Archive for the ‘KAPASITAS BERBASIS STI’ Category

BERPIKIR DALAM KERANGKA “KAPASITAS” BERBASISKAN STI MELAKSANAKAN PERUBAHAN

December 12, 2007

BAB I PENDAHULUAN

1. IDE / GAGASAN

Bertitik tolak dari ungkapan “tak ada yang permanen kecuali perubahan itu sendiri ( nothing is permanent except change)”, maka diperlukan satu cara untuk melaksanakan intervensi dengan ke-mampuan dari dalam bukan datang dari luar.

Usaha untuk melaksanakan intervensi tersebut berbuah suatu ide / gagasan dengan menguraikan unsur-unsur yang saling terkait dalam mempengaruhi pikiran dan tindakan untuk menyeimbangkan lokika dan mental melalui suatu proses terintergrasi dalam proses pengam-bilan keputusan dalam kesediaannya untuk berubah karena tuntutan pembaharuan itu sendiri.

Untuk melaksanakan ide / gagasan tersebut diperlukan suatu konsepsi sebagai pedoman. Konsepsinya dituangkan dari unsur-unsur yang terkait dalam kata yang bermakna yaitu KAPASITAS sebagai kata dimana setiap hurup memiliki satu makna yang saling terkait :

K menjadi KOMITMEN
A menjadi ARTI
P menjadi PROSES
A menjadi ANALISA
S menjadi SUKSES
I menjadi INTERGRASI
T menjadi TRANSFORMASI
A menjadi AMALAN
S menjadi SINERGI

(more…)

BAB II MAKNA HURUF DALAM KATA KAPASITAS

December 12, 2007

1. HURUF (K) SEBAGAI “KOMITMEN” DALAM KAPASITAS

Tidak jarang dari pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa penunjukan seseorang untuk menjalankan peran yang dibebankan kepada yang bersangkutan tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan sehingga ia tidak terampil dalam melaksanakan tugas-tugas yang harus dijalankannya. Oleh karena itu tidak mengherankan bila seseorang yang berjabatan fungsional datang kepada anda menceritakan masalah yang dihadapinya tapi tidak seorangpun mempunyai komitmen untuk mencari pemecahan sebagai solusinya.

Ada ungkapan seperti “komitman tidak menjamin sukses, tapi kurangnya komitman menjamin kegagalan”, maka ditahun tujuhpuluhan orang mementingkan diri pribadi, tahun delapan puluhan merupakan meterialistik tetapi sekarang tahun sembilan puluhan nilai-nilai mengalami perubahan, sehingga orang mengatakan “era yang menjunjung tinggi nilai-nilai akan tiba” Yang dimaksudkan nilai disini adalah nilai-nilai abadi seperti kepercayaan, harapan, cinta, keadilan, pengampunan, kejujuran, pelayanan, pengorbanan, kerendahan hati, dan kesukarelaan.

Komitmen merupakan landasan utama sebagai pemimpin dan bawahan dari perwujutan KESADARAN, KECERDASAN DAN AKAL, oleh karena itu dengan landasan yang kuat, ia selalu siap dan menyadari untuk menyesuai-kan diri dengan perubahan nilai sehingga ia menerapkan sebagai pengor-banan diri mengenai apa yang terjadi saat ini (seperti top-down society) menjadi masa depan (seperti bottom-up society), maka ia menerapkan pendekatan berdasarkan apa yang disebut dengan “people – oriented” dari pada lebih menekankan suatu pendekatan apa yang disebut dengan “task – oriented”

Dari uraian yang singkat diatas, dapat ditarik satu kesimpulan bahwa KOMITMEN sebagai suatu kunci keberhasilan menjalankan PERAN (sekumpulan kewajiban yang dihasilkan oleh beberapa orang yang berarti dan orang yang memegang jabatan) yang terkait dengan JABATAN (merupakan suatu titik tertentu dalam struktur oraganisasi yang menentukan kekuasaan yang memegangnya) dalam suatu FUNGSI ( sekelompok perilaku yang di-rapkan dari suatu peran) untuk melaksanakan TUGAS (suatu kegiatan tertentu dari suatu fungsi yang seringkali terikat kepada waktu) dari PEKERJAAN (syarat khusus untuk menghasilkan suatu dari tujuan dan sasaran yang ditetapkan) akan terlihat adanya unsur-unsur yang memiliki sifat saling ketergantungan berupa :

K menjadi KEBERSAMAAN dalam komitmen
O menjadi ORANG (pemimpinan dan bawahan) dalam komitmen
M menjadi MEMAHAMI dalam komitmen
I menjadi INTELEGENSI dalam komitmen
T menjadi TASAMUH dalam komitmen
M menjadi MENTAL dalam komitmen
E menjadi EKLEKTIS dalam komitmen
N menjadi NALAR dalam komitmen

Dengan memperhatikan unsur-unsur yang disebutkan diatas, maka kita dapat merumuskan suatu difinisi KOMITMEN sebagai berikut :

Wujud KEBERSAMAAN dalam mengkomunikasikan suara hati kepada ORANG lain dalam MEMAHAMI yang berdasarkan INTELEGENSI agar dapat mengaktualisasikan secara TASAMUH dengan sikap MENTAL positip untuk bertindak secara EKLEKTIS yang bersandarkan kemampuan NALAR yang tinggi dalam menanggapi perubahan.

2. HURUF (A) SEBAGAI “ARTI” DALAM KAPASITAS

Melaksanakan komitmen yang tercermin dalam sikap dan tindakan menjadi
efesien, efektif dan bermutu selayaknya ditunjang dengan makna yang terkandung dalam ARTI yang mengandung unsur-unsur yang saling terkait, meliputi :

A menjadi ANCANGAN dalam ARTI
R menjadi REKAYASA dalam ARTI
T menjadi TEKNOLOGI dalam ARTI
I menjadi INFORMASI dalam ARTI

Jadi ARTI mengandung makna sebagai tulang punggung melaksanakan komitmen, baru menjadi bermakna bila ia didukung adanya komunikasi yang andal melalui budaya perusahaan baik formal maupun informal dapat diterima semua pihak serta didukung dengan penerapan teknologi informasi yang mampu menyembatani dalam era global work pada dunia tanpa batas.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka dengan memperhatikan unsur-unsur yang terkandung dalam kata ARTI, maka kita dapat merumuskan suatu difinisi ARTI sebagai berikut :

Wujud ANCANGAN sebagai alat untuk mencapai tujuan melalui REKAYASA sebagai proses dengan memanfaatkan TEKNOLOGI untuk mengumpulkan, menyajikan dan menyebarkan semua INFORMASI yang bisa diakses secara terbuka.

3. HURUF (P) SEBAGAI “PROSES” DALAM KAPASITAS

KOMITMEN DAN ARTI baru bermakna bila didukung suatu model dalam merekayasa sistem bisnis, maka suatu pendekatan PROSES yang mengan-dung unsur-unsur yang saling terkai meliputi :

P menjadi PEMBERDAYAAN dalam PROSES
R menjadi RENCANA dalam PROSES
O menjadi OTOMATISASI dalam PROSES
S menjadi STRATEGI dalam PROSES
E menjadi EDI (electronic data interchange) dalam PROSES
S menjadi SISTEM dalam PROSES

Proses adalah rangkaian aktivitas merubah input dan mentransformasikan menjadi output. Oleh karena itu KOMITMEN DAN ARTI dilaksanakan melalui pendekatan proses dapat menumbuh dan mengembangkan kreativitas individu dan kelompok menjadi kemampuan organisasi berinovasi menjadi bermakna bila perubahan itu mengubah dari buruk menjadi lebih baik tanpa menimbulkan ketidaknyamanan.

Bertolak dari pemikiran diatas serta memperhatikan unsur-unsur dalam kata proses, maka kita dapat merumuskan difinisi PROSES sebagai berikut

Wujud PEMBERDAYAAN sebagai langkah meningkatkan kompetensi dengan membuat RENCANA yang berkelanjutan dan terarah dengan memanfaatkan OTOMATISSASI untuk melaksanakan STRATEGI melalui EDI sebagai sub SISTEM yang terintergrasi.

4. HURUF (A) SEBAGAI “ANALISA” DALAM KAPASITAS

KOMITMEN, ARTI DAN PROSES menjadi suatu kenyataan dalam implementasi bertitik tolak dari suatau ANALISA yang mengandung unsur-unsur yang saling terkait meliputi :

A menjadi ANALISIS dalam ANALISA
N menjadi NISBAH dalam ANALISA
A menjadi ATAS dalam ANALISA
L menjadi LINGKUNGAN dalam ANALISA
I menjadi INTERNAL dalam ANALISA
S menjadi SEJALAN dalam ANALISA
A menjadi ANTISIPASI dalam ANALISA

Komitmen, arti dan proses dengan landasan analisa sebagai suatu langkah dalam pengambilan keputusan akan merupakan tonggak dalam mengintergrasikan otak kiri dengan otak kanan (Otak atas) dan otak bawah sadar untuk memberikan jawaban atas “bagaimana membuat keputusan yang benar pada waktu yang tepat”.

Sejalan dengan itu maka ANALISA menjadi bermakna membuat keputusan dengan awal why, when, what, how, who dan akhir keputusan melalui why, when, what, how, who, maka kita dapat merumuskan difinisi ANALISA sebagai berikut :

Wujud ANALISIS sebagai langkah untuk membuat NISBAH dalam membuat perbandingan melalui swot ATAS pengamatan LINGKUNGAN (faktor eksternal) dan faktor INTERNAL yang SEJALAN dengan kebutuhan ANTISIPASI dalam menghadapi tantangan masa depan.

4. HURUF (S) SEBAGAI “SUKSES” DALAM KAPASITAS

KOMITMEN, ARTI, PROSES DAN ANALISA membuat suatu SUKSES dalam melaksanakan keputusan yang dapat dijalankan dalam menyelesaikan masalah, dimana SUKSES mengandung unsur-unsur yang saling terkait meliputi :

S menjadi SITUASI dalam SUKSES
U menjadi UPAYA dalam SUKSES
K menjadi KEYAKINAN dalam SUKSES
S menjadi SASARAN dalam SUKSES
E menjadi EKSPLOITASI dalam SUKSES
S menjadi SUMBER DAYA dalam SUKSES

Komitmen, arti, proses dan analisa dengan harapan untuk mencapai sukses menjadi satu kenyataan dari impian bertolak dari kepentingan individu, kelompok dan organisasi sebagai satu prestasi yang diridhoi.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka SUKSES menjadi kata bermakna dapat kita dapat kita rumuskan dengan difinisi SUKSES sebagai berikut :

Wujud SUKSES sebagai harapan keberhasilan bertolak dari pemahaman tentang SITUASI yang dapat diidentifikasi dalam UPAYA memberikan KEYAKINAN atas masalah yang dihadapi dan pemecahannya sesuai dengan SASARAN yang ditetapkan dengan mengEKSPLOITASIkan atas SUMBERDAYA yang tersedia secara produktif, sesuai dengan rencana alokasi yang telah ditetapkan.

5. HURUF (I) SEBAGAI “INTEGRASI DALAM KAPASITAS

KOMITMEN, ARTI, PROSES, ANALISA, DAN SUKSES yang dicapai dengan adanya dengan adanya INTERGRASI yang mengandung unsur-unsur yang saling terkait meliputi :

I menjadi IMPLEMENTASI dalam INTERRASI
N menjadi NETWORKING dalam INTERRASI
T menjadi TERORGANISIR dalam INTERRASI
E menjadi ELEMEN dalam INTERRASI
G menjadi GAGASAN dalam INTERRASI
R menjadi REFORMASI dalam INTEGRASI
A menjadi AKTIVITAS dalam INTEGRASI
S menjadi SESUAI dalam INTEGRASI
I menjadi INFORMASI dalam INTEGRASI

Dengan komitmen, arti, proses, analisa, dan sukses yang didukung oleh pemahaman integrasi serta memperhatikan unsur-unsur yang terkait dida-lamnya, maka dapat kita rumuskan difinisi INTEGRASI sebagai berikut :

Wujud IMPLEMENTASI melalui NETWORKING yang TERORGANISIR kedalam satu sistem dalam menyeimbangkan ELEMEN agar menjadi terpadu dalam mewujudkan GAGASAN untuk melaksanakan REFORMASI atas seluruh AKTIVITAS yang telah tersusun secara sistimatik dalam rencana SESUAI dengan fakta yang dikelola menjadi INFORMASI dalam keputusan.

6. HURUF (T) SEBAGAI “TRANSFORMASI DALAM KAPASITAS

KOMITMEN, ARTI, PROSES, ANALISA, SUKSES, DAN INTEGRASI dalam melaksanakan pembaharuan dengan perubahan yang berencana, akan berhasil sangat bergantung atas pelaksanaan TRANSFORMASI yang mengandung unsur-unsur yang saling terkait meliputi :

T menjadi TERAPAN dalam TRANSFORMASI
R menjadi REALISASI dalam TRANSFORMASI
A menjadi ANCANGAN dalam TRANSFORMASI
N menjadi NILAI dalam TRANSFORMASI
S menjadi SOSIALISASI dalam TRANSFORMASI
F menjadi FORMULA dalam TRANSFORMASI
O menjadi ORGANISASI dalam TRANSFORMASI
R menjadi RESPONSIP dlam TRANSFORMASI
M menjadi MANAJEMEN dalam TRANSFORMASI
A menjadi ATAS dalam TRANSFORMASI
S menjadi SISTEM dalam TRANSFORMASI
I menjadi INFORMASI dalam TRANSFORMASI

Keberhasilan transformasi dalam melaksanakan pembaharuan merupakan wujud dari pemahaman atas pemberdayaan oleh keputusan sendiri, maka dapat dirumuskan difinisi TRANSFORMASI sebagai berikut :

Wujud TERAPAN sebagai REALISASI atas ANCANGAN dari NILAI yang di SOSIALISASI kan sebagai FORMULA ORGANISASI yang berperilaku RESPONSIP oleh MANAJEMEN ATAS pemanfaatan SISTEM INFORMASI.

8. HURUF (A) SEBAGAI “ANTAR” DALAM KAPASITAS

KOMITMEN, ARTI, PROSES, ANALISA, SUKSES, INTEGRASI, DAN TRANSFORMASI dilaksanakan melalui ANTAR sebagai tim dan atau kelompok , mengandung unsur-unsur yang saling terkait, meliputi :

A menjadi AKTUALISASI dalam ANTAR
N menjadi NALAR dalam ANTAR
T menjadi TENAGA PROFESIONAL dalam ANTAR
A menjadi AKSELERASI dalam ANTAR
R menjadi RFORMASI dalam ANTAR

ANTAR yng diibaratkan sebagai tim dan atau kelompok dari satu pikiran yang bertolak dari kepercayaan yang diberikan oleh pelanggan, karyawan pemimpin, dapat dirumuskan sebagai difinisi ANTAR sebagai berikut :

Wujud AKTUALISASI dari sebuah tim dan atau kelompok yang memiliki NALAR yang mendalam dari TENAGA PROFESIONAL dengan melaksanakan AKSELERASI yang berkelanjutan dalam REFORMASI dengan banyak kepala tetapi dengan satu pikiran.

9. HURUF (S) sebagai “SINERGI” DALAM KAPASITAS

KOMITMEN, ARTI, PROSES, ANALISA, SUKSES, INTERGRASI, TRANSFORMASI, ANTAR merupakan unsur dalam mengembangkan pola pikir untuk mewujudkan SINERGI yang mengandung unsur-unsur yang saling terkait, meliputi :

S menjadi SINKRONISASI dalam SINERGI
I menjadi INTELEKTUAL dalam SINERGI
N menjadi NATURAL dalam SINERGI
E menjadi EKLEKTIS dalam SINERGI
R menjadi RAMUAN dalam SINERGI
G menjadi GAGASAN dalam SINERGI
I menjadi INTUITIF dalam SINERGI

SINERGI mengandung maksud memaksimalkan kemampuan orang, informative , kreatif, dan memanfaatkan kecermelangan otak, maka dapat dirumuskan difinisi SINERGI sebagai berikut :

Wujud SINKRONISASI sebagai media dalam penataan atas pemanfaatan INTELEKTUAL yang bersifat NATURAL dan EKLEKTIS dalam arti memilih dari berbagai sumber yang terbaik dalam membuat berbagai RAMUAN untuk mencetuskan berbagai GAGASAN yang didasarkan atas pemikiran INTUITIF.

1O. BERPIKIR DALAM KERANGKA KAPASITAS

Pada bagian terdahulu telah kita kemukakan bahwa berpikir dalam kerangka KAPASITAS adalah satu pola pendekatan berpikir untuk menerapkan suatu SISTEM dalam usaha meningkatkan performansi, produktivitas, akuntabilitas dan kepemimpinan kolaborasi dalam usaha mewujudkan peremajaan organisasi yang terus menerus agar fleksibel dan mudah dikontrol yang sejalan dari tantangan pada setiap gejolak gelombang perubahan.

Oleh karena itu berpikir dalam kerangka KAPASITAS menunjukkan dalam bentuk berpikir yang metodis artinya berpikir yang disadari, sehingga ia merupakan kerja dari dua unsur organ dalam diri kita yaitu unsur otak dan hati. Otak merupakan alat pikir dan hati merupakan alat menghayati. Dalam istilah sehari-hari kedua unsur tersebut dengan akal.

KAPASITAS sebagai pola pikir yang dirancang sebagai fungsi transformasi untuk melaksanakan perubahan berencana, maka berpikir disini dapat berbentuk, apa yang disebut dengan :

BERPIKIR BIASA, adalah gejala-gejala nafsiah yang terjadinya karena ada kesadaran di dalam diri manusia yang memiliki kemampuan rohaniah untuk membentuk pengetahuan-pengetahuan (data-data).

BERPIKIR LOGIS, adalah proses nalar, menyusun ketahuan-ketahuan yang ada menuju kepada suatu kesimpulan yang korek.

BERPIKIR ILIMIAH, adalah serangkaian aktivitas akal budi (rasio) manusia untuk dapat membeda-bedakan hal-hal yang memang berbeda (realistis) dan menyamakan hal-hal yang sama (objektif) serta mencari nisbah antara kedua hal tersebut mencapai suatu kebenaran.

BERPIKIR FILSAFATI, adalah proses dialektis yang terarah untuk menemukan suatu hakikat kebenaran yang integral dan universal.

BERPIKIR THELOGIS, adalah proses belajar untuk mendekati kenyataan apa yang ada disekitar kita dan yang ada pada diri kita sendiri dalam usaha mencapai kepastian (keyakinan) tentang ke Esaan Tuhan.

Berpikir dalam kerangka KAPASITAS akan mendorong kita untuk meningkatkan makna berpikir kedalam satu pola seperti yang kita kemukakan diatas, membuka peluang untuk mengetahui alat-alat berpikir yang kita pergunakan yang paling utama yang disebut sebagai unsur jiwa yaitu KESADARAN, KECERDASAN DAN AKAL, tujuannya agar berpikir dimaksudkan untuk “mengetahui sesuatu yang belum diketahui”.

Dengan memperhatikan hal-hal yang diutarakan diatas, maka berpikir dalam kerangka KAPASITAS dalam usaha membangun dan meningkatkan suatu kebiasaan efektif sebagai pola pikir kedalam pengetahuan, keterampilan dan keinginan dalam menatap abad duapuluh satu sebagai abad baru yang penuh dengan gelombang revolusi ketidakpastian. Bagaimana kita mengelola ketidakpastian yang terus bakal ada dalam masa kini dan masa depan, dimana pelaku ekonomi dan negara menyadari benar bahwa dalam era dunia tanpa batas harus selalu menempatkan daur hidup organisasi kedalam posisi yang prima. Menempatkan daur hidup organisasi dalam posisi prima, maka diperlukan satu cara yang kita sebut dengan KAPASITAS sebagai model pendekatan.

DIFINISI KAPSITAS DARI HURUF MENJADI KATA BERMAKNA

Dengan memperhatikan huruf-huruf menjadi kata yang bermakna, maka difinisi KAPASITAS disini adalah melaksanakan KOMITMEN
untuk membangun ARTI kedalam suatu PROSES yang diawali dengan ANALISA yang mendalam terhadap situasi / data / fakta untuk mewujudkan SUKSES dalam menyelesaikan masalah yang didukung pemahaman INTEGRASI melalui TRANSFORMASI agar ANTAR sebagai tim atau kelompok untuk memanfaatkan SINERGI.

Dengan pemahaman berpikir dalam kerangka KAPASITAS sebagai satu cara untuk mengamati dimensi persfektif, posisi dan performa (kinerja) dalam suatu organisasi kedalam :

a. Pemikiran strategis mengarah pada persfektif yang mencakup budaya, visi, misi, tujuan dan grand strategi.

b. Perencanaan jangka panjang (lima tahun) mengarah pada posisi, mencakup area strategis kunci, analisis isu kritis, visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program dan anggaran.

c. Perencanaan operasional (satu tahun) mengarah pada performa, menca-kup area hasil kunci, analisis isu kritis, indikator kinerja kunci, sasaran, rencana tindakan, evaluasi.

Dengan kerangka berpikir KAPASITAS diatas, bagaimana kita mengelola DAUR HIDUP ORGANISASI dari posisi pertumbuhan kedalam posisi prima dan menghindari kedalam posisi ketuaan dengan maksud agar selalu si-ap mengangkat diri yang diserang oleh luapan gelombang perubahan.

Oleh karena itu, organisasi haruslah dilola berdasarkan pengetahuan agar memiliki kemampuan untuk terus menerus meremajakan diri untuk tetap pada posisi daur hidup organisasi yang PRIMA, ini berati memiliki sifat FLEKSIBILITAS DAN KONTROL yang mudah dilaksanakan dalam setiap tuntutan gelombang perubahan.

Bertitik tolak dari pikiran diatas, Pimpinan Puncak memainkan peran utama dalam mengelola ketidakpastian menjadi pasti dalam menghadapi tantangan gelombang perubahan, sehingga berpikir dalam kerangka KAPASITAS, ikut memberikan dayang dorong agar Pimpinan Puncak memiliki keterampilan abad baru yang disebut dengan CREATIVE INSIGHT, SENSIVITY, VISION, VERSATILITY, FOCUS, PATIENCE.

Sejalan dengan apa yang telah kita utarakan diatas, maka KOMITMEN merupakan wujud kita berpikir dan merupakan unsur utama dalam kata (K)APASITAS sebagai suatu pola pikir dalam bersikap dan berperilaku untuk mengarahkan, memotivasi, melatih, mendelegasikan dan memuaskan dengan satu anggapan bahwa “komitmen tidak menjamin keberhasilan tetapi kurangnya komitmen menjamin kegagalan”.

Dengan demkian agar organisasi bergerak fleksibel dan mudah dikontrol maka peran Pemimpin Puncak haruslah menunjukkan Kepemimpinan selalu berpikir untuk menyeimbangkan perhatian atas ISU sebagai pusat perhatian dalam kerangka berpikir KAPASITAS :

tabel

1. Organisasi berbasis pengetahuan
2. Budaya organisasi berbasis kebiasaan yang efekti
3. Gaya kepemimpinan berbasis paradigma baru
4. Mengelola area kunci berbasis data dan fakta
5. Sistem informasi berbasis teknologi informasi
6. Mengelola perubahan berbasis business proses re-ingeneering
7. R & D berbasis kebutuhan pelanggan lama dan baru
8. Operasi berbasis produkticvitas
9. Pemasaran berbasis kepuasan pembeli
10. Keuangan dan akuntansi berbasis kepentingan stakeholders
11. Sumber daya manusia berbasis kompetensi.

BAB III KEPEMIMPINAN ABAD 21 DALAM KAPASITAS

December 12, 2007

1. PENDEKATAN KERANGKA KERJA

Melinium kedua kita tinggalkan, apa artinya bagi seorang CEO dalam memasuki Melinium ketiga yaitu bagaimana KEPEMIMPINAN MASA DEPAN mempersiapkan diri dalam menghadapi apa yang akan terjadi dalam periode masa melinium ketiga dan bagaimana caranya.

Para futurist seperti Alvin Toffler yang telah menggambarkan dalam buku-nya “Future Shock” (1970), “The Third Wave” (1980), “Previes and Premises” (1983), “The Adaptive Corporation” (1985), “Powershift” (1990) ; John Nasbit dalam bukunya “Re-inventing the corporation” 1985), “Megatrends 2000” (1990), “Global Paradox” (1994) ; Frank Feather dalam bukunya”G Forces” 1989), kesemuanya mengingatkan kepada kita bahwa mengelola masa-masa yang tidak menentu pada iklim politik dan ekonomi yang telah memperlihatkan karekteristik terhadap perubahan yang begitu cepat, krisis dan dislokasi struktural yang amat besar. Jadi perubahan-perubahan sebagai tatanan lama telah berlalu dan kita memasuki suatu tantanan baru, tetapi bagaimanapun juga bahwa kecenderungan-kecenderungan masa depan tidak dapat melepaskan dari masa lalu dan kini, dimana diperlukan keterampilan-keterampilan untuk mengelola organisasi masa depan.

Mengembangkan keterampilan-keterampilan kepemimpinan, merupakan jawaban sebagai suatu langkah mengantisipasi kejutan-kejutan perubahan yang bakal terjadi dalam memasuki melinium ketiga yang ditandai dengan disatu sisi persaingan yang makin ketat dalam dunia bisnis dan masa depan yang tidak menentu, dan disisi lain memperlihatkan adanya peluang-peluang yang maha dahzat. Inilah merupakan tantangan OTAK sebagai perangkat keras yang digunakan oleh pikiran anda.

Setiap CEO dapat memperoleh dan mengembangkan keterampilan, bakat, kekuatan dan kemampuan melebihi apa yang anda harapkan saat ini,
karena rata-rata orang menggunakan otaknya kurang dari satu persen. Otak berfungsi seperti super komputer untuk menyerap, menyimpan, dan mengeluarkan informasi, sehingga otak digunakan oleh pikiran anda untuk membentuk sikap, perasaan, persepsi, harapan dan hasil akhir yang diidamkan.

Sejalan dengan ungkapan diatas, sebagai kesimpulan bahwa diperlukan suatu model kepemimpinan yang sejalan dengan tuntutan abad 21 sebagai jawaban atas bagaimana caranya menghadapi tantangan dan meraih peluang dimasa depan.

Sebagai kerangka kerja dalam usaha merumuskan suatu Model Kepemimpinan , maka dipergunakan suatu pendekatan kerangka kerja tiga dimensi artinya langkah awal dimulai dengan membuat suatu keputusan berdasarkan intuisi untuk menempatkan pusat perhatian dalam suatu situasi yang dihadapi. Selanjutnya menempatkan situasi tersebut ke dalam tiga dimensi, dimana setiap dimensi memiliki situasi yang berdiri sendiri tetapi memiliki sifat yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pada setiap dimensi akan menggambarkan pengetahuan dari pengalaman dan ilmu dari informasi. Kerangka kerja tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

III.1

2. TANTANGAN KEPEMIMPINAN ABAD 21

Melinium ketiga merupakan abad 21 yang dimulai pada 1 Januari 2001, sebagai peralihan dari suatu abad lama ke abad baru, dimana akan menunjukkan tingkat kompleksitas, perubahan dan globalisasi menjadi menarik oleh PIKIRAN dengan memanfaatkan OTAK (atas dan bawah) untuk membuat predeksi-predeksi dalam rangka meraih peluang masa depan yang maha dahsyat adanya.

III.2

Yang menjadi persoalan kita, model kepemimpinan yang bagaimana dapat memenuhi keinginan untuk mewujudkan impian dalam meraih peluang yang ada. Untuk dapat meraih peluang masa depan, maka seorang pemimpin masa depan yang disebut yang disebut dengan KEPEMIMPINAN ABAD 21, memiliki keterampilan, bakat kekuatan, dan kemampuan yang mampu mengintergrasikan otak atas (disebut juga otak kiri dan otak kanan) yang sering digambarkan sebagai “otak intelektual” dan otak bawah (disebut juga otak bawah sadar) yang digambarkan sebagai peran yang mengendalikan emosi, sikap dan insting seseorang. Dengan demikian akan memiliki keterampilan-keterampilan manajemen untuk melaksanakan “how to make the right decision at the right time”.

KOMPLEKSITAS :

Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, kompleksitas berarti kerumitan, keruwetan, tetapi bila kita merujuk pada tingkat differensiasi didalam sebuah organisasi, ia mengandung makna kooordinasi, komunikasi dan kontrol.

Bentuk differensiasi tersebut dapat :
1) Berbentuk horizontal artinya tingkat differensiasi antara unit-unit mene-kankan pada oreintasi manusia dan peran yang mereka laksanakan yang akan terkait dengan pendidikannya dan pelatihan yang diberikan kepadanya ; 2) Berbentuk vertical artinya tingkat differensiasi yang menekankan pada orientasi kedalam struktur atau dengan kata lain yang disebut dengan jumlah tingkatan hierarki ; 3) Berbentuk spasial artinya differensiasi yang menekankan pada orientasi yang memperhatikan jarak dan jumlah, spasial merupakan perluasan differensiasi hrizontal dan vertical.

Suatu organisasi dengan tingkat kompleksitas yang tingggi akan memberi-kan pula gambaran bahwa mangkin besar pula kesukaran yang dihadapi dalam komunikasi, koordinasi dan kontrol. Oleh karena itu teknik formulasinya juga akan dipengaruhi oleh tingkat kompleksitasnya seperti penentuan seleksi, pensyaratan peran, peraturan, prosedur dan kebijakan, pelatihan dsb. Dengan demikian implementasi sentralisasi dan desentralisasi harus dapat diletakkan pada tempat yang tepat, sejalan dengan pengaruh dimensi perubahan dan globalisasi.

Jalan keluar yang harus ditempuh dengan adanya tingkat kompleksitas pada suatu organisasi diletakkan dalam suatu konsep berpikir untuk merumuskan suatu pengorganisasian yang menuju konsep fleksibilitas dan mudah dikontrol.

PERUBAHAN :

Kita sering mendengar ungkapan seperti “nothing is permanent except change” (tidak ada yang permanen kecuali perubahan itu sendiri).

Kepemimpinan Abad 21, merupakan ungkapan suatu tantangan yang harus dihadapi dalam memasuki suatu tatanan abad baru disatu sisi dan disisi lain ia juga menghadapi suatu ungkapan seperti “people fear change because it undermines their security” (orang takut akan perubahan, karena hal itu me-ngurangi rasa aman mereka).

Memasuki milenium ketiga, maka akan terjadi revolusi gelombang peru-bahan dimana-mana, hal ini mengingat kepada kita bahwa dunia terus berputar, sehingga perubahan yang besar itu memasuki seluruh segi dan aspek kehidupan, ekonomi, politik, teknologi sosial dan budaya.

Faktor lingkungan yang begitu cepat berubah, mendorong setiap pelaku ekonomi harus melakukan penyesuaian dengan tuntutan perubahan itu sendiri . Sebagai suatu ilustrasi dengan terbentuknya kerjasama ekonomi Asia Fasifik terutama Asia Timur dan Tenggara diharapkan dapat meningkatkan perdagangan dan investasi diantara negara-negara di kawasan ini, berarti akan mendorong liberalisasi perdagangan dan investasi global yang akan berdampak peluang dalam lingkungan yang sangat kompetitip dan dengan ketidakpastian.

Dengan revolusi gelombang perubahan, Kepemimpinan Abad 21 harus mampu membuat prediksi-predeksi dalam mencari kepastian, mencari ketidakpastian dan membuat ketdakpastian menjadi suatu keberhasilan. Disinilah letak peranan Pemimpin untuk mewujudkan apa yang disebut “people support what they help to create so get them involved in planning change” (orang mendukung apa yang mereka bantu ciptakan, jadi libatkanlah mereka dalam perubahan perencanaan).

Sejalan dengan itu Kepemimpinan Abad 21 harus mampu merubah pola berpikir dalam keterampilan manajerial yaitu dari pemecahan masalah (bertolak dari sikap reaksi) menjadi menghindari masalah (bertolak dari dari sikap antisipasi).

GLOBALISASI :

Globalisasi merujuk kepada kegiatan bisnis yang beroperasi bukan saja berada dalam negeri, melainkan melintasi perbatasan negara. Jadi globalisasi mengandung makna kegiatan bisnis yang mencakup kawasan dunia untuk memenuhi kepentingan pelanggan dunia.

Globalisasi harus dilihat bukan saja dari sudut expansi, melainkan dilihat dari sudut tuntutan lingkungan baru karena dalam lingkup kerja global akan terdapat konsumen global, pengetahuan sebagai produk global, korporasi global dan pekerjaan global. Oleh karena itu, maka pola pikir untuk mengorganisir suatu bisnis global dituntut adanya pemahaman dan berkomunikasi dengan beragamnya budaya, tersedianya kemajuan dalam teknologi informasi yang dapat mendukung untuk pemanfaatan otak yang lebih berdayaguna mampu melaksanakan kepemimpinan kolaborasi.

Kepemimpinan abad baru, harus dapat memahami sepenuhnya atas kehadiran dari perusahaan global dalam penyesuaian pola pikir dalam ling-kungan baru mengenai :

a. Konsep bisnis dengan perencanaan strategik yang berwawasan lingkup dunia dengan seluruh aspek kegiatanbisnis secara komprehensip dalam klas dunia ; b. Prusahaan global harus memiliki sifat transparan, jadi tidak ada pembatas dalam mengelola informasi untuk kepentingan stakeholders, khu-susnya pelanggan ; c. Tidak hanya menekankan keunggulan pelayanan pada konsumen global tetapi juga yang berkaitan penyerahan sistem yang dapat menimbulkan kepekaan bagi kebutuhan konsumen lokal ; d. Sebagai suatu sistem global, ia harus mampu menyeimbangkan atas kepekaan terhadap kebutuhan lokal atas seluruh aspek bisnis.

Dengan memperhatikan atas pemahaman diatas, diharapkan untuk masuk kedalam arena globalisasi, maka perusahaan-perusahaan yang mengglobal menjadi penting untuk :

a. Melanjutkan suatu kegiatan dengan persaingan di daerah yang memiliki potensi pasar pada kawasan tertentu ; b. Memiliki kemampuan untuk me-ngikuti kecenderungan teknologi ; c. Menciptakan dan menarik manfaat dari pengembangan peluang-peluang bisnis.

Untuk menggariskan strategi bisnis dalam arena globalisasi dalam rangka memasuki bisnis global, pada umumnya terdapat beberapa pendekatan dimana melihat disatu sisi mengenai tinggi-rendah biaya dan disisi lain dorongan produk ke konsumen, maka terdapat tiga pendekatan memasuki bisnis internasional yaitu : a. pendekatan model Jepang yang disebut dengan “the global exporter” ; b. pendekatan model Amerika yang disebut dengan “the multinational” ; c. pendekatan model Eropah yang disebut dengan “the multilocal”.

Ketiga pendekatan tersebut diungkapkan dari John L. Daniels & Dr.N. Caroline Daniels dalam bukunya “Global Vision” dengan gambar sbb. :

III.4

3. PRADIGMA KEPEMIMPINAN ABAD 21

III.5

PROFESIONALISME DALAM MODEL KEPEMIMPINAN :

PENDAHULUAN

Profesionalisme disini dimaksudkan kemampuan seorang pemimpin dalam melaksanakan tahapan-tahapan berpikir (biasa, logis, ilimiah, filsafat dan theologis) dalam menjalankan profesinya. Dengan kemampuan berpikir itu ia dapat mendudukkan dan menggerakkan cara berpikir kedalam berpikir vertical dan lateral yang akan mempengaruhi sikap dan perilaku atas usahanya mempengaruhi orang lain.

Dengan profesionalisme itu, ia dapat memanfaatkan ilmu (informasi) dan pengetahuan (pengalaman) kedalam proses berpikir vertical artinya memanfaatkan informasi dan pengalaman demi ilmu dan pengetahuan untuk digerakkan dalam merumuskan masalah dan pemecahannya, sedangkan berpikir lateral bukan demi ilmu dan pengetahuan itu sendiri melainkan mencoba membuat lompatan yang beragam tidak terbatas pada satu arah.

Jadi dengan profesionalisme itu, orang tersebut akan maemanfaatkan proses berpikir vertical dan lateral yang mempunyai kepentingan yang sama dan tidak menempatkan berpikir yang satu lebih penting dari yang lain, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana memanfaatkan keduanya secara produktif.

PENDEKATAN :

Untuk merumuskan profesionalisme dalam kepemimpinan abad 21, maka akan

dipergunakan kerangka kerja tiga deminsi.(rumusannya lihat pada tulisan terdahulu)

Dengan pendekatan ini, kita menetapkan adanya tiga dimensi yang akan menentukan tingkatan profesionalisme seseorang dalam menjalankan perannya yang kita sebut dengan kemampuan memiliki Wawasan (D.1), Penyelarasan (D.2) dan Pemberdayaan (D.3)

Seorang pemimpin yang ingin maju dalam kepemimpinan sesuai dengan tuntutan perubahan, maka ia akan berusaha meningkatkan kemampuan-kemampuan yang akan terkait dengan :

WAWASAN (D.1) artinya kemampuan memanfaatkan ilmu (informasi) dan pengetahuan (pengalaman) dalam berpikir secara vertical dan lateral dengan lebih memfokuskan diri secara konseptual dalam melihat masa depan dalam menyeimbangkan perencanaan strategik dengan pelaksanaan yang sejalan dengan budaya organisasi, bila diperlukan diadakan penyesuaian dengan tuntutan perubahan lingkungan yang kesemuanya untuk kepentingan stakeholders.

PENYELARASAN (D.2) artinya kemampuan untuk mewujudkan kebersamaan dalam tindakan melalui adanya keterkaitan dalam sistem artinya seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga memben-tuk suatu totalitas ; keterkaitan dalam struktur artinya cara bagaimana sesuatu disusun atau dibangun ; keterkaitan dalam proses artinya rangkaian tindakan, pembuatan atau pengolahan.

PEMBERDAYAAN (D.3) artinya kemampuan untuk mempersatukan wujud kepentingan yang seimbang antara kepentingan individu, kelompok dan organisasi sehingga ia dapat menjadi daya dorong untuk memotivasi perubahan sikap melalui pemberdayaan bakat yang tersembunyi, peningkatan kecerdikan emosional dan membangkitkan pikiran kreativitas, yang kesemuanya merupakan pemberdayaan otak.

WUJUD PROFESIONALISME DLM KEPEMIMPINAN ABAD 21 :
Dengan memperhatikan pendekatan yang dikemukakan diatas, maka wujud profesionalisme yang kita bangun dan dikembangkan secara berke-sinambungan

dalam usaha mempengaruhi orang lain adalah :

KOLABORASI (D.1) artinya dengan kemampuan profesinalismenya, membangun kepemimpinan kolaborasi pada semua tingkatan pimpinan dan

menuntut perubahan dalam sikap dan perilaku yang berkesinambungan pada setiap hubungan di tempat kerja sehingga tidak lagi menentukan peran dalam jabatan melainkan peran dalam fungsi.

KOMITMEN (D.2) artinya dengan profesionalimenya, ia membangun komitmen sebagai wujud dari kesadaran dari proses berpikir intuisi dan akan menjadi suatu kenyataan bila yang bersangkutan mampu mengintegrasikan otak sebagai alat pikir serta hati untuk menghayati. Jadi komitmen merupakan pengorbanan diri dalam arti abstrak dan akan menjadi suatu kenyataan bilamana ucapan dan perbuatan jalan seimbang.

KOMUNIKASI (D.3) artinya dengan profesionalismenya, ia membangun kemampuan berkomunikasi yang efektif agar terwujud sikap positip, hal itu berarti pemimpin menjadi daya dorong terhadap orang lain, sehingga setiap pesan atau gagasan yang disampaikan kepada orang lain dapat diterima.

Dengan demikian, kolaborasi, komitmen dan komunikasi merupakan dimensi yang akan mengangkat pemimpin yang sukses dalam menjalan peran kepemimpinannya.

RINGKASAN :

Dengan profesionalisme, maka tantangan dari situasi yang menggambarkan ketidak pastian dalam mengelola masa kini dan sekaligus menciptakan masa depan bukanlah sesuatu hal yang mengejutkan, melainkan sebagai daya dorong untuk menumbuh kembangkan kepemimpinan abad 21 sebagai suatu kebutuhan yang tidak terelakkan.

Untuk menuntun dan mengarahkan peran kemimpinan dalam mempengaruhi orang lain secara effektif dalam masa kini dan masa depan sangat ditentukan adanya keinginan pemimpin pada semua tingkat untuk berubah. Dalam perubahan itu, maka pola pikir baru menjadi suatu kebutuhan. Jadi pemahaman atas wawasan, penyelarasan dan pemberdayaan merupakan dimensi yang menentukan dalam pola pikir baru untuk membentuk perilaku dan keterampilan baru yang akan menuntun terbentuknya kolaborasi, komitmen dan komunikasi untu kepemimpinan profesionalisme

ANTISIPATIF DALAM MODEL KEPEMIMPINAN ABAD 21 :

PENDAHULUAN

Kepemimpinan masa lampau akan sejalan dengan perubahan-perubahan dalam proses strategi yang memfokuskan keuangan (1950), pemasaran dan sumber daya manusia (1960), tanggung jawab sosial (1965), lingkungan dan skenario (1970), portofolio (1975), persaingan dan budaya (1980), teknologi (1985), pelanggan (1990), sejak tahun 1995 telah menunjukkan kecenderungan lahirnya masalah bukan saja menghadapi masalah yang bersifat normal tapi berubah menjadi tidak normal (komplek dengan tingkat keruwetan yang besar), maka terjadilah perubahan pola pikir yang bersifat reaktif menjadi antisifatif.

Dengan perubahan organisasi yang dimotivasi dengan adanya ekonomi global, oleh karena itu sangat menarik untuk disimak buku yang ditulis oleh Kenichi Ohmae dalam “Dunia tanpa batas” Kekuatan dan strategi di dalam ekonomi yang saling mengait, Ia mengemukakan dalam menggariskan strategi perlu mempertimbangkan 5C (customer, competitor, comapany, country, currency). Sejalan dengan itu maka melihat masa depan, dapat dilihat dalam dua sisi yaitu konten dan proses, artinya yang penting bukan banyak menguasai informasi melainkan bagaimana memanfaatkan informasi untuk melihat masa depan yang ditandai oleh gelombang ketidak pastian dimana-mana.

Dengan demikian, maka kepemimpinan masa depan sejak tahun 1995 telah menaruh perhatian atas strategi yang terkait dengan “modal intlektual” artinya pengelolaan organisasi berbasiskan pengetahuan. Jadi antisipasi adalah wujud dari kepemimpinan yang memiliki kemampuan merumuskan, membuka, mengenali dan mengubah sebelum terjadinya sesuatu, berbasiskan ilmu pengetahuan.

PENDEKATAN :

Pendekatan dilakukan dengan kerangka kerja tiga dimensi (lihat tulisan terdahulu), dalam hal ini menempatkan pusat perhatian kedalam situasi yang saling berkaitan untuk merumuskan antisipatif dalam kepemimpinan abad 21 sebagai suatu kebutuhan dalam usaha untuk menumbuh kembangkan prinsip dalam berpikir ke masa depan sebagai berikut :

FAKTA DAN INFORMASI (D.1) adalah bahan dasar yang diperlukan dalam mengidentifikasi atas situasi secara komprehensip dalam merumuskan masalah yang akan dihadapi masa depan, tanpa mendalami situasi tersebut kedalam fakta dan informasi yang harus dapat dikelompokkam kedalam hal-hal yang bersifat strategis, pokok dan tambahan, maka akan sulit kita menemukan pemecahan masalah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, kalau itu itu dilakukan akan menimbulkan situasi baru yang berakibat lahirnya masalah baru tanpa terkendali.

TEKNOLOGI (D.2) dimaksudkan disini adalah sistem, metoda dan prosedur untuk menerapkan ilmu dan pengetahuan yang teratur untuk tugas-tugas yang praktis dalam penerapannya. Jadi dengan memanfaatkan teknologi tersebut kita akan melangkah yang lebih terarah melihat masa depan dari satu situasi dengan ketidak pastiannya menjadi pasti.

OTAK DAN HATI (D.3) adalah benda putih yang lunak, terdapat di dalam rongga tengkorak yang menjadi pusat saraf dengan memiliki 10 sampai 15 triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf itu mempunyai ribuan sambungan, dapat diibaratkan seperti super komputer, jadi otak merupakan organ satu-satunya di tubuh kita yang terus berkembang asalkan terus dipakai. Sedangkan hati adalah salah satu sub sistem pembuluh darah berbentuk sepotong daging khusus yang didalamnya terdapat ruang yang berisi darah kehitam-hitaman , disinilah tempat sumber roh dan asalnya. Jadi seberapa jauh kita dapat melaksanakan pemberdayaan otak dalam kerangka berpikir yang metodis (yang disadari) dengan mengintergrasikan dua unsur organ didalam diri kita, disatu sisi otak alat pikir dan sisi lain hati alat menghayati.

Dengan memperhatikan dimensi fakta dan informasi, teknologi serta otak dan hati maka seorang pemimpin dengan kepemimpinannya mampu menggerakkan kemampuan berpikir antisipatif bukan reaktif.

WUJUD ANTISIPATIF DALAM KEPEMIMPINAN ABAD 21 :

Dengan memperhatikan dimensi yang kita kemukakan diatas, maka pola pikir antisipatif merupakan prinsip yang perlu ditumbuh kembangkan dalam rangka mengarungi gelombang ketidak pastian di masa depan dengan mengubah perubahan-perubahan yang pasti melalui suatu proses analisa sebagai penelitian yang strategis, sehingga langkah tersebut merupakan hasil dari wujud antisipatif dalam kepemimpinan abad 21, sebagai berikut:

MENEUMBUHKAN KESADARAN (D.1) sebagai alat pikir untuk mengidentifikasi seluruh situasi dalam kerangka untuk memahami apa yang dapat mempengaruhi, sebagai langkah awal berpikir melihat masa depan apa yang akan terjadi artinya dengan kesadaran kita dapat berorientasi meninjau serta merasakan lingkungan internal. Dengan menggerakkan kemampuan itu, kita mencoba untuk memahmi apa yang mempngaruhi serta menghayati situasi yang berada diluar lingkungan kita. Artinya dengan kesadaran itu kita dapat me-nempatkan perhatian pada objek tertentu sehingga dapat memusatkan kesadaran pada apa-apa itu dan meyadarkannya. Jadi kesadaran yang dipusatkan dapat mempertajam panca indera ke satu arah pusat perhatian, yang kita sebut fokus atas situasi yang dihadapi sehingga menjadi masalah yang dirumuskan.

MENGGERAKKAN KECERDASAN (D.2) sebagai alat pikir untuk melanjutkan atas pemahaman atas apa-apa situasi yang terjadi pada tahap kesadaran menjadi untuk membuka dan mengenali saling keterkaitan serta hubungan-hubungannya, maka dengan fakta dan informasi yang ada mencoba dengan mengerakkan kecerdasan mencari jawaban yang tidak hanya satu arah serta memfokuskan dan memprioritas kemungkinan resiko apa saja yang akan terjadi.

MENGUBAH DENGAN AKAL (D.3) artinya dengan akal dapat menggambarkan atau memetakan mengenai letak bahaya, macam yang dihadapi, kapan datangnya dan cara-cara pemecahannya serta memberikan pertimbangan-pertimbangan. Jadi mengubah dengan akal karena akal merupakan potensi rohaniah yang memiliki kemampuan berpikir, menyadari, menghayati, mengerti, memahami sehingga kegiatan akal itu berpusat atau bersumber dari kesanggupan jiwa yang disebut dengan intelengensi.

RINGKASAN :

Mengidentifikasi situasi dan fenomena masa depan dapat dilihat dari sisi isinya dan proses, kesemua langkah itu disebut dengan berpikir secara antisipatif sebagai lawan dari reaktif sebagai satu pola perubahan dalam berpikir.

Dilihat dari sisi isinya mengandung makna, pendekatan apa yang kita lakukan untuk berpikir ke arah masa depan dengan mengungkapkan fakta dan informasi, teknologi, otak dan hati. Berpikir pada fase ini disebut juga berpikir divergen artinya secara meluas mencoba mengidentitifikasi situasi, merumuskan masalah yang bakal dihadapi dan memperkira-kirakan pentingnya situasi secara menyeluruh.

Sedangkan dilihat dari sisi proses mengandung makna wujud yang kita sebut dengan antisipasi adalah menimbulkan kesadaran, menggerakkan kecerdasan, mengubah dengan akal. Berpikir pada fase ini disebut juga berpikir konvergen artinya sebagai langkah fase penyelesaian atau penutupan artinya langkah untuk memutuskan atas pilihan-pilihan, me-ngambil tindakan dan mengevaluasi hasil.

Jadi dengan mengungkapkan berpikir secara divergen dan konvergen itu merupakan langkah yang strategis untuk melaksanakan sikap dan perilaku antisipatif sebagai suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam kepempinan abad 21 karena ia merubah pola pikir dari memecahkan masa-lah menjadi menghindari masalah.

KREATIF & INOVATIF DLM MODEL KEPEMIMPINAN ABAD 21 :

PENDAHULUAN

Suksesnya organisasi dimasa depan sangat ditentukan oleh kemampuan kepemimpinan dalam memaksimumkan peluang-peluang yang sangat terbuka pada masa-masa yang tidak menentu, maka disitulah terletak profesionalisme kepemimpinan yang mampu mampu mendorong bawahannya untuk berpikir kedepan dengan menumbuh kembangkan kreativitas dan inovasi.

Bila dilihat dari sudut kemampuan menggali tambang emas yang ada pada setiap individu sebagai potensi (bakat) pikiran, maka kreativitas merupakan kemampuan individu dalam mengintergrasikan otak dan hati menjadi kemampuan berpikir menggerakkan wawasan dan imajinasi sehingga terben-tuklah seluruh kisaran proses mental yang sadar. Selanjutnya bila dilihat sebagai daya dorong gagasan / ide individu dikembangkan kedalam kelompok maka terbentuklah kreativitas kelompok. Kreativitas individu dan kelompok barulah bermakna bila dilihat dari sudut proses dan produk yang kita sebut inovasi dari perilaku organisasi. Jadi dapat kita ibaratkan mata uang yang bernilai dimana disatu sisi sebagai kreativitas individu dan kelompok serta disisi lain sebagai inovasi organisasi.

Dengan pemikiran diatas maka kepemimpinan abad 21, haruslah memiliki kemampuan menjadi penggerak untuk menciptakan keseimbangan kepentingan dalam perilaku individu, kelompok dan organisasi dalam memandang perspektif masa depan.

PENDEKATAN :

Pendekatan dilakukan dengan kerangka kerja tiga dimensi (lihat tulisan terdahulu), dalam hal ini menempatkan pusat perhatian kedalam situasi yang saling berkaitan untuk merumuskan kreativitas dan inovasi dalam kepemimpinan abad 21 sebagai suatu kebutuhan dalam usaha untuk menumbuh kembangkan atas kepentingannya sebagai berikut :

IKLIM ORGANISASI (D.1) merupakan suatu sifat lingkungan kerja, yang menjadi daya dorong bagi setiap orang atau kelompok yang berkeinginan untuk berimajinasi dalam mengungkapkan gagasan / ide baru yang dapat berubah menjadi inovasi, oleh karena itu iklim menjadi syarat yang sangat menentukan dan dipengaruhi oleh peran kemimpinan dalam mempengaruhi keseimbangan pelilaku individu, kelompok dan organisasi. Jadi perubahan-perubahan yang akan dilakukan menjadi produktif sepanjang iklim organisasi ikut mendukung dalam pengembangan organisasi yang sejalan dengan tuntutan perubahan itu sendiri.

INFORMASI TERBUKA (D.2) merupakan suatu kebutuhan bagi individu dan kelompok untuk mengembangkan daya cipta dalam berimajinasi dan dalam iklim oraginasi yang sehat mudah mendapatkan informasi secara vertical, horizontal dan diagonal.

Kita menyadari bahwa setiap fase dalam berkriativitas yang bermula dari keinginan untuk mencipta, diikuti penyelidikan, pencetusan saat alam bawah sadar dan akhirnya mengembangkan menjadi bukti gagasan yang telah diciptakan, kesemua fase kegiatan tersebut membutuhkan informasi kedalam pemanfaatan otak kanan yang berfungsi pencetus dan penerangan serta otak kiri berfungsi persiapan dan pembuktian, akhirnya keputusan ada dalam otak dibawah sadar yang disebut akal.

TEKNOLOGI INFORMASI (D.3) merupakan daya dorong untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi, dimana perilaku individu, kelompok dan organisasi dapat memanfaatkan kemajuan-kemajuan dari perkembang-an teknologi imformasi kedalam suatu organisasi virtual. Kemajuan teknologi web dan aplikasi internet telah membentuk pemanfaatan kecerdasan dalam menggerakkan otak kiri di tengah revolusi yang merubah cara kita hidup, berkomunikasi dan berpikir.

Kepemimpinan abad 21 memainkan peran untuk menggerak otak sebagai raksasa yang tidur menjadi kreatif dan inovasi dengan memperhatikan iklim organisasi, informasi terbuka dan teknologi informasi sebagai daya dorongnya.

WUJUD KREATIF & INOVATIF DLM KEPEMIMPINAN ABAD 21 :

Dengan memperhatikan hal-hal yang kita kemukakan diatas, maka wujud kreativitas dan inovasi merupakan langkah strategis yang secara terus menerus ditumbuh kembangkan dalam meraih peluang sebagai tantangan utama disatu sisi dan disisi lain meningkatkan kemampuan menghadapi persaingan. Bentuk wujud dimaksudkan sebagai berikut :

MENGEMBANGKAN BAKAT TERSEMBUNYI (D.1) artinya pemimpin mendorong atau mempe-ngaruhi individu sebagai bawahannya untuk memanfaat otak yang tidur agar yang bersangkutan dapat menggerakkan wawasan dan imajinasi untuk ikut serta berkontribusi dalam menghadapi tantangan masa depan. Jadi individu sebagai anggota organisasi ditantang untuk memahami kekuatan pemikiran dalam mewujudkan kebiasaan berkreativitas di tempat kerjanya.

MENGEMBANGKAN TIM YANG EFEKTIF (D.2) artinya untuk merealisasikan suatu gagasan akan menjadi lebih baik bila di proses kedalam satu tim. Dengan menyadari mekanisme kerja sama, maka kreativitas dilihat dari perilaku kelompok memberikan hasil yang lebih baik dalam mewujudkan tujuan yang ditetapkan bersama dalam menghadapi tantangan masa depan yang penuh ketidak pastian.

MEWUJUDKAN PRODUK YANG PRODUKTIF (D.3) artinya perilaku organisasi dapat digerakkan untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia dalam merealisasi satu kreativitas menjadi inovasi kedalam produk yang memiliki keunggulan dari sisi efesiensi, efektitivitas dan mutu, sehingga dapat memenuhi kepuasan pelaanggan.

Ketiga bentuk wujud dari kreativitas dan inovasi tersebut haruslah dapat dilola oleh pimnan masa kini dan masa depan sebagai suatu tindakan strategis.

RINGKASAN :

Kunci keberhasilan organisasi salah satunya adalah sangat ditentukan kejelasan menggariskan strategi kreativitas dan inovasi. Pelaksanaan strategi tersebut akan ditentukan oleh kemampuan kepemimpinan untuk menggerakan sumber daya manusia melalui pemanfaatan sistem informasi yang dapat membentuk organisasi menjadi fleksibel dan mudah dikontrol.

Dengan mewujudkan adanya iklim organisasi yang sehat, informasi terbuka dan mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, maka diharapkan menjadi pemacu bagi perilaku individu dan kelompok yang dapat memberikan konstribusi kedalam inovasi yang beroreintasi kepada kepentingan stakeholders.

Sejalan dengan pikiran tersebut diatas, maka pertumbuhan organisasi dalam daur hidup dari satu tahap ke tahap yang berikutnya dan mampu mempertahankan pada posisi daur hidup yang prima terletak pada kemampuan melaksanakan pemberdayaan otak manusia.

Dengan otak manusia, tersembunyi potensi bakat yang harus digali dan ditumbuh kembangkan dalam bentuk berpikir ke masa depan, maka disitulah terletak peran kepemimnan untuk menggerakkan pikiran manusia kedalam imageenering secara berkelanjutan.

Tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas akan mampu mewujudkan kreativitas dan inovasi sebagai suatu strategi dalam mengadaptasi setiap perubahan yang bakal terjadi. Apapun bentuk gelombang ketidak pastian dapat dirubah kedalam perspektif menjadi pasti Jadi kreativitas dan inovasi dalam kepemimpinan abad 21 merupakan kunci untuk memprediksi dari yang tidak tahu menjadi tahu.

4. SEMBILAN PRINSIP DALAM KEPEMIMPINAN ABAD 21

III.3

KOLABORASI PRINSIP PERTAMA :

PENDAHULUAN

Dikatakan kolaborasi sebagai prinsip pertama karena ia merupakan tonggak dasar dalam kita berpikir agar kita meletakkan landasan yang kuat untuk memulai sesuatu kegiatan pengembangan bakat kepemimpinan. Seperti kita katakan bahwa kepemimpinan dapat dipelajari karena ia merupakan potensi yang tersembunyi pada setiap diri orang, sehingga galilah tambang emas yang melekat pada diri anda yang kita sebut pikiran, disitulah terletak peningkatan kemampuan anda., kalau anda ingin maju dalam kehidupan ini.

Gelombang perubahan maha dahsyat yang akan kita hadapi dalam abad 21 ini, namun kita dapat mengarunginya sepanjang kita mau menyesuaikan diri dalam perubahan itu. Kita menyadari sepenuhnya “nothing is permanent except change” (“tak ada yang peremanen kecuali perubahan itu sendiri”), oleh karena itu sebaliknya kalau kita ingin berubah ingat pula “there is nothing wrong with change if it’s in the right direction” (“tidak ada yang salah dengan perubahan jika itu mengarah pada yang benar”).

Dengan demikian cobalah kita merenungkan makna kolaborasi sebagai landasan utama dalam usaha kita mengangkat bakat kepemimpinan yang terpendam dalam menggerakkan manusia untuk mencapai tujuan bersama. Marilah kita mencoba untuk merenungkan makna KOLABORASI sebagai suatu kenyataan dalam abad baru ini, karena kita menyadari bahwa kegagalan dalam melaksanakan kepimpinan sebagian besar terletak dari ketidak harmonisan hubungan antar manusia.

Jadi pusatkan perhatian untuk mencapai kesuksesan anda akan terletak pemahaman prinsip pertama dalam mewujudkan kolaborasi dalam rangka membentuk kepribadian dalam sikap terbuka dan menghilangkan sikap takut, rendah diri dan sebagainya.

MAKNA KOLABORASI

Untuk dapat kita memahami makna kolaborasi (kerjasama), maka bagaimana kita memotivasi orang disatu sisi dan disisi lain agar kepemimpinan anda menjadi teladan untuk itu anda bertanggung jawab atas pemikiran yang kita buat. Untuk mengingatkan kita berpikir maka dibawah ini mencoba menggambarkan unsur-unsur yang ada pada kolaborasi sbb.:

KEYAKINAN ORANG (KO) :

Dua huruf pertama KO merupakan singkatan dari makna Keyakinan Orang artinya bagaimana anda dapat mempengaruhi orang, kalau tidak ada keyakinan orang manfaat yang akan ditarik dari visi anda untuk mewujudkan kerjasama. Oleh itu harus ditumbuhkan keyakinan orang bahwa perubahan pada diri orang itu untuk melaksanakan prinsip kolaborasi kedalam sikap dan perilaku.

LAKUKAN ASSESMEN (LA) :

Dua huruf kedua LA merupakan singkatan dari makna LAKUKAN ASSESMEN artinya setelah timbulnya keyakinan orang arti pentingnya kolaborasi, maka perlu diikuti adanya satu pengawasan secara berkesinambungan untuk mengadakan penilaian apakah penerimaannya karena keterpaksaan atau datang dari dalam diri yang bersangkutan untuk melakukan kolaborasi sebagai suatu kebutuhan.

BUDAYA ORGANISASI (BO) :

Dua huruf ketiga BO merupakan singkatan dari makna BUDAYA ORGANISASI artinya semua anggota dalam organisasi memenuhi norma, nilai, wewenang dan ganjar yang telah disepakati bersama dalam bersikap dan berperilaku karena dengan budaya itulah dapat menuntun kita melaksanakan kolaborasi sebagai keyakinan dan kebutuhan.

REAKTIF ADAPTIF (RA) :

Dua huruf keempat (RA) merupakan singkatan dari makna REAKTIF ADAPTIF artinya setiap individu, kelompok dan organisasi harus mampu menggerakkan dalam tindakan pada saat yang mana dapat melaksanakan pikiran yang reaktif dan atau adaptif. Ukurannya dikaitkan dengan waktu dan tingkat masalah yang dihadapi, oleh karena itu dengan kolaborasi yang ditopang oleh keyakinan, kebutuhan dan budaya akan dapat memusatkan bertindak kapan reaktif dan atau adaptif.

SISTEM INTERGRASI (SI) :

Dua huruf kelima (SI) merupakan singkatan dari makna SISTEM INTERGRASI artinya setiap individu, kelompok dan organisasi mampu bergerak dalam satu tindakan berdasarkan unsur keyakinan, kebutuhan, budaya, tindakan kedalam satu sistem yang dapat menyatukan penggabungan unsur yang ada agar pelaksanaan kolaborasi menjadi satu kesatuan yang bulat.

RINGKASAN :

Dengan mengungkapkan unsur-unsur yang terdapat dalam kata KOLABORASI, kita dapat menarik satu kesimpulan bahwa keseimbangan perilaku individu, kelompok dan organisasi harus dapat diwujudkan untuk memecahkan semua masalah masa lampau, masa kini dan masa depan didasarkan kepada prinsip pertama bahwa semua pihak menyadari kepentingan kolaborasi (kerja-sama).

Kepemimpinan yang mampu menggerakkan dalam proses pengambilan keputusan berdasarkan model kolaborasi sebagai pengganti hirarki adalah merupakan tuntutan perubahan bahwa dengan prinsip kolaborasi memberikan ruang gerak atas keyakinan, kebutuhan, kebudayaan, tindakan kedalam satu sistem yang terintergrasi atas pengambil inisiatip, menyiapkan alternatip, melakukan konsultasi, menganalisa, menyiapkan rekomendasi dan berakhir dengan keputusan dalam satu kerangka keseimbangan kepentingan individu, kelompok dan oraganisasi.

Jadi dengan kolaborasi kita dapat memenangkan hal-hal yang terkait dengan efektivitas, efesiensi, kualitas, menumbuhkan persaingan intern yang sehat, menghindari konflik, serta menarik tanggung jawab dan akuntabilitas yang jelas dan akhirnya kita lebih memfokuskan kepada orientasi kepentingan stakeholders.

Kita harus selalu memanfaatkan wawasan dan imajinasi dalam usaha mencari terobosan berpikir agar kita dapat merenungkan kembali pola dan proses berpikir bahwa kolaborasi hanya dapat terbentuk bila kita menempatkan kesadaran, kecerdasan dan akal sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, tanpa pemahaman itu cobalah anda renungkan kem-bali konskwensi-konskwensinya, maka disitulah terletak kepentingan anda untuk melaksanakan kolaborasi.

Dengan pola dan proses berpikir yang kita ungkapkan diatas, maka pola sikap dan perilaku kepemimpinan akan bergerak dalam kerangka tindakan positif dan wajar yang sangat dibutuhkan sebagai suatu seni dalam mempengaruhi orang lain yang sejalan dengan kepentingan individu, kelompok dan organisasi.

KOMITMEN PRINSIP KEDUA :

PENDAHULUAN

Pada dasarnya komitmen itu ada pada setiap individu, yang menjadi masalah kita wujud komitmen itu dapat bersifat pamrih dan atau tidak pamrih. Itu menunjukkan kepada kita bahwa secara vokus kita dapat mengatakan, komitmen hanya merupakan omong kosong yang tidak dilandaskan atas suatu keyakinan yang dapat dibuktikan antara kata dan per-buatan. Oleh karena itu perlu menyadari bahwa komitmen merupakan hasil kerja hati dengan penghayatan artinya dari sudut batiniah, komitmen merupakan pengorbanan bisa merupakan kata-kata ataupun perilaku yang memperlihatkan yang abstrak tapi konkrit. Itulah satu kenyataan bahwa konsepsi komitmen banyak disalah artikan, tetapi bila kita menyadari
“a sense of execellent commitment”, maka suatu organisasi akan dapat berfungsii dengan baik, membutuhkan kepercayaan dan saling kedekatan dengan setiap orang yang merasa terikat dalam organisasi akan menunjukkan keberadaan komitmen sebagai prinsip untuk mewujudkan keberhasilan.

Renungkan ungkapan seperti “komitmen tidak menjamin sukses, tetapi kurangnya komit-men menjamin kegagalan”, dengan ungkapan itu menunjukkan kepada kita harus ada keberadaan komitmen dalam setiap organisasi, kelompok dan individu yang tidak boleh berlebihan dan juga tidak boleh kurang. Dirasakan sulit untuk menjelaskan secara verbal bahwa komitmen itu merupakan sesuatu yang ada dalam kehidupan kita atau dengan kata lain kita dapat mengatakan seperti : “Komitmen membutuhkan keberanian dan mengan-dung resiko ; Komitmen tidak bisa dipaksakan ; Komitmen mengandung usaha orang untuk mengembangkan inisiatip dan bersedia memberikan pertanggungan jawaban ; Komitmen mengandung adanya kemauan pengorbanan pribadi ; Komitmen mengandung pemusatan dalam melaksanakan pekerjaan ; Komitmen menginginkan iklim yang luwes tapai mudah mengontrol dalam memberikan saling hormat dan menghormati ; Komitmen lebih menekankan bukti tindakan bukan kata-kata.”

Oleh karena itu di tahun 1970-an, orang mementingkandiri pribadi, tahun 1980-an meru-pakan dekade materialistik, tapi tahun 1990-an, nilai-nilai mengalami perubahan, sehing-ga orang mengatakan “era yang menjunjung tinggi nilai-nilai akan tiba”. Yang dimaksud dengan nilai disini adalah nilai-nilai abadi seperti kepercayaan, harapan, cinta, keadilan, pengampunan, kejujuran, pelayanan, pengorbanan, kerendahan hati dan kesukarelaan.

Jadi dengan pengungkapan itu, kita dapat merenungkan bahwa komitmen itu bersifat dualistis, ibarat mata uang yang mempunyai dua sisi satu sama lain saling melengkapi seperti ada siang dan ada malam ; ada manis dan pahit ; ada peningkatan dan kemerosotan, begitulah pola dan proses berpikir dalam kita merenung mencari keberadaan komitmen sebagai prinsip kedua dalam menggerakkan orang.

MAKNA KOMITMEN :

Untuk mengingatkan pemahaman atas makna komitmen yang berada dalam pikiran dan digerakkan dari dalam diri sendiri, maka kita mencoba melakukan

pemahaman dari kata komitmen itu seperti diungkapkan dibawah ini :

Huraf pertama (K) KEBERSAMAAN mengandung arti keinginan yang datang dari pikiran sendiri dalam bentuk perspektif dan realtivitas untuk membangun kebersamaan dalam tindakan. Bentuk pikiran dalam kebersamaan untuk memandang sesuatu perspektif dengan tingkat kepentingan relatif merupakan titik awal membangun kebersamaan yang diberikan seseorang berdasarkan pengorbanan dari dirinya, maka disitulah akan terletak kebiasaan anda bisa melihat masalah sehari-hari dalam mewujudkan kebersamaan.

Huruf kedua (O) OPTIMISME mengandung arti keyakinan yang datang dari pikiran sendiri bahwa tindakan dan keputusan berdasarkan keyakinan atas optimisme . Dengan optimisme itulah kita berusaha mengangkat pola dan proses berpikir kearah pencapaian keberhasilan yang diharapkan dari tindakan kita.

Huruf ketiga (M) MEMAHAMI mengandung arti setiap individu dengan kadar yang ber-beda memiliki potensi yang ada pada dirinya untuk melahirkan dan mengembangkan suatu gagasan baru. Apa artinya itu bagi anda ? Tidak lain bahwa kemajuan masa depan anda terletak pada pemahaman dalam komitmen pada diri sendiri, anda yang mengetahui, apakah menjadi seorang yang sukses ataukah gagal. Karena itu dalam pikiran kita bahwa memahmi ats sukses bukanlah tempat untuk dituju, melainkan suatu yang harus ditempuh

Huruf keempat (I) INTELEGENSI mengandung arti kemampuan berpikir untuk memanfaatkan fungsi otak dalam membentuk komitmen sebagai penggeraknya. Dengan intelegensi dalam komitmen hingga seseorang dapat menyadari bahwa memunculkan sesuatu gagasan bukanlah karena bakat pembawaan sejak lahir, tapi kemampuan intelegensi diri anda untuk menghilangkan pandangan itu salah karena anda mampu untuk membuka pintu hati anda terbuka karena didorong komitmen dalam pikiran anda sendiri.

Huruf kelima (T) TASAMUH mengandung arti kelapangan dada atau kesabaran. Komitmen merupakan pengorbanan diri, maka diperlukan suatu tonggak yang kokok yang kita sebut dengan tasamuh karena kita menyadari sepenuhnya bahwa pikiran, tindakan, emosi merupakan kehidupan diri kita, sehinga tasamuh dalam komitmen yang tinggi akan memiliki kemampuan berpikir yang metodis biasa, logis, ilimiah, filsafat dan theologis sehingga mampu meletakkan arti komitmen dalam diri anda.

Huruf keenam (M) MENTAL mengandung arti batin dan watak manusia bukan dalam arti sifat badan atau tenaga sehingga mental dalam komitmen lebih menekankan karekter dalam arti sempit bukan dalam arti luas yang mengandung makna kepribadian. Dengan demikian mental merupakan tonggak mewujudkan komitmen yang dapat kita lihat secara langsung ialah tindak-kelakuan didalam situasi konkrit.

Huruf ketujuh (E) EKLEKTIS mengandung arti kemampuan memilih dari yang terbaik. Jadi eklektis dalam komitmen merupakan kemampuan dalam berpikir untuk menggerakkan kesadaran, kecerdasan dan akal dalam pola dan proses berpikir agar putusan yang diambil sejalan dengan komitmen yang anda bangun sendiri.

Huruf kedelapan (N) NALAR mengandung arti jangkauan berpikir yang sangat dalam untuk meenempatkan komitmen sebagai prinsip. Jadi nalar tanpa prinsip tidak mungkin terwujud dan terbangun seperti apa yang diharapkan oleh komitmen itu sendiri. Berpikir dengan nalar yang berprinsip akan mengaktualisasikan diri dalam berpikir dengan pola dan proses berpikir biasa, logis, ilimiah, filsafat dan theologis yang sejalan dengan komit-men yang kita bangun.

RINGKASAN :

Berpikir dengan disadari diperlukan adanya dorongan dari dalam diri anda. Daya dorong itu kita sebut dengan KOMITMEN yang harus kita kembangkan dalam diri pribadi dan diaktualisasikan dalam tindakan berpi-kir.

Kepimpinan dengan meletakkan komitmen sebagai prinsip kedua dalam kita mempenga-ruhi orang lain, maka komitmen sebagai pondasi harus memiliki piliar-pilar untuk menopang keinginan yang hendak dicapai dalam bentuk KEBERSAMAAN (K), OPTIMISME (O), MEMAHAMI (M), INTELEGENSI (I), TASAMUH (T), MENTAL (M), EKLEKTIS (E), NALAR (N). Pilar-pilar tersebut harus diasah secara teratur agar ia dapat menjadi penggerak untuk mencapai sukses dalam berpikir dengan percaya diri.

Dengan demikian komitmen adalah wujud dari KEBERSAMAAN dalam mengkomunikasin suara hati yang OPTIMISME untuk MEMAHAMI berdasarkan INTELEGENSI secara TASAMUH dengan sikap MENTAL positip untuk bertindak secara EKLEKTIS yang bersandarkan kemampuan NALAR yang tinggi dalam menanggapi perubahan.

Jadi dalam pikiran kita untuk menumbuhkan dan mengembangkan komit-men dimulai di dalam hati, diuji oleh perbuatan dalam kerangka mempengaruhi orang lain agar dapat mendorong yang bersangkutan untuk membuka pintu pikiran dalam mewujudkan tujuan.

KOMUNIKASI PRINSIP KETIGA :

PENDAHULUAN

Kepemimpinan yang berhasil mempengaruhi orang lain sangat ditentukan oleh keterampilan dan kemampuan menjalankan fungi komunikasi secara baik karenanya komunikasi yang baik dan menjadi efektif akan ditentukan pula oleh kepercayaan dan keyakinan anda dalam memimpin untuk mempengaruhi bawahan.

Keyakinan dan kepercayaan hanya dapat terbentuk apabila anda menyadari suatu lingkungan yang harmonis antara pimpinan dengan para bawahannya yang dapat benar-benar berkomunikasi dengan baik yang sejalan dengan makna fungsi komunikasi. Pertama ia menyadari untuk melaksanakan pengungkapan emosional (fungsi) dengan sikap dan perilaku yang dapat menimbulkan kesan yang menarik mereka dari tindakannya daripada kata-kata. Kedua pesan yang disampaikan mengenai fakta dan informasi (fungsi) yang dapat dipertanggung jawabkan. Ketiga mampu memberi daya dorong agar termotivasi kearah (fungsi) yang memenuhi kepentingan semua pihak. Keempat mampu menjalankan kendali (fungsi) untuk dapat menerima dan mendengarkan konskwensi berkomunikasi serta membuat langkah lanjutan dalam tindakan.

Disatu sisi kita dapat memahami makna fungsi komunikasi dan disisi lain diperlukan kemampuan dan keterampilan untuk mendalami aktualisasi kedalam proses komunikasi karena kita harus meyakini bahwa tindakan lebih membekas daripada kata-kata, jadi dapat saja anda melakukan komunikasi, tetapi anda tidak mengambil tindakan, itu berarti tak ada seorangpun akan mempercayai komunikasi tersebut, akibatnya dapat menimbulkan sindrom dalam bentuk gejala pura-pura atau bentuk mental yang suka menunda-nunda.Oleh karena itu, pengkodean (proses) mengubah suatu pesan komunikasi menjadi bentuk simbol artinya apa yang dikomunikasikan, saluran (proses) artinya mediun lewat mana sesuatu pesan komunikasi berjalan, pendekodean (proses) artinya penerjemahan ulang pesan komunikasi seorang pengirim, gelung umpan balik (proses) artinya tautan akhir dalam proses komunikasi mengembalikan pesan ke dalam sistem guna memeriksa kesalahpahaman.

Dengan demikian untuk menjadikan komunikasi yang efektif menuntut pengasahan secara terus menerus oleh pemimpin yang menyadari bahwa kepemimpinan akan berhasil bila secara sungguh-sungguh memahami fungsi komunikasi disatu sisi dan disisi lain melaksanakan proses komunikasi, sehingga waktu hidup kita sebagian besar dipergunakan dalam berpikir untuk menulis, membaca, berbicara dan mendengarkan dalam kerangka hubungan individu, kelompok dan organisasi.

MAKNA KOMUNIKASI

Dalam usaha untuk mengingatkan kita betapa pentingnya komunikasi sebagai prinsip ketiga untuk dihayati kedalam individu, kelompok dan organisasi bahwa suatu gagasan apapun bentuknya tidak ada gunanya sebelum penyampaiannya kepada dan dipahami oleh orang-orang yang hendak berkomunikasi. Untuk meningkatkan daya ingatan kita, maka ingatan dapat digerakkan dari pemahaman dari huruf menjadi kata komunikasi dalam pikiran :

Dua huruf pertama KESAN ORANG (KO) berarti sikap postip (mengkomunikasikan suara hati kepada orang lain) dan perilaku asertif (gaya yang wajar) yang diaktualisasikan orang haruslah menunjukkan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. Memberikan kesan orang kita harus dapat meyakini diri bahwa kata-kata dan perbuatan haruslah seiring dan sejalan dalam pikiran yang harus digerakkan.

Dua huruf kedua MEDIA UMUMNYA (MU) berarti kita harus dapat membayangkan dalam bentuk apapun media (tatap muka, telepon, surat elektronik, memo, surat, buletin, laporan) melaksanakan komunikasi, kita melaksanakan media tersebut sebagai langkah yang tidak dapat dipisahkan dengan kesan yang hendak ditimbulkan dari kata-kata dan perbuatan oleh karena itu komunikasi verbal dan atau nonverbal ikut memainkan peran dalam berkominaksi.

Dua huruf ketiga NIAT INTERAKSI (NI) berarti pesan yang kita sampaikan dalam bertatap muka mengandung niat dalam berintraksi hanyalah dengan ketulusan hati yang sebenarnya dalam mengungkapkan pesan yang tidak mengandung sesuatu yang tersembunyi yang tidak dapat dimengerti orang lain yang dapat menimbulkan konflik dalam berkomunikasi.

Dua huruf keempat KEBENARAN ARAH (KA) berarti anda meyakini benar bahwa arah komunikasi dapat mengalir secara vertical (kebawah dan keatas), horizontal atau lateral, dimana masing-masing harus diaktualisasikan sesuai dengan kepentingannya agar jaringan komunikasi baik formal dan informal.

Dua huruf kelima SALURAN INTUISI (SI) berarti pilihan saluran komunikasi berdasarkan ituisi yang menekankan berpikir dengan penghayatan hati sebagai pendorong dalam berpikir dengan otak untuk merumuskan hambatan dalam mewujudkan komunikasi yang efektif dengan menghayati hal-hal yang berkaitan dengan penyaringan, persepsi, emosi dan bahasa sebagai langkah akhir dalam bersikap dan berperilaku untuk mewujudkan pemahaman prinsip ketiga dalam komunikasi.

RINGKASAN

Menghayati makna komunikasi bagi setiap pemimpin dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan yang efektif dengan mengung-kapkan dari kata komunikasi memberikan petunjuk arti penting bagi pimpinan puncak, sedangkan pada pimpinan me-nengah memberikan petunjuk untuk menyesuaikan tindakan dan ucapan agar pemanfaat-an komunikasi dua arah lebih sesuai dengan kebutuhan untuk melaksanakan komitmen.

Pilihan komunikasi tatap muka sangat memberikan kontribusi yang besar karena komu-nikasi lebih bersifat terbuka dan terus terang atas pesan yang hendak disampaikan, lebih-lebih yang menyangkut pembaruan dalam tindakan, sehingga paling tidak meniliminir bentuk-bentuk resistensi yang bakal terjadi.

Kepentingan komunikasi dalam individu, kelompok dan organisasi hanya dapat tercipta secara efektif bila semua yang mempunyai kepentingan menjadi tanggung jawab bersama yang akan sejalan dengan pesan yang akan dikomunikasikan, sehingga informasi yang disalurkan benar-benar memenuhi bagi semua yang berkepentingan.

Akhirnya kita menyadari sepenuhnya bahwa komunikasi sebagai perinsip ketiga adalah sangat penting dalam pelaksanaannya, maka perlakukan komunikasi dilihat dari fungsi dan proses sebagai kebutuhan yang berkelanjutan, maka aktualisasinya terwujud dalam bentuk penyampaian pesan berdasarkan keputusan intuisi dan otak, ketepatan waktu juga penting, dilakukan secara terus menerus, serta hilangkan komunikasi satu arah.

KREATIVITAS INDIVIDU PRINSIP KEEMPAT

PENDAHULUAN

Bila anda menyadari bahwa tambang emas yang ada dalam diri anda dalam bentuk pikiran dapat digali, itu berarti ada kesempatan untuk mengungkapkan bakat yang tersembunyi sepanjang anda menginginkan. Ada orang yang memiliki kemampuan sendiri untuk menggalinya tapi ada juga dorongan dari luar. Bertolak dari suatu anggapan bahwa hidup yang kita jalani ini dapat kita hayati dari masa lampau tapi masa depan harus kita jalani sesuai tuntutan perubahan lingkungan yang terjadi.

Sejalan dengan pemikiran diatas, mampukah anda untuk memanfaatkan otak atas (kiri dan kanan) dan otak bawah sadar dalam menggerakkan kemampuan berpikir untuk mewujudkan kreativitas individu. Oleh karena itu langkah awal adalah menghilangkan keragu-raguan yang dapat mempengaruhi proses berpikir itu sendiri. Jauhkan anggapan bahwa wawasan dan imajinasi sebagai daya dorong akan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti usia, jenis klamin, pendidikan dan kemauan yang keras.

Kita sadari bahwa faktor-faktor tersebut bisa saja mempengaruhi dalam proses kita berpikir, namun bila kita menyadari bahwa setiap masalah didalammnya mengandung pemecahannya, maka disitulah letak kemampuan anda untuk menemukan cara pemecahannya. Hal itu hanya dapat dicapai bermula dari niat anda untuk berbuat sesuatu dalam usaha melepaskan diri dari apa dan bagaimana cara memikirkannya, tapi yang lebih penting dalam niat anda adalah kemampuan menggerakkan berpikir dalam hal menemukan sesuatu yang baru dalam kerangka berpikir kreatif. Berpikir kreatif membutuhkan kekuatan mental sebagai unsur yang sangat menentukan dalam membangkitkan semangat, semangat dapat tumbuh dan berkembang akan ditentukan oleh kebiasaan dalam mengaktualisasikan berpikir ke arah yang positip.

Yang menjadi persoalan anda adalah bagaimana caranya anda memulai untuk menggali tambang emas yang ada dalam diri anda ? Cobalah anda renungkan makna kreativitas dalam usaha anda untuk membangkitkan kebiasaan dalam mental yang positip.

Terasa sulit untuk memulai sesuatu, tapi bila anda memulai dengan mendalami fungsi o-tak atas sebelah kiri (matematika, angka-angka, logika, linier, urutan, penilaian, bahasa) dan kanan (imajinasi, lamunan, warna, dimensi, ritme) yang memainkan peranan sebagai otak analisis. Kita dapat membayangkan kata-kata dalam lagu merupakan di otak kiri tapi aspek irama musik berada di otak kanan. Otak atas yang kita bicarakan ini hanya memainkan peranan bagian kecil dari kekuatan pikiran, tapi sebaliknya bagian terbesar kekuatan pikiran ada di otak bawah sadar. Simaklah kekuatan pikiran anda untuk membangkitkan kemampuan berpikir kreativitas anda.

MAKNA KREATIVITAS

Dengan memahami makna kreativitas dari unsur kata yang saling kait mengait, memudahkan kemampuan anda untuk mengingat kembali dalam pola pikir untuk menggerakkan proses dalam anda berpikir sbagai suatu langkah awal untuk mencoba menjalani hidup masa depan karena disitulah terletak dari anda tidak tahu menjadi tahu. Unsur huruf dalam kreativitas itu dapat diungkapkan sebagai berikut :

Empat hurup pertama KEBERADAAN RASIONAL EMOSIONAL AKAL (KREA) dalam kreativitas mengandung arti tahap pertama dalam pola pikir anda mencoba memberikan arah dari keberadaan rasional, emosional dan akal dalam otak sehingga anda dapat mendorong pemanfaatan fungsinya dalam proses berpikir. Rasional menggambarkan arah pikiran yang logis dan bersistem, berada dalam otak atas sebelah kiri. Emosional menggambarkan sentuhan perasaan, berada dalam otak atas sebelah kanan. Akal mengambarkan kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungan, berada dalam otak bawah sadar. Jadi dalam usaha anda untuk meningkat kemampuan kreativitas dalam pola dan proses pikir anda harus meyakini benar mempergunakan alat pikir kesadaran (emosional), kecerdasa (rasional) dan akal. Anda harus mampu menempatkan urutannya dalam melaksanakan untuk berpikir.

Empat huruf kedua TAWAKAL IMAJINASI VISI IMPLEMENTASI (TIVI) dalam kreativitas mengandung arti tahap kedua dalam pola pikir yang akan digerakkan dalam proses berpikir dengan tawakal, imajinasi, visi dan implementasi. TAWAKAL artinya semua usaha anda dalam berpikir dengan menyerahkan diri kepada yang maha kuasa, agar IMAJINASI anda dapat diwujudkan sebagai suatu gagasan yang dapat dirumuskan kedalam VISI sebagai suatu cara untuk menggariskan suatu cita-cita masa depan melalui suatu IMPLEMENTASI kedalam pola dan proses berpikir.

Jadi bertolak dari kepasrahan diri, anda berusaha mewujudkan imajinasi kedalam visi anda dan mencoba merumuskan tindakan kedalam implementasi dari kemampuan untuk memanfaatkan alat pikiran anda. Jadi kepasrahan anda mencoba menggerakkan otak kanan untuk melahirkan imajinasi melalui pertanyaan what, why, when, where, who dan berakhir dengan how. Setelah anda dapat merumuskan dari seperangkat pertanyaan, coba anda merenung kembali untuk mengevaluasi ide-ide yang dilahirkan.

Tiga huruf ketiga TERBIASA ANTUSIAS SADAR (TAS) dalam kreativitas mengandung arti tahap ketiga dalam pola dan proses pikir dengan terbiasa, antusias dan sadar. TERBIASA artinya pola dan proses pikir itu dalam kreativitas menjadi suatu kebiasaan yang harus ditumbuh kembangkan sebagai usaha dalam kemampuan memanfaatkan otak secara berkelanjutan. ANTUSIAS artinya membangkitkan semangat yang didorong oleh kebiasaan mental untuk berpikir kreatip. SADAR artinya memiliki kemampuan dalam berpikir sebagai “seluruh kisaran proses mental yang sadar” untuk menggerak otak alat pikir dan hati alat menghayati.

RINGKASAN

Mengembangkan bakat kepemimpinan melalui kreativitas individu sebagai pelaksanaan prinsip keempat ditentukan oleh kemampuan individu untuk menggerakkan kekuatan pikiran yang ada didalam otak, galilah tambang emas yang ada dalam diri sepuas hati anda. Untuk memberikan daya dorong kita mencoba menafsir unsur kata dalam kreativitas itu sendiri seperti (K) EBERADAAN, (R) ASIONAL, (E) MOSIONAL, (A) KAL, (T) A-WAKAL, (I) MAJINASI, (V) ISI, (I) MPLEMENTASI, (T) ERBIASA, (A) NTUSIAS, (S) ADAR.

Dengan memahami makna kata tersebut kita mencoba, meletakkan landasan atas kepercayaan diri artinya meyakini kemampuan kita dalam melakukan hal-hal tertentu. Jadi percaya diri akan timbul bila anda memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan yang bisa anda lakukan itu sehingga mampu menyalurkan segala yang anda ketahui dan segala yang anda kerjakan.

Saat anda merenung makna kata yang kita utarakan diatas, gerakkan kepercayaan diri bahwa anda mampu menggali tambang emas yang ada dalam diri anda yaitu pikiran anda melalui kesadaran, kecerdasan dan akal sebagai alat berpikir dengan mengungkapkan pertanyaan atas what to do, whay to do, where to do, when to do, who to do, dan how to do sehingga membentuk peta-peta pikiran yang dapat anda kembang sesuai dengan niat yang telah anda tetapkan.

Renungkan ungkapan dibawah ini sebagai usaha membangkitkan percaya diri :

“Kalau anda masih dalam usia muda (15-35 th) dan usia dewasa (35-55 th), bersyukurlah! Karena pohon pengharapan masih subur, dahan-dahannya masih rindang dan rimbun. Tujuan kesenanganmu masih jauh. Sebab usiamu masih muda / dewasa, mudahlah bagimu menjadikan mimpi menjadi kejadian yang sesungguhnya.” Tapi sebaliknya bila dalam usia tua (55-70 th), bersyukurlah! Karena anda telah terlepas dari medan pertem-puran dan perjuangan yang sengit dan anda telah beroleh ilmu dari sekolah dan pengeta-huan dari pengalaman. Anda tahu firasat, mengerti gerak-gerik manusia dan tahu ke mana tujuan jalan ditempuhnya.”

Dalam merenung cobalah anda membayangkan bahwa ubahlah cara berpikir anda, maka dunia anda akan berubah.

KREATIVITAS KELOMPOK PRINSIP KELIMA

PENDAHULUAN

Kreativitas individu bila dipindahkan kedalam kreativitas kelompok sudah tentu akan menjadi lebih baik dari cetusan wawasan dan imajinasi sebagai individu karena kita akan mendapatkan sumber pemikiran yang diciptakan oleh kekuatan pikiran dari kelompok.

Dalam praktek kerja kelompok harus kita bedakan dengan kerja tim karena kerja kelompok adalah kumpulan beberapa individu yang berkumpul berdasarkan persamaan ciri-ciri atau kepentingan yang didorong kemampuan individu yang dapat bekerjasama untuk mendorong mental individu, melahirkan ide/gagasan lebih banyak serta individu lebih dekat dalam berkomunikasi. Sedangkan kerja tim adalah jenis khas kelompok kerja tim harus diorganisasikan dan dikelola secara berbeda dengan jenis kelompok kerja lainnya.

Dengan adanya kebersamaan kepentingan, kita dapat melihat kerja sama yang baik seperti musik yang digemari, dimana ada yang megarang lagu dan ada yang lainnya menciptakan nada. Jadi kelompok bila terdapat pasangan yang cocok, akan melahirkan ide/gagasan yang lebih baik.

Untuk mendapatkan kelomppok yang sejalan dengan kreativitas individu, maka kerja sama dapat terwujud bilamana adanya kesamaan dalam 1) menentukan waktu dan tempat untuk berpikir; 2) harus ada daya dorongnya untuk melahirkan gagasan baru; 3) mengadakan pertemuan tatap muka dan berpikir bersama-sama; 4) berpikir sendiri setelah pertemuan agar dapat mencetuskan gagasan baru; 5) memilih alternatip dari gagasan yang ada atas pertemuan berikutnya; 6) adanya kemauan bersama untuk menahan diri dari perdebatan yang dapat merusak suasana komunikasi.

Dengan demikian kita mengajak dalam kelompok untuk berpikir secara sadar dan tidak sadar kedalam tindakan PERSIAPAN artinya tingkatan berpikir pertama dimana anggota kelompok didorong sebagai langkah awal berpikir kreatip dalam kelompok untuk mengumpulkan fakta atau situasi mengenai suatu persoalan khusus dan menentukannya secara teliti ; USAHA artinya tingkatan berpikir kedua dimana mendorong anggota untuk meningkatkan berpikir dari vertical atau biasa disebut juga konvergen mengandung makna menuju kerah satu jawaban menjadi berpikir divergen atau disebut juga berpikir lateral mengandung makna berpikir kesamping dalam mencari jawaban sebanyak mungkin ; INKUBASI artinya tingkatan berpikir ketiga dimana anggota kelompok akan didorong untuk menekan persoalan ke bawah kesadaran ; PENGERTIAN artinya tingkatan berpikir keempat dimana anggota kelompok untuk mendorong menemukan cahaya hati sebagai fajar yang menginsafkan orang akan ditemukan jawaban ; EVALUASI artinya tingkatan berpikir kelima dimana anggota kelompok untuk mendorong agar menilai dengan kritis ide / gagasan yang telah diperoleh. Pola dan proses inilah yang akan dilakukan agar kreativitas kelompok menjadi effektif.

MAKNA KREATIVITAS KELOMPOK

Bertitik tolak dari makna kreativitas individu sebagai daya dorong, maka makna kreativitas kelompok terbentuk sebagai suatu usaha untuk menggerakkan wawasan dan imajinasi dari beberapa pikiran untuk mendapatkan banyak ide / gagasan dari sekelompok manusia dalam waktu yang lebih pendek.

Pola dan proses berpikir dari beberapa orang yang tergabung dalam kelompok untuk mewujudkan wawasan dan imajinasi individu menjadi kelompok melalui aktivitas dengan melaksanakan SUMBANG SARAN.

Marilah kita mencoba untuk memahami makna SUMBANG SARAN dari singkatan huruf yang terdiri dari SUMBER (SUM), BANGGA (BANG), SABAR (SA), RANCANGAN (RAN).

Dari gabungan huruf menjadi kata dalam SUMBANG SARANG mengandung arti bahwa SUMBER untuk melaksanakan aktivitas bertolak dari keBANGGAan semua orang yang bergabung dalam kelompok dapat mengaktualisasikan dirinya kedalam sifat SABAR untuk dapat melakssanakan RANCANGAN bahwa menggabungkan wawasan dan imajinasi individu menjadi gagasan / ide yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan ke-pentingan individu, kelompok dan organisasi sebagau sesuatu tuntutan dari perubahan.

Dengan demikian, maka makna Kreativitas kelompak adalah proses pelaksanaan sumbang saran itu dengan menggariskan tahapan tindakan sbb.:

1) Setiap individu yang melahirkan gagasan / ide dari hasil kreativitas individu, menjelaskan kepada kelompok, yang didahului oleh salah seorang ditunjuk sebagai pimpinan pe-ngarah untuk mendudukkan persolan yang dihadapi, oleh karena itu sebenarnya setiap individu telah mengetahui duduk persoalan sehingga partisipasi menjadi efektif, diharap-kan agar tidak terjadi perdebatan yang berkepanjangan.

2) Untuk menghambat pandangan jauh melebar dan menjadi tidak terfokuskan, maka pertemuan kelompok itu dapat melahirkan rumusan baru untuk dapat mendudukkan gagasan / ide menjadi satu rumusan gagasan / ide kelompok yang lebih jelas dan terarah.

3) Setelah mendapatkan rumusan gagasan / ide kelompok diberikan ruang gerak untuk mengembangkan sehingga menjadi lahirnya ide-ide baru, jadi tidak menekankan soal yang berkaitan kualitas melainkan menekankan kuantitas.

4) Mengevaluasi gagasan / ide yang dihasilkan oleh pimpinan kelompok untuk menghidari suatu perdebatan yang panjang oleh kelompok yang akan berdampak adanya pikiran yang sangat mempertahankan pendapat dengan segala macam argumentasinya. Jadi evaluasi cukup dilakukan oleh pimpinan kelompok dengan terlebih dahulu merumuskan kreteria apa yang dipergunakan untuk menilai gagasan / ide yang dapat diteruskan atau digugurkan. Tentu saja merupakan langkah yang berlawanan dengan aktivitas sumbang saran karena lebih menekan makna evaluasi menuju ke kualitas, sehingga pertanyaan yang ditimbulkan memang dengan sengaja ditujukan kerah dimana gagasan / ide banyak mengandung kelemahan sehingga perlu digugurkan.untuk tidak diteruskan.

RINGKASAN

Pola dan proses berpikir kedalam kreativitas kelompok haruslah dipandang sebagai suatu peningkatan berpikir biasa artinya dibentuk dari pengalaman individu dengan perantaraan indera (apa yang mereka lihat, dengar, sentuh, cium dan dicicipi) yang membentuk pengalaman-pengamalan dan diikuti kemampuan mereka untuk pengamatan, tanggapan, dan penyadaran dari yang dilaporkan pancaindera dari dunia luar menghasilkan pengetahuan. Tapi itu tidak berati setiap individu tidak mengenal dalam bentuk berpikir lainnya yang disebut dengan berpikir logis, ilmiah, filsafat dan theologis.

Jadi berpikir kedalam kreativitas kelompok mendorong terwujudnya berpikir logis artinya suatu tahapan berpikir manusia untuk mencapai ke-benaran yang sesuai dengan kaidah-kaidah logika. Untuk mencapai kebenaran dalam berpikir itu maka cara manusia berpikir haruslah tepat dan benar atas dasar logika.

Dengan demikian berpikir logis sangat dibutuhkan kedalam kreativitas kelompok untuk mengungkapkan kebenaran atas gagasan / ide yang telah dirumuskan melalui proses berpikir sumbang saran. Oleh karena itu sumbang saran sudah selayaknya dikembangkan sebagai alat manajemen dan pimpinan.

Langkah berpikir dengan memanfaatkan pelaksanaan sumbang saran dengan harapan dapat diwujudkan suatu kebenaran maka langkah-langkah berpikir itu harus ditempuh dengan tahapan yang disebut dengan tahapan menyusun konsep, membentuk pendapat dan menarik kesimpulan.

INOVASI ORGANISASI PRINSIP KEENAM :

PENDAHULUAN

Bila kreativitas kelompok dikembangkan dan dilola oleh suatu tim secara formal dibentuk maka kreativitas berubah wujud menjadi inovasi yang digerakkan oleh profesional teknis tapi sebaliknya mungkin kurang mendapatkan perhatian oleh pimpinan puncak.

Dengan aktivitas inovasi yang digerakkan oleh suatu tim kerja kelompok secara formal merupakan langkah kerja berpikir ilimiah (objektif, rasional, sistematis, generalisasi), maka inovasi organisasi prinsip keenam yang harus ditumbuh kembangkan dari pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan dengan jalan observasi, riset, eksperiment, persaksian dan otoritas dari para ahli, sehingga inovasi organisasi merupakan tantangan kepemimpinan untuk menterjemahkan keinginan berinovasi ke dalam lingkungan organisasi.

Jadi inovasi organisasi yang sukses haruslah didukung dan digerakkan oleh kepemimpinan puncak, yang memiliki tujuan tertentu dan dihasilkan dari analisa, sistem dan kerja keras tim kerja kelompok sebagai satu proses dua langkah artinya pertama inovasi itu sendiri, kedua suatu usaha yang berisiko tinggi untuk mengubah penemuan menjadi suatu produk atau proses yang berpotensi komersil.

Oleh karena itu, pelaksanaannya harus mengikuti prinsip keharusan bahwa 1) memiliki tujuan yang digerakkkan secara sistimatis, dimulai dengan membuat analisa untuk memaksimumkan peluang yang ada ; 2) inovator yang terlibat meyakini memiliki kemampuan untuk memanfaatkan otak atas (kiri dan kanan) serta mengintgrasikan dengan otak bawah sadar dalam mengungkapkan secara konseptual dan perseptual ; 3) inovasi digerakkan dengan kerja yang jelas, sederhana dan terfokuskan agar semua sumber daya yang digerakkan menjadi efesien dan efektif ; 4) kretivitas kelompok menjadi inovasi organisasi sebaiknya memulai sesuatu dengan pemanfaatan sumber daya yang terbatas agar flesibel dan mudah dikontol pada saat perubahan harus dilakukan ; 5) agar terjadi kesinambungan aktivitas inovasi yang berhasil, maka hasil akhir lebih menekankan ke orientasi kepemimpinan bukkan menciptakan laba yang besar.

Dengan mengikuti prinsip keharusan yang kita sebutkan diatas, maka suksesnya aktivitas inovasi organisasi juga ditentukan sekelompok orang yang duduk dalam tim, sehingga tim sebagai pelaku dalam kelompok kerja haruslah mampu mewujudkan komunikasi yang effektif sesuai dengan peran-peran yang dilakukan untuk setiap individu, apakah ia berperan sebagai driver (mengandalkan berpikir intuitif), planner (mengandalkan berpikir logis), enabler (mengandalkan kepercayaan diri dalam keputusan yang dapat dikomunikasikan dengan baik), exec ( mengandalkan pengamatan dan perasaan secara realistis), controller ( mengandalkan berpikir analitis).

MAKNA INOVASI ORGANISASI

Untuk mendalami makna inovasi organisasi, sebagai suatu perwujutan dari konsentrasi dalam membangkitkan imajinasi oleh tim, maka unsur huruf yang membentuk kata dapat memberikan daya dorong dalam proses berpikir :

Huruf pertama menjadi kata INISIATIF (I) mengandung arti sikap dan perilaku yang dikembangkan dalam proses berpikir untuk memulai sesuatu dengan menggerakkan alat pikir atas fungsi otak sebagai langkah awal membentuk pengetahuan dari pengalaman sebagai penelitian dasar.

Huruf kedua menjadi kata NALAR (N) mengandung arti kemampuan menggerakkan alat pikir atas fungsi otak sebagai proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip untuk mengidentifikasikan penerapan potensi khusus pengetahuan sebagai penelitian terapan.

Huruf ketiga menjadi kata OPTIMAL (O) mengandung arti kemampuan menggerakkan alat pikir atas otak pada semua kegiatan inisiatip dan nalar kedalam kondidi yang terbaik agar seluruh penerapan potensi yang teliti kedalam model suatu proses dan atau produk sebagai pengembangan.

Huruf keempat menjadi kata VISUALISASI (V) mengandung arti kemampuan menggerakkan alat pikir atas otak untuk mewujudkan suatu pengembangan menjadi suatu kelayakan penggunaan sesungguhnya suatu model sebagai pilot plant testing.

Huruf kelima menjadi kata AKTIVITAS (A) mengandung arti kemampuan menggerakan seluruh sumber daya yang tersedia secara produktif untuk membentuk suatu proses dan atau produk yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen.

Huruf keenam menjadi kata SARANA (S) mengandung arti kemampuan mengerakkan segala sesuatu sebagai sarana untuk mewujudkan distribusi yang mengarah kepada segmentasi pemasaran yang tepat.

Huruf ketujuh menjadi kata ILMU (I) PENGETAHUAN MODERN mengandung arti kemampuan memanfaatkan alat pikir atas otak dalam mengkoordinasikan tahapan penelitian dasar, terapan, pengembangan, pilot kedalam aktivitas yang terintergrasi dengan sumber daya yang terbatas berdasarkan landasan teori modern dan analisis bersistem terhadap data lapangan tertentu.

RINGKASAN

Dengan mengungkapkan makna inovasi organisasi melalui huruf dan kata diatas, diharapkan setiap anggota tim dalam kelompok kerja dapat memahami bahwa imajinasi dan wawasan menjadi daya dorong dalam mewujudkan kreativitas menjadi inovasi yang didukung oleh manajemen puncak.

Melaksanakan inovasi dengan tingkat resiko yang rendah haruslah disusun berdasarkan suatu perencanaan secara sistimatis dan dilaksanakan sesuai dengan tahapannya. Oleh karena itu, Peran tim dalam kerja kelompok haruslah dapat memanfaatkan sinergi dari peran driver, planner, enabler, exec dan controller kedalam aktivitas yang terintergrasi agar sumber daya yang terbatas dapat dioptimalkan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

ANALISIS MASA DEPAN PRINSIP KETUJUH :

PENDAHULUAN

Memanfaatkan otak atas sebelah kanan yang berperan mengendalikan tubuh bagian kiri dengan fungsi gambar,ritme, warna, seni, imajinasi, kreativitas merupakan langkah awal untuk membangkitkan kesadaran karena disitulah terletak kemampuan untuk menggerakkan wawasan dan imajinasi, jadi kemampuan untuk menggambarkan masa depan merupakan keterampilan untuk mempergunakan alat pikiran sebagai unsur jiwa yang kita sebut dengan kesadaran.

Membangkitkan kesadaran itu adalah dengan jalan kita berpikir artinya kita menyadari benar bahwa seluruh kisaran proses mental yang sadar terjadi karena menggerakkan fungsi otak sebagai alat pikir dan hati sebagai alat menghayati. Dengan demikian meningkatkan keterampilan berpikir yang metodis (yang disadari) merupakan kerja dari dua unsur organ yang ada dalam diri kita yaitu unsur otak dan hati merupakan kebutuhan hidup sebagai prinsip yang harus dikembangkan secara berkesinambungan.

Mengintegrasi intuisi dan analisis membentuk pola-pola berpikir yang kita sebut dengan pola berpikir biasa ( bergaul dengan pengalaman inderawiah untuk membentuk ketahuan-ketehuan); pola berpikir logis ( suatu teknik penalaran untuk dapat menarik kesimpulan yang sah); pola berpikir ilmiah (secara sistematis, metodis dan objektiff dalam rangka mencapai kebenaran dalam ilmu pengetahuan); pola berpikir filsafat (dialektis yang terarah untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, intergral dan universal); pola berpikir theologis (menurut islam artinya corak berpikir Qur’ani yang bertujuan untuk mencapai suatu keyakinan bahwa Allah swt adalah Wujud Al Haq).

Untuk menggungkapkan kesadaran dalam memandang gejala atau situasi masa depan untuk memprediksikannya atas gelombang ketidakpastian melalui pola dan tren sebagai proses yang kita sebut dengan extension (memmbayangkan bagaimana semua itu terus berkembang); elaboration (proses modifikasi, pengembangan lebih lanjut); recycling (daur ulang karena proses lama yang telah dikenal); pattern reversals (penyesuaian yang wajar sebagai hasil ketegangan); strange attraction (pola atau tren yang janggal yang tidak mungkin untuk
diprediksikan); chaos ( ketidak teraturan bentuk yang komplek sebagai pengetahuan tentang yang bakal terjadi)

Membangkitkan kesadaran untuk memahmi atas analisis masa depan melalui pola atau tren dalam proses berpikir memberikan kemampuan untuk mengantisipasi situasi yang dapat diidintifikasi menjadi masalah yang dihadapi dengan pemahaman atas penelurusan, bahasa, gaya hidup, ketinggalan zaman, kebebasan berpikir, ajukan pertanyaan mendasar, menyimpan data, kesemuanya itu berorientasi dan meninjau hal-hal yang terkait kedalam diri sendiri serta menangkap apa-apa yang terjadi diluar diri kita. Selanjutnya kesadaran yang dipusatkan dapat mempertajam pancainde-ra kita kesatu arah perhatian.

MAKNA KESADARAN

Dengan kesadaran kita dapat berorientasi, meninjau serta merasakan kemampuan otak untuk memahami diri kita dan menangkap situasi yang berada di dunia luar. Untuk menggerakkan unsur jiwa dalam bentuk kesadaran, yang juga berperan sebagai alat pikiran, maka aktualisasinya dapat digerakkan dengan memahami makna kesadaran dari huruf dan kata sebagai berikut :

Huruf pertama (K) menjadi kata KETERAMPILAN mengandung arti kecakapan untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan kesadaran memanfaatkan ilmu (informasi) dan pengetahuan (pengalaman) dalam menghayati perubahan situasi.

Huruf kedua (E) menjadi kata EMOSI mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan kesadaran memanfaatkan kejujuran emosi, mengendalikan emosi, mengelo-la emosi dan sumber intuisi praktis.

Huruf ketiga (S) menjadi kata SENSITIVITAS mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan kesadaran memanfaatkan motivasi atas keamanan, memiliki, pengakuan, kualitas kerja, aktualisasi diri dalam memenuhi pengharapan dan kebutuhan.

Huruf keempat (A) menjadi kata AKSES mengandung arti menggerakkan kemampuan berpikir dengan kesadaran memanfaatkan jalan menuju ke arah pemahaman atas perubahan ke masa depan.

Huruf kelima (D) menjadi kata DAYA mengandung arti menggerakkan kemampuan berpikir dengan kesadaran memanfaatkan daya guna dalam menjalankan pemahaman atas pelaksanaan yang sejalan dengan tuntutan perubahan.

Huruf keenam (A) menjadi kata ADAPTASI mengandung arti menggerakkan kemampuan berpikir dengan kesadaran memanfaatkan daya adaptasi atas perubahan lingkungan.

Huruf ketujuh (R) menjadi kata RADIKAL mengandung arti menggerakkan kemampuan berpikir dengan kesadaran memanfaatkan daya pikir, daya kreasi, untuk mengetahui sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya.

Huruf kedelapan (A) menjadi kata ANTISIPASI mengandung arti menggerakkan kemampuan berpikir dengan kesadaran memanfaatkan penelitian strategis melalui proses memahami apa yang dapat mempenga-ruhi, berpikir horizontal, berpikir vokus menjadi suatu pemetaan dan penggambaran.

Huruf kesembilan (N) menjadi kata NALURI mengandung arti menggerakkan kemampuan berpikir dengan kesadaran memanfaatkan daya tangkap untuk memetakan dan menggambarkan hal-hal yang baik dan buruk dimasa yang akan datang.

Dengan mengungkapkan huruf dan kata dalam makna kesadaran, sebagai langkah kita untuk menggerakkan kemampuan berpikir melalui proses Kecerdasan (K), dengan Emosi (E) dan Sensitivitas (S) membuka Akses (A) agar Daya (D) atas usaha Adaptasi (A) me-miliki kekuatan berpikir secara Radikal (R) dalam Antisipasi (A) untuk memetakan dan menggambarkan masa depan dengan berpikir horizontal dan tervokuskan dengan Naluri (N) untuk memahami apa-apa yang mempengaruhi hal-hal yang baik dan buruk.

RINGKASAN

Kesadaran sebagai alat pikir harus dapat kita tumbuh kembangkan dengan mengoptimalkan otak atas sebelah kanan yang berfungsi imajinasi, kreativitas, gambar, ritme, seni yang tidak terikat parameter ilimiah dan matematis.

Dengan menggali tambang emas yang ada pada diri kita, yang kita sebut pikiran baru dimanfaatkan 1 % menurut para ahli, potensi yang besar itu sangat tergantung pada kita untuk menggalinya.

Menggerakkan kesadaran sebagai alat pikir secara berkesinambungan haruslah merupakan usaha untuk membentuk kebiasaan dalam proses berpikir karena disitulah terletak kita memulai memanfaatkan otak dalam pemberdayaan memori, emosi dan naluri agar analisis strategis bergerak sejalan dengan tuntutan perubahan, tanpa itu maka proses berpikir kita tidak membentuk kebiasaan untuk mengintergrasikan unsur otak dan hati. Jadi dengan menghayati makna kesadaran melalui huruf menjadi kata bermakna akan memberikan daya dorong untuk kita bisa berpikir metodis dalam mengembangkan kesadaran kepemimpinan agar kita mampu meningkatkan keterampilan dalam memahami kekuatan pemikiran dan membentuk kebiasaan pikiran yang sehat serta produktif.

Jadi dengan mengembangkan kesadaran kepemimpinan dapat mendorong keterampilan dalam mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan 1) kemampuan menidentifikasi dan membuat daftar pusat perhatian dari beragam situasi yang dihadapi; 2) memilah-milah pusat perhatian menjadi pusat perhatian yang utama; 3) menggariskan tingkat prioritas-nya yang terkait dengan dampak, urgensi dan kecenderungannya; 4) selanjutnya ia me-nentukan keterampilan apa yang dibutuhkan dalam menghayati langkah berikutnya dalam berpikir.

MERESPON ANTISIPATIF PRINSIP KEDELAPAN :

PENDAHULUAN

Hasil kerja kesadaran belumlah berarti apa-apa, sehingga kesadaran belaka tidak berdaya karena kesadaran menyadarkan apa-apa, barulah bermakna merespon antisipatip sebagai prinsip kedelapan karena melalui kecerdasan melaporkan kepada kita situasi permasalahan dan hubungan-hubungannya.

Oleh karena itu mengembangkan kecerdasan kepemimpinan dalam merespon antisipatif merupakan prinsip kedelapan merupakan langkah untuk memanfaatkan otak atas sebelah kiri adalah yang berperan untuk mengendalikan tubuh bagian kanan dengan fungsi menangani angka, lokika, analisis, sains, matematika dan hal lain yang terkait dengan pemikiran rasional.
Jadi kecerdasan sebagai alat pikir dalam merespon atas hasil kerja kesadaran, maka sebelum kita membuat langkah-langkah atas masalah-masalah yang kritis, pokok dan insidentil serta hubungan-hubungannya satu sama lain, maka proses berpikir tersebut dalam memandang masa depan terhadap situasi dari dalam dan dari luar lingkungan sendiri menuntun pemahaman kita saling keterkaitan antara hasil kerja kesadaran dan kecerdasan untuk melakukan proses perubahan itu sendiri.

Dengan kecerdasan pula yang akan menuntun pemahaman atas proses perubahan yang akan menjelaskan tentang cara dalam proses perubahan itu sendiri dengan gaya bertahap (mengambil langkah sedikit demi sedikit dan berkelanjutan menjadi besar) ; gaya perubahan sistimatik (melakukan perubahan transformasi total sebagai tuntutan untuk merespon dengan cepat dan komprehensif). Gaya manapun yang akan diterapkan, menuntut adanya perubahan yang berencana, sehingga dalam mengaktualisasikan kecerdasan da-lam proses berpikir haruslah berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang mengarah kepada disfungsional (perkecualian, paksaan) atau perubahan-perubahan yang mengejutkan.

Sejalan dengan ungkapan diatas, maka kecerdasan sebagai alat pikir dan sebagai unsur jiwa dalam menangkap hal-hal yang terkait dengan masa depan, tidak dapat melepaskan dari pemikiran-pemikiran dari pengalaman masa lalu, sehingga pengetahuan yang terbentuk dari pengalaman masa lalu menghasilkan pengetahuan masa sekarang membuka jalan untuk meramalkan masa depan.

MAKNA KECERDASAN

Untuk menggerakkan kecerdasan atas pemanfaatan otak sebelah kiri untuk memberikan daya dorong yang saling mengisi atas kesadaran, maka diperlukan pemahaman makna kecerdasan dengan ungkapan seperti dibawah ini :

Huruf pertama (K) menjadi kata KETERAMPILAN mengandung arti kecakapan untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan kecerdasan memanfaatkan ilmu (informasi) dan pengetahuan (pengalaman) dalam menghayati keadaan masalah dan hubungannya.

Huruf kedua (E) menjadi kata EMOSI mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan kecerdasan dalam memanfaatkan potensi unik, komitmen, intergritas dan pengaruh tanpa kekuasaan.

Huruf ketiga (C) menjadi kata CAKRAWALA mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan memanfaatkan jangkauan pandangan dan adanya kecelasan arah.

Huruf keempat (E) menjadi kata EKSPANSIP mengandung arti sikap dan perilaku untuk melaksanakan kemampuan berpikir yang bebas dan terbuka.

Huruf kelima (R) menjadi kata RASIONAL mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan memanfaatkan pendapat yang bersistem dan logis.

Huruf keenam (D) menjadi kata DETEKSI mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerak kemampuan berpikir dengan memanfaatkan usaha menemukan atau melacak dalam mendeteksi hal-hal yang terkait ke masa depan.

Huruf ketujuh (A) menjadi kata AMBISI mengandung arti kekuatan sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan memanfaatkan naluri yang ditimbulkanya secara baik.

Huruf kedelapan (S) menjadi kata STRUKTUR mengandung arti sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan memanfaatkan bagaimana cara sesuatu disusun atau dibangun.

Huruf kesembilan (A) menjadi kata ANTISIPASI mengandung arti sikap dan perilaku yang mampu memotivasi kemampuan berpikir dengan memanfaatkan penyesuaian atas perubahan yang akan terjadi.

Huruf kesepuluh (N) menjadi kata NALAR mengandung arti sebagai daya dorong untuk menggerakkan kemampuan berpikir dengan memanfaat-kan kekuatan pikir dari bebarapa fakta atau prinsip.

Dengan mengungkapkan huruf dan kata dalam makna kecerdasan sebagai langkah untuk menindak lanjuti dari hasil kesadaran dengan menggerakkan kemampuan berpikir melalui proses Keterampilan (K), atas pemahaman kedalaman Emosi (E) yang memiliki Cakrawala (C) secara Ekspansip (E) dan Rsional (R) untuk melakukan Deteksi (D) sesuai dengan Ambisi (A) yang benar dengan Struktur (S) berlandaskan Antisipasi (A) berdasarkan Nalar atas pehaman yang mendalam atas fakta dan prinsip.

RINGKASAN

Kecerdasan sebagai alat pikir harus dapat kita tumbuh kembangkan dengan mengoptimalkan otak atas sebelah kiri yang berfungsi menangani angka, logika, analis, sains, matematika dan hal lain yang terkait dengan pemikiran rasional.

Bila dengan kesadaran mengungkapkan untuk menyadarkan apa-apa, maka dengan kecerdasan memberitahukan dalam pikiran kita keadaan masalah dan hubungan-hubungannya, maka memanfaatkan kecerdasan dalam proses berpikir akan membentuk kebiasaan agar segala sesuatu untuk dipikirkan kesinambungan komunikasi antara kecerdasan dengan kesadaran.

Dengan demikian mengembangkan kecerdasan kepemimpinan yang dido-rong oleh pemahaman huruf dan kata yang bermakna atas kecerdasan membentuk kebiasaan dalam proses berpikir untuk meningkatkan keterampilan berpikir secara sadar dan metodis dalam menumbuh kembangkan rasa optimis, percaya diri dan tetap berhubungan dengan realitas dalam memprediksi atas masalah dan hubungannya atas peristiwa yang bakal terjadi.

Jadi dengan mengembangkan kecerdasan kepemimpinan dapat mendorong keterampilan dalam mengungkapkan tindak lanjut dari hasil kesadaran menjadi usaha-usaha mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan proses analisis penyebabkannya dengan langkah berpikir kedalam 1) merumuskan masalah yang dihadapi dengan menyatakan masalah kritis, pokok dan insidentil ; 2) menetapkan perbandingan yang terbaik melalui what, where, when dan magnitude ; 3) mengidentifikasi kejelasan yang terkait antara fakta-fakta yang diopservasi dengan fakta-fakta dibandingkan; 4) merespon penyebab dan membuktikan.
PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN PRINSIP KESEMBILAN

PENDAHULUAN

Proses berpikir mencakup dua lingkungan yaitu lingkungan alam sadar dan alam bawah sadar. Untuk menggerakkan proses berpikir dalam alam sadar memanfaatkan otak atas dimana masing-masing otak (kiri dan kanan) harus dapat memberikan rangsangan satu sama lain, jangan sampai terjadi salah satu tidak berperan sebagaimana layaknya. Jadi kesadaran (otak atas kanan) dan kecerdasan (otak atas kiri), keduanya menjadi alat pikir dari otak.

Sedangkan otak bawah sadar, yang juga disebut otak kecil artinya ia berpusat di hati oleh karena itu, ia berperan untuk mengendalikan semua fungsi tubuh yang tidak disadari dan otomatis, sehingga otak bawah akan bekerja secara terpisah dengan otak atas.

Jadi otak bawah sadar yang kita sebut dengan Akal mengandung arti dari satu sisi sebagai ilmu tentang hakikat segala sesuatu, letaknya dalam hati dan disisi lain kata Akal itu dipergunakan kepada yang mengenal ilmu itu ialah hati yakni benda halus dan indah itu. Jadi hati akan berperan untuk menghayati dalam mengendalikan emosi, seksualitas dan pusat kenikmatan, oleh karena itu otak bawah sadar yang kita sebut Akal sebagai alat pikir. Proses berpikir dengan memanfaatkan otak bawah sadar menjadi hasil kerja hati dengan penghayatan yang juga kita sebut dengan intuisi. Dengan demikian intuisi termasuk salah satu bentuk berpikir juga.

Kesadaran menyadarkan apa-apa, namun kecerdasan memberitahukan kepaada kita keadaan masalah dan hubungan-hubungannya. Apakah gerangan bahaya bagi kita. Itu saja tidak cukup dalam proses berpikir, yang menjadi persoalan berikutnya adalah bagaimana kita menghindarinya atau menumpasnya. Disnilah tampil prinsip kesembilan sebagai suatu proses berkir yang muncul kepermukaan yang disebut dengan akal sebagai alat pikir untuk mencari jalan untuk tujuan itu.

Dengan Akal dalam proses berpikir menunjukkan dimana letak bahaya, jenis bahaya, apa segara datang atau berlagsung tetap sebagai bahaya, bagaimana ia dapat dihindarkan, selanjutnya menunjukkan jalan dan cara-caranya mencapai tujuan itu agar supaya dilaksanakannya. Itulah pekerjaan akal. Dalam hal tertentu, ia juga bekerja membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa mengembangkan akal kepemimpinan me-rupakan unsur jiwa ketiga selain kesadaran dan kecerdasan. Oleh karena itu ketiga unsur jiwa itu, bertindak serentak dalam proses berpikir, saling mengisi dan saling membantu sehingga menyerupai tri-tunggal. Akhirnya kita dapat menyatakan bahwa tidak dapat me-nyebutkan yang satu dengan meninggalkan dua yang lainnya, dengan ungkapan ini alat pikiran sebagai kecakapan jiwa yang didalam fungsinya bertindak serentak sebagai tri-tunggal dan merupakan alat pikiran yang utama untuk kita kembangkan.

MAKNA AKAL

Untuk menggerakkan atas pemanfaatan otak bawah sadar yang juga disebut proses ber-pikir intuitif untuk merespon hasil kesadaran dan kecerdasan, maka diperlukan pemaham-an makna akal melalui huruf dan kata dengan ungkapan seperti dibawah ini :

Huruf pertama (A) menjadi kata ANTISIPATIF mengandung arti sikap dan perilaku yang bersifat tanggap terhadap sesuatu yang akan terjadi dari proses hasil berpikir kesadaran dan kecerdasan dalam memberikan jawaban atas bagaimana cara dan melaksanakannya.

Huruf kedua (K) menjadi kata KALBU mengandung arti kemampuan mengintergrasikan dalam proses berpikir terhadap otak atas kiri dan kanan sebagai alat pikir disatu sisi dan disisi lain hati sebagai alat menghayati, bagaimana membuat keputusan yang benar pada saat yang tepat.

Huruf ketiga (A) menjadi kata ANTISIPASI mengandung arti melakukan penyesuaian sikap dan perilaku sesuai dengan tuntutan perubah-an atas peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi sehingga perlu mendorong keterampilan-keterampilan yang terkait dengan menghindari masalah.

Huruf keempat (L) menjadi kata LAHIRBATIN mengandung arti segenap hati menjalankan prinsip-prinsip kepemimpinan dalam proses berpikir untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui sebagai kisaran proses mental yang sadar dalam mengaktualisasikan proses pengambilan keputusan.

Dengan mengungkapkan huruf dan kata dalam makna akal sebagai langkah kita untuk menggerakkan kemampuan berpikir melalui proses Antisipatif (A) dengan percaya diri sebagai wujud dari Kalbu (K) yang dapat menhayati atas pemanfaatan otak untuk melak-sanakan Antisipasi (A) berdasarkan keyakinan Lahir-batin (L) dalam proses pengambilan kepuutusan.

RINGKASAN

Akal sebagai alat pikir yang akan merespon dari proses berpikir kesadaran dan kecerdasan untuk memberikan jawaban tindakan apa yang diambil sekarang sebagai tindak lanjut dari pengambilan keputusan, oleh karena itu dengan pemahaman makna akal kita dapat menghayati untuk menanyakan hal-hal 1) apakah yang menjadi maksud dari keputusan; 2) adakah suatu keputusan sesungguhnya diperlukan sekarang; 3) apa kreteria pemilihan; 4) apa alternatif yang seharusnya anda pertimbangkan; 5) apa resiko yang dihadapi; 6) seberapa jauh keseriusan resiko tersebut.

Bagaimanapun juga hasil kerja akal dengan penghayatan akan merespon pertanyaan-pertanyaan yang kita kemukakan diatas dari unsur otak dan hati artinya otak sebagai alat pikir dan hati sebagai alat menghayati. Dengan demikian kita berpikir dalam kerangka yang metodis atau dengan kata lain berpikir yang disadari. Sejalan dengan pemikiran diatas maka proses berpikir dengan memanfaatkan akal sebagai alat pikir menuntun kita dalam proses berpikir dengan tahapan sebagai berikut :

Langkah pertama, adalah membuat pernyataan atas maksud keputusan, dengan mengajukan pertanyaan 1) adakah saya sedang mencoba membuat apa pilihan; 2) mengapa perlunya keputusan ini; 3) apa keputusan yang dibuat sebelumnya. Dengan membuat tiga pertanyaan tersebut kita mencoba merumuskan maksud tujuan pengambilan keputusan.

Langkah kedua, adalah menggariskan kreteria sebagai rujukan dalam pengambilan keputusan, jadi keputusan yang baik adalah mendapatkan hasil yang diperlukan berdasarkan kreteria yang ditetapkan.

Langkah ketiga, adalah mengembangkan dan membandingkan alternatif-alternatif sebagai suatu langkah untuk menentukan pilihan atasnya.

Langkah keempat, adalah langkah untuk mengambil keputusan yang terbaik melalui analisis resiko artinya mengidentifikasi dan menilai resiko.

Berpikir secara metodis yang kita bilan kemukakan diatas menuntut adanya keterampilan kepemimpinan dalam memanfaatkan tri-tunggal sebagai unsur jiwa dalam proses pengambilan keputusan, bagaimana membuat keputusan yang benar pada waktu yang tepat.

5. KOMPETENSI KEPEMIMPINAN ABAD 21 :

Mengembangkan suatu model Kepemimpinan abad 21, dimaksudkan men-cari suatu pola yang dapat dipergunakan sebagai acuan bahwa kepemimpin-an yang bagaimana dapat memenuhi harapan dalam mengelola masa kini dengan keterampilan menciptakan masa depan dalam menghadapi gelom-bang ketidak pastian.

Bila dipergunakan suatu pendekatan yang dinamakan “Berpikir”, maka pola kepemimpinan menunjukkan perbedaan sebelum tahun 1970, memasuki tahun 1980, setelah tahun 1990 dan memasuki tahun 2001 (abad 21).

Berpikir pada periodesasi tersebut menunjukkan perbedaan, perbedaan tersebut ditandai oleh adanya : 1) Apabila kita menghadapi persoalan diluar kebiasaan ; 2) Persoalan diluar kebiasaan kita namakan “daya dorong kritis” ; 3) Daya dorong kritis menjadi penting bila kita kaitkan dengan “waktu”.

Dengan memperhatikan tingkatan dan kualitas permasalahan yang dihadapi membuat perbedaan dalam pola kepemimpinan pada daur hidup suatu organisasi. Pada dasarnya bahwa permasalahan yang menuntut seorang pemimpin harus berpikir untuk memecahkannya dan dikaitkan periode waktu, maka model kepemimpinan kita kelompokkan menjadi :

a. Kepemimpinan sebelum memasuki tahun 1970 : ditunjukkan dengan adanya masalah normal dengan sifat sering dihadapi dan segera dapat diidentifikasi penyebabnya, yang kita sebut dengan masalah normal biasa artinya pemecahan dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya in-ternal yang tersedia. Kepemimpinan dalam masa ini menekankan hal-hal yang berkaitan dengan :

1) berusaha dalam merasionalisasikan dan mengilimiahkan bagaimana cara kerja yang dilakukan dan bagaimana; 2) tenaga kerja manusia dimanfaatkan untuk dapat meningkatkan hasil, mutu dan pelayanan ; 3) dengan membaiknya kondisi kehidupan, maka melahir-kan apa yang disebut relasi manusia, sehingga perlu menekankan bagaima-na memenuhi kebutuhan sosial dan bagaimana meningkatkan motivasi dan produktivitas organisasi ; 4) dengan menekankan untuk mengembangkan sistem informasi yang efektif untuk mendukung usaha bagaimana mengembangkan rasa tanggung jawab ketingkat yang lebih tinggi ; desen-tralisasi pengambilan keputusan dan pertumbuhan pemanfaatan komputer serta perluasan daerah geografis .

b. Kepemimpinan memasuki tahun 1980 : masalah normal tidak biasa, yang ditunjukkan dengan tidak sering dihadapi dalam daur hidup organisasi dan tidak mudah begitu saja dapat menidentifikasi situasi menjadi masalah yang segera dapat dipecahkan, walaupun penyelesaian dapat diselesaikan oleh kemampuan internal organisasi. Oleh karena itu masalah yang dihadapi kepemimpinan lebih menekankan atas : 1) bagaimana kita dapat mengge-rakkan smber daya dan energi manusia secara optimal ; 2) dan dalam waktu bersamaan suatu organisasi manusia yang bermutu dan terus tumbuh dapat dipertahankan ; 3) dan dimana kebutuhan pribadi seperti harga diri tumbuh dan berkembang ; 4) dan kepuasan batin secara maksimal mungkin dapat dipenuhi.

c. Kepemimpinan setelah tahun 1990 : sebelum tahun 1990, masalah yang dihadapi Kepemimpinan yang kita sebut dengan masalah normal (biasa dan tidak biasa), setelah tahun 1990 dimana Pemimpin dihadapi dengan gelombang perubahan yang jauh sebelumnya telah diingatkan oleh para futurist seperti Alven Toffler, John Naisbitt, Frank Feather dan para ahli Manajemen seperti Peter F. Drucker, Michael E. Porter, Kenichi Ohmae dll, telah menunjukkan adanya masalah tidak normal.

Pemimpin yang menghadapi masalah tidak normal dan sering ditemukan dalam daur hidup organisasi yang kita sebut dengan masalah komplek-sitas dengan tingkatan keruwetannya, maka pemecahannya tidak saja berdasarkan kemampuan sumber internal tetapi juga diperlukan intervensi dari external, maka kepemimpinan mulai meningkatkan arti penting mengenai pencairan alur yang sejalan dengan budaya perusahaan dan penyelarasan untuk mendukung kolaborasi di tempat kerja.

d. Kepemimpinan tahun 2001 : memasuki milenium ketiga, Kepemimpinan akan menghadapi masalah tidak normal pada tingkatan kompleksitas / ke-ruwetan menjadi suatu apa yang disebut dengan “penyakit” yang tidak sering ditemukan dalam daur hidup organisasi, bila tidak menghindarinya (dalam arti tidak terjadi) dalam tindakan akan berubah menjadi tindakan mencegahnya (dalam arti telah terjadi). Untuk menghindarinya, maka Kepemimpinan perlu menekankan tidak hanya mengenai “Wawasan” dan “Penyelarasan” tetapi juga “Pemberdayaan orang”. Dengan menumbuhkan dan meningkatkan pemberdayaan diharapkan terjadi perubahan sikap dan perilaku dari keterampilan manajerial “pemecahan masalah” menjadi “menghindari masalah atau dengan kata lainKepemimpinan abad 21, yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dengan penguasaan Kompetensi “mengelola masa kini sekaligus menciptakan masa depan”.

BAB IV MELAKSANAKAN PERUBAHAN DALAM KERANGKA BERPIKIR KAPASITAS

December 12, 2007

1. KEPEMIMPINAN DALAM PEMBAHARUAN

Kepemimpinan masa depan dituntut memiliki keterampilan berpikir yang metodis dengan memanfaatkan otak dan hati dalam mengaktualisasikan terobosan cara berpikir dalam mengikuti pembaharuan. Oleh karena itu sebagai daya dorong untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan haruslah memiliki wawasan dan imajinasi yang harus ditumbuh kembangkan kedalam peta pikiran agar ia mampu melihat persoalan-persoalan masa depan dan bagaimana kita memecahkannya dengan melaksanakan pembaharuan. Pengetahuan yang diungkapkan oleh para futurist seperti Alvin Toffler, John Naisbit, Frank Feather, Kenichi Ohmae, Ervin Laszlo, Dimitri Mahayana, dll. dapat kita pergunakan sebagai refrensi untuk memberi daya dorong dalam proses pemanfaatan otak dan hati untuk berpikir.

Ilmu (informasi) dan pengetahuan (pengalaman) memberikan ruang gerak kepemimpinan dalam menggerakkan otak dan hati dalam proses berpikir untuk memotivasi semangat baru kepemimpinan dalam mengantisipasi perubahan-perubahan dengan memahami situasi permasalahan dalam era globalisasi dan perubahan lingkungan seperti gelombang politik, ekonomi dunia, timbulnya blok-blok ekonomi, globalisasi pemasaran, pencemaran lingkungan, teknologi, standard kehidupan, modal intelektual, sumber daya yang terbatas dan perubahan-perubahan faktor internal.

Dengan memiliki kompetensi dalam manajemen berdasarkan informasi, mengelola dengan pandangan internasional, mengelola teknologi, mengelo-la kelugasan organisasi, maka kepemimpinan dalam pembaharuan dapat melangkah melaksanakan pembaharuan dengan perencanaan perubahan yang berencana.

2. KERANGKA PETA PIKIRAN DALAM RUMUSAN

Perubahan yang berencana mengandung arti keterampilan kepemimpinan mampu meng-gerakkan sumber daya secara produktif untuk memenuhi semua kepentingan steakholders yang seimbang. Oleh karena itu pemimpin puncak memainkan peranan penting untuk menggerakkan pembaharuan yang sejalan dengan prinsip-prinsip keterampilan kepemimpinan (kolaborasi , komitmen, komunikasi, kreativitas individu, kreativitas kelompok, inovasi organisasi, kesadaran, kecerdasan dan akal) yang mendorong agar perencanaan pembaharuan sesuai dengan tuntutan perubahan itu sendiri.

Kerangka peta pikiran dalam rumusan, dimaksudkan adalah suatu kerangka proses berpikir bagaimana prinsip-prinsip kepemimpinan itu diimplementa-sikan dalam satu proses yang berurut kedalam :

1) proses merancang pembaharuan;
2) proses tranformasi ;
3) proses peningkatan berkelanjutan, seperti tergambar dibawah ini :

MAKNA PETA PIKIRAN

1). GELOMBANG PERUBAHAN, mengandung arti keterampilan kepemimpinan memanfaatkan otak sebagai unsur jiwa yang kita gerakkan dalam bentuk kesadaran , kecerdasan dan hati sebagai alat pikir untuk bersikap dan berperilaku proaktif bukan reaktif sebagai pola pikir dalam keterampilan abad baru untuk menyiasiati dampak gelombang perubahan atas seluruh aspek kehidupan dunia untuk menyingkapi kebutuhan komptensi yang sejalan dengan predeksi antispati atas analisa strategis.

2). KEPUTUSAN STRATEGIK, mencakup visi, misi, tujuan dan strategi. VISI, suatu pernyataan yang dirumuskan dari hasil analisis strategi yang menggambarkan citra, nilai, tujuan dan arah masa depan yang hendak dituju sebagai suatu cita-cita yang dapat memberikan daya dorong untuk memotivasi perubahan sikap dan perilaku. MISI, suatu pernyataan yang menggambarkan sarana mewujudkan visi. TUJUAN merupakan jabaran dari misi secara kualitatip tentang apa-apa yang hendak dicapai dalam suatu periode tertentu. STRATEGI, menggambarkan cara cara yang akan ditempuh sebagai suatu strategi induk untuk mencapai tujuan dalam suatu periode tertentu.

3). KOMITMEN, merupakan suatu keyakinan diri yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang untuk bersikap dan berperilaku yang dimotivasi visi sebagai sesuatu penggerak dalam proses berpikir dalam penyesuaian diri dengan adanya gelombang perubahan dengan ketidak pastian menjadi suatu gelombang yang pasti.

4). MENGKOMUNIKASIKAN, kemampuan keterampilan kepemimpinan menkomunikasikan visi menjadi suatu realita dalam bersikap dan berperilaku oleh pengikut dengan menumbuh kembangkan berpikir mandiri atas pemanfaatan otak dan hati dalam menangkap perubahan yang dikehendaki sehingga setiap orang memiliki kemampuan untuk meningkatkan fleksibilitas mental.

5). MENGELOLA, keterampilan kepemimpinan menjabarkan keputusan strategik kedalam sasaran (kwantitatif), strategi (operasional/fungsional), kebijakan, program dan penganggaran menurut gaya pengelolaan berdasarkan budaya organisasi.

6). MEMBANGUN PARTISIPASI, memberikan ruang gerak peningkatan keterampilan melalui pendidikan dan pelatihan agar setiap orang mampu berpikir positip agar mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan.

7). LAPISAN BUDAYA, tingkat perubahan yang paling sulit karena menyangkut norma, nilai, wewenang dan ganjar yang terkait dengan hubungan manusia.

8). LAPISAN INFRASTRUKTUR, setengah sulit dan setengah nyata yang terkait dalam perubahan metoda manajemen, sistem pengukuran dan struktur penghargaan.

9). LAPISAN STRUKTUR TEKNIS, lebih mudah dan nyata atas perubahan-perubahan yang harus dilakukan yang terkait dengan struktur proses, struktur teknologi dan struktur organisasi.

10). UMPAN BALIK, atas perubahan yang dilakukan.

11). PENYESUAIAN, melaksanakan penyesuaian atas perubahan yang diperlukan.

12).MEMPERBARUI, mengkaji ulang yang sejalan dengan tuntutan perubahan yang dikehendaki dalam rangka meremajakan secara terus menerus untuk menempatkan posisi sumber daya yang fleksibel dan mudah dikontrol.

Lampiran

3. KEBUTUHAN AKAN PERUBAHAN

Kepemimpinan CEO berperan untuk mengamati gelombang perubahan sehingga ia harus mampu mendorong setiap pemimpin pada semua tingkat untuk cepat belajar dan beradaptasi dari gelombang perubahan agar semua pihak yang terlibat dalam melaksanakan perubahan dalam bersikap proaktif dan berperilaku antisifatip.

Untuk menyiasiati dampak gelombang perubahan atas seluruh aspek kehidupan dunia tanapa batas yang sangat dipengaruhi 5 C menurut Kenichi Ohmae yang mencakup Customer (pelanggan), Competitor (pesaing), Company (perusahaan), Country (negara), Currency (mata uang) ,maka usaha untuk menyingkapi kebutuhan kompetensi yang sejalan dengan predeksi antisipati atas hasil analisa strategis.

Analisis SWOT merupakan alat untuk menggerakkan alat pikiran kesadaran, kecerdasan dan hati kedalam penelitian strategis yang mencakup 1) kemampuan memahami apa yang mempengaruhi persepsi peneliti, 2) memanfaatkan kemampuan berpikir dalam mencari jawaban lebih dari satu, 3) memvokuskan dan membuat pilihan, 4) membuat pemetaan pikiran, 5) kemampuan untuk menggambarkan masa depan.

Dengan melaksanakan analisa strategis melalalui analisis SWOT dapat dirumuskan hal-hal yang terkait dengan posisi dan arah dimasa depan dengan menetapkan keputusan-keputusan strategik (visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, kebijakan) dalam melaksa-nakan program-program antisipasi berdasarkan identifikasi kesempatan dan kemampuan menghindari masalah.

Jadi SWOT akan kita pergunakan untuk memanfaatkan pikiran dalam melaksanakan pembaharuan dalam mewujudkan struktur pipih horizontal, lintas fungsional berlandaskan kerja sama tim kedalam perubahan oraganisasi yang fleksibel dan mudah dikontrol.

Pola pikir berubah sesuai dengan perubahan zaman dari reaktif menjadi antisifatip, maka CEO mencoba memperici kejadian-kejadian yang memungkinkan untuk menggerakkan pikiran agar terpacu untuk bercara pandang karena adanya faktor-faktor sbb.:

1). PELANGGAN SEBAGAI PEMACU, tergantung penampilan perusahaan perlu mengembangkan mekanisme untuk melacak keinginan pelanggan dan memonitor keluhannya. Pelanggan harus dibawa kedalam proses sebagai bagian dari suatu gabungan dari sistem, semua kegiatan bisnis mempunyai pelanggan karena kebutuhan pelanggan berkembang.

2). PERSAINGAN SEBAGAI PEMACU, persaingan mengarahkan perusahaan untuk meninjau kembali proses mereka dan menentukan apakah mereka bisa menjadi kompetitip atau bahkan membuat suatu loncatan persaingan dengan menitik beratkan pada proses. Persaingan tidak terlepas dari pelayanan terhadap penglanggan, maka perusahaan perlu mendifinisikan prosesnya yang menghubungkan dengan pelanggan dan kemudian membangun kembali mereka.

3). BIAYA SEBAGAI PEMACU, memerangi pemborosan maka sudah tidak semestinya lagi untuk mencari pemotongan biaya dari penugasan individu dan tingkat aktivitasnya dalam mencapai penghematan biaya yang berarti, melainkan harus didifinisikan cara pandang keseluruhan proses atau aliran dan kemudian memerangi biaya didalam setiap proses. Itulah satu jawaban atas “bagaimana mungkin perusahaan memotong biaya-biaya yang ada sementara pada saat yang bersamaan tidak hanya harus mempertahankan tetapi juga memperbaiki keaktipan dalam menanggapi sejumlah besar keinginan dari steakholders ?”

4). TENOLOGI SEBAGAI PEMACU, perubahan teknologi yang diaplikasikan kepada produk atau proses, memaksa perusahaan untuk memulai konsep yang baru lewat kenaikan produktivitas (efesiensi, efektif dan mutu), jadi pangsa pasar yang diraih dan pertumbuhan pasar merupakan kunci dari strategi kompetitip pada industri yang sensitif terhadap teknologi.

5). PEMEGANG SAHAM SEBAGAI PEMACU, mereka menginginkan pemimpin yang berani dan imajinatip yang dapat mendobrak setiap keadaan serta sanggup menghadapi dengan tegar perubahan-perubahan besar yang terjadi, oleh karena itu pemimpin harus pula punya keyakinan yang besar untuk menciptakan laba agar mampu menunjukkan kemampuan atas pengembalian modal.

GELOMBANG PERUBAHAN

Faktor lingkungan yang begitu cepat berubah, mendorong setiap pelaku ekonomi harus menyesuaikannya dengan tuntutan perubahan itu sendiri, seperti halnya dengan terbentuknya kerja sama ekonomi Asia-Pasifik terutama Asia Timur dan Tenggara, diharapkan dapat meningkatkan perdagangan dan investasi di antara negara-negara di kawasan tersebut, ini berarti mendorong liberalisasi perdagangan dan investasi global yang akan berdampak peluang dalam lingkungan yang sangat kompetitip.

Oleh karena itu dalam usaha memaksimumkan peluang, inovasi dan sumber daya dalam lingkungan yang sangat kompetitip akan sangat ditentukan oleh pelaku ekonomi itu sendiri khususnya BUMN, BUMS dan KOPERASI sebagai pihak-pihak yang sangat mengetahui letak keunggul-an, inovasi dan antisipasi mereka.

Landasan yang kuat, mengapa perubahan berencana mutlak harus dilakukan oleh pelaku ekonomi karena adanya paradoksal kemajuan pelaku ekonomi untuk bertahan, tumbuh dan berkembang adalah kemamuan mengorbankan kepentingan sekarang demi kepentingan masa mendatang.

Jadi keberhasilan dan kejayaan pelaku ekonomi masa depan akan sangat ditentukan oleh kepemimpinan yang peka terhadap perubahaan. Oleh karena itu kepemimpinan harus mampu mengungkapkan ketidakpastian dan membuatnya bermanfaat melalui pemahaman bagi semua tingkat kepemimpinan dan pengikutnya atas :
1) bahaya yang dihadapi karena sikap mempertahankan status quo,
2) meyakinkan bagi semua pihak atas manfaat masa depan dengan mengadakan perubahan,
3) perubahan harus di persepsikan atas kebutuhan kepemimpinan puncak.

KEPUTUSAN STRATEGIK

Keputusan-keputusan strategik akan diambil oleh pimpinan puncak berdasarkan suatu analisa strategis yang bertolak dari kesadaran, kecerdasan dan akal untuk mengubah keadaan sesuai dengan perubahan faktor eksternal dan internal.

Untuk menggerakkan perubahan itu, maka kepemimpinan harus memiliki keterampilan yang berkaitan dengan hal-hal mengintreprestasikan hasil analisa SWOT kedalam tingkat-tingkat interpensi dalam melaksanakan arah perubahan dimasa depan yang meliputi 1) arah yang mempengaruhi organisasi dan sistem secara menyeluruh seperti pengembangan visi dan misi, tujuan, sasaran dan strategi ; 2) yang mempengaruhi SBU (strategik bisnis unit) seperti pembentukan bisnis unit, reposisi binis unit; 3) yang mempengaruhi peringkat unit fungsional.

KOMITMEN

Keberhasilan perubahan yang direncanakan ditentukan oleh komiten dari semua tingkatan kepemimpinan yang datang dari lubuk hati mereka sendiri bukan sesuatu yang dipaksakan.

Dengan komitmen diharapkan dapat mengikat dalam sikap dan perilaku atas keputusan-keputusan strategik yang telah ditetapkan untuk dilaksanakan pada tingkat resiko yang paling minimum untuk dihadapi oleh stakeholders.

Jadi kepemimpinan yang peka atas resiko yang dihadapi dimasa depan karena adanya gelombang perubahan dengan tingkat ketidakpastiannya yang besar, menuntut kepemimpinan memiliki seperangkat pengetahuan sebagai komitmen dirinya untuk menghadapi semua persoalan yang ditimbulkan oleh perubahan itu.

Perubahan pula yang memberikan daya dorong kepada dirinya untuk merubah dalam proses berpikir dari reaktif menjadi proaktif atau dari vertical menjadi lateral atau divergen menjadi konvergen. Namun demikian proses berpikir itu tetap diperlukan dan saling memiliki keterkaitan, sehingga proses belajarnya menuntut perhatian bagi yang ingin berubah.

Dengan memiliki kemampuan proses berpikir itu, kepemimpinan dituntut untuk memanfaatkan energinya dalam menggali gelombang ketidakpastian menjadi yang pasti, sehingga mampu mengungkapkan penyerdahaan terhadap seluruh situasi yang dihadapi secara fokus atas masalah kedalam masalah strtegis, pokok dan tambahan.

Akhirnya proses berpikir itu akan berakhir untuk mencari pemecahannya dengan menempatkan kepekaan atas kepentingan stakeholder sebagai pemegang resiko kunci yang harus mendapatkan perhatian dalam analisa strategis. Pelanggan, karyawan, pemasok dan pemilik modal, mereka adalah yang pertama mendapatkan informasi awal atas keinginan untuk melakukan perubahan artinya harus ada kejelasan mengapa kita harus melakukannya dan bagaimana kemampuan kita untuk melaksanakkannya, siapa yang harus melakukannya, kapan harus harus dilakukannya. Itulah komitmen yang harus ditanamkan bagi kepemimpinan yang ingin sukses dalam perubahan.

4. MEMIMPIN PERUBAHAN

Untuk melaksanakan perubahan yang berencana dan berkelanjutan maka bagi
seorang pemimpin haruslah menunjukkan karekteristik umum dalam
kepemimpinannya agar seluruh langkah kedalam apa yang dinginkan, cara
melakukannya, evaluasi dan melaksanakan penyesuaian kembali.

Karekteristik umum yang kita maksudkan akan mencakup hal-hal 1) adanya komitmen yang jelas dan berkelanjutan, 2) memiliki wawasan dan imajinatip untuk berpikir diluar batas-batas yang telah digariskan, 3) adanya keberanian untuk mendobrak pola pikir yang konpensional, 4) memiliki daya dorong untuk memotivasi diri sendiri dan orang lain, 5) menghargai pemikiran orang lain, 6) bijak dalam bersikap dan berperilaku, 7) peka atas semua kepentingan.

Wujud karekteristik umum diatas dalam mencapai kesuksesan dalam melaksanakan perubahan, maka keterampilan-keterampilan dibawah ini harus dapat dimanfaatkan dalam melaksana-kan perubahan : 1) memiliki visi dan misi yang jelas dan penting, 2) memiliki analisa diagnosis, fokus dan berpikir strategik, 3) memiliki etika bisnis dan hukum, 4) memiliki kemampuan menguasai perubahan, 5) memiliki kemampuan mengemban tanggung jawab dan mengambil pilihan yang tepat dalam keberanian mengambil resiko, 6) memiliki kemampuan dalam proses pengambilan keputusan, 7) memiliki kemampu-an untuk menggunakan kekuasaan yang arif dan bijaksanna, 8) memiliki kemampuan untuk membentuk tim yang bersifat partisifatip.

MENGKOMUNIKASIKAN APA YANG DIINGINKAN
DALAM PERUBAHAN

Sebelum kita melangkah untuk melaksanakan pembaharuan, maka pertama-tama kita akan menjawab “apa yang diinginkan dalam pembaharuan” bagaimana oraganisasi dapat menyeberangi kesenjangan dari masyarakat informasi ke masyarakat pengetahuan dalam rangka mempertahankan daur hidup organisasi yang prima.

Posisi yang perima berarti memiliki kemampuan manajerial, teknik, informasi dan organisasi pada setiap area pemasaran, penelitian dan pengembangan, produksi dan operasi, keuangan dan akuntansi, sumber daya manusia, pusat perencanaan, hukum dan hubungan masyarakat.

Usaha untuk mempertahankan daur hidup yang prima diperlukan langkah-langkah kesamaan persepsi dari para pemimpin puncak dalam merencanakan dan melaksanakan perubahan yang diinginkan. Pimpinan puncak dapat membentuk kesamaan persepsi, bila mereka dapat menghindari dilema-dilema yang akan mempengaruhi dalam proses keputusan manajemen strategik, yang secara umum dapat diungkapkan dilema terse-but dapat berbentuk : 1) apakah perubahan strategi sifatnya ra-sional atau adaptif dalam menghadapi perubahan lingkungan dan faktor internal perusahaan ? 2) apakah perubahan yang akan dilaksanakan bersifat multi dimensi ? 3) apakah melaksanakan perbaikan yang berkelanjutan atau transformasi yang bersifat radikal ? 4) apakah melaksanakan melalui pemberian kuasa, kepemimpinan dan atau komando ?

MENGELOLA DAN MEMBANGUN PARTISIPASI

Dengan memahami dilema yang kita utarakan diatas, diharapkan usaha untuk menyatukan persepsi berarti para pelaku pengelola perubahan berkemampuan bahwa dengan kesadaran yang tinggi untuk menyatukan berpikir, menyadari, menghayati, mengerti dan memahami mengenai bagaimana persepsi terbentuk, bagaimana persepsi mengatur cara kita memandang dan bagaimana cara kita bersikap dan berperilaku untuk memberikan jawaban-jawaban pokok atas pertanyaan berupa :

• Bagaimana cepatnya untuk berubah ?
• Apa yang berubah ?
• Bagaimana cara untuk berubah ?

Membangun partisipasi diharapkan pihak-pihak yang terlibat sebagai agen pembaharuan dalam mengelola perubahan tidak saja harus berpikir rasional
tetapi juga kreatif dan intuitif. Oleh karena itu diperlukan suatu pola pikir sebagai landasan dalam mengelola dan membangun partisipasi kedalam satu arah bersikap dan berperilaku dengan menetapkan prinsip-prinsip dasar dalam melakukan perubahan, prinsip-prinsip melakukan transformasi dan prinsip-prinsip perbaikan yang berkelanjutan.

Dengan menetapkan prinsip-prinsip dasar diharapkan pengelola dapat membangun partisipasi agar wujud penolakan oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan perubahan dapat dielimir sekecil mungkin apakah penolakan logis karena rasional, psikologis karena emosional dan sosiologis karena kepentingan dan nilai kelompok.

Jadi dengan menetapkan prinsip-prinsip dasar, sebenarnya kita juga mencoba mencari jawaban-jawaban mengenai :

• Bagaimana kita mengembangkan pelaksanaan perubahan yang efektip ?
• Bagaimana kita dapat meyakinkan kepada semua pihak bahwa pelaksanaan perubahan berhasil ?
• Bagaimana kita dapat meyakinkan bahwa aplikasi dan produktivitas dapat berlanjut setelah perubahan.

PRINSIP DALAM PROSES PERUBAHAN

Dibawah ini diungkapkan 7 prinsip dalam proses perubahan sebagai ukuran keefektifan dan kualitas dari aktivitas yang dilakukan dalam melaksanakan proses perubahan :

• Mengorganisir pekerjaan yang berdampak langsung.
• Menyediakan akses langsung kepada pelanggan keluar dan kedalam.
• Memanfaatkan teknologi sesuai dengan kebutuh
• Melaksanakan pengawasan melalui kejelasan atas kebijakan, pelaksanaannya dan umpan balik.
• Memungkinkan pekerjaan yang saling tergantung dan simultan dalam pelaksanaannya.
• Melimpahkan kekuasaan dalam pengambilan keputusan.
• Menempatkan kedalam satu sistem atas pengukuran, penaksiran dan implementasi kedalam jalur umpan-balik.

PRINSIP DALAM PROSES TRANSFORMASI

Dibawah ini diungkapkan 7 prinsip untuk melaksanakan proses transformasi perubahan agar perubahan sikap dan perilaku berjalan tanpa terjadinya dorongan membuat konflik :

• Membentuk sikap dan perilaku dengan asumsi sebagai model budaya yang dapat diterima.
• Menumbuh kembangkan keteladanan agar orang mempercayai apa yang anda lakukan, bukan apa yang diucapkan.
• Mendorong keterlibatan para individu yang berperan utama dalam proses pengambilan keputusan.
• Menghindari suatu pelaksanaan tanpa adanya rancangan yang jelas agar tidak membuat kesalahan yang tidak dipikirkan secara mendalam dan menyeluruh.
• Melaksanakan perubahan sesuai dengan tingkatan masalah, dimulai dengan yang mendasar.
• Langkah melaksanakan transformasi haruslah dijalankan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.
• Perubahan dilakukan secara rasional menurut modul yang ditetapkan dan berjalan secara teratur dan berfungsi mandiri serta kemajuan tidak lineir.

PRINSIP PROSES PERBAIKAN BERKELANJUTAN

Keberhasilan memperbaiki dari satu posisi dan mempertahan posisi daur hidup yang prima, memerlukan 7 prinsip untuk mengembangkan proses perbaikan yang berkelanjutan seperti dibawah ini :

• Usaha peningkatan yang berkelanjutan adalah menjadi tugas dan kewajiban semua orang yang mencakup komunikasi, mengurangi kesalahan, pengurangan biaya, kepuasan pelanggan keluar dan kedalam, produktivitas (efesiensi, efektip, kualitas)
• Perbaikan terus menerus merupakan kebutuhan yang sejalan dengan tindakan proaktif dann antisifatip.
• Pelaku pembaharuan harus memiliki perhatian untuk setiap proses dan setelah pelaksanaan sampai pada tingkat terbawah.
• Setiap langkah dalam pelaksanaan haruslah dalam kerangka kerja yang sistimatis untuk mendapatkan hasil yang berkwalitas.
• Membangun terciptanya informasi terbuka dengan adanya keinginan saling menukar dan membagikan informasi secara terus menerus berlandaskan nilai dan kapabilitas melalui adanya methoda mengantisipasi masalah, data sebagai peluang untuk peningkatan, meneruskan solusi dan ide-ide, adanya semangat dan imbalan yang diberikan.
• Adanya pemahaman untuk tidak memaksakan suatu solusi dan mendengarkan pendapat orang lain dalam usaha mewujudkan kualitas melalui kebersamaan dalam tim, dorongan untuk memfokuskan diatas masalah mereka, menggerakkan semangat dalam menyampaikan ide-ide.
• Peningkatan didasarkan kepedulian individu, bukan organisasi sehingga mereka dapat berkontribusi dalam ide-ide.

5. DIMENSI LAPISAN PERUBAHAN
Sebelum melangkah untuk melakukan perubahan dalam usaha menyebenyeberangi kesenjangan sebagai suatu tindakan proaktif dalam menanggapi dampak lingkungan yang bergerak begitu cepat dan perubahan faktor internal dalam kesiapan untuk terus meremajakan suatu oraganisasi kedalam daur yang prima dalam arti organisasi yang fleksibel dan mudah dikontrol, maka diperlukan adanya pemahaman atas lapisan perubahan itu sendiri.

Lapisan perubahan adalah sasaran yang hendak dituju dari cara berpikir lama menuju berpikir baru seperti menyelesaikan masalah menjadi menghindari masalah. Sejalan dengan itu, maka pendekatannya dapat dilihat dari sudut hakekat segera atau sulit diselesaikan artinya dikelompokkan kedalam lapisan budaya, lapisan infrastruktur dan lapisan teknis; dilihat dari sudut intervensi kedalam perubahan artinya dikelompokkan kedalam tingkat korporate, tingkat bisnis unit, tingkat atar kelompok dan tingkat individu; dan dilihat dari sistem dalam pengelolaan organisasi artinya dikelompokkan kedalam sistem teknik, sistem sosial, sistem administrasi dan sistem strategis.

Apapun pendekatan yang dipilih dalam merumuskan rencana perubahan yang berencana dan sistematik pada umumnya dilakukan secara bertahap artinya membutuhkan waktu, oleh karena itu komitmen pimpinan puncak haruslah konsisten dalam melaksanakan rumusan-rumusan yang telah ditetapkan sejalan atas kapabilitas yang baru sebelum ditransfomasikan.

Dalam uraian-uraian selanjutnya akan dibahas berdasarkan pendekatan dilihat dari sudut hakekat segera atau sulitnya tahap-tahap dalam penyelesaian atas perubahan yang ditetapkan.

LAPISAN BUDAYA

Aspek perubahan budaya merupakan lapisan yang paling sulit untuk dilakukan perubahan karena menyangkut sikap dan perilaku manusia, apakah ia sebagai individu dan atau ia berada dalam kelompok.

Perubahan budaya akan menyangkut hal-hal yang terkait atas norma, nilai, wewenang dan ganjar. Kesulitan akan terletak kepada kebiasaan individu yang dalam perjalanan hidupnya sangat mengagungkan konsepsi materialistis, sehingga mereka terjebak dalam memanfaatkan otak dalam berpikir untuk melepaskan diri dari dari kebiasaan kiblat kepada manusia yang akan mendorongkannya untuk bersikap dan berperilaku kedalam pola berpikir yang tidak objektif.

Sebelum kita melangkah untuk merancang dan melaksanakan perubahan, perlu kita ungkapkan sebab-sebab utamanya, mengapa individu berpikir kiblat kepada manusia dan tidak berkiblat kepada prestasi :

1) Kekurangan tindakan berdampak memperkuat yang positip artinya sering kita lupakan bahwa setiap daya upaya yang dilakukan individu dan atau kelompok kurang diakui dan dihargai. Dalam situasi demikian, manusia cenderung untuk mencari pembaharuan untuk mendapatkan penghargaan yang mereka butuhkan.

2) Pengaruh tindakan berdampak membuat yang negatip artinya tindakan dapat berbentuk “prestasi dan atau dalih”. Tindakan dalih merupakan tindakan negatip yang mungkin dapat mengakibatkan pengaruh-pengaruh psikologis dan fisik yang tidak diharapkan.

3) Umpan dari kepuasaan yang meningkat artinya prospek dari kepuasan dapat juga mengakibatkan satu sistem untuk berubah, yang berdampak menjadi ketidak puasan karena ketidak mampuan dalam mewujudkan apa yang dinyatakan.

4) Pencarian satu balance yang lebih baik artinya memukul satu keseimbangan antara realita dengan potensialitas karena manusia selalu mencari dan mencari agar dapat menjadi apa saja yang mereka inginkan.

Bertolak dari pemahaman diatas, maka merancang dan melaksakan perubahan seperti budaya oraganisasi, kekuasaan politik, sistem keyakinan individu, dan sebagainya maka mengatur perubahan dalam pergerakan diperlukan mekanisme-mekanisme yang dapat menyuluh satu cara berbeda untuk memandang berbagai hal kedalam satu cara penyelidikan dan identifikasi untuk mendukung keberhasilan perubahan secara menyeluruh.

BUDAYA ORGANISASI, merupakan salah satu faktor penentu yang membentuk sikap dan perilaku manajemen dan oleh karena itu ia dapat dilihat dari dua sudut, pertama sesuatu yang kurang dapat dilihat karena budaya mencakup nilai, norma, wewenang dan ganjar, khususnya mengenai nilai yang dianut sangat sulit untuk dirumuskan, sedangkan kedua pada tingkat yang lebih terlihat, budaya menggambarkan pola atau gaya perilaku suatu organisasi, yang dapat menjadi pendorong untuk diikuti oleh mereka dalam kelompok. Jadi individu dan kelompok memiliki suatu sistem kebersamaan dalam memandang barang, dalam berkata-kata, dalam me-ngerjakan dan dalam merasakan.

KEKUASAAN POLITIK, merupakan salah satu faktor penentu dalam memainkan peran seorang pemimpin dalam berurusan dengan orang lain. Implementasi dari kekuasaan haruslah sejalan dengan tanggung jawab, wewenang, pengetahuan dan informasi, umpan balik pengakuan, kepercayaan, penghargaan, keberhasilan dan standard-standard profesional untuk mendukung agar kekuasaan politik yang dimiliki secara formal berlandaskan percaya diri dan kearifan.

SISTEM KEYAKINAN PARA INDIVIDU, merupakan faktor penentu yang ditunjukkan dalam bersikap dan berperilaku bahwa dengan suatu keyakinan sebagai model mental yang ditunjukkan olehnya pada setiap bertindak. Dengan keyakinan itu pula ia melaksanakan kerja dengan aturan yang ada sesuai dengan situasi, perlindungan, penting keuntungan jangka pendek, mengakui hak orang lain serta ide-die baru dalam pemecahan.

LAPISAN INFRASTRUKTUR

Aspek perubahan infrastruktur merupakan sesuatu yang mendekati sesuatu yang dapat dipredeksi kebutuhan atas perubahannya karena ia akan mempengaruhi atas pelaksanaan tindakan operasional.

Perubahan infrastruktur yang mempengaruhi sikap dan perilaku indvidu dan kelompok akan sangat menentukan keberhasilan operasional, haruslah sejalan dengan perubahan teknis / phisik yang direncanakan dan oleh karena itu diperlukan seperangkat keterampilan baru, dukungan manajerial, insentip yang cukup, dan umpan balik agar mereka tidak terjebak dengan cara lama yang akan berdampak iklim kerja yang tidak memuaskan.

Perubahan tersebut dapat mencakup perubahan-perubahan atas struktur penghargaan, sistem penilaian dan metoda manajemen.

Pada umumnya suatu organisasi hanya bertolak untuk meningkatkan motivasi berdasarkan pendekatan imbal jasa finasial, sedangkan kita pahami bahwa motivasi merupakan hal yang komplek dalam usaha meningkatkan kinerja.

STRUKTUR PENGHARGAAN, merupakan faktor sebagai bagian yang komplek untuk menggerakkan motivasi agar individu dan kelompok terangsang untuk mengembangkan kreatif dan imajinasi dalam memberikan konstribusi keberhasilan.

Dengan adanya pekerjaan yang menantang dan menarik serta dorongan struktur penghargaan yang jelas dapat menimbulkan peningkatan produktivitas (efisien, efektip dan mutu). Bentuk struktur penghargaan dapat informal dan formal.

SISTEM EVALUASI DAN PENILAIAN, merupakan langkah yang terkait dengan peningkatan perbaikan kinerja yang berkesinambungan bukan suatu kegiatan tahunan, sehingga termasuk kegiatan operasional yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya. Penilaian haruslah dilakukan secara komperhesip artinya dapat dilihat dari pencapaian tujuan dan dari kompetensi.

METODE MANAJEMEN, mencakup hal-hal yang terkait atas aplikasi teknik dan praktek yang dipergunakan untuk mengawasi, mengembangkan dan dukungan kepada individu dan kelompok dalam semua kegiatan yang dilaksanakan sebagai proses dalam menjalankan usaha agar dapat diwujudkan prestasi yang lebih baik dari sebelumnya.

LAPISAN PHISIK DAN TEKNIS

Pada lapisan ini merupakan suatu tingkat yang lebih nyata dan mudah berubah, namun keberhasilan perubahan akan sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam perubahan atas lapisan infrastruktur dan budaya organisasi.

Walaupun sesuatu yang nyata dan mudah untuk dilaksanakan perubahan, namun harus dilihat sesuatunya secara fokus, tanpa menaruh perhatian yang terarah dan mendalam dalam memandang faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mengadaptasi akan berdampak kegagalam dalam melaksanakan perubahan itu sendiri. Usaha untuk memfokuskan dapat kita kelompokkan kedalam struktur proses, struktur teknologi dan struktur organisasi dalam melaksanakan perubahan.

STRUKTUR PROSES, dimaksudkan mengenai apa, bilamana dan bagaimana suatu pekerjaan untuk dilaksanakan. Oleh karena itu akan bergantung atas dukungan yang terkait dengan proses bisnis dan hasilnya itu sendiri serta kebijakan, praktek dan prosedur-prosedur yang ditetapkan. Selanjutnya proses itu dapat dikelompokkan kedalam aliran kerja, aliran informasi dan aliran waktu, yang kesmuanya memperlihatkan saling ketergantungannya satu sama lain.

STRUKTUR TEKNOLOGI, harus dilihat dari sudut penerapan dari pengetahuan-pengetahuan ilimiah atau pengetahuan yang teratur untuk tugas-tugas yang praktis. Akibatnya yang terpenting, paling tidak dari segi ekonomi. Dalam struktur ini terdiri dari komunikasi otomatis, jaringan kerja, sistem komputer yang dipergunakan untuk mendukung struktur proses, termasuk didalamnya data, aplikasi, komunikasi, dan segala sesuatu yang terkait dengan teknologi. Jadi pemanfaatan aplikasi dari teknologi haruslah dilihat dari sisi intergrasi kompeten dari teknologi dengan proses-proses kerja.

STRUKTUR ORGANISASI, harus dipandang sebagai alat untuk menunjukkan siapa yang melaksanakan, mengelola dan bertanggungjawab atas setiap proses bisnis. Jadi organisasi mencakup hal-hal yang berkaitan dengan struktur pekerjaan, pelaporan dan hubungan kelompok kerja, pertanggungan jawaban, konten pekerjaan dan keterampilan / pengetahuan yang diperlukan. Kesemuanya akan terjadi kesenjangan bila proses dan struktur organisasi keluar dari garis yang telah ditetapkan.

6. MEREMAJAKAN PERUBAHAN

PENDAHULUAN

Meremajakan perubahan merupakan langkah untuk memperbaiki yang bermakna dengan mengubah artinya usaha mencapai kesempurnaan sama dengan sering melakukan perubahan.

Jadi ungkapan diatas sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada yang permanen kecuali perubahan itu sendiri. Dengan demikian ungkapan tersebut menjadi daya dorong untuk memanfaatkan pikiran dalam melaksanakan, apa yang disebut dengan perubahan yang berlanjut.

Perubahan yang berlanjut menuntut suatu struktur yang fleksibel dan mudah dikontrol kecuali organisasi berbentuk cerobong karena sifat fungsional dan hierarkisnya akan sangat sulit untuk melakukannya.

Kita menyadari bahwa gelombang perubahan itu selalu ada dan bergerak dengan cepat dan multikomplek, menuntut kita bersikap proaktif dan berperilaku antisipatip untuk dapat menuntun kita berada di garis depan sebagai suatu langkah untuk tetap kita melaksanakan peremajaan perubahan artinya adanya tindakan perubahan yang berlanjut.

UMPAN BALIK

Umpan balik merupakan langkah awal dalam kita mengamati situasi dimana organisasi erat hubungannya dengan pelanggan dan lingkungan pesaingnya, oleh karena itu umpan balik perlu diciptakan suatu iklim dimana peran individu yang terdepan diberi kekuasaan dan wewenang untuk bertindak dalam struktur yang fleksibel dan mudah dikontrol dalam kerangka memuas-kan kepentingan stakeholders, khususnya pelanggan.

Umpan balik dari satu kegiatan perubahan berlanjut haruslah dimulai adanya peningkatan dan atribut individual yang memiliki kemampuan yang beroperasi dalam tim artinya memiliki kemampuan menguasai agar ia mampu memainkan peran sebagai tim dan melaksanakan sesuai dengan metodelogi dalam perubahan yang berlanjut.

Dengan demikian bahwa perbedaan pengetahuan, keterampilan, sikap dan penguasaan lapangan menuntut individu dalam kelompok saling belajar dan mengajar karena memiliki kemampuan untuk mendengar orang lain, menghapusan gagasan / ide dan praktek yang tidak dinginkan dan berkerja secara sistimatis.

Dengan penguasaan pengetahuan dari pengalaman diatas, maka umpan balik yang termasuk dalam kerangka kegiatan pemantauan sebagai proses akan memainkan peranan penting dalam tim untuk memberitahukan kebutuhan atas perubahan apa yang akan diinginkan.

PENYESUAIAN

Bertolak dari hasil pemantauan atas umpan balik, maka dibuatlah rencana sebagai langkah penyesuaian berdasarkan kebutuhan perubahan dan berusaha menghindari langkah-langkah hasil kompromi serta mampu melahirkan momentum dan iklim yang postip untuk suatu perubahan.

MEMPERBAHARUI

Bertolak dari rencana penyesuaian, maka dibuatlah langkah pelaksanaan dalam kerangka perubahan yang berkelanjutan sebagai kerangka dari proses perbaikan apa yang dinginkan.

Jadi perubahan bukan terjadi sekali saja, oleh karena itu diperlukan adanya keuletan yang dijanjikan artinya selalu siap akan adanya reaksi dan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan baik dari anggota tim yang merasa tidak puas maupun diluar anggota tim, namun dengan adanya keuletan dan keyakinan atas umpan balik dan penyesuaian yang diketahui apa yang diinginkan, maka perubahan berlanjut akan tumbuh dan tetap utuh sebagai metodelogi perubahan melalui suatu proses dari membuat rencana, melaksanakan, memantau, tingkatkan, sesuaikan atas kebutuhan apa yang diinginkan.

7. LANGKAH-LANGKAH PEMBAHARUAN

LANDASAN BERPIKIR YANG DIMOTORI OLEH CEO

1) CEO meyakini bahwa pembaharuan dengan perubahan berencana merupakan tuntutan dalam memasuki abad 21, sehingga diperlukan perhatian yang serius atas integrasi bisnis dan pengembangan manajemen kedalam tiga unsur yang saling terkait yaitu organisasi, waktu dan materi.

2) CEO meyakini dalam memasuki abad 21, ditandai akan paradigma atas tiga kunci keberhasilan yang disebut dengan antisipasi, inovasi dan keunggulan.

3) CEO meyakini bahwa hanya ada satu interpretasi tentang kebijaksanaan pintu terbuka bagi kepemimpinan manajer, pengikut dan karyawan untuk menumbuh kembangkan kreativitas bisnis (berpikir kreatif dalam berbisnis) untuk meniupkan angin perubahan berarti lawan dari pikiran yang tertutup.

4) CEO meyakini dapat membangun tim kepemimpinan yang positip, memperoleh komitmen untuk mencapai tujuan yang posotip, memperoleh komitmen untuk mencapai tujuan yang posotip, memiliki para pelaksana yang positip, meyakini orang untuk melakukan pekerjaan yang positip, membangun reputasi yang posotip, memperoleh hasil yang positip.

5) CEO meyakini untuk mengelola budaya perusahaan menjadi tanggung jawab bersama walaupun dalam kenyataan adannya keragaman budaya dilingkungan kerja.

6) CEO meyakini bahwa dalam melaksanakan pengembangan sumber daya manusia sebaiknya dimulai dari penilaian strategis terhadap kondisi yang ada:

Perubahan keahlian dan kompetensi apa yang diperlukan untuk memperbaiki kinerja setiap individu?

Apa kekurangan tertentu dalam kinerja yang perlu mendapatkan perhatian khusus?

Perubahan teknologi, proses produksi dan budaya perusahaan apa ayng sangat tergantung pada pengetahuan baru karyawan?

7) CEO meyakini bahwa masalah yang dihadapai dalam abad ke 21 lebih memfokuskan untuk merangsang lahirnya terobosan cara berpikir melalui integrasi strategi manajegen kedalam strategi perusahaan dalam menghada-pi tantangan masa depan untuk memaksimumkan peluang meraih kesuk-sesan.

LANGKAH- LANGKAH KEGIATAN

LANGKAH KESATU: MEMBANGUN KOMITMEN

DEFINISI

Komitmen adalah wujud KEBERSAMAAN dalam mengkomu-nikasikan suara hati kepada ORANG lain dalam MEMAHAMI yang berdasarkan INTELEGENSI agar dapat mengatualisasikan secara TASAMUH dengan sikap mental positip untuk bertindak secara ELEKTIS yang berdasarkan kemampuan NALAR yang dalam menghadapi perubahan.

WUJUD KOMITMEN

Komitmen lebih menekankan bukti tindakan bukan kata-kata.
Komitmen menginginkan iklim yang luwes tapi mudah mengontrol dalam memberikan saling hormat menghormati.
Komitmen tidak bisa dipaksakan oleh perusahaan.
Komitmen adannya kemauan pengorbanan pribadi.
Komitmen mengandung pemusatan dalam melakukan pekerjaan
Komitmen mengandung usaha orang untuk berusaha mengem-bangkan inisiatif dan bersedia memberikan pertanggung jawaban.
Komitmen membutuhkan keberanian dan mengandung resiko.

AKTIVITAS PERTAMA

Membangun kelompok kerja tim yang memiliki kompetensi sesuai dengan peran pelaku yang dapat diberikan dalam kerja tim melalui aktivitas:
Menyeleksi dan menetapkan pilihan dalam penerimaan anggota tim.
Menyelaraskan kebutuhan lingkungan kerja.
Membangun suatu kebersamaan dalam komitmen.
Membangun metedologi kolaborasi.

AKTIVITAS KEDUA

Membangun dan mempertahankan kelompok kerja tim yang tangguh dalam merubah pola pikir yang sesuai dengan kebutuh-an perubahan lingkungan:
Menyelesaikan proses pembentukan kelompok tim.
Menyelesaikan rincian tugas, tanggungjawab dan hubungan kolaboratif.
Menjabarkan komitmen menjadi harapan-harapan yang nyata.
Menjabarkan harapan-harapan kedalam tindakan.

LANGKAH KEDUA: MERUMUSKAN VISI DAN PRINSIP-PRINSIP PENUNTUN

DEFINISI

Visi adalah suatu pernyataan yang akan memandu organisasi dalam memberikan perhatian untuk memenuhi kepentingan stakeholder melalui artikulasi citra, nilai dan arah untuk memenuhi harapan masa depan sesuai dengan tuntutan perubahan zaman.

Nilai adalah menyatakan keyakinan-keyakinan dasar bahwa “suatu modus (cara) perilaku atau keadaan akhir dari ekstensi yang khas lebih dapat disukai secara pribadi atau social dari pada suatu modus perilaku atau keadaan akhir ekstensi yang berlawanan atau kebalikannya”. Nilai mengandung suatu unsure pertimbangan dalam arti nilai mengembangagasan-gagasan seorang individu mengenai apa yang benar, baik atau diinginkan.

Arahan adalah suatu peryataan-pernyataan dengan misi, tujuan, sasaran, strategi dan kebijaksanaan.

Prinsip-prinsip mengandung arti sebagai suatu azas-azas yang dapat diterima baik oleh organisasi maupun individu sebagai petunjuk atau arahan.

AKTIVITAS PERTAMA

Membangun kapabilitas anggota tim:
Menyamakan persepsi CEO dengan ANGGOTA TIM mengenai pembaha-ruan.
Melatih tim dalam mempergunakan teknik-teknik manajemen.
Menyiapkan rancangan awal pembaharuan oleh TIM.
Membahas dan pengesyahan oleh CEO rencana perubahan menyeluruh.

AKTIVITAS KEDUA

Membangun VISI, CITRA, NILAI, MISI, TUJUAN, SASAR-AN, STRATEGI, KEBIJAKSANAAN:
Mengidentifikasi kompetensi utama organisasi.
Mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal
Merumuskan keputusan-keputusan manajemen strategic.

AKTIVITAS KETIGA

Membangun prinsip-prinsip dasar:
Merumuskan proses mekanisme pelayanan.
Merumuskan proses pengelolaan sumber daya manusia dan kolaborasi.
Merumuskan proses pemanfaatan teknologi informasi.

LANGKAH KETIGA: MERANCANG PERUBAHAN

DEFINISI

Merancang perubahan adalah merencanakan perubahan yang akan dilaksanakan secara berencana dan dilaksanakan secara sistematik yang berkaitan dengan dimensi rekayasa bisnis, meliputi apa yang disebut pada PHYSICAL TECHNICAL LAYER (struktur proses, struktur teknologi, struktur organisasi), INFRASTRUCTURE LAYER (struktur reward, system manajemen, metoda manajemen), VALUE LAYER (budaya organisasi, kekuasaan politik, system keyakinan individu).

WUJUD PERUBAHAN

Mengembangkan cara mengadopsi yang sedang berjalan baik.
Menyempurnakan dan melaksanakan praktek yang terbaik.
Menciptakan proses yang baru.

AKTIVITAS PERTAMA

Mengidentivikasi proses-proses bisnis yang sedang berjalan:
Menentukan prosees-proses bisnis yang kritis.
Mengukur proses-proses yang kritis.
Proses performansi dasar.
Identifikasi peluang-peluang dan proses-proses yang akan direkayasa.

AKTIVITAS KEDUA

Membangun lingkup proyek pemetaan proses meliputi aktivitas ayng akan dilakukan, bagaimana aktivitas itu dilakukan, bagaimana aktivitas itu akan dilakukan, bagaimana aliran kerjannya, berapa banyak waktu dihabiskan selama dan antara beragam aktivitas tersebut, bidang-bidang mana dari organisasi yang akan bertanggung jawab atas beragam aktivitas tersebut, bagaimana teknologi informasi akan digunakan.

Pemetaan aktivitas perusahaan.
Pemetaan aktivitas inti yang penting mencakup aktivitas operasional.
Pemetaan aktivitas inti yang utama.
Pemetaan aktivitas proses yang mendasar.

AKTIVITAS KETIGA

Memetakan dan menganalisa proses-proses :
Menggambarkan proses kedalam suatu flowchart.
Menggambarkan proses kedalam flow diagram yang terintegrasi
Menyelesaikan kertas kerja pemetaan proses.
Menyelesaikan analisis hambatan proses.
Menyelesaikan analisis factor budaya.

AKTIVITAS KEEMPAT

Menciptakan proses sesuai dengan tuntutan perubahan dan menguji proses yang dirancang :
Menggambarkan proses-proses ayng ideal secara tertulis.
Membandingkan proses yang ideal dengan proses yang sedang berjalan.
Menilai penyimpangan.
Menyempurnakan proses yang dirancang.
Mendapatkan pengesyahan dari stakeholders

LANGKAH KEEMPAT: MENTRANSFORMASIKAN

DEFINISI

Mentranformasikan adalah kesungguhan untuk melaksanakan perubahan dengan interverensi dengan kemampuan sumberdaya manusia internal dengan tugas yang beresiko dan komplek atas dasar komitmen yang kuat bagi semua pihak yang terkait.

WUJUD TRANSFORMASI

Kedalam kegiatan yang berkaitan dengan ENTERPRISE level
Kedalam kegiatan yang berkaitan dengan OPERATION level
Kedalam kegiatan yang berkaitan dengan BUSINESS level

AKTIVITAS PERTAMA

Membangun suatu struktur yang fleksibel dan mudah dikontrol melalui bentuk yang ramping, lebih datar dan lebih gesit dengan memperhatikan bahwa manusia akan terus belajar, mampu mengambil keputusan senditi dan keandalan:

Merancang organisasi sesuai dengan kebutuhan perubahan.
Mengandakan penilaian secara menyeluruh atas aktivitas organisasi.
Melaksanakan transformasi dengan kesiapan sumberdaya manusia yang siap melaksanakan perubahan.

AKTIVITAS KEDUA

Agar transformasi berjalan lancar untuk dapat mendukung organisasi yang effektif diperlukan penyesuaian atasmetode, system dan prosedur yang effesien dan effektif.

Metode, system dan prosedur baru yang akan diterapkan mampu memotivasi karyawan dalam menjalankan perannya.
Metode, system dan prosedur yang akan diterapkan sejalan dengan teknologi informasi.

AKTIVITAS KETIGA

Agar tranformasi dapat mengimplementasikan proses sesuai dengan yang dirancang untuk mewujudkan tingkat performasi, produktivitas, akuntabili-tas dan kepemimpinan kolaborasi masa depan lebih baik dari masa kini diperlukan pengelolaan perubahan dan kecepatan perubahan.

Mengefektifkan komunikasi CEO dan STAFF.
Melaksanakan pendidikan dan pelatihan yang konsisten.
Meningkatkan budaya kreativitas menjadi inovasi dan komit-men untuk berubah.

LANGKAH KELIMA: MEMANTAU PERUBAHAN YANG DIRENCANAKAN

DEFINISI

Memantau perubahan adalah melaksanakan evaluasi apakah pelaksanaan perubahan yang direncanakan telah memenuhi harapan dan terus ditingkatkan dan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan yang digerakkan secara terus menerus dalam usaha mencari visi dan misi yang telah digariskan.

AKTIVITAS KESATU

Menyempurnakan proses yang dirancang setelah diimplementasikan.
Menyempurnakan dari hasil kajian.
Menyelaraskan dengan visi dan misi yang digariskan.

AKTIVITAS KEDUA

Perbaikan menyeluruh dalam rangka meraih peluang organisasi
Mengevaluasi diri dalam kesempatann untuk perbaikan.

Evaluasi bertitik tolak peningkatan performansi, produktivitas, akuntabilit-as dan kepemimpinan kolaborasi.

Melaksanakan perbaikan yang meliputi praktek manajemen, effektivitas organisasi dan pemberdayaan sumber daya.

AKTIVITAS KETIGA

Perbaikan rencana jangka panjang sesuai dengan dasar perencanaan dan mentransfer pembelanjaran yang didapat:
Menyelaraskan rencana jangka pendek terhadap jangka panjang.
Menumbuhkan komitmen untuk mentransfer dari hasil pemelajaran kedalam internal organisasi.
Memberikan informasi dari hasil pemelajaran kepada pelanggan, pemasok, mitra bisnis dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Memancing masukan sehubungan denga pertukaran infromasi menuju ke sinergi kesempurnaan operasi yang lebih besar dan keunggulan kompetitip yang lebih baik.

BAB V POKOK-POKOK PIKIRAN ATAS AREA KUNCI STRUKTURAL DAN FUNGSIONAL

December 12, 2007

1. PENDEKATAN SISTEM DALAM IMPLEMENTASI KAPASITAS.

Pendekatan sistem bukanlah suatu teori artinya bukan teori sistem, meskipun ada aspek-aspek teoritis pemikiran sistem walaupun begitu dalam kenyataan sering kita jumpai label teori sering ditempelkan pada pemikiran atau konsep sistem.

Jadi pendekatan sistem adalah suatu cara pemikiran yang bersifat in-terdisipliner oleh karena itu ia kaya akan konsep dan praktek sehing-ga memberikan pendekatan yang hidup dalam memberikan jawaban dan pernyataan dalam menawarkan “perspektif kepada ketidakpastian

Bertolak dari pemikiran diatas, maka pendekatan sisten dalam implementasi “Kapasitas” sebagai pemikiran sistem bersifat holistek (sebagai suatu kesatuan) dan kontekstual (bergantung pada konteknya). Pemikiran sistem tidak hanya berfokuskan pada totalitas dan kompenen-komponennya tetapi juga memperhatikan lingkungannya.

Dengan demikian pendekatan sistem dalam kerangka berpikir “Kapasitas” dan implementasinya adalah pemikiran yang sistematis dan rasional artinya suatu pemikiran yang sifatnya sistimatis, metodis, koheren, berencana, dan analitis dengan memperhitungkan acuan, hubungan-hubungan dan tujuan.

2. ORGANISASI BERBASIS PENGETAHUAN

Sejalan dengan pemahaman dalam kerangka berpikir KAPASITAS, maka pemahaman yang efektif tentang organisasi berbasis pengeta-huan dengan pendekatan sistem dimaksudkan adalah seperangkat obyek dengan keterkaitan antar obyek dan hubungan antar atributnya
atau dengan kata lain sistem adalah suatu kesatuan utuh yang terjalin dari 1) sejumlah bagian ; 2) hubungan bagian dalam keterkaitannya ; 3) atribut dari bagian-bagian itu dan hubungannya. Secara singkat dapat pula kita katakan bahwa sistem adalah seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas ; susunan yang teratur dari pandangan, teori, azas dsb.

Organisasi sebagai alat untuk merealisir visi, misi, tujuan (kualitatip) dan sasaran (kuantitatip), maka mau tidak mau harus mengikuti atas perubahan lingkungan. Untuk hidup dan bertahan dalam masyarakat informasi dan masyarakat pengetahuan di abad 21 ini, organisasi di-manifestasikan terutama dalam hubungan dua faktor yaitu fleksibili-tas dan mudahnya dikontrol.

Hal itu laksana perbedaan antara seorang bayi dan orang yang lebih tua. Bayi itu sangat fleksibel dan dapat memasukkan kakinya keda-lam mulutnya, namun gerakan-gerakan dan perilakunya agak sulit dikontrol. Dengan meningkatnya usia kita akhirnya seseorang yang lebih tua juga akan kehilangan sifatnya yang dapat dikontrol.

Jadi ukuran dan waktu bukanlah penyebab pertumbuhan dan menjadi tua seolah-olah perusahaan yang besar dengan tradisi yang lama disebut tua, sedangkan perusahaan yang kecil tanpa tradisi disebut muda. Muda berarti organisasi itu dapat berubah relatip mudah, tua berarti adanya perilaku yang dikontrol namun tidak fleksibel.

Oleh karena itu suatu organisasi dalam abad 21, haruslah dibangun sebagai organisasi yang memiliki sifak fleksibel dan mudah dikontrol, maka organisasi itu tidaklah terlalu muda atau terlalu tua, tahap inilah dinamakan PRIMA. Organisasi dalam posisi prima, benar-benar diperlengkapi untuk menerima dan menanggapi perubahan yang cepat didalam pasar, teknologi, kompetensi dan kebutuhan pelanggan.

Berdasarkan pemikiran yang kita kemukakan diatas, maka pendekatan sistem sebagai suatu cara menggambarkan organisasi sebagai sistem totalitas yang terdiri dari empat sistem (sub-sistem) dalam pemahaman untuk memikirkan dengan efektif, menganalisanya, mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan dalam fungsi menyeluruh dan melaksanakannya.

Keempat sistem tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

• SISTEM KEPEMIMPINAN
• SISTEM SUMBER DAYA
• SISTEM MANAJEMEN
• SISTEM PENGETAHUAN

Secara singkat keempat sistem tersebut dapat dikemukakan dalam pemahaman kita yang terkait dengan kefektifan organisasi sbb. :

SISTEM KEPEMIMPINAN adalah suatu sistem yang akan memperlihatkan sikap dan perilaku seorang pemimpin pada semua tingkatan organisasi dalam menjalankan perannya untuk mempenga-ruhi orang lain sebagai : Titik pusat dari proses yang terjadi dalam kelompok ; Kepribadian dan akibatnya ; Seni membentuk kepatuhan ; Penggunaan pengaruh ; Perbuatan ; Bentuk persuasi ; Hubungan kekuasaan ; Alat mencapai tujuan ; Efek saling hubungan ; Perbedaan peran ; Penggerak awal tata hubungan kerja .

SISTEM SUMBER DAYA adalah suatu sistem tersedianya faktor-faktor produksi seperti tanah, bangunan, mesin, uang, manusia dsb. yang dipakai dalam kegiatan ekonomi untuk menghasilkan barang dan jasa serta mendistribusikannya, jadi segala sesuatu yang dapat dilihat dan diraba.

SISTEM PENGETAHUAN adalah suatu sistem yang memperlihatkan bahwa organisasi sebagai sumber pengetahuan dimana adanya fakta atau keadaan dalam mengetahui sesuatu yang sama di mana didapatkan melalui pengalaman atau pengasosiasian. Jadi akan terkait dengan jumlah informasi, apa kegunaannya dan bagaimana mempergunakannya.

SISTEM MANAJEMEN adalah sustu sistem yang memperlihatkan
bagaimana suatu organisasi dikelola dengan media informasi, jalur arus informasi, strategi, kebijaksanaan, prosedur, metoda, instruksi, program, laporan, dan lain-lain yang terkait dengan menjalankan organisasi secara produktif (efesien, efektif dan berkualitas).

MERANCANG ORGANISASI :

Organisasi adalah alat yang berfungsi untuk menggerakkan pelaksanaan sistem dan subsistem dalam organisasi karena itu dengan sengaja direncanakan dan struktur disusun sebagai suatu sistem kegiatan yang terkoordinasi, sehingga ia dapat berperan untuk memberikan konstribusi bagi pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Dan sejauh mana bersifat logis dan mendukung proses komunikasi, koordinasi dan kontrol.

Pada bagian terdahulu telah kita tegaskan bahwa dilihat dari sisi daur hidup yang akan dituju adalah suatu oraganisasi yang prima yang berarti memiliki tingkat fleksibilitas dan mudah dikontrol sesuai dengan pradigma untuk memahami bisnis dalam abad 21 agar setiap organisasi yang dibangun membantu peningkatan inovasi, antisipasi dan keunggulan.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka langkah-langkah untuk me-rancang organisasi mencakup :

LANGKAH SATU : merumuskan pondasi dalam meletakkan fungsi-fungsi organisasi YANG MENCAKUP : 1) mekanisme koordinasi ; 2) bagian-bagian dasar dalam organisasi ; 3) organisasi sebagai suatu sistem alur.

LANGKAH KEDUA : membuat analisis terhadap rancangan para-meter mencakup kelompok : a) disain posisi (parameter disain : 1.spesialisasi pekerjaan ; 2. formalisasi perilaku ; 3. pelatihan dan indotrinasi) ; keterkaitan konsep (dasar divisi tenaga kerja ; standari-sasi isi ; sistem pengaturan alur-alur ; standarisasi keterampilan ;

b) disain superstruktur (parameter disain : 4. pengelompokan unit ; 5. ukuran unit) ; keterkaitan konsep : (supervisi langsung ; divisi adm. Tenaga kerja ; sistem dari kekuasaan formal ; pengatur alur ; komunikasi informal dan konstilasi kerja ; organigram)

c) disain keterkaitan-keterkaitan lateral (parameter disain : 6. sistem perencanaan dan kontrol ; 7. laisen device) ; keterkaitan konsep : (standarisasi output ; sistem pengatur alu-alur ; penyesuaian kebersamaan ; sistem komunikasi informal, konstilasi kerja, dan adhoc proses keputusan)

d) disain sistem pembuatan keputusan (parameter disain : 8. Desentralisasi vertikal ; 9. desentralisasi horizontal) ; keterkaitan konsep :
(divisi adm. Tenaga kerja ; sistem-sistem komunikasi informal, konstilasi kerja da adhoc proses keputusan).

LANGKAH KETIGA : membuat analisis faktor-faktor kontengensi.
Struktur organisasi yang efektif akan menunjukkan adanya hubungan antara struktur dengan prestasi berdasarkan studi dalam dua hphotesa yaitu pertama hiphotesa keharmonisan artinya struktur yang efektif memerlukan hubungan yang baik antara faktor-faktor kontegensi dan rancangan parameter-parameter atau dengan kata lain keberhasilan mendisain organisasi dimana strukturnya sesuai dengan situasinya. Kedua apa yang disebut dengan hiphotesa konfigurasi artinya struktur yang efektif memerlukan konsisten internal diantara rancang-an parameter-parameter.

LANGKAH KEEMPAT : membuat konfigurasi struktural.
Dengan memperhatikan fungsi-fungsi organisasi, analisis disain para-meter-parameter dan analisis faktor-faktor kontigensi, maka konfigu-rasi struktural yang yang pada umumnya terdapat dan banyak digu-nakan apa yang disebut dengan struktural sederhana ; birokrasi mesin ; birokrasi profesional ; struktur divisional ; adhoccracy.

ORGANISASI MODEL LAMA VS MODEL BARU :

Model lama Model baru
Tugas & tanggung jawab : Terikat Jaringan
Perintah & kontrol : Hierarki Datar
Aturan & prosedur : Tetap Fleksibel
Stereotype : Serupa Terbagi-bagi
Nasional : Internasional Div. Global

* Posisi / pekerjaan individu sebagai * Tim sebagai unit dasar
unit dasar organisasi organisasi

* Relasi dengan lingkungan * Jaringan bersama
dihandel oleh keterikatan lingkungan

* Alur informasi secara vertical * Alur infprmasi vertical &
horizontal

* Penekanan pada struktur * Penekanan pada proses

* Penekanan pada aturan-aturan * Penekanan pada hasil &
dan prosedur standar pelanggan

* Wktu tetap * Waktu kerja fleksibel

* Jalur karir linier * Jalur karir fleksibel

* Sistem ganjar dan evaluasi * Sistem ganjar dan evaluasi
distandarisasi disesuaikan.

* Fokus dan spesialisasi para * Fokus dan spesialisasi
Individu organisasi

* Lingkungan ditetapkan dalam * Lingkungan dipandang
ketentuan negara sebagai global

* Etnosentris * Internasional.

PERNYATAAN EFEKTIVITAS UNTUK PENILAIAN PERFORMA :

SISI TUJUAN DAN SASARAN :

• Mengawasi kualitas dari pada variabel yang terpenting yang menyebabkan perwujudan sasaran dan tujuan departemen.
• Unggul di dalam merencanakan, meramalkan, menyusun tujuan dan menentukan alur tindakan.
• Mengembangkan secara efektif tujuan-tujuan individu, departe-men dan organisasi untuk meraih sasaran-sasaran.
• Membaurkan secara efektif tujuan-tujuan individu dengan sasaran organisasi.
• Menyusun tujuan-tujuan yang sesuai dengan sasaran organisasi.
• Unggul dalam merumuskan tujuan-tujuan dan rencana tindakan.
• Mmbentuk secara jelas tujuan-tujuan untuk mencapai dampak produktif secara siknifikan.
• Membentuk target-target performansi baik jangka pendek dan jangka panjang.
• Menyusun, mendapatkan dan mengelola sasaran managerial.
• Menyusun sasaran-sasaran inovasi.
• Merumuskan sasaran-sasaran yang realistis.
• Membentuk sasaran-sasaran spesifik.
• Menentukan secara efektif sasaran-sasaran yang menghasilkan.
• Unggul di dalam persepsi sasaran-sasaran.
• Unggul di dalam memproritaskan sasaran-sasaran.
• Mencakup setiap sasaran yang dinilai oleh organisasi.
• Mengkomunikasikan sasaran-sasaran secara efektif.
• Mengembangkan sasaran-sasaran secara efektif.
• Meraih sasaran-sasaran kognitif.
• Memperagakan visi tujuan-tujuan secara jelas.
• Membentuk tujuan-tujuan yang layak dan dapat diraih.
• Menysun tujuan-tujuan nyata.
• Menyusun target-target yang dapat dicapai.
• Menyusun tujuan-tujuan perorangan yang memaksa.
• Menyusun tujuan-tujuan yang pantas.
• Mngembangkan tujuan-tujuan scara efektif.
• Merupakan sorang pencari tujuan-tujuan.
• Membentuk tujuan dan maksud secara jelas.
• Membentuk standar-standar performansi dan sasaran-sasaran yang relepan, benar dan efektif.
• Membentuk tujuan-tujuan yang khusus dan dapat diukur.
• Menysun secara efektif sasaran-sasaran performansi.
• Membentuk tujuan-tujuan kelompok secara efektif.
• Secara efektif, menyusun, mengumpulkan dan mengorganisir sumber-sumber untuk memenuhi tujuan-tujuan.
• Sadar akan tujuan-tujuan jangka panjang dan kerangka konsep yang lebih luas.
• Mengevaluasi tujuan-tujuan secara efektif.
• Memperagakan ketulusan dan sasaran-sasaran.
• Memakai tujuan-tujuan untuk memelihara daya semangat.
• Meraih dan melampaui tujuan-tujuan.

SISI PENGORGANISASIAN

• Mengembangkan secara efektif kapabilitas organisasi dan intergrasi sasaran-sasaran.
• Mengembangkan program-program untuk meningkatkan keefektifan departemen dan operasi organisasi keseluruhan.
• Membina keefektifan organisasi.
• Unggul di dalam mengembangkan pekerjaan, organisasi, struktur dan sistem.
• Mempertahankan tingkat minimum organisasi.
• Menghindarkan jumlah staff yang berlebihan.
• Memaksimalkan produktivitas organisasi.
• Mendorong aksi organisasi berkerjasama.
• Mengatasi kendala-kendala organisasi.
• Membuat energi dan potensi organisasi yang lebih besar.
• Memberikan kontribusi besar kepada pertumbuhan organisasi.
• Menggunakan satu pengaruh positip atas iklim organisasi.
• Menangani dengan iklim organisasi secara efektif.
• Memperagakan satu genggaman yang luas mengenai organisasi.
• Mengenal kebutuhan-kebutuhan organisasi.
• Mendorong semangat pertanggungan jawab di seluruh aspek organisasi.
• Memperagakan suatu pendekatan teratur terhadap jabatan.
• Menyusun pekerjaan dengan baik.
• Menyusun secara efektif untuk mencapai hasil yang lebih besar.
• Membuktikan satu pendekatan yang sistimatis di dalam melaksa-nakan tugas.
• Sangat teratur dan sistimatis.
• Sangat teratur di dalam perencanaan dan pelaksanaan.

KEPUTUSAN STRATEGIK :

Organisasi sebagai alat untuk menggerakkan keputusan strategik
dapat dikelompokkan kedalam tingkatan organisasi sbb.

Gambar 1

Langkah-langkah dalam proses perumusan keputusan strategik itu mencakup perumusan yang sejalan dengan tingkatannya yaitu :

Tingkat Corporate adalah rumusan yang dibuat oleh CEO dan Pimpinan puncak lainnya serta staff yang dilibatkan untuk merumuskan pernyataan-pernyataan yang terkait dengan dengan ISU-ISU PERSFEKTIF dengan memanfaatkan pemikiran INTUITIF :

a. Pernyataan VISI yang menggambarkan harapan dan cita-cita masa depan yang hendak dicapai dalam bentuk artikulasi dari citra, budaya, arah dan tujuan.
Pernyataan itu menjadi efektif, bila mengandung unsur 1) konsep yang terfokuskan ; 2) memberikan daya dorong dalam berkap dan berperilaku serta manfaat kontribusinya ; 3) logis untuk
dilaksankannya.

b. Pernyataan MISI yang menggambarkan sarana untuk mewujud-kan visi diatas. Pernyataan itu menjadi efektif bila mengandung unsur yang terkait dengan 1) ada kejelasan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam keberadaan organisasi itu sendiri ; 2) landasan prinsip atas keberadaannya ; 3) apa yang membuat sarana menjadi unggul dari yang lainnya.

c. Pernyataan TUJUAN-TUJUAN (GOALS) yang menggambar-kan secara kualitatif tentang pencapaian secara menyeluruh atas keberhasilan organisasi dimasa depan. Pernyataan itu menjadi efektif bila mengandung unsur yang terkait dengan 1) konsisten dalam perumusan yang terkait dengan visi dan misi yang ditetapkan ; 2) kejelasan waktu dalam pencapai-annya 3) secara jelas dapat menuntun kedalam rencana tindakan.

d. Pernyataan SASARAN-SASARAN (OBJECTIVES) yang menggambarkan secara kuantitatif yang menunjukkan bagai-mana tindakan dan hasil-hasil yang ingin dicapai, sebagai jabaran dari tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

Sasaran tersebut menjadi efektif, bila mengandung unsur yang terkait didalamnya mencakup 1) setiap sasaran yang ditetapkan harus dapat diukur ; 2) sasaran yang ditetapkan haruslah terkait secara jelas dengan tujuan yang ditetapkan ; 3) harus secara jelas jangkauan waktu untuk menyelesaikan sasaran yang ditetapkan ; 4) dapat dijabarkan dalam langkah tindakan yang berencana ; 5) dapat bersifat fleksiblitas dan mudah dikontrol.

e. Pernyataan STRATEGI yang menggambarkan dengan diawali rumusan sebagai strategi induk dari hasil analisis SWOT sebagai tindakan yang terintegrasi dalam merealisasikan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.

Pada tingkat DIVISIONAL, BISNIS UNIT, FUNGSIONAL, merupakan langkah-langkah untuk menjabarkan pernyataan-pernyataan dari tingkat CORPORATE dengan memperhatikan faktor-faktor internal dan eksternal kedalam ISU-ISU POSISI dan PERFORMA kedalam pemikiran RENCANA JANGKA PAN-JANG dan RENCANA JANGKA PENDEK.

Pada tingkat divisional, bisnis unit, fungsional, termasuk didalam-nya rumusan-rumusan yang berkaitan dengan :

f. Pernyataan KEBIJAKSANAAN menggambarkan seperangkat pe-ngaturan dan petunjuk sebagai pelaksanaan dari strategi yang telah ditetapkan dalam kerangka dari mana rencana yang telah diformulasikan.

g. Pernyataan PROGRAM yang menggambarkan bagian rencana yang telah disusun secara sistimatis dalam komponen tugas menurut sumber daya, perioritas dan jadwal yang ditetapkan.

h. Pernyataan ANGGARAN yang menggambarkan rincian dari suatu rencana yang disusun secara sistimatis yang mencakup seluruh kegiatan organisasi, yang dinyatakan dalam unit (kesatu-an) mata uang dan berlaku untuk jangka waktu tertentu.

3. BUDAYA ORGANISASI BERBASIS KEBIASAAN

Bertolak dari organisasi yang efektif yang hendak dicapai berarti telah meletakkan pondasi yang kita sebutkan dengan telah dibuat adanya keputusan strategik, sehingga ia meyakini benar untuk apa ia berdiri dan atas prinsip apa ia akan beroperasi.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka organisasi yang dapat merubah suatu impian menjadi satu kenyataan adalah dengan membangun dan mengembangkan sikap dan perilaku secara berkelanjutan keda-lam pola pikir yang sama atas ucapan dan perbuatan.

Sejalan dengan pemikiran tersebut diatas untuk membangun dan mengembangkan budaya perusahaan yang kuat dan unggul yang sejalan dengan perubahan organisasi yang berkelanjutan, maka budaya orgasasi berbasis kebiasaan effektif dapat dilihat dari pendekatan sistem

Gambar 2

Keempat sistem yang disebutkan diatas dijelaskan dengan pemaham-an sebagai berikut :

SISTEM KEBIASAAN EFEKTIF, suatu proses yang harus dikem-bangkan kepada individu, kelompok dan oraganisasi dalam pema-haman bahwa sikap dan perilaku menjadi kuat bila secara berkelan-jutan dan konsisten untuk menempatkan pengetahuan (apa dan mengapa dilakukan), keterampilan (bagaimana melaksanakannya) dan keinginan (motivasi / daya dorong berbuat) yang seimbang.

SISTEM PERILAKU ORGANISASI, pemahaman yang terkait atas unsur-unsur proses yang berkaitan dengan pribadi-pribadi, peran-peran, antar pribadi, tim-tim, antar tim dan organisasi sendiri.

SISTEM NILAI INDIVIDU, pemahaman yang terkait dengan pe-ngertian-pengertian yang dihayati seseorang mengenai apa yang lebih penting atau kurang penting, apa yang lebih baik atau kurang baik, dan apa yang lebih benar atau yang kurang benar.

SISTEM NORMA KELOMPOK, pemahaman yang terkait tentang aturan atau ketentuan yang mengikat anggota kelompok organisasi, dipakai sebagai panduan, tatanan dan kendali tingkah laku yang sesu-ai dan diterima, setiap anggota kelompok harus mentaati yang berla-ku atau dengan kata lain sebagai aturan, ketentuan atau kaidah yang dipakai sebagai tolak ukur untuk menilai atau memperbanding-kan sesuatu.

Dengan pendekatan sistem, organisasi dapat membangun budaya or-ganisasi yang kuat artinya perubahan yang diinginkan untuk menjembatani kesenjangan dari budaya lama menuju ke budaya baru melalui proses kebiasaan yang efektif dengan menstrukturkan sistem dan ke-bijakan kedalam nilai individu, norma kelompok dan perilaku orga-nisasi. Jadi dengan membangun kebiasaan yang efektif diharapkan adanya langkah-langkah yang konsisten dan peningkatan partisipasi.

Oleh karena itu pemahaman konsisten dan partisipasi perlu dikomunikasikan dengan baik dalam menanggapi dampak perubahan lingkungan (faktor ektern) yang begitu cepat berubah serta komplek melalui proses pendekatan sistem seperti yang kita utarakan.

Dengan demikian pendekatan sistem sebagai pola pikir akan mampu mengidentifikasi keseluruhan situasi dan merumuskan masalah yang terkait dengan usaha-usaha memecahkan kesenjangan dari cara lama seperti hierarkis, birokrasi dsb menuju cara baru seperti jaringan, pengetahuan dsb., dalam rangka menyeberangi kesenjangan dengan membangun budaya yang kuat.

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN BUDAYA :

Citra organisasi merupakan hal yang penting baik sebagai basis kegiatan jangka panjang maupun sebagai sarana untuk meningkatkan kebiasaan yang effektif untuk tumbuh dan berkembang pada semua tingkatan pemimpin dan karyawan (lama dan baru) sebagai satu kesatuan yang mengikat.

Citra hanya dibangun atas landasan kepercayaan yang diberikan oleh stakeholders kepada CEO dan pimpinan puncak lainnya, oleh karena itu citra perusahaan / organisasi yang dibangunnya harus mencakup segala sesuatu mulai dari produk perusahaan sampai dengan gaya manajemen, cara pengoperasian, kebijaksanaan sumber daya manusia, kebijkasanaan merk dan iklan, namun walaupun kita menyadari bahwa setiap stakeholder akan memperlihat kepercayaan yang berbeda, disitulah letak tantangan dalam bersikap dan berperilaku bahwa masa kini peningkatan citra perusahaan ditentukan oleh tanggung jawab sosialnya, oleh tindakan nyata bukan sekedar berbicara.

Langkah-langkah yang dimotori oleh CEO dalam membangun buda-ya untuk meningkatkan kinerja dengan kepemimpinan sbb. ;

LANGKAH SATU, mampu mengungkapkan dalam mengidentifikasi situasi dan merumuskan masalah (kedalam kritis, pokok, insidentil) yang menyebabkan terjadinya kesenjangan cara lama ke cara baru.

LANGKAH KEDUA, dengan memiliki sembilan prinsip kepemimpinan abad 21 berarti ia memiliki kompetensi untuk mengkomunikasikan keputusan strategik dengan isu persfektif berdasarkan intuitif.

LANGKAH KETIGA, membangun konsistensi dan partisipasi yang berkelanjutan kedalam sistem nilai individu, sistem norma kelompok, sistem perilaku organisasi berbasiskan kebiasaan yang effektif.

LANGKAH KEEMPAT, mengevaluasi aktualisasi budaya baru dalam menyeberangi kesenjangan dari cara lama ke cara baru untuk menghasilkan kinerja perusahaan yang ditingkatkan.

LANGKAH KELIMA, bertolak dari hasil evaluasi dari langkah keempat, maka diperlukan langkah untuk melastarikan dan meningkatkan sikap dan perilaku yang telah berubah.

MENGEMBANGKAN BUDAYA YANG FLEKSIBEL :

Mengelola masa depan akan sangat ditentukan oleh CEO dan Pim-pinan puncak lainnya dalam menangkap gejolak gelombang ketidakpastian , disinilah letak tantangan yang akan dihadapi mereka.

Mengelola masa kini berdasarkan langkah yang telah diambil dengan melaksanakan keputusan strategik dimana strategi telah dirumuskan sesuai dengan lingkungan yang ada, sehingga budaya perusahaan sebagai penggerak menuntun sikap dan perilaku dalam bertindak.

Sikap dan perilaku masa kini menjadi berurat berakar yang telah ditempa dari pengalaman masa lampau, dalam keadaan tertentu sulit untuk berubah, sehingga tidak heran mereka mengatakan untuk apa kita berubah sedangkan kinerja telah meningkat.

Dalam keadaan demikian, peran CEO sangat menentukan untuk memberikan keteladanan dalam menumbuh-kembangkan sistem kebiasaan yang efektif kedalam sistem secara totalitas dimana peningkatan sistem nilai individu, sistem norma kelompok dan sistem perilaku organisasi tetap memiliki budaya inti didalamnya, namun dengan kepemimpinan yang menekankan kepentingan stakeholders disatu sisi dan disisi lain mewujudkan keberhasilan organisasi yang seimbang dengan kepentingan individu dan kelompok, dipandang
perlu CEO untuk mendorong semua pihak terhadap pentingnya sikap dan perilaku untuk membangun antisipatif dalam pola berpikir, sebagai langkah untuk bertindak proaktif dalam menghadapi gelombang perubahan masa depan.

Dengan demikian CEO dan pimpinan lainnya pada semua tingkatan memiliki komitmen yang kuat untuk membangun budaya yang menekankan layanan kepada stakeholders dengan melestarikan budaya inti yang telah dianut bersama dan selalu siap berubah yang sejalan dengan lingkungan bisnis yang berubah.

PERNYATAAN EFEKTIF BUDAYA DALAM PENINGKATAN KINERJA :

SISI KUALITAS PERSONALIA :

• Jujur, bergembira dan mengikuti prosedur gaya bisnis untuk mencapai tujuan.
• Memperagakan perilaku yang menyenangkan dan gembira.
• Memperagakan karisma dan daya tarik yang alami.
• Memperagakan sifat yang menyenangkan.
• Memiliki tabiat yang tenang.
• Sabar, mantap dan mapan.
• Santai, yakin dan menyenangkan.
• Sopan dan tenang.
• Sangat sopan.
• Memperagakan keluwesan bermasyarakat.
• Hangat dan tulus ikhlas.
• Tulus hati.
• Memperagakan tanggapan positip terhadap situasi negatip.
• Memperagakan perilaku positip, ramah dan santai.
• Memanfaatkan humor secara konstruktif.
• Memperagakan kecerdasan yang tajam.
• Memperagakan semangat yang harmonis dan kerja sama.
• Memiliki daya tarik pribadi.
• Memiliki banyak ciri-ciri pribadi yang bernilai.
• Memperagakan banyak ciri-ciri karekter positip.
• Memperagakan kepribadian pemenang.
• Memperagakan kepribadian yang menyenangkan.
• Memperagakan kepribadian yang giat.
• Memperagakan kepribadian terbuka.
• Memperagakan rasa optimesme yang kuat.
• Menyelaraskan energi dan semangat.

SISI LOYALITAS DAN DEDIKASI :

• Setia terhadap organisasi, rekan dan bawahan.
• Memperagakan kesetiaan yang mutlak kepada atasan dan organisasi.
• Membina kesetiaan kepada bawahan.
• Menambah kekuatan atasan.
• Memperlihatkan perilaku positip ke arah pimpinan dan karyawan.
• Menempatkan kepentingan organisasi lebih dulu dari pada karyawan.
• Memperagakan rasa setujuan pribadi yang diperbaharui.
• Tunduk terhadap sasaran organisasi.
• Memperagakan satu kepentingan murni di organisasi.
• Sngat mengabdi.
• Merasa bergengsi di dalam jabatan.
• Memperagakan satu tingkat kejujuran, kesetiaan dan kesatuan yang tinggi.

SISI KEMAMPUAN MANAJEMEN :

• Secara efektif menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang sehat.
• Secara efektif memanfaatkan konsep manajemen kontemporer.
• Membuktikan teknik-teknik manajemen yang produktif.
• Mndorong manajemen yang partisipatif.
• Merangsang efesiensi dan kefektifan manajemen.
• Melipatgandakan keefektifan manajemen.
• Mengintergrasikan secara gemilang obyektif, peluang dan sumber
• Merupakan satu asset kuat bagi organisasi.
• Mengembangkan program-program yang nyata dan masuk akal.
• Menyusun program-program yang berhasil.
• Membina dan menggalakkan program penting dengan berhasil.
• Mengenal masalah-masalah manajemen utama.
• Membuktikan satu kemampuan untuk mengenal masalah mana-jemen dan mengembangkan solusi-solusi.
• Mengetahui kapan mencari bantuan dari luar organisasi.
• Mengenal komponen manajemen efektif yang relevan dan dapat ditaksir.
• Mengevaluasi keefektifan secara akurat.
• Terus memberitahu manajemen mengenai pertanyaan-pertanyaan tentang kebijakan.
• Unggul di dalam meraih dukungan manajemen.
• Mempersiapkan secara konsisten rekomendasi yang benar.
• Memperagakan kekuatan di dalam manajemen S.d.m.
• Mengadakan manajemen dengan informasi yang valid dan andal bagi perencanaan sumber daya manusia.
• Menyediakan manajemen dengan informasi akurat tentang dan kelemahan karyawan.
• Secara efektif memecahkan konflik antar kebutuhan individu dan organisasi.
• Menghormati ke dua-dua hak karyawan dan wewenang manajemen.
• Membuktikan satu kemampuan untuk mengatasi kendala intern.
• Secara efektif memecahkan masalah-masalah yang melanda batas-batas organisasi.
• Unggul dalam memecahkan konflik-konflik antar departemen.
• Memperoleh dukungan penuh departemen lain.
• Mempersatukan organisasi.
• Mengenal peran penting dari pada tanggung jawab, otoritas dan pertanggungjawaban.
• Menahan bawahan bertanggungjawab atas hasil-hasil.
• Menghubungkan akibat ke pertanggungjawab.
• Membuktikan kemampuan eksekutip atasan dibawah satu aneka ragam keadaan.
• Menyampaikan gengsi eksekutip.
• Memperagakan kekuatan eksekutip.
• Memperlihatkan kualitas-kualitas yang membuat manajer berhak dan efektif.
• Memperagakan attribut dari pada seorang manajer efektif.
• Memperlihatkan manajemen diri yang kokoh.
• Mengelola diri dengan efektif.
• Memperagakan perilaku manajerial yang efektif.
• Memperagakan gaya manajemen yang efektif, produktif.
• Mengenal perbedaan antar mengelola dengan melakukan.
• Menghindar pengelolaan dengan krisis.
• Unggul dalam menetapkan, mengukur dan meningkatkan produk-tivitas.
• Meraih hasil yang tinggi sementara mempertahankan moral tinggi.
• Selalu membuat karyawan sadar tentang kepentingan organisasi.
• Mempromosikan perilaku kerjasama dan upaya tim.
• Membina satu rasa sehaluan dan senasib yang kuat.
• Unggul di dalam perkembangan tim yang bertanggungjawab.
• Meraih prestasi tim yang maksimal.
• Meraih kefektifan kerjasama.
• Berjuang untuk prestasi yang maksimal.
• Mendorong upaya kearah sasaran-sasaran umum.
• Unggul dalam mengembangkan strategi kerjasama.
• Membesarkan daya guna sumber perusahaan.
• Bertangjang jawab atas daya guna personalia yang efektif dan efisien.
• Menyediakan bawahan-bawahan dengan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk meraih hasil.
• Meraih hasil melalui bimbingan yang tepat dari bawahan.
• Memberikan bimbingan yang jelas.
• Mengembangkan satu usaha departemen yang melekat.
• Sadar tentang awal potensi departemen.
• Memelihara pengawasan kontrol perusahaan.
• Patuh terhadap semua kebijakan, prosedur dan peraturan tradisi.
• Menggalakkan secara efektif kebijakan, peraturan dan struktur.
• Memelihara standar-standar etika yang tinggi.
• Memperagakan etika yang sehat.
• Mengikuti hukum perilaku yang benar.
• Secara efektif mengakui kebutuhan untuk perubahan.
• Secara efektif mengelola perubahan.
• Mengimplementasikan perubahan dengan kecil penolakan.
• Menanggung penolakan terhadap perubahan dengan efektif.
• Mengimplementasikan perubahan dengan satu dampak positip.
• Tetap waspada terhadap kelemahan, kekuatan, ancaman, peluang peluang yang menghadang organisasi.
• Unggul di dalam memposisikan untuk masa mendatang.

4. KEPEMIMPINAN BERBASIS PARADIGMA BARU

Bertolak dari pemikiran mengembangkan budaya berbasis kebiasaan yang efektif, maka salah satu peran utama adalah mempengaruhi orang lain dengan jalan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dalam memenuhi keinginan untuk menghadapi tantangan yang bersifat kompleksitas, perubahan dan globalisasi maka kepemimpinan haruslah memenuhi prinsip dalam paradigma baru.

Sejalan dengan hal diatas, maka pengembangan kepemimpinan dengan pendekatan sistem digambarkan sbb.

Gambar 3

Secara singkat ke empat sistem tersebut dapat dirumuskan sbb.

SISTEM PRINSIP DALAM KEPEMIMPINAN, bahwa pemimpin pada semua tingkatan akan memiliki kepemimpinan bila ia menyadari dan me-mahami untuk menumbuh kembangkan kebiasaan yang efektif untuk me-ningkatkan pengetahuan, keterampilan dan keinginan agar sikap dan peri-laku dapat menyesuaikan dengan tuntutan dari paradigma abad 21.

SISTEM PROFESIONALISME, bahwa pemimpin yang unggul ditandai oleh kepemimpinan yang memiliki prinsip-prinsip sebagai penuntun dan mengarahkan kepribadiannya kedalam prinsip kolaborasi, komitmen dan komunikasi sebagai tonggak membangun profesionalisme.

SISTEM KREATIF DAN INOVASI, bahwa pemimpin yang memiliki kepemimpinan dengan prinsip profesionalisme dapat tumbuh dan berkem-bang bila ditopang adanya kemampuan mencetuskan imajinasi dan memi-liki wawasan sebagai kreativitas individu dan memelihara kedalam kreativitas kelompok menjadi daya dorong menjadi inovasi kedalam organisasi.

SISTEM ANTISIPATIF, bahwa pemimpin yang memiliki kepemimpinan dengan prisip profesionalisme dan kreatif serta inovatif dapat tumbuh dan berkembang bila ditopang adanya kemampuan membuat analisa masa depan dan meresponnya serta keberanian dalam mengambil keputusan.

MEMAHAMI PARADIGMA BARU KEDALAM PENGEMBANGAN
PRINSIP KEPEMIMPINAN :

Paradigma dipahami dalam arti sebagai azas yang dapat menuntun dan mengarahkan seseorang disatu sisi untuk menentukan batas-batas bersikap dan berperilaku dan disisi lain menjelaskan cara berkata sesuai dengan perbuatan agar berkiblat kepada prestasi yang diharapkan.

Bagaimana kita dapat mengikuti perubahan paradigma yang telah terjadi dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan dengan memperhatikan dalam kehidupan ini kita menghadapi adanya dua masalah yang kita sebut dengan masalah normal dan abnormal.
Pada daur hidup organisasi dengan posisinya, ya akan menghadapi masalah masalah normal artinya pada suatu tingkat tertentu yang kita sebut dengan SEDERHANA dan SULIT maka dengan kepemimpinan yang ada dapat memecahkan oleh organisasi sendiri. Sedangkan menghadapi masalah abnormal artinya pada suatu tingkat tertentu yang kita sebut dengan KOMPLEKITAS dan KERUMITAN tidak memungkinkan kemampuan internal memecahkan masalah yang dihadapi pada posisi daur hidup organisasi yang bersangkutan.

Dengan situasi tersebutlah kita dapat mengidentifikasi terjadinya perubahan paradigma yang akan mempengaruhi gaya kepemimpinan sbb.

• Dengan paradigma banyak masalah dapat diselesaikan pada tingkat masalah normal, tapi tidak jarang pula ada masalah yang tidak terpecahkan dalam keadaan yang demikian terutama pada masalah abnormal.

• Dengan kecenderungan meningkatnya masalah abnormal, maka kepemimpinan mencoba mencari paradigma baru, namun kemampuan inter-nal tidak mendukung oleh karena itulah tidak heran intervensi datang dari luar sebagai penggagas paradigma baru.

• Penggagas paradigma baru berpikir pada dasarnya bukan metodis, lebih mengutamakan organ yang bersifat menghayati karenanya bersifat intuitif shingga sulit membuktikan secara rasional, namun dapat dimanfaatkan oleh kepemimpinan perusahaan yang mengenal betul kendala yang dihadapi dengan data dan informasi yang ada.

Banyak pelaku ekonomi menyadari bahwa dalam abad 21 ini terdapat paradigma yang disebut dengan Profesionalisme, Kreativitas dan Inovasi serta Antisipatif, tapi jarang organisasi menjabarkan pengaruh paradigma kedalam gaya kepemimpinan yang harus tumbuh dan berkembang dalam menghadapi tantangan yang kita sebut dengan kompleksitas, perubahan dan globalisasi.

Sejalan dengan pemahaman arti paradigma yang telah kita kemukan diatas
maka pengaruhnya adalah kesiapan kita menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan agar kita mampu memecahkan masalah-masalah abnormal dengan memanfaatkan kekuatan dari luar. Intertvensi dari luar kedalam, dapat dikendalikan dan diarahkan sesuai dengan perubahan lingkungan dengan ketidakpastian yang tinggi, oleh karena itu kepemimpinan masa depan harus mampu meningkatkan kebiasaan yang effektif dalam memahami dan mengaktualisasikan prinsip-prinsip sebagai jabaran dari paradigma seperti yang diutarakan dalam BAB III, titik 4.

KETAHANAN PARADIGMA MERUPAKAN STRATEGI DALAM
MENGHADAPI TANTANGAN :

Tantangan dalam masyarakat industri ke masyarakat informasi berbeda, begitu pula dari masyarakat informasi menuju masjarakat pengetahuan yang ditunjukkan kemajuan-kemajuan dalam perkembangan teknologi informasi, namun masalah-masalah yang kita hadapi meningkat dari masalah normal menjadi masalah abnormal.

Tak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, kecuali pemimpin dengan kepemimpinan abad baru dapat menyesuaikan diri, itulah yang kita sebut dengan ketahanan paradigma sebagai strategi dalam menghadapi tantangan. Oleh karena itu paradigma profionalisme, kreatip dan inovasi, antispasi merupakan paradigma abad baru yang menuntun dan mengarahkan sikap dan perilaku kepemimpinan abad baru dengan mengembangkan prinsip-prinsip dalam profesionalisme mencakup 1) kolaborasi ; 2) komitmen ; 3) komunikasi ; kreatif dan inovatif mencakup 4) kreativitas individu ; 5) kreativitas kelompok ; 6) inovasi oraganisasi ; antisifatif mencakup 7) analisa masa depan ; 8) merespon antisipatif ; 9) pengambilan keputusan.

Dengan ketahanan paradigma itu diharapkan kepemimpinan mendapatkan daya dorong untuk melaksanakan perubahan berpikir dalam membuat analisa strategis sebagai salah satu perwujudan dari antisipasi. Keputusan yang telah diambil dalam melangkah penyelesaian masalah yang dihadapi ditopang oleh adanya kebiasaan yang efektif.

Kepemimpinan dengan paradigma baru mendorong terciptanya kebutuhan akan kebiasaan yang efektif untuk menumbuh kembangkan profesionalisme , kreativitas dan inovasi, antisipatif dalam membentuk ketahanan paradigma sebagai suatu langkah 1) agar semua pihak berpartisipasi untuk mempraktekkan seperti yang kita harapkan ; 2) mengembangkan hubungan tidak hanya vertical dan horizontal tetapi juga diagonal sehingga terjadi pemahaman untuk saling bekerja sama pada setiap persoalan yang dihadapi walaupun bukan bidangnya ; 3) dengan iklim organisasi yang sehat akan mendorong peran-peran untuk melaksanakan inovasi organisasi yang sejalan dengan tuntutan perubahan lingkungan yang ada.

PERNYATAAN EFEKTIF KEPEMIMPINAN DALAM
PARADIGMA BARU :

SISI KREATIVITAS DAN INOVASI

• Memperagakan imajinasi yang kreatif.
• Memperagakan imajinasi yang aktif.
• Membuktikan penghayatan imajinatif.
• Menyediakan penghayatan-penghayatan yang berharga.
• Membuktikan kekuatan yang kreatif.
• Mengembangkan strategi-strategi yang kreatif secara sukses.
• Unggul dari dalam pengalaman yang kreatif.
• Berkesinambungan melaksanakan pengalaman.
• Mencari alternatif-alternatif yang kreatif.
• Menantang praktek-praktek yang konventional.
• Mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang inovatif.
• Menjelajahi jalur2, prosedur2 dan pendekatan2 baru.
• Unggul di dalam pemikiran dan pemecahan masalah secara kreatif.
• Menciptakan solusi2 yang memuaskan sesuai dengan kebijakan organisasi.
• Mengembangkan solusi2 kreatif terhadap masalah2.
• Membuktikan satu tingkat kreativitas dan keaslian yang tinggi.
• Memulai dan mengembangkan ide-ide konstruktif.
• Mengawali ide-ide konseptual yang baik dengan aplikasi2 praktis.
• Unggul di dalam mengembangkan ide-ide secara spontan.
• Memulai ide-ide yang tidak diundang.
• Mencari ide-ide dan pendekatan baru.
• Merangsang ide-ide.
• Mempromosikan arus ide-ide yang baik.
• Menyambut ide-ide dari bawahan.
• Siap menerima ide-ide baru.
• Membangkitkan ide-ide segar.
• Unggul di dalam mengasuh ide-ide baru.
• Memulai ide-ide segar.
• Membuka pendekatan-pendekatan baru.
• Memperagakan rasa keingintahuan.
• Memelihara tingkat keinginantahuan yang tinggi.
• Memperagakan satu kekuatan pengamatan yang kokoh.
• Membangun semangat stu lingkungan untuk kualitas baik yang kreatif.
• Mempromosikan lingkungan yang menghasilkan kreativitas.
• Membuka jalan kepada potensi kelompok yang kreatif.
• Mendorong semangat inovasi.
• Mempromosikan iklim-iklim yang kreatif.
• Melahirkan minat.
• Melahirkan peluang-peluang.

SISI PROFESIONALISME

• Membuktikan satu keahlian luar biasa mengenai keterampila-keteram-pilan profesional.
• Membuktikan keahlian profesional.
• Memperagakan orientasi pengetahuan profesional yang tepat.
• Seorang profesional yang kawakan.
• Mencari satu tingkat keistimewaan profeional yang lebih tinggi.
• Memperlihatkan kepentingan pada peningkatan profesional.
• Mempertahankan strategi pertumbuhan yang profesional.
• Berjuang untuk tumbuh secara profesional melalui studi-studi dan partisipasi yang berkelanjutan.
• Terus mengikuti trend-trend profesional.
• Secara konstan mencari agar memperluas wawasan profesional.
• Memelihara satu tingkat tinggi partisipasi yang profesional.
• Mengembangkan skill-skill yang dibutuhkan untuk memelihara standar kualitas profesional tertinggi.
• Kualitas kerja mencerminkan standar2 profesional yang tinggi.
• Menulis memo, surat dan laporan yang mencerminkan keahlian profesionalisme.
• Menyediakan bawahan dengan pertolongan positip dan pasti untuk mengoreksi kesulitan-kesulitan profesional.
• Menyampaikan profesionalisme.
• Memperagakan gengsi profesional.
• Memperagakan standar-standar perilaku profesional yang tinggi.
• Membuktikan standar-standar tindak tanduk profesional yang tinggi.
• Memperagakan gaya profesional.
• Memperagakan profil-profil yang profesional.
• Memelihara etika profesional yang tinggi.
• Mengikuti prosedur-prosedur etika.
• Merangsang profesionalisme.
• Melahirkan rasa hormat untuk profesi.
• Memperagakan kesetiaan terhadap profesi.

5. MENGELOLA AREA KUNCI BERBASIS DATA DAN FAKTA

Bertolak dari pemikiran yang bersifat intuitif yang dikembangkan oleh CEO dan Pimpinan puncak lainnya kedalam pemahaman organisasi, budaya dan kepemimpinan sebagai perencanaan strategik yang menggambarkan persfektif, kedalam perencanaan jangka panjang yang menggambarkan posisi (dalam kurun waktu lima tahun) kedalam pemahaman area kunci yang mencakup corporate, divisional, strategik bisnis unit dan fungsional serta pembaharuan yang berencana dengan menjabarkan kedalam rencana jang-ka pendek ( satu tahun) yang menggambarkan performa kedalam area kunci dalam fungsi yang mencakup R & D, Operasi, Pemasaran, Keuangan, Akuntansi dan Sumber daya manusia.

Sejalan dengan hal diatas, maka mengelola area kunci berbasis data dan fakta dengan pendekatan sistem dapat digambarkan sbb :

Gambar 4

Secara singkat keempat sistem tersebut dapat dirumuskan sbb :

SISTEM DATA DAN FAKTA, bahwa tersedianya data baik yang terstruktur maupun tidak yang dapat dirumuskan menjadi informasi serta fakta yang dapat diidentifikasi sebagai dasar yang dipergunakan untuk perencanaan secara kompeherensip dan menyeluruh.

SISTEM RENCANA STRATEGIS, bahwa rumusan-rumusan di proses dan dimotori oleh CEO dan Pimpinan puncak lainnya dalam berpikir yang kita sebut intuitip dalam menggambarkan persfektif.

SISTEM RENCANA JANGKA PANJANG, bahwa rumusan-rumusan yang dibuat sebagai jabaran dari rencana strategis dengan diomotori oleh manajemen tingkat menengah yang membuat rekomendasi untuk
mendapatkan pengesahan dari manajemen tingkat puncak dalam berpikir jangka panjang dalam menggambarkan posisi kedalam area kunci dan perencanaan yang terkait dengan perubahan yang berencana dan berkesinambungan.

SISTEM RENCANA JANGKA PENDEK, bahwa rumusan-rumusan yang dibuat sebagai jabaran dari rencana jangka panjang, dimotori oleh manajemen tingkat bawah dengan berkonsultasi dengan manajemen tingkat menengah untuk membuat rekomendasi dalam mendapatkan persetujuan di tingkat puncak dalam kerangka berpikir jangka pendek dalam menggambarkan performansi kedalam kegiatan operasional.

Dengan pendekatan sistem mengelola area kunci (korporasi, divisional, strategik bisnis unit, dan fungsional) berbasiskan sistem data dan fakta agar dapat mengarahkan WAWASAN dari perencanaan strategis kedalam PENYELARASAN dari perencanaan jangka panjang untuk dilaksanakan kedalam PEMBERDAYAAN dari perencanaan jangka pendek.

PELAKSANAAN WAWASAN, PENYELARASAN DAN
PEMBERDAYAAN KEDALAM PROSES PENGELOLAAN :

Proses pengelolaan pada setiap tingkatan pemimpin yang memiliki kompetensi untuk mengorganisir kedalam bentuk organisasi yang bergerak cepat, fleksibel dan melakukan perubahan-perubahan secara sistimatis dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan lingkungan, maka pemahaman wawasan, penyelarasan dan pemberdayaan termasuk peran yang harus dimainkan oleh kepemimpinan.

WAWASAN, dan imajinasi yang menggerakkan kemampuan berpikir kreatif sebagai hasil kerja intuitif, merupakan langkah awal dalam peran pemimpin abad baru dalam menyeimbangkan perencanaan strategik (visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi) dengan pelaksanaan yang sejalan dengan budaya perusahaan (nilai individu, norma kelompok, perilaku organisasi), bila diperlukan diadakan penyesuaian dengan tuntutan perubahan, yang kesemuanya untuk memenuhi kepentingan stakeholders, khususnya para pelanggan dalam pandangan persfektif.

PENYELARASAN, merupakan langkah kedua dalam peran pimpinan abad baru dengan mewujudkan kebersamaan dalam tindakan melalui keterikatan
dalam sistem (seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk totalitas), struktur (cara bagaimana sesuatu disusun atau dibangun) dan proses (rangkaian tindakan, perbuatan atau pengelolaan yang menghasilkan sesuatu yang bermanfaat).

Penyelarasan dalam sistem, struktur dan proses merupakan tonggak untuk membangun sembilan prinsip kepemimpinan abad baru untuk menggerakkan seluruh aktivitas dalam pengelolaan rencana strategis, rencana jangka panjang dan rencana jangka pendek pada area kunci dalam struktur dan area kunci dalam fungsi dalam memiliki sifat dinamis dan mudah dikontrol untuk mendukung perubahan-perubahan yang dilakukan secara sistimatis dan berkesinambungan.

PEMBERDAYAAN, merupakan langkah ketiga yang sangat penting dan strategis dalam peran pemimpin untuk mempersatukan wujud kepentingan yang seimbang antara kepentingan individu, kelompok dan organisasi sebagai daya dorong untuk memotivasi perubahan sikap melalui pemberdayaan bakat yang tersembunyi, peningkatan kecerdikan emosional dan membangkitkan pikiran kreativitas.

Dengan melaksanakan pemberdayaan tersebut diharapkan lahirnya pemahaman sembilan prinsip dari setiap individu yang tidak dipaksakan dari luar melainkan atas dasar pengorbanan dari diri yang bersangkutan untuk berperilaku dalam memenuhi kepentingan stakeholders, khususnya para pelanggan.

KONSISTEN DAN PARTISPASI DALAM SIKAP DAN PERILAKU
DALAM MENGHADAPI TANTANGAN :

Memahami makna wawasan & imajinasi, penyelarasan dan pemberdayaan yang dilaksanakan dalam peran kepemimpinan untuk menyelaraskan area kunci dalam struktur (korporasi, divisional, strategik bisnis unit, fung-sional) kedalam area kunci dalam fungsi ( R & D, operasi, pemasaran, ke-uangan, akuntansi, SDM), maka keberhasilan proses pengelolaan sangat ditentukan oleh :

• Tersedianya data dan fakta menjadi informasi yang akurat dan bersifat terbuka sehingga setiap orang dapat mengaksesnya.
• Adanya kejelasan peran dalam menjalankan pekerjaan, sehingga setiap orang tahu batas-batas kekuasaan dan tanggung jawabnya.
• Merubah kerja dari orientasi hirarkis menjadi kelompok dan tim.

Dengan kemajuan teknologi informasi memberikan kemudahan-kemudahan untuk mengumpulkan data, mengelola, menganalisa dan menyimpulkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk menilai tingkat keberhasilan atau penyimpangan yang terjadi agar perubahan dapat dilakukan untuk menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu sendiri.

Sejalan dengan hal-hal yang kita utarakan diatas, diharapkan sikap dan perilaku termotivasi untuk menyesuaikan dalam mengaktualisasikan pikiran-pikiran baru yang dapat merubah dari ketidak pastian menjadi yang pasti dalam lingkungan yang begitu cepat berubah, disitulah letak fungsi wawasan, penyelarasan dan pemberdayaan untuk membangun keseimbangan kepentingan individu, kelompok dan organisasi.

Dengan demikian bila mana setiap individu memahami makna wawasan, penyelarasan dan pemberdayaan merupakan langkah berpikir dan bertindak maka dapat diharapkan proses-proses berpikir Intuitif menjadi berpikir Jangka panjang dan berahkir kedalam berpikir Jangka pendek untuk dilaksanakan secara operasional di tempat kerja dimana setiap individu tahu apa, mengapa, bagaimana, dan bilamana untuk dilaksanakan kedalam tugas menjadi pekerjaan individu dan kelompok atau tim, sehingga diperlukan sikap, perilaku yang konsisten dan partisipasi agar terjadi kesinambungan dari pelaksanaan hasil berpikir.

Bila terjadi kebersamaan berpikir, maka suatu organisasi yang fleksibel dan mudah dikontrol, setiap ada penyimpangan atau dampak dari perubahan lingkungan, sehingga penyesuaian dalam menghadapi kesenjangan dari cara lama ke cara baru diperlukan cara menyeberangi kesenjangan sesuai dengan tuntutan perubahan dengan merancang cara baru yang dapat menuntun perubahan sikap dan perilaku yang diinginkan. Inilah satu tantangan dalam menerapkan pemikiran yang disebut dengan konsep konsisten dan partisipasi.

PERNYATAAN EFEKTIF MENGELOLA AREA KUNCI :

DARI SISI PERENCANAAN

• Membentuk rencana strategi untuk sukses masa depan.
• Mengusulkan rencana-rencana untuk tindakan tepat waktu, nyata dan positip.
• Merencanakan dengan pandangan yang baru / segar.
• Merencanakan, menyusun, dan menyelesaikan tugas-tugas dengan sikap yang paling mudah dan efisein.
• Merumuskan secara efektif strategi, taktik dan rencana tindakan untuk mencapai hasil.
• Merencanakan strategi-strategi tepat untuk mencapai solusi-solusi.
• Merencanakan secara efektif hasil-hasil yang sistimatis.
• Unggul di dalam menentukan masalah dan merencanakan solusi2.
• Unggul di dalam mengantisipasi kebutuhan2.
• Mengembangkan rencana2 dan solusi inovatif.
• Memenuhi dan melebihi standard2 untuk tanggung jawab atau tujuan utama tepat waktu atau sebelum jadwal.
• Tetap mempertahankan kenyamanan kerja sebelum jadwal.
• Menjadikan rencana menjadi kenyataan.
• Membentuk prioritas-prioritas tugas secara efektif.
• Merumuskan rencana2 dan memimpikan sasaran2.
• Mengembangkan teknik2 perencanaan yang rasional.
• Mengimplementir rencana2 secara efektif dengan harmoni dan kerja sama.
• Unggul di dalam mengembangkan rencana2 aksi.
• Mengembangkan rencana2 tindakan yang sehat.
• Secara efektif menerapkan rencana2 kedalam aksi.
• Unggul didalam merumuskan dan melaksanakan strategi
• Unggul didalam strategi dan aksi.
• Secara efektif menambah ide menjadi aksi.
• Unggul didalam mengembangkan tujuan2 strategi.
• Mengembangkan visi strategi.
• Secara efektif merencanakan untuk menghindari masalah2 masa depan.
• Menghindari terjadinya masalah.
• Unggul didalam prevensi masalah.
• Unggul didalam manajemen yang bersifat lebih dulu.
• Unggul didalam mengantisipasi reaksi.
• Mengantisipasi dan memecahkan konflik.
• Merencanakan perlawanan yang dapat diramalkan.
• Mengembangkan strategi2 inovatip.
• Mengembangkan strategi positip.
• Mengembangkan strategi2 efektif untuk meraih prestasi yang baik.
• Melahirkan rencana2 lugas untuk memenuhi peluang2 yang be-rubah2.
• Secara konstan mengembangkan teknik2 untuk membangkitkan alternatip strategi baru.
• Merencanakan hal2 yang tidak terduga.
• Unggul didalam mengembangkan skenario “bagaimana kalau”
• Unggul didalam mengembangkan alternatip strategi.
• Mengembangkan rencana ketidakpastian yang sehat.
• Tidak diawasi oleh peristiwa2 dan situasi krisis.

6. SISTEM INFORMASI BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

Perancangan sistem informasi berbasis teknologi informasi harulah bertolak dari tersedianya sumber daya manusia dan sikap serta perilaku manusia itu sendiri untuk memanfaatkan data yang telah diolah dalam suatu sistem menjadikan informasi dalam pengambilan keputusan.

Sejalan dengan pemikiran itu, maka sistem informasi manajemen adalah suatu sistem yang dirancang secara terintergrasi untuk menyajikan informasi guna mendukung area kunci dalam fungsi dan struktur dengan menggunakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) komputer, prosedur pedoman, model manajemen dan keputusan dan sebuah “data base”.

Sejalan dengan pemikiran yang diutarakan diatas, maka perancangan sistem informasi manajemen dengan pendekatan sistem dapat digambarkan dan djelaskan sebagai berikut :

Gambar 5

TEKNOLOGI INFORMASI, sebagai teknologi pengadaan, pengolahan, penyimpanan dan penyebaran berbagai jenis informasi dengan memanfaatkan komputer dan telekomunikasi, yang lahir karena adanya dorongan-dorongan kuat untuk menciptakan teknologi baru yang dapat mengatasi kelambatan manusia mengolah informasi.

TEKNOLOGI WEB, merupakan sistem informasi dan komunikasi hypertext, yang sangat populer dipakai di jaringan internet, dengan komunikasi data yang sesuai dengan model client / server. Web client (browser) dapat menakses multiprotokol dan informasi hypermedia dengan menggunakan alamat-alamat.

Atau dengan kalimat lain bahwa teknologi web berarti kumpulan semua sumber atau informasi yang dihubungkan dengan hyperlinks yang dapat diakses, ditransfer atau dieksekusi secara remote dari mana saja dalam internet melalui server HTTP (hypertext transfer protocol) oleh klien HTTP menggunakan HTTP sebagai protocol utama.

APLIKASI INTERNET (INTERNATIONAL NETWORK), meru-pakan suatu jaringan komunikasi tanpa batas yang melibatkan jutaan komputer pribadi yang tersebar di seluruh dunia. Dengan mengguna-kan protokol Transmission Control Protocol / Internet Protocol (TCP /IP dan didukung media komunikasi.

Aplikasi jenis layanan jaringan internet adalah E-Mail ; Chatting (internet relay chat) ; USENET ; Newsgroup ; FTP (file transfer protocol) ; Telnet ; BBS (bulletin board service) ; WWW (layanan multimedia) ; Internet telephony ; Internet Fax

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN, suatu sistem yang dirancang secara menyeluruh dengan menggabungkan subsistem yang penerap-annya layak dan efektif untuk memecahkan hal-hal yang terkait da-lam perfekstif, posisi dan performance secara terpadu dengan “data base berbasis Web dan non web”

KOMPETENSI MANUSIA DAN PERILAKU MANUSIA DALAM
MENGAMBIL KEPUTUSAN :

Implementasi yang layak dan efektif ditentukan oleh kompetensi yang terkait dengan teknologi informasi artinya disatu sisi memiliki kemampuan dalam memanfaatkan komputer, aplikasinya serta memelihara hardware dan software agar dapat berfungsi dan disisi lain adanya perilaku manusia untuk memanfaatkannya sebagai landasan dalam proses pengambilan keputusan.

Dengan demikian, suatu sistem informasi manajemen yang kita rancang berbasis teknologi informasi untuk mendukung proses pengelolaan sumber daya yang terbatas dapat memaksimumkan peluang-peluang yang ada dalam usaha menciptakan nilai tambah untuk memenuhi kepentingan stakeholders.

Yang menjadi masalah kita, bagaimana kita dapat memanfaatkan data dan informasi menjadi tepat guna sesuai dengan tingkat kepentingannya kedalam area kunci struktural dan fungsional dalam setiap kebijakan dan tindakan dalam mengembangkan wawasan, penyelarasan dan pemberdayaan agar masalah-masalah yang terkait pada perfekstif, posisi dan performansi berjalan dalam arah yang konsisten dan berkesinambungan sesuai dengan strategi yang telah ditetapkan untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran yang hendak dicapai.

Dengan struktur organisasi yang fleksibel dan mudah dikontrol, maka sistem informasi manajemen dengan informasi yang mudah diakses memberikan ruang gerak bagi setiap individu dalam organisasi untuk berpartisipasi dalam menyesuaikan perubahan sikap dan perilaku dalam menghadapi tantantang perubahan lingkungan.

PERNYATAAN EFEKTIF MENGELOLA M.I.S. :

DARI SISI KETERAMPILAN KOMPUTER

• Memaksimalkan manfaat 2 teknologi komputer.
• Memasukkan teknologi komputer yang terbaru.
• Mengenal kebutuhan2 dukungan komputer.
• Menjamin komputer dipakai untuk membangkitkan informasi berarti dan menambah efesiensi.
• Mendorong kesepakatan karyawan dan guna komputer.
• Menjamin pelatihan operator komputer yang benar.
• Memanfaatkan kekuatan komputer.
• Memanfaatkan fasilitas2 dan perlengkapan komputer dengan efektif.
• Memiliki pengetahuan yang kuat tentang dasar2 komputer.
• Memahami aplikasi2 komputer.
• Menjadi terpelajar dengan komputer.
• Tetap waspada terhadap hardware komputer baru.
• Terus mengikuti aplikasi software baru.

DARI SISI KECERMATAN

• Mengenal kepentingan kecermatan.
• Melaksanakan dengan kecermatan tinggi.
• Melaksanakan dengan kecermatan konsisten.
• Meraih hasil dengan kecermatan dan ketepatan.
• Memelihara kecermatan statistik tinggi.
• Mengharapkan kesempurnaan.
• Berjuang demi kesempurnaan.
• Unggul didalam meraih kesempurnaan.
• Menghindarai kesalahan2 dan kekeliruan.
• Menyesuaikan terhadap toleransi2 ketat.
• Memenuhi standard2tepat.
• Memenuhi spekasi2 baku.
• Menjaga catatan2 yang akurat.
• Merawat dokumentasi yang akurat.
• Menyediakan dokumentasi jelas.
• Sangat teliti dengan perincian.
• Memberi atensi yang sangat teliti terhadap perincian.
• Unggul di dalam pengecekatan perincian.
• Meramal dengan kecermatan yang ekstrim.
• Membuat ramalan2 akurat tentang trend2 masa depan, arah dan perkembangan2.

DARI SISI PEMECAHAN MASALAH

• Membuktikan satu kemampuan yang kuat untuk mengenal, menganalisa dan memecahkan masalah.
• Memperagakan satu kemampuan untuk memecahkan masalah, berpikir, beralasan dan belajar.
• Unggul di dalam mengembangkan solusi2 inovatif dan kreatif.
• Mengembangkan solusi2 yang kreatif dan biaya efektif.
• Unggul di dalam pemecahan soal yang kreatif.
• Memperagakan satu pendekatan praktis terhadap pemecahan masalah.
• Sangat tegas di dalam menangani masalah2 sulit.
• Secara efektif memecahkan masalah bukan gejala.
• Unggul didalam mengenal masalah2 yang nyata.
• Unggul di dalam memecahkan masalah2 penting.
• Memecahkan masalah sebelum mereka menjadi genting.
• Unggul di dalam mencari dan memecahkan kesulitan.
• Bekerja baik dengan yang lain di dalam memecahkan masalah.
• Merubah masalah kedalam solusi praktis.
• Memandang masalah sebagai tantangan yang menarik.
• Merubah masalah menjadi peluang2.

7. MENGELOLA PERUBAHAN BERBASIS B.P.R.

Mengelola perubahan yang berencana dan berkesinambungan merupakan langkah berpikir dalam kerangka jangka panjang, oleh karena itu rencana tersebut haruslah fleksibel artinya harus mampu menyesuaikan dengan perubahan lingkungan yang ada.

Tentu saja pemikiran diatas haruslah sejalan dengan pemikiran dari hasil penuangan imajinasi dan wawasan CEO menjadi pemikiran kreatif bersama pimpinan puncak lainnya dalam menggariskan persfektif ke masa depan. Hasil pemikiran intuitif tersebut sebagai suatu pemikiran yang bersifat strategis karena :

1) Menyatukan kesadaran, kecerdikan dan akal sehingga menjadi pertimbangan yang sehat, walaupun dengan data dan informasi yang terbatas ;

2) Menjadi efektif berdasarkan pertimbangan kebersamaan dalam bersikap dan berperilaku ;

3) Pemikiran strategik yang diputuskan bersama men-jadi daya dorong untuk merumuskan posisi dalam pemikiran jangka panjang.

Perencanaan jangka panjang tersebut merupakan langkah untuk memetakan perjalanan untuk keberhasilan masa depan, sehingga perencanaan ini begitu penting karena :

1) Membuat fokus ke masa depan dengan tidak mengabaikan masa kini ; 2) Memperkuat prinsip yang telah diambil dalam keputusan strategik ;
3) Memotivasi lintas fungsional dalam perencanaan dan komunikasi ;
4) Membangun jembatan menuju ke perencanaan yang bersifat jangka pendek ;
5) Memotivasi para pemimpin melihat dari persfektif makro ;
6) Mengurangi konflik, menghemat waktu dan memotivasi semua orang.

Selanjutnya pemikiran jangka panjang dijabarkan kedalam pemikiran jangka pendek yang kita sebut dengan perencanaan taktis / operasional, perencanaan ini penting karena :

1) Sebagai sumber informasi dalam menyusun anggaran ;
2) Kegiatan terkait untuk jangka waktu satu tahun dan dapat ditetapkan ukuran dalam kinerjanya ;
3) Terfokuskan pada masalah internal ;
4) Membuat keputusan berdasarkan data dan informasi yang akurat ;
5) Meningkatkan pemaham-an dan komiten dalam melaksanakan rencana ; 6) Mendorong dan memotivasi bekerja dalam suatu tim dan kelompok.

Dengan demikian, maka mengelola perubahan haruslah dijalankan kedalam suatu sistem yang kita sebut dengan berbasiskan rekayasa ulang bisnis seperti gambar dibawah ini :

Gambar 6

Pendekatan sistem tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

B.P.R. ATAU REKAYASA ULANG BISNIS, adalah usaha yang dilakukan suatu organisasi untuk mengubah proses dan kendali internalnya dari suatu hierarki vertical fungsional yang tradisional menjadi struktur pipih yang horizontal, lintas-fungsional dan berlandaskan kerja sama tim yang berfokus untuk membuat pelanggan nyaman dan memenuhi kepentingan stakeholders.

Jadi pendekatan ini bertolak dengan suatu METODA artinya penguasaan praktek sebenarnya kedalam pendekatan terstruktur. Metoda digambarkan sebagai struktur bahasa, disiplin (bagaimana) dan praktek (kapan dipakai). TOOL artinya perangkat lunak yang dapat mengotomisasikan metoda atau metodelogi untuk membantu pengguna dalam aplikasi metoda yang lebih cepat. MANAJEMEN PROSES artinya pelaksanaan langkah untuk menjamin bahwa satu proses adalah dipantau terus menerus dan diperbaiki.

PERUBAHAN LAPISAN NILAI, adalah suatu proses yang secara terus menerus diamati dan diperbaiki sejalan dengan tuntutan perubahan, sebagai tindakan yang paling sulit dan kurang konkrit untuk berubah yang mencakup usaha-usaha melakukan perubahan atas budaya organisasi, iklim organisasi dan keseimbangan kepentingan individu, kelompok serta organisasi.

PERUBAHAN LAPISAN INFRASTRUKTUR, adalah suatu proses yang secara terus menerus diamati dan diperbaiki sejalan dengan tuntutan perubahan, sebagai tindakan yang sulit dan mengarah kepada yang konkrit untuk berubah yang mencakup usaha-usaha melakukan perubahan atas struktur ganjar, sistem pengukuran dan metoda manajemen.

PERUBAHAN LAPISAN PISIK, adalah suatu proses yang secara terus menerus diamati dan diperbaiki sejalan dengan tuntutan perubahan, sebagai tindakan yang mudah dan konkrit adanya untuk berubah yang mencakup usaha-usaha melakukan perubahan atas struktur proses, struktur teknologi, dan struktur organisasi.

MERANCANG ULANG PROSES :

Makna proses adalah seperangkat kegiatan yang saling berkaitan yang membutuhkan masukan dan mentransformasikannya untuk menghasilkan suatu keluar baik yang dilakukan atas dasar kemampuan sendiri maupun atas dasar kerja sama dengan pihak lain yang saling menguntungkan.

Bertitik tolak dari konsep pemikiran diatas, maka dalam merancang dan melaksanakan B.P.R., maka aktivitas yang akan terkait didalamnya akan mencakup :

1) Proses yang sedang berjalan, haruskah menjadi basis bagi proses baru dirancang kembali ;
2) Sejauh mana atas proses yang ada dapat dipahami ;
3) Haruskah proses proses yang sedang berjalan diubah pada tingkat pelaksanaannya atau proses baru dirumuskan untuk menggantikannya ;
4) Perlukah organisasi memulai dengan suatu gagasan diatas kertas bersih sama sekali.

Dengan memperhatikan hal-hal yang dikemukakan diatas, maka pengalaman menunjukkan meninggalkan proses yang lama dan langsung mengimplementasikan proses baru sama sekali akan menghadapi resiko yang mungkin terjadi, oleh karena itu maka kita dapat menempuh dalam pendekatan yang kita sebut dengan :

1) Perubahan dengan perancangan ulang secara sistimatis dan berkesnambungan artinya memahami yang telah ada, memperbaiki apa yang ada dan mempersiapkan proses baru bila diperlukan ;
2) Perubahan dengan melaksanakan perancangan baru.

Pendekatan manapun yang dipilih, memerlukan kondisi yang dapat mendukung sebagai faktor yang mendorong aktivitas BPR berjalan seperti yang diharapkan yaitu dengan adanya :

1) Motivasi apa yang mendorong perubahan itu harus dilakukan dilihat dari sudut pemikiran strategik, rencana jangka panjang dan rencana jangka pendek dapat dikomunikasi secara terbuka kepada pihak-pihak yang harus bertanggung jawab ;
2) Sikap dan perilaku yang dapat mendukung semua aktivitas yang terkait dengan perubahan tersebut baik sebagai individu maupun kelompok atau tim sesuai dengan peran-peran yang dijalankan oleh mereka ;
3) Kebiasaan yang effektif artinya adanya keinginan yang jelas, didukung dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup ;
4) Kreativitas dan inovasi merupakan tonggak penentu dalam mewujudkan perubahan yang berencana dan berkesinambungan.

Dengan tersedianya data dan informasi yang akurat dan terbuka serta dapat memanfaatkan teknologi informasi, memberikan ruang gerak dengan organisasi yang fleksibel dan mudah dikontrol untuk menjaring peluang menjadi suatu kenyataan. Dengan memperhatikan hal-hal yang kita utarakan diatas, maka keberhasilan dalam melaksanakan program BPR terdapat empat hal yang perlu dipahami bagi semua pihak yang terlibat yaitu :

1) Status quo yang berdampak ketidakpastian dapat membuat penderitaan sehingga kondisi tersebut dapat berubah menjadi daya dorong untuk memotivasi orang untuk berubah ;
2) Harus dapat menjelaskan persfektif masa depan menjadi suatu realitas yang dapat dicapai ;
3) CEO dengan kepemimpinannya mampu mengkomunikasi keputusan strategik (visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi) yang didukung oleh semua tingkatan pemimpin struktural dan fungsional ;
4) Memiliki dampak keuntungan yang seimbang dalam mewujudkan kepentingan invidu, kelompok dan organisasi serta pihak-pihak lain yang berkepentingan.

PERNYATAAN EFEKTIF DALAM BPR :

DARI SISI PENCAPAIAN

• Meraih tingkat prestasi dan sukses perorangan yang optimal.
• Menyediakan bukti hasil khusus yang kuat.
• Melahirkan dampak yang nyata dan postip.
• Meraih hasil tinggi secara konsisten.
• Unggul di dalam meraih hasil proyek yang luar biasa.
• Meraih hasil2 yang fundamental.
• Meraih hasil2 yang abadi.
• Melampaui norma.
• Lebih berhasil dengan lebih sedikit orang.
• Memperlihatkan kemampuan untuk meraih hasil2 yang diharap.
• Titik berat diatas hasil2.
• Mencapai hasil2 tanpa efak samping negatif.
• Mencapai hasil melalui tindakan2 positip.

DARI SISI PERBAIKAN

• Berjuang untuk memperjuangkan dan memoles keefektifan profesional secara konstant.
• Secara konsisten berjuang untuk meningkatkan prestasi.
• Bergerak secara membangun kearah peningkatan prestasi.
• Meningkatkan keefektifan dengan menghapus hal2 yang memusingkan.
• Unggul di dalam pengawasan diri dan peningkatan diri.
• Seringkali membuat saran2 yang bernilai bagi peningkatan.
• Unggul di dalam mengembangkan teknik2 yang telah membaik.
• Mengembangkan secara total strategi2 baru.
• Memakai alat2 yang canggih untuk meraih hasil2.
• Membuat konstribusi yang pasti terhadap perbaikan.
• Membuat perubahan2 untuk peningkatan departemen yang menyeluruh.
• Memperagakan kesediaan untuk membahas kelemahan dan membuat peningkatan.
• Memakai kritikan2 membangun untuk meningkatkan prestasi.
• Membentuk sasaran2 untuk peningkatan target2 prestasi.
• Mengembangkan sasaran2 masa depan untuk peningkatan diri.
• Menjelaskan sasaran2 untuk peningkatan masa depan.
• Menyusun sasaran2 pertumbuhan yang berambisi.
• Membahas secara lihai area2 yang memerlukan perbaikan.
• Mengenal dengan jelas peningkatan2 yang harus dicapai.
• Bekerja sama ke arah identifikasi area2 yang membutuhkan perbaikan.
• Menunjuk area2 yang membutuhkan perbaikan2 dengan jelas.
• Mengenap masalah2 perbaikan prestasi.
• Memonitor kemajuan peningkatan.
• Memperagakan keingintahuan untuk meningkatkan.
• Membuktikan satu usaha kuat untuk peningkatan.
• Menyambut peluang2 untuk peningkatan.
• Mencari peluang2 untuk peningkatan diri.
• Tanggap terhadap tindakan saran bagi peningkatan.
• Memperagakan potensi perbaikan untuk kemajuan.
• Memperlihatkan kemajuan yang mantap.
• Melanjutkan tumbuh dan menjadi lebih baik.

DARI SISI KEMAMPUAN MANAJEMEN

• Secara efektif menerapkan prinsip2 manajemen yang sehat.
• Secara efektif memanfaatkan konsep2 manajemen kontenporer.
• Membuktikan teknik2 manajemen yang produktif.
• Mendorong manajemen yang partisipatip.
• Merangsang efesiensi dan keefektifan manajemen.
• Melipatgandakan keefektifan manajemen.
• Mengintergrasikan secara gemilang objektif, peluang dan sumber.
• Merupakan satu aset kuat bagi organisasi.
• Mengembangkan program2 yang nyata dan masuk akal.
• Menyusun program2 yang berhasil.
• Membina dan menggalakkan program2 penting dengan berhasil.
• Mengenal masalah2 manajemen utama.
• Melihat gambar yang utama.
• Membuktikan satu kemampuan untuk mengenal masalah2 manajemen dan mengembangkan solusi2.
• Mengetahui kapan mencari bantuan dari luar organisasi.
• Mengenal komponen manajemen efektif yang relefan dan dapat ditaksir.
• Mengevaluasi keefektifan manajemen secara akurat.
• Terus memberitahu manajemen mengenai tentang kebijakan.
• Unggul di dalam meraih dukungan manajemen.
• Mempersiapkan secara konsisten rekomendasi2 yang benar.
• Memperagakan kekuatan di dalam manajemen SDM.
• Mengadakan manajemen dengan informasi yang valid dan andal bagi perencanaan SDM.
• Menyediakan manajemen dengan informasi akurat tentang kekuatan dan kelemahan karyawan.
• Secara efektif memecahkan konflik antar kebutuhan2 individu dengan organisasi.
• Menghormati kedua-dua hak karyawan dan wewenang manajemen
• Membuktikan satu kemampuan untuk mengatasi kendala2 internal.
• Secara efektif memecahkan masalah2 yang melanda batas2 org.
• Unggul di dalam memecahkan konflik2 antar departemen.
• Memperoleh dukungan penuh dari departemen lain.
• Mempersatukan organisasi.
• Mengenal peran penting dari pada tanggung jawab, otoritas dan pertanggunganjawab.
• Menahan bawahan bertanggung jawab atas hasil2.
• Menghubungkan akibat ke pertanggungan jawaban.
• Membuktikan kemampuan eksekutip atasan dibawah satu aneka ragam keadaan.
• Menyampaikan gengsi eksekutip.
• Memperagakan kekuatan eksekutip.
• Memperlihatkan kualitas2 yang membuat manajer berhak dan efektp.
• Mempragakan atribut dari pada seorang manajer efektip.
• Memperlihatkan manajemen diri yang kokoh.
• Mengelola diri dengan efektip.
• Memperagakan perilaku manajerial yang efektip.
• Memperagakan gaya manajemen yang efektip dan produktip.
• Mengenal perbedaan antar mengelola dengan melakukan.
• Menghindari dari pengelolaan dengan krisis.
• Unggul di dalam manajemen SDM.
• Merupakan seorang manajer yang menantang dan penuh ilham.
• Unggul di dalam memecahkan masalah2 orang.
• Unggul di dalam menetapkan, mengukur dan meningkatkan produktivitas.
• Meraih hasil produksi yang tinggi sementara mempertahankan moral yang tinggi.
• Selalu membuat karyawan2 sadar tentan kepentingan terhadap organisasi.
• Mempromosikan perilaku kerja sama dan upaya tim.
• Membina rasa sehaluan senasib yang kuat.
• Unggul di dalam perkembangan tim yang berbasis pada tugas.
• Meraih prestasi tim yang maksimal.
• Meraih keefektifan kerjasama.
• Berjuang untuk prestasi tim yang maksimal.
• Mendorong upaya ke arah sasaran umum.
• Unggul di dalam mengembangkan strategi kerjasama
• Membesarkan daya guna sumber perusahaan.
• Bertanggung jawab atas daya guna personalia yang efektip dan efisien.
• Menyediakan bawahan2 dengan sumber2 yang dibutuhkan untuk meraih hasil2.
• Meraih hasil melalui bimbingan yang tepat dari bawahan.
• Memberikan bimbingan yang jelas.
• Mengembangkan satu usaha departemen yang melekat.
• Sadar tentang amal potensi departemen.
• Memelihara pengawasan departemen perusahaan.
• Patuh terhadap semua kebijakan, prosedur dan peraturan tradisi.
• Menggalakkan secara efektip kebijakan, peraturan dan hukum.
• Memelihara standar2 etika yang tinggi.
• Memperagakan etika yang sehat.
• Mengikuti hukum perilaku yang benar.
• Secara efektip mengenal kebutuhan untuk perubahan.
• Secara efektip mengelola perubahan.
• Mengimplementir perubahan dengan perlawanan yang kecil.
• Menangani penolakan terhadap perubahan dengan efektip.
• Mengimplementir perubahan dengan satu dampak positip.
• Tetap waspada terhadap kelemahan, kekuatan, ancaman dan peluang yang menghadang organisasi.
• Unggul di dalam penempatan pada masa mendatang.

8. R & D BERBASIS KEBUTUHAN PELANGGAN

Usaha untuk menciptakan organisasi yang dapat mendukung dalam memenangkan dan memelihara pelanggan dalam dunia tanpa batas dimana persaingan seharusnya dipandang sebagai daya dorong untuk merebut peluang-peluang dimasa depan.

CEO haruslah memainkan peran untuk menciptakan adanya dorongan-dorongan dimana kreativitas individu dan kelompok serta inovasi organisasi menjadi kunci sukses ke masa depan. Oleh karena itu fungsi penelitian dan pengembangan dalam suatu organisasi berdasarkan pengalaman masih menunjukkan kurang mendapatkan perha-tian yang sesungguhnya.

Dengan demikian fungsi penelitian dan pengembangan adalah sekelompok perilaku yang diharapkan dari suatu peran yang dilahirkan adanya individu yang kreatif menjadi kreatif kelompok dan dikelola menjadi inovatip oleh organisasi yang terkait dengan penempatan produk ke pasar, perubahan teknologi baru dan proses.

Dengan memperhatikan hal-hal diatas, maka penelitian dan pengembangan berbasis pelanggan sebagai suatu pendekatan sistem dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 7

KEPUASAN PELANGGAN, adalah suatu pendekatan yang secara sistimatis dan terus meneruskan membangun dan mengembangkan secara proaktip menciptakan suatu organisasi yang sadar pelanggan dalam arti luas artinya pelanggan mencakup bukan saja pelanggan murni (sebagai pembeli / eksternal) tetapi juga pelanggan tidak murni (sebagai orang dalam dan perantara) dalam usaha untuk memenangkan dan memelihara pelanggan.

KREATIVITAS DAN INOVASI, adalah suatu pendekatan dengan menciptakan suatu iklim organisasi yang mendukung setiap individu dan kelompok dapat mengembangkan wawasan dan imajinasi dalam mewujudkan gagasan-gagasan baru yang dikelola menjadi inovatip oleh organisasi dalam memenuhi kepuasan pelanggan dan stakeholders lainnya kedalam perencanaan program-program yang pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan tahapan yang telah diputuskan.

PRODUKTIVITAS, adalah pendekatan untuk memenangkan dan memelihara pelanggan sebagai cara mengubah sesaat menjadi pelanggan seumur hidup karena kemampuan untuk meningkatkan kualitas yang ditopang oleh pemanfaatan sumber daya yang efesien dan efektif termasuk kepentingan stakeholders lainnya.

SUMBER DAYA, adalah pendekatan untuk memanfaatkan sumber daya internal dapat digerakkan sesuai dengan program yang telah ditetapkan dan berkolaborasi untuk memaksimumkan sumber daya eksternal yang memungkinkan untuk mendukung pencapaian sasaran yang digariskan.

MEMBANGUN KEBIASAAN YANG PRODUKTIF :

Tantangan masa depan bukan terletak menghadapi persaingan, melainkan bagaimana suatu organisasi mampu meraih peluang-peluang masa depan. Sukses meraih peluang masa depan sangat di-tentukan adanya kemampuan untuk menumbuhkan kebiasaan produktivitas secara berkesinambungan yang ditopang adanya sumber daya manajemen informasi sistem yang dikelola dengan baik.

Membangun kebiasaan produktivitas adalah kegiatan yang direnca-nakan secara sistimatis dan dipolakan menjadi kebiasaan dalam bersikap dan berperilaku bagi setiap anggota organisasi yang ditunjukkan dengan karekteristik yang mengikat kedalam organisasi sbb.:

Pertama, haruslah dipandang sebagai suatu sistem yang digerakkan oleh pimpinan puncak dan bertanggung jawab keberhasilannya, sehingga diperlukan metoda, prosedur dan alat yang dapat memotivasi bagi setiap anggota organisasi dalam bersikap dan berperilaku sebagai komitmen mereka yang datang dari diri sendiri, bukan sesuatu yang dipaksanakan tapi sudah merupakan budaya.

Kedua, haruslah dipandang sebagai suatu sistem yang digerakkan untuk memenuhi kepuasaan pelanggan dan kepentingan stakeholders lainnya sebagai daya dorong setiap anggota untuk berpikir.

Ketiga, haruslah dipandang sebagai suatu sistem yang dapat mendukung aplikasi budaya organisasi (norma, nilai, wewenang dan ganjar) sebagai pedoman dan arahan dalam bersikap dan berperilaku bagi setiap anggota organisasi agar mampu berkonsteribusi dalam melaksanakan perubahan.

Keempat, haruslah dipandang sebagai suatu sistem yang dapat mendukung pola pikir perubahan keterampilan dari perilaku reaktif menjadi proaktif.

Kelima, haruslah dipandang sebagai suatu sistem yang mendukung cara pandang bahwa produktivitas adalah bagian cara hidup bagi setiap anggota organisasi.

Dengan membangun kebiasaan yang produktif dengan ditopang pemahaman kelima karekteristik yang diungkap diatas, diharapkan menjadi daya dorong untuk meningkatkan sembilan prinsip dalam kepemimpinan 1) kolaborasi 2) komitmen 3) komunikasi 4) kreativitas individu, 5) kreativitas kelompok 6) inovasi organisasi 7) analisa masa depan 8) merespon antisipatif 9) proses pengambilan keputusan (diuraikan dalam bab 2 titik 4).

Dengan peningkatan kesembilan prinsip kepemimpinan tersebut dapat mendukung perubahan terbentuknya kebiasaan untuk kemenangan pribadi, kemenangan kelompok dan kemenangan organisasi yang memiliki sifat ketergantungan, kemandirian dan saling ketergantungan dalam mewujudkan kebiasaan yang produktif.

Membangun kebiasaan yang produktif, dimaksudkan adalah implementasi pola perilaku kedalam kebiasaan yang effektif yang terdiri dari 1) kejelasan keinginan yang menunjukkan mau melakukannya ; 2) adanya pengetahuan yang menunjukkan apa yang harus dilakukan dan mengapa ;adanya keterampilan yang menunjukkan bagaimana melakukan. Jadi yang menjadi tujuan dalam kebiasaan yang produk-tif mencakup hal-hal yang hendak dicapai sebagai berikut :

1) Memahami kepentingan pelanggan dan stakeholders lainnya.
2) Menetapkan dan mengukur tingkat keberhasilan produktivitas.
3) Menetapkan sistem pengawasan dan pengendalian.
4) Menetapkan langkah-langkah perbaikan berkelanjutan.
5) Menetapkan adanya organisasi pembelajaran.
6) Mendorong untuk melepaskan dari hiriarki menjadi tim.
7) Mendorong kepemimpinan kolaborasi.

PERNYATAAN EFEKTIF DALAM R & D :

DARI SISI MANAJEMEN BIAYA

• Secara efektif mengawasi biaya melalui penggunaan personalia, material dan perlengkapan yang ekonomis.
• Secara efektif mengunakan sumber daya dari staf, dana dan waktu.
• Memanfaatkan dengan maksimum dana yang telah dialokasikan.
• Membuat proyeksi2 anggaran yan realistik.
• Memberikan atensi yang besar untuk memonitor varian anggaran dan merencanakan penyesuaian2 yang tepat.
• Memperjuangkan ROI yang maksimum.
• Unggul di dalam keputusan2 yang berorientasi keuntungan.
• Membuktikan kemampuan yang kuat untuk menggalakkan cost-profit ratio.
• Membuktikan keefektifan biaya yang sehat.
• Mengembangkan ukuran pengawasan biaya yang kuat untuk menjamin hasil2 yang diinginkan.
• Memelihara pengawasan biaya yang efektif.
• Melatih pengawasan biaya yang benar.
• Mengenal secara efektif area2 yang membutuhkan reduksi biaya.
• Memperagakan pertimbangan yang sehat di dalam mengelola dan mengawasi pengeluaran.
• Taat pada prinsip2 auditing yang sehat.
• Merencanakan perjalanan, hiburan2 dan biaya2 lainnya agar dapat meraih sasaran organisasi.
• Taat kepada kebijakan dan prosedur organisasi di saat meminta biaya2 yang dikeluarkan.
• Menjamin semua pengeluaran adalah demi kepentingan org.
• Membuktikan sukses di dalam mereduksi biaya sementara meme-lihara kualitas yang tinggi.
• Unggul didalam mengawasi biaya dan menghilangkan pemborosan.

DARI SISI KUALITAS

• Kualitas kerja secara konsisten tinggi.
• Meraih standar kualitas tertinggi.
• Memperlihatkan kepentingan profesional untuk karya kualitas.
• Menekankan penggalakan kualitas.
• Mempromosikan kesadaran kualitas.
• Mengenal kepentingan kualitas didalam menyediakan ketajaman kompetensi.
• Membuktikan ketertiban, keseksamaan dan kecermatan di dalam melaksanakan tugas2 kerja.
• Melaksanakan dengan akurasi, keseksamaan dan keefektifan yang luar biasa.
• Bertenggung jawab terhadap kualitas istimewa.
• Meraih keefektifan yang konsisten.
• Berjuang untuk kesempurnaan.
• Sangat rapih.
• Menyediakan jaminan kualitas total.
• Memperagakan harga diri di dalam pekerjaan.

9. OPERASI BERBASIS PRODUKTIVITAS

Manajemen operasi / produksi secara konseptual membicarakan hal-hal yang terkait dengan produk, sarana dan prasarana, proses, program dan manusia. Oleh karena itu perilaku fungsi transformasi menjadi suatu hal yang sangat penting dalam mengelola operasi / produksi.

Keberhasilan dan kesinambungan operasi akan mencakup hal-hal yang terkait dengan kualitas, keterandalan, penyerahan, biaya dan arus kas organisasi, sehingga diperlukan keserasian dalam merumuskan kebijakan operasi dengan kebijakan organisasi secara menyeluruh dengan mempertimbangkan fungsi transformasi secara jelas.

Dalam kerangka merumuskan fungsi transformasi kedalam manajemen operasi / produksi dapat kita lihat dari : 1) Pabrik, menunjukkan peluang dimana dengan bantuan komputer kita dapat merumuskan hal-hal yang terkait dengan daya guna secara berarti ; 2) Proses menunjukkan kekuatan dimana setiap proses dapat dirumuskan yang terkait dengan tujuannya ; 3) Program, menunjukkan kelemahan di-mana bahwa setiap metode pengawasan dan pengendalian tidak be-gitu mudah dikomputerisasikan ; 4) Manusia, menunjukkan hambat-an dimana dapat menimbulkan penolakan untuk setiap perubahan bila harus dilakukan. Jadi segala sesuatu dapat kita susun kedalam daftar yang kita sebut dengan mengaudit fungsi MPO (manajemen produksi / operasi).

Bertitik tolak pemikiran diatas, maka operasi berbasiskan produkti-vitas dengan pendekatan sistem dapat digambarkan dan dijelaskan :

Gambar 8

PRODUKTIVITAS, adalah sistem penerapan produktivitas yang merumuskan hal-hal yang terkait dengan suatu kebijakan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen baik yang terwujud maupun tidak dari pemanfaatan sistem teknologi kedalam operasi / produksi berdasarkan alokasi sumber daya sesuai dengan kebutuhan untuk peningkatan produktivitas.

TEKNOLOGI, adalah sistem penerapan strategi teknologi yang merumuskan hal-hal terkait dengan pemanfaatan dari pengetahuan- pengetahuan yang teratur untuk tugas-tugas yang praktis. Sejalan dengan itu, maka menimbulkan konskwensi yang kita kenal dengan : 1) Jangka waktu antara awal dan akhir pelaksanaan tugas ; 2) Peningkatan kebutuhan investasi untuk produksi dan proses ; 3) Tingkat kerumitanteknologi yang diterapkan ; 4) Penetrapan teknologi menuntut tersedianya tenaga spesialis ; 5) Mengorganisir tenaga spesialistis kedalam organisasi ; 6) Diperlukan adanya perencanaan untuk melaksanakan sejalan dengan pilihan teknologi.

OPERASI, adalah sistem penerapan strategi operasi yang merumus-kan yang terkait dengan 1) Perfekstif yang mengarahkan hal-hal perencanaan, pengawasan dan pengendalian, anggaran, sistem pengkodean ; 2) Produk yang mengarahkan hal-hal kualitas, keterandalan, perancangan produk, pengendalian nilai dan variasi ; 3) Pabrik, adalah sistem yang mengarahkan hal-hal lokasi dan desain pabrik, tataletak pabrik, pemilihan peralatan, pemeliharaan pabrik ; 4) Proses adalah sistem penerapan yang mengarahkan hal-hal tugas, kelompok, arus (dalam jenis produksi), teknologi kelompok, telaah metode, pengukuran kerja, pengawasan dan pengen-dalian mutu ; PROGRAM yang mengarahkan hal-hal peramalan, penjadwalan, perintah kerja, pengelolaan bahan, pengadaan bahan.

SUMBER DAYA MANUSIA, adalah sistem penerapan strategi sumber daya manusia yang merumuskan hal-hal yang terkait dengan manajemen sistem informasi yang dapat menuntun ke arah kemampuan memenangkan persaingan dan memaksimumkan peluang-peluang yang terbuka melalui peningkatan kompetensi.

HUBUNGAN OPERASI DENGAN LINGKUNGAN :

Pendekatan sistem dalam penerapan manajemen oprasi terletak dari pada pemahaman yang mendalam atas makna transformasi dari input menjadi autput, oleh karena itu hubungan dengan lingkungan

menjadi penting untuk dikelola untuk menangkap perubahan-perubahan yang dikehendaki sehingga bila diperlukan diadakan perbaikan atas sistem yang sedang berjalan.

Mengelola sistem transformasi termasuk didalam yang terkait dalam memonitor terus menerus dari sistem dan lingkungan. Perubahan lingkungan dapat menyebabkan manajemen mengubah input, output, sistem kontrol atau sistem transformasinya sendiri. Sebagai contoh, adanya perubahan kondisi ekonomi, menyebabkan manajer operasi memperbaiki proyeksi permintaan yang berdampak bertambah orang dan kapasitas yang diperluas.

Dengan demikian operasi sistem transformasi dapat terjadi perubahan sejalan dengan tuntutan perubahan lingkungan atas pemasok, masyarakat, lingkungan eksternal, pelanggan, pesaing, pemerintah yang mendorong untuk melakukan penyesuaian kedalam sumber daya manusia, kerekayasaan, pemasaran, manajemen informasi sistem, keuangan , akuntansi.

Sejalan dengan pemikiran tersebut diatas, maka hubungannya dalam keputusan-keputusan operasi pada dasarnya terdapat lima kunci utama yang terkait dengan tanggung jawab operasi adalah kualitas, proses, kapasitas, persediaan dan angkatan kerja.

Jadi dengan pemahaman atas fungsi operasi, strategi operasi dan disain produk, maka keputusan operasi yang terkait didalamnya untuk Kualitas adalah 1) mengelola kualitas, 2) kontrol dan perbaikan kualitas ; Disain Proses adalah 3) seleksi proses, 4) Disain operasi pelayanan, 5) pemilihan teknologi, 6) analisis alur proses, 7) tata letak fasilitas ; Perencanaan dan penjadwalan kapasitas adalah 8) proyeksi, 9) keputusan fasilitas, 10) perencanaan bersama, 11) penjadwalan operasi, 12) Perencanaan proyek ; Manajemen persediaan adalah 13) permintaan yang bebas, 14) perencanaan kebutuhan material, 15) pabrikasi tepat waktu ; Manajemen angkatan kerja adalah 16) mengelola angkatan kerja, 17) disain pekerjaan, 18) perbaikan dan pengukuran performansi.

PERNYATAAN EFEKTIF DALAM OPERASI :

DARI SISI ADMINISTRASI

• Memperlihatkan satu tingkat kompeten yang tinggi.
• Secara konstan memeriksa keefektifan administrasi dan mencari prosedur-prosedur yang lebih baik.
• Mendorong efesiensi dan kefektifan administrasi.
• Meraih hasil administrasi yang tinggi.
• Menghindan pembebanan manajemen dengan perincian adm.
• Secara efektif memakai laporan pengecualian untuk terus memberitahukan manajemen.
• Secara jelas membentuk peraturan2 dan kebiasaan.
• Menghitung dan menetapkan prosedur2 untuk mengimplemtasikan dan menjalankan kebijakan tertulis.
• Mengembangkan kebijakan2 dan prosedur untuk perbaikan departemen.
• Meningkatkan sistem dukungan administrasi.
• Menyediakan dukungan playanan2 penting.
• Mengembangkan strategi2 administrasi yang sukses.
• Unggul dalam mensederhanakan sistem2 dan mereduksi tugas kantor.
• Unggul di dalam menghapus tugas kantor yang tidak penting.
• Secara efektif mengawasi tugas kantor.
• Mengelola tugas kantor secara efesien dan efektif.
• Meningkatkan efisiensi2 administrasi melalui penggunaan formuliryang efektif.
• Membentuk sistem2 efektif untuk penyimpanan dukumen resmi.
• Menyimpan dukumen2 resmi yang singkat dengan duplikat yang sedikit.
• Menangani beban informasi dengan efektif.
• Membentuk sistem2 yang efektif untuk pencarian keterangan.
• Memahami dan menerapkan metoda2 dasar statistik.
• Memakai secara efektif aplikasi statistik.
• Memakai teknik2 pengawasan statistik yang sehat.
• Mengawasai dengan tepat pengedaran informasi yang cocok.
• Menghormati informasi rahasia.
• Memelihara kerahasian yang menyeluruh.
• Sebar luaskan teknologi2 baru di dalam otomisasi kantor.
• Memanfaatkan teknologi yang meningkat untuk dukungan adm.
• Menggunakan perlengkapan kantor secara efektif.

DARI SISI KUALITAS PERFORMANSI UMUM

• Membuktikan prestasi yang gemilang secara konsisten.
• Membangkitkan sukses yang lebih besar di dalam situasi yang sangat rumit.
• Melampaui secara konsisten harapan2 prestasi.
• Secara teratur performansi melampaui kebutuhan2 pekerjaan.
• Menyediakan satu sisi kompetitip.
• Unggul di dalam mengatasi kebingungan.
• Merubah situasi resiko menjadi peluang2.
• Merubah gerak hati yang kompetitip ke dalam jalur2 yang paling konstruktip.
• Memperagakan rasa rajin, ketelitian dan ketekunan didalam melaksanakan tugas.
• Memiliki semua ciri khas yang ada kaitan dengan yang istimewa.
• Unggul didalam penelitian yang hambar.
• Mengakui dan menerima kewajiban dan aktiva personal.
• Memperagakan kemampuan2 persepsi diri yang cermat.
• Membangkitkan semangat.
• Sangat banyak akal.
• Mengenal peluang2.
• Membuktikan kebiasaan2 bekerja yang luar biasa.
• Memperagakan nilai kerja yang kuat.
• Bekerja dengan rajin.
• Memperagakan potnsi energi yang tinggi.
• Memperagakan ketegasan bekerja keras.
• Memperagakan keuletan yang kuat.
• Memepragakan atensi yang gigih tentang pekerjaan.
• Sangat tepat dan efisien.
• Memperagakan usaha terkonsentrasi.
• Memperagakan kehalusan budi, karekter dan obyektivitas.
• Memperagakan keyakinan dan kepercayaan.
• Membuktikan rasa kepercayaan.
• Menghadapi konflik dengan keyakinan.
• Brsaing dengan kepercayaan.
• Sangat percaya diri.
• Memancarkan percaya diri.
• Membuktikan konsep2 diri yang positip.
• Unggul di dalam disiplin diri.
• Mendukung penuh pada bakat.
• Mendukung kekuatan2 dasar.
• Menerapkan keterampilan secara efektif.
• Memekihara tingkat keterlibatan yang tinggi.
• Mengembangkan pendekatan2 yang berorientasikan sukses.
• Memperagakan pendekatan2 positip.
• Merubah yang negatip menjadi positip.
• Memperagakan perilaku positip ke arah pekerjaan dll.
• Memperagakan animo dan kesenangan pada kerja.
• Memelihara satu pandangan optimis di saat dihadapkan dengan kesulitan2.
• Unggul di dalam menangani situasi keras.
• Mengembangkan harapan2 positip.
• Mengembangkan harapan2 realistis.
• Menerapkan standar2 tinggi performansi pribadi.
• Menerima dan melaksanakan tugas dengan sikap kerjasama.
• Membagi bersama ide dan teknik.
• Menjadi penyebab penting terhadap keberhasilan departemen.
• Unggul sebagai seorang pemain tim.
• Memproyeksikan onyektivitas.
• Menghindari konflik2 pribadi dari pengurangan produktivitas.
• Tanggap cepat terhadap umpanbalik.

10. PEMASARAN BERBASIS KEPUASAN PEMBELI

Merebut peluang-peluang masa depan merupakan tantangan karena disitu terletak organisasi untuk menyimak adanya permintaan yang berbeda-beda akan kegunaan bentuk, waktu, tempat, dan pemilikan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Sejalan dengan pemikiran itu, maka pemasaran yang berorientasikan kepada kepuasan pembeli untuk mengatasi hal-hal yang terkait dengan keterpisahan karena ruang, keterpisahan karna waktu, keterpisahan informasi, dalam hal nilai, keterpisahan dalam pemilikan, perbedaan dalam jumlah, perbedaan dalam keragaman.

Keterpisahan karena ruang, ditunjukkan dengan adanya produsen dan konsumen terpisah secara geografis. Para produsen cenderung berada pada lokasi yang terpusat sedangkan konsumen berada dilokasi yang berbeda-beda.

Keterpisahan karena waktu, ditunjukkan dengan para konsumen dimana mereka tidak mau mengkonsumsi pada waktu dihasilkan dan mungkin dibutuhkan waktu untuk mengangkut apa yang dibutuhkan dari produsen ke konsumen.

Keterpisahan informasi, ditunjukkan dengan para produsen tidak mengetahui siapa memerlukan apa, dimana, kapan, dan dengan harga berapa. Begitu pula sebaliknya dimana konsumen tidak mengetahui apa yang tersedia dari siapa, dimana, kapan dan dengan harga berapa.

Dalam hal nilai, ditunjukkan dimana para produsen menilai barang dan jasa dengan biaya dan harga yang bersaing, sedangkan konsumen menilai dengan kegunaan ekonomi dan kemampuan untuk membayar.

Keterpisahan dalam pemilikan, ditunjukkan para produsen memiliki barang dan jasa yang mereka tidak ingin konsumsi sendiri, sedangkan konsumen ingin menilai barang dan jasa yang tidak mereka miliki sendiri.

Perbedaan dalam jumlah, ditunjukkan para produsen lebih suka memproduksi dan menjual dalam jumlah yang besar, sedangkan konsumen lebih suka membeli dan mengkonsumsi dalam jumlah yang kecil.

Perbedaan dalam keragaman, ditunjukkan para produsen mengkhususkan diri di dalam menghasilkan sejumlah barang dan jasa yang terbatas ragamnya, sedangkan konsumen membutuhkan keragaman yang luas.

Dengan memperhatikan hal-hal yang dikemukakan diatas, maka diperlukan suatu sistem sebagai suatu pendekatan untuk mengatasi jarak dan perbedaan itu, agar semua fungsi pemasaran yang universal dapat berjalan untuk memenuhi perannya kedalam aktivitas pembelian , penjualan, pengangkutan, penyimpanan, pembakuan, pembagian menurut mutu (grading), pembelanjaan, pengambil resiko dan informasi pasar. Jadi pendekatan sistem disini memperlihatkan kedalam suatu fungsi pemasaran yang bersifat makro dalam merumuskan suatu konsep pemasaran yang berhasil dengan sistem :

Gambar 9

Sistem tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut :

KEPUASAN PEMBELI, adalah suatu pendekatan dalam kerangka merumuskan konsep pemasaran yang bertolak dari keinginantahuan, apakah yang sebenarnya yang dibeli oleh pelanggan, pada saat mereka melakukan bisnis dengan kita ? Jawabannya terletak kedalam dua hal yaitu pertama satu rasa senang dan puas, kedua pemecahan atas masalah, oleh karena itu diperlukan organisasi yang sadar pelanggan untuk memenangkan dan memeliharanya.

PEMASARAN MAKRO, adalah merupakan proses sosial yang mengarahkan arus barang-barang dan jasa-jasa dari suatu perekonomian dari produsen ke konsumen dengan cara yang seefektif mungkin dalam menyesuaikan penawaran dan permintaan dan mencapai tujuan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Inilah peran-peran dalam fungsi pemasaran yang bersifat universal untuk diketahui keberadaannya karena setiap masyarakat memerlukan suatu sistem ekonomi dan bagaimana keputusan-keputusan ekonomi dibuat serta kebebas-an memilih maksimum oleh konsumen.

PEMASARAN MIKRO, adalah pemahaman atas konsep pemasaran terhadap keberhasilan masa depan yang ditopang dengan pondasi yang kita sebut dengan 1) orientasi pasar, 2) jumlah penjualan yang dapat menguntungkan, 3) koordinasi dari kegiatan pemasaran. Sejalan dengan pelaksanaannya dapat membawa pengaruh tiga perubahan yang berhubungan dengan 1) perubahan dalam sikap mana-jemen, 2) perubahan dalam struktur organisasi, 3) perubahan dalam metode-metode dan prosedur manajemen.

SIM PEMASARAN, adalah sesuatu yang mempengaruhi, berkelanjutan, struktur orientasi masa depan dari manusia, peralatan, dan disain prosedur-prosedur untuk menghasilkan dan proses satu aliran informasi untuk membantu pengambilan keputusan manajerial dalam suatu program pemasaran organisasi yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan pasar, produk, harga, promosi, pemasaran dalam bidang khusus, perencanaan dan evaluasi atas usaha pemasaran.

MEMENANGKAN DAN MEMELIHARA PELANGGAN :

Pengetahuan dan keterampilan yang mendukung keinginan setiap anggota organisasi untuk memainkan peran dalam memenangkan dan memelihara pelanggan ditentukan oleh adanya pelayanan yang berkualitas terhadap pelanggan. Sukses untuk melaksanakan pencapaian tujuan dalam mewujudkan pelanggan seumur hidup diperlukan langkah secara berkelanjutan yang terkait dengan aktivitas meme-nangkan dan memelihara pelanggan itu sendiri, oleh karena itu di-perlukan pemahaman atas hal-hal : 1) Setiap pegawai didorong untuk memahami makna yang sangat mendasar mengenai pelayanan ; 2) Setiap pegawai apapun perannya harus dapat memberikan konstribusinya dalam menanggapi keluhan pelanggan ; 3) Adanya sistem ganjar yang dapat mendorong bagi setiap pegawai yang dapat memberikan pelayanan yang prima.

Langkah pertama, menyangkut kemampuan untuk menangkap hal-hal yang berkaitan dengan persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan adalah perbedaan anatara apa yang mereka peroleh dan apa yang mereka harapkan. Oleh karena itu diperlukan langkah yang terkait dengan kemampuan membangun citra pelayanan yang berkuali-tas di pikiran setiap pelanggan dengan : 1) merumuskan profil pe-langgan dengan kejelasan atas segmen pasar yang dilayani ; 2) apapun bisnis anda haruslah dipandang dengan kaca mata pelanggan ; 3) memiliki sikap berhati-hati artinya tidak memberikan harapan yang tidak realistis dengan kemampuan ; 4) timbulkan image dapat memecahkan masalah pelanggan sebagai peluang dalam memeberikan kualitas pelayanan ; 5) pupuklah hubungan yang harmonis dengan pelanggan sebagai suatu hubungan yang khusus ; 6) memelihara hubungan dengan memberikan informasi seluas mungkin dan bermanfaat bagi mereka.

Langkah kedua, agar setiap orang dapat memberikan konstribusinya, maka mereka memulai dengan pertanyaan yang dapat menggugah pikirannya seperti “apakah kebutuhan yang belum terpenuhi itu ? “ Sejalan dengan timbulnya pemikiran tersebut, maka mereka akan melakukan yang diharapkan dapat dilakukan : 1) Usahakanlah agar selalu terlebih dulu mendifinisikan pasar, ketimbang mendifinisikan bakat dan kekuatan organisasi anda ; 2) ajukanlah pertanyaan kepada pelanggan anda atau calon (apakah kebutuhan yang belum terpenuhi itu) ; 3) ciptakan produk atau jasa baru atau modikasi dari yang lama ; 4) untuk menciptakan yang baru, kumpulkanlah berbagai gagasan apa saja ; 5) cermatilah kecenderungan yang terjadi ; 6) lihatlah sekitar sebelum melompat ; 7) sekali anda membuat keputusan, bergeraklah maju ; 8) bersiap-siaplah untuk menghadapi tantangan bila suatu gagasan baru tidak dapat diterapkan.

Lngkah ketiga, rumuskanlah secara jelas yang berkaitan dengan bagaimana sistem penghargaan itu diberikan agar tercipta daya dorong untuk memotivasi setiap orang dalam menghadapi pelanggan dengan 1) perlu mendapatkan perhatian terhadap hal-hal yang dihargai untuk peran yang dikerjakan orang seperti orang yang berperan langsung berhadapan dengan pembeli ; 2) bagaimana caranya agar tetap memperhatikan pelanggan yaitu dengan adanya kejelasan sistem pengukuran penampilan pelayanan dan pimpinan bertanggung jawab hal tersebut ; 3) rumuskan rencana tindakan untuk a) perlakukanlah pelanggan seperti mitra seumur hidup, b) mintalah gagasan peningkatan kualitas dari semua karyawan, c) ciptakanlah satu strategi pelayanan, d) pilihlah karyawan garis depan dengan hati-hati dan latihlah mereka, e) tetapkanlah sasaran-sasaran kualitas pelayanan dan penghargaan yang hendak anda berikan, f) belajarlah diluar ling-kungan kerja anda dan kenalilah apa yang terjadi diluar, g) jagalah perilaku untuk tidak cepat puas dan selalu bersikap sabar.

PERNYATAAN EFEKTIF DALAM KEPUASAN PEMBELI :

DARI SISI KETERAMPILAN KOMUNIKATIF

• Unggul di dalam komunikasi yang efektif dan positip.
• Berkomunikasi dengan terbuka penuh semangat dan efektif.
• Berkomunikasi dengan jelas dan ringkas.
• Berkomunikasi dengan keyakinan dan kepercayaan.
• Mengkomunikasikasikan harapan2 tinggi.
• Meningkatkan keefektifan komunikasi dan interaksi dengan orang lain.
• Menyediakan satu suasana yang menghasilkan rangsangan dan saling menukar ide-ide.
• Unggul di dalam komunikasi antar perorangan.
• Unggul didalam berkomunikasi dengan individu dan kelompok-kelompok kecil.
• Melaksanakan pertemuan2 yang meraih hasil.
• Merupakan seorang partispan pertemuan yang mahir.
• Membuat satu dampak kuat di pertemuan-pertemuan.
• Memperagakan prosedur2 dan teknik2 panitia yang kuat.
• Unggul di dalam antar aksi dan antar komunikasi.
• Memperlihatkan keterampilan2 negosiasi yang sehat.
• Mengkomunikasikan sasaran2 dan pengaruh ide dan konsep secara efektif.
• Mengkomunikasikan keputusan2 manajemen dengan efektif untuk meraih pengertian dan persetujuan.
• Berkomunikasi keatas, bawah dan samping secara efektif.
• Berkomunikasi secara efektif horizontal dan vertical.
• Mengembangkan dan memelihara komunikasi dua arah.
• Terus memberitahukan departemen mengenai perkembangan2 yang mempengaruhi fungsi mereka.
• Berkomunikasi dengan keyakinan pada atasan, sebaya dan bawahan.
• Berkomunikasi dengan rekan2 secara efektif.
• Memanfaatkan seluruh saluran komunikasi secara optimal.
• Memperlihatkan pertimbangan baik di dalam menyeleksi mode komunikasi yang benar.
• Mengetahui kapan meliput topik2 dengan surat atau telepon.
• Memanfaatkan secara tepat komunikasi formal vs informal.
• Mendorong semangat komunikasi terbuka untuk meraih pengertian bersama.
• Memperlihatkan kemampuan untuk berkomunikasi dan melaksanakan .
• Merupakan seorang komunikator yang kompeten.
• Mnanyakan pertanyaan2 yang tajam.
• Menghindar tanggapan2 yang tidak produktip.
• Menghindar gangguan komunikasi.
• Membuat kesan2 terbaik di semua situasi.
• Memperlihatkan teknik dan etika menelpon yang benar.
• Memanfaatkan pesawat telepon dan mesin fax secara efektif.
• Menjelaskan dan memahami secara efektif kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur organisasi.
• Menterjemahkan informasi2 rumit secara efektif kedalam istilah umum.
• Mengorganisir ide-ide secara efektif bagi persentasi2 dan kesepakatan yang logis.
• Tanggap cepat terhadap komunikasi lisan dan tulisan.
• Unggul di dalam komunikasi lisan dan non-lisan.
• Menggunakan bahasa lisan dan tulisan yang benar.
• Menguasai satu perbendaraan yang kuat.
• Memperagakan ketegasan yang produktif.
• Tegas tanpa berlaku agresif berlebihan.
• Menyampaikan kesan yang mencerminkan kebaikan diatas humas organisasi.
• Unggul di dalam menangani masyarakat.
• Memanfaatkan keterampilan komunikasi untuk mendukung citra organisasi.
• Mempromosikan kebijakan organisasi, kualitas produk dan repu-tasinya.
• Mempertunjukkan dan menyampaikan satu citra organisasi yang menyenangkan.

DARI SISI INISIATIP

• Membuktikan tingkat tinggi inisiatip.
• Bijaksana di dalam melaksanakan tugas tanpa arah.
• Unggul di dalam pengarahan diri dan pelengkahan diri.
• Membuktikan kemampuan untuk berpikir sepanjang jalur-jalur asala yang membangun.
• Merupakan seorang pencari solusi.
• Memulai solusi-solusi secara efektif.
• Membuat saran-saran yang praktis.
• Memperagakan perusahaan yang mandiri.
• Waspada terhadap peluang2, teknik2 dan pendekatan baru.
• Merebut semua peluang-peluang.
• Menjelajahi peluang-peluang baru.
• Menangkap semua peluang-peluang.
• Menciptakan dan menginovasikan metode2 dan prosedur baru dan unik.
• Menerapkan konsep2 dan teknik2 baru secara efetif.
• Menemukan jalan yang baru dan lebih baik untuk melaksanakan pekerjaan secara kontinyu.
• Sangat aktip dan ingin tahu untuk mencoba pendekatan2 baru.
• Memperagakan ketangkasan di dalam mengantisipasi dan meng-hadapi situasi yang tidak diharapkan.
• Menyediakan peluang2 untuk inisiatip.
• Mengumpulkan dn menyediakan data sebelum dibutuhkan.
• Merencanakan dan mengorganisir dengan dan tanpa pertolongan.
• Bertindak tanpa ter-buru2 atau hambatan yang tidak semestinya.
• Mengerjakan hal2 tanpa diberitahu.
• Mengemban kualitas untuk mengetahui apa2 yang dilakukan.
• Bertanggung jawab bila instruksi rinci tak ada.
• Membutuhkan pengawasan yang minim.

11. KEUANGAN DAN AKUNTANSI BERBASIS KEPEN-
TINGAN STAKEHOLDERS.

Kita hidup dalam zaman yang terus berubah dan tingkat perubahan itu pun terus meningkat, sehingga kita sebut dalam gelombang ketidak pastian pada semua aspek kehidupan ini.

Oleh karena itu diperlukan suatu model keuangan dan akuntansi sebagai alat untuk memfokuskan pada nilai perusahaan, sehingga tiga tiang manajemen keuangan berupa hipotesis efesiensi pasar, biaya oportunitas pasar modal dan jaminan yang diharapkan atas resiko, diperlukan pengelolaannya dengan mempertimbangkan dari sisi kepentingan stakeholders.

Manajemen keuangan beroperasi dalam perusahaan dan bersudut pandang yang lebih luas dengan sikap antisipatif dengan memperhatikan faktor ekstern dan intern yang dihubungkan dengan 1) agar berfungsi, entitas perlu menarik pembiayaan, yang berkisar dari berbagai pinjaman hybrid sampai ekuitas, 2) pembiayaan seperti itu menyediakan alat bagi perusahaan untuk melakukan investasi pada aktiva yang akan digunakan dalam unit bisnis pokok, 3) manajer memanfaatkan aktiva ini untuk memuaskan kebutuhan pasar dengan tetap memiliki pandangan untuk menghasilkan laba, 4) laba tersebut disisihkan baik sebagai distribusi (bunga, pajak, dividen) maupun sebagai laba yang ditahan, 5) laba ditahan secara efektif, melengkapi pembiayaan eksternal dalam ekspansi dana. Dengan kata lain, hanya ada dua sumber dana untuk ekspansi : penahan laba atau pembiayaan eksternal.

Dengan memperhatikan hal-hal yang dikemukakan diatas, maka pen-dekatan sistem dalam pengelolaan keuangan dan akuntansi sbb.:

Gambar 10

Secara singkat pendekatan sistem tersebut dapat dirumuskan sbb. :

KEPENTINGAN STAKEHOLDERS, adalah menggambarkan hubungan suatu perusahaan dengan financial stakeholders, dapat dinyatakan dalam arus kas : jika pembiayaan lebih besar daripada distribusi, perusahaan adalahpenyerap kas bersih ; jika distribusi lebih besar daripada pembiayaan, perusahaan adalah penghasil kas bersih. Demikian pula, hubungan antara perusahaan dengan unit bisnisnya dapat dinyatakan dalam arus kas : unit usaha yang melakukan ekspansi lebih cepat daripada yang dapat dibiayai oleh laba perusa-haan adalah penyerap kas bersih ; sebaliknya jika laba lebih besar daripada ekspansi, perusahaan adalah penghasil kas bersih.

MANAJEMEN KEUANGAN, adalah kerangka konseptual dalam mengelola keuangan yang terkait dengan nilai perusahaan yang bertumpu kepada ketiga keputusan keuangan berupa rasio hutang / kekayaan, struktur pinjaman dan kebijakan dividen akan membentuk basis rencana jangka panjang keuangan. Kesemuanya berkaitan satu sama lain dan membentuk suatu rencana struktur modal perusahaan.

MANAJEMEN AKUNTANSI, adalah kerangka konseptual dalam mengelola dan menyajikan pelaporan dan pengendalian yaitu disatu sisi menyajikan laporan ekstern yamh mencakup pelaporan kepada pemegang saham dan pihak lainnya yang berkepentingan dan disisi lain laporan intern adalah bagian penting pengendalian manajemen.

MENGELOLA INVESTASI, adalah kerangka konseptual dalam mengelola investasi berdasarkan pendekatan ROI ( the return on investment ) concept sebagai kunci perencanaan untuk pertumbuhan menciptakan laba dengan menggunakan komponen rasio dari ROI untuk meningkatkan hasil operasi dan keuangan.

PENGENDALIAN DAN STRUKTUR KEUANGAN :

Dalam suatu ekonomi pasar, maka pengukuran finansial memainkan peran penting, oleh karena itu fungsi kebendaharaan yang mencakup pemupukan modal, manajemen modal kerja serta investasi modal dan fungsi pengendalian yang mencakup pengoperasian sistem pengawasan keuangan yang diarahkan untuk menggambarkan aspek finansial dari semua aktivitas perusahaan yang direncanakan dan yang aktual.

Dengan pemahaman hal yang disebut diatas, maka ROI dipergunakan sebagai suatu pendekatan dalam merumuskan perencanaan untuk pertumbuhan yang menguntungkan sebagai suatu konsep dengan pemahaman atas 1) mempergunakan komponen ratio ROI terhadap peningkatan hasil operasi dan keuangan ; 2) perencanaan laba dan pengembalian investasi ; 3) menetapkan istimasi atas biaya modal ; 4) mengembangkan proses penganggaran permodalan ; 5) teknik analisis dan kebutuhan informasi untuk proposal penanaman.

Dari sisi pengendalian, maka sistem akuntansi yang dirancang akan mengembangkan prosedur-prosedur dengan konsep terpadu atas :
1) laporan dan pertanggungan jawaban ; 2) anggaran dan pengendalian anggaran ; 3) penetapan harga pokok dan penetapan harga intern ; 4) penetapan dan pengendalian kas ; 5) audit intern dengan dua tingkat pengendalian yang disebut dengan pengendalian langsung dan pengendalian tak langsung. Dengan lima pokok persoalan ini dijadikan prinsip-prinsip yang menata perancangan dan pengoperasian sistem pengawasan keuangan dalam organisasi bisnis. Harus disadari bahwa kebutuhan penting tertentu suatu sistem adalah spesifik terhadap jenis bisnis tertentu, oleh karena itu kebutuhan spesifik demikian sangat potensial banyaknya sehingga dalam pemikiran konsep dimaksudkan hanya untuk menyajikan sebagai titik tolak untuk menyajikan prinsip dan pendekatan yang diterapkan terhadap situasi kegiatan usaha yang beraneka ragam.

Sedangkan dari sisi struktur keuangan akan mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan pilihan, jumlah dan ketepatan jenis dana yang diperoleh dari berbagai sumber harus direncanakan dalam kaitannya dengan proyeksi sumber dan penggunaan dana yang menunjukkan baik kebutuhan dana maupun kemampuan mengembalikan biaya dana yang harus dibayar secara tunai dibawah berbagai kondisi bisnis yang mungkin terjadi di masa datang. Sejalan dengan pemikiran tersebut, yang menjadi masalah akan menyangkut hal-hal dengan 1) struktur modal yang akan mencakup merekayasa penggunaan dana seefesien mungkin dengan melaksanakan pembiayaan yang seimbang antara kekayaan dan hutang ; 2) pembiayaan pinjaman sebagai kunci permintaan untuk menganalisis dan pengaruhnya penanaman modal yang akan datang mengenai arus laba dan ruginya ; 3) penawaran hak ekuitas sebagai penawaran saham secara tunai kepada pemegang saham berdasarkan perbandingan yang dimilikinya.

Setiap organisasi perusahaan akan sadar kedalam ruang lingkup bisnisnya, oleh karena itu ia juga tidak dapat melepaskan diri dari peru-bahan lingkungan eksternal yang serba komplek dan cepat berubah, sehingga diperlukan pemahaman atas 1) presensi akuntansi ekster-nal adalah yang berkaitan dengan penyajian / persentasi perkiraan harus mencakup pertimbangan berbagai kategori orang yang akan membacanya ; 2) perolehan dan penggabungan adalah yang berkaitan keuntungan ekonomis potensial ; 3) keuangan internasional adalah yang berkaitan dengan masalah pengumpulan, penggunaan dan perlindungan asset keuangan internasional perusahaan yang tergabungan didalamnya ; 4) perpajakan yang harus dipahami seca-ra mendalam dan pengaruhnya terhadap keuntungan.

PERNYATAAN EFEKTIF DALAM KEPENTINGAN STAKEHOLDERS :

DARI SISI PERTIMBANGAN

• Unggul didalam membuat pertimbangan2 yang tepat.
• Dapat dipercaya untuk memakai pertimbangan2 yang baik.
• Unggul di dalam mengembangkan pandangan2 baru.
• Mengikuti aneka ragam pendekatan di dalam aktivitas dan teknik.
• Mendiagnosa secara efektif situasi2 dan kondisi.
• Mengevaluasi secara sistimatis pilihan demi akibatnya.
• Mempertimbangkan jalur2 alternatip.
• Memperagakan pertimbangan suara hati yang istimewa.
• Melatih pertimbangan atas nama yang lain.

DARI SISI INISIATIP

• Menemukan jalan2 yang baru dan lebih baik untuk melaksanakan pekerjaan secara berkelanjutan.
• Sangat aktip dan ingin tahu untuk mencoba pendekatan2 baru.
• Memperagakan ketangkasan di dalam mengantisipasi dan menghadapi situasi yang tidak diharapkan.
• Menyediakan peluang2 untuk inisiatip.
• Mengumpulkan dan menyediakan data sebelum kebutuhan.
• Merencanakan dan mengorganisir dengan dan tanpa pertolongan.
• Bertindak tanpa keburu2an atau hambatan yang semestinya.
• Mengerjakan hal-hal tanpa diberitahu.
• Mengemban kualitas untuk mengetahui apa2 yang telah dilaku-kan.
• Bertanggung jawab bila instruksi rinci tidak ada.
• Membutuhkan pengawasan yang minim.

DARI SISI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

• Mengadakan satu pengawasan pembuatan keputusan yang luas.
• Meramalkan akibat2 dari keputusan.
• Unggul di dalam meramalakan efek2 keputusan.
• Mengkomunikasikan keputusan2 dengan keyakinan.
• Membuktikan satu kemampuan untuk mempengaruhi secara efektif para pembuat keputusan.
• Membuat keputusan2 sehat dibawah paksaan.
• Menghindar keputusan2 yang semberono.
• Memusatkan pada pengembangan2 solusi.
• Unggul mencari solusi2.
• Mengembangkan solusi2 yang baru.
• Unggul di dalam menyarankan solusi2 pilihan.
• Mengembangkan solusi2 yang panjang akal.
• Berjuang meningkatkan ketegasan.
• Mendorong semangat pembuatan keputusan pada tingkat bawah.

12. SUMBER DAYA MANUSIA BERBASIS KOMPETENSI

Pemahaman atas pengelolaan sumber daya manusia dapat didekati melalui pendekatan prinsip sebagai pondasi dasar yang mencakup 1) manusia sebagai aktiva yang sangat berharga ; 2) keputusan strategik ; 3) budaya organisasi ; 4) intergrasi kedalam hubungan antar individu, kelompok dan organisasi.

Pendekatan manusia sebagai aktiva yang sangat berharga sudah disadari sebelum memasuki abad 21. Oleh karena itu dalam masa kini dan masa depan telah ditunjukkan bahwa manusia adalah modal intelektual yang sangat berharga, sehingga diperlukan kemampuan dan keterampilan mengelolanya berbasiskan pengetahuan.

Pendekatan keputusan strategik menunjukkan adanya kejelasan yang berkaitan dengan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi dan kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya manusia sebagai rencana jangka panjang dan pendek.

Pendekatan budaya organisasi menunjukkan adanya kejelasan yang berkaitan dengan nilai, norma, wewenang dan ganjar dalam menuntun setiap individu dalam bersikap dan berperilaku.

Pendekatan intergrasi dalam hubungan menunjukkan hubungan yang harmonis dalam berkomunikasi untuk masing-masing individu agar setiap peran, tugas, fungsi dan pekerjaan dapat berjalan sesuai dengan harapan bagi semua pihak yang mempunyai kepentingan atasnya.

Dengan memperhatikan pendekatan yang dikemukakan diatas, maka penerapan manajemen sumber daya manusia dapat dirumuskan kedalam pendekatan sistem berbasiskan kompetensi untuk menggariskan segala sesuatu yang terkait dengan organisasi, proses, manusia dan teknologi.

Jadi penerapan sumber daya manusia dengan pendekatan sistem dapat digambarkan dan dijelaskan secara singkat sebagai berikut :

Gambar 11

KOMPETENSI, adalah suatu pendekatan sistem kedalam pengembangan sumber daya yang berbasis kompetensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap & perilaku kedalam platform yang sejalan terhadap pengembangan organisasi, proses, manusia dan teknologi.

BUDAYA ORGANISASI, adalah suatu pendekatan sistem kedalam interaksi perliku kedalam organisasi secara terpola dalam nilai, norma, wenang dan ganjar menghadapi lingkungan pemasok, pelanggan, masyarakat, pemerintah, teknologi dan ekonomi.

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA, adalah suatu pendekatan sistem dalam usaha meningkatkan konstribusi produktif dari manusia terhadap organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan yang berkaitan dengan kemasyarakatan, keorganisasian, fungsional, individu dan kelompok.

PERILAKU ORGANISASI, adalah suatu pendekatan sistem dalam peneterapan pengetahuan tentang bagaimana orang-orang bertindak di dalam organisasi, sehingga 1) orang-orang membentuk sistem sosial intern organisasi ; 2) struktur menentukan hubungan secara formal orang-orang dalam organisasi ; 3) teknologi menyediakan sumber daya yang digunakan orang-orang untuk bekerja dan sumber daya itu mempengaruhi tugas yang mereka lakukan ; 4) semua orga-nisasi beroperasi di dalam lingkungan luar.

KEPUTUSAN STRATEGIK TENTANG SDM :

Peningkatan nilai perusahaan lebih banyak ditentukan oleh pengembangan sumber daya manusia, oleh karena itu manusia dikatakan sebagai aktiva yang sangat berharga yang didalamnya tersembunyi apa yang disebut dengan modal intelektual.

Bertolak dari pemikiran tersebut diatas, maka keputusan strategik tentang sumber daya manusia dapat dirumuskan sebagai berikut :

VISI SUMBER DAYA MANUSIA adalah membangun CITRA manusia yang berkompetensi dengan memiliki BUDAYA yang bersikap antisipatif dan berperilaku proaktif yang didukung oleh ARAH peningkatan kreativitas individu dan kelompok dalam mewujudkan TUJUAN organisasi yang memiliki kemampuan berinovasi secara berkelanjutan untuk meningkatkan nilai tambah.

MISI SUMBER DAYA MANUSIA adalah mengembangkan dan membina manusia berbasis kompetensi yang mampu memenuhi kebutuhan sebagai aktiva yang sangat berharga dalam organisasi yang siap berperan menghadapi tantangan dalam meraih peluang-peluang masa depan yang penuh dengan ketidak pastian.

Jadi pernyataan VISI menggambarkan citra ideal sebagai tempat yang dituju atau perjalanan yang hendak dilaksanakan, sedangkan pernyataan MISI adalah sarana untuk mengadakan perjalanan yang
akan dipergunakan bagaimana menjalankan usaha yang hendak ditempuh. Sejalan dengan visi dan misi tersebut dirumuskanlah TUJUAN-TUJUAN yang hendak dicapai secara kualitatip dan selanjutnya dituangkan kedalam SASARAN-SASARAN yang hendak di capai secara kuantitatip untuk jangka panjang (lima tahun) sesuai dengan lingkup usaha yang hendak dilaksanakan.

Untuk merealisasikan visi, misi, tujuan dan sasaran sesuai dengan lingkup usaha yang ditempuh, maka dirumuskan STRATEGI sebagai suatu pendekatan untuk merealisasikannya.

Pelaksanaan operasionalnya dituangkan kedalam rumusan dengan menetapkan seperangkat KEBIJAKSANAAN untuk mengelola sumber daya manusia. Kebijaksanaan yang dirumuskan itu akan mencakup proses dalam pengembangan dan pembinaan pemgelolaan SDM yang meliputi : 1) perencanaan SDM, 2) iklim organisasi, 3) sistem imbal jasa dan penghargaan, 4) rekrutasi, seleksi dan penempatan, 5) pengembangan karir, 6) manajemen kinerja.

Keenam proses tersebut yang dituangkan kedalam seperangkat kebi-jaksanaan yang harus ditunjang tersedianya HRMIS dengan prinsip-prinsip kunci perancangan yang mencakup 1) competency based, 2) learning organization, 3) performance management, 4) continous improvement, 5) customer driver.

Bertitik tolak dari pemikiran yang dikemukakan diatas, maka dalam usaha untuk menjembatani kesenjangan dari cara lama menuju ke cara baru, maka diperlukan satu cara berubah perilaku organisasi.

Model perilaku organisasi cara lama bertitik tolak dari konsep stabilitas dan sentralistis, sehingga setiap perubahan yang dilakukan hanya untuk mempertahankan status quo. Sebaliknya model perilaku organisasi cara baru bertolak dari konsep fleksibilitas dan mudah dikontrol , sehingga perubahan yang direncanakan sesuai dengan tunttan perubahan lingkungan itu sendiri. Dalam kondisi yang demikian maka diharapkan kreativitas individu dan kelompok dapat tumbuh dan berkembang yang dapat mendorong inovasi organisasi sebagai suatu langkah melaksanakan perubahan yang berencana dan berkesinambungan.

Perilaku organisasi cara lama : Perilaku organisasi cara baru :

1. Logis …………………………. 1. Imajinatif
2. Rasional ……………………… 2. Spekulatif
3. Analitis ………………………. 3. Konseptual
4. Teknis ……………………….. 4. Interpersonal
5. Ketakutan ……………………. 5. Impulsif
6. Tahu …………………………. 6. Belajar
7. Kepastian ……………………. 7. Mencari
8. Aktif ………………………… 8. Reseptif
9. Intelektual …………………… 9. Intuitif
10. Terstruktur ………………….. 10. Terbuka
11. Sekuensial ………………….. 11. Simultan
12. Literal ………………………. 12. Metafora
13. Konvergen ………………….. 13. Divergen
14. Konservatif ………………… 14. Evolusioner
15. Hati-hati …………………… 15. Empati
16. Kompetitif ………………… 16. Avonturir
17. Menghakimi ………………… 17. Kooperatif
18. Curiga ………………………. 18. Menerima

Rumusan :

LOGIS, berpikir berdasarkan apa yang telah terjadi di masa lalu daripada apa yang akan terjadi di masa mendatang.

IMAJINATIF, Berpikir tanpa dibatasi oleh kenyataan pada saat itu ; berpikir dengan didasarkan pada kemungkinan.

RASIONAL, keputusan lebih berdasarkan akal sehat dan obyektivi-tas daripada emosi dan intuisi.

SPEKULATIF, berpikir lebih berdasarkan pada asumsi, intuisi, dan perkiraan daripada analisis dan fakta.

TEKNIS, sangat menghargai pengetahuan yang bersifat sains, ob-yektif dan praktis.

INTERPERSONAL, manusia dihargai dan diperlakukan sebagai aset yang paling penting dalam organisasi ; penekanannya pada individu dan konstribusinya.

KETAKUTAN, inovasi, perubahan dan sesuatu yang hampir sama sekali baru atau berbeda dihambat oleh ketakutan akan konskuensi dan ketidaktahuan.

IMPULSIF, ide dan kesempatan baru diterima secara terbuka dan didukung kesempatan akan diambil pada kesempatan pertama.

TAHU, memerlukan jawaban atau penjelasan untuk semua yang ter-jadi.

BELAJAR, mau bertanya dan sangat ingin tahu, berkemauan dan terbuka terhadap informasi ; akan mengubah arah bila diberi alasan mengapa harus melakukannya.

KEPASTIAN, perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dapat dibuktikan ; kebutuhan untuk mendapatkan pembe-naran tentang segala sesuatu setiap saat.

MENCARI, tidak perlu secara pasti ; suka mencari tahu dan terus melanjutkan pencarian.

AKTIF, selalu berusaha mengerjakan sesuatu dan mempengaruhi sesuatu ; tidak puas membiarkan sesuatu lepas begitu saja ; tidak membiarkan sesuatu selesai dengan sendirinya.

RESEPTIF, terbuka terhadap saran dan bantuan ; akan membiarkan segala sesuatunya untuk sementara waktu agar dapat terselesaikan dengan sendirinya ; tidak selalu menyela.

INTELEKTUAL, budaya lebih berdasarkan obyektivitas dan proses rasional daripada subyektivitas dan proses emosional.

INTUITIF, data yang bersifat subyektif, perasaan dan naluri dinilai secara setara ; mengerti tanpa ada bukti diterima sebagai kebenaran.

TERSTRUKTUR, memperhatikan segala hal yang berhubungan
dengan proses , kebijakan, prosedur, batasan, difinisi, peraturan dan undang-undang.

TERBUKA, lebih mementingkan hasil akhir daripada cara menca-painya , banyak keleluasaan untuk bergerak dan berpikir ; beberapa prosedur / preseden.

SEKUENSIAL, menghadapi sesuatu secara berurutan, teratur dan bergantian.

SIMULTAN, memproses lebih dari satu hal pada satu waktu, melakukan beberapa hal secara bersama-sama.

LITERAL, Menganggap segala sesuatu seperti apa adanya ; me-nganggap nya jelas dan tidak mendua arti.

METAFORA, dapat melihat sisi yang berbeda dalam sesuatu hal, menginterprestasikan dengan banyak cara.

KONVERGEN, menyempitkan pemikiran sampai pada satu pilihan, satu alternatif saja.

DIVERGEN, terbuka dalam cara berpikir, selalu memiliki banyak alternatif kemungkinan dan pilihan.

KONSERVATIF, lambat dalam beradaptasi dan berubah, menahan diri, menarik diri, terkendali, menghindari resiko.

EVOLUSIONER, selalu berubah, tumbuh dan belajar ; tidak pernah sama.

HATI-HATI, memperhatikan konskuensi, hati-hati dan waspada.

EMPATI, mengerti perasaan pihak lain, sadar akan pengaruhnya terhadap lingkungan.

KOMPETITIF, harus menang,menjadi yang terbesar, terbaik, pertama, mengalahkan pihak lain ; kalau tidak menang berarti kalah.

AVONTURIR, secara aktif mencari hal dan pengalaman yang baru, menyukai hal yang masih belum diketahui.

MENGHAKIMI, mempunyai opini dan memberikan evaluasi kritis tentang segala sesuatunya ; cepat mengambil keputusan.

KOOPERATIF, bekerja sama dan membantu yang lain demi keun-tungan bersama ; membentuk kerja sama.

CURIGA, berpikir negatif tentang segala sesuatu walaupun hanya dengan sedikit atau tanpa bukti, selalu curiga.

MENERIMA, menerima sesuatu seperti apa adanya ; terbuka terhadap ide-ide ; tidak memilih yang lain demi kepentingannya.

PERNYATAAN EFEKTIF DALAM KOMPETENSI :

DARI SISI KOMPETENSI :

• Membuktikan performansi kompeten.
• Proyek-proyek suatu kompetensi khusus.
• Membuktikan satu tingkat keahlian yang tinggi.
• Membuktikan keefektifan pribadi yang kuat.
• Membuktikan kompeten antar perorangan yang kuat.
• Percaya dalam diri sendiri.
• Merasa sangat yakin akan kemampuan.
• Memanfaatkan kemampuan secara total.
• Memaksimalkan kekuatan2 perorangan.
• Unggul di dalam aplikasi2 keterampilan yang efektif.
• Memperagakan satu tingkat kompeten teknik yang tinggi.
• Mencampurkan keterampilan2 manajemen dengan keahlian teknis secara efektif.
• Menyatukan kompeten teknik dengan kesetiaan dan daya ketergantungan.
• Membuktikan keterampilan2 dan strategi yang sangat canggih.
• Memiliki keterampilan2 khusus.
• Berketerampilan tinggi didalam semua fase jabatan.
• Unggul di dalam keterampilan2 operasi.
• Memperagakan atensi istimewa terhadap keterampilan teknis.
• Secara khusus efektif di dalam pengembangan dan pemanfaatan keterampilan2 dukungan.
• Berkualifikasi unik.
• Menitik beratkan secara efektif diatas kekuatan2.
• Mengutamakan kekuatan2.
• Terus mengetahui kecenderungan2 serta pengembangan yang terakhir.
• Mempertajam dan memperbaharui secara konstans keterampilan
• Mengabdikan waktu dan upaya terhadap pengembangan kompeten profesional.
• Menghadiri workshop dan seminar2 untuk meningkatkan prestasi jabatan.

DARI SISI KETERAMPILAN ANALITIK

• Memperlihatkan satu daya penalaran analitis yang kuat.
• Memperagakan kualitas analitis yang kuat.
• Memperlihatkan kemampuan yang kuat untuk menganalisa masalah.
• Sangat metodis didalam memecahkan masalah.
• Memakai anekaragam teknik analitis untuk memecahkan masalah
• Unggul didalam menganalisir dan menyelaraskan prosedur kerja
• demi efesiensi maksimum.
• Secara seksama menganalisir kondisi dan mencapai keputusan mandiri.
• Menganalisir informasi relevan dengan efektif.
• Unggul didalam pemikiran analitis.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.