Archive for the ‘Kepemimpinan’ Category

KEPEMIMPIN DAN HARAPAN ORGANISASI DALAM ABAD 21

December 14, 2007

Apakah yang diharapkan oleh organisasi dari angkatan kerja mereka dalam abad ini ? Bagimana kepemimpinan dapat mempengaruhi dalam memenuhi harapan organisasi yang sejalan dengan tuntutan perubahan itu sendiri ?

Dari sisi ketrampilan teknis dan ketrampilan komunikasi (berbicara, mendengar, membaca dan menulis), diharapkan dari para karyawan adalah :

• Menjadi proaktif dalam pekerjaan mereka dan karir mereka. Karena mereka 1) mengambil inisiatip dari pekerjaan saat ini, 2) menerima gerakan lateral untuk mendapatkan keterampilan beragam, 3) mengetahui diri sendiri dan meneruskan keinginan tahuannya, kemana mereka hendak pergi dalam organisasi, 4) mengambil resiko dengan pengembangan aktivitas baru dan menggunakan sistim suport untuk membantu mereka dalam pengembangan mereka, 5) memimpin diri sendiri dan menjadi siap terhadap perubahan.
• Menerima dan mengelola diri sendiri sehingga efektif dengan perubahan.
• Diperkiran akan lebih bertanggung jawab.
• Menjadi bertanggung jawab atas proses dan kualitas.
• Menjadi anggota yang mampu mengelola diri kedalam tim kerja yang diperlukan kompetensi antar personal.
• Menempatkan nilai lebih atas kepuasan pelanggan.
• Menjaga kekritan mereka dan keterampilan dalam kreativitas memecahkan masalah, keterampilan menyimpulkan dan menganalisa.

Dari sisi para eksekutip, organisasi mengharapkan, peningkatan keterampilan dalam merencanakan, mengorganisir, mengontrol dan memimpin yaitu :

• Berpikir secara global dan memahami peluang bisnis global.
• Mengelola mutibudaya mendukung kerja tim secara fleksibel dan responsip sebagai cara lintas kerja dengan budaya yang dapat mendukung tolaransi.
• Menjadi komit terhadap pengambangan manusia yang terkait dengan kerja.
• Memiliki keterampilan untuk mengelola kerja sama dengan kompetiter formal.
• Memperlihatkan keterampilan terhadap kerja lintas budaya, mengelola prubahan dalam satu lingkungan yang dinamis.
• Memperlihat keterampilan dalam kontektual, multi dimensi pemikiran, Mereka harus melihat tantangan organisasi mereka menghadapi politik, sosial, teknologi atau latar belakang global yang terkait operasinya.
• Memproses keterampilan untuk menetapkan arah organisasi terhadap penciptaan visi, misi dan tujuan dan kemampuan menggerak manusia mewujudkan visi.
• Memiliki keterampilan untuk pemahaman dan efektivitas personal.

Selanjutnya pegawai dan eksekutip juga mengharapkan dari organisasi mereka.yang berkaitan dengan kompensasi dan kesejahteraan, profesional kontrak, pengalaman dan keterampilan yang dihargai atas karir dan gaya hidup mereka.

Bila terdapat kelemahan-kelemahan di tempat kerja, organisasi seharusnya mencarikan jalan keluar akan tidak menghambat karir dan berdampak atas kerja mereka, adanya kompetisi secara terbuka, ruang gerak kreativitas, kebebasan dan tanggung jawab dan adanya kebersamaan visi terhadap misi perusahaan.

Kepemimpinan disatu sisi harus mampu memenuhi harapan organisasi dan disisi lain ia harus mampu mempengaruhi kepentingan pegawai, manajer dan eksekutip. Kesemuanya itu diperlukan satu strategi yang dapat diaplikasikan untuk menyelesaikan apa yang diharapkan organisasi dan apa yang diharapkan dari karyawan.

Dengan menciptakan iklim organisasi yang sehat akan mendukung pemanfaatan budaya perusahaan yang mampu menggerakkan keseimbangan kepentingan kedua belah pihak.

Disinilah letak kunci pentingnya adanya pelatihan dalam kerangka pengembangan sumber daya manusia yang bertanggung jawab.

KEPEMIMPINAN DALAM TANTANGAN ABAD 21

December 14, 2007

Titik perhatian yang hendak diungkapkan disini bukanlah sebagai seorang yang “futurism” seperti John Naisbitt, Alvin Toeffler dan sebagainya, yang mengungkap tentang “content futurism” artinya mengungkapkan informasi mengenai masa depan, melainkan dari sisi “proses futurism” artinya memikirkan pusat perhatian bagaimana cara memanfaatkan arti informasi itu menjadi bermanfaat dalam memasuki abad ke 21.

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka disini akan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan tantangan yang kita hadapi yang situasi tersebut dapat menjadi kekuatan, kelemahan, kesempatan dan hambatan sbb. :

PERTAMA, Mengapa kita membutuhkan pandangan untuk melihat masa depan kedalam persfektif manajemen ?

Dengan melihat masa depan akan dapat memberikan daya dorong melihat masa kini berdasarkan masa lampau agar kita selalu siap bersikap dan berperilaku yang bersifat “proaktip” sebagai keterampilan abad baru.

KEDUA, Apakah yang menjadi daya dorong dalam mengantisipasi yang secara dramatis dan memiliki kekuatan untuk menghadapi masa depan ?

Dalam hal ini dapat kita ungkapkan hal-hal yang perlu diperhatikan kedalam persfektif manajemen yang mencakup :
• Ekonomi global dalam globalisasi dunia tanpa batas.
• Kemajuan teknologi web dan aplikasi internet.
• Perkembangan lingkup kerja global.
• Bertambahnya pengaruh dari para langganan.
• Kepentingan steakholders
• Perkembangan aplikasi manajemen pengetahuan.
• Keragaman dan mobilitas tempat kerja.
• Meningkatnya persaingan dan secara agresif melawan terhadap peningkatan pangsa pasar dalam penciutan pasar.
• Tersedianya pengetahuan dan permintaan pelanggan yang menginginkan terbaik untuk nilai uang mereka. Kepuasan pelanggan meningkat menjadi basis mempertahankn dan pertumbuhan.
• Biaya-biaya meningkat dimana-mana dan tingkat bunga yang tinggi.
• Sistim-sistim ekolologi yang terus meningkatkan kerusakan secara tetap dalam kehidupan kita.

KETIGA, Dimanakah area utama dari perubahan yang secara signifikan akan berdampak atas praktek pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia ?

Terdapat enam area yang sangat signifikan dalam perubahan adalah :

1. Tekanan produktivitas di tempat kerja dimana setiap
organisasi beru-saha dengan cara menghasilkan biaya yang
rendah dengan kualitas produk dan jasa yang tinggi.

2. Langkah perubahan akan berlajut terhadap akselarasi
Putaran waktu akan berkurang, pemanfaatan dari daur
informasi akan meningkat, kerja akan berubah sesuai dengan
teknologi maju dan akan menjadi lebih mudah tersedia.
Organisasi yang kerja dengan waktu yang kurang akan
memiliki keuntungan kompetitip.

3. Menjadi lebih fokus bisnis yang diarahkan kepada pelanggan
dan kualitas dimana setiap pegawai jelas sekali memahami
nilai tersebut kedalam area baik pelanggan internal maupun
external.

4. Dalam banyak organisasi pada perencanaan dan tindakan di
arena global. Pasar, tempat sumber daya, kompetisi,
kerjasama yang kesemuanya melintasi batas nasional.
Adakalanya kompetitir sebagai pemasok atau bahkan sebagai
pelanggan. Dalam jangka pendek, hubungan-hubungan
menjadi komplex, menjadi batas-batas organisasi dan
lingkungannya.

5. Strategi-strategu bisnis akan menjadi lebih bergantung atas
kualitas dan personalitis dari sumber daya manusia. Sesuatu
yang tidak mungkin tanpa manusia yang berkemampuan dan
berkompete untuk mentransformasi strategi, sedangkan
organisasi hanya menyediakan uang dan teknologi dan tidak
membawa manusia yang siap mandiri, khusnya yang terkait
dengan pengetahu-an, sikap, keterampilan dan keinginan
untuk merubahah sesuatu yang utama dalam keunggulan
bersaing.

6. Struktur dan rancangan kerja akan berubah secara deramatis
yang dimulai dengan membangun perubahan itu sendiri.
Walaupun telah dilakukan batasan kerja individu dan kerja
dalam suatu tim yang lebih banyak memberikan
partisipasinya dengan lebih bertanggung jawab dan fleksibel.
Tapi yang sangat menentukan keberhasilan adalah manusia
itu yang berubah di angkatan kerja, yang memberikan
dorongan dalam merespon pengembangan sumber daya
manusia. Oleh karena itu disini terdapat empat macam
perubahan yaitu :

KEEMPAT, Bagaimana merespon seluruh perubahan masa lampau dan perubahan dalam abad baru ini dimana individu dan organisasi dapat menjawab tantangan perubahan tersebut ?

Dalam hal ini terdapat tiga hal yang terkait atas masalah tersebut yang signifikan terutama yaitu :

1. Kita dapat mengharapkan untuk menjembatani dalam cara organisasi meneva-luasi dampak intervensi orientasi sumber daya manusia. Apa nilai dari beragam pelatihan atau praktek kerja ? Apa perbedaan pengembangan tim membuat terhadap kualitas keputusan tim dan kemampuannya menyelesaikan keputusan ? Adakah pertimbangan usaha-usaha manajemen karir sungguh-sungguh memperbaiki tersedia keterampilan tepat waktu ? Bentuk-bentuk pertanyaan ini akan ditanyakan selalu dan jawaban atasnya diberikan dengan tidak ada keraguan.

2. Kita dapat mengantisipasi yang lebih besar kerumitan dan beragam dalam teori-teori dan alat-alat pengembangan sumber daya manusia. Artifisial intelejen dan aplikasi pelajaran lebih baik dariantropologi, psykologi, sosiologi dan pendikan dengan bermain. Juga para praktisi orang yang mendengar kebutuhan organisasi mereka akan terus menciptakan dan menyumbangkan pendekatan, teknik dan ide baru.

3. Akhirnya, kita menggerakkan kedalam era solusi sistim dimana memusatkan terhadap isu-isu pemecahan ulang atau membuat perubahan-perubahan nyata terhadap pelaksanaan program. Pemecahan masalah dan perubahan biasanya memerlukan banyak dan beragam tindakan-tindakan (seperti pelatihan, perubahan kebijaksanaan plus, rancangan pekerjaan plus). Perbaikan kualitas umpamanya atau memfokuskan terhadap pelanggan, atau peningkatan pro-duktivitas memerlukan lebih dari satu yang bertanggung jawab ( tunggal menjadi efektif untuk jangka pendek, tapi jangka panjang tidak). Kebanyakan dari pentingnya perubahan akan dan menjadi kelemahan secara sistimatik. Pengembangan sumber daya manusia akan melibatkan alat-alat dan solusi secara analitis untuk memenuhi kebutuhan

KELIMA, Identifikasikan, pelatihan dan pengembangan angkatan kerja dalam abad 21 ini akan memerlukan asumsi-asumsi baru, gaya dan keterampilan dari praktisi dan profesionalisme pengembangan sumber daya manusia.?

Identifikasi dan pengembangan dari sumber daya manusia untuk ekonomi global akan berperan dipundak HRD. HRD akan menjadi pusat dalam ekonomi global sebagai profesi dan sebagai satu fungsi korporasi.

Pemikiran pertama kita butuhkan perubahan cara berpikir. Kita harus secera cepat belajar untuk melihat organisasi dalam kontek global bahkan bila kita tidak mungkin beroperasi diluar batas nasional. Kita harus berubah dari pandangan yang sempit organisasi, kecenderungan melihat hanya isu-isu organisasi internaldan memulai mengembangkan pikiran yang lebih besar dari bagaimana bisnis yang dimiliki tetap berhasil dimasa yang akan datang.

Belajar dari pengelaman tidak akan kerja lebih lama. Apa yang selalu dikerjakan sebelumnya sekarang tidak akan dikerjakan. Apa yng selalu kerja dirumah mungkin kelemahan yang terbesar. Sebagai praktisi HR, produktivitas sebenarnya dan keberhasilan bergantung tiga hal yaitu :

1. Bagimana keterampilan dan kompetensi kita saat ini berada.

2. Bagaimana jelasnya kita merumuskan dan memproritaskan kebutuhan strategik dan fungsi organisasi.

3. Bagaimana efektipnya kita mengidentifikasi dan mengembangkan manusia dengan keterkaitan atas sikap, pengetahuan dan keterampilan

Akhirnya kesimpulan yang hendak kita ambil dari menghadapi tantangan abad ke 21 ini, bagimana yang sebaiknya agar membangun dan melaksanakan pemikiran kebiasaan yang produktif menjadi konsepsi atau paradigma baru dalam persfektif manajemen

KEPEMIMPINAN MENATAP MASA DEPAN

December 14, 2007

Menatap masa depan, kita akan selalu dikejutkan oleh gelombang perubahan, siapkah kita menghadapi tantangan abad baru ini yang sudah kita masuki dalam milenium ketiga, oleh karena itu terimalah perubahan itu yang sedang bergerak dari masyarakat informasi menuju ke masyarakat pengetahuan.

Sebagai jawabannya, tulisan ini kami susun sejalan dari hasil renungan untuk mengendalikan dorongan hati dalam memikirkan hal-hal yang sedang kita hadapi, untuk menempatkan hal-hal tersebut dalam persfektif yang diyakini kedalam pemahaman atas paradigma abad baru, manusia seutuh, dan kebiasaan yang produktif.

Melalui tulisan ini, kami mencoba untuk dapat mendengarkan intuisi kami dan mengutarakannya dari huruf menjadi kata-kata yang bermakna menjadi untaian kata paradigma abad baru, manusia seutuh dan kebiasaan produktif sebagai berikut, maka bila kata kita uraikan dari untaian huruf, maka yang dimaksud dengan :

PARADIGMA adalah gambaran (P)enomena yang terjadi secara (A)lamiah yang perlu dipikirkan kedalam (R)rformasi untuk menghindari dampak kepada (A)ngkatan kerja yang menyesuaikan dengan (D)imensi yang menunjukkan (I)ndikasi terhadap (G)ejala yang akan mempengaruhi (A)ktivitas masa depan.

ABAD adalah suatu (A)nalisis yang merumuskan (B)atasan-batasan sebagai (A)turan yang harus berubah untuk (D)ilaksanakan sesuai dengan tuntutan zaman.

BARU adalah tindakan yang harus (B)erorientasi kepada (A)manat dalam bersikap RESPONSIP karena akan berlaku secara (U)niversal

MANUSIA adalah (M)ahkluk dalam perjalanan hidupnya akan selalalu memiliki (A)ktivitas yang digerakkan oleh (N)aluri dalam (U)saha mencari (K)eseimbangan antara (I)ntelektual dan (A)gama yang dianutnya

SEUTUH adalah gambaran (S)ikap dari suatu (E)mberio sebagai (U)mmat yang mengakui keberadaan (T)uhan dalam (U)sahanya untuk melaksanakan (H)ijrah dalam menuju kesempurnaan yang diridhoi oleh yang maha kuasa.

KEBIASAAN adalah (K)epribadian berlandaskan (E)tika yang menjadi kekuatan (B)erpikiir secara (I)intuisi (hasil kerja hati) yang diputuskan oleh (A)kal sebagai suatu S)arana dalam mewujudkan A)malan dari kemampuan (N)alar yang dipikirkan secara mendalam.

PRODUKTIF adalah Berpikir secara P)rofesional kedalam proses yang (R)asional dengan memanfaatkan (O)tak yang memiliki (D)imensi (sisi otak kiri atas, sisi otak kanan atas, sisi otak bawah sadar) untuk merumuskan (U)kuran (efisien, efektif, berkualitas) dalam mencapai (K)eberhasilan dari (T)indakan yang dilakukan secara (I)ndividual sebagai (F)alsafah dalam menjalankan hidup ini.

Bertitik tolak dari pemikiran kami diatas, kami sampai pada suatu kesimpulan dalam perjalan hidup ini bahwa hari ini kami melepaskan pengelaman yang berdampak menyakitkan diri ini dan memahami arti apa yang dibawa oleh pengalaman itu dalam proses perubahan.

Dengan mengungkapkan pengalaman masa lalu, dan kita menjalani masa kini dengan penuh harapan, menatap ke masa depan sebagai kerangka berpikir dengan memahami dan menghayati makna hurup menjadi kata bermakna kedalam untaian kalimat menjadi rumusan sebagai suatu pendekatan dalam menghadapi tantangan abad 21 menjadi gambaran persfektif manajemen dalam kesiapan memasuki masyarakat pengetahuan.

Kerangka tersebut kami tuangkan kedalam suatu konsep berpikir yang akan menuntun kita sebagai sesuatu yang terlihat dalam ketakutan dan hidup dalam pengharapan yang mengarah kepada kehidupan untuk berpikir, bekerja dan belajar, menghadapi tantangan abad 21

Berdasarkan pemikiran diatas, kita dapat memanfaatkan penguasaan wawasaan dan imajinasi yang dijabarkan kedalam pemikiran intuisi yang mengarah kepada persfektif ; menuangkannya kedalam pemikiran rencana jangka panjang yang mengarah kepada posisi ; melaksanakan pemikiran kedalam rencana jangka pendek yang mengarah kepada performa dalam merumuskan faktor produksi dan faktor intelektual kedalam pemahaman konsep, tantangan, strategi dalam menghadapi tantangan abad 21 melalui pemanfaatan otak dalam berpikir, kepemimpinan dalam organisasi, daur hidup perusahaan, mengelola berdasarkan budaya, mengelola perubahan.

Mengelola faktor produksi dan intelektual melalui penguasaan pengetahuan dan keterampilan kedalam organisasi berbasiskan pengetahuan, membangun organisasi pembelajaran, mengelola sumber daya manusia, dan mengelola pengetahuan,

Apa yang hendak kita arahkan dalam kerangka berpikir diatas adalah mengelola hasil yang hendak dicapai dengan tingkat produktivitas yang tinggi dalam efesiensi, efektif dan berkualitas, yang berdampak dalam peningkatan nilai tambah sebagai kunci kemakmuran dalam berbangsa dan bernegara.

Kesimpulan dari tulisan ini hendak menekankan bahwa kunci keberhasilan kepemimpinan abad baru ini sangat ditopang oleh adanya konsep menata dan mengembangkan kebiasaan yang produktif dalam bersikap dan berperilaku agar setiap peran, fungsi, tugas, kerja dapat dimaksimumkan sejalan dengan tuntutan perubahan, sehingga setiap orang merasa dilibatkan dalam perubahan itu sendiri.

KEPEMIMPINAN DALAM PEMAHAMAN KONSEP

December 14, 2007

Membicarakan persfektif manajemen berarti ada sesuatu yang ingin kita ungkapkan dimana disatu sisi manajemen berbicara seperangkat pengetahuan (apa yang harus dilakukan dan mengapa), keterampilan (bagaimana melaksanakan) dan keinginan (mau melakukan) tentang usaha manusia mencapai tujuan dengan memaksimumkan sumber daya yang tersedia secara produktif (efisein, efektif dan kualitas), sedangkan disisi lain persfektif membicarakan kemampuan berpikir strategis untuk melihat segala sesuatu di masa depan.

Kemampuan berpikir strategis merupakan kebutuhan bagi setiap pemimpin masa depan, tanpa kemampuan itu sangat sulitlah ia menerapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menggerakkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan, oleh karena itu banyak pemimpin menguasai informasi tapi ia tidak mampu memanfaat informasi menjadi berguna.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka kepemimpinan masa depan sangat ditentukan kemampuannya untuk menggerakkan kemampuan berpikir dalam kerangka persfektif artinya ia memiliki kemampuan mengungkapkan situasi dalam gelom-bang perubahan karena perubahan akan selalu ada dimana-mana sehingga pemahaman yang mendalam memanfaatkan otak dan hati dalam mewujudkan antisipasi.

Antisipasi adalah keterampilan baru untuk menggerakkan kemampuan yang terkait dalam pemikiran analisis strategis dimana ia mampu mengungkapkan segala sesuatu yang belum terjadi. Inilah keterampilan yang sangat perlu dan penting dalam membicarakan apa yang kita sebut dengan persfektif.

Dengan mengungkapkan persfektif dari hasil analisis strategis sebagai satu usaha untuk meramalkan sesuatu yang harus dihindari dimasa depan, maka dengan melaksanakan manajemen yang benar diharapkan kita mampu untuk menciptakan peluang-peluang dalam masa ketidak pastian.

PERSFEKTIF bila kita uraikan dari huruf menjadi kata ber-makna kita dapat merumuskan sutu konsep dalam pemahaman bahwa PERSFEKTIF adalah P)erencanaan analisis strategi sebagai (E)sensi merumuskan hal-hal yang berkaitan dengan (R)erolakasi terhadap (S)umber daya sebagai satu (F)aktor penentu (E)konomi untuk keberhasilan dengan memanfaatkan (K)eterampilan dalam (T)eknologi dan (I)nformasi sebagai (F)ondasi dalam mewujudkan keputusan strategik.

Pemahaman kata persfektif yang dirumuskan diatas diharapkan akan menjadi alat pendorong sikap dan perilaku agar semua rumusan dalam kerangka berpikir ANTISIPATIF mampu meramalkan keputusan strategik.

Dengan pemanfaatan otak dan hati dalam kerangka kemampuan berpikir antisifatif, maka dengan menggerakkan kompetensi agar komponen memahami apa yang dapat mempengaruhi, cara berpikir yang dalam mencari jawaban lebih dari satu arah, lebih terfokuskan, mampu menggambarkan jalan yang akan ditempuh, maka keseluruhan proses berpikir itu disebut analisis strategis.

Jadi merumuskan persfektif akan memberikan hasil yang memuaskan bilamana kompetensi untuk membuat satu analisa strategis dipenuhi sehingga informasi yang tersedia dapat dimanfaatkan sebagai langkah untuk membuat antisipasi yang lebih terarah, terpadu dan kompeherensip.Sebaliknya pemahaman konsep manajemen bila kita rumuskan dari huruf menjadi kata bermakna, akan memberikan petunjuk kedalam operasionalnya artinya bagaimana anda menerapkan-nya dalam pelaksanaan. Jadi huruf dalam kata manajemen dapat dirumuskan sebagai berikut :

MANAJEMEN adalah kemampuan dalam (M)engelola penggunaan sumber daya yang tercantum sebagai (A)ktiva untuk mewujudkan (N))ilai tambah ekonomis ( economic value added) menjadi (A)kseptasi untuk memberikan (J)aminan atas (E)kuitas yang ditanam sebagai (E)misi akan (N)aik sejalan dengan pertumbuhan usaha.

Pemahaman manajemen yang dikemukakan diatas mendjadi satu kekuatan bagi pemimpin bertanggung jawab dalam menjamin pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan selalu siap memasuki gelombang ketidak pastian menjadi peluang.

Jadi manajemen haruslah dipandang bukan saja dalam arti abstrak tetapi juga dipandang dari konkrit artinya manajemen sebagai keterampilan membutuhkan kompetensi tertentu. Dengan keterampilan itu bagi pemimpin akan selalu mampu menggerakkan sumber daya manusia untuk dapat memaksimumkan sumber daya yang lain dalam mewujudkan tujuan yang hendak dicapai.

Keterampilan tertentu tersebut harus dikembangkan menjadi kompetensi dalam manajerial, organisasi, teknik dan informasi sehingga manajemen dapat dipahami dalam arti praktis yang dapat diaktualisasikan kedalam sikap dan perilaku yang bersifat proaktif. Sikap dan perilaku proaktif akan mampu mendorong kemampuan dalam kompetensi tertentu dengan memanfaatkan manajemen dari kebiasaan memecahkan masalah menjadi menghindari masalah.

Dalam pemahaman konsep diatas, maka bila kedua kata itu disatukan menjadi persfektif manajemen berarti kita melihat dari sisi bagaimana seharusnya ia diaplikasikan menjadi kenyataan dalam praktek.

Dengan pemahaman itu, maka aplikasi persfektif manajemen disini kita maksudkan adalah penguasaan seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang dapat memberi kekuatan kepemimpinan dalam mewujudkan keinginan agar dapat memberikan motivasi dalam menciptakan keseimbangan kepentingan individu, kelompok dan organisasi.

Pengetahuan, keterampilan dan keinginan tersebut harus ditumbuh kembangkan menjadi suatu kebiasaan yang produktif untuk mendukung kemampuan dalam pemikiran strategis, jangka panjang dan pendek dalam organisasi dan menjadi pendorong lahirnya kompetensi-kompetensi manajerial, teknik, informasi dan organisasi.

Kemampuan-kemampuan tersebut harsulah dapat dipandang sebagai satu kebiasaan yang prodktif yang menunjukkan kekuatan-kekuatan dan atau kelemahan-kelemahan artinya dari sisi kekuatan-kekuatan akan berdampak mendukung keberhasilan persfektif, posisi dan performa, sebaliknya dari sisi kelemahan-kelemahan akan menghambat keberhasilan.

Untuk mendukung pemahaman persfektif manajemen agar dapat diaplikasikan kedalam suatu organisasi yang efektif dan mudah dikontrol dibutuhkan kesungguhan untuk membangun kebiasaan yang produktif artinya diperlukan peningkatan yang berkelanjutan atas pengetahuan yang diperoleh dari informasi, keterampilan yang diperoleh dari pengalaman dan keinginan yang sejalan dengan sikap dan perilaku untuk menyesuaikan dengan tuntutan perubahan.

Maka seperangkat kebiasaan yang produktif menjadikan pondasi yang selalu ditumbuh kembangkan sebagai usaha-usaha pengembangan sumber daya manusia agar ia selalu siap beradaptasi terhadap gelombang perubahan yang terus bergerak tanpa berakhir.

Sejalan dengan pemikiran itu maka diperlukan pilar-pilar sebagai tonggak untuk menahan setiap perubahan artinya selalu siap menghindari masalah, sehingga ia mampu berpikir, bekerja dan belajar untuk menuntun dalam membangun kebiasaan yang produktif .