makna ‘otak’ dalam pandangan muslimku

By suaraatr1938

BAB  I  PENDAHULUAN

O menjadi ORANG

T menjadi TAWAKAL

A menjadi AMANAH

K mennjadi KERJA

BAB II MAKNA ORANG DALAM OTAK

O menjadi Organ ;

R menjadi Roh ;

A menjadi Akal ;

N menjadi Naluri / Nafsu ;

G menjadi Golongan.

BAB III MAKNA TAWAKAL DALAM OTAK

T menjadi (T)aat ;

A menjadi (A)qidah ;

W menjadi (W)ahyu ;

A menjadi (A)llah ;

K menjadi (K)itab ;

A menjadi (A)l Qur’an ;

L menjadi (L)ailatul qodar

BAB  IV MAKNA AMANAH DALAM OTAK

A menjadi Amal

M menjadi Martabat

A menjadi Akhlak

N menjadi Nasib

A menjadi Azab

H menjadi Hari

BAB  V  MAKNA KERJA DALAM OTAK

K menjadi KEBAJIKAN

E menjadi ENERGI

R menjadi RASIONAL

J  menjadi JANJI

A menjadi ADIL

BAB  VI  PENUTUP

KATA PENGANTAR

Dari bacaan dan percakapan, timbullah keinginan untuk mengaktualisasi kebiasaan yang produktif untuk menuangkan kedalam satu tulisan dengan judul “ Makna Otak Dalam Pandangan Islam” sebagai satu pendekatan untuk menggugah perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupan.

Dalam perjalanan hidup yang singkat ini sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah Swt, maka ia harus mampu berpikir tanpa ada keragu-raguan bahwa orang harus mau hidup dan harus tahu bagaimana meninggalkan dunia yang fana ini.

Sejalan dengan pemikiran tersebut diatas marilah kita menyimak satu ungkapan “Tidak ada bahan lain untuk surga dan neraka bagi manusia setelah mati, kecuali atas amal perbuatannya selagi di dunia”

Oleh karena itu manfaatkan makna “OTAK” karena kita sadar bahwa segala tempat dapat dipenuhi oleh isinya selain dari tempat ilmu.

Tempat ilmu makin diisi makin bertambah besarnya. Tempat ilmu ialah di akal. Semakin bertambah ilmu semakin terasa kebodohan kita. Orang yang merasa diri pandai ialah orang tidak menambah pengetahuan.

Akhirnya kita menyadarinya bahwa air laut bila ditimba akan kering, tapi lautan ilmu pengetahuan, kian ditimba kian bertambah airnya.

BAB I : PENDAHULUAN

Bayangkan, apakah memang benar orang-orang islam begitu banyak berperan baik sebagai pelaku ekonomi, eksekutif, legislatif, yudikatif dan berbagai lembaga lainnya, tidak mampu memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi saat ini dalam berbangsa dan bernegara, ataukah kita memang tidak mau berubah dalam bersikap dan berperilaku ataukah kita memang selalu menginginkan untuk dijajah oleh pihak ketiga yang tersembunyi yang sebenarnya bayangan itu diketahui adanya. Inilah semua kenyataan yang kita hadapi bersama sebagai bangsa. Kita menginginkan demokrasi sebagai alat untuk mengangkat derajat bangsa yang terbesar adalah pemeluk islam.

Adakah jalan keluarnya. Masalah untuk tumbuh dan berkembang dalam berbangsa dan bernegara yang kita hadapi masa lampau, masa kini dan masa depan, mampukah kita dalam waktu singkat untuk merubah pola berpikir dalam memecahkan masalah yang kita sebut komplek dan penyakit. Tingkat intisitas dalam mempengaruhi perubahann sikap dan perilaku melalui pendekatan yang kita sebut dengan memaksimumkan pemanfaatan OTAK.

Renungkanlah Rasullullah saw, bersabda:

“ Barangsiapa melapangkan seorang Mu’min dari salah satu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan-kesusahan hari  kiamat.

Dan barangsiapa meringankan penderitaan seseorang, maka Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan di akhirat.

Dan barangsiapa menutupi cacat seseorang Muslim, maka Allah akan menutupi cacatnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan memberikan pertolongan kepada seseorang selama orang tersebut suka menolong saudaranya. Dan barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Dan tiada berkumpul  suatu kaum dalam sebuah rumah dari antara rumah-rumah Allah (masjid) untuk membaca Al-Qur’an dan mengkajinya bersama-sama, melainkan keetenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka dan malaikat akan mengerumuni mereka, serta oleh Allah mereka akan disebut di kalangan  orang-orang yang berada di sisi-Nya. Dan barangsiapa  terlambat amalnya, maka dia tidak akan dipercepat oleh nasab keturunannya “ (H.R. Muslim)

Apakah manusia yang memiliki kekuasaan, mudah dipengaruhi  untuk membalikkan tingkat kesadaran yang begitu dilihat dari sudut INDERAWI merupakan tingkat yang paling rendah menjadi berubah. Kita bayangkan kalau orang yang kiblat kepada manusia dan materialistik, tidak mudah orang bisa berubah, begitu saja.

Tetapi sebaliknya apakah memang benar orang yang berkuasa saat ini sedang memanfaatkan OTAK dalam arti bahwa setiap unsur huruf memiliki makna yang berdiri sendiri tetapi memiliki saling ketergatungan.

Jadi kata OTAK sebagai suatu pendekatan akan kita uraikan dari unsur huruf menjadi kata yang bermakna, bagi orang islam bahwa unsur huruf  dalam OTAK begitu banyak surat dan ayat yang mengungkapkan artinya agar mereka tertuntun ke jalan yang benar sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT.

Jadi huruf dalam kata OTAK terdiri dari :

O menjadi ORANG

T menjadi TAWAKAL

A menjadi AMANAH

K mennjadi KERJA

Marilah kita mencoba untuk mengungkapkan unsur kata dalam beberapa surat dan ayat dalam Al Quran yang menjadi tuntunan kita bersikap dan berperilaku sebagai berikut :

ORANG : S.Q.5.42 “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar kata bohong, banyak mereka memakan yang haram (seperti uang sogokn dan sebagainya). Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan) makaputuskanlah (perkara itu) di antara mereka atau berpalinglah dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepada sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.

TAWAKKAL : S.Q. 8:49 “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang aada penyakit di dalam hatinya berkata : Mereka itu (orang-orang mu’min) ditepi oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barang-siapa yang tawakkal kepada Allah , maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

AMANAT : S.Q. 33 :72 “ Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat (yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sessungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

KERJA : S.Q. 2 : 134 “Itu ummat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakan nya dan  bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidk kan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.”

S.Q.  5 : 8 “ Hai orang-orang beriman , hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kamu sekali-kali kebencianmu terhaadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepadaa takwa. Dan bertakwalah kepada Allah , sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjaakan”

Kami ingin menyimpulkan, apakah orang sebagai manusia yang diciptakan sebagai mahluk oleh Allah SWT yang paling mulia dimana dalam perjalanan hidupnya mengaku memeluk islam sebagai pandangan hidupnya, maka adakah kita menyadari seutuhnya sebagai pemeluk islam telah mampu memanfaatkan MAKNA OTAK seperti yang kami rumuskan diatas.

Apakah yang terjadi saat ini  dimana-mana ada demontrasi, apa artinya bagi kita semua sistom tersebut, apakah tidak terbayangkan bahwa dalam tubuh eksekutif, yudikatif dan legislatif adakalanya mempertontonkan ketidak puasan secara phisik, kita tidak pernah berubah dalam pola berpikir secara radikal untuk memecahkan kehidupan berbangsa dan bernegara ini Inilah satu bayangan bahwa negara kita dikendalikan oleh pihak ke tiga agar kita masuk kedalam daur hidup yang penuh permainan politik, dimana bila kita salah langkah dapat menuju kehancuran.

Dadapatkah kita bayangkan, apakah pernah pemimpin kita mau berbagi rasa untuk memikirkan keadaan yang sebenarnya, bahwa ia mampu mempergunakan OTAK untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita bangsa ini. Kalau ada pemimpin saat ini berpikir akan memaksimumkan OTAK kedalam pemecahan masalah yang opnormal  dari “KOMPLEK” merubah menjadi  ”PENYAKIT”, itulah satu tanda adanya satu kebutuhan untuk memanfaatkan “OTAK” sebagai penuntun dalam bersikap dan berperilaku.

Apakah yang dapat kita kerjakan bila semua pihak mau mene-rapkan OTAK secara dioptimalkan, cabalah renungkan Rusulluh saw bersabda :

“Sesungguhnya dunia ini indah dan manis, dan Allah akan menyerahkannya kepadamu, dan kemudian Dia akan melihat bagaimana kamu memperlaku-kannya.Maka berhati-hatilah kamu terhadap godaan dunia, dan berhati-hatilah  (pula) kamu terhadap (godaan) wanita. (H.R. Muslim).

Jadi pada BAB ini merupakan jawaban atas pertanyaan yang telah kita ungkapkan untuk menggugah pihak-pihak yang merasakan pentingnyanya arti memanfaatkan makna OTAK dalam menggugah perubahan sikap dan perilaku. Pada tingkat intensitas yang tinggi pendekatan ini mungkin dapat mempengaruhi jalan hidup artinya ia meyakini kehidupan dunia dan akherat, sebagai makhluk diciptakan oleh Allah SWT.

Dengan pemikiran pendekatan memaanfaatkan OTAK, timbul dalam pikirannya apa arti hidup di dunia dan pada waktunya ia juga bakal mati setiap saat ia dipanggil oleh sang penciptanya. Apakah model pendekatan ini akan merubah pola pikirnya sehingga menimbulkan rangsangan terhadap perubahan atas tingkat kesadarannya yang paling rendah yang kita sebut dengan kesadaran INDERAWI menuju ketingkat kedua dan seterusnya.

Perubahan tingkat kesadaran tersebut bisa terjadi bila ia dapat merenung tentang dirinya artinya ia menggerakkan keinginan dengan niat yang ikhlas dengan berpikir menghayati dengan maksud membuka mata hatinya, inilah yang disebut berpikir intuitif. Dengan tingkat kesadran yang berubah, maka kemungkinan melihat masa depannya yang akan dituju yaitu “hidup setelah mati”. Apakah arti hidupnya dalam dunia, segala yang dimilikinya tak dapat dibawanya setelah mati, kecuali menuju “PERJALANAN ABADI” sejalan dengan manfaat “OTAK” yang diyakininya.

Ada baiknya dibawah ini kami ungkapkan suatu uraian mengenai OTAK dilihat dari sisi ANATOMI sebagai berikut :

Untuk memahamkan bangunan otak perlu kita ingat bahwa sistem syaraf pusat berkembang dari suatu struktur yang berbentuk bumbung. Pada bbumbung tersebut dapat dilihat sebuah dasar , sebuah atap dan dua dinding sisi sebagai pembatas suatu terusan yang terletak di tengah. Dalam perkembangan selanjutnya terjadi masalah oleh karena bumbung itu pada beberapa tempat menjadi tebal, sedangkan pada tempat-tempat lain dindingnya tetap tinggal seperti semula.Di sebelah depan berkembang dua gelumbung yang setangkup letaknya. Gelumbung-gelumbung ini kemudian menjadi kedua belahan otak besar. Di sebelah belakang terbentuk otak kecil oleh karena atap bumbung di sini menjadi mangkin tebal. Bagian lain otak yang dinamakan batang otak tetap berbentuk bumbung dan merupakan tangkai otak besar dan otak kecil, yang ke bawah dilanjutkan menjadi sumsum belakang. Di atas-belakang dan juga di sisi batang otak itu sama sekali tertutup oleh otak  besar dan otak kecil , hanya pada dasar otak  saja batang otak dapat dilihat dari luar. Pada batang otak dapat dibedakan beberapa bagian yaitu :

  1. bagian bawah, yaitu sumsum lanjutan yang merupakan lanjutan langsung sumsum  belakang. Ke atas bentuknya semakin melebar. Dasar bumbung syaraf disini semakin menebal, sedangkan atapnya tetap tipis dan berupa selaput ; rongganya, yang merupakan lanjutan terusan pusat sumsum belakang, adalah dan agak luas dan dinamakan bilik otak ke 4. Permukaan depan sum-sum lanjutan memperlihatkan beberapa benjolan, antara lain limas di kedua sisi sebelah garis tengah dan zaitun yang letaknya agak lebih ke sisi. Bentuk-bentuk tersebut disebabkan oleh tumpukan substansi putih (inti) atau substansi kelabu (jalur) setempat.
  1. Ke atas terletak otak antara. Dasar bumbung syaraf menjadi jembatan varol oleh karena bertambahnya serabut-serabut syaraf. Dari atap bumbung saraf berkembang otak kecil. Dari dinding sisinya berkembang lengan jembatan yang menghubungkan otak kecil dengan jembatan. Bilik otak ke 4 meluas sampai di sini dan memasuki otak kecil sebagai sebuah relung dalam yang dinamakan tenda.
  1. Bagian batang otak berikutnya bernama otak tengah. Dasarnya berupa sepasang tangkai batang otak besar yang meenaik secara serong dari jembatan pada kedua sisinya untuk memasuki kedua belahan otak besar. Lembar atapnya mempu-nyai dua buah gunduk atas dan dua buah gunduk bawah. Keempat benjolan ini dibatasi oleh alur-alur yang bersilangan. Rongga otak di batasi oleh alur-alur yang bersilangan. Ronggo otak disini berupa terusun sempit, yang dinamakan saluran otak besar Sylvius yang di belakang berhubungan dengan bilik otak ke 4 dan di depan bersambungan dengan bilik otak ke 3.
  1. Bagian paling atas batang otak membentuk otak antara. Dinding sisi bumbung syaraf di sini amat menebal seraya membentuk badan-badan lutut  ; oleh karena itu rongga-nya menyempit , menyeerupakan suatu celah yang dinamakan bilik otak ke 3. Atapnya tipis dan berupa selaput , di sebelah belakang terdapat badan runjung. Dasar bilik otak ke 3 agak rumut bangunannya, berturut-turut dari depan ke belakang terdapat di sini palang penglihat , hypofisis (seperti badan runjung termasuk golongan kelenjar buntu) dan kedua badan puting.

Belahan otak besar kiri dan kanan berasal dari gelumbung-gelumbung pada bumbung saraf. Kedua gelumbung semakkin membesar dan oleh karena itu menutupi bagian-bagian batang otak, tetapi tetap berhubungan dengan otak antara. Rongga bumbung saraf meluas sampai kedalam ke dua belahan otak besar, maka terbentuklah dua bilik sisi, yang masing-masing tetap berhubungan dengan bilik otak ke 3 melalui sebuah lubang kecil yang dinamakan lubang antarbilik Monro. Di tengah , di atas dan di depan otak antara kedua belahan otak besar saling berhadapan, sehingga kedua bidang tengahnya menjadi rata. Kedua belahan otak besar saling berhubungan melalui beberapa berkas serambut melintang ; yang penting antaranya dinamakan balok. Di bawah balok terdapat sebuah berkas membujur yang bernama kubah. Permukaan otak besar memperlihatkan banyak gelung otak yang dibatasi satu terhadap yang lain oleh beberapa alur, yang terpenting antaranya adalah alur sisi Sylvius, yang dapat dilihat pada bidang sisi otak besar. Alur-alur itu juga membatasi baga-baga  otak besar ; baga dahi, baga ubun-ubun, baga belakang kepala, baga pelipis. Juga dapat tiga buah kutub pada tiap belahan otak bsar , yaitu kutub dahi, kutub belakang kepala dan kutub  pelipis.

Dari otak keluar 12 pasang saraf otak, yaitu saraf penglihatan, saraf penghidu, tigaa pasang saraf otot mata, saraf kembar tiga yang mempersarafi kulit wajah dan semua otot kunyah, saraf pendengar, saraf wajah untuk otot-otot mimik, saraf glosofaring yang antara lain melepaskan cabang kepada selaput lendir lidah dan tekak, saraf kelana yang meluas ke bawah sampai dalam daerah dada dan perut dan mempersarafi alat-alat dalam dada dan perut, saraf tambahan yang mempersarafi beberapa otot leher, dan saraf bawah lidah yang mengurus persarafan otot-otot lidah.

Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar YANG TERLAMPIR mengenai otak dilihat dari sisi  ANATOMI.

Dengan memahami kedudukan otak dari sisi anatomi yang diuraikan diatas, maka memanfaatkan “OTAK” sebagai suatu pendekatan diperlukan pula pemahaman dari unsur huruf menjadi kata bermakna.

Jadi OTAK harus diterjemahkan huruf (O) menjadi ORANG sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT, sebagai mahkluk yang paling mulia dan oleh karena itu huruf (T) menjadi TAWAKAL untuk menjalankan semua perintah dan hukumnya aku taati, suruhnYa aku kerjakan, laranganNYa aku hentikan dengan segenap kerelaan dalam menjalankan sesuatu yang diterjemahkan dari huruf (A) menjadi AMANAH/   AMANAT untuk menunntun dalam menuntun dalam bersikap dan berperilaku yang selalu memancarkan dari huruf (K) menjadi KERJA kedalam wujud untuk mempersiapkan diri menuju perjalanan abadi.

Dengan memahami makna OTAK sebagai suatu pendekatan yang kita kemukakan menjadi daya dorong untuk menarik hihmak berpikir artinya orang yang bijaksana mencari kesempurnaan tetapi orang bodoh mencari kekayaan.

BAB II :  MAKNA ORANG DALAM OTAK

Seperti yang telah kita ungkapkan pada bagian terdahulu bahwa kata orang yang termuat dalam Al Qur’an bahwa :

ORANG : S.Q.5.42 “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar kata bohong, banyak mereka memakan yang haram (seperti uang sogokn dan sebagainya). Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan) makaputuskanlah (perkara itu) di antara mereka atau berpalinglah dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepada sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan

perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil “

Dengan memahami makna ayat tersebut diatas, maka timbul pertanyaan pada diri kita untuk mendalami bahwa “Allah menyukai orang adil”, oleh karena itu mari kita mencoba untuk menguraikan huruf dalam kata orang sehingga dapat kita rumuskan kedalam untaian kalimat menjadi lebih bermakna untuk mendalami tentang  kata “ORANG” dalam “OTAK”

Bila kata ORANG kita uraikan dari huruf menjadi kata yang bermakna yang terdiri dari unsur kata yaitu :

O menjadi Organ ;

R menjadi Roh ;

A menjadi Akal ;

N menjadi Naluri / Nafsu ;

G menjadi Golongan.

Selanjutnya kita uraikan makna huruf menjadi kata bermak-na sebagaiberikut :

ORGAN adalah alat yang mempunyai tugas tertentu dalam tubuh manusia. Tentang manusia begitu banyak diungkapkan dalam  Al Qur’an pada surat-surat :

NO.2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,28,29,30,31,32,33,34,35,36,38,39,41,42,43,44,45,46,47,49,50,51,52,53,54,55,56,57,58,59,62,63,64,66,70,71,72,80,82,83,84,86,89,90,95,96,99,100,103,110,114. Dalam setiap surat terdapat ayat-ayat yang mengungkapkan tentang manusia.

Sebagai contoh S.Q.2 : 8 “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman “ Maknanya adalah untuk menjelaskan tentang go- longan munafik.

Jadi kalau kita sejenak untuk mengingatkan kembali dengan membaca surat dan ayat yang kami ungkapkan diatas, maka ia akan memberikan daya dorong kedalam pikiran kita untuk menyadari apa arti hidup sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT ini.

ROH / Ruh adalah salah satu keyakinan yang diajarkan Al Qur’an  dan mempercayai soal-soal gaib merupakan salah satu sendi keyakinan beragama. Jadi kepercayaan mengenai soal-soal gaib itu justru merupakan perwujudan dari kebenaran iman dan islam.

Dalam Al Qur’an tentang Ruh dapat kita ketemukan dalam S.Q. 17 ; 85 ; 4:171 ; 19:17 ; 32:9 ; 38::72 ; 66:12 ; 78:38 ; 81:7

Sebagai contoh dalam S.Q 17:85 mengungkapkan sebagai berikut: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang Roh. Katakanlah : “Roh itu termasuk urusan Tuhan-Ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”

Dengan pemahaman tersebut diatas, maka sejak manusia lahir, roh berangsur dewasa sesuai perkembangan jasmani. Jadi dengan mempercayai adanya roh itu berarti soal-soal gaib dapat kita rasakan, sehingga kepercayaan mengenai Roh tidak dipaksakan kepada pikiran untuk memanfaatkan otak melalui alat pikiran kesadaran, kecerdasan dan akal untuk mencari jawaban tentang Roh yang tidak diketahui hakkikatnya

Cobalah renungkan S.Q. 22 : 5 “ Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari Kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepadamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian  (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara Kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”

S.Q. 6 : 62 “ Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepaada Allah. Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.

Dengan kita merenung untuk memahami makna dari kedua surat tersebut diatas, maka kita dapat mengetahuinya ada dua unsur dalam diri manusia yaitu jasad / tubuh / badan yang dapat diketahui tuntutan serta keinginannya disatu sisi dan disisi lain pada waktunya manusia setelah meninggal Roh-nya kembali kepada Allah.

AKAL, adalah salah satu mesteri lainnya yang diciptakan oleh Allah SWT untuk orang sebagai manusia yang memiliki kemampuan untuk berpikir.

Oleh karena itu dalam Al Qur’an telah diungkap dalam surat-surat dan ayat tentang akal seperti yang tercantum dalam . 2:142,179,197 ; 4:5 ; 5:58 ;  7:66,67,155 ; 10:100 ; 12:94,111 ; 26:28 ; 30:24 ; 39:21 ; 45::5 ; 53::6 ; 65:10.

Sebagai contoh mari kita renungkan S.Q. 2:142 “Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata : “Apakah yang memalingkan mereka (umat islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya ?” Kata-kanlah : “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat ; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”

Dengan Surat tersebut telah menunjukkan kepada kita bahwa “ke-esaan tuhanlah akhirnya yang menang”, oleh karena itu dengan akal yang dianugerahkan oleh Allah SWT, orang dapat berpikir sebagai manusia seutuhnya artinya ia mampu menggerakkan alat pikir yang lainnya dalam satu kesatuan yang disebut dengan kesadaran dan kecerdasan.

Dengan menggerakkan Kesadaran dalam berpikir artinya dengan  kesadaran kita dapat berorientasi meninjau serta me- rasakan diri seendiri serta menangkap situasi diluar diri kita.

Kesadaran tidak berarti apa-apa dalam berpikir bila tidak dibantu oleh Kecerdasan karena kesadaran menyadarkan tentang apa-apa namun kecerdasan melaporkan kepada kita keadaan perkara dan hubungannya. Jadi melalui kecerdasan kita dapat menangkap fakta dan informasi untuk mengingat masalah kita hadapi atau dengan kata lain seberapa besar resiko yang dihadapinya, tapi laporan itu akan menjadi penting bila kita dapat mencari jawaban untuk memecahkan.

Kecerdasan  menjadi bermakna, bila Akal menunjukkan mencari jalan untuk memenuhi maksud dan tujuan kita. Oleh karena itu dengan Akal adalah potensi rohaniah yang memiliki pelbagai kesanggupan seperti kemampuan berpikir, menyadari, menghayati dan memahami sehingga kegiatan akal itu berpusat atau bersumber dari kesanggupan jiwa yang disebut dengan intelengen. Akal berpusat di otak bawah sadar yang disebut hati.

Sejalan dengan pikiran diatas, cobalah renungkan S.Q. 2 : 269 “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah, ia benar-benar dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”

NALURI / Nafsu, dimana setiap orang adalah manusia pasti memiliki naluri. Naluri artinya fitrah dan oleh karena itu naluri adalah sesuatu yang tidak dipelajari dan sifatnya wajar yang dibawa manusia sejak lahir yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu tindakan tertentu.

Sifat dorongan itu, manusia bertindak dengan nalurinya pada dasarnya untuk kebaikan dan ada pula dasar untuk kejahatan,  sehingga manusia diberi ikhtiar untuk berusaha dalam  pelbagai bentuk pendekatan untuk memberikan bimbingan terhadap potensi kebaikan dan memberikan arah pada potensi kejahatan ke jalan yang baik.

Seperti kita maklumi bahwa dalam Islam faktor baik dan buruk merupakan sunnatullah  keberadaannya, sebab tidak sempurnalah Kekuasaan Allah itu jika hanya mampu mengadakan yang baik-baik saja, sedangkan yang buruk tidak.

Dorongan itu yang disebut Nafsu. Nafsu adalah bagian dari rohani yang memiliki pengaruh yang besar dan menguasai untuk memerintahkan kepada anggota jasmani. Didalam Al Qur’an dapat kita ketemukan dalam surat dan ayat yang tercantum pada S.Q. 2:87 ; 4:27, 135 ; 5:29, 48, 49, 70, 77 ; 6:119, 150 ; 7:81, 176 ; 12:53 ; 13:37 ; 18:28 ; 20:96 ;27:55.

Sebagaai contoh S.Q. 2 :87 “ Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya  (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah kami berikan bukti-bukti kebenaran  (mu’jizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dkeinginanmu lalu kamu angkuh ; maka beberapa orang (di antara  mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh ? “

Dari surat tersebut mengingat kita bahwa sikap orang Yahudi terhadap para rasul dan kitab-kitab yang diturunkan Allah. Sebaliknya Allah mengunci hati orang yang menuruti nafsu, seperti yang termuat dalam S.Q. 45:23 ; 47:16.

Dalam S.Q.45:23 berbunyi “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat ber-dasarkan ilmunya dan Allah telah mngunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannnya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? “

Sejalan dengan itu maka naluri yang ada pada manusia merupakan anugerah tuhan untuk dipakai secara bijaksana, karena dalam kehidupan manusia akan dihadapkan pada pelbagai kebutuhan baik sebagai individu maupun sebagai warga masyarakat.

Dengan demikian sebagai individu, maka berkat dorongan naluri berupa hawa nafsu, kebutuhannya akan dapat terjaga dan terpelihara. Sebaliknya sebagai anggota masyarakat, ia dapat menyesuaikan diri sebab ada naluri seperti keinginan berkumpul, menyelamatkan diri, minta tolong  dsb.

Dengan mengutarakan hal diatas bahwa pada setiap manusia terdapat naluri dari pembawaan lahirnya, maka seberapa jauh seseorang dapat mengendalikan naluri yang ada dalam jiwanya akan sangat ditentukan  oleh tingkat kedewasaan seseorang dalam berpikir.

Oleh karena itu, pahamilah nafsu yang memainkan peran dalam mempengaruhi pikiran yang kita sebut dengan :

  • Nafsu Amarah adalah nafus yang belum mampu membedakan kebaikan dan keburukan sehingga mendorong kepada perbuatan yang tidak terpuji.
  • Nafsu Lawwaamah adalah nafsu yang memiliki rasa insaf dan  menyesal sesudah melakukan sesuatu pelanggaran.
  • Nafsu Musawwalah adalah nafsu yang dapat membedakan sesuatu yang baik dan buruk. Melakukan keburukan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.
  • Nafsu Mulhammah adalah Nafsu yang mendapat ilham dari Allah dikaruniai ilmu pengetahuan dan akhlak yang terpuji.
  • Nafsu Raadhiyah adalah nafsu yang ridha (ikhlas) kepada Allah, memiliki sikap yang baik dalam kesejahteraan, mensyukuri nikmat qanaah atau merasa puas dengan apa adanya.
  • Nafsu Mardhiyah adalah nafsu yang diridlai Allah. Yaitu keridlaan yang dapat terlihat pada anugerah yang diberikannya, berupa senantiasa berdzikir, ikhlas, memiliki karamah, dan men-dapatkan kemuliaan.
  • Nafsu Kaamilah adalah nafsu yang telah sempurna bentuk dan dasarnya.  Sudah dikategorikan cakap untuk mengerjakan irsyad dan menyempurnakan ikmal terhadap hamba Allah.
  • Nafsu Muthmainnah adalah nafsu yang telah mendapat tuntunan dan pemeliharaan yang baik. Nafsu ini bisa menyebabkan ketenangan jiwa, melahirkan sikap dan perbuatan yang terpuji, membentengi serangan kekejian dan kejahatan.

GOLONGAN adalah mengkelompokkan orang-orang yang memiliki tingkat kesadaran yang mempengaruhi pola berpikir dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidup-annya sebagai manusia. Oleh karena itu kita dapat mengkelompokkan manusia kedalam golong-an yang disebut :

Dalam Al Qur’an mengenai Golongan terdapat dalam S.Q. 18:36 ; 35:6 ; 37:83 ; 38:11, 13 ; 40:5,30 ; 40:5,30 ; 42:7 ; 43:65.

Pada S.Q. 18 : 36 “dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mmendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”

S.Q. 35 : 6 “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggap ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Golongan kanan yang termuat dalam S.Q. 56 : 8, 27, 38, 90,96, ;  74 : 39 ;  90 : 18.

Sebagai contoh pada S.Q. 56 : 8 “ Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu “

Yang dimaksud golongan kanan ialah orang-orang yang menerima buku-buku  catatan amal mereka dengan tangan kanan.

Golongan kiri yang termuat dalam S.Q. 56 : 9, 41 ; 90 : 19. Sebagai contoh pada S.Q. 56 : 9 “ Dan golongan kiri . Alangkah sengsaranya golongan kiri itu”.

Yang dimaksud golongan kiri adalah orang-orang yang menerima buku-buku catatan amal mereka dengan tangan kiri.

Jadi dengan pemahaman itu adalah bukti kebenaran hari kebangkitan dan penggolongan manusia pada hari itu kepada mu’min dan kafir.

Untuk jelasnya marilah kita menyimak dalam S.Q.30 : 14 “Dan pada hari terjadi kiamat, di hari itu mereka manusia) bergolong-golongan.

S.Q.30 : 15 “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira.”

S.Q. 30 : 16 “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (Al Qur’an) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap berada di dalam siksaan (neraka).

Dengan mengungkapkan huruf dalam kata “ORANG” yang telah kita utarakan diatas, maka manusia yang diciptakan oleh Allah SWT merupakan mahluk yang mulia sebagai khalifah di bumi.

Oleh karena itu, harus kita pahami bahwa ORANG sebagai unsur O dalam kata “(O)TAK mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa ORANG adalah (O)RGAN sebagai jazad  yang didalamnya terdapat (R)OH yang menggerakkan (A)KAL untuk menuntun (N)ALURI / NAFSU kedalam (G)OLONGAN umat yang selalu berpegang kepada Al Qur’an dan sunnah.

Memahami orang sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT berarti kita harus mampu mempergunakan otak sebagai sarana agar dalam bersikap dan berperilaku taat melaksanakan perintah Allah, menetapi peraturan-peraturan yang ditentukan Allah dan meninggalkan segala larang-annya.

Jadi manusia memanfaatkan OTAK dalam kemampuan untuk berpikir haruslah sejalan ajaran agama untuk mengaktualisasikan alat berpikkir yang disebut kesadaran (otak kanan atas), kecerdasan (otak kiri atas) dan akal (otak bawah sadar).

Oleh karena itu, manusia dengan kemampuan berpikir itu, ia harus menyadari benar dalam mewujudkan hikmah berpikir untuk menjauhi ma’shiat, sehingga proses dalam berpikir dapat menuntun arti mata, telinga, lidah, perut, aurat, tangan, kaki kejalan yang benar.

Untuk itu cobalah renungkan S.Q. 8 : 22 “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya  pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.”

Dalam perjalanan hidup ini orang sebagai manusia penuh dengan tantanngan dimana ideologi dan beragam aliran tumbuh dan berkembang yang akan mempengaruhi jalan pikiran manusia. Oleh karena itu, orang yang dapat menangkap makna “OTAK” sebagai ciptaaan Allah SWT, akan dapat menghayati hikmah berpikir untuk menuntun dalam bersikap dan berperilaku.

Dengan jalan pikiran itu , maka manusia berpikir, bekerja dan belajar selama hidupnya dapat membentuk kesadaran dari satu tingkat ke tingkat yang lebih sempurna sehingga dengan bantuan kecerdasan dan akal, ia dapat menolak ajaran materialisme histori dengan berpegang teguk pada Al Qur’an dan Sunnah yang menuntun manusia berbuat kebajikan dan pantang akan kejahatan.

Mengungkapkan huruf O dalam kata (O)TAK sebagai suatu pendekatan dimaksudkan untuk memahami arti manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia di bumi sehingga ia selalu berpikir dalam satu kebiasaan untuk :

  • Memberi kepada orang yang tidak suka memberi.
  • Membuat kebaikan kepada orang yang tidak senang pada kita.
  • Waktu diam digunakan untuk berpikir.
  • Bila berbicara juga berisi nasehat.
  • Apa dilihat dijadikan contoh dan pelajaran.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka orang hanya bisa dengan berkembang jikalau ia bisa mengatasi kesukaran-kesu-karan krena itu harus bertekun dengan tekad maju terus, meskipun mendapat pukulan dan rintangan. Mati karena melaksana-kan cita-cita adalah yang mulia. Penderitaan dan kesusahan hidup adalah pengalaman yang berharga dan membuat seseorang berjiwa besar.Tidak ada jalan yang senang menuju jalan keberuntungan hidup.

Jadi dengan daya dorong dalam memahami arti kebera-daannya di dunia berarti orang yang mendidik dirinya lebih berharga dari mendidik orang lain. Orang yang tidak dapat menguasai dirinya dia tidak dapat memimpin orang lain. Barang siapa yang pandai memelihara isterinya berarti pandai pula memelihara arti kehidupan ini.

BAB III : MAKNA TAWAKAL DALAM OTAK

Tawakal adalah berserah kepada kehendak Allah artinya percaya dengan sepenuh hati kepada Allah. Tidak cukup hanya percaya te-tapi juga menyerah. Jadi percaya dan meyerah adalah dua kata yang berbeda tapi memiliki saling keterkaitan yaitu disatu sisi  kita percaya karena aqidah dan disisi lain menyerah karena ibadah.

Dengan pikiran itu marilah kita mencoba merenung dari huruf menjadi kata bermakna dalam tawakal yaitu

T menjadi (T)aat ;

A menjadi (A)qidah ;

W menjadi (W)ahyu ;

A menjadi (A)llah ;

K menjadi (K)itab ;

A menjadi (A)l Qur’an ;

L menjadi (L)ailatul qodar.

Jadi untuk mendalami makna TAWAKAL dilihat dari unsur tiap huruf dalam kata tersebut memberikan daya dorong dalam menangkap hikmah berpikir agar wujud percaya dan menyerah menjadi satu kenyataan dalam bersikap dan ber-perilaku.

Untuk jelasnya dibawah ini kita ungkapkan makna huruf dalam kata tersebut seperti dibawah ini :

TAAT, adalah senantiasa menurut perintah dan hukum-Nya aku taati, suruhnya aku kerjakan, larangan-Nya aku hentikan, dengan segenap keyakinan dan kerelaaan.

Mengenai kata Taat dalam surat-surat dan ayat kita dalam Al Qur’an seperti yang tercantum dalam S.Q. 2:93, 173 ; 3:17, 173 ; 4: 13, 34, 59, 65, 69, 80, 1 ; 5 : 7, 92 ; 8 :20, 46 ; 9 : 71 ; 20 : 90 ; 24 : 52, 53, 54,56 ; 26 : 108, 110, 126, 132, 144, 150, 163, 179 ; 29 : 65 ; 31 : 32 ; 33 : 31, 35, 66 ; 38 : 17, 19, 30, 44 ; 43 : 63 ; 47 : 21, 33 ; 48 : 17 ; 49 : 14 ; 51 : 50 ; 58 :13 ; 64 : 12, 16 ; 66 :5, 12 ; 71 : 3 ; 72 : 14 ; 81 : 21 ; 98 : 5.

Sebagai contoh, kita simak S.Q. 2 : 93 “Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursi-na) diatasmu (seraya Kami berfirman) : “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu  dan dengarkanlah”. Mereka menjawab : “Kami mendengarkan tetapi tidak menta’ati “  Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).”

Dari ayat tersebut, jelaslah bahwa penyembahan yang dilakukan bangsa Yahudi terhadap anak sapi, merupakan tanda bagi kecen-derungan mereka kepada benda.

Oleh karena itu Taat yang kita maksudkan adalah taat dengan percaya dan penyerahan diri sebagai satu keyakinan kepada sang pencipta Allah SWT.

Jadi simaklah apa yang tercantum dalam S.Q. 3 : 173 “(yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan : “Sesungguhnya ma-nusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab : “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”

AQIDAH, adalah keyakinan dan percaya serta berpegang teguh atas panggilan hati kepada tingkat pemahaman aqidah yang bersifat haqqul yakin artinya orang berserah diri secara bulat dengan tingkat kesadaran yang tinggi kepada rukun iman yang akan menuntun perjalanan hidup ini yang didukung oleh pemikiran rasional, ilimiah dan mendalam serta pengalamannya dalam pengalaman ajaran agama.

Jadi dengan keyakinan dan percaya serta berserah diri terhadap rukun iman  yaitu : Percaya kpada Allah Ta’ala ; Percaya kepada para Malaikat ; Beriman kepada Kitab-kitab Allah ; Beriman kepada para Rasul ; Beriman kepada hari Kiamat ; Beriman pada suratan Takdir.

Dalam Al Qur’an banyak diungkapkan dalam surat-surat dan ayat-ayat tentang :

  • Iman
  • Allah memberi pahala kepada orang yang beriman
  • Allah pelindung orang beriman
  • Balasan terhadap orang beriman dan kafir
  • Beriman
  • Beriman kepada yang ghaib
  • Ciri iman yang sebenarnya
  • Diwaktu azab datang iman tak berguna lagi
  • Ganjaran untuk orang iman dan jihad di jalan Allah
  • Hukuman untuk orang yang tak beriman
  • Keimanan
  • Kemuliaan manusia terletak pada iman dan amalnya
  • Iman kepada kehidupan Akhirat
  • Iman kepada semua nabi dan kitab
  • Menambah keimanan
  • Nikihailah wanita beriman
  • Orang beriman dan berilmu ditinggikan derajadnya
  • Kenikmatan di akhirat hanya untuk beriman
  • Penghargaan Allah pada manusia yang sempurna imannya
  • Perintah beriman kepada Allah dan Rasulnya
  • Sikap yang lemah iman dalam menghadapi cobaan
  • Surat orang-orang yang beriman
  • Tuhan murka terhadap orang yang mengingkari iman
  • Unsur iman
  • Tak beriman
  • Dan seterusnya.

Beberapa contoh mengenai surat-surat dan ayat-ayat tersebut sbb.S.Q. 3 : 49 tentang Iman Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka):

“Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”

S.Q. 2 : 3 tentang Beriman

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,

S.Q. 3 : 17 tentang Unsur Iman

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

WAHYU, adalah petunjuk yang diturunkan hanya kepada para Nabi dan Rasul melalui mimpi dsb. Nabi Muhammad saw, menerima wahyu yang pertama  ketika beliau berusia empat puluh tahun.

Dalam Al Qur’an kata wahyu kita dapatkan dalam surat dan ayat yang tercantum dalam S.Q. 2:23 ; 3:44 ; 4:105 ; 6:50,51, 106,145 ; 7:75, 203 ; 10:15 ; 11:12, 49 ; 17:39, 60,73,86 ; 18:27, 110 ; 20:114 ; 21::45, 73, 108 ; 22:8 ; 29:45 ; 34:6, 50 ; 35 :31 ; 40::70 ; 41:6, 12, 14, ; 42:3,52, ; 46: 9 ; 54:25 ; 72:1 ; 77:5.

Sebagai contoh dalam S.Q. 2:33 “

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

S.Q. 3:44 “

Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.

Dengan controh surat dan ayat tersebut diatas mengingatkan kepada kita  tentang wahyu dan oleh karena itu, maka Al Qur’an selama masa dua puluh tiga tahun diturunkan secara berangsur-angsur di sekitar pribadi Muhammad, di mana antara satu wahyu dan wahyu berikutnya terdapat jarak waktu pemisah yang berbeda-beda panjang dan pendeknya.

Kita meyakini dan percaya tentang wahyu yang diungkapkan dalam banyak surat dan ayat mengungkapkan :

  • Cara wahyu diturunkan
  • Kebenaran adanya wahyu
  • Nabi adalah laki-laki yang diberi wahyu
  • Nabi Muhammad hanya mengikuti apa yang diwahyukan Tuhan
  • Penegasan Tuhan bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad benar
  • Pokok agama yang diwahyukan kepada para rasul sama
  • Dan seterusnya.

Jadi dengan memahami mengapa wahyu itu diturunkan secara berangsur-angsur, memberikan daya ingat kita nilai pendidikannya bagaimana memerangi kegelapan bangsa jahiliyah, perang badar, perang Uhud dan seterusnya.

Dengan demikian maka daya ingat kita tentang arti dan  fungsi  wahyu itu sendiri untuk mengingatkan kita untuk berpikir menyelami dari satu ayat ke ayat lainnya sebagai sebagai kesatuan kuantitas artinya kita memahami dimana setiap wahyu itu berdiri sendiri dan menghimpun satuan-satuan baru sehingga sampai kepada kumpulann Al Qur’an.

Allah, adalah dia ciptakan berupa berbagai ciptaan-Nya yang ada di daratan, lautan, lembah dan ngarai. Dengan kesempitan ilmu mereka menuju kekufuran. Dan dengan kelemahan nalar, mereka keluar menuju pendustaan dan kedurhakaan.

Oleh karena itu, hingga mereka mengingkari penciptaan segala sesuatu. Mereka menganggap hal itu tercipta tanpa kesengajaan , tiada penciptaan, pengaturan dan kebijakan dari Pengatur dan Pencipta.

Sejalan dengan pemahaman tersebut, Allah telah mene-tapkan sejumlah kewajiban yang menyertai syahadat tauhid. Ia dimaknai dengan rukun-rukun islam. Hikmah dari dilaksana-kannya rukun-rukun ini adalah melatih manusia untuk senantiasa taat kepada Allah, tunduk kepada-Nya dengan sebaik-baiknya dan menjauhkan diri dari larangan-Nya serta kburukan-keburukan.

Dari isi Al Qur’an yang tercantum dalam 114 Surat dan terperici kedalam 1.133 Ayat, hanya sedikit sekali yang tidak mengungkapkan kata Allah pada Surat 54, 55, 56, 68, 75, 77, 78, 80, 83, 86, 90, 92, 93, 94, 97, 99, 100, 101, 102, 103, 105,106,107,108, 109, 111, 113-133.

Sebagai contoh bacalah S.Q. 1:1 “

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. “

S.Q. 2.7 “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

S.Q. 2:8 “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

S.Q. 2:9 “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Bila kita renungkan dari Surat dan Ayat, maka Al Qur’an diantaranya akan mengungkap hal-hal sebagai berikut :

  • Mata manusia tidaka melihat Allah
  • Kekuasaan Allah yang tergambar pada alam semesta
  • Keagungan Allah
  • Balasan Allah untuk orang yang berbuat kebajikan
  • Allah Mengazab setelah memperingatkan
  • Ketenteraman bagi orang yang mengingat Allah
  • Allah mengetahui yang lahir dan yang bathin.
  • Dan seterusnya.

Dengan merenung apa-apa yang terkandung dalam Al Qur’an, maka kita meyakini dan percaya sehingga dapat merubah jalan pikiran ketidaktahuan orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan dan maknanya.

Jadi dengan ilmu, bila kita memperhatikan alam ini dengan pikiran kita dengan mengkaji dengan kesadaran, kecerdasan dan akal, maka engkau mendapatinya seperti rumah yang dibangun dan tersedia semua kebutuhan yang ada didalamnya yang dibutuhkan oleh manusia. Kita dapat membayangkan mengenai langit terbentang sebagai atap, bumi terhampar sebagai alas, bintang-bintang bercahaya sebagai lampu dan mutiara-mutiara terpendam sebagai simpanan.

Begitulah adanya bahwa alam ini diciptakan-Nya dengan perhi-tungan, keteraturan dan keserasian. Dan penciptanya adalah satu.Mahaagung kesucian-Nya, Mahatinggi kemurahan-Nya, Ma-hamulia wajah-Nya dan tiada tuhan selain-Nya.

Demikian pula kita meyakini dan percaya atas ciptaan-Nya atas manusia dan pengaturan janin di dalam rahim, cara kelahiran ja-nin, makanannya, tumbuhnya gigi dan mencapai dewasa, dsb.

KITAB, adalah wahyu Tuhan yang dibukukan sebagai kitab suci yang mempercayainya. Sebelum Al Qur’an diturunkan terdapat taurat, zabur, injil seperti yang termuat dalam Surat-Surat No. 2,3, 4,5, 9,10,11, 12,13, 14, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 33, 34,35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 44, 45, 46, 57, 61, 62, 66, 68, 69, 83, 84, 87, 98 beserta ayat-ayat yang tercantum didalamnya. Sebagai contoh diungkapkan seperti dibawah ini :

S.Q.2: 144 “

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

S.Q. 2 :145 “

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.

S.Q. 2:146

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.

Tuhan menurunkan Al Qur’an membenarkan kitab sebelumnya, oleh karena itu kita harus meyakini bahwa Al Qur’an sebagai kitab yang terakhir diturunkan untuk menuntun manusia sebagai makhluk yang paling mulia dimata-Nya.

Dan oleh karena itu manusia yang diungkap Qur’an dan bagi yang mempercayai, maka dengan hikmah berpikir dapat me-nuntun sikap dan perilakunya dalam perjalanan hidubnya didunia dan berusaha menyiapkan diri menuju kepada perjalan-an yang abadi.

AL QUR’AN, adalah kitab suci yang diturunkan Allah SWT Tuhan Alam Semesta, kepada Rasul dan Nabi-Nya yang terakhir Muhammad  SAW melalui Malaikat Jibril AS untuk di sampaikan kepada seluruh umat manusia sampai akhir zaman.

Kata Al Qur’an dapat kita ketemukan dalam surat-surat beserta ayat-ayatnya pada S.Q. 2 : 2, 23, 41, 89, 91, 97, 129, 185 ;

6 : 90 ; 10 :15 ; 11 : 51 ; 12 :104 ; 25 : 30 ; 41 : 42 ; 42 : 7, 17, 23, 24, 52 ; 43 : 2, 3, 4, 5, 8, 29, 30, 31, 44 ; 44 : 2, 58 ; 45 : 11, 20 ; 46 : 4, 8, 10, 11, 12, 29, 30 ; 47 : 9, 24 ; 81 : 19, 25, 27 ;84 : 21 ; 85 : 21 ; 86 : 13 ;  87 : 6 ;  97 ; 98 : 2 ; 50 : 1, 45 ; 52 : 34 ; 56 : 77 ; 57 : 9 ; 68 : 44, 51, 52 ; 69 : 40, 41, 48, 50, 51 ;

72 : 1, 13 ; 73 : 5,20 ; 74 : 18, 21, 24, 25, 54, 55 ; 75 : 116, 31.

Sebagai contoh dibawah ini diungkapkan makna kata Al Qur’an dalam S.Q. 2 : 2 “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

S.Q. 2 : 23 “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Dengan memahami surat dan ayat tentang Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat (bangsa-bangsa) dan diturunkan dalam bahasa Arab , sehingga bahasa Arab menjadi bahasa kesatuan umat islam sedunia.

LAILATUL QODAR. Artinya suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Qur’an.

Untuk jelasnya dapat kita ketemukan dalam Surat dan ayat seperti pada S.Q. 97 dengan 5 ayat didalamnya yaitu

S.Q. 97 ; 1 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.

S.Q . 97 : 2 “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

S.Q. 97 : 3 “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

S.Q. 97 : 4 “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

S.Q. 97 : 5 “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Dengan mengungkap makna huruf dalam kata TAWAKAL sebagai unsur T dalam kata “O(T)AK mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa TAWAKAL adalah (T)AAT dalam menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan percaya dan menyerahkan diri atas  (A)QIDAH  yang termuat dalam KITAB suci terakhir  yang diturunkan-NYA seecara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW yang disebut AL QUR’AN pada suatu malam yang sangat mulia disebut dengan malam LAILATUL QODAR.

Jadi dengan kemampuan berpikir manusia dapat melaksanakan makna TAWAKAL dalam kata O(T)AK dalam usaha agar dalam hidup ini mempunyai arti atas keberadaan di bumi ini sesuai dengan rencana Allah SWT sebagai penciptanya.

Oleh karena itu manusia dalam kehidupannya dengan bertawa-kal akan menunjukkan kehadapan Allah SWT sebagai orang yang beriman dengan tanda :

  • Mendengar Allah bergeletar hatinya.
  • Dibacakan ayat Allah bertambah keimanannya.
  • Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
  • Mendirikan sembahyang
  • Mendermakan sebahagian dari rezekinya.

Dengan tawakal berarti pula akan  dapat menuntun manusia da-lam bersikap dan berperilaku, maka manusia dengan hikmah berpikir, maka ia akan sampai kepada tujuan dengan lidah sebagai alat manusia yang lebih mulia dalam tubuhnya. Dengan lidah itu pula seorang di lempar kedalam neraka, sebab itu jagalah dia dengan baik karena lidah itu adalah anjing yang setia, jangan lidah anda mengutuki seseorang sebab kutukan itu akan kembali kepada diri anda sendiri.

Akhirnya sebagai daya dorong perlu kita memahami bahwa tawakal tak ada paedahnya bila 1) perkataan kalau tak disertai dengan perbuatan ; 2) kepintaran kalau tidak disertai budi ; 3) derma kalau tidak disertai niat suci ; 4) harta kalau tak dengan santun ; 5) jujur kalau tidak sanggup memegang janji ; 6) hidup kalau tak disertai kesehatan ; 7) negeri makmur kalau hati penduduknya kecewa.

Dengan demikian bahwa orang takwa senantiasa mendapat pimpinan dari Ruhan dalam penghidupan dan perjuangannya di jamin oleh Tuhanakan memperoleh kemenangan. Tinggalkanlah semua yang haram anda akan jadi manusia yang paling utama dalam beribadat pada Allah SWT.

Oleh karena itu tingkatkan manfaatkan dalam hikmah berpikir agar menjadi orang yang disegani bukan pada orang kaya tetapi pada orang berbudi tinggi.

BAB IV :  MAKNA AMANAH DALAM OTAK

Amanah merupakan tanggung jawab manusia sejalan dengan fitrah dan bakat yang dimilikinya sejak lahir, oleh karena itu manusia yang diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang mulia disisi Tuhan, maka dengan memanfaatkan otak, ia harus mampu  meningkatkan kesempurnaan dalam perja-lanan hidup abadi.

Dengan pemikiran itu setiap manusia ibarat kata pepetah bah-wa manusia sebagai individu berusaha menemukan tentang di-rinya, itu berarti ia akan mengenal tentang Tuan. Hikmah berpikir tersebut hanyalah sebagai daya dorong dalam setiap langkah menuju kejalan kesempurnaan

Mencintai kesempurnaan merupakan fitrah yang kuat untuk menuntun manusia dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di dunia ini sebagai tanggung jawab yang harus dipenuhinya.

Dengan pikiran itu marilah kita mencoba merenung dari huruf menjadi kata bermakna dalam amanah sebagai suatu pemaham-an  yang lebih mendalam apa arti hidup di dunia ini. Dengan pemahaman itu ia akan berusaha menempatkan perjalanan hidup ke arah yang diridhoi oleh Allah SWT. Sikap dan perilaku akan dituntun oleh kemampuan berpikir, oleh karena itu dibawah ini diungkapkan kata amanah sebagai berikut :

A menjadi Amal

M menjadi Martabat

A menjadi Akhlak

N menjadi Nasib

A menjadi Azab

H menjadi Hari

Jadi untuk mendalami makna AMANAH dilihat dari unsur tiap huruf dalam kata tersebut memberikan daya dorong dalam menangkap hikmah berpikir agar wujud percaya dan menyerah menjadi satu kenyataan dalam bersikap dan berperilaku.

AMAL, adalah menyangkut perintah Allah SWT melalui pesu-ruh-Nya Nabi Muhammad SAW untuk menjalankan syariat yang menyeluruh persoalan hidup lahir dan batin, artinya Allah SWT menetapkan bahwa syariat lahir adalah untuk diamalkan oleh jasad lahir, sedangkan syariat batin adalah untuk diamal-kan oleh jasad batin (roh)

Didalam Al Qur’an kata amal dapat kita ketemukan dalam surat dan ayat pada S.Q. 2 : 167, 223 ; 3 : 57 , 136, 139 ; 5 : 53 ; 6 : 88 , 160 ; 7 : 53 , 171 ; 11 : 7 ; 17 : 13 ; 42 : 15 ; 49 : 2, 14 ; 50 : 17 ; 58 : 6 ; 67 : 2.

Sebagai contoh S.Q. 2 : 167 “Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api Neraka “

S.Q. 2 : 223 “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”

Bila kita renungkan ayat tersebut diatas dan memahami pula arti amalan, maka kita akan dapat lebih mendalami kandungan surat dan ayat lain yang akan memberikan arti dalam pemaham-an keberadaan manusia sebagai khalifah di dunia ini untuk menjalankan AMANAH sesuai dengan perintah-NYA.

Untuk itu sebagai daya dorong dalam usaha-usaha manusia untuk selalu ingat kepada keyakinan dan berserah diri kepada Allah SWT, maka diperlukan adanya suatu cara pendekatan dalam mendorong untuk menciptakan hihmak berpikir agar kita selalu dapat menempatkan sikap dan perilaku untuk menjalankan AMANAH dengan mengingat hal-hal yang termuat dalam surat dan ayat yang menjadi batasan tentang diri kita yaitu :

  • Pemahaman arti amal saleh.
  • Balasan Allah kepada amal seseorang menurut niatnya.
  • Balasan masing-masing tergantung amalannya.
  • Balasan untuk yang beramal baik
  • Derajat seseorang disisi Tuhan sesuai dengan amalnya.
  • Hendaknya segala amal dikerjakan karena Allah.
  • Balasan terhadao orang beramal buruk.
  • Jaji Allah bagi yang mengerjakan amal saleh.
  • Kemuliaan manusia terletak pada amal dan imannya.
  • Amal salleh mempertemukan manusia dengan Tuhannya.
  • Amal saleh yang kekal lebih baik dari perhiasan dunia.
  • Setiap amal mendapat pahala dari Tuhan.
  • Setiap orang akan memetik buah amalnya sendiri.
  • Setiap orang telah ditetapkan amal perbuatannya.
  • Tuhan tidak menyianyiakan amal seseorang.
  • Amal untuk kebaikan dirinya sendiri.
  • Yang menerima buku amal dari kanan akan menerima pemeriksaan yang mudah.
  • Yang menerima buku amal dari belakang akan masuk neraka.
  • Yang mengerjakan amal dalam keadaan beriman akan diberi pahala.

Demikianlah bila kita selalu mengingat-ingat hal-hal yang kita sebutkan diatas, maka setiap kita berpikir dalam melaksanakan sesuatu akan menuntun kita dalam bersikap dan berperilaku ke jalan yang benar, maka disitulah letak kebahagian kita menyiapkan bekal dalam menuju perjalanan abadi.

MARTABAT, tingkat harkat kemanusiaan dimata Allah SWT, dimana manusia memahami secara bulat apa maksud ia diciptakan-Nya untuk beribadah, sebagai khalifah, sebagai Ummat Nabi Saw dalam melanjutkan perjuangannya.

Untuk beribadah bukan hanya manusia tetapi seluruh makhluk di muka bumi ini beribadah menurut caranya masing-masing. Untuk itu perhatikan perintah Allah SWT dalam Al Qur’an seperi yang termuat dalam

S.Q. 24 : 41 “Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Jadi ibadanya Matahari yaitu dengan bergerak setiap hari dari tumur ke barat, begitu juga ibadahnya air yaitu senantiasa me-ngalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Apalagi manusia makhluk yang paling sempurna asal kejadiannya.

Sebagai khalifah, ketika Allah SWT menciptakan manusia, maka malaikat proten, seperti yang termuat dalam surat :

S.Q. 2 : 30 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Oleh karena itu, manusia sebagai penanggung jawab di muka bumi dan sebagai khalifatullah yang diberi sifat kasih sayang kepadea seluruh manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sejalan dengan pikiran itu bahwa pada diri setiap manusia ter-dapat empat sifat sesuai dengan kehendak Allah SWT yaitu 1) sifat hewanniyah, menggunakan harta dan diri untuk makan, minum, dan keperluas jasmani lainnya ; 2) sifat Malaikat menggunakan harta dan diri untuk ibadah ; 3) sifat Khalifah menggunakan harta dan diri untuk memberi manfaat kepada orang lain ; 4) sifat Nubuwwah menggunakan harta dan diri di jalan Allah (untuk memperjuangkan agama Allah).

Sebagai Ummat Nabi Saw, setelah meninggal Rasulullah Saw, maka tugas untuk mangajak manusia taat kepada Allah SWT, maka tugas ini diembankan kepada ummat ini. Seperti yang termuat dalam surat dibawah ini :

S.Q. 12 : 108 “Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”.

Cobalah renungkan bahwa orang yang bertaqwa kepada Allah dengan martabat yang tinggi seperti yang tercantum dalaam Al Qur’an pada S.Q. 25 : 75 “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”

AKHLAK, sistem nilai yang  sesuai dengan ajaran dianut oleh manusia yang sejalan dengan keyakinan dan kepercayaan yang dapat menuntun manusia dalam bersikap dan berperilaku.Oleh itu dalam islam maka sistem yang dimaksud adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber nilainya.

Jadi akhlak yang menuntun dan membentuk kepribadian indi-vidu manusia sehingga setiap individu berbeda dari orang lain, oleh karena itu seberapa jauh seseorang dapat berakhlak dengan kepribadian sesuai dengan tuntunan Allah SWT, tergantung yang bersangkutan mengangkat derajatnya di mata Allah.

Mengenai dasar-dasar akhlak dapat kita ketemukan dalam Al Qur’an pada surat-surat S.Q. 7 : 199, 200, 201 ; 2 :109 ; 3 : 134, 159 ; 4 : 149 ; 5 :13. Dibawah ini kita ungkapkan surat dan ayat yang dimaksud sebagai berikut :

S.Q. 7 : 199 “Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

S.Q. 7 : 200 “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

S.Q. 7 :201 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

S.Q. 2 : 109 “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.

Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

S.Q.  3 : 134 “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

S.Q. 3 : 159 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Dari contoh surat dan ayat yang kita ungkapkan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa bimbingan yang diberikan Islam merupakan pendekatan yang paling luhur dan paling ber-harga yang dapat menuntun akhlak dengan kepribadian yang luhur sehingga dapat menuntun dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan fitrah dan bakat untuk meman-faatkan hikmah berpikir ke jalan Allah SWT.

NASIB, adalah sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang. Apa kita dapat merubahnya. Tergantung kepada perjalanan hidup yang ditempuhnya.

Oleh karena itu ingatlah selalu kata mutiara seperti “Sesungguhnya Allah menjadikan rejekiku dibawah bayang-bayang usahaku”

Kata nasib didalam Al Qur’an terdapat pada surat dalam S.Q. 5 : 3, 26, 90 ; 27 : 47.

Sebagai contoh kita ungkapkan pada S.Q. 5 : 3 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sejenak bila  kita merenung surat-surat dan ayat didalamnya tentang nasib, maka kita dapat menuntun perjalanan hidup ini dengan penuh keyakinan dan berserah diri kepada-NYA dalam memanfaatkan hihmak berpikir untuk usaha hidup kedalam :

  • Bagi duniamu (perumpamaan dunia seperti air hujan ; perumpamaan kehidupan dunia yang mempesonakan maanusia ; kehidupan dunia ini kesenangan yang menipu ; dunia itu indah dalam pandangan manusia ; kehidupan dunia adalah senda gurau dan main-main ; kehidupan dunia jangan sampai memperdayakan ; kehidupan dunia jangan sampai menipu ; kenikmatan dunia jangan membuat kikir ; kehidupan dan kenikmatan dunia jangan sampai menyeret ke dalam neraka ; kehidupan dunia memperbudak oraang yang mengabdinya)
  • Bagi pekerjaanmu (bekerja sebagai tanda syukur kepada Allah ; sebgian besar yang dimakan manusia dari hasil bekerja ; Allah menjadikan siang agar manusia berusaha / bekerja ; ketika bekerja ingatlah ibadah kepada Allah ; pekerjaan manusia memang berbeda-beda ; bekerjalah seadanya yang penting halal jangan malas ; tak ada yang lebih baik makan dari hasil usahanya sendiri ; para nabi juga bekerja ; ingatlah bahwa rezeki masing-masing manusia itu berbeda).
  • Bagi saat kayamu  (kaya yang sebenarnya adalah kaya jiwa ; kaya yang teladan, patut diirikan ; kebanyakan orang hidup mewah adalah mendustakan kebenaran ; janganlah rakus / tamak terhadap dunia ; tabungan anda yang sebenarnya adalah sedekah anda ; mendermakan kelebihan harta suatu kebajikan ; jika kaya ingatlah orang-orang miskin ; jangan  berlaku boros tidak pula kikir ; jangan terperdaya oleh harta dan wanita ; jangan menjadi hamba harta )
  • Bagi saat miskinmu (kaya atau miskin itu kehendak Allah, tak perlu hiri hati ; dialah orang yang sesungguhnya miskin ; orang miskin masuk surga lebih dahulu ; kebanyakan yang masuk surga adalah orang-orang miskin ; rasulullah hidup sangat sederhana ; keluarga rasulullah juga sangat sederhana ; doa nabi untuk memohon rezeki ; qona’ah terhadap pemberian Allah ; meski miskin jangan meminta-minta ; jika mengetahui balasannya, maka akan minta miskin.)
  • Bagi waktu luangmu (gunakan lima perkara penting se- belum datang lima yang lain ; selalu ingatlah terhadap mati agar waktu bermanfaat ; hari demi hari hendaklah amalan ibadah semakin meningkat ; berlomba-lomba dalam kebajikan unrtuk mengisi waktu ; perlu menyusun rencana untuk masa depan / akhirat ; senantiasa ingat kepada allah agar tidak merugi ; sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi ; banyak berbuat kemanfaatan untuk orang lain ; jangan menghabiskan waktu seperti orang-orang kafir ; jangan mengisi waktu dengan dosa.
  • Bagi waktu sempitmu ( mohon perlindungan allah ; tidak memanfaatkan kesempitan untuk kejahatan ; selalu ingat bahwa kehidupan dunia hanya sebentar ; beramal kebajikan meski dalam kesempitan ; dalam kesempitan hendaklah selalu bersabar ; dalam kesempitan hendaklah bersegera  untuk taubat ; meskipun dalam kesempitan iangan melanggar larangan allah ; meski dalam kesempitan jangan melanggar hak orang lain ; meski dalam kesempitan janganlah berharap akan kematian ; mohon kelapangan keepada allah)
  • Bagi masa mudamu (pemuda yang mendapat naungan allah ; menjaga masa muda senantiasa dekat kepada allah ; mulai muda banyak mengisi dengan amat ibadah ; mulai muda banyak mencari ilmu dan mengajarkannya ; ingatlah perjuangan jihad mumpung masih muda ; jadilah anak yang saleh ; senantiasa yang muda menghormati yang tua ; Yang muda mengetahui hak yang lebih tua ; yang muda ingin panjang umur dan lapang rezeki ; berusahalah jika allah menghendaki segala sesuatu akan berubah atau terjadi)
  • Bagi masa tuamu (sadar dengan cukupnya umur ; umur panjang yang tidak berkah ; sudah berapakah umur di badan ? ; meski tua jangan berharap mati ; kiat umur panjang penuh berkah ; akhlak yang baik menambah beratnya timbangan ; semakin tua semakin banyak berdzikir ; semakin tua banyak istighfarnya ; beramal yang tiada putus pahalanya ; orang tua yang baik selalu menyayangi yang muda ;
  • Bagi kala sehatmu (sehat adalah kenikmatan yang perlu disyukuri ; menggunakan waktu sehat sebaik-baiknya sebelum datang sakit ; memperbanyak amal ibadah agar usia lebih berkah ; jangan sombong karena badan sehat dan kuat ; badan dan dan mental sehat,hati harus juga sehat dan selamat ; meski sehat memperbanyak doa, itu tanda tidak sombong ; menjaga kesehatan dengan berhati-hati mengisi perut ; ingaat banyak mati, orang sehat ada juga mati ; menjaga diri dan kesehatan tidak membinasakan diri ; dilarang keluar masuk daerah yang terserang wabah.)
  • Bagi kala sakitmu (sadar bahwa sakit itu dengan izin allah dan dia yang menyembuhkannya ; sabar dan tabah di kala sakit dan berbaik sangka kepada allah ; sakit dapat menghapus dosa-dosa ; perlu bersyukur meski sakit, karna amalan harian ketika sehat diberi pahala ; boleh mengadu kepada allah atau seseorang asalkan bukan karena kecewa ; bila sakit segera berobat ; dilarang berobat dengan barang haram ; boleh berobat dengan doa-doa dan mantra yang tidak syirik ; dilarang memakai jimat dan isim ; banyak mengingat mati, tetapi jangan minta mati.)

Oleh karena itu, apa yang telah kita ungkapkann diatas untuk merenung nasib apa yang harus kita kembangkan dalam pikiran ini agar selalu ingat bagaimana sebaiknya bersikap dan berperilku. Sejalan dengan pikiran tersebut, marilah kita renungkan bahwa Allah tidak mengubah nasib seseorang kecuali mereka merubah keadaan, seperti termuat pada surat :

S.Q. 8 :53 “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,”

S.Q. 13 : 11” Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Begitu pula halnya untuk kita renungkan dalam menjalankan hidup ini yang kita sebut dengan :

Nasib Malang karena perbuatan sndiri, yang dimuat dalam surat S.Q. 36 : 19 “Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas”.

Nasib orang yang menentang ayat Allah, yang dimuat pada S.Q. 40 : 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76 .

Sebagai contoh pada

S.Q. 40 : 69 “Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan?

AZAB, adalah siksa atas perbuatan manusia yang diturunkan oleh Allah SWT, karena manusia tidak mengikuti perintah dan menjahui larangan yang telah di tetapkan-Nya.

Seharusnya manusia memahami benar atas tiga alat yang harus kita perhatikan dalam menjalankan hidup ini : 1) Otak letaknya lebih tinggi dari jantung, tempatnya juga lebih rapi dari tempat jantung yaitu di kepala ; 2) Jantung lebih tinggi dari perut besar dan tempatnya lebih rapi dari perut yaiti di dada ; 3) Perut besar hanya di bungkus  dengan kulit saja sedang tempatnya juga lebih rendah. Dari ketiga tempat masing-masing itu mempunyai hikmah dan arti bagi orang yang berpikir.

Bertitik dari pemikiran diatas, maka Allah SWT telah menetapkan tempat tinggal sementara bagi manusia dan makhluk-makhluk lain yang hidup berdampingan. Dalam menempuh kehidupan ini manusia sangat membutuhkan sarana dan fasilitas hidup yang memadai dan semua itu telah Allah sediakan jauh sebelum manusia diciptakan. Sejalan dengan itu begitu banyak telah diungkapkan dalam surat dan ayat mengenai Azab seperti pada surat No. 3, 4,5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 51, 52, 53, 54, 57, 58, 59, 61, 64, 65, 67, 68, 70, 71, 72, 73, 75, 76, 77, 78, 79, 83, 84, 85, 88, 89, berikut dengan ayat-ayat yang ada dalam surat tersebut. Sebagai contoh dibawah ini diungkap dalam surat

pada S.Q. 3 : 77 “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

S.Q. 3 : 106 “pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.

Begitu banyak surat dan ayat yang mengingat manusia dalam bersikap dan berperilaku, tapi manusia masih saja kita mengerti arti keberadaannya di dunia dan oleh karena itu lebih sering kita mengingat hal-hal seperti dibawah ini :

  • Allah mengazab orang kafir
  • Allah mengazab suatu kaum setelah diperingatkan
  • Azab Allah pasti datang pada waktunya
  • Azab Allah pasti kepada yang mendustakan karunianya
  • Azab bagi orang kafir di neraka
  • Azab buruk untuk orang yang tidak percaya akhirat
  • Azab Tuhan atas kaum yang durhaka
  • Dan seterusnya.

Dengan sering kita merenung dan menghayati tentang datangnya azab oleh Allah SWT dan dalam Al Qur’an pun menye-butkan istilah dan penamaan yang berbeda seperti Fitnah, Musibah, Bala’, dsb, namun manusia masih saja tidak mampu memanfaatkan hikmah berpikir untuk mngingat dalam perjalanan hidupnya bahwa :

  • Kalau jasmani makan, rohani juga makan yaitu dengan pengetahuan.
  • Kalau jasmani berpakaian, rohani mesti berpakaian yang kita sebut dengan budi.
  • Kalau jasmani berlatih, rohani juga dilatih yaitu dengan kesusahan.
  • Kalau jasmani dibersihkan, rohani juga dibersihkan dengan kesucian bathin.
  • Kalu jasmani diobati, rohani juga harus diobati.

Oleh karena dengan itu hikmah berpikir, menuntun manusia untuk memahami ajaran islam tidak mau tumbuh di atas jiwa yang dibungkus oleh kemusyrikan dan kebendaan.

HARI, adalah bagai sepatu yang harus dipakai untuk berjalan. Kita akan berpikir pula bahwa hari yang terpanjangpun akan berakhir. Oleh kareena itu bayangkan pula hari-hari tanpa tujuan akan berakhir dengan kehampaan, sedang kehampaan akan berakhir dengan kehancuran.

Jadi dengan pikiran tersebut diatas untuk menuntun perjalanan hidup dengan memahami hari-hari yang akan kita lalui dalam hidup ini. Oleh karena itu Allah menciptakan manusia melalui beberapa fase kehidupan kedalam hari-hari yang dilalui yaitu

  • Alam Roh, alam sebelum jazad manusia diciptakan.
  • Alam Rahim, alam kandungan ibu tempat menyempurnakan jazad manusia dan penentuan kadar nasibnya di dunia yaitu hidupnya, rezekinya, kapan dan di mana ia meninggal dunia
  • Alam dunia, alam tempat ujian bagi manusia, siapakah di-antara mereka yang paling baik amalnya.
  • Alam kubur, alam tempat menyimpan amal manusia. Di alam ini Allah menyediakan dua keadaan yakni nikmat atau azab kunur.
  • Alam akhirat (alam tempat pembalasan amal-amal manusia) Di alam ini Allah menentukankeputusan dua tempat untuk manusia, apakah ia akan menghuni surga atau menghuni neraka.

Hari-hari yang dilalui manusia di dunia merupakan usaha manusia menempuh ujian dalam perjalanan hidupnya untuk meningkatkan amal dan iman.

Untuk mengingat hari yang kita maksudkan itu, kita dapat me-mahaminya dalam Al Qur’an pada Surat No.3, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17 dengan ayat-ayat yang tercantum dalamnya, sebagai contoh dibawah ini diungkapkan :

S.Q. 3 : 9 “”Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

S.Q. 3 : 25 “Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).

S.Q. 4 : 38 “Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.

S.Q. 5 : 3 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dengan kemampuan manusia untuk berpikir diharapkan manu-sia menyadari arti hidup baginya dalam menatap dalam perjalan an hidup pada hari-hari yang dilalui dengan mengingat seperti hal-hal dibawah ini :

  • Hari anak dan harta tak berguna.
  • Hari hisab / perhitungan
  • Hari kemenganan
  • Hari akhirat
  • Hari kiamat
  • Yang percaya pada kiamat akan mendapat pahala
  • Dan seterusnya.

Jadi dengan bepikir, manusia dapat menghayti arti hidup yang hari-hari dilaluinya, oleh karena itu brusahalah selekas-lekasnya berbuat yang baik sehingga lebih baik berbuat demikian hari ini daripada hari esok hari. Sebab hidup adalah pendek sedangkan waktu berlari kencang.

Dengan mengungkap makna huruf dalam kata AMANAH sebagai unsur A dalam kata “OT(A)K mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa AMANAH adalah(A)MAL dalam menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan percaya dan menyerahkan diri dalam amalan lahir dan amalan batin kedalam usaha menumbuh kembangkan (M)ARTABAT  menjadi kepribadian individu yang memiliki(A)KHLAK untuk menuntun (N)ASIB agar menjahui (A)ZAB yang diturunkan Allah SWT bagi manusia yang tidak percaya akan (H)ARI Akhirat dalam menuju perjalanan abadi.

Dengan memahmi makna amanah dari unsur huruf menjadi kata bermakna, mampukah kita secara berkelanjutan untuk mening-katkan kesadran dari tingkat yang paling rendah yang disebut indrawi ke tingkat kedua yang disebut berpikir logis ke tingkat ketiga yang disebut berpikir rohaniah ke tingkat yang paling tinggi disebut berpikir tauhid. Itu berarti secara bertahap kita berusaha untuk mengenal tentang diri kita. Oleh karena itu, makin lama saya hidup makin terasa indah hidup ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jadi ingatlah selalu dalam bersikap dan berperilaku untuk selalu menyiapkan diri menuju ke perjalanan abadi karena itu janganlah kamu menyesali hidup ini tapi pandanglah hidup itu adalah lautan pengorbanan untuk mencapai sesuatu yang luhur yang tak terbatas. Dengan begitu kita menyadari sepenuhnya arti penderitaan  hidup yang mengajarkan kepa-da manusia menghargai kebaikan dan keindahan hidup.

BAB V : MAKNA KERJA  DALAM OTAK

Salah satu pemenuhan kebutuhan hidup ini adalah kerja selain daripada itu manusia harus berpikir dan belajar, oleh karena itu apapun usaha manusia sangat tergantung kepada pandangannya terhadap mengapa Tuhan menciptakannya sebagai mahkluk yang paling mulia di muka bumi ini.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, kita merenung untuk meng-hayati makna KERJA dalam unsur kata OTA(K) itu dalam mencari jawaban arti keberadaan hidupnya dari unsur huruf dalam kata “KERJA” menjadi kata yang bermakna yaitu :

K menjadi KEBAJIKAN

E menjadi ENERGI

R menjadi RASIONAL

J  menjadi JANJI

A menjadi ADIL

Kerja adalah suatu usaha yang terkait pada kegiatan dalam kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, yang menjadi masalah apa kgiatan itu sejalan dengan perintah Allah SWT, disinilah letak kemampuan manusia untuk berpikir apa ia harus melakukan yang sejalan dengan keyakinan dan kepercayaan yang dianutnya.

Jadi untuk mendalami makna kerja yang sejalan dengan keyakinan dan kepercayaannya itu sebagai manusia muslim, maka ia menjawab bahwa islam yang dipahami Rasulullah, sahabat dan para tabi’in adalah islamnya jiwa secara utuh kepada Allah.

Dengan pemikiran itu, marilah kita merenung unsur huruf da- lam kata KERJA menjadi kata bermakna dengan menyadari sepenuhnya bahwa eksentensi manusia seutuhnya dituntut untuk menyerahkan diri kepada Allah, dengan pikirran itu simaklah uraian berikut dibawah ini :

KEBAJIKAN, adalah kebaikan atau dapat juga kita katakan dengan segala perbuatan yang baik, jadi dalam suatu situasi memperlihatkan semakin tinggi penghargaan orang kepada harta benda, semakin dalam pulalah turunnya penghargaan pada orang yang terkait dengan kebaikan.

Coba kita renungkan ungkapan dari Al Hadisth, riwayat At Tabrani yang mengungkapkan bahwa “Ada empat macam yang bilamana seseorang mempunyai keempat-empatnya, seolah-olah dia mempunyai seluruh kebajikan dunia dan akherat: lidah yang selalu memberi ingat, hati yang selalu berterima kasih, tubuh yang selalu tabah atas setiap datang benncana, isteri yang tak pernah menghianati suaminya.”

Sejalan dengan ungkapan diatas, marilah kita merenung apa-apa yang diungkapkan dalam Al Qur’an tentang kebajikan dalam surat dan ayat : S.Q. 2 :215, 224, 269, 286 ; 3 : 115, 134 ; 4 : 40, 53, 125, 127, 144 ; 5 : 2, 48, 85, 93 ; 6 : 17, 154, 156 ; 10 : 11 ; 11 : 31 ; 16 : 76, 90, 128 ; 17 : 11 ; 21 : 73 ; 22 : 11, 17

Sebagai contoh diungkapkan pada :

S.Q. 2 : 200 “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”

S.Q. 3 : 115 “Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.”

S.Q. 4 : 40 “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”

Jadi bila kita renungkan makna kebajikan yang diajarkan oleh Allah SWT seperti yang termuat dalam surat dan ayat diatas  untuk mengingatkan kita dalam bersikap dan berperilaku, oleh karena itu kita harus selalu meyakini bahwa :

  • Allah mengetahui kebajikan yang dikerjakan manusia.
  • Balasan Allah terhadap orang yang berbuat kebajikan.

Dengan pemahaman itu melaksanakan kebajikan menjadi suatu kebiasaan dalam perjalanan hidup ini, sehingga ia dapat tum-buh dan berkembang dalam pikiran karena kesenangan hati dan ketenteraman jiwa lebih berharga dari kesenangan pangkat dan kekayaan.

Sejalan dengan pikiran tersebut, simaklah ungkapan dibawah ini sebagai daya dorong dalam menuntun kemampuan melihat kedepan, apa yang terpikirkan dalam bersikap dan berperilaku “Carilah kebaikan diantara kaum melarat ummatku, hiduplah ditengah-tengahnya. Kamu tidak akan memperoleh kebajikan dalam lingkungan orang yang berhati bengis. Laknat Allah turun atasnya, hai Ali ! Tuhan menciptakan kebajikan dan menciptakan pemangku-nya lalu menamakan dalam hati mereka kerinduan kepada kebajikan dan keinginan buat mengerjakan-nya dan menumpahkan minatnya seluruhnya untuk itu, seperti air tumpah kepada bumi yang tandus, maka tercipta kehidupan disitu serta kehidupan penghuninya. Pemangku kebajikan di dunia ini itulah juga pemangku keebajikan diakherat. (Al Hadisth, riwayat Ali bin Abi Thalib)

ENERGI, adalah daya (kekuatan) yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan. Daya (kekuatan) harus dibangun atas dasar kebiasan yang produktif yang ditopang oleh kekuasaan disatu sisi dan disisi lain oleh kebenaran.

Kata Kekuasaan yang kita maksudkan disini, kita merujuk apa yang tertera dalam Al Qur’an seperti yang disebutkan pada surat dan ayat dalam S.Q. 2 : 251, 258 ; 4 : 153 ; 12 : 101 ; 18 : 84 ; 20 : 23, 54 ; 21 : 32 ; 22 :56 ; 23 : 50, 88 ; 25 : 2 ; 26 : 8, 44, 103, 121, 139, 190 ; 27 : 86 ; 28 : 35 ; 29 : 44 ; 67 : 16, 17 ; 69 : 2 ; 72 : 11 ; 74 : 14 ; 43 : 59 ; 45 : 16.

Sebagai contoh kita ungkapkan S.Q. 2 : 251 “Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”

S. Q. 4 : 153 “Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma`afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.”

Dengan mengungkapkan dua surat tersebut diatas, mengingatkan kepada kita bahwa kekuasaan haruslah sejalan dengan perintah, sehingga harus dapat meyakini dan menghayati yang terkait dengan kekuasaan mengenai :

  • Kekuasaan Allah adalah mutlak
  • Kekuasaan Allah dan kesempurnaan ilmunya
  • Kekuasaan Allah meliputi alam semesta.
  • Dan seterusnya.

Kata Kebenaran terdapat pada surat dan ayat dalam S.Q. 4 : 83, 105, 135, 170, 174 ; 5 : 8, 48, 119 ; 6 : 25, 104, 115 ; 7 : 43, 53, 168, 174, 180 ; 8 : 5, 6 ; 9 : 48, 76 ; 10 : 32, 35, 36, 76, 94, 108 ; 11 : 20, 5, 64, 120 ; 12 : 35, 51 ; 15 : 64, 85 ; 17 : 41, 105.

Sebagai contoh S.Q. 4 : 83 “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”

S.Q. 5 : 8 “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dari kedua contoh surat yang kita ungkapkan diatas, apapun yang kita lakukan bertolak dari pikiran-pikiran dalam mewujudkan dayaguna dan hasilguna sehingga disitulah terletak akhir usaha mencari kebenaran. Oleh karena itu untuk membangkitkan daya ingat bahwa dunia adalah tempat usaha menyempurnakan iman, ujian amal manusia.

Sejalan dengan pikiran tersebut, maka dalam pikiran kita akan selalu digerakkan oleh adanya keyakinan atas :

  • Akibat yang menolak kbenaran
  • Bukti kebenaran Allah yang mengharuskan kita menyukurinya.
  • Bukti kekuasaan dan kebenaran Allah
  • Larangan mentaati orang yang mendustakan kebenaran.
  • Kebenaran selalu mengalahkan kebathilan.
  • Dan seterusnya.

Untuk mewujud energi yang berdayaguna dan berhasilguna yang sejalan dengan kekuasaan dan kebenaran yang telah kita utarakan diatas harus dibangun menjadi satu kebiasaan yang produktif artinya harus dibina dalam usaha untuk menuntun sikap dan berperilaku kedalam kemampuan untuk menggerakkan berpikir dengan memanfaatkan pengetahuan, keterampilan dan keinginan menjadi usaha untuk menuntun kehidupan.

Jadi energi harus didorong pemanfaatannya untuk mencapai tujuan hidup ialah kebahagian dan ini tidak dapat dicapai kare-na keinginan dengan niat memburu kesenangan, tetapi adanya di dalam suatu kehidupan yang sederhana dan sewajarnya, sedapat mungkin bebas dari segala alat benda kediniaan.

RASIONAL, adalah menurut pikiran dan pertimbangan yang logis yang sejalan dengan akal yang bermanfaat. Jadi berpikir logis adalah proses nalar, menyusun ketahuan-ketahuan yang ada menuju kepada suatu kesimpulan yang memiliki kebenaran.

Kata berpikir terdapat pada S.Q. 3 : 65 ; 13 :4 dan pikiran yang terdapat pada S.Q. 6 : 46 ; 11 :63, 88 ; 12 :35 ; 17 :51 ; 68 : 28.

Sebagai contoh kita ungkapkan apa yang termuat pada surat :

S.Q. 3 : 65 “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? “

S.Q. 13 : 4 “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”

S.Q. 6 : 46 “Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).”

S.Q. 11 : 63 “Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian.”

Menyimak dari surat dan ayat yang diungkapkan diatas, untuk memahami arti berpikir bahwa  dari yang  tidak tahu menjadi tahu. Dengan berpikir manussia juga tidak boleh puas dengan satu pemikiran karena adakalanya apa yang terpikirkan itu hanyalah sebuah bayangan atau sebuah fatamorgana belaka.

Itulah satu kenyataan yang kita hadapi saat ini khususnya Bangsa Indonesia dimana semakin bertambah terhadap orang-orang islam dapat berkurang bila kita sendiri menutup pintu rahmat dan menggunakan segala cara yang menyebabkan kemurkaan Allah SWT.
Manusia yang tidak mempergunakan alat pikiran berupa kesa-daran, kecerdasan dan akalnya untuk memikirkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan tuhan sehingga hatinya beku, matanya buta dan telinganya tuli, maka semua perbuatannya dikendalikan hawa nafsu kedalam tingkat kesadaran inderawi, maka pembalasan datang kepadanya bisa dalam bentuk peringatan , musibah dan azab yang menimpa manusia dalam kehidupan akibat perbuatannya.
Kehidupan masa kini, manusia terjebak dalam kemampuan berpikir ketidaktahuan orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan dan maknanya, dimana mereka tidak mampu me-nangkap arti menuju perjalanan abadi dalam kehidupannya.

Oleh karena itu manusia masa kini, dengan kesempitan ilmu mereka menuju kekufuran serta dengan kelemahan nalar mere-ka keluar menuju pendustaan dan kedurhakaan.

JANJI, adalah perkataan yang diucapkan untuk menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat seperti hendak memberi, menolong dsb.

Untuk mendalaminya makna kata janji ini banyak diungkapkan dalam Al Qur’an  seperti yang tercantum pada S.Q. 2 : 40, 63, 83, 84, 93, 177 ; 3 : 9, 76, 77, 80, 81, 112, 152, 187, 194 ; 4 : 21, 90, 92, 95, 120, 122, 154 ; 5 : 9, 13 ; 6 : 34, 52 ; 7 : 102, 137, 142, 150 ; 8 : 56 ;  : 4, 12, 112, 114 ; 10 : 4, 55, 64 ; dan seterusnya.

Sebagai contoh diungkapkan pada S.Q. 2 : 40 “Hai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).”

S.Q. 3 : 9 “”Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.”

S.Q. 4 : 21 “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Dengan mngungkapkan surat dan ayat diatas, maka kata janji haruslah mengingatkan kita dalam bersikap dan berperilaku artinya sekali kita mengucapkan apa yang dinamakan janji, tidak bisa dibayar dengan apapun kecuali melaksanakan janji itu. Jadi dengan lebih sering kita menghayati makna janji seper-ti yang termuat dalam Al Qur’an akan memberikan daya dorong dalam kebiasaan untuk memenuhi janji untuk setiap janji yang kita ucapkan bukan hanya sekedar  bayangan yang tidak pasti.

Begitu banyak dalam surat dan ayat pada Al Qur’an untuk me-ngingatkan kepada kita agar kita dapat membentuk kepribadian sebagai manusia yang utuh dalam kehidupan dengan mengingat ingat hal seperti yang kami ungkapkan dibawah ini :

  • Janji Allah dalah benar pada S.Q.35 : 5
  • Janji Allah kepada orang mukmin pada S.Q. 67 : 12
  • Janji Allah pasti terjadi pada S.Q. 77 : 7
  • Janji Allah untuk orang bertaqwa pada S.Q. 3 : 15, 16, 17
  • Dan seterusnya.

Jadi dengan jalan pikiran yang kita utarakan diatas akan selalu terbina dalam kemampuan berpikir yang dapat menggambar dengan janji adalah sebagai ukuran sampai dimana keluhuran budi seseorang sehingga dalam pikirannya terbina kesetiaan pada janji yang diucapkannya. Dalam situasi dimana kita membuat kesalahan, maka dengan sendirinya terdapat dorongan dalam pikiran untuk tidak malu untuk mengakuinya dan ia melangkah untuk memper-baikinya.

ADIL, adalah berpihak yang benar, berpegang pada kebenaran atau dalam bersikap dan berperilaku menun-jukkan kepribadian yang tidak berat sebelah atau tidak memihak.

Untuk menggugah apa yang kita katakan adil, maka renungkanlah apa yang tertuang dalam Al Qur’an mengenai kata adi se-perti yang termuat dalam surat pada S.Q. 3 : 8 ; 4 :3, 58, 105, 127, 129, 135 ; 5 : 8, 42, 95, 106 ; 6 : 157 ; 7 : 89 ; 10 : 4, 54 ; 11 : 85 ; 16 : 90 ; 20 : 112 ; 21 : 112 ; 33 : 5 ; 38 : 22, 26 ; 3 9 : 69, 75 ; 40 : 78 ; 42 : 15, 17 ; 45 : 9 ; 60 : 8 ; 65 : 2.

Sebagai contoh kita ungkapkan dari surat dan ayat diatas :

S.Q. 3 : 8 “(Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).”

S.Q. 4 : 3 “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

S.Q. 5 : 8 “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dengan menghayati makna yang tercantum dalam Al Qur’an seperti yang kita ungkapkan diatas, memberi daya dorong kita dalam bersikap dan perilaku, maka setiap kita melangkah dalam kemampuan kita berpikir menumbuhkan benih-benih untuk menghayatinya menjadi keyakinan dalam kehiddupan bahwa orang tak mungkin adil tanpa perikemanusiaan.

Oleh karena itu, keruntuhan umat islam saat ini, apapun yang diperlihatkan oleh pemimpin kita tidaklah memberikan ketela-danan dalam kehidupan ummat, apapun usaha untuk memperbaikinya menemukan jalan buntu bahkan penyakit bertambah, peringatan, musibah dan azab timbul dan silih berganti, tapi manusia sebagai pemimpin ummat tidak menghayati belajar 1350 tahun yang lalu , ketika di dunia ini terjadi kekafiran, kegelapan dan kebodohan (kejahilan), maka dari balik pegunungan Makkah terpancarlah cahaya hidayah menembus ke arah timur, barat, utara dan selatan. Seluruh penjuru dunia mendapat cahaya hidayah tersebut. Hanya dalam waktu singkat yaitu selama 23 tahun, Nabi Muhammad Saw.dapat membawa manusia kepada kemajuan

Inilah kehidupan manusia di dunia, diciptakan sebagai mahkluk yang paling mulia dimata Allah Swt, tapi sebaliknya manusia tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai khalifah-Nya. Sedangkan manusia tahu bahwa Tuhan itu adil dalam segala jalannya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatannya. Jadi ingatlah selalu bahwa Allah Swt itu hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.

Dengan mengungkap makna huruf dalam kata KERJA sebagai unsur K dalam kata “OTA(K) mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa KERJA adalah (K)EBAJIKAN yang harus kulakukan dalam perjalanan hidup ini sebagai baktiku  dalam menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan percaya dan menyerahkan diri dalam amalan lahir dan amalan batin dengan memanfaatkan (E)NERGI dengan berpikir (R)A-SIONAL kedalam usaha menumbuh kembangkan   menjadi kesadaran dalam berpikir agamis menuju tauhid untuk memenuhi (J)ANJI sebagai manusia yang menyiapkan untuk menuju perjalanan abadi agar dalam bersikap dan berperilaku  memiliki kepribadian individu yang selalu (A)DIL menjalankan amanah sebagai khalifah yang dutugaskan untuk meneruskan jejak dan langkah nabai Muhammad Saw.

Bila sejenak kita merenungkan unsur huruf menjadi kata ber-makna dalam kata KERJA yang kita kemukakan diatas, dapatkah ia menuntun dalam bersikap dan berperliku. Bahkan banyak orang telah mengetahui dan tidak jarang pula selalu mengungkapkan isi Al Qur’an dan Sunnah sebagai pegangannya tapi mengapa orang sebagai pemimpin ummat di negeri ini tidak mampu melakukan perubahan ke-pribadian yang berakhlak dan bermartabat yang sangat dicintai dan dikasihi oleh Allah Swt, karena itu ketidktahuan orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan daan maknanya.

Jadi pergunakanlah ilmu dan belajarlah dari pengalamanmu itu untuk merubah kemampuan berpikirmu dengan meme-lihara jasmani dan rohani hendaklah seimbang, jngn berat sbelah bahkan lebihkan kepentingan jiwa. Karena keadaan jiwa itulah terjadi orang bertinggi brendah. Jiwa itulah yang dapat mengangkat ketingkat yang lebih tinggi. Kepada jiwa itu Tuhan memberikan kekuasaan yang dapat menguasai bumi dan alam sekelilingnya.

BAB  VI :  P E N U T U P

Bumi Indonesia diciptakan oleh Allah Swt, penuh dengan kekayaan alam yang melimpah ruah untuk kehidupan ummatnya, tetapi mengapa keruntuhan ummat islam yang terbesar ada disini tapi ummatnya saling mengejar kekuasaan untuk kepentingan individu dan kelompoknya, tahukah anda begitu banyak pemimpin ini mengaku sebagai muslim, tapi jiwanya penuh dengan topeng kepalsuan karena mereka meangaggungkan kesadaran inderawi, kiblat kepada paham materialisme, kiblat kepada manusia sehingga ulamapun tidak berani mengkritik akhlak dan martabat mereka, bisa-bisa berbalik ia dituduh mencemar nama baik mereka. Begitu lantangnya orang menentang bahwa berbuat kebaikan dalam membuat aturan yang terkait dengan perbuatan zinah dsb dituduh bertentantangan dengan UU RI yang lebih tinggi atau melanggar hak azasi manusia Jadi tidak heran kita bahwa perbuatan KKN adalah budaya baginya.

Yang menjadi pertanyaan kita pada saat ini mampukah kita memperbaiki keadan ini, atau pemimpin ummat kita saat ini termasuk Ghuru’r seperti yang tercantum dalam Al Qur’an :

S.Q. 31 : 33 “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”

S.Q. 57 : 14 “Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mu’min) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.”

Kedua surat dan ayat tersebut menunjukkan kepada kita yaitu Apa yang terjadi saat ini itulah yang diperlihatkan pemimpin ummat kita saat ini adalah termasuk apa yang yang disebut Qhur’ur atau kebodohan artinya manusia memiliki OTAK tapi tidak mempu memaksimumkannya untuk kepetingan Ummat.

Lihatlah dalam kehidupan ini begitu banyak manusia di peringatkan oleh Allah SWT bagi pemimpin tentang keluarganya yang dipermalukan tentang akhlak dan martabatnya, begitu juga muzibah yang diturunkannya seperti kemiskinan, kelaparan, KKN, penyakit dan akhirnya diturunkannya azab berupa letusan gunung api, tsunami, banjir dan tanah longsor, angin kencang dan badai dsb.

Jadi manusia yang diciptakan oleh Allah Swt tidak mampu mengenal tentang dirinya, walaupun ia mahkluk yang paling mulia tapi ia tidak mampu mempergunakan buah pikiran dalam jiwanya karena ia tidak mampu memerangi bujukan setan sehingga buah pikirannya mengatakan bahwa dunia yang bersifat tunai sementara akhirat adalah sesuatu yang bersifat ditangguhkan, begitulah model pemimpin ummat kita berpikir. Mengapa, tidak lain karena ia tidak mampu membuka mata hati yang sejalan dengan pengakuannya sebagai muslim, bujukan setan menuntun nyamenjadi orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan dan maknanya.

Mereka tidak mampu mengaktualisasikan kedalam kehidupan atas makna “OTAK” ciptaan Tuhan, sehingga tidak heran ketidakmampunnya untuk memerangi bujukan setan karena sifat keragu-raguan yang mendorong setan menguasai jiwanya hingga mata hatinya tertutup tidak mampu mengendalikan diri dari tipuan setan dalam kehidupannya sehingga menimbulkan dampak cara dalam berbikir memandang hal-hal yang berkaitan dengan marah, dengki, kenyang, tergesa-gesa, rakus, bakil, mengejek dan berdebat.

Untuk menghilangkan keragu-raguan itu cobalah kita merenung untuk berpikir, bekerja dan belajar untuk mengatasi Ghur’ur dalam arti kebodohan dalam menuju perjalanan hidup abadi dengan memanfaat makna “OTAK” tentang :

  • Permulan penciptaan langit, bumi dan malaikat.
  • Sifat-sifat Allah
  • Malaikat maut
  • Bagaimana melihat Allah
  • Keagungan Allah Swt dan keindahan ciptaannya
  • Orang yang mengharapkan Allah tapi tak beramal untuknya
  • Dan seterusnya.

Dengan mengungkapkan hal-hal yang perlu kita pahami diatas diharapkan dapat menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan untuk mengaku beriman dan muslim dalam bersikap dan berprilaku dengan tingkat kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan inteletual yang diridhoi oleh Allah Swt.

Jadi membangun kebiaasaan yang produktif dalam berpikir, maka perlu menuntun sikap dan perilaku yang sejalan dengan keyakinan dan keprcayaan, itu berarti merupakan laangkah awal untuk mengenal tentang diri kita sendiri, dalam usaha untuk mengenal kebesaran Allah Swt.

Ungkapan dibawah ini dapat menggugah jiwa kita seperti :

“Orang takwa senantiasa mendapat pimpinan dari Tuhan dalam penghidupan dan perjuangannya di jamin oleh Tuhan akan memperoleh kemenangan. Tinggalkanlah semua yang haram anda akan jadi manusia yang paling utama dalam beribadat pa-da Allah Swt.”

“Orang bertakwa tidak pernah merasa resah atau kebingungan dalam hidupnya karena selalu mendapat bimbingan dan petunjuk dari Allah Swt serta tidak pernah merasa susah karena kekurangan harta benda sebab ia merasa cukup atas segala apa yang telah dilimpahkan Allah kepadanya.

Leave a Reply