PENDAHULUAN
Dapatkah anda memahmai makna “menyambut kematian dalam puncak kebahagian”, tentu sulit bagi anda yang memiliki kekuatan kesadaran inderawi karena filsafat hidup yang bersifat materialistik sehingga ia lupa bahwa kematian bagi manusia pasti ada karena kematian kembali ke asal manusia diciptakan. Tapi perlu diingat bagi manusia yang hanya yang hanya mengagungkan kehidupan di unia dan hanya itu tujuan hidupnya hanya mengejar kenikatan dunia dan lupa arti kematian baginya.
Oleh karena itu, renungkanlah olehmu sebagai manusia dalam perjalanan hidup ini mengenai siapa, darimana dan kemana ak ini. Hanya denga berpikir dan kebiasaan yang produktif menuntunmu untuk keluar dari kediaman yang mustahil langgeng dan berpindah ke tempat yang telah disiapkan oleh Tuhan Yang Mahaperkasa.
Bila sejenak kamu merenungkan firman Allah Swt yang tertuang dalam Al Qur’an pada SQ.62 : 8” Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
Sejalan dengan kemampuan berpikir anda untuk mengingat arti hidup, maka sejalan dengan itu bangkitkan pula kekuatan berpikir anda dalam “keutamaan mengingat mati dan bagaimana ia terjadi”. Jadi dengan kekuatan kebiasaan yang produktif, mendorong anda secara berkesinambungan untuk dapat “membaca, menterjemahkan, meneliti, mengkaji, menghayati, memahami dan mengamalkan” dari apa-apa yang tertuang dalam Al Qur’an dan Sunah Rasul Saw. sebagai penuntun untuk bersikap dan bersikap.
Jadi pandangan kita tentang kematian dan dorongan untuk selalu mengingatnya, maka kemudian juga diketahui bahwa manusia dikelompokkan menjadi :
- Manusia yang terjerumus artinya orang tidak ingat akan kematian sehingga ia bertambah jauh dari Allah Swt jika ingat kematian.
- Manusia yang insyaf dengan bertaubat artinya orang yang memperbanyak ingat kematian, agar dalam hatinya tmbul rasa takut kepada Allah Swt, sehingga ia benar-benar bertaubat dengan taubat nasucha. Jadi ia termasuk takut akan kematian, makanya ia selalu menyiapkan diri untuk menyambut kematian
- Manusia sebagai orang pandai dan berilmu artnya tidak selalu ingat akan kematian sebab kematian itulah masa untuk bertemu dan menghadap kepada Allah Swt. Dengan pikiran ia bersandar kepada lambat dating maut dan ingin agar segera maut, agar beralih dari tempat orang-orang yang maksiyat dan menuju ke tempat abadi.
Dengan memahami ketiga golongan manusia terseut diatas dalam memikirkan tentang kematian, tapi yang penting agar mendorong kemampuan kita berpikir hendaklah dilihat dari sisi keyakinan dan kpercayaan dalam bersrah diri artinya orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah Swt., sehingga ia tidak memilih kematian ataupun kehidupan untuk dirinya bahkan yang paling disukainya adalah apa yang paling disukai Tuhannya.
Sejalan dengan pemikiran itu marilah kita merenung kembali untuk lebih menghayati makna kata MATI dari setiap huruf menjadi kata bermakna dalam pemikiran kita yaitu (M) menjadi MALAIKAT ; (A) menjadi AJAL ; (T) menjadi TKDIR ; (I) menjadi ISTIRAHAT.
Makna “MALAIKAT”
Dengan memahami aqidah dan tauhid, maka malaikat adalah termasuk kedalam rukun iman kedua. Oleh karena itu, marilah menyimak kata malaikat yang dituangkan dalam Al Qur’an dalam surat dan ayat pada SQ. 2,3,4,6, 7,8,10, 11,12, 13, 15, 16, 17, 18, 20, 21, 22, 23, 25, 32, 33, 34, 35, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 51, 53, 54, 66, 69, 70, 72, 74, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 89, 96, 97 dan ayat-ayat yang mengikat dalam surat tersebut. Sebagai contoh kita ungkapkan pada surat dan ayat yaitu :
SQ.2 : 30” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
SQ. 3 : 18’’Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
SQ, 4 : 97” Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,
SQ. 6 : 8 “Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun).
SQ. 7 : 11 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud“
Dari beberapa surat dan ayat yang diungkapkan, akan mengingatkan akan hal-hal yang berkaitan dengan :
- Penciptaan manusia dan penguasaannya di bumi
- Pernyataan Allah tentang keesaan dan keadilannya serta agama yang diridhoinya
- Kewajiban berhijrah di jalan Allah dan balasannya
- Sebab-sebab kekafiran kaum musyrikin dan ancaman terhadap mereka
- Penghargaan Allah Swt. Kepada Nabi Adam AS dan keturunannya.
Selanjutnya kita harus memahami pula tugas malaikat seperti yang tercantum pada surat dan ayat yaitu :
SQ. 13 : 11” Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
SQ. 33 : 56” Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
SQ. 35 : 1” Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
SQ. 50 : 17” (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.
SQ. 82 : 10” Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),
SQ. 82 : 11” yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),
Dari Al Qur’an tentang malaikat anyak kita ktemukan hal-hal yang berkaitan dengan keberadaannya yaiyu :
- Allah mengirim malaikat untuk menolong orang taqwa.
- Malaikat berbeda-beda kadaannya
- Beriman kepada malaikat
- Malaikat bershalawat bagi nabi-nabi
- Malaikat bertasbih memuji Tuhan
- Malaikat bukan laki / perempuan
- Malaikat dalam bentuk manusia
- Malaikat dan jibril naik ke langit
- Delapan malaikat menjunjung Arsy
- Malaikat hanya menunaikan perintah Tuhan
- Malaikat jibril menjelma dalam bentuk manusia
- Malaikat jibril pembawa Al Qur’an dalam bahasa arab
- Malaikat jibril turun dengan perintah Tuhan
- Malaikat jibril urusan Allah
- Malaikat malik
- Malaikat maut
- Malaikat melaksanakan hukuman Allah
- Malaikat membantu orang mukmim
- Malaikat memintakan ampun bagi yang beriman
- Memusuhi Malaikat berarti memusuhi Tuhan
- Malaikat yang mencabut nyawa dengan lembut
- Malaikat yang mencabut nyawa dengan keras
- Malaikat yang mengatur urusan dunia
- Malaikat yang menjaga manusia di dpan dan di belakang
Bila sejenak kita merenung dan berpikir bahwa kematian pasti datang, maka terbayanglah pada waktunya bahwa malaikat penyabut nyawa yang ditugaskan oleh Allah Swt datang untuk menjemput dengan memberikan tanda hanya bagi mukmim dan yang beriman artinya orang yang dijemput adalah manusia yang di golongkan sebagai orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah Swt. Sehingga dia tidak memilih keatian maupun kehidupan untuk dirinya dimana dia ridla dan pasrah kepadaNYA.
Makna „AJAL“
Dalam Al Qur’an mengenai kata AJAL dapat kita ketemukan dalam surat dan ayat pada : SQ. 3 : 55 ; 4 : 15 , 18 ; 6 : 2 ; 7 : 34 ; 10 :11, 49 : 15 : 5 ; 20 : 12 ; 23 : 43 ; 35 : 45 ; 40 : 67, sebagai contoh dibawah ini diungkapkan :
SQ. 3 : 55” (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.
SQ. 4 : 15” Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.
SQ. 6 : 2” Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).
SQ. 7 : 34” Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
SQ. 10 : 4” Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.
Surat tersebut mengingatkan kita bahwa jaminan Allah tentang kemurnian Al Qur’an, oleh karena itu, kita dapat menghayati yang dimuat dalam Al Qur’an mengenai :
- Ajal tidak bisa dipercepat / diperlambat
- Tuhan yang menentukan aja
- Manusia berumur panjang / pendek sudah ditetapkan Tuhan
- Pada umur panjang manusia kembali lemah.
Dengan pemahaman tersebut kita dapat menyadari ungkapan yang diungkapkan oleh Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasullullah Saw. Berkata “Apabila seorang Mukmim mendekati sekarat, malaikat maut dating kepadanya, mengenakan pakaian berbau sekarat malaikat maut dating kepadanya, mengenakan pakaian berbau misik dan minyak raihan, maka rohnya dicabut seperti sehelai rambut dicabut dari adonan, lalu dikatakan “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Apabila roh itu keluar, ia dietakkan pada misik dan minyak raihan itu dan roh itu dibungkus dengan sutera lalu ia (malaikat maut) pergi dengannya menuju tempat yang tinggi (surga). Sedangkan ia seorang kafir, apabila dating sekarat, malaikat menghampirinya dengan membersihkan mulutnya dengan batu, lalu mencabut rohnya dengan sangat keras. Ketika itu dikatakan ‘Wahai jiwa yang kotor, keluarlah dalam keadaan murka dan dimurkai menuju kehinaan yang Allah berikan dan azab-Nya’ Apabila roh keluar, ia diletakkan di atas batu itu dan dibungkus dengan kain yang kasar, alu ia (malaikat maut) pergi membawanya ke neraka”
Makna “TAKDIR”
Masalah takdir ini bagi orang yang berseberangan pandangan dijadikan dasar pemikiran untuk mengatakan bahwa sebagai factor terbesar penyebab kemunduran kaum muslimin.
Terlepas dari pandangan yang dapat menesatkan itu bahwa dari rukun iman dan inti akidah dalam agama islam adalah beriman kepada qadhar (percaya kepada takdir). Dalam hadists malaikat ibril yang terkenal tentang tafsir iman. Diantara rukun iman yang wajib kita yakini yaitu beriman kepada takdir, apa itu takdir yang baik ataupun takdir yang buruk.
Untuk menghayatinya marilah kita ungkapkan surat dan ayat yang terdapat dalam Al Qur’an pada :
SQ. 3 : 26” Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
SQ. 3 : 154” Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.
SQ, 6 : 59” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
SQ.14 : 4” Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
SQ.15 : 21” Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.
SQ. 54 : 49” Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
SQ. 57 : 22” Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
SQ. 65 : 3” Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
Dari surat dan ayat yang ita ungkapkan diatas, memang tidak menyebutkan iman kepada takdir secara spesifik sebagai rukun iman yang terpisah dari rukun aqidah seperti terungkap pada surat dan ayat dibawah ini :
SQ.2 : 177” Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
SQ. 4 : 137” Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.
Dari kedua surat diatas, mengingatkan kita kembali bahwa penggerak dan motor hakiki bagi kejiwaan manusia yang mendorongnya untuk berbuat dan beramal di dalam kehidupan ini. Sebaliknya kita meyakini pula bahwa masalah rezeki dan ajal terdapat dalam Al Qur’an segala sesuatunya telah ditetapkan dan telah dibatasi.
Untuk dipahami dan diyakni, bahwa dalam Al Qur’an juga mengungkapkan juga yang dimaksud dengan takdir Allah terhadap sesuatu, mengandung penegasan empat realita atau tingkatan yaitu :
Pertama, bahwa Allah telah mengetahuinya sebelum terjadi. Renungkanlah pada surat dan ayat tersebut dibawah ini :
SQ. 10 :: 61“ Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
SQ. 6 : 59“ Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Kedua, bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini, sesungguhnya ia terjadi karena kehendak Allah yang terlaksana dan karena keinginan-Nya terhadap alam secara umum. Renungkanlah pada surat dan ayat tersebut dibawah ini :
SQ.6 : 112 „Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
SQ. 2 : 253“ Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada `Isa putera Maryam beberapa mu`jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
Ketiga,bahwa semua yang terdapat di alam semesta ini adalah ciptaan Allah Swt dan karena kehendak-Nya dan tidak ada pihak lain yang membantunya. Renungkanlah pada surat dan ayat tersebut dibawah ini :
SQ. 13 : 16“ Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.
Keempat, bahwa Allah Swt telah mencatat semuanya sejak awal mula penciptaan dalam kitab milik-Nya Lauh Mahfush. Renungkanlah pada surat dan ayat tersebut dibawah ini :
SQ.6 : 38“ Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.
SQ. 57 : 22“ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
SQ. 33 : 6“ Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).
SQ. 9 : 51“ Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.”
SQ. 3 : 154“ Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.
Dengan mengungkapkan surat-surat dan ayat yang disebutkan diatas dalam memahami tingkatan takdir disatu sisi dan disisi lain ada pula orang tidak percaya kepada takdir dan menganggap apa yang terjadi di muka bumi ini tanpa sepengetahuan Allah, maka tatkala Ibnu Umar mendengarnya, maka ia berkata orang yang memberikan kabar padanya :
“Jika engkau bertemu dengan mereka, beritahukan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Dan Abdullah bin Umar bersumpah, kalaupun salah seorang dari mereka memiliki cemas sebesar gunung Uhud, lalu ia menginfakkannya di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerima infak itu darinya sehingga ia beriman kepada takdir“ (HR.Muslim)
Selanjutnya perhatikan pula ungkapan dari Ubadah bin Ash-Shamit berkata kepada anaknya „ Hai anakku, sesungguhnya kamu tidak akan dapat merasakan lezatnya iman sebelum kamu tahu bahwa apa yang menimpa dirimu, bukanlah untuk menghukummu. Dan musibah yang menimpa dirimu, bukanlah untuk menghukummu. Dan musibah yang menimpamu, bukanlah untuk mencelakaimu. Aku mendengar Rasullullah Shallahu Alaini wa Sallam bersabda „ Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena. Lalu Allah berfirman kepada pena, Tulislah’ Pena itu berkata, Wahai Tuhanku, apa yang harus aku tulis ? Kata Allah’ Tulislah takdir segala sesuatu hingga hari kiamat. ‚Aku mendengar Rasulullah As. Bersabda „Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak seperti, maka ia bukanlah golonganku“ (HR. Abu Dawud)
Makna „ISTRAHAT“
Bila kita merenung apa yang tercantum dalam Al Qur’an yang mengungkapkan bahwa „Orang beriman dan beramal shalih mendapat tempat istirahat yang indah“ seperti yang terdapat pada :
SQ. 18 : 31“ Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga `Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah;
Bersandar pada surat tersebut diatas, maka dalam kehidupan ini kita harus menyimak potensi perjalanan hidup ini disatu sisi kita berusaha menuju kesucian jiwa dalam rangka mempersiapkan perjalanan abadi ke tempat peristeratan yang diidamkan dalam hidup ini, oleh karena itu bangunlah suatu kebiasaan dalam hidup ini bagaimana kita bersikap dan berperilaku untuk menuntun hidup ini. Ada ungkapan, ia kadang-kadang dapat memberikan motivasi untuk memahami apa arti hidup ini :
“Orang yang menyediakan banyak harta untuk anak-anaknya, tetapi alpa memperbaiki budi mereka, sama saja dengan orang yang memberi cukup makanan baik kepada kuda-kudanya, tetapi tidak pernah melatih binatang itu agar berguna”
PENUTUP
Dengan hikmah berpikir, kita ungkapkan makna huruf dalam kata “MATI” menjadi kata bermakna, sejalan dengan pikiran itu kita rumuskan makna MATI dari unsure huruf menjadi untaian kalimat yang bermakna. Dengan pemahaman itu diharapkan dapat menjadi daya dorong dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan pemikiran untuk membangunkebiasaan yang produktif.
Dengan membangun kebiasaan yang produktif, kita mampu untuk berpikir mengenai manusia yaitu siapa, darimana dan kemana ?
Jadi hakekat MATI dapat kita rumuskan menjadi manusia sesuai dengan fitrahna akan selalu mengingat pada rukun iman kedua tentang MALAIKAT yang akan mengingatkan kepada tugasnya dan kita tidak akan tahu dengan akan dating AJAL yang akan diputuskan oleh Tuhan dan kita iman pada rukun keenam sebagai TAKDIR dari perjalanan hidup ini ke tempat ISTERAHAT setelah kita mati apakah berada dalam surga dan atau neraka.
Dengan memahami melalui proses kita berpikir, kita menyadari dari yang tidak tahu menjadi dalam batas-batas mencari kebenaran sedangkan hakekat kebenaran ada di tangan Allah Swt.
Dalam kaitan kemampuan kita berpikir akhirnya kita berkeyakinan dan berserah diri secara bulat dalam menegakkan iman dan amal shaleh, dalam bersikap dan berperilaku untuk menuntun kita ke jalan yang benar artinya segala perintah dan hukunya aku taati ; suruhnya aku kerjakan, larangan Nya aku hentikan dengan segenap kerelaan.
Ingatlah selalu akan pesan Rasullah yang mengungkapkan bahwa “Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang, maka ia akan dapat merasakan manisnya iman yaitu hendaknya Allah dan RasulNYA lebih dicintainya daripada yang lain dan hendaknya ia mencintai seseorang dimana ia tidak mencintainya selain karena Allah, dan dia tidak suka kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak mnyukai (andaikata) dilemparkan ke dalam neraka (H.R. Bukhari)