Archive for the ‘Demokrasi’ Category

DINAMIKA SOSIAL POLITIK LOKAL

January 26, 2009

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Batang; panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; mso-font-alt:바탕; mso-font-charset:129; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1342176593 1775729915 48 0 524447 0;} @font-face {font-family:”\@Batang”; panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; mso-font-charset:129; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1342176593 1775729915 48 0 524447 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Batang; mso-fareast-language:KO;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:3.0cm 109.35pt 6.0cm 2.0cm; mso-header-margin:48.2pt; mso-footer-margin:1.0cm; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

PENDAHULUAN

Menjelang Pemilu 2009, kita akan dihadapkan gelombang perubahan yang komplek dan cepat yang terkait dengan „Dinamika Sosial Politik Lokal“. Disatu sisi kita dihadapkan pada „dinamika perubahan“ artinyan bila kita tidak dapat menangkap perubahan itu berarti kita akan kehilangan peluang untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dalam NKRI, jangan sampai kita kehilangan napas karena bila kita salah melangkah dalam dahur hidup kematian demokrasi. Pada sisi lain kita dihadapkan pada situasi „dinamika sosial“ dan „dinamika politik“ yang menggambarkan gerak masyarakat yang menimbulkan perubahan secara berkelanjutan dalam tata kehidupan lokal dari masyarakat yang bersangkutan.

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dituntut dalam era reformasi ini, untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan agar kekuatan pikiran dapat menuntun perubahan sikap dan perilaku secara radikal sehingga dapat meretas jalan menjadi diri sendiri, dalam dinamika sosial politik lokal.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, marilah kita menyatukan pikiran yang terkait dengan „Dinamika Sosial Politik Lokal“ dalam peran kita sebagai masyarakat untuk menyatukan dinamika pembagunan gerak yang penuh gairah dan penuh semangat dalam melaksanakan Pemilu 2009 sebagai warga masyarakat yang bertanggung jawab.

Oleh karena itu, untuk menyatukan pikiran dalam bersikap dan berperilaku, maka untuk memahami makna dari „Dinamika Sosial Politik Lokal“ diperlukan satu pendekatan yang kita sebut dengan pemahaman dari sudut huruf menjadi kata bermakna sebagai suatu pendekatan pengetahuan bukan ilmu agar kita tidak terjebak oleh pandangan ilmu dari dunia barat.

Jadi pendekatan ini bersandarkan pada pengetahuan dari keterampilan yang dipetik dari pengaalaman yang dapat menjadi daya dorong kedalam dinamika kelompok sebagai sekelompok orang dalam masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan pola pikir dalam dinamika sosial politik lokal.

Dengan pemahaman pendekatan yang diuraikan dibawah ini, diharapkan kita memiliki suatu persepsi dalam pola pikir yang sama untuk ikut serta dalam tuntutan perubahan yang sejalan dengan gerak „dinamika sosial politik lokal, sebagai suatu pembelajaran.

PENDEKATAN UNTUK MENYATUKAN PERSEPSI

Untuk membangun kepribadian manusia yang bertanggung jawab atas “kebebasan berkehendak dalam dinamika sosial politik lokal“ diperlukan perubahan pola pikir secara radikal artinya orang yang mampu menemukan tentang dirinya, maka ia akan selalu bertindak yang sejalan dengan apa yang diperlukan oleh tuntutan perubahan dalam melaksanakan demokrasi yang bertolak dari kerjasama dalam membuat impian menjadi suatu kenyataan.

Apa yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana dalam masa orde reformasi, pemimpin hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan dengan begitu banyaknya lahir partai-partai baru, tapi terbayangkah olehnya mengenai pemberdayaan dinamika sosial politik lokal, yang menuntut perubahan pola pikir, dimana gerakan kelompok haruslah dapat memberikan motivasi baru kedalam apa yang disebut „demokrasi politik“ berlandaskan pola pikir yang radikal dalam menata hidup dengan kebebasan berpolitik.

Oleh karena itu untuk melaksanakan pemberdayaan dalam „Dinamika Sosial Politik Lokal“, maka diperlukan wawasan dalam pemahaman yang lebih mendalam. Sejalan dengan pemikiran tersebut dibawah ini akan diuraikan makna huruf dalam kata DINAMIKA, SOSIAL. POLITIK, LOKAL sebagai suatu pendekatan. Dalam merumuskan makna huruf menjadi suatu kata yang bermakna kedalam untaian kalimat sebagai berikut : (more…)

SISTEM MANUSIA DALAM DEMOKRASI

May 19, 2008

PENDAHULUAN

Seandainya setiap pemimpin dalam kehidupan bangsa dan Negara Indonesia masih percaya bahwa Demokrasi sebagai pandangan hidup untuk menyatukan bangsa Indonesia masa depan, mampukah mereka meluangkan waktu berpikir secara intuitif untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan.

Betapa anehnya semua lapisan masyarakat Indonsia menonton pemimpin dalam eksekutif, legislatif, yudikatif, pelaku ekonomi bahkan tidak heran saat ini para ulama terlibat didalamnya, yang memperlihatkan tidak satu keteladananpun dari kepribadian mereka dapat dijadikan manusia yang dapat diteladani, seperti halnya Soekarno dan Hatta, walaupun mereka berpisah kritik terbuka dan surat menyurat diantara mereka tetap terjalin sebagai muslim menjalin silahturami yang tidak terputus sampai hajat mereka, mungkin kedua tokoh tersebut telah menemukan tentang dirinya.
(more…)

DEMOKRASI DALAM ARAH PERSFEKTIF

May 19, 2008

PENDAHULUAN

Menjelang Pemilu 2009, pada saat ini sudah terdapat pada Departemen Hukum dan Ham 95 buah partai lama dan baru mendaftarkan untuk mendapatkan pengesyahan berbadan hukum. Diantaranya lahir dari partai-partai besar dimana muncul dari gagasan yang ingin pembaharuan tapi tidak tersalurkan akhirnya mereka berontak menderikan partai tandingan.

Begitu mudahnya isu berkembang keinginan angkatan muda mengambil alih tampuk pimpinan dari angkatan tua, isu ambisi para politikus merebut kekuasaan aparil 2009, isu kasus-kasus KKN, isu pemekaran wilayah, isu pilkada, isu wafatnya Soeharto dsb, semua situasi tersebut mudah sekali dijadikan oleh pihak ketiga untuk melahirkan sikap dan perilaku yang pro dan kontra, dalam kehidupan masyarakat yang terpuruk.

Apakah situasi tersebut tidak mendorong manusia menemukan jati diri dalam berusaha untuk kebangkitan ummat dalam usaha mencari penyelesaian masalah daur hidup berbangsa dan bernegara yang sudah hampir pada daur posisi kematian. Mampukah angkatan muda dan tua bersatu menemukan jiwa tanpa topeng kepalsuan. (more…)

MEMBANGUN DEMOKRASI TANPA KONSEP

May 19, 2008

PENDAHULUAN

Saat ini yang sudah kita capai adalah empat kali amendemen UUD ’45 yaitu perubahan pertama disahkan 19 Oktober 19999, perubahan kedua disahkan 18 Agustus 2000, perubahan ketiga disahkan 10 November 2001 dan perubahan keempat disahkan 10 Agustus 2002. Tapi apakah bangsa dan negara ini telah tumbuh dan berkembang dengan sumber kekayaan bumi dan alam yang luar biasa dianugerahi Allah SWT.

Apa yang kita hadapi saat ini satu kenyataan bahwa dikatakan pendapatan per kapita sebelum krisis ekonomi Asia Tenggara (Mei 1997 tercatat pendapatan per kapita sebesar US $ 1,600. per tahun dan dikelompokkan dalam “negara berpendapatan menengah”, itulah bayangan semu bila kita hubungankan dengan jumlah hutang Pemerintah, BUMN, dan Swasta yang begitu besar, maka perdapatan per kapita akan memberikan gambaran minus. Semua ini baru terkuah setelah kita menghadapi krisis ekonomi di Asia Tenggara pada Mei 1997.

Apa artinya itu semua bagi memasuki orde reformasi dimana budaya KKN bukannya dapat kita meminimumkan bahkan menjadi meluas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mampukah kita keluar dari daur hidup berbangsa dan bernegara dengan masalah penyakit yang kritis dan pokok. Kita hanya bisa bangkit bila kita mengadakan perubahan berpikir secara radikal, kalau tidak kita akan terus akan terpuruk dan inilah yang diinginkan pihak ketiga supaya NKRI tetap menjadi negara yang terkebelakang dengan penduduk memeluk agama islam yang terbesar. Mampukah kita keluar dan memecahkan masalah penyakit yang kita hadapi saat ini tanpa adanya komitmen dalam berbangsa dan bernegara dengan kepemimpinan yang dapat memberikan keteladanan.

Kalau begitu keadaannya, apakah kita menyadari pentingnya meletakkan landasan dalam revolusi berpikir, agar kita mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu sendiri. Dengan kondisi itu, dari mana kita memulainya ?
Apakah perlu kita mengungkit semua penyakit yang timbul karena sikap dan perilaku individu dan kelompok yang telah menyebabkan ketidak mampuan kita untuk tumbuh dan berkembang dan mudah diombang ambingkan oleh pihak ketiga.
Seandainya itu kita persoalkan, kita tidak pernah bertemu pandangan untuk masalah yang sedang kita hadapi bila telah menyangkut kepentingan individu dan kelompok, pengalaman itu telah mengajarkan kepada kita.

Dalam masa pemerintahan manapun kita dapat membaca dan menganalisa pertanggungan jawaban setiap tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Begitu banyak informasi yang kita dapatkan baik yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, Biro Pusat Statistik, Analisis dari para ahli dari berbagai bidang pengetahuan.

Sebaliknya tulisan ini dalam bentuk lain artinya kami mencoba memikirkan sesuatu tidak dengan model berpikir methodis artinya menyatukan kemampuan otak dan hati melainkan berpikir dalam kerangka dalam mengembangkan kemampuan berpikir intiutif kami untuk “Merenung Mampukah Kita Membangun Bangsa Untuk Tumbuh dan Berkembang” (more…)

MENCARI MODEL PROSES BERPIKIR UNTUK MELAKSANAKAN PERUBAHAN

May 19, 2008

PENDAHULUAN

Menjelang Pemilu 2009, pada saat ini sudah terdapat pada Departemen Hukum dan Ham 95 buah partai lama dan baru mendaftarkan untuk mendapatkan pengesyahan berbadan hukum. Diantaranya lahir dari partai-partai besar dimana muncul dari gagasan yang ingin pembaharuan tapi tidak tersalurkan akhirnya mereka berontak menderikan partai tandingan.

Begitu mudahnya isu berkembang keinginan angkatan muda mengambil alih tampuk pimpinan dari angkatan tua, isu ambisi para politikus merebut kekuasaan aparil 2009, isu kasus-kasus KKN, isu pemekaran wilayah, isu pilkada, isu wafatnya Soeharto dsb, semua situasi tersebut mudah sekali dijadikan oleh pihak ketiga untuk melahirkan sikap dan perilaku yang pro dan kontra, dalam kehidupan masyarakat yang terpuruk.

Apakah situasi tersebut tidak mendorong manusia menemukan jati diri dalam berusaha untuk kebangkitan ummat dalam usaha mencari penyelesaian masalah daur hidup berbangsa dan bernegara yang sudah hampir pada daur posisi kematian. Mampukah angkatan muda dan tua bersatu menemukan jiwa tanpa topeng kepalsuan. (more…)