54. MENAHAN DIRI (dari kekejian)
Benih pikiran yang kita sebut dengan „Menahan Diri“ merupakan satu kekuatan pikiran yang dapat mempengaruhi kedalam usaha-usaha meningkatkan kedewasaan berpikir emosional untuk mengetuk dinding jiwa.
Dengan kedewaan berpikir itu perlu ditumbuh kembangkan kekuatan menahan diri yang terkait dengan kekejian, maka disitu terletak kekuatan kebiasaan yang mampu menuntun kepribadian.
Sejalan dengan pikiran diatas tingkatkan kedewasaan rohaniah dengan mendalami makna yang terkandung dalam surat dan ayat yang disebut dibawah ini :
QS. 23 :1“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
QS. 23 : 3 „dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
QS. 24 : 60“ Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
QS. 25 : 72“ Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
QS. 25 : 75“ Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,
KESIMPULAN
Dengan memahami, menghayati dan mengamalkan benih jiwa yang kita sebut „MENAHAN DIRI“ (dari kekejian) diharapkan terdapat satu kekuatan yang mendorong keinginan meningkatkan kedewasaan berpikir rohaniah yang terkait dengan :
- Sifat yang menjadikan orang-orang mu’mim beruntung
- Pedoman pergaulan dalam rumah tangga
- Sifat-sifat hamba Allah yang mendapat kemuliaan.
Sejalan dengan pikiran diatas, maka pengaruhnya akan mampu mendorong kedewasaan emosional yang dimainkan dalam peran setiap manusia. Oleh karena itu tumbuh kembangkan kekuatan kebiasaan dalam kedewasaan berpikir, dengan begitu sikap dan perilaku ini akan selalu tertuntun olehnya.
55. MERENDAHKAN DIRI
Salah satu kekuatan untuk meningkatkan kedewasaan berpikir adalah selalu mengingat dalam jiwa bahwa orang yang berbudi tinggi selalu berpedoman pada keadilan dan selalu berusaha untuk menjalankan kewajibannya, oleh karena itu dimaksudkan “merendahkan diri” bukanlah satu ungkapan sikap dan perilaku dalam proses berbikir yang bersifat negatif
Sejalan dengan pikiran diatas, maka untuk menuntun jalan pikiran kita, renungkapn surat dan ayat dibawah ini :
QS. 24 : 30“ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
QS. 25 : 63“ Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.
QS. 31 : 18“ Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
KESIMPULAN
Dengan mendalami apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas maka untuk menjalankan ketaatan dalam bersikap dan berperilaku untuk menuntun kita dalam mengamalkan makna :
- Pedoman pergaulan antara laki-laki dan wanita yang bukan „mahram“
- Sifat-sifat hamba allah yang mendapat kemuliaan
- Nasehat Luqman kepada anaknya
Berpegang kepada kemampuan kita mengamalkan hal-hal yang kita sebutkan diatas, diharapkan menjadi satu kekuatan kedewasaan berpikir dalam menuntun membangun akhlak melalui kekuatan merendahkan diri.
Jadi ungkapan “merendah diri” tidak sama dengan “rendah diri” sebagai satu penyakit bagi oarang-orang yang tidak berbudi oleh karena itu ingat pula bahwa ketaatan menuntun manusia yang berbudi tinggi da oleh karena itu tidak heran ia bersikap dan berperilaku sebagai orang di belakang layar tetapi sebenarnya ia ada di tempat yang paling depan.
56. MUSIBAH
Musibah berarti malapetaka atau bencana. Jadi suatu peristiwa dari setiap peristiwa kehidupan manusia dimana kedatangannya tak diinginkan dan tak dinanti-nanti, oleh karena itu tidak ada orang yang dapat menghalangi kedatangannya karena setiap musibah yang menimpa manusia sudah ditetapkan kedatanggannya di Lauh Mahfuzh, jauh sebelum Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini. Hanya atas izin dan kehendak-Nyalah semua itu dapat terjadi.
Di dalam Al-Quran dalam beberapa istilah dan penamaan yang berbeda seperti yang kita ungkapkan pada surat2 dan ayat dibawah ini :
Kata Musibah :
QS. 2 : 156“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”
QS. 3 : 165“ Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS. 4 : 62“ Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu mushibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.
QS. 5 : 49“ dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
QS. 30 : 36“ Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.
QS. 41 : 49“ Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. , 51“ Dan apabila Kami memberikan ni`mat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo`a.
QS. 42 ; 30“ Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
QS. 49 : 6” Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
QS. 64 : 11“ Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Kata Adzab :
QS. 65 : 8” Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan.
Kata Fitnah :
QS. 24 : 63” Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan dipa cobaan atau ditimpa azab yang pedih
Kata Sayyi’ah :
QS. 30 : 36” Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.
Kata Ba’saa wa dharra’ :
QS. 6 : 42” Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.
Kata Syarr :
QS. 41 : 49” Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.
Kata Bala’ :
QS. 2 : 49” Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.
Belajar dari ungkapan yang termuat dalam surat dan ayat diatas, lebih memberikan satu kekuatan dalam pikiran kita untuk menerima setiap peristiwa yang dialami atas kehendaknya, dan sejalan dengan renungkan ungkapan berikut dibawah ini :
Musibah sudah ditetapkan Allah :
QS. 9 : 51” Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.”
Musibah, akibat dosa / kesalahan :
QS.4 : 79” Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.
QS. 5 : 49” dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
QS. 30 : 36” Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.
QS. 42 : 30” Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
Musibah sudah ditetapkan Allah
QS. 9 : 51” Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.”
Musibah tidak dapat dihindari
QS. 42 : 31” Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah.
Tiap musibah dengan izin Allah
QS. 64 : 11” Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Tiap musibah sudah termaktub di Lauh Mahfudz
QS. 57 : 22” Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Sabar menghadapi musibah
QS. 31 : 17” Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Tatkala ditmpa musibah, ingkar
QS. 42 : 48” Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada ni`mat).
Dalam perjalanan hidup kita akan selalu kita menghadapi Bentuk-bentuk Musibah, apa yang disebut dengan uraian dibawah ini :
1. Bencana Alam, merupakanmusibah yang kerap menerpa manusia, baik bencana alam murni dan atau ulah perbuatan manusia. Bentuk dan tempat terjadi berbeda-beda serta waktunya tidak ada oran yang dapat mengetahuinya.
2. Kematian, adalah suatu hal yang pasti akan dirasakan dan akan menimpa siapa saja yang ada di dunia.
3. Kecelakaan, faktor utama terjadinya kecelakaan bisa bermacam-macam pula spt kelallaian manusia, cuaca buruk dsb.
4. Penyakit, selama kita masih diberikan kehidupan di dunia ini, kita akan selalu menyaksikan dan mengalami berbagai kondisi yang silih berganti.
5. Kehilangan harta benda, jika kita menyadari bahwa sesuatu yang ada di tangan kita sebenarnya bukan milik kita tentu kita lebih siap jika sesuatu itu diambil kembali leh pemiliknya.
6. Penindasan, hidup dalam penindasan tidak akan pernah melahirkan rasa aman dan tenteram, apalagi bahagia.
7. Paceklik, disebabkan oleh beberapa hal, seperti kemarau panjang dsb.
KESIMPULAN
Dengan mendalami makna yang terungkap dalam kata musibah seperti yang termuat dalam Al – Qur’an, diharapkan menjadi kekuatan penggerak jiwa agar setiap manusia menerima peristiwa dengan landasan berpikir positif.
Dengan pikiran diatas diharapkan jadi penyejuk jiwa dalam proses berpikir untuk menerima keadaan apa yang terjadi dengan ikhlas adanya.
57. MARAH
Sikap marah memperlihatkan sangat tidak senang karena dihina, diperlaukakn tidak spantasnya dsb. Ungkapan kata marah dapat kita temukan dalam surat dan ayat dalam QS. 3 : 119, 134 ; & ; 71, 150, 154 ; 9 : 58, 120 ; 12 : 84 ; 16 : 58 ; 20 : 86 ; 21 : 87 ; 26 : 55 ; 42 : 37 ; 64 : 14 ; 57 : 8 ; 68 : 48. Sebagai contoh dibawah diungkapkan sbb. :
QS. 3 : 133” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, – 134” (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
QS. 42 : 36 “Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah keni`matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.- 37” dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi ma`af.
QS. 111 : 1” Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. 2“ Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. 3” Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. 4” Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. 5” Yang di lehernya ada tali dari sabut.
KESIMPULAN
Mendalami apa-apa yang terungkap dalam surat2 dan ayat2 yang kita seutkan diatas, diharapkan kita bisa menemukan jati diri dalam usaha-usaha kita agar kita tidak terjebak kedalam sikap marah dengan mengingat dari ajaran yang kita yang kita yakini seperti ungkapan dibawah ini :
- Perintah ta’at kepada Allah dan Rasul serta sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa.
- Allah memaafkan sebahagian besar dosa-dosa hamba-hambanya
- Tukang fitnah pasti akan celaka
58. MENCELA / MEMAKI
Ucapan memaki adalah mengucapkan kata-kata keji, tidak pantas, kurang adat untuk menyatakan kemarahan atau kejengkelan.
Sejalan dengan pemahaman diat renungkan ajaran yang diungkapkan dalam surat dan ayat dibawah ini
QS. 4 : 148” Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
QS. 49 : 11” Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
QS. 104 : 1” Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, – 2” yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,
KESIMPULAN
Sikap mencela / memaki merupakan hasil pikiran yang didorong oleh kekuatan berbikir negatif, sehingga manusia lupa arti keberadaan hidup di dunia tanpa memikirkan di akhirat
Dengan belajar dan mendalai ungkapan makna tersebut dalam surat dan ayat yang telah kita ngkapkan diatas, diharapkan menjadi penuntun manusia berpikir ke jalan yang benar.
59 MELEBIHI YANG PATU
Setiap muslim, haruslah mampu membuat hidup ini menjadi bermakna dengan selalu memberikan hasil pikiran kedalam sifat ketaatan sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, maka disitu terletak kekuatan pikiran yang membentuk sikap dan perilakunya.
Simaklah surat dan ayat dibawah ini sebagai kekuatan ketaatanmu dalam bersikap dan berperilaku :
QS. 2 : 188” Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.
KESIMPULAN
Dengan mendalami makna yang terkandung dalam surat da ayat diatas akan menjadi penuntun dalam kita mengamalkannya agar sikap dan perilaku sejalan dengan pikiran dan perbuatan.
Oleh karena itu, apa yang kita lakukan saat ini adalah pikiran kita sehingga diperlukan siraman secara berkelanjutan dalam menggerakkan jiwa. Hanya dengan mendalami maknanya manusia mampu membangun akhlak.
60. MABUK
Kehidupan dunia, seperti apa yang tampak tidak selalu seperti sejatinya, kenalilah sifat dunia dengan hatimu, oleh karena itu jangan sadarkan penglihatanmu pada nafsu. Jadi tanpa kita menyadari segala sesuatu yang memahami tentang Larangan yang memabukkan seerti yang termuat dalam surat dan ayat dibawah ini :
QS. 2 : 219” Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,
QS. 5 : 90” Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.,
91” Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).
KESIMPULAN
Bertolak dari kekuatan dalam mendalami apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, maka tinggalkan kebiasaanmu agar kamu mampu membuka mata hatimu kedalam kesadaranmu
Oleh karena itu, rubahlah tingkat kesadaranmu yang paling rendah yang sejalan dengan kemampuan untuk menangkap makna yang terkandung dalam surat dan ayat dibawah ini :
QS. 4 : 43” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.
Jadi dengan mendalaminya, maka disitu terletak kemampuanmu untuk menyempurnakan kesadaranmu dalam menjalani hidup di dunia ini.