya akan hukumannya.

Oleh karena itu kembangkankanlah kemampuan berpikir dalam menemukan diri, sehingga kita meresapkan pandangan bahwa amal merupakan bagian dari iman, dapat dipastikan bahwa iman dapat meningkat dan berkurang. Dengan meningkatnya amal, meningkat pula lah kimanan dan dengan merosotnya amal, berkurang pulalah keimanan. Iman dan amal berjalin erat dan saling mempengaruhi.

Sebaliknya orang yang berpandangan bahwa amal bukan merupakan bagian dari iman harus menerima implikasi bahwa iman  tidak bertambah dan berkurang dengan bertambah dan berkurangnya amal.

Apa yang kita ungkapkan diatas menjadi daya dorong untuk membayang-bayangi untuk kita selalu mengingat siapa, darimana, kemana perjalanan hidup ini, maka kita merenung kembali apa yang dipesankan oleh Rasullalah Saw. tentang jalan keselamatan seperti yang diungkapkan oleh Abu Hurairah r.a., bahwasanya beliau bersabda :

“Barang siapa melapangkan seorang Mu’min dari saalah satu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa meringankan penderitaan seseorang, maka Allah akan meringankan penderitaan-nya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa menutupi cacat seseorang Muslim, maka Allah akan menutupi cacatnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan selalu memberikan pertolongan kepada sseseorang selama tersebut suka menolong saudaranya. Dan barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Dan tiada ber-kumpul suatu kaum dalam sebuah rumah dari antara rumah-rumah Allah (masjid) untuk membaca Al Qur’an dan mengkajinya bersama-sama, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka dan malaikat akan mengerumuni mereka,serta oleh Allah mereka akan disebut di kalangan orang-orang yang berada disisi-Nya. Dan barangsiapa terlambat amalnya maka dia tidak akan dipercepat oleh nasab keturunannya”

(H.R. Muslim).

Apa yang dapat kita tarik sebagai renungan untuk kita pikirkan dalam kehidupan agar jalan keselamatan menuju perjalanan abadi :

  • Menciptakan kehidupan yang harmonis dalam lingkungan hidup yang dijalaninya.
  • Berusha memupuk kebiasaan yang produktif dengan mening-katkan ilmu, keterampilan dan keinginan yang sejalan dengan niat.
  • Berusaha mengamalkannya dari seluruh ajaran dalam Al Qur’an kedalam iman dan amal dalam kehidupannya.

Dengan memperhatikan firman Allah dan sunnah Rasul yang kita utarakan diatas maka meningkatkan kemampuan berpikir dengan pendekatan pemahaman intuisi dan perasaan yang dapat membentuk akhlak dan martabat menjadi satu kepribadian yang utuh sehingga diharapkan dapat menumbuhkan akan hakikat diri kedalam sikap dan perilaku. Salah satunya adalah membangun kebiasaan yang produktif yang berlandaskan ilmu, keterampilan dan ke-inginan menjadi manusia yang memiliki kejujuran.

Kejujuran adalah kebenaran yang menjadi lanndasan iman dan kenyataan kehidupan sehari-hari, sebaliknya kebohongan adalah yang tidak benar dijadikan landasan berpijak.

Oleh karena itu dalam usaha menuju ke jalan kebenaran maka ia beriman kepada Allah Swt, mengetahui rahasia kehidupan, maka ia harus menempuh kejujuran daalam ucapan dan perbuatannya serta menjadikannya dalam hidupnya. Karena ia menyadari sepenuhnya bahwa bohong adalah bertentangan dengan iman. Bohong adalah bahaya yang merusak aqidah dan aamal perbuatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENGETUK DINDIN JIWA ( 5) DAN (6)

July 25, 2011

V. MAKNA KERJA  DALAM OTAK

Salah satu pemenuhan kebutuhan hidup ini adalah kerja selain daripada itu manusia harus berpikir dan belajar, oleh karena itu apapun usaha manusia sangat tergantung kepada pandangannya terhadap mengapa Tuhan menciptakannya sebagai mahkluk yang paling mulia di muka bumi ini.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, kita merenung untuk meng-hayati makna KERJA dalam unsur kata OTA(K) itu dalam mencari jawaban arti keberadaan hidupnya dari unsur huruf dalam kata “KERJA” menjadi kata yang bermakna yaitu :

K menjadi KEBAJIKAN

E menjadi ENERGI

R menjadi RASIONAL

J  menjadi JANJI

A menjadi ADIL

Kerja adalah suatu usaha yang terkait pada kegiatan dalam kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, yang menjadi masalah apa kgiatan itu sejalan dengan perintah Allah SWT, disinilah letak kemampuan manusia untuk berpikir apa ia harus melakukan yang sejalan dengan keyakinan dan kepercayaan yang dianutnya.

Jadi untuk mendalami makna kerja yang sejalan dengan keyakinan dan kepercayaannya itu sebagai manusia muslim, maka ia menjawab bahwa islam yang dipahami Rasulullah, sahabat dan para tabi’in adalah islamnya jiwa secara utuh kepada Allah.

Dengan pemikiran itu, marilah kita merenung unsur huruf dalam kata KERJA menjadi kata bermakna dengan menyadari sepenuhnya bahwa eksentensi manusia seutuhnya dituntut untuk menyerahkan diri kepada Allah, dengan pikirran itu simaklah uraian berikut dibawah ini :

1. KEBAJIKAN, adalah kebaikan atau dapat juga kita katakan dengan segala perbuatan yang baik, jadi dalam suatu situasi memperlihatkan semakin tinggi penghargaan orang kepada harta benda, semakin dalam pulalah turunnya penghargaan pada orang yang terkait dengan kebaikan.

Coba kita renungkan ungkapan dari Al Hadisth, riwayat At Tabrani yang mengungkapkan bahwa “Ada empat macam yang bilamana seseorang mempunyai keempat-empatnya, seolah-olah dia mempunyai seluruh kebajikan dunia dan akherat: lidah yang selalu memberi ingat, hati yang selalu berterima kasih, tubuh yang selalu tabah atas setiap datang benncana, isteri yang tak pernah menghianati suaminya.”

Sejalan dengan ungkapan diatas, marilah kita merenung apa-apa yang diungkapkan dalam Al Qur’an tentang kebajikan dalam surat dan ayat : S.Q. 2 :215, 224, 269, 286 ; 3 : 115, 134 ; 4 : 40, 53, 125, 127, 144 ; 5 : 2, 48, 85, 93 ; 6 : 17, 154, 156 ; 10 : 11 ; 11 : 31 ; 16 : 76, 90, 128 ; 17 : 11 ; 21 : 73 ; 22 : 11, 17

Sebagai contoh diungkapkan pada :

S.Q. 2 : 200 “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”

S.Q. 3 : 115 “Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.”

S.Q. 4 : 40 “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”

Jadi bila kita renungkan makna kebajikan yang diajarkan oleh Allah SWT seperti yang termuat dalam surat dan ayat diatas  untuk mengingatkan kita dalam bersikap dan berperilaku, oleh karena itu kita harus selalu meyakini bahwa :

  • Allah mengetahui kebajikan yang dikerjakan manusia.
  • Balasan Allah terhadap orang yang berbuat kebajikan.

Dengan pemahaman itu melaksanakan kebajikan menjadi suatu kebiasaan dalam perjalanan hidup ini, sehingga ia dapat tum-buh dan berkembang dalam pikiran karena kesenangan hati dan ketenteraman jiwa lebih berharga dari kesenangan pangkat dan kekayaan.

Sejalan dengan pikiran tersebut, simaklah ungkapan dibawah ini sebagai daya dorong dalam menuntun kemampuan melihat kedepan, apa yang terpikirkan dalam bersikap dan berperilaku “Carilah kebaikan diantara kaum melarat ummatku, hiduplah ditengah-tengahnya. Kamu tidak akan memperoleh kebajikan dalam lingkungan orang yang berhati bengis. Laknat Allah turun atasnya, hai Ali ! Tuhan menciptakan kebajikan dan menciptakan pemangku-nya lalu menamakan dalam hati mereka kerinduan kepada kebajikan dan keinginan buat mengerjakan-nya dan menumpahkan minatnya seluruhnya untuk itu, seperti air tumpah kepada bumi yang tandus, maka tercipta kehidupan disitu serta kehidupan penghuninya. Pemangku kebajikan di dunia ini itulah juga pemangku keebajikan diakherat. (Al Hadisth, riwayat Ali bin Abi Thalib)

2. ENERGI, adalah daya (kekuatan) yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan. Daya (kekuatan) harus dibangun atas dasar kebiasan yang produktif yang ditopang oleh kekuasaan disatu sisi dan disisi lain oleh kebenaran.

Kata Kekuasaan yang kita maksudkan disini, kita merujuk apa yang tertera dalam Al Qur’an seperti yang disebutkan pada surat dan ayat dalam S.Q. 2 : 251, 258 ; 4 : 153 ; 12 : 101 ; 18 : 84 ; 20 : 23, 54 ; 21 : 32 ; 22 :56 ; 23 : 50, 88 ; 25 : 2 ; 26 : 8, 44, 103, 121, 139, 190 ; 27 : 86 ; 28 : 35 ; 29 : 44 ; 67 : 16, 17 ; 69 : 2 ; 72 : 11 ; 74 : 14 ; 43 : 59 ; 45 : 16.

Sebagai contoh kita ungkapkan S.Q. 2 : 251 “Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”

S. Q. 4 : 153 “Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma`afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.”

Dengan mengungkapkan dua surat tersebut diatas, mengingatkan kepada kita bahwa kekuasaan haruslah sejalan dengan perintah, sehingga harus dapat meyakini dan menghayati yang terkait dengan kekuasaan mengenai :

  • Kekuasaan Allah adalah mutlak
  • Kekuasaan Allah dan kesempurnaan ilmunya
  • Kekuasaan Allah meliputi alam semesta.
  • Dan seterusnya.

Kata Kebenaran terdapat pada surat dan ayat dalam S.Q. 4 : 83, 105, 135, 170, 174 ; 5 : 8, 48, 119 ; 6 : 25, 104, 115 ; 7 : 43, 53, 168, 174, 180 ; 8 : 5, 6 ; 9 : 48, 76 ; 10 : 32, 35, 36, 76, 94, 108 ; 11 : 20, 5, 64, 120 ; 12 : 35, 51 ; 15 : 64, 85 ; 17 : 41, 105.

Sebagai contoh S.Q. 4 : 83 “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”

S.Q. 5 : 8 “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dari kedua contoh surat yang kita ungkapkan diatas, apapun yang kita lakukan bertolak dari pikiran-pikiran dalam mewujudkan dayaguna dan hasilguna sehingga disitulah terletak akhir usaha mencari kebenaran. Oleh karena itu untuk membangkitkan daya ingat bahwa dunia adalah tempat usaha menyempurnakan iman, ujian amal manusia.

Sejalan dengan pikiran tersebut, maka dalam pikiran kita akan selalu digerakkan oleh adanya keyakinan atas :

  • Akibat yang menolak kbenaran
  • Bukti kebenaran Allah yang mengharuskan kita menyukurinya.
  • Bukti kekuasaan dan kebenaran Allah
  • Larangan mentaati orang yang mendustakan kebenaran.
  • Kebenaran selalu mengalahkan kebathilan.
  • Dan seterusnya.

Untuk mewujud energi yang berdayaguna dan berhasilguna yang sejalan dengan kekuasaan dan kebenaran yang telah kita utarakan diatas harus dibangun menjadi satu kebiasaan yang produktif artinya harus dibina dalam usaha untuk menuntun sikap dan berperilaku kedalam kemampuan untuk menggerakkan berpikir dengan memanfaatkan pengetahuan, keterampilan dan keinginan menjadi usaha untuk menuntun kehidupan.

Jadi energi harus didorong pemanfaatannya untuk mencapai tujuan hidup ialah kebahagian dan ini tidak dapat dicapai kare-na keinginan dengan niat memburu kesenangan, tetapi adanya di dalam suatu kehidupan yang sederhana dan sewajarnya, sedapat mungkin bebas dari segala alat benda kediniaan.

3. RASIONAL, adalah menurut pikiran dan pertimbangan yang logis yang sejalan dengan akal yang bermanfaat. Jadi berpikir logis adalah proses nalar, menyusun ketahuan-ketahuan yang ada menuju kepada suatu kesimpulan yang memiliki kebenaran.

Kata berpikir terdapat pada S.Q. 3 : 65 ; 13 :4 dan pikiran yang terdapat pada S.Q. 6 : 46 ; 11 :63, 88 ; 12 :35 ; 17 :51 ; 68 : 28.

Sebagai contoh kita ungkapkan apa yang termuat pada surat :

S.Q. 3 : 65 “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? “

S.Q. 13 : 4 “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”

S.Q. 6 : 46 “Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).”

S.Q. 11 : 63 “Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian.”

Menyimak dari surat dan ayat yang diungkapkan diatas, untuk memahami arti berpikir bahwa  dari yang  tidak tahu menjadi tahu. Dengan berpikir manussia juga tidak boleh puas dengan satu pemikiran karena adakalanya apa yang terpikirkan itu hanyalah sebuah bayangan atau sebuah fatamorgana belaka.

Itulah satu kenyataan yang kita hadapi saat ini khususnya Bangsa Indonesia dimana semakin bertambah terhadap orang-orang islam dapat berkurang bila kita sendiri menutup pintu rahmat dan menggunakan segala cara yang menyebabkan kemurkaan Allah SWT.
Manusia yang tidak mempergunakan alat pikiran berupa kesa-daran, kecerdasan dan akalnya untuk memikirkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan tuhan sehingga hatinya beku, matanya buta dan telinganya tuli, maka semua perbuatannya dikendalikan hawa nafsu kedalam tingkat kesadaran inderawi, maka pembalasan datang kepadanya bisa dalam bentuk peringatan , musibah dan azab yang menimpa manusia dalam kehidupan akibat perbuatannya.
Kehidupan masa kini, manusia terjebak dalam kemampuan berpikir ketidaktahuan orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan dan maknanya, dimana mereka tidak mampu me-nangkap arti menuju perjalanan abadi dalam kehidupannya.

Oleh karena itu manusia masa kini, dengan kesempitan ilmu mereka menuju kekufuran serta dengan kelemahan nalar mere-ka keluar menuju pendustaan dan kedurhakaan.

4. JANJI, adalah perkataan yang diucapkan untuk menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat seperti hendak memberi, menolong dsb.

Untuk mendalaminya makna kata janji ini banyak diungkapkan dalam Al Qur’an  seperti yang tercantum pada S.Q. 2 : 40, 63, 83, 84, 93, 177 ; 3 : 9, 76, 77, 80, 81, 112, 152, 187, 194 ; 4 : 21, 90, 92, 95, 120, 122, 154 ; 5 : 9, 13 ; 6 : 34, 52 ; 7 : 102, 137, 142, 150 ; 8 : 56 ;  : 4, 12, 112, 114 ; 10 : 4, 55, 64 ; dan seterusnya.

Sebagai contoh diungkapkan pada S.Q. 2 : 40 “Hai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).”

S.Q. 3 : 9 “”Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.”

S.Q. 4 : 21 “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Dengan mngungkapkan surat dan ayat diatas, maka kata janji haruslah mengingatkan kita dalam bersikap dan berperilaku artinya sekali kita mengucapkan apa yang dinamakan janji, tidak bisa dibayar dengan apapun kecuali melaksanakan janji itu. Jadi dengan lebih sering kita menghayati makna janji seper-ti yang termuat dalam Al Qur’an akan memberikan daya dorong dalam kebiasaan untuk memenuhi janji untuk setiap janji yang kita ucapkan bukan hanya sekedar  bayangan yang tidak pasti

Begitu banyak dalam surat dan ayat pada Al Qur’an untuk me-ngingatkan kepada kita agar kita dapat membentuk kepribadian sebagai manusia yang utuh dalam kehidupan dengan mengingat ingat hal seperti yang kami ungkapkan dibawah ini :

  • Janji Allah dalah benar pada S.Q.35 : 5
  • Janji Allah kepada orang mukmin pada S.Q. 67 : 12
  • Janji Allah pasti terjadi pada S.Q. 77 : 7
  • Janji Allah untuk orang bertaqwa pada S.Q. 3 : 15, 16, 17
  • Dan seterusnya.

Jadi dengan jalan pikiran yang kita utarakan diatas akan selalu terbina dalam kemampuan berpikir yang dapat menggambar dengan janji adalah sebagai ukuran sampai dimana keluhuran budi seseorang sehingga dalam pikirannya terbina kesetiaan pada janji yang diucapkannya. Dalam situasi dimana kita membuat kesalahan, maka dengan sendirinya terdapat dorongan dalam pikiran untuk tidak malu untuk mengakuinya dan ia melangkah untuk memper-baikinya.

5. ADIL, adalah berpihak yang benar, berpegang pada kebenaran atau dalam bersikap dan berperilaku menun-jukkan kepribadian yang tidak berat sebelah atau tidak memihak.

Untuk menggugah apa yang kita katakan adil, maka renungkanlah apa yang tertuang dalam Al Qur’an mengenai kata adi se-perti yang termuat dalam surat pada S.Q. 3 : 8 ; 4 :3, 58, 105, 127, 129, 135 ; 5 : 8, 42, 95, 106 ; 6 : 157 ; 7 : 89 ; 10 : 4, 54 ; 11 : 85 ; 16 : 90 ; 20 : 112 ; 21 : 112 ; 33 : 5 ; 38 : 22, 26 ; 3 9 : 69, 75 ; 40 : 78 ; 42 : 15, 17 ; 45 : 9 ; 60 : 8 ; 65 : 2.

Sebagai contoh kita ungkapkan dari surat dan ayat diatas :

S.Q. 3 : 8 “(Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).”

S.Q. 4 : 3 “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

S.Q. 5 : 8 “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dengan menghayati makna yang tercantum dalam Al Qur’an seperti yang kita ungkapkan diatas, memberi daya dorong kita dalam bersikap dan perilaku, maka setiap kita melangkah dalam kemampuan kita berpikir menumbuhkan benih-benih untuk menghayatinya menjadi keyakinan dalam kehiddupan bahwa orang tak mungkin adil tanpa perikemanusiaan.

Oleh karena itu, keruntuhan umat islam saat ini, apapun yang diperlihatkan oleh pemimpin kita tidaklah memberikan keteladanan dalam kehidupan ummat, apapun usaha untuk memperbaikinya menemukan jalan buntu bahkan penyakit bertambah, peringatan, musibah dan azab timbul dan silih berganti, tapi manusia sebagai pemimpin ummat tidak menghayati belajar 1350 tahun yang lalu , ketika di dunia ini terjadi kekafiran, kegelapan dan kebodohan (kejahilan), maka dari balik pegunungan Makkah terpancarlah cahaya hidayah menembus ke arah timur, barat, utara dan selatan. Seluruh penjuru dunia mendapat cahaya hidayah tersebut. Hanya dalam waktu singkat yaitu selama 23 tahun, Nabi Muhammad Saw.dapat membawa manusia kepada kemajuan

KESIMPULAN

Inilah kehidupan manusia di dunia, diciptakan sebagai mahkluk yang paling mulia dimata Allah Swt, tapi sebaliknya manusia tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai khalifah-Nya. Sedangkan manusia tahu bahwa Tuhan itu adil dalam segala jalannya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatannya. Jadi ingatlah selalu bahwa Allah Swt itu hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.

Dengan mengungkap makna huruf dalam kata KERJA sebagai unsur K dalam kata “OTA(K) mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa KERJA adalah (K)EBAJIKAN yang harus kulakukan dalam perjalanan hidup ini sebagai baktiku  dalam menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan percaya dan menyerahkan diri dalam amalan lahir dan amalan batin dengan memanfaatkan (E)NERGI dengan berpikir (R)A-SIONAL kedalam usaha menumbuh kembangkan   menjadi kesadaran dalam berpikir agamis menuju tauhid untuk memenuhi (J)ANJI sebagai manusia yang menyiapkan untuk menuju perjalanan abadi agar dalam bersikap dan berperilaku  memiliki kepribadian individu yang selalu (A)DIL menjalankan amanah sebagai khalifah yang dutugaskan untuk meneruskan jejak dan langkah nabai Muhammad Saw. 

Bila sejenak kita merenungkan unsur huruf menjadi kata bermakna dalam kata KERJA yang kita kemukakan diatas, dapatkah ia menuntun dalam bersikap dan berperliku. Bahkan banyak orang telah mengetahui dan tidak jarang pula selalu mengungkapkan isi Al Qur’an dan Sunnah sebagai pegangannya tapi mengapa orang sebagai pemimpin ummat di negeri ini tidak mampu melakukan perubahan ke-pribadian yang berakhlak dan bermartabat yang sangat dicintai dan dikasihi oleh Allah Swt, karena itu ketidktahuan orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan daan maknanya.

Jadi pergunakanlah ilmu dan belajarlah dari pengalamanmu itu untuk merubah kemampuan berpikirmu dengan memelihara jasmani dan rohani hendaklah seimbang, jngn berat sbelah bahkan lebihkan kepentingan jiwa. Karena keadaan jiwa itulah terjadi orang bertinggi brendah. Jiwa itulah yang dapat mengangkat ketingkat yang lebih tinggi. Kepada jiwa itu Tuhan memberikan kekuasaan yang dapat menguasai bumi dan alam sekelilingnya.

 

VI.  P E N U T U P

Bumi Indonesia diciptakan oleh Allah Swt, penuh dengan ke-kayaan alam yang melimpah ruah untuk kehidupan ummatnya, tetapi mengapa keruntuhan ummat islam yang terbesar ada disini tapi ummatnya saling mengejar kekuasaan untuk kepentingan individu dan kelompoknya, tahukah anda begitu banyak pemimpin ini mengaku sebagai muslim, tapi jiwanya penuh dengan topeng kepalsuan karena mereka meangaggungkan kesadaran inderawi, kiblat kepada paham materialisme, kiblat kepada manusia sehingga ulamapun tidak berani mengkritik akhlak dan martabat mereka, bisa-bisa berbalik ia dituduh mencemar nama baik mereka. Begitu lantangnya orang menentang bahwa berbuat kebaikan dalam membuat aturan yang terkait dengan perbuatan zinah dsb dituduh bertentantangan dengan UU RI yang lebih tinggi atau melanggar hak azasi manusia Jadi tidak heran kita bahwa perbuatan KKN adalah budaya baginya.

Yang menjadi pertanyaan kita pada saat ini mampukah kita memperbaiki keadan ini, atau pemimpin ummat kita saat ini termasuk Ghuru’r seperti yang tercantum dalam Al Qur’an :

S.Q. 31 : 33 “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”

S.Q. 57 : 14 “Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mu’min) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.”

Kedua surat dan ayat tersebut menunjukkan kepada kita yaitu Apa yang terjadi saat ini itulah yang diperlihatkan pemimpin ummat kita saat ini adalah termasuk apa yang yang disebut Qhur’ur atau kebodohan artinya manusia memiliki OTAK tapi tidak mempu memaksimumkannya untuk kepetingan Ummat.

Lihatlah dalam kehidupan ini begitu banyak manusia di peri-ngatkan oleh Allah SWT bagi pemimpin tentang keluarganya yang dipermalukan tentang akhlak dan martabatnya, begitu juga muzibah yang diturunkannya seperti kemiskinan, kelaparan, KKN, penyakit dan akhirnya diturunkannya azab berupa letusan gunung api, tsunami, banjir dan tanah longsor, angin kencang dan badai dsb.

Jadi manusia yang diciptakan oleh Allah Swt tidak mampu mengenal tentang dirinya, walaupun ia mahkluk yang paling mulia tapi ia tidak mampu mempergunakan buah pikiran dalam jiwanya karena ia tidak mampu memerangi bujukan setan sehingga buah pikirannya mengatakan bahwa dunia yang bersifat tunai sementara akhirat adalah sesuatu yang bersifat ditangguhkan, begitulah model pemimpin ummat kita berpikir. Mengapa, tidak lain karena ia tidak mampu membuka mata hati yang sejalan dengan pengakuannya sebagai muslim, bujukan setan menuntun nyamenjadi orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan dan maknanya.

Mereka tidak mampu mengaktualisasikan kedalam kehidupan atas makna “OTAK” ciptaan Tuhan, sehingga tidak heran ketidakmampunnya untuk memerangi bujukan setan karena sifat keragu-raguan yang mendorong setan menguasai jiwanya hingga mata hatinya tertutup tidak mampu mengendalikan diri dari tipuan setan dalam kehidupannya sehingga menimbulkan dampak cara dalam berbikir memandang hal-hal yang berkaitan dengan marah, dengki, kenyang, tergesa-gesa, rakus, bakil, mengejek dan berdebat.

Untuk menghilangkan keragu-raguan itu cobalah kita merenung untuk berpikir, bekerja dan belajar untuk mengatasi Ghur’ur dalam arti kebodohn dalam menuju perjalanan hidup abadi dengan memanfaat makna “OTAK” tentang :

  • Permulan penciptaan langit, bumi dan malaikat.
  • Sifat-sifat Allah
  • Malaikat maut
  • Bagaimana melihat Allah
  • Keagungan Allah Swt dan keindahan ciptaannya
  • Orang yang mengharapkan Allah tapi tak beramal untuknya
  • Dan seterusnya.

Dengan mengungkapkan hal-hal yang perlu kita pahami diatas diharapkan dapat menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan untuk mengaku beriman dan muslim dalam bersikap dan berprilaku dengan tingkat kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan inteletual yang diridhoi oleh Allah Swt.

Jadi membangun kebiaasaan yang produktif dalam berpikir, maka perlu menuntun sikap dan perilaku yang sejalan dengan keyakinan dan keprcayaan, itu berarti merupakan laangkah awal untuk mengenal tentang diri kita sendiri, dalam usaha untuk mengenal kebesaran Allah Swt.

Ungkapan dibawah ini dapat menggugah jiwa kita seperti :

“Orang takwa senantiasa mendapat pimpinan dari Tuhan dalam penghidupan dan perjuangannya di jamin oleh Tuhan akan memperoleh kemenangan. Tinggalkanlah semua yang haram anda akan jadi manusia yang paling utama dalam beribadat pada Allah Swt.”

“Orang bertakwa tidak pernah merasa resah atau kebingungan dalam hidupnya karena selalu mendapat bimbingan dan petunjuk dari Allah Swt serta tidak pernah merasa susah karena kekurangan harta benda sebab ia merasa cukup atas segala apa yang telah dilimpahkan Allah kepadanya.

MENGETUK DINDING JIWA (4)

July 25, 2011

IV. MAKNA AMANAH DALAM OTAK

Amanah merupakan tanggung jawab manusia sejalan dengan fitrah dan bakat yang dimilikinya sejak lahir, oleh karena itu manusia yang diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang mulia disisi Tuhan, maka dengan memanfaatkan otak, ia harus mampu  meningkatkan kesempurnaan dalam perja-lanan hidup abadi.

Dengan pemikiran itu setiap manusia ibarat kata pepetah bahwa manusia sebagai individu berusaha menemukan tentang dirinya, itu berarti ia akan mengenal tentang Tuan. Hikmah berpikir tersebut hanyalah sebagai daya dorong dalam setiap langkah menuju kejalan kesempurnaan

Mencintai kesempurnaan merupakan fitrah yang kuat untuk menuntun manusia dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di dunia ini sebagai tanggung jawab yang harus dipenuhinya.

Dengan pikiran itu marilah kita mencoba merenung dari huruf menjadi kata bermakna dalam amanah sebagai suatu pemahaman  yang lebih mendalam apa arti hidup di dunia ini. Dengan pemahaman itu ia akan berusaha menempatkan perjalanan hidup ke arah yang diridhoi oleh Allah SWT. Sikap dan perilaku akan dituntun oleh kemampuan berpikir, oleh karena itu dibawah ini diungkapkan kata amanah sebagai berikut :

A menjadi Amal

M menjadi Martabat

A menjadi Akhlak

N menjadi Nasib

A menjadi Azab

H menjadi Hari

Jadi untuk mendalami makna AMANAH dilihat dari unsur tiap huruf dalam kata tersebut memberikan daya dorong dalam menangkap hikmah berpikir agar wujud percaya dan menyerah menjadi satu kenyataan dalam bersikap dan berperilaku.

1. AMAL, adalah menyangkut perintah Allah SWT melalui pesu-ruh-Nya Nabi Muhammad SAW untuk menjalankan syariat yang menyeluruh persoalan hidup lahir dan batin, artinya Allah SWT menetapkan bahwa syariat lahir adalah untuk diamalkan oleh jasad lahir, sedangkan syariat batin adalah untuk diamal-kan oleh jasad batin (roh)

Didalam Al Qur’an kata amal dapat kita ketemukan dalam surat dan ayat pada S.Q. 2 : 167, 223 ; 3 : 57 , 136, 139 ; 5 : 53 ; 6 : 88 , 160 ; 7 : 53 , 171 ; 11 : 7 ; 17 : 13 ; 42 : 15 ; 49 : 2, 14 ; 50 : 17 ; 58 : 6 ; 67 : 2.

Sebagai contoh S.Q. 2 : 167 “Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api Neraka “

S.Q. 2 : 223 “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”

Bila kita renungkan ayat tersebut diatas dan memahami pula arti amalan, maka kita akan dapat lebih mendalami kandungan surat dan ayat lain yang akan memberikan arti dalam pemaham-an keberadaan manusia sebagai khalifah di dunia ini untuk menjalankan AMANAH sesuai dengan perintah-NYA.

Untuk itu sebagai daya dorong dalam usaha-usaha manusia untuk selalu ingat kepada keyakinan dan berserah diri kepada Allah SWT, maka diperlukan adanya suatu cara pendekatan dalam mendorong untuk menciptakan hihmak berpikir agar kita selalu dapat menempatkan sikap dan perilaku untuk menjalankan AMANAH dengan mengingat hal-hal yang termuat dalam surat dan ayat yang menjadi batasan tentang diri kita yaitu :

  • Pemahaman arti amal saleh.
  • Balasan Allah kepada amal seseorang menurut niatnya.
  • Balasan masing-masing tergantung amalannya.
  • Balasan untuk yang beramal baik
  • Derajat seseorang disisi Tuhan sesuai dengan amalnya.
  • Hendaknya segala amal dikerjakan karena Allah.
  • Balasan terhadao orang beramal buruk.
  • Jaji Allah bagi yang mengerjakan amal saleh.
  • Kemuliaan manusia terletak pada amal dan imannya.
  • Amal salleh mempertemukan manusia dengan Tuhannya.
  • Amal saleh yang kekal lebih baik dari perhiasan dunia.
  • Setiap amal mendapat pahala dari Tuhan.
  • Setiap orang akan memetik buah amalnya sendiri.
  • Setiap orang telah ditetapkan amal perbuatannya.
  • Tuhan tidak menyianyiakan amal seseorang.
  • Amal untuk kebaikan dirinya sendiri.
  • Yang menerima buku amal dari kanan akan menerima pemeriksaan yang mudah.
  • Yang menerima buku amal dari belakang akan masuk neraka.
  • Yang mengerjakan amal dalam keadaan beriman akan diberi pahala.

Demikianlah bila kita selalu mengingat-ingat hal-hal yang kita sebutkan diatas, maka setiap kita berpikir dalam melaksanakan sesuatu akan menuntun kita dalam bersikap dan berperilaku ke jalan yang benar, maka disitulah letak kebahagian kita menyiapkan bekal dalam menuju perjalanan abadi.

2. MARTABAT, tingkat harkat kemanusiaan dimata Allah SWT, dimana manusia memahami secara bulat apa maksud ia diciptakan-Nya untuk beribadah, sebagai khalifah, sebagai Ummat Nabi Saw dalam melanjutkan perjuangannya.

Untuk beribadah bukan hanya manusia tetapi seluruh makhluk di muka bumi ini beribadah menurut caranya masing-masing. Untuk itu perhatikan perintah Allah SWT dalam Al Qur’an seperi yang termuat dalam

S.Q. 24 : 41 “Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Jadi ibadanya Matahari yaitu dengan bergerak setiap hari dari tumur ke barat, begitu juga ibadahnya air yaitu senantiasa mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Apalagi manusia makhluk yang paling sempurna asal kejadiannya.

Sebagai khalifah, ketika Allah SWT menciptakan manusia, maka malaikat proten, seperti yang termuat dalam surat :

S.Q. 2 : 30 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Oleh karena itu, manusia sebagai penanggung jawab di muka bumi dan sebagai khalifatullah yang diberi sifat kasih sayang kepadea seluruh manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sejalan dengan pikiran itu bahwa pada diri setiap manusia terdapat empat sifat sesuai dengan kehendak Allah SWT yaitu 1) sifat hewanniyah, menggunakan harta dan diri untuk makan, minum, dan keperluas jasmani lainnya ; 2) sifat Malaikat menggunakan harta dan diri untuk ibadah ; 3) sifat Khalifah menggunakan harta dan diri untuk memberi manfaat kepada orang lain ; 4) sifat Nubuwwah menggunakan harta dan diri di jalan Allah (untuk memperjuangkan agama Allah).

Sebagai Ummat Nabi Saw, setelah meninggal Rasulullah Saw, maka tugas untuk mangajak manusia taat kepada Allah SWT, maka tugas ini diembankan kepada ummat ini. Seperti yang termuat dalam surat dibawah ini :

S.Q. 12 : 108 “Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”.

Cobalah renungkan bahwa orang yang bertaqwa kepada Allah dengan martabat yang tinggi seperti yang tercantum dalaam Al Qur’an pada S.Q. 25 : 75 “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”

3. AKHLAK, sistem nilai yang  sesuai dengan ajaran dianut oleh manusia yang sejalan dengan keyakinan dan kepercayaan yang dapat menuntun manusia dalam bersikap dan berperilaku.Oleh itu dalam islam maka sistem yang dimaksud adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber nilainya.

Jadi akhlak yang menuntun dan membentuk kepribadian individu manusia sehingga setiap individu berbeda dari orang lain, oleh karena itu seberapa jauh seseorang dapat berakhlak dengan kepribadian sesuai dengan tuntunan Allah SWT, tergantung yang bersangkutan mengangkat derajatnya di mata Allah.

Mengenai dasar-dasar akhlak dapat kita ketemukan dalam Al Qur’an pada surat-surat S.Q. 7 : 199, 200, 201 ; 2 :109 ; 3 : 134, 159 ; 4 : 149 ; 5 :13. Dibawah ini kita ungkapkan surat dan ayat yang dimaksud sebagai berikut :

S.Q. 7 : 199 “Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

S.Q. 7 : 200 “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

S.Q. 7 :201 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

S.Q. 2 : 109 “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.

Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

S.Q.  3 : 134 “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

S.Q. 3 : 159 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Dari contoh surat dan ayat yang kita ungkapkan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa bimbingan yang diberikan Islam merupakan pendekatan yang paling luhur dan paling ber-harga yang dapat menuntun akhlak dengan kepribadian yang luhur sehingga dapat menuntun dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan fitrah dan bakat untuk meman-faatkan hikmah berpikir ke jalan Allah SWT.

4. NASIB, adalah sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang. Apa kita dapat merubahnya. Tergantung kepada perjalanan hidup yang ditempuhnya.

Oleh karena itu ingatlah selalu kata mutiara seperti “Sesungguhnya Allah menjadikan rejekiku dibawah bayang-bayang usahaku”

Kata nasib didalam Al Qur’an terdapat pada surat dalam S.Q. 5 : 3, 26, 90 ; 27 : 47.

Sebagai contoh kita ungkapkan pada S.Q. 5 : 3 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sejenak bila  kita merenung surat-surat dan ayat didalamnya tentang nasib, maka kita dapat menuntun perjalanan hidup ini dengan penuh keyakinan dan berserah diri kepada-NYA dalam memanfaatkan hihmak berpikir untuk usaha hidup kedalam :

  • Bagi duniamu (perumpamaan dunia seperti air hujan ; perumpamaan kehidupan dunia yang mempesonakan maanusia ; kehidupan dunia ini kesenangan yang menipu ; dunia itu indah dalam pandangan manusia ; kehidupan dunia adalah senda gurau dan main-main ; kehidupan dunia jangan sampai memperdayakan ; kehidupan dunia jangan sampai menipu ; kenikmatan dunia jangan membuat kikir ; kehidupan dan kenikmatan dunia jangan sampai menyeret ke dalam neraka ; kehidupan dunia memperbudak oraang yang mengabdinya)
  • Bagi pekerjaanmu (bekerja sebagai tanda syukur kepada Allah ; sebgian besar yang dimakan manusia dari hasil bekerja ; Allah menjadikan siang agar manusia berusaha / bekerja ; ketika bekerja ingatlah ibadah kepada Allah ; pekerjaan manusia memang berbeda-beda ; bekerjalah seadanya yang penting halal jangan malas ; tak ada yang lebih baik makan dari hasil usahanya sendiri ; para nabi juga bekerja ; ingatlah bahwa rezeki masing-masing manusia itu berbeda).
  • Bagi saat kayamu  (kaya yang sebenarnya adalah kaya jiwa ; kaya yang teladan, patut diirikan ; kebanyakan orang hidup mewah adalah mendustakan kebenaran ; janganlah rakus / tamak terhadap dunia ; tabungan anda yang sebenarnya adalah sedekah anda ; mendermakan kelebihan harta suatu kebajikan ; jika kaya ingatlah orang-orang miskin ; jangan  berlaku boros tidak pula kikir ; jangan terperdaya oleh harta dan wanita ; jangan menjadi hamba harta )
  • Bagi saat miskinmu (kaya atau miskin itu kehendak Allah, tak perlu hiri hati ; dialah orang yang sesungguhnya miskin ; orang miskin masuk surga lebih dahulu ; kebanyakan yang masuk surga adalah orang-orang miskin ; rasulullah hidup sangat sederhana ; keluarga rasulullah juga sangat sederhana ; doa nabi untuk memohon rezeki ; qona’ah terhadap pemberian Allah ; meski miskin jangan meminta-minta ; jika mengetahui balasannya, maka akan minta miskin.)
  • Bagi waktu luangmu (gunakan lima perkara penting sebelum datang lima yang lain ; selalu ingatlah terhadap mati agar waktu bermanfaat ; hari demi hari hendaklah amalan ibadah semakin meningkat ; berlomba-lomba dalam kebajikan unrtuk mengisi waktu ; perlu menyusun rencana untuk masa depan / akhirat ; senantiasa ingat kepada allah agar tidak merugi ; sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi ; banyak berbuat kemanfaatan untuk orang lain ; jangan menghabiskan waktu seperti orang-orang kafir ; jangan mengisi waktu dengan dosa.
  • Bagi waktu sempitmu ( mohon perlindungan allah ; tidak memanfaatkan kesempitan untuk kejahatan ; selalu ingat bahwa kehidupan dunia hanya sebentar ; beramal kebajikan meski dalam kesempitan ; dalam kesempitan hendaklah selalu bersabar ; dalam kesempitan hendaklah bersegera  untuk taubat ; meskipun dalam kesempitan iangan melanggar larangan allah ; meski dalam kesempitan jangan melanggar hak orang lain ; meski dalam kesempitan janganlah berharap akan kematian ; mohon kelapangan keepada allah)
  • Bagi masa mudamu (pemuda yang mendapat naungan allah ; menjaga masa muda senantiasa dekat kepada allah ; mulai muda banyak mengisi dengan amat ibadah ; mulai muda banyak mencari ilmu dan mengajarkannya ; ingatlah perjuangan jihad mumpung masih muda ; jadilah anak yang saleh ; senantiasa yang muda menghormati yang tua ; Yang muda mengetahui hak yang lebih tua ; yang muda ingin panjang umur dan lapang rezeki ; berusahalah jika allah menghendaki segala sesuatu akan berubah atau terjadi)
  • Bagi masa tuamu (sadar dengan cukupnya umur ; umur panjang yang tidak berkah ; sudah berapakah umur di badan ? ; meski tua jangan berharap mati ; kiat umur panjang penuh berkah ; akhlak yang baik menambah beratnya timbangan ; semakin tua semakin banyak berdzikir ; semakin tua banyak istighfarnya ; beramal yang tiada putus pahalanya ; orang tua yang baik selalu menyayangi yang muda
  • Bagi kala sehatmu (sehat adalah kenikmatan yang perlu disyukuri ; menggunakan waktu sehat sebaik-baiknya sebelum datang sakit ; memperbanyak amal ibadah agar usia lebih berkah ; jangan sombong karena badan sehat dan kuat ; badan dan dan mental sehat,hati harus juga sehat dan selamat ; meski sehat memperbanyak doa, itu tanda tidak sombong ; menjaga kesehatan dengan berhati-hati mengisi perut ; ingaat banyak mati, orang sehat ada juga mati ; menjaga diri dan kesehatan tidak membinasakan diri ; dilarang keluar masuk daerah yang terserang wabah.)
  • Bagi kala sakitmu (sadar bahwa sakit itu dengan izin allah dan dia yang menyembuhkannya ; sabar dan tabah di kala sakit dan berbaik sangka kepada allah ; sakit dapat menghapus dosa-dosa ; perlu bersyukur meski sakit, karna amalan harian ketika sehat diberi pahala ; boleh mengadu kepada allah atau seseorang asalkan bukan karena kecewa ; bila sakit segera berobat ; dilarang berobat dengan barang haram ; boleh berobat dengan doa-doa dan mantra yang tidak syirik ; dilarang memakai jimat dan isim ; banyak mengingat mati, tetapi jangan minta mati.)

Oleh karena itu, apa yang telah kita ungkapkann diatas untuk merenung nasib apa yang harus kita kembangkan dalam pikiran ini agar selalu ingat bagaimana sebaiknya bersikap dan berperilku. Sejalan dengan pikiran tersebut, marilah kita renungkan bahwa Allah tidak mengubah nasib seseorang kecuali mereka merubah keadaan, seperti termuat pada surat :

 S.Q. 8 :53 “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,”

S.Q. 13 : 11” Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Begitu pula halnya untuk kita renungkan dalam menjalankan hidup ini yang kita sebut dengan :

Nasib Malang karena perbuatan sndiri, yang dimuat dalam surat S.Q. 36 : 19 “Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas”.

Nasib orang yang menentang ayat Allah, yang dimuat pada S.Q. 40 : 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76 .

Sebagai contoh pada

S.Q. 40 : 69 “Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan?

5. AZAB, adalah siksa atas perbuatan manusia yang diturunkan oleh Allah SWT, karena manusia tidak mengikuti perintah dan menjahui larangan yang telah di tetapkan-Nya.

Seharusnya manusia memahami benar atas tiga alat yang harus kita perhatikan dalam menjalankan hidup ini : 1) Otak letaknya lebih tinggi dari jantung, tempatnya juga lebih rapi dari tempat jantung yaitu di kepala ; 2) Jantung lebih tinggi dari perut besar dan tempatnya lebih rapi dari perut yaiti di dada ; 3) Perut besar hanya di bungkus  dengan kulit saja sedang tempatnya juga lebih rendah. Dari ketiga tempat masing-masing itu mempunyai hikmah dan arti bagi orang yang berpikir.

Bertitik dari pemikiran diatas, maka Allah SWT telah menetapkan tempat tinggal sementara bagi manusia dan makhluk-makhluk lain yang hidup berdampingan. Dalam menempuh kehidupan ini manusia sangat membutuhkan sarana dan fasilitas hidup yang memadai dan semua itu telah Allah sediakan jauh sebelum manusia diciptakan. Sejalan dengan itu begitu banyak telah diungkapkan dalam surat dan ayat mengenai Azab seperti pada surat No. 3, 4,5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 51, 52, 53, 54, 57, 58, 59, 61, 64, 65, 67, 68, 70, 71, 72, 73, 75, 76, 77, 78, 79, 83, 84, 85, 88, 89, berikut dengan ayat-ayat yang ada dalam surat tersebut. Sebagai contoh dibawah ini diungkap dalam surat

pada S.Q. 3 : 77 “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

S.Q. 3 : 106 “pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.

Begitu banyak surat dan ayat yang mengingat manusia dalam bersikap dan berperilaku, tapi manusia masih saja kita mengerti arti keberadaannya di dunia dan oleh karena itu lebih sering kita mengingat hal-hal seperti dibawah ini :

  • Allah mengazab orang kafir
  • Allah mengazab suatu kaum setelah diperingatkan
  • Azab Allah pasti datang pada waktunya
  • Azab Allah pasti kepada yang mendustakan karunianya
  • Azab bagi orang kafir di neraka
  • Azab buruk untuk orang yang tidak percaya akhirat
  • Azab Tuhan atas kaum yang durhaka
  • Dan seterusnya.

Dengan sering kita merenung dan menghayati tentang datangnya azab oleh Allah SWT dan dalam Al Qur’an pun menye-butkan istilah dan penamaan yang berbeda seperti Fitnah, Musibah, Bala’, dsb, namun manusia masih saja tidak mampu memanfaatkan hikmah berpikir untuk mngingat dalam perjalanan hidupnya bahwa :

  • Kalau jasmani makan, rohani juga makan yaitu dengan pengetahuan.
  • Kalau jasmani berpakaian, rohani mesti berpakaian yang kita sebut dengan budi.
  • Kalau jasmani berlatih, rohani juga dilatih yaitu dengan kesusahan.
  • Kalau jasmani dibersihkan, rohani juga dibersihkan dengan kesucian bathin.
  • Kalu jasmani diobati, rohani juga harus diobati.

Oleh karena dengan itu hikmah berpikir, menuntun manusia untuk memahami ajaran islam tidak mau tumbuh di atas jiwa yang dibungkus oleh kemusyrikan dan kebendaan.

6. HARI, adalah bagai sepatu yang harus dipakai untuk berjalan. Kita akan berpikir pula bahwa hari yang terpanjangpun akan berakhir. Oleh kareena itu bayangkan pula hari-hari tanpa tujuan akan berakhir dengan kehampaan, sedang kehampaan akan berakhir dengan kehancuran.

Jadi dengan pikiran tersebut diatas untuk menuntun perjalanan hidup dengan memahami hari-hari yang akan kita lalui dalam hidup ini. Oleh karena itu Allah menciptakan manusia melalui beberapa fase kehidupan kedalam hari-hari yang dilalui yaitu

  • Alam Roh, alam sebelum jazad manusia diciptakan.
  • Alam Rahim, alam kandungan ibu tempat menyempurnakan jazad manusia dan penentuan kadar nasibnya di dunia yaitu hidupnya, rezekinya, kapan dan di mana ia meninggal dunia
  • Alam dunia, alam tempat ujian bagi manusia, siapakah diantara mereka yang paling baik amalnya.
  • Alam kubur, alam tempat menyimpan amal manusia. Di alam ini Allah menyediakan dua keadaan yakni nikmat atau azab kunur.
  • Alam akhirat (alam tempat pembalasan amal-amal manusia) Di alam ini Allah menentukankeputusan dua tempat untuk manusia, apakah ia akan menghuni surga atau menghuni neraka.

Hari-hari yang dilalui manusia di dunia merupakan usaha manusia menempuh ujian dalam perjalanan hidupnya untuk meningkatkan amal dan iman.

Untuk mengingat hari yang kita maksudkan itu, kita dapat me-mahaminya dalam Al Qur’an pada Surat No.3, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17 dengan ayat-ayat yang tercantum dalamnya, sebagai contoh dibawah ini diungkapkan :

S.Q. 3 : 9 “”Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

S.Q. 3 : 25 “Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).

S.Q. 4 : 38 “Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.

S.Q. 5 : 3 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dengan kemampuan manusia untuk berpikir diharapkan manusia menyadari arti hidup baginya dalam menatap dalam perjalan an hidup pada hari-hari yang dilalui dengan mengingat seperti hal-hal dibawah ini :

  • Hari anak dan harta tak berguna.
  • Hari hisab / perhitungan
  • Hari kemenganan
  • Hari akhirat
  • Hari kiamat
  • Yang percaya pada kiamat akan mendapat pahala
  • Dan seterusnya.

KESIMPULAN

Jadi dengan bepikir, manusia dapat menghayati arti hidup yang hari-hari dilaluinya, oleh karena itu brusahalah selekas-lekasnya berbuat yang baik sehingga lebih baik berbuat demikian hari ini daripada hari esok . Sebab hidup adalah pendek sedangkan waktu berlari kencang.

Dengan mengungkap makna huruf dalam kata AMANAH sebagai unsur A dalam kata “OT(A)K mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa AMANAH adalah(A)MAL dalam menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan percaya dan menyerahkan diri dalam amalan lahir dan amalan batin kedalam usaha menumbuh kembangkan (M)ARTABAT  menjadi kepribadian individu yang memiliki(A)KHLAK untuk menuntun (N)ASIB agar menjahui (A)ZAB yang diturunkan Allah SWT bagi manusia yang tidak percaya akan (H)ARI Akhirat dalam menuju perjalanan abadi.

Dengan memahmi makna amanah dari unsur huruf menjadi kata bermakna, mampukah kita secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesadran dari tingkat yang paling rendah yang disebut indrawi ke tingkat kedua yang disebut berpikir logis ke tingkat ketiga yang disebut berpikir rohaniah ke tingkat yang paling tinggi disebut berpikir tauhid. Itu berarti secara bertahap kita berusaha untuk mengenal tentang diri kita. Oleh karena itu, makin lama saya hidup makin terasa indah hidup ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jadi ingatlah selalu dalam bersikap dan berperilaku untuk selalu menyiapkan diri menuju ke perjalanan abadi karena itu janganlah kamu menyesali hidup ini tapi pandanglah hidup itu adalah lautan pengorbanan untuk mencapai sesuatu yang luhur yang tak terbatas. Dengan begitu kita menyadari sepenuhnya arti penderitaan  hidup yang mengajarkan kepada manusia menghargai kebaikan dan keindahan hidup.

MENGETUK DINDING JIWA (3)

July 25, 2011

 III. MAKNA TAWAKAL DALAM OTAK

Tawakal adalah berserah kepada kehendak Allah artinya percaya dengan sepenuh hati kepada Allah. Tidak cukup hanya percaya te-tapi juga menyerah. Jadi percaya dan meyerah adalah dua kata yang berbeda tapi memiliki saling keterkaitan yaitu disatu sisi  kita percaya karena aqidah dan disisi lain menyerah karena ibadah.

Dengan pikiran itu marilah kita mencoba merenung dari huruf menjadi kata bermakna dalam tawakal yaitu

T menjadi (T)aat ;

A menjadi (A)qidah ;

W menjadi (W)ahyu ;

A menjadi (A)llah ;

K menjadi (K)itab ;

A menjadi (A)l Qur’an ;

L menjadi (L)ailatul qodar.

Jadi untuk mendalami makna TAWAKAL dilihat dari unsur tiap huruf dalam kata tersebut memberikan daya dorong dalam menangkap hikmah berpikir agar wujud percaya dan menyerah menjadi satu kenyataan dalam bersikap dan ber-perilaku.

Untuk jelasnya dibawah ini kita ungkapkan makna huruf dalam kata tersebut seperti dibawah ini :

1. TAAT, adalah senantiasa menurut perintah dan hukum-Nya aku taati, suruhnya aku kerjakan, larangan-Nya aku hentikan, dengan segenap keyakinan dan kerelaaan.

Mengenai kata Taat dalam surat-surat dan ayat kita dalam Al Qur’an seperti yang tercantum dalam S.Q. 2:93, 173 ; 3:17, 173 ; 4: 13, 34, 59, 65, 69, 80, 1 ; 5 : 7, 92 ; 8 :20, 46 ; 9 : 71 ; 20 : 90 ; 24 : 52, 53, 54,56 ; 26 : 108, 110, 126, 132, 144, 150, 163, 179 ; 29 : 65 ; 31 : 32 ; 33 : 31, 35, 66 ; 38 : 17, 19, 30, 44 ; 43 : 63 ; 47 : 21, 33 ; 48 : 17 ; 49 : 14 ; 51 : 50 ; 58 :13 ; 64 : 12, 16 ; 66 :5, 12 ; 71 : 3 ; 72 : 14 ; 81 : 21 ; 98 : 5.

Sebagai contoh, kita simak S.Q. 2 : 93 “Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursi-na) diatasmu (seraya Kami berfirman) : “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu  dan dengarkanlah”. Mereka menjawab : “Kami mendengarkan tetapi tidak menta’ati “  Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).”

Dari ayat tersebut, jelaslah bahwa penyembahan yang dilakukan bangsa Yahudi terhadap anak sapi, merupakan tanda bagi kecen-derungan mereka kepada benda.

Oleh karena itu Taat yang kita maksudkan adalah taat dengan percaya dan penyerahan diri sebagai satu keyakinan kepada sang pencipta Allah SWT.

Jadi simaklah apa yang tercantum dalam S.Q. 3 : 173  “(yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan : “Sesungguhnya ma-nusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab : “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”

2. AQIDAH, adalah keyakinan dan percaya serta berpegang teguh atas panggilan hati kepada tingkat pemahaman aqidah yang bersifat haqqul yakin artinya orang berserah diri secara bulat dengan tingkat kesadaran yang tinggi kepada rukun iman yang akan menuntun perjalanan hidup ini yang didukung oleh pemikiran rasional, ilimiah dan mendalam serta pengalamannya dalam pengalaman ajaran agama.

Jadi dengan keyakinan dan percaya serta berserah diri terhadap rukun iman  yaitu : Percaya kpada Allah Ta’ala ; Percaya kepada para Malaikat ; Beriman kepada Kitab-kitab Allah ; Beriman kepada para Rasul ; Beriman kepada hari Kiamat ; Beriman pada suratan Takdir.

Dalam Al Qur’an banyak diungkapkan dalam surat-surat dan ayat-ayat tentang :

  • Iman
  • Allah memberi pahala kepada orang yang beriman
  • Allah pelindung orang beriman
  • Balasan terhadap orang beriman dan kafir
  • Beriman
  • Beriman kepada yang ghaib
  • Ciri iman yang sebenarnya
  • Diwaktu azab datang iman tak berguna lagi
  • Ganjaran untuk orang iman dan jihad di jalan Allah
  • Hukuman untuk orang yang tak beriman
  • Keimanan
  • Kemuliaan manusia terletak pada iman dan amalnya
  • Iman kepada kehidupan Akhirat
  • Iman kepada semua nabi dan kitab
  • Menambah keimanan
  • Nikihailah wanita beriman
  • Orang beriman dan berilmu ditinggikan derajadnya
  • Kenikmatan di akhirat hanya untuk beriman
  • Penghargaan Allah pada manusia yang sempurna imannya
  • Perintah beriman kepada Allah dan Rasulnya
  • Sikap yang lemah iman dalam menghadapi cobaan
  • Surat orang-orang yang beriman
  • Tuhan murka terhadap orang yang mengingkari iman
  • Unsur iman
  • Tak beriman
  • Dan seterusnya.

Beberapa contoh mengenai surat-surat dan ayat-ayat tersebut sbb.S.Q. 3 : 49 tentang Iman

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka):

“Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”

S.Q. 2 : 3 tentang Beriman

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,

S.Q. 3 : 17 tentang Unsur Iman

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

3. WAHYU, adalah petunjuk yang diturunkan hanya kepada para Nabi dan Rasul melalui mimpi dsb. Nabi Muhammad saw, menerima wahyu yang pertama  ketika beliau berusia empat puluh tahun.

Dalam Al Qur’an kata wahyu kita dapatkan dalam surat dan ayat yang tercantum dalam S.Q. 2:23 ; 3:44 ; 4:105 ; 6:50,51, 106,145 ; 7:75, 203 ; 10:15 ; 11:12, 49 ; 17:39, 60,73,86 ; 18:27, 110 ; 20:114 ; 21::45, 73, 108 ; 22:8 ; 29:45 ; 34:6, 50 ; 35 :31 ; 40::70 ; 41:6, 12, 14, ; 42:3,52, ; 46: 9 ; 54:25 ; 72:1 ; 77:5.

Sebagai contoh dalam S.Q. 2:33 “

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

S.Q. 3:44 “

Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.

Dengan controh surat dan ayat tersebut diatas mengingatkan kepada kita  tentang wahyu dan oleh karena itu, maka Al Qur’an selama masa dua puluh tiga tahun diturunkan secara berangsur-angsur di sekitar pribadi Muhammad, di mana antara satu wahyu dan wahyu berikutnya terdapat jarak waktu pemisah yang berbeda-beda panjang dan pendeknya.

Kita meyakini dan percaya tentang wahyu yang diungkapkan dalam banyak surat dan ayat mengungkapkan :

  • Cara wahyu diturunkan
  • Kebenaran adanya wahyu
  • Nabi adalah laki-laki yang diberi wahyu
  • Nabi Muhammad hanya mengikuti apa yang diwahyukan Tuhan
  • Penegasan Tuhan bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad benar
  • Pokok agama yang diwahyukan kepada para rasul sama
  • Dan seterusnya.

Jadi dengan memahami mengapa wahyu itu diturunkan      secara            berangsur -angsur, memberikan daya ingat kita nilai pendidikannya bagaimana memerangi kegelapan bangsa jahiliyah, perang badar, perang Uhud dan seterusnya.

Dengan demikian maka daya ingat kita tentang arti dan  fungsi  wahyu itu sendiri untuk mengingatkan kita untuk berpikir menyelami dari satu ayat ke ayat lainnya sebagai sebagai kesatuan kuantitas artinya kita memahami dimana setiap wahyu itu berdiri sendiri dan menghimpun satuan-satuan baru sehingga sampai kepada kumpulann Al Qur’an.

4. Allah, adalah dia ciptakan berupa berbagai ciptaan-Nya yang ada di daratan, lautan, lembah dan ngarai. Dengan kesempitan ilmu mereka menuju kekufuran. Dan dengan kelemahan nalar, mereka keluar menuju pendustaan dan kedurhakaan.

Oleh karena itu, hingga mereka mengingkari penciptaan segala sesuatu. Mereka menganggap hal itu tercipta tanpa kesengajaan , tiada penciptaan, pengaturan dan kebijakan dari Pengatur dan Pencipta.

Sejalan dengan pemahaman tersebut, Allah telah menetapkan sejumlah kewajiban yang menyertai syahadat tauhid. Ia dimaknai dengan rukun-rukun islam. Hikmah dari dilaksana-kannya rukun-rukun ini adalah melatih manusia untuk senantiasa taat kepada Allah, tunduk kepada-Nya dengan sebaik-baiknya dan menjauhkan diri dari larangan-Nya serta kburukan-keburukan.

Dari isi Al Qur’an yang tercantum dalam 114 Surat dan terperici kedalam 1.133 Ayat, hanya sedikit sekali yang tidak mengungkapkan kata Allah pada Surat 54, 55, 56, 68, 75, 77, 78, 80, 83, 86, 90, 92, 93, 94, 97, 99, 100, 101, 102, 103, 105,106,107,108, 109, 111, 113-133.

Sebagai contoh bacalah S.Q. 1:1 “

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. “

S.Q. 2.7 “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

S.Q. 2:8 “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

S.Q. 2:9 “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Bila kita renungkan dari Surat dan Ayat, maka Al Qur’an diantaranya akan mengungkap hal-hal sebagai berikut :

  • Mata manusia tidaka melihat Allah
  • Kekuasaan Allah yang tergambar pada alam semesta
  • Keagungan Allah
  • Balasan Allah untuk orang yang berbuat kebajikan
  • Allah Mengazab setelah memperingatkan
  • Ketenteraman bagi orang yang mengingat Allah
  • Allah mengetahui yang lahir dan yang bathin.
  • Dan seterusnya.

Dengan merenung apa-apa yang terkandung dalam Al Qur’an, maka kita meyakini dan percaya sehingga dapat merubah jalan pikiran ketidaktahuan orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan dan maknanya.

Jadi dengan ilmu, bila kita memperhatikan alam ini dengan pikiran kita dengan mengkaji dengan kesadaran, kecerdasan dan akal, maka engkau mendapatinya seperti rumah yang dibangun dan tersedia semua kebutuhan yang ada didalamnya yang dibutuhkan oleh manusia. Kita dapat membayangkan mengenai langit terbentang sebagai atap, bumi terhampar sebagai alas, bintang-bintang bercahaya sebagai lampu dan mutiara-mutiara terpendam sebagai simpanan.

Begitulah adanya bahwa alam ini diciptakan-Nya dengan perhi-tungan, keteraturan dan keserasian. Dan penciptanya adalah satu.Mahaagung kesucian-Nya, Mahatinggi kemurahan-Nya, Mahamulia wajah-Nya dan tiada tuhan selain-Nya.

Demikian pula kita meyakini dan percaya atas ciptaan-Nya atas manusia dan pengaturan janin di dalam rahim, cara kelahiran ja-nin, makanannya, tumbuhnya gigi dan mencapai dewasa, dsb.

5. KITAB, adalah wahyu Tuhan yang dibukukan sebagai kitab suci yang mempercayainya. Sebelum Al Qur’an diturunkan terdapat taurat, zabur, injil seperti yang termuat dalam Surat-Surat No. 2,3, 4,5, 9,10,11, 12,13, 14, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 33, 34,35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 44, 45, 46, 57, 61, 62, 66, 68, 69, 83, 84, 87, 98 beserta ayat-ayat yang tercantum didalamnya. Sebagai contoh diungkapkan seperti dibawah ini :

S.Q.2: 144 “

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

S.Q. 2 :145 “

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.

S.Q. 2:146

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.

Tuhan menurunkan Al Qur’an membenarkan kitab sebelumnya, oleh karena itu kita harus meyakini bahwa Al Qur’an sebagai kitab yang terakhir diturunkan untuk menuntun manusia sebagai makhluk yang paling mulia dimata-Nya.

Dan oleh karena itu manusia yang diungkap Qur’an dan bagi yang mempercayai, maka dengan hikmah berpikir dapat me-nuntun sikap dan perilakunya dalam perjalanan hidubnya didunia dan berusaha menyiapkan diri menuju kepada perjalan-an yang abadi.

6. AL QUR’AN, adalah kitab suci yang diturunkan Allah SWT Tuhan Alam Semesta, kepada Rasul dan Nabi-Nya yang terakhir Muhammad  SAW melalui Malaikat Jibril AS untuk di sampaikan kepada seluruh umat manusia sampai akhir zaman.

Kata Al Qur’an dapat kita ketemukan dalam surat-surat beserta ayat-ayatnya pada S.Q. 2 : 2, 23, 41, 89, 91, 97, 129, 185 ;6 : 90 ; 10 :15 ; 11 : 51 ; 12 :104 ; 25 : 30 ; 41 : 42 ; 42 : 7, 17, 23, 24, 52 ; 43 : 2, 3, 4, 5, 8, 29, 30, 31, 44 ; 44 : 2, 58 ; 45 : 11, 20 ; 46 : 4, 8, 10, 11, 12, 29, 30 ; 47 : 9, 24 ; 81 : 19, 25, 27 ;84 : 21 ; 85 : 21 ; 86 : 13 ;  87 : 6 ;  97 ; 98 : 2 ; 50 : 1, 45 ; 52 : 34 ; 56 : 77 ; 57 : 9 ; 68 : 44, 51, 52 ; 69 : 40, 41, 48, 50, 51 ;72 : 1, 13 ; 73 : 5,20 ; 74 : 18, 21, 24, 25, 54, 55 ; 75 : 116, 31.

Sebagai contoh dibawah ini diungkapkan makna kata Al Qur’an dalam S.Q. 2 : 2 “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

S.Q. 2 : 23 “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Dengan memahami surat dan ayat tentang Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat (bangsa-bangsa) dan diturunkan dalam bahasa Arab , sehingga bahasa Arab menjadi bahasa kesatuan umat islam sedunia.

7. LAILATUL QODAR. Artinya suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Qur’an.

Untuk jelasnya dapat kita ketemukan dalam Surat dan ayat seperti pada S.Q. 97 dengan 5 ayat didalamnya yaitu

S.Q. 97 ; 1 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.

 

S.Q . 97 : 2 “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu

S.Q. 97 : 3 “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

S.Q. 97 : 4 “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

S.Q. 97 : 5 “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

KESIMPULAN

Dengan mengungkap makna huruf dalam kata TAWAKAL sebagai unsur T dalam kata “O(T)AK mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa TAWAKAL adalah (T)AAT dalam menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan percaya dan menyerahkan diri atas  (A)QIDAH  yang termuat dalam KITAB suci terakhir  yang diturunkan-NYA seecara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW yang disebut AL QUR’AN pada suatu malam yang sangat mulia disebut dengan malam LAILATUL QODAR.

Jadi dengan kemampuan berpikir manusia dapat melaksanakan makna TAWAKAL dalam kata O(T)AK dalam usaha agar dalam hidup ini mempunyai arti atas keberadaan di bumi ini sesuai dengan rencana Allah SWT sebagai penciptanya.

Oleh karena itu manusia dalam kehidupannya dengan bertawa-kal akan menunjukkan kehadapan Allah SWT sebagai orang yang beriman dengan tanda :

  • Mendengar Allah bergeletar hatinya.
  • Dibacakan ayat Allah bertambah keimanannya.
  • Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
  • Mendirikan sembahyang
  • Mendermakan sebahagian dari rezekinya.

Dengan tawakal berarti pula akan  dapat menuntun manusia dalam bersikap dan berperilaku, maka manusia dengan hikmah berpikir, maka ia akan sampai kepada tujuan dengan lidah sebagai alat manusia yang lebih mulia dalam tubuhnya. Dengan lidah itu pula seorang di lempar kedalam neraka, sebab itu jagalah dia dengan baik karena lidah itu adalah anjing yang setia, jangan lidah anda mengutuki seseorang sebab kutukan itu akan kembali kepada diri anda sendiri.

Akhirnya sebagai daya dorong perlu kita memahami bahwa tawakal tak ada paedahnya bila 1) perkataan kalau tak disertai dengan perbuatan ; 2) kepintaran kalau tidak disertai budi ; 3) derma kalau tidak disertai niat suci ; 4) harta kalau tak dengan santun ; 5) jujur kalau tidak sanggup memegang janji ; 6) hidup kalau tak disertai kesehatan ; 7) negeri makmur kalau hati penduduknya kecewa.

Dengan demikian bahwa orang takwa senantiasa mendapat pimpinan dari Ruhan dalam penghidupan dan perjuangannya di jamin oleh Tuhanakan memperoleh kemenangan. Tinggalkanlah semua yang haram anda akan jadi manusia yang paling utama dalam beribadat pada Allah SWT.

Oleh karena itu tingkatkan manfaatkan dalam hikmah berpikir agar menjadi orang yang disegani bukan pada orang kaya tetapi pada orang berbudi tinggi.

 

MENGETUK DIDING JIWA (3)

July 22, 2011

II. MAKNA ORANG DALAM OTAK

Seperti yang telah kita ungkapkan pada bagian terdahulu bahwa kata orang yang termuat dalam Al Qur’an bahwa :

ORANG : S.Q.5.42 “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar kata bohong, banyak mereka memakan yang haram (seperti uang sogokn dan sebagainya). Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan) makaputuskanlah (perkara itu) di antara mereka atau berpalinglah dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepada sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil “

Dengan memahami makna ayat tersebut diatas, maka timbul pertanyaan pada diri kita untuk mendalami bahwa “Allah menyukai orang adil”, oleh karena itu mari kita mencoba untuk menguraikan huruf dalam kata orang sehingga dapat kita rumuskan kedalam untaian kalimat menjadi lebih bermakna untuk mendalami tentang  kata “ORANG” dalam “OTAK”

Bila kata ORANG kita uraikan dari huruf menjadi kata yang bermakna yang terdiri dari unsur kata yaitu :

O menjadi Organ ;

R menjadi Roh ;

A menjadi Akal ;

N menjadi Naluri / Nafsu ;

G menjadi Golongan.

Selanjutnya kita uraikan makna huruf menjadi kata bermakna sebagai berikut :

1. ORGAN adalah alat yang mempunyai tugas tertentu dalam tubuh manusia. Tentang manusia begitu banyak diungkapkan dalam  Al Qur’an pada surat-surat :

NO.2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,28,29,30,31,32,33,34,35,36,38,39,41,42,43,44,45,46,47,49,50,51,52,53,54,55,56,57,58,59,62,63,64,66,70,71,72,80,82,83,84,86,89,90,95,96,99,100,103,110,

114. Dalam setiap surat terdapat ayat-ayat yang mengungkapkan tentang manusia.

Sebagai contoh S.Q.2 : 8 “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman “ Maknanya adalah untuk menjelaskan tentang golongan munafik.

Jadi kalau kita sejenak untuk mengingatkan kembali dengan membaca surat dan ayat yang kami ungkapkan diatas, maka ia akan memberikan daya dorong kedalam pikiran kita untuk menyadari apa arti hidup sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT ini.

2. ROH / Ruh adalah salah satu keyakinan yang diajarkan Al Qur’an  dan mempercayai soal-soal gaib merupakan salah satu sendi keyakinan beragama. Jadi kepercayaan mengenai soal-soal gaib itu justru merupakan perwujudan dari kebenaran iman dan islam.

Dalam Al Qur’an tentang Ruh dapat kita ketemukan dalam S.Q. 17 ; 85 ; 4:171 ; 19:17 ; 32:9 ; 38::72 ; 66:12 ; 78:38 ; 81:7

Sebagai contoh dalam S.Q 17:85 mengungkapkan sebagai berikut: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang Roh. Katakanlah : “Roh itu termasuk urusan Tuhan-Ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”

Dengan pemahaman tersebut diatas, maka sejak manusia lahir, roh berangsur dewasa sesuai perkembangan jasmani. Jadi dengan mempercayai adanya roh itu berarti soal-soal gaib dapat kita rasakan, sehingga kepercayaan mengenai Roh tidak dipaksakan kepada pikiran untuk memanfaatkan otak melalui alat pikiran kesadaran, kecerdasan dan akal untuk mencari jawaban tentang Roh yang tidak diketahui hakkikatnya

Cobalah renungkan S.Q. 22 : 5 “ Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari Kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepadamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian  (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara Kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”

S.Q. 6 : 62  “ Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepaada Allah. Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.

Dengan kita merenung untuk memahami makna dari kedua surat tersebut diatas, maka kita dapat mengetahuinya ada dua unsur dalam diri manusia yaitu jasad / tubuh / badan yang dapat diketahui tuntutan serta keinginannya disatu sisi dan disisi lain pada waktunya manusia setelah meninggal Roh-nya kembali kepada Allah.

3. AKAL, adalah salah satu mesteri lainnya yang diciptakan oleh Allah SWT untuk orang sebagai manusia yang memiliki kemampuan untuk berpikir.

Oleh karena itu dalam Al Qur’an telah diungkap dalam surat-surat dan ayat tentang akal seperti yang tercantum dalam . 2:142,179,197 ; 4:5 ; 5:58 ;  7:66,67,155 ; 10:100 ; 12:94,111 ; 26:28 ; 30:24 ; 39:21 ; 45::5 ; 53::6 ; 65:10.

Sebagai contoh mari kita renungkan S.Q. 2:142 “Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata : “Apakah yang memalingkan mereka (umat islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya ?” Kata-kanlah : “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat ; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”

Dengan Surat tersebut telah menunjukkan kepada kita bahwa “ke-esaan tuhanlah akhirnya yang menang”, oleh karena itu dengan akal yang dianugerahkan oleh Allah SWT, orang dapat berpikir sebagai manusia seutuhnya artinya ia mampu menggerakkan alat pikir yang lainnya dalam satu kesatuan yang disebut dengan kesadaran dan kecerdasan.

Dengan menggerakkan Kesadaran dalam berpikir artinya dengan  kesadaran kita dapat berorientasi meninjau serta merasakan diri seendiri serta menangkap situasi diluar diri kita.

Kesadaran tidak berarti apa-apa dalam berpikir bila tidak dibantu oleh Kecerdasan karena kesadaran menyadarkan tentang apa-apa namun kecerdasan melaporkan kepada kita keadaan perkara dan hubungannya. Jadi melalui kecerdasan kita dapat menangkap fakta dan informasi untuk mengingat masalah kita hadapi atau dengan kata lain seberapa besar resiko yang dihadapinya, tapi laporan itu akan menjadi penting bila kita dapat mencari jawaban untuk memecahkan.

Kecerdasan  menjadi bermakna, bila Akal menunjukkan mencari jalan untuk memenuhi maksud dan tujuan kita. Oleh karena itu dengan Akal adalah potensi rohaniah yang memiliki pelbagai kesanggupan seperti kemampuan berpikir, menyadari, menghayati dan memahami sehingga kegiatan akal itu berpusat atau bersumber dari kesanggupan jiwa yang disebut dengan intelengen. Akal berpusat di otak bawah sadar yang disebut hati.

Sejalan dengan pikiran diatas, cobalah renungkan S.Q. 2 : 269 “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah, ia benar-benar dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”

4. NALURI / Nafsu, dimana setiap orang adalah manusia pasti memiliki naluri. Naluri artinya fitrah dan oleh karena itu naluri adalah sesuatu yang tidak dipelajari dan sifatnya wajar yang dibawa manusia sejak lahir yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu tindakan tertentu.

Sifat dorongan itu, manusia bertindak dengan nalurinya pada dasarnya untuk kebaikan dan ada pula dasar untuk kejahatan,  sehingga manusia diberi ikhtiar untuk berusaha dalam  pelbagai bentuk pendekatan untuk memberikan bimbingan terhadap potensi kebaikan dan memberikan arah pada potensi kejahatan ke jalan yang baik.

Seperti kita maklumi bahwa dalam Islam faktor baik dan buruk merupakan sunnatullah  keberadaannya, sebab tidak sempurnalah Kekuasaan Allah itu jika hanya mampu mengadakan yang baik-baik saja, sedangkan yang buruk tidak.

Dorongan itu yang disebut Nafsu. Nafsu adalah bagian dari rohani yang memiliki pengaruh yang besar dan menguasai untuk memerintahkan kepada anggota jasmani. Didalam Al Qur’an dapat kita ketemukan dalam surat dan ayat yang tercantum pada S.Q. 2:87 ; 4:27, 135 ; 5:29, 48, 49, 70, 77 ; 6:119, 150 ; 7:81, 176 ; 12:53 ; 13:37 ; 18:28 ; 20:96 ;27:55.

Sebagaai contoh S.Q. 2 :87 “ Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya  (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah kami berikan bukti-bukti kebenaran  (mu’jizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dkeinginanmu lalu kamu angkuh ; maka beberapa orang (di antara  mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh ? “

Dari surat tersebut mengingat kita bahwa sikap orang Yahudi terhadap para rasul dan kitab-kitab yang diturunkan Allah. Sebaliknya Allah mengunci hati orang yang menuruti nafsu, seperti yang termuat dalam S.Q. 45:23 ; 47:16.

Dalam S.Q.45:23 berbunyi “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat ber-dasarkan ilmunya dan Allah telah mngunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannnya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? “

Sejalan dengan itu maka naluri yang ada pada manusia merupakan anugerah tuhan untuk dipakai secara bijaksana, karena dalam kehidupan manusia akan dihadapkan pada pelbagai kebutuhan baik sebagai individu maupun sebagai warga masyarakat

Dengan demikian sebagai individu, maka berkat dorongan naluri berupa hawa nafsu, kebutuhannya akan dapat terjaga dan terpelihara. Sebaliknya sebagai anggota masyarakat, ia dapat menyesuaikan diri sebab ada naluri seperti keinginan berkumpul, menyelamatkan diri, minta tolong  dsb.

Dengan mengutarakan hal diatas bahwa pada setiap manusia terdapat naluri dari pembawaan lahirnya, maka seberapa jauh seseorang dapat mengendalikan naluri yang ada dalam jiwanya akan sangat ditentukan  oleh tingkat kedewasaan seseorang dalam berpikir.

Oleh karena itu, pahamilah nafsu yang memainkan peran dalam mempengaruhi pikiran yang kita sebut dengan :

  • Nafsu Amarah adalah nafus yang belum mampu membedakan kebaikan dan keburukan sehingga mendorong kepada perbuatan yang tidak terpuji.
  • Nafsu Lawwaamah adalah nafsu yang memiliki rasa insaf dan  menyesal sesudah melakukan sesuatu pelanggaran.
  • Nafsu Musawwalah adalah nafsu yang dapat membedakan sesuatu yang baik dan buruk. Melakukan keburukan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.
  • Nafsu Mulhammah adalah Nafsu yang mendapat ilham dari Allah dikaruniai ilmu pengetahuan dan akhlak yang terpuji.
  • Nafsu Raadhiyah adalah nafsu yang ridha (ikhlas) kepada Allah, memiliki sikap yang baik dalam kesejahteraan, mensyukuri nikmat qanaah atau merasa puas dengan apa adanya.
  • Nafsu Mardhiyah adalah nafsu yang diridlai Allah. Yaitu keridlaan yang dapat terlihat pada anugerah yang diberikannya, berupa senantiasa berdzikir, ikhlas, memiliki karamah, dan men-dapatkan kemuliaan.
  • Nafsu Kaamilah adalah nafsu yang telah sempurna bentuk dan dasarnya.  Sudah dikategorikan cakap untuk mengerjakan irsyad dan menyempurnakan ikmal terhadap hamba Allah.
  • Nafsu Muthmainnah adalah nafsu yang telah mendapat tuntunan dan pemeliharaan yang baik. Nafsu ini bisa menyebabkan ketenangan jiwa, melahirkan sikap dan perbuatan yang terpuji, membentengi serangan kekejian dan kejahatan.

1.     GOLONGAN adalah mengkelompokkan orang-orang yang memiliki tingkat kesadaran yang mempengaruhi pola berpikir dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidup-annya sebagai manusia. Oleh karena itu kita dapat mengkelompokkan manusia kedalam golong-an yang disebut :

Dalam Al Qur’an mengenai Golongan terdapat dalam S.Q. 18:36 ; 35:6 ; 37:83 ; 38:11, 13 ; 40:5,30 ; 40:5,30 ; 42:7 ; 43:65.

Pada S.Q. 18 : 36 “dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mmendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”

S.Q. 35 : 6 “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggap ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Golongan kanan yang termuat dalam S.Q. 56 : 8, 27, 38, 90,96, ;  74 : 39 ;  90 : 18.

Sebagai contoh pada S.Q. 56 : 8 “ Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu “

Yang dimaksud golongan kanan ialah orang-orang yang menerima buku-buku  catatan amal mereka dengan tangan kanan.

Golongan kiri yang termuat dalam S.Q. 56 : 9, 41 ; 90 : 19. Sebagai contoh pada S.Q. 56 : 9 “ Dan golongan kiri . Alangkah sengsaranya golongan kiri itu”.

Yang dimaksud golongan kiri adalah orang-orang yang menerima buku-buku catatan amal mereka dengan tangan kiri.

Jadi dengan pemahaman itu adalah bukti kebenaran hari kebangkitan dan penggolongan manusia pada hari itu kepada mu’min dan kafir.

Untuk jelasnya marilah kita menyimak dalam S.Q.30 : 14 “Dan pada hari terjadi kiamat, di hari itu mereka manusia) bergolong-golongan.

S.Q.30 : 15 “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira.”

S.Q. 30 : 16 “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (Al Qur’an) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap berada di dalam siksaan (neraka).

KESIMPULAN

Dengan mengungkapkan huruf dalam kata “ORANG” yang telah kita utarakan diatas, maka manusia yang diciptakan oleh Allah SWT merupakan mahluk yang mulia sebagai khalifah di bumi.

Oleh karena itu, harus kita pahami bahwa ORANG sebagai unsur O dalam kata “(O)TAK mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa ORANG adalah (O)RGAN sebagai jazad  yang didalamnya terdapat (R)OH yang menggerakkan (A)KAL untuk menuntun (N)ALURI/NAFSU kedalam (G)OLONGAN umat yang selalu berpegang kepada Al Qur’an dan sunnah.

Memahami orang sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT berarti kita harus mampu mempergunakan otak sebagai sarana agar dalam bersikap dan berperilaku taat melaksanakan perintah Allah, menetapi peraturan-peraturan yang ditentukan Allah dan meninggalkan segala larang-annya.

Jadi manusia memanfaatkan OTAK dalam kemampuan untuk berpikir haruslah sejalan ajaran agama untuk mengaktualisasikan alat berpikkir yang disebut kesadaran (otak kanan atas), kecerdasan (otak kiri atas) dan akal (otak bawah sadar).

Oleh karena itu, manusia dengan kemampuan berpikir itu, ia harus menyadari benar dalam mewujudkan hikmah berpikir untuk menjauhi ma’shiat, sehingga proses dalam berpikir dapat menuntun arti mata, telinga, lidah, perut, aurat, tangan, kaki kejalan yang benar.

Untuk itu cobalah renungkan S.Q. 8 : 22 “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya  pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.”

Dalam perjalanan hidup ini orang sebagai manusia penuh dengan tantanngan dimana ideologi dan beragam aliran tumbuh dan berkembang yang akan mempengaruhi jalan pikiran manusia. Oleh karena itu, orang yang dapat menangkap makna “OTAK” sebagai ciptaaan Allah SWT, akan dapat menghayati hikmah berpikir untuk menuntun dalam bersikap dan berperilaku.

Dengan jalan pikiran itu , maka manusia berpikir, bekerja dan belajar selama hidupnya dapat membentuk kesadaran dari satu tingkat ke tingkat yang lebih sempurna sehingga dengan bantuan kecerdasan dan akal, ia dapat menolak ajaran materialisme histori dengan berpegang teguk pada Al Qur’an dan Sunnah yang menuntun manusia berbuat kebajikan dan pantang akan kejahatan.

Mengungkapkan huruf O dalam kata (O)TAK sebagai suatu pendekatan dimaksudkan untuk memahami arti manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia di bumi sehingga ia selalu berpikir dalam satu kebiasaan untuk :

  • Memberi kepada orang yang tidak suka memberi.
  • Membuat kebaikan kepada orang yang tidak senang pada kita.
  • Waktu diam digunakan untuk berpikir.
  • Bila berbicara juga berisi nasehat.
  • Apa dilihat dijadikan contoh dan pelajaran.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka orang hanya bisa dengan berkembang jikalau ia bisa mengatasi kesukaran-kesukaran krena itu harus bertekun dengan tekad maju terus, meskipun mendapat pukulan dan rintangan. Mati karena melaksanakan cita-cita adalah yang mulia. Penderitaan dan kesusahan hidup adalah pengalaman yang berharga dan membuat seseorang berjiwa besar.Tidak ada jalan yang senang menuju jalan keberuntungan hidup.

Jadi dengan daya dorong dalam memahami arti kebera-daannya di dunia berarti orang yang mendidik dirinya lebih berharga dari mendidik orang lain. Orang yang tidak dapat menguasai dirinya dia tidak dapat memimpin orang lain. Barang siapa yang pandai memelihara isterinya berarti pandai pula memelihara arti kehidupan ini

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.