Archive for November, 2009

MEMBANGUN AKHLAK TANPA TOPENG KEPALSUAN

November 13, 2009

 

MEMBANGUN AKHLAK BERDASARKAN KEBIASAAN YANG PRODUKTIF DENGAN MENGUNGKIT KEKUATAN BERPIKIR DALAM MENEMUKAN JATI DIRI TANPA TOPENG KEPALSUAN

 

1. PENDAHULUAN

Bila kita merenung sejenak untuk memanfaatkan kemampuan kita berpikir dalam menemukan diri menuju ke perjalanan hidup ini, maka kita harus berusaha menemukan tentang diri kita melalui suatu pendekatan yang kita sebut dengan menghayati makna  kata sebagai daya dorong untuk membangun diri menuju perjalanan hidup yang abadi.

Dengan membangun kebiasaan yang produktif tersebut, kita menarik satu kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan kita mengenal tentang diri, agar kita mampu dapat menuntun dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan tuntunan ajaran agama yang mendidik manusia yang memIliki AKHLAK / MORAL.

Oleh karena itu hanya dengan membangun kebiasaan yang produktif, kita mampu mengendalikan pemanfaatan harta, nafsu syahwat dan pangkat duniawi kedalam ruang dan waktu dalam menumbuh kembangkan ke dalam hati agar kita mampu meningkatkan arti kesadaran dalam diri manusia dari kesadaran inderawi ke sadaran rasional dalam kesiapan menuju kesadaran spiritual.

Tingkat kesadaran hanya dapat ditingkatkan bila kita menghayati sepenuhnya keinginan ingin tahu melaluiproses kekuatan berpikir dari tidak tahu menjadi tahu dengan usaha-usaha dengan membangun kebiasaan yang produktif dengan memiliki kemampuan ilmu sebagai informasi, pengetahuan sebagai keterampilan dari pengalaman dan keinginan yang ditopang dengan niat untuk melakukan perubahan pola pikir dalam bersikap dan berperilaku dalam hubungan dengan manusia dan hubungan dengan Allah Swt.

Untuk membangun kebiasaan yang produktif diatas, maka dengan kebiasaan dapat menuntun manusia ke jalan yang lurus dan benar yang sejalan dengan tuntunan Agama. Sejalan dengan pikiran tersebut, maka untuk mengungki yang mendalam makna kata AMANAH, AMPUNAN, ANIAYA dan ANGKUH sebagai daya dorong agar kita selalu meyakini bahwa dalam bersikap dan berperilaku kita selalu diawasi oleh Allah Swt.

Dengan cara begitu pikiran kita akan dibawa ke alam yang penuh keyakinan bahwa kita diciptakan oleh Allah Swt sebagai mahkluk yang paling mulia disisinya, oleh karena itu kita harus menyadari arti sepenuhnya keberadaan kita di dunia untuk tujuan ahkerat. Hal tersebut hanya dapat dicapai bila kita setiap waktu mampu memanfaatkan kemampuan berpikir dalam usaha untuk mensucikan hati agar kita selalu diingatkan untuk mengetahui diri kita.

2. KATA AMANAH

Untuk menghayati apa yang diajarkan dalam Al Qur’an mengenai kata amanah  sebagai salah satu landasan untuk meningkatkan ahklak / moral dalam kehidupan kita, dapat kit baca dalam surat dan ayat dibawah ini :

S.Q.2 : 283 “

Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu`amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

S.Q.33 : 72 “

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

S.Q. 8 : 27 “

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

S.Q. 4 : 58 “

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

S.Q. 23 : 8 “

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,

S.Q. 70 : 32 “

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

Apa yang dapat kita petik dari surat dan ayat yang kita ungkapkan diatas, mengingatkan kepada kita pentingnya kita menghayati makna amanah yang terungkapk didalam surat dan ayat tersebut untuk menjadi sumber penggerak pikiran kita mengenai :

  • Pentingnya menyadari kesaksian dalam mu’amalah.
  • Segi kezaliman dan kebodohan mansia ialah mau menerima tugas, tetapi tidak melaksanakannya.
  • Larangan berkhianat dan faedah bertakwa.
  • Landasan meletakkan dasar kita berpijak yang terkait dengan aturan.
  • Salah satu sifat yang menjadikan orang-orang mu’mim beruntung.
  • Kewajiban menta’ati perintah Allah dan Rasul-Nya.

Jadi dengan memahami ungkapan diatas, manusia seharusnya menyadari arti keberadaannya didunia sebagai mahkluk yang paling mulia disisi Allah Swt. Dengan pemahaman itu sudah seharusnya manusia harus pula menyadari untuk terus meningkatkan pemahaman tentang dirinya.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka dibawah ini kita mencoba untuk menyadarkan agar kita tunduk seperti yang diperintahkan, tapi yang menjadi persoalan kita, bagaimana caranya agar kita selalu dapat mengingatkan diri ini agar gerakan berpikir menuju ke satu arah amanah yang telah dibebankan kepada manusia. Untuk kebutuhan itu marilah kita mencoba untuk terus mempengaruhi dalam proses berpikir dengan menghayati makna hururuf menjadi kata bermakna sebagai berikut :

Kata AMANAH, bila diuraikan dari sisi huruf menjadi kata bermakna yaitu (A)Mal ;(M) anusia ;(A) kal ; (N) afsu ; (A) jal ; (H) ihup, maka bila kita renungkan makna kata tersebut memberikan daya dorong dalam proses berpikir agar sikap dan perilaku kita tertuntun dalam usaha menyadarkan tentang keberadaan diri kita dibumi i

Marilah kita mencoba untuk mengingatkan kembali dalam ingatan kita mengenai kata-kata tersebut seperti yang tertuang dalam surat dan ayat :

AMAL, tertuang diantaranya dalam Al Qur’an :

Amal yang menentukan derajat manusia dalam S.Q. 6 : 132 “Dan masing-masing orang memperoleh derjat-derjat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

Dengan amal dapat dicapai kemenangan akhirat dalam S.Q. 37 : 61 “Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.

Setiap amal dicatat Malaikat dalam S.Q. 78 : 29 “dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.”

MANUSIA, tertuang diantaranya dalam Al Qur’an :

Manusia amat diperhatikan Allah dalam S.Q. 55 : 31 “Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.

Manusia diistimwakan Allah dalam S.Q. 17 : 70 “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

AKAL, tertuang diantaranya dalam Al Qur’an :

Agar kalian menggunakan akal dalam S.Q. 2 : 73, 242 “Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti “

“Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu memahaminya.

Hanya orang berakal yang dapat mengambil pelajaran dalam S.Q. 14 : 52 “(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”

NAFSU, tertuang diantaranya dalam Al Qur’an :

S.Q. 2 : 87 “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu`jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?

Allah mengunci hati orang yang menuruti nafsu dalam S.Q. 45 : 23 “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

AJAL, tertuang diantaranya dalam Al Qur’an:

S.Q. 3 : 145 “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

S.Q. 6 : 2 “Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).

Sampai ajal tiba, tetap menyembah Allah dalam S.Q. 15 : 99 “dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

HIDUP, tertuang diantaranya dalam Al Qur’an :

Hidup sebagai ujian / cobaan dalam S.Q. 67 : 2 “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Hanya hidup di dunia yang dipercayai dalam S.Q. 6 : 29 “Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan”.

Allah menghidupkan dan mematikan dalam S.Q. 2 : 28 “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

KESIMPULAN :

Dengan menghayati kata yang bermakna dari huruf yang kita utarakan diatas diharapkan akan selalu mengingatkan kita dalam menuju perjalanan hidup yang abadi, maka disitu terletak keinginan kita untuk meningkatkan arti penting untuk selalu mengingat dalam kita bersikap dan berperilaku yang akan selalu didorong oleh pikiran-pikiran ke jalan yang selalu diridhoi oleh Allah Swt.

Jadi bila kita mengingat huruf dalam kata AMANAH berarti pula kita akan selalu ingat untuk menghayati tentang pemahaman kita menuju  perjalanan hidup abadi dengan meningkatkan makna Akhlak kedalam diri kita dalam bersikap dan berperilaku karena ia akan selalu memancarkan cahaya dalam mewujudkan kesucian hati.

Ingatlah selalu bahwa untaian kalimat dari huruf menjadi kata bermakna mengenai AMANAH sebagai berikut : “ Melaksanakan (A)MAL oleh (M)ANUSIA dengan memanfaatkan (A)KAL yang sehat dalam proses berpikir agar mampu menahan hawa (N)AFSU agar kita mampu menerima (A)JAL secara ikhlas setelah kita dipanggil oleh Allah Swt maka (H)IDUP ini perlu kita pertanggung jawabkan“

Dengan mengingat-ingat kata tersebut kita akan berusaha pula untuk mempelajari khasanah ilmu yang dituangkan didalam Al Qur’an yang begitu banyak surat dan ayat yang dapat menuntun kepribadian kita menjadi manusia yang diciptakan oleh Allah Swt yang memiliki Akhlak.

Oleh karena itu, tekad untuk mendidik jiwa, sangat tergantung kepada manusia yang mengerti arti keberadaannya hidup dinuia sehingga ia dapat menangkap sebuah peringatan untuk menjauhkan jiwa dari tempat maksiat.

3. KATA AMPUNAN

Untuk menghayati apa yang diajarkan dalam Al Qur’an mengenai kata AMPUNAN  sebagai salah satu landasan untuk meningkatkan ahklak / moral dalam kehidupan kita, dapat kita baca dalam surat dan ayat seperti yang terungkap dibawah ini :

S.Q. 3 : 159 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

S.Q. 4 : 27 – 28 “Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.

S.Q. 7 : 199 “Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.

S.Q. 11 : 11 “kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.

S.Q. 39 : 24 “Maka apakah orang-orang yang menoleh dengan mukanya menghindari azab yang buruk pada hari kiamat (sama dengan orang mu’min yang tidak kena azab)? Dan dikatakan kepada orang-orang yang zalim: “Rasakanlah olehmu balasan apa yang telah kamu kerjakan”.

S.Q. 53 : 32 “(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

S.Q. 64 : 16 “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dengan memahami makna ampunan seperti yang diajarkan dalam Al Qur’an diantara surat dan ayat tersebut diatas, maka kita lebih meyakini lagi bahwa usaha untuk menghadapi jika rasa sedih, gundah, gelisah dan rasa malumu akan muncul dihadapan kita yang disebut dengan murka Allah Swt dan cinta Allah Swt kepada dirimu.

Untuk itulah kita harus terus mengasyah jiwa dengan memahami yang lebih medalam apa-apa yang diajarkan mengenai

  • Sifat akhlak Nabi yang harus kita teladani.
  • Mampu mengendalikan hawa nafsu
  • Memahami dasar-dasar al-akhlaqul karimah.
  • Memahmi perbedaan sifat orang-orang kafir dan sifat orang mu’mim.
  • Menjauhi dosa besar dan mendapat ampunan dari Allah
  • Hati-hatilah terhadap kehidupan duniawi.

Dengam menyelami makna ampunan yang kita ungkapkan diatas, maka diharapkan ia dapat menyirami kesucian hati sebagai landasan agar kita dalam bersikap dan berperilaku didasarkan adanya kemampuan kita memanfaatkan pikiran ke jalan yang benar.

Sejalan dengan pemikiran itu, untuk menumbuhkan kembangkan kesadaran kita yang lebih mendalam dan menghayati makna ampunan agar dapat kita aktualisasikan dalam kehidupan, diperlukan pula satu pemikiran yang menggerahkan proses kemampuan berpikir menuju kearah peningkatan akhlak.

Kata AMPUNAN, bila diuraikan dari sisi huruf menjadi kata bermakna yaitu (A) kal ;(M) anusia ;(P) atuh  ; (U) saha ; (N) asehat ; (A) gama ; (N) eraka. Bila kita renungkan makna kata tersebut memberikan daya dorong dalam proses berpikir agar sikap dan perilaku kita tertuntun dalam usaha menyadarkan tentang keberadaan diri kita.

AKAL, surat dan ayat lain yang tertuang dalam Al Qur’an diantaranya :

Kepada orang yang menggunakan akal, Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya S.Q. 30 : 28 “Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.

Sikap orang berakal S.Q. 39 : 17 – 18 “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku”

“yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”

MANUSIA, surat dan ayat lain yang tertuang dalam Al Qur’an diantaranya :

Manusia amat loba dunia S.Q. 2 : 96 “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Manusia hanya bertanggung jawab atas amalnya sendiri dalam S.Q. 2 : 134 “Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.”

Manusia pasti kembali kepada Allah dalam S.Q. 2 : 28 “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

PATUH, diantaranya tertuang dalam Al Qur’an :

dalam S.Q. 24 : 51 Tak ada pilihan lain kecuali patuh “Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Perintah mematuhi syarial dalam S.Q. 45 : 18 “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

USAHA, diantaranya tertuang dalam Al Qur’an :

Usaha ke arah kehidupan duniawi dalam S.Q. 17 : 18 “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

Usaha ke arah kehidupan ukhrawi dalam S.Q. 17 : 19 “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.

NASEHAT, diantaranya tertuang dalam Al Qur’an :

Saling menasehati dengan kebaikan dalam S.Q. 103 : 3” kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Nasehat Luqman kepada anaknya dalam S.Q. 31 : 12-13 “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

AGAMA, diantaranya tertuang dalam Al Qur’an :

Agama yang diridhai Allah dalam S.Q. 3 : 19 “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Perintah mendengarkan eruan agama dalam S.Q. 64 : 16 “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

NERAKA, diantaranya tertuang dalam Al Qur’an :

Keadaan didalam neraka dalam S.Q. 3 : 12 “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya”.

Yang tidak dapat keluar dari neraka dalam S.Q. 5 : 37 “Mereka ingin ke luar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat ke luar daripadanya, dan mereka beroleh azab yang kekal.”

KESIMPULAN :

Usaha untuk membangun akhlak merupakan proses yang harus dilakukan secara sadar artinya keinginan untuk melaksanakan kemampuan berpikir secara methodis mendorong seseorang menyatukan kemampuan akal dan hati seperti halnya kita harus memahami makna AMANAH.

Oleh karena itu untuk mendukung landasan dalam pemahaman AMANAH diperlukan pula mendalami makna AMPUNAN sebagai penggerak dalam proses peningkatan berpikir untuk menuntun dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan ini.

Jadi bila kita dapat memahami dari sisi huruf dalam kata AMANAH dan kita rumuskan menjadi untaian kalimat yang bermakna, maka ia harus dapat dijadikan renungan untuk mendalami untuk tidak terjerumus sebagai orang kafir dan munafik.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka makna AMPUNAN yang harus kita bangkitkan kedalam hati adalah kemampuan (A)KAL yang diaktualisasikan oleh (M)ANUSIA agar kita selalu (P)ATUH atas perintah yang diajarkan dalam islam agar menjadi (U)SAHA sebagai bagian dari kebiasaan untuk menuruti (N)ASEHAT-NASEHAT yang diajarkan dalam  (A)GAMA agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang masuk (N)ERAKA.

Dengan mendalami makna AMPUNAN dari sisi huruf menjadi kata yang bermakna seperti yang kita uraiankan  sebelumnya mampu mempertebal arti keberadaan di bumi sebagai landasan dalam bersikap dan berperilaku agar kita selalu ingat apakah itu dosa yang terpikirkan, itulah sekelunit yang diajarkan kepada diri kita.

Tanpa usaha-usaha yang mendasar untuk membangun akhlak kiranya kita hidup di tengah masyarakat yang penuh dengan topeng kehidupan, kiranya sangat sulit untuk menyadarkan diri, apabila kebiasaan untuk membangun itu tidak dalam pikiran menuju kehidupan yang abadi.

 

4. KATA ANIAYA

Kata ANIAYA juga merupakan landasan yang dapat mendorong usaha-usaha membangun akhlak manusia, bila yang bersangkuta mau memikirkan

dalam bersikap dan berperilaku. Oleh karena itu marilah kita mencoba untuk memahaminya apa yang tertuang dalam Al Qur’an, diantaranya dalam surat dan ayat dibawah ini:

S.Q. 2 : 281 “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

S.Q. 3 : 108 “Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.

S.Q. 4 : 30 “Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

S.Q. 5 : 2 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi`ar-syi`ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Dalam Al Qur’an makna ANIAYA begitu banyak diungkap dalam surat-surat dan ayat, selain yang kita ungkapkan diatas, maka cobalah untuk mendalaminya sebagai bahan dalam usaha kita untuk membangun akhlah sebagai yang tidak bisa kita elakkan dalam kehidupan mengenai ANIAYA yang akan selalu akan kita hadapi. Sejalan dengan pikiran tersebut, maka apa yang dapat mendorong orang untuk memikirkan dari sekelunit  surat dan ayat yang telah kita ungkapkan diatas sebagai berikut :

  • Kita harus menyadari adanya hukum rimba.
  • Keharusan menjaga persatuan
  • Islam melindungi hak milik laki-laki dan perempuan.
  • Janji prasetia kepada Allah dan penyempurnaan agama islam

Kata ANIAYA, bila diuraikan dari sisi huruf menjadi kata bermakna yaitu (A) ncaman  ;(N) afsu ;(I) ngat  ; (A) mpun ; (Y) akin ; (A) khirat. Bila kita renungkan makna kata tersebut memberikan daya dorong dalam proses berpikir agar sikap dan perilaku kita tertuntun dalam usaha menyadarkan tentang keberadaan diri kita. Sejalan dengan pemahaman itu diperlukan pendalaman mengenai makna huruf menjadi kata sebagai berikut :

ANCAMAN, diantaranya tercantum dalam Al Qur’an :

Ancaman Allah terhadap orang durhaka dalam S.Q. 55 : 31 “Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin.

Ancaman Allah terhada orang kafir dalam S.Q. 3 : 10 “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka,

NAFSU, diantaranya tercantum dalam Al Qur’an :

Allah mengunci hati orang yang menuruti nfsu dalam S.Q. 45 : 23 “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Nafsu selalu mendorong  pada kejahatan kecuali yang diberi rahmat Tuhan dalam S.Q. 12 : 53 “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

INGAT, diantaranya tercantum dalam Al Qur’an :

Ingatlah Allah niscaya akan mendapat rahmat dalam S.Q. 2 : 152 “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.”

Mengingat Allah akan menentramkan hati dalam S.Q. 13 : 19 “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,”

Mengingat Allah menambah berani / keyakinan dalam S.Q. 8 : 45 “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

AMPUN, diantaranya tercantum dalam Al Qur’an :

Allah mengabulkan yang minta ampun dalam S.Q. 4 : 110 “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah pemberi ampun dan karunia dalam S.Q. 2 : 268 “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Malaikat memintakan ampun bagi orang yang bertaubat dalam S.Q. 40 : 7 “(Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala,

YAKIN, diantaranya tercantum dalam Al Qur’an :

Meyakini tentang perjumpaan dengan Allah dalam S.Q. 2 : 46 “(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Keyakinan Kafir tentang keadaan setelah mati dalam S.Q. 3 : 5 “(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Keyakinan yang benar (haqqul yaqin) dalam S.Q. 56 : 95 “Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.

Menyembah Allah tanpa keyakinan penuh dalam S.Q. 22 : 11 “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

AKHIRAT,diantaranya tercantum dalam Al Qur’an :

Barangsiapa yang buta hati di dunia maka ia akan tersesat di akhirat dalam S.Q. 17 : 22 “Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).

Hidup kembali di akhirat dalam S.Q. 2 : 28 “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

KESIMPULAN :

Kata AMANAH dan AMPUN telah kita ungkapkan dalam rangka untuk meningkatkan akhlak manusia bergerak menuju kesempurnaan, oleh karena itu kita perlu terus mencari makna kata lain yang mendorong kemampuan kita memanfaatkan pikiran agar sikap dan perilaku kita terus tertuntun olehnya

Dibawah ini akan kita utarakan kata ANIAYA, yang dapat dimanfaatkan untuk menumbuh kembangkan keinginan kita untuk terus mencintai kesempurnaan dalam rangka mengenal tentang diri kita sendiri.

Dengan memahmai unsur huruf dalam kata ANIAYA diharapkan kita mampu meningkatkan kemampuan berpikir untuk mampu membangun pengendalian diri dan disiplin diri karena kita memiliki kekuatan akal untuk menuntun dalam bersikap dan berperilaku.

Kata ANIAYA, bila diuraikan dari sisi huruf menjadi kata bermakna yaitu (A) ncaman  ;(N) afsu ;(I) ngat  ; (A) mpun ; (Y) akin ; (A) khirat. Bila dari ungkapan kata tersebut kita renungkan kedalam untaian kalimat, maka makna ANIAYA adalah mengingatkan kesadaran kita atas (A)NCAMAN yang ditimbulkan oleh (N)AFSU dari prbuatan yang tercela, oleh karena itu (I)NGATlah selalu agar kita selalu meminta (A)MPUN dengan satu usaha dengan ke (Y)AKINan menggerakkan kecerdasan dan akal untuk memahami keberadaan (A)KHIRAT.

Dengan memahami makna kata ANAIAYA dalam proses berpikir untuk menuntun sikap dan perilaku menjadi manusia yang memiliki akhlak, maka diperlukan motivasi untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt. sebagai jalan keluar untuk menemukan diri dalam usaha menuju peralanan hidup yang abadi.

 

 

MENYAMBUT KEMATIAN KEDALAM PUNCAK KEBAHAGIAN

November 12, 2009


PENDAHULUAN

Dapatkah anda memahmai makna “menyambut kematian dalam puncak kebahagian”, tentu sulit bagi anda yang memiliki kekuatan kesadaran inderawi karena filsafat hidup yang bersifat materialistik sehingga ia lupa bahwa kematian bagi manusia pasti ada karena kematian kembali ke asal manusia diciptakan. Tapi  perlu diingat bagi manusia yang hanya yang hanya mengagungkan kehidupan di unia dan hanya itu tujuan hidupnya hanya mengejar kenikatan dunia dan lupa arti kematian baginya.

Oleh karena itu, renungkanlah olehmu sebagai manusia dalam perjalanan hidup ini mengenai siapa, darimana dan kemana ak ini. Hanya denga berpikir dan kebiasaan yang produktif menuntunmu untuk keluar dari kediaman yang mustahil langgeng dan berpindah ke tempat yang telah disiapkan oleh Tuhan Yang Mahaperkasa.

Bila sejenak kamu merenungkan firman Allah Swt yang tertuang dalam Al Qur’an pada SQ.62 : 8” Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Sejalan dengan kemampuan berpikir anda untuk mengingat arti hidup, maka sejalan dengan itu bangkitkan pula kekuatan berpikir anda dalam “keutamaan mengingat mati dan bagaimana ia terjadi”. Jadi dengan kekuatan kebiasaan yang produktif, mendorong anda secara berkesinambungan untuk dapat “membaca, menterjemahkan, meneliti, mengkaji, menghayati, memahami dan mengamalkan” dari apa-apa yang tertuang dalam Al Qur’an  dan Sunah Rasul Saw. sebagai penuntun untuk bersikap dan bersikap.

Jadi pandangan kita tentang kematian dan dorongan untuk selalu mengingatnya, maka kemudian juga diketahui bahwa manusia dikelompokkan menjadi :

  • Manusia yang terjerumus artinya orang tidak ingat akan kematian sehingga ia bertambah jauh dari Allah Swt jika ingat kematian.
  • Manusia yang insyaf dengan bertaubat artinya orang yang memperbanyak ingat kematian, agar dalam hatinya tmbul rasa takut kepada Allah Swt, sehingga ia benar-benar bertaubat dengan taubat nasucha. Jadi ia termasuk takut akan kematian, makanya ia selalu menyiapkan diri untuk menyambut kematian
  • Manusia sebagai orang pandai dan berilmu artnya tidak selalu ingat akan kematian sebab kematian itulah masa untuk bertemu dan menghadap kepada Allah Swt. Dengan pikiran ia bersandar kepada lambat dating maut dan ingin agar segera maut, agar beralih dari tempat orang-orang yang maksiyat dan menuju ke tempat abadi.

Dengan memahami ketiga golongan manusia terseut diatas dalam memikirkan tentang kematian, tapi yang penting agar mendorong kemampuan kita berpikir hendaklah dilihat dari sisi keyakinan dan kpercayaan dalam bersrah diri artinya orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah Swt., sehingga ia tidak memilih kematian ataupun kehidupan untuk dirinya bahkan yang paling disukainya adalah apa yang paling disukai Tuhannya.

Sejalan dengan pemikiran itu marilah kita merenung kembali untuk lebih menghayati makna kata MATI dari setiap huruf menjadi kata bermakna dalam pemikiran kita yaitu (M) menjadi MALAIKAT ; (A) menjadi AJAL ; (T) menjadi TKDIR ; (I) menjadi ISTIRAHAT.

Makna “MALAIKAT”

Dengan memahami aqidah dan tauhid, maka malaikat adalah termasuk kedalam rukun iman kedua. Oleh karena itu, marilah menyimak kata malaikat yang dituangkan dalam Al Qur’an dalam surat dan ayat pada SQ. 2,3,4,6, 7,8,10, 11,12, 13, 15, 16, 17, 18, 20, 21, 22, 23, 25, 32, 33, 34, 35, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 51, 53, 54, 66, 69, 70, 72, 74, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 89, 96, 97 dan ayat-ayat yang mengikat dalam  surat tersebut. Sebagai contoh kita ungkapkan pada surat dan ayat yaitu :

SQ.2 : 30” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

SQ. 3 : 18’’Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

SQ, 4 : 97” Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,

SQ. 6 : 8 “Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun).

SQ. 7 : 11 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud“

Dari beberapa surat dan ayat yang diungkapkan, akan mengingatkan akan hal-hal yang berkaitan dengan :

  • Penciptaan manusia dan penguasaannya di bumi
  • Pernyataan Allah tentang keesaan dan keadilannya serta agama yang diridhoinya
  • Kewajiban berhijrah di jalan Allah dan balasannya
  • Sebab-sebab kekafiran kaum musyrikin dan ancaman terhadap mereka
  • Penghargaan Allah Swt. Kepada Nabi Adam AS dan keturunannya.

Selanjutnya kita harus memahami pula tugas malaikat seperti yang tercantum pada surat dan ayat yaitu :

SQ. 13 : 11” Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

SQ. 33 : 56” Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

SQ. 35 : 1” Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

SQ. 50 : 17” (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.

SQ. 82 : 10” Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),

SQ. 82 : 11” yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),

Dari Al Qur’an tentang malaikat anyak kita ktemukan hal-hal yang berkaitan dengan keberadaannya yaiyu :

  • Allah mengirim malaikat untuk menolong orang taqwa.
  • Malaikat berbeda-beda kadaannya
  • Beriman kepada malaikat
  • Malaikat bershalawat bagi nabi-nabi
  • Malaikat bertasbih memuji Tuhan
  • Malaikat bukan laki / perempuan
  • Malaikat dalam bentuk manusia
  • Malaikat dan jibril naik ke langit
  • Delapan malaikat menjunjung Arsy
  • Malaikat hanya menunaikan perintah Tuhan
  • Malaikat jibril menjelma dalam bentuk manusia
  • Malaikat jibril pembawa Al Qur’an dalam bahasa arab
  • Malaikat jibril turun dengan perintah Tuhan
  • Malaikat jibril urusan Allah
  • Malaikat malik
  • Malaikat maut
  • Malaikat melaksanakan hukuman Allah
  • Malaikat membantu orang mukmim
  • Malaikat memintakan ampun bagi yang beriman
  • Memusuhi Malaikat berarti memusuhi Tuhan
  • Malaikat yang mencabut nyawa dengan lembut
  • Malaikat yang mencabut nyawa dengan keras
  • Malaikat yang mengatur urusan dunia
  • Malaikat yang menjaga manusia di dpan dan di belakang

Bila sejenak kita merenung dan berpikir bahwa kematian pasti datang, maka terbayanglah pada waktunya bahwa malaikat penyabut nyawa yang ditugaskan oleh Allah Swt datang untuk menjemput dengan memberikan tanda hanya bagi mukmim dan yang beriman artinya orang yang dijemput adalah manusia yang di golongkan sebagai orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah Swt. Sehingga dia tidak memilih keatian maupun kehidupan untuk dirinya dimana dia ridla dan pasrah kepadaNYA.

Makna „AJAL“

Dalam Al Qur’an mengenai kata AJAL dapat kita ketemukan dalam surat dan ayat pada : SQ. 3 : 55 ; 4 : 15 , 18 ; 6 : 2 ; 7 : 34 ; 10 :11, 49 : 15 : 5 ; 20 : 12 ; 23 : 43 ; 35 : 45 ; 40 : 67, sebagai contoh dibawah ini diungkapkan :

SQ. 3 : 55” (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.

SQ. 4 : 15” Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.

SQ. 6 : 2” Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).

SQ. 7 : 34” Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

SQ. 10 : 4” Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.

Surat tersebut mengingatkan kita bahwa jaminan Allah tentang kemurnian Al Qur’an, oleh karena itu, kita dapat menghayati yang dimuat dalam Al Qur’an mengenai :

  • Ajal tidak bisa dipercepat / diperlambat
  • Tuhan yang menentukan aja
  • Manusia berumur panjang / pendek sudah ditetapkan Tuhan
  • Pada umur panjang manusia kembali lemah.

Dengan pemahaman tersebut kita dapat menyadari ungkapan yang diungkapkan oleh Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasullullah Saw. Berkata “Apabila seorang Mukmim mendekati sekarat, malaikat maut dating kepadanya, mengenakan pakaian berbau sekarat malaikat maut dating kepadanya, mengenakan pakaian berbau misik dan minyak raihan, maka rohnya dicabut seperti sehelai rambut dicabut dari adonan, lalu dikatakan “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Apabila roh itu keluar, ia dietakkan pada misik dan minyak raihan itu dan roh itu dibungkus dengan sutera lalu ia (malaikat maut) pergi dengannya menuju tempat yang tinggi (surga). Sedangkan ia seorang kafir, apabila dating sekarat, malaikat menghampirinya dengan membersihkan mulutnya dengan batu, lalu mencabut rohnya dengan sangat keras. Ketika itu dikatakan ‘Wahai jiwa yang kotor, keluarlah dalam keadaan murka dan dimurkai menuju kehinaan yang Allah berikan dan azab-Nya’ Apabila roh keluar, ia diletakkan di atas batu itu dan dibungkus dengan kain yang kasar, alu ia (malaikat maut) pergi membawanya ke neraka”

Makna “TAKDIR”

Masalah takdir ini bagi orang yang berseberangan pandangan dijadikan dasar pemikiran untuk mengatakan bahwa sebagai factor terbesar penyebab kemunduran kaum muslimin.

Terlepas dari pandangan yang dapat menesatkan itu bahwa dari rukun iman dan inti akidah dalam agama islam adalah beriman kepada qadhar (percaya kepada takdir). Dalam hadists malaikat ibril yang terkenal tentang tafsir iman. Diantara rukun iman yang wajib kita yakini yaitu beriman kepada takdir, apa itu takdir yang baik ataupun takdir yang buruk.

Untuk menghayatinya marilah kita ungkapkan surat dan ayat yang terdapat dalam Al Qur’an pada :

SQ. 3 : 26” Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

SQ. 3 : 154” Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.

SQ, 6 : 59” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

SQ.14 : 4” Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

SQ.15 : 21” Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.

SQ. 54 : 49” Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.

SQ. 57 : 22” Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

SQ. 65 : 3” Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Dari surat dan ayat yang ita ungkapkan diatas, memang tidak menyebutkan iman kepada takdir secara spesifik sebagai rukun iman yang terpisah dari rukun aqidah seperti terungkap pada surat dan ayat dibawah ini :

SQ.2 : 177” Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

SQ. 4 : 137” Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

Dari kedua surat diatas, mengingatkan kita kembali bahwa penggerak dan motor hakiki bagi kejiwaan manusia yang mendorongnya untuk berbuat dan beramal di dalam kehidupan ini. Sebaliknya kita meyakini pula bahwa masalah rezeki dan ajal terdapat dalam Al Qur’an segala sesuatunya telah ditetapkan dan telah dibatasi.

Untuk dipahami dan diyakni, bahwa dalam Al Qur’an juga mengungkapkan juga yang dimaksud dengan takdir Allah terhadap sesuatu, mengandung penegasan empat realita atau tingkatan yaitu :

Pertama, bahwa Allah telah mengetahuinya sebelum terjadi. Renungkanlah pada surat dan ayat tersebut dibawah ini :

SQ. 10 :: 61“ Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

SQ. 6 : 59“ Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Kedua, bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini, sesungguhnya ia terjadi karena kehendak Allah yang terlaksana dan karena keinginan-Nya terhadap alam secara umum. Renungkanlah pada surat dan ayat tersebut dibawah ini :

SQ.6 : 112 „Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

SQ. 2 : 253“ Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada `Isa putera Maryam beberapa mu`jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Ketiga,bahwa semua yang terdapat di alam semesta ini adalah ciptaan Allah Swt dan karena kehendak-Nya dan tidak ada pihak lain yang membantunya. Renungkanlah pada surat dan ayat tersebut dibawah ini :

SQ. 13 : 16“ Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

Keempat, bahwa Allah Swt telah mencatat semuanya sejak awal mula penciptaan dalam kitab milik-Nya Lauh Mahfush. Renungkanlah pada surat dan ayat tersebut dibawah ini :

SQ.6 : 38“ Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

SQ. 57 : 22“ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

SQ. 33 : 6“ Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).

SQ. 9 : 51“ Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.”

SQ. 3 : 154“ Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.

Dengan mengungkapkan surat-surat dan ayat yang disebutkan diatas dalam memahami tingkatan takdir disatu sisi dan disisi lain ada pula orang tidak percaya kepada takdir dan menganggap apa yang terjadi di muka bumi ini tanpa sepengetahuan Allah, maka tatkala Ibnu Umar mendengarnya, maka ia berkata orang yang memberikan kabar padanya :

“Jika engkau bertemu dengan mereka, beritahukan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Dan Abdullah bin Umar bersumpah, kalaupun salah seorang dari mereka memiliki cemas sebesar gunung Uhud, lalu ia menginfakkannya di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerima infak itu darinya sehingga ia beriman kepada takdir“ (HR.Muslim)

Selanjutnya perhatikan pula ungkapan dari Ubadah bin Ash-Shamit berkata kepada anaknya „ Hai anakku, sesungguhnya kamu tidak akan dapat merasakan lezatnya iman sebelum kamu tahu bahwa apa yang menimpa dirimu, bukanlah untuk menghukummu. Dan musibah yang menimpa dirimu, bukanlah untuk menghukummu. Dan musibah yang menimpamu, bukanlah untuk mencelakaimu. Aku mendengar Rasullullah Shallahu Alaini wa Sallam bersabda „ Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena. Lalu Allah berfirman kepada pena, Tulislah’ Pena itu berkata, Wahai Tuhanku, apa yang harus aku tulis ? Kata Allah’ Tulislah takdir segala sesuatu  hingga hari kiamat. ‚Aku mendengar Rasulullah As. Bersabda „Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak seperti, maka ia bukanlah golonganku“ (HR. Abu Dawud)

Makna „ISTRAHAT“

Bila kita merenung apa yang tercantum dalam Al Qur’an yang mengungkapkan bahwa „Orang beriman dan beramal shalih mendapat tempat istirahat yang indah“ seperti yang terdapat pada :

SQ. 18 : 31“ Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga `Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah;

Bersandar pada surat tersebut diatas, maka dalam kehidupan ini kita harus menyimak potensi perjalanan hidup ini disatu sisi kita berusaha menuju kesucian jiwa dalam rangka mempersiapkan perjalanan abadi ke tempat peristeratan yang diidamkan dalam hidup ini, oleh karena itu bangunlah suatu kebiasaan dalam hidup ini bagaimana kita bersikap dan berperilaku untuk menuntun hidup ini. Ada ungkapan, ia kadang-kadang dapat memberikan motivasi untuk memahami apa arti hidup ini :

“Orang yang menyediakan banyak harta untuk anak-anaknya, tetapi alpa memperbaiki budi mereka, sama saja dengan orang yang memberi cukup makanan baik kepada kuda-kudanya, tetapi tidak pernah melatih binatang itu agar berguna”

PENUTUP

Dengan hikmah berpikir, kita ungkapkan makna huruf dalam kata “MATI” menjadi kata bermakna, sejalan dengan pikiran itu kita rumuskan makna MATI dari unsure huruf menjadi untaian kalimat yang bermakna. Dengan pemahaman itu diharapkan dapat menjadi daya dorong dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan pemikiran untuk membangunkebiasaan yang produktif.

Dengan membangun kebiasaan yang produktif, kita mampu untuk berpikir mengenai manusia yaitu siapa, darimana dan kemana ?

Jadi hakekat MATI dapat kita rumuskan menjadi manusia sesuai dengan fitrahna akan selalu mengingat pada rukun iman kedua tentang MALAIKAT  yang akan mengingatkan kepada tugasnya dan kita tidak akan tahu dengan akan dating AJAL  yang akan diputuskan oleh Tuhan dan kita iman pada rukun keenam sebagai TAKDIR dari perjalanan hidup ini ke tempat ISTERAHAT setelah kita mati apakah berada dalam surga dan atau neraka.

Dengan memahami melalui proses kita berpikir, kita menyadari dari yang tidak tahu menjadi dalam batas-batas mencari kebenaran sedangkan hakekat kebenaran ada di tangan Allah Swt.

Dalam kaitan kemampuan kita berpikir akhirnya kita berkeyakinan dan berserah diri secara bulat dalam menegakkan iman dan amal shaleh, dalam bersikap dan berperilaku untuk menuntun kita ke jalan yang benar artinya segala perintah dan hukunya aku taati ; suruhnya aku kerjakan, larangan Nya aku hentikan dengan segenap kerelaan.

Ingatlah selalu akan pesan Rasullah yang mengungkapkan bahwa “Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang, maka ia akan dapat merasakan manisnya iman yaitu hendaknya Allah dan RasulNYA lebih dicintainya daripada yang lain dan hendaknya ia mencintai seseorang dimana ia tidak mencintainya selain karena Allah, dan dia tidak suka kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak mnyukai (andaikata) dilemparkan ke dalam neraka (H.R. Bukhari)

 

 

MAKNA HIDUP DAN MATI DALAM MENEMUKAN JATI DIRI

November 11, 2009


PENDAHALUAN

Seperti yang telah kita utarakan dalam tulisan „ Menggapai perjalanan abadi“ akan terkait dengan pemahaman atas pandangan hidup dan mati, oleh karena itu sebagai pendekatan untuk menggugah kekuatan pikiran positif diperlukan daya dorong agar kita selalu untuk membangun kebiasaan yang produktif sebagai suatu cara dalam usaha menemukan jati diri, agar kita selalu tertuntun kejalan yang benar menuju perjalanan abadi.

Jadi sebagai muslim, pendekatan untuk memberikan daya dorong dalam bersikap dan berperilaku, maka dua kata (hidup dan mati) dalam mengungkapkan hihmak berpikir untuk menentukan kadar iman dan amal manusia dalam kehidupan beragama dimana manusia mengungkapkan keyakinan dan kepercayaan yang terkait dalam siapa, darimana dan kemana manusia.

Sejalan dengan pemikiran tersebut diatas, untuk menggerakkan kekuatan „OTAK“ dalam keyakinan anda atas makna „Orang, Tawakal, Amanah, Kerja) dapat diaktualisasikan dalam mengungkit kekuatan berpikir „dari yang tidak tahu menjadi tahu“ dengan memanfaatkan alat pikir yang kita sebut dengan „Kesadaran, Kecerdasan, Akal“, maka ia berusaha untuk mengungkit makna „HIDUP“ dalam arti Hijrah, Insyaf, Durhaka, Usaha, Pahala dan MATI dalam arti Malaikat, Ajal, Takdir, Istrihat.

Bertolak dari pikiran diatas, seberapa jauh anda dapat merenungkan makna kata tersebut menjadi suatu untaian kalimat yang dapat mnggugah anda berpikir, sangat bergantung keinginan ingin tahu anda untuk melakukan perubahan dalam bersikap dan berperilaku. Jadi keinginan merupakan salah satu pondasi dari kebiasaan yang produktif haruslah berpinjak kepada niat anda untuk anda dapat menggerakkan kekuatan pikiran.

AKTUALISASI MAKNA HIDUP

Bila kita sejenak mau berpikir tentang perjalanan hidup ini, maka untuk menjawab siapa, darimana, dan kemana manusia, untuk itu kita pikirkan bagaimana sebaiknya kita menjalani hidup ini sebaik mungkin sesuai dengan ajaran agama yang diyakini.

Makna hidup seperti yang terungkap dalam surat dan ayat dalam Al Qur’an akan mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan :

  • Kehiupan sebenarnya adalah di akhirat
  • Kehidupan di dunia hanya permainan
  • Kehidupan di akhirat lebih baik dan kekal
  • Kafirin lebih senang kehidupan dunia
  • Jangan menyia-nyiakan di dunia karena sangat sebentar
  • Harta dan anak merupakan perhiasan ke hidupan dunia
  • Di hari kiamat Tuhan menghidupkan manusia seperti biasa
  • Akhir dari kehiduan adalah pertemuan dengan Tuhan, dan seterusnya.

Dengan menyimak dan merenungan apa yang tertuang dalam SQ. No.2, 3, 4,5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 36, 37, 39, dan seterusnya dengan ayat- ayat yang melekat didalammya.

Sebagai contoh lihat dalam SQ. 2 28” Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

Jadi dengan membaca, menterjemahkan, meneliti, mengkaji, menghayati, memahmi, dan mengamalkan, diharapkan seberapa jauh kita dapat menyingkap sifat dasar manusia yang tidak lepas dari kesalahan dan dosa, maka dalam perjalanan hidup ini dalam usaha menuju kesucian jiwa, maka setiap kita melangkah dalam bersikap dan berperilaku kita menyadari sepenuhnya tujuan, tugas, fungsi dalam hidup ini.

Untuk menggugah pikiran, maka diperlukan daya dorong melalui penguraian makna „HIDUP“ dari unsur huruf menjadi kata yang bermakna kedalam kata (H)ijrah, (I)nsyaf, (D)urhaka, (U)saha, (P)ahala.

Makna „HIJRAH“ dapat kita ketemukan dalam Al Qur’an pada surat dan ayat yang tercantum dalam SQ. 2 : 218 ; 3 :195 ; 4 : 89, 97, 98, 100 ; 8 : 72, 74, 75 ; 9 :20 ; 16 : 41, 110 ; 22 : 58 ; 24 : 22 ; 29 : 26 ; 59 : 8, 9 ; 60 : 10, sebagai contoh dibawah ini dingkapkan pada surat :

SQ. 2 : 218 „Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“

Dengan pmikiran itu, kita selalu harus mengingat-ingat pada setiap saat bahwa kita perlu melaksanakan hijrah dari perbuatan yang tidak dibenarkan menuju ke jalan yang benar agar kita selamat menuju perjalanan hidup abadi dari perbuatan seperti yang kita kemukakan dibawah ini :

  • Dengan keterbatasan ilmu dapat menimbulkan salah pandang yang berdampak pengetahuan ketidak ketahuan hamba terhadap penciptanya.
  • Dengan sadar dari kemampuan berpikir menjadi perbuatan yang disebut „bid’ah“ artinya manusia secara sadar dalam beribadah mengada-adakan dengan cara baru.
  • Perbuatan manusia yang menimbulkan dosa besar yan tersembunyi karena sifat manusia yang dikendalikan nafsu menjadi manusia sombong, angkuh, bangga diri dsb.
  • Perbuatan manusia ang berbuat dosa yang zahir seperti merampok, memakan dan meminum yang terlarang dsb. Bila manusia berbuat sesuatu dosa kecil menjadi dosa besar karena sikap dan perilaku 1) dilakukan secara terus menerus 2) tidak memperdulikan dosa, 3) bangga dengan dosa 4) mengabaikan usaha Allah Swt untuk menutupi perbuatannya 5) manusia yang membuka aib 6) pemimpin yang tidak berakhlak diikuti.
  • Tidak berpaling dari dosa kecil yang dibuatnya, manusia haus menyadari apa yang terjadi dan berbalik untuk menemukan dirinya.
  • Perbuatan manusia yang bersifat syirik sebagai akibat ketidak mampuan manusia menuju dalam kesempurnaan dan kesucian hati, perbuatan ini yang paling berbahaya karena hati yang sakit dan mati.
  • Perbuatan manusia yang berlebihan dan melampaui batas menjadi hal yang mubah karena bjukan syetan yang mempengaruhi kepribadiannya.
  • Melalaikan kewajiban sebagai muslm sehingga ketidak kemampuan berpikir ntuk selalu mengingat Allah Swt.
  • Dampak dari adat istiadat dan kebiasaan yang merugikan manusia dalam kehidupannya seperti pecandu dsb.
  • Ketidak kemampuan manusia dalam mewujudkan tujuan hidupnya tanpa melibatkan Allah Swt.

Sejalan dengan pemikiran diatas, untuk memberikan daya dorong dalam menjalankan kehidupan ini, simaklah apa yang tercantum dalam Al Qur’an pada surat dan ayat sbb.

SQ. 4 : 100“ Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

SQ. 3 : 102“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.“

Seberapa jauh kita dapat memahami dan mengamalkan makna surat dan ayat tersebut kedalam pikiran kita yaitu :

  • Kasih akan harta lupa akan kubur
  • Kasih akan dosa lupa akan tobat
  • Kasih pada dunia lupa akan akhirat.

Sehingga mereka lupa pada agama dan lupa kepada Allah Swt, oleh karena itu hidup ini penuh dengan sandiwara, alau kita tidak hati-hati menjalaninya, maka kita akan terperangkap oleh bujukan syetan, sehingga bila kita merasakan terpeleset dalam kehidupan ini, perlulah kita hijrah pada saat kita menghadapi cobaan dan peringatan yang diberika oleh Allah Swt. Dalam hidup yang kita jalani sebagai ujian keimanan seseorang. Apakah kita tetap dalam kemampuan berpikir mengagungkan kebesaran Allah St. Sebagai suatu wujud dari suatu keyakinan bahwa yang nampak seluruhnya terjadi qudrad Allah Swt.

Makna „INSYAF“ , manusia setelah dicoba dan diperingatkan atas ketidakmampuannya dalam menjalankan hidup yang diridhoi oleh Allah Swt, yang dapat menghancurkan dirinya, maka ia sadar dengan memohon ampun atas dosa yan dibuatnya. Jalan pikirannya manusia dengan insyaf itu manusia dalam perjalanan hidupnya ingin menebus dosa artinya dalam buah oikiran ia merasa takut dan menyerahkan diri dengan penuh harapan kepada Allah Swt.

Dengan pemikiran itu, marilah kita menyimak makna kata taubat dalam Al Qur’an yang tertuang pada surat dan ayat yaitu  SQ.2 : 279 ; 3 : 128 ; 4 : 26, 27, 92 ; 5 : 74 ; 7 : 143 ; 9 : 5, 11, 74, 102, 106, 117, 118 ; 33 : 24 ; 38 : 24 , 34; 46 : 15, 27 ; 50 : 33 ; 58 : 13 ; 60 : 4 ; 66 : 4, 5.

Sebagai contoh dibawah ini diungkap pada :

SQ.2 : 279“ Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya“.

SQ. 3 : 128“ Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim“.

SQ. 4 : 26“ Allah hendak menerangkan (hukum syari`at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana“.

SQ.5 : 74“ Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.

Dengan pemahaman kata taubat tersebut maka manusia dalam kemampuan berpikir kedalam keinginan „Insyaf“ dalam bersikap dan berperilaku menuju kesucian hati, maka dalam Al Qur’an menunjukkan aturan bertaubat seperti yang tercantum dalam surat dan ayat pada SQ.4 : 17,18 ; 6: 54 ; 16 : 119 ; 25 : 70, 71

SQ.4 : 17“ Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

SQ.4 : 18“ Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.

SQ. 6 : 54“ Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sedangkan perintah bertaubat termuat pada surat dan ayat seperti yang tercantum dalam surat dan ayat seperti yang terungkap dibawah ini :

SQ. 2 : 54” Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

SQ. 11 :3” dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.

SQ.11 : 52” Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”

SQ.11 :61” Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya).”

SQ. 11 :90” Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.

SQ.24 : 31” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

SQ. 66 : 8” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Dengan merujuk aturan dan perintah taubat yang kita ungkapkan dari Al QR’an berdasarkan surat-surat dan ayat tersebut diatas, maka timbul pertanyaan kepada manusia, apakah takut dan harapan kepada Allah Swt. Merupakan wajah dalam usaha menuju kesucian hati karena insyaf dengan hijrah memperbaiki dengan jalan bertaubat.

Jadi dengan kemampuan manusia berpikir yang dibekali ilmu pengetahuan agama mampukah ia mengobati hati yang mati dan sakit menucu kesucian hati artinya segala perintah dan hukum-Nya aku taati dan suruh-Nya aku kerjakan, larangan-Nya aku hentikan dengan segenap kerelaan, maka disitulah ia menyadari sepeuhnya hati yang bersih dalam usaha menuju perjalanan abadi yaitu selamat pada kamat.

Sejalan dengan pemkiran diatas, maka perjalanan hidp ini sesuai dengan kemampuan berpikir manusia harus membangun kebiasaan yang produktif untuk bersikap dan berperilaku kedalam usaha-usaha menuju kesucian hati dengan :

  • Meninggalkan perbuatan maksiat
  • Selalu membangun keinsyafan atas apa yang dibuatnya.
  • Bertekad dengan keinginan yang ditopang oleh niat secara ikhlas untuk tidak mngulanginya lagi.

Dengan memperhatikan hal-hal yang kita utarakan diatas, maka kita harus memanfaatkan kemampuan berpikir dalam menentukan sikap dan perilaku dalam menjalankan taubat dimana manusia akan digolngkan kedalam :

  • Golongan pertama adalah manusia yang sungguh-sungguh menjalankan taubat sepanjang akhir hidupnya yang terus berusaha menuju kesucian hati dengan harapan ia dapat diterima disisi Allah Swt.
  • Golongan kedua adalah manusia setelah berbuat menyimpang dari aturan dan perintah Allah Swt., timbul rasa takut kepada Allah, rasa penyeselan, ksedihan, dan kenistaan menimpa diringa sikap dan perilaku dicoba, diperingatkan namun menuju kesucian hati dalam keterpaksaan karena dosa besar dan kecil yang dilakukannya.
  • Golongan ketiga adalah manusia yang tidak mampu mengendalikan bujukan setan, bila ingat ia merasa bersalah dan ingin taubat tapi dilain waktu karena sifat indrawi, maka timbul perbuatan maksiatnya, sadar akan perbuatan namun memohon ampun tidak diikuti dengan kesucian hati.
  • Golongan keemat adalah manusia bertaubat tapi kebiasaan tidak berubah sehingga dalam waktu singkat dia berbuat dosa kembali tanpa perasaan insyaf.

Makna „DURHAKA“ adalah perbuatan manusia dengan kedangkalan berpikir tidak mampu memahami aqidah, syari’ah dan akhlaq. Mengenai kata durhaka ini dapat kita hayati dan dipahami dalam Al Qur’an pada surat dan ayat SQ.2 : 61 ; 3 : 112, 152 ; 4 : 14, 42, 117 ; 5 : 64, 68, 78 ; 6 : 5 ; 10 : 91 ; 11 : 170 ; 19 : 14, 44, 69, 86 ; 20 : 121 ; 25 : 55 ; 26 : 200 ; 37 : 7 38 : 59 ; 39 : 13 ; 40 : 58 ; 49 : 7 ; 53 : 82 ; 58 : 8, 9 ; 60 : 12 ; 65 : 8 ; 71 : 21 ; 72 : 23 ; 79 : 21 ; 80 : 42 ; 82 :6, 9, 14 ; 83 : 17 ; 96 : 15

Sebagai contoh dibawah ini diungkapkan surat-surat dan ayat pada :

SQ. 2 : 61” Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.

SQ.3 : 112” Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

SQ.4 : 14” Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.

SQ. 5 : 64” Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila`nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

SQ. 6 : 5”Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al Qur’an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.“

Jadi memahami surat dan ayat diatas mengingatkan kita kepada makna DURHAKA yang dikaitkan bahwa di dunia lebih mudah membuat kebaikan dari kejahatan. Tetapi manusia lebih condong membuat kejahatan dari kebaikan. Sebabnya nafsu lebih tua umurnya dari akal. Iblis lebih tua umurnya dari manusia. Sedang manusia dikepung oleh empat penjuru musuh, kiri hawa, di kanan nafsu, di muka dunia, di belakang setan yang menunda ke muka. Tubuh dan dunia dalam kekotoran karena itu perlu pengetahuan dan keimanan serta bersihkan jiwa.

Jadi dengan hikmah berpikir dengan dituntun oleh Al Qur’an, maka kita selalu akan mengagungkan kebesaran Tuhan, sehingga kita menangkap apa yang diajarkan dan diperintah, oleh karena itu dengan kyakinan dan kepercayaan yang bulat dalam bersrah diri, maka seharusnya kita memiliki kemampuan berpikir untuk menghayati sebagai mulim mengenai :

  • Ancaman Allah terhadap perbuatan durhaka
  • Balasan terhadap orang yang durhaka
  • Celaan terhadap manusia durhaka
  • Contoh balasan untuk manusia durhaka
  • Keadaan orang durhaka pada hari kiamat
  • Manusia menjadi durhaka karena merasa cukup
  • Perbuatan orang durhaka dicatat dalam kitab
  • Perbuatan mendurhakai

Makna „USAHA“ adalah kemampuan secara berkelanjutan untuk menumbuh kembangkan kebiasaan yang produktif sebagai perjalanan hidup artnya dengan lmu (berdasarkan informasi), pengetahuan (bersandarkan pengalaman) dan keinginan (bersandarkan niat) merupakan tonggak yang harus kita miliki dalam usaha-usaha menjalani perjalanan hidup didunia dan akhirat.

Dibawah ini kita ungkapkan sebagai daya dorong untuk dapat menarik hihmah berpikir untuk menyadarkan kita seperti yang tercantum dalam surat dan ayat dibawah in :

SQ.39 : 51“ Maka mereka ditimpa akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.

Dari surat dan ayat ini mengingatkan kita bahwa akibat buruk yang menimpa manusia karena usahanya, maka kta harus ingat pula Allah membalasi usaha orang yang sungguh mengharapkan ke hidupan akhirat seperti yan termuat dalam :

SQ. 17 : 19“ Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.

Dengan pemikiran itu untuk mengingat kita dalam berpikir bahwa Allah mengetahui segala yang diusahakan manusia karena itu hayatilah isi Al Qur’an yang tercantum pada:

SQ.6 : 3“ Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.

SQ. 13 : 42“ Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.

SQ. 47 : 19“ Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu“.

Dengan memahami dan menghayati apa-apa yang terungkap dalam surat dan ayat diatas, maka dalam mengamalkan atas aturan dan perintah-Nya sebagai mahluk yang dimuliakan-nya, maka ingat peringatan Allah Swt mengenai hal-hal yang terkait dengan :

  • Anggota badan menjadi saksi atas apa yang diusahakannya di dunia.
  • Usaha manusia kelak akan diperlihatkan
  • Manusia sesat karena usahanya
  • Pada hari kiamat tiap diri mendapat balasan dari yang diusahakannya.
  • Sesuatu yang di usahakan akan mendapatkan balasan
  • Tiap diri mendapat balasan dari yang diusahakannya.

Dengan menarik hihmak berpikir mengenai hal-hal yang dingkapkan diatas, marilah kita berpikir mengenai umur dan ikhtiar dimana dalam perjalanan hidup ini kita akan melangkah dengan dengan menghayati makna ikhtiar dan pertolongan Allah Swt. Merupakan kunci keselamatan melaksanakan perjalanan hidup ini dala mengaktualisasikan berpikir bekerja, belajar menuju keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Sejalan dengan pemikiran diatas, hendaklah kita renungkan sabda Rasullah Saw. Yang sangat peduli kepada pengikutnya „ Rebutlah lima peluang sebelum terjadi lima perkara: masa mudamu sebelum tiba masatua, masa sehatmu sebelum tiba masa sakit, masa lapangmu sebelum tiba masa papa dan masa hidupmu sebelum tiba ajalmu“ (H.R. Al-Hakim)

Makna „PAHALA“, Hidup ini penuh dengan sandiwara bagi manusia yang selalu memikirkan kesadaran inderawi belaka, sedangkan kita diajarkan bahwa pahala amal manusia kembali pada dirinya.

Untu itulah kita berpikir dan merenung untuk memahami kata makna „PAHALA“ seperti yang terungkap dalam Al Qur’an  pada SQ. No.2,3,4,5,6,7,8,9,10,11, 12, 16,17,18, 19, 20,21, 28, 29, 30, 32, 33, 35, 36, 39, 41, 42, 47, 48, 49, 52, 53, 56, 57, dan ayat-ayat yang mengikat didalamnya sebagai contoh :

SQ. 2 : 62“ Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka „

SQ.3 : 57“ Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.

SQ. 4 : 40“ Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.

SQ. 5 : 9“ Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

SQ. 6 : 160“ Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

SQ.7 : 161“ Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil): “Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi) nya di mana saja kamu kehendaki.”. Dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu”. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.

Bila kita merenung surat dan ayat tersebut diatas, maka dorongan untuk menghayati, memahami dan mengamalkan dengan menjalankan aturan dan perintah Allah Swt. Akan mendapatkan pahala bagi yang berbuat baik, beriman, bertakwa dsb, yang kesemuanya terbentuk karena akhlak dan martabat dalam bersikap dan berperilaku sebagai pancaran dari takut dan harapan kepada Allah, oleh karena itu manusia hidup dalam usaha menuju kesucian hati.

PENUTUP

Bertitik tolak dari kemampuan mengungkit kekuatan berpikir melalui dengan (M)embaca, (M)enterjemahkan, (M)Meneliti, (M)engkaji, (M)enghayati, (M)emahami, (M)engamalkan, maka kita ungkapkan makna huruf dalam kata „HIDUP“ dari huruf menjadi untaian kalimat yang bermakna.

Dengan pemahman itu diharapkan menjadi daya dorong dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan pemikiran untuk membangun kbiasaan yang prouktif, sehingga dalam pikiran ini, hakekat HIDUP dapat kita rumuskan menjadi manusia sesuai dengan fitrahnya akan selalu HIJRAH  dari perbuatan yang salah menuju ke jalan yang benar sesuai dengan aturan dan perintahNYA, maka manusia berusaha menghayati arti hidup dengan INSYAF dalam menebus dosa dengan bertaubat sebagai manusia seutuhnya menuju kesucian hati untuk tidak termasuk golongan orang DURHAKA sehingga diperlukan membangun kebiasaan yang produktif kedalam USAHA untuk mewujudkan PAHALA yang dianugerahkan leh Allah Swt.

Dengan memahami makna HIDUP yang kita rumuskan diatas, maka sesungguhnya umur manusia memang singkat, maka dalam menempuh perjalanan hidup, manusia tidak terlepas dari berpikir, bekerja dan belajar dari tahn ke tahun, dari bulan ke bulan, dari minggu ke minggu, dari hari ke hari, jam demi jam, detik demi detik akan memperlihatkan sikap dan perilaku kita dalam kehidupan ini dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Oleh karena itu, sebagai seorang mukmim sejati ia harus menyadari sepenuhnya tentang dirinya bahwa tiada pintu kebaikan yang terbuka dan kesempatan yang terbentang, melainkan dimanfaatkannya secara maksimal menabung selaksa kebaikan demi akhir kehidupannya kelak, ia tidak merasa puas dengan kebaikan yang banyak yang ia lakukan dan tidak merasa cukup dengan bekal ketaatan yang pernah diamalkannya.

Setiap waktu dari umurnya dan setiap pintu hidup dalam kehidupannya senantiasa dipergunakan untuk berpacu memperbanyak amal-amal kebajikan yang dilandasi ke ikhlasan semata-mata menuju kesucian hati dengan menharapkan ridho Allah Swt.

 

MENGGAPAI PERJALANAN ABADI

November 10, 2009

 

MENGUNGKIT HIDUP DALAM PIKIRAN

Menggapai perjalanan abadi akan terkait dengan pemahaman atas pandangan hidup dan mati, sejalan dengan itu sebagai muslim sebagai suatu pendekatan untuk memberikan daya dorong dalam bersikap dan berperilaku dalam maka dua kata dalam mengungkapkan hihmak berpikir untuk menentukan kadar iman dan amal manusia dalam kehidupan beragama diman manusia mengungkapkan keyakinan dan kepercayaan yang terkait dalam siapa, diarimna dan kemana manusia.

Sejalan dengan pemikiran itu, maka dalam kehidupan ini kita dihadapkan pada kehidupan didunia bahwa kemampuan berpikir menentukan pula sikap dan perilaku manusia dalam menjunjung arti kyakinan dan kepercayaan atas kebesaran Allah.

Oleh karena itu, maka pembicaraan, perbuatan dan kebiasaan akan menunjukkan kepribadian manusia. Jadi kepribadian akan menggambarkan tingkat kedewasaan manusia memamndang masalah hidup dan mati yang terkait dengan harapan dan ketakutan kepada Allah.

Bila kita sejenak untuk memahami tentang asal kejadian manusia maka dengan keyakinan dan kepercayaan pula kita dapat mengingat kembali apa yang tercantum dalam Al Qur’an pada :

S.Q. 23 : 12 “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”

S.Q. 23 : 13 “ Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”

S.Q. 23 : 14 “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jdikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Secilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”

Dari surat dan ayat tersebut diatas, kita dapat memahami asal kejadian manusia bahwa manusia berasal dari air, dari air berketurunan dimulai dari tanah, lalu air kemudian diberi roh dengan bercampuran suami isteri, dari setitik mani yang bercampur terpencarlah cairan terjadilah kehamiln. Dari air yang lemah dan hina, dari tidak ada menjadi ada, diciptakan oleh Allah dan kembali.

Tentang kata manusia, begitu banyak diungkapkan dalam Al Qur’an yang tercantum dalam Q.S.No.2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,28,29, 30,31,32,33,34,35,36,37,38,39,41,42,43,44,45,46,47,49,50,51, 52,53,54,55,56,57,58,59,62,63,64,66,70,71,72,80,82,83,84,86,89,90,95,96,99,100,103,110,114 d , bserta ayat-ayat yang terkait dalam surat tersebut.

Disamping kata manusia, maka dalam Al Qur’an akan kita dapatkan pula makna manusia dalam kehidupan ini. Dalam perjalanan hidup ini hindari dari ketidaktahuan menjadi ragu-ragu, oleh karena itu simaklah pada surat dibawah ini untuk memahami inilah manusia pada :

S.Q. 96 : 1-6” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam

„Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

“Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.

Dengan mengingat dan menghayati hal-hal yang diungkapkan dalam Al Qur’an akan dapat menuntun bersikap dan berperilaku dalam kehidupan untuk mengingat kita yaitu :

  • Manusia akan dicoba dengan kelaparan, ketkutan, dan jiwanya.
  • Manusia beriman akan dikumpulkan beserta keluarganya dalam surga.
  • Manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan
  • Manusia diciptakan untuk memakmurkan bumi
  • Manusia dicoba dengan harta dan anaknya
  • Manusia diciptakan Allah tidak dengan sia-sia
  • Manusia diperintah berbuat baik terhadap orang tua
  • Hidup manusia penuh perjuangan
  • Hubungan manusia dengan Tuhan
  • Keberuntungan bagi manusia yang mensucikan jiwanya
  • Keadaan manusia di saat sakaratul maut
  • Manusia lebih sempurna dari mahluk lain
  • Dan seterusnya.

Jadi dengan sering kita menghayati makna manusia dan arti keberadaannya di dunia ini, kita lebih bisa mengendalikan buah pikiran yang dapat merusak sikap dan perilaku.

Dengan pemikiran tersebut maka manusia dapat memahami arti hidup dan mati dalam menuju perjalanan abadi berdasarkan tuntunan Aqidah (1. Iman kepada Allah, 2. Iman kepada Malaikat, 3. Iman kepada Kitab, 4. Iman kepada Rasul, 5. Iman kepada Hari Akhir, 6. Iman kepada Qadha dan Qodhar) dan Syariah (1. Bersuci, 2. Shalat, 3.Puasa, 4. Zakat, 5. Haji) yang dapat menuntu perjalanan hidup ini kedalam apa yang disebut :

  • Tentang umurnya untuk apa dihabiskannya
  • Tentang ilmunya apa yang telah dia lakukan
  • Tentang hartanya dari mana diperoleh dan kemana digunakannya
  • Tentang jasadnya dipergunakan untuk apa

Dengan kesiapan itu, sadarlah dalam perjalanan hidup ini, lambat atau cepat kita pasti akan pulang ke akhirat. Oleh karena itu, keyakinan dengan agama yang memperdalam keimanan akan adanya kehidupan setelah mati, adalah merupakan sbagai penolong bagi manusia dengan keadaannya yang fana atas perjuangannya secara gigih dalam menempuh jalan yang baik dan harga diri yang abadi.

Jadi bila kita mengaku muslim, berarti menyerah dengan sebulat hati, maka segala perintah dan hukumnya aku taati ; suruhnya aku kerjakan, larangannya aku hentikan dengan segenap kerelaan, sehingga manusia dan takdirnya mengharapkan dengan hidayah Allah, orang akan memperoleh ridhanya, dengan ridha itu ada harapan orang akan selamat dari siksa abadi dan dimasukkan kedalam kesenangan yang sepurna di syurga.

Dengan memahami makna „OTAK“ dalam berpikir, diharapkan manusia dalam mengaktualisasikan bersikap dan berperilaku dimana berpikir, berbuat dan kebiasaan tertuntun ke jalan yang benar yang diridhoi Allah Swt. Sedangkan Allah melihat manusia dari sisi akhlak dan martabat manusia.

Manusia yang berakhlak dan bermartabat biasanya dapat berpikir akan selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah dan tindakan dalam pemahaman hidup dan mati dala islam.

Dengan pemikiran tersebut maka setiap melangkah harus memasang niat, sehingga ia membayangkan kenikmatan yang hendak dicapai, dalam pandangannya. Oleh karena itu, bila hijrah itu dengan niat untuk kepentingan dunia, ia Cuma memperoleh itu. Jika ia hanya terpikat pada seseorang wanita dalam pikirannya ia Cuma akan mengawinya. Jadi bila hijrah setiap orang adalah menengoh niat yang diucapkannya sewaktu hijrah.

Sejalan dengan pikiran itu, kita harus takut dan mengharapkan kepada Allah Swt, maka dalam keidupan ini bahwa tiap hari adalah hari perbaikan untuk hidup manusia, oleh karena itu belajarlah dari kesalahan, sehingga kita dapat menyadari bahwa yang terpenting adalah belajar menguasai diri sendiri.

Untuk mendalami makna hidup dan mati akan kita bahas dilihat dari setiap unsur huruf menjadi kata yang bermakna, sehingga kita bisa menuju dan membina kesucian hati melalui makna HIDUP (hijrah, insyaf, durhaka, usaha, pahala) dan MATI ( malaikat, ajal, takdir istirahat.

makna ‘otak’ dalam pandangan muslimku

November 7, 2009

BAB  I  PENDAHULUAN

O menjadi ORANG

T menjadi TAWAKAL

A menjadi AMANAH

K mennjadi KERJA

BAB II MAKNA ORANG DALAM OTAK

O menjadi Organ ;

R menjadi Roh ;

A menjadi Akal ;

N menjadi Naluri / Nafsu ;

G menjadi Golongan.

BAB III MAKNA TAWAKAL DALAM OTAK

T menjadi (T)aat ;

A menjadi (A)qidah ;

W menjadi (W)ahyu ;

A menjadi (A)llah ;

K menjadi (K)itab ;

A menjadi (A)l Qur’an ;

L menjadi (L)ailatul qodar

BAB  IV MAKNA AMANAH DALAM OTAK

A menjadi Amal

M menjadi Martabat

A menjadi Akhlak

N menjadi Nasib

A menjadi Azab

H menjadi Hari

BAB  V  MAKNA KERJA DALAM OTAK

K menjadi KEBAJIKAN

E menjadi ENERGI

R menjadi RASIONAL

J  menjadi JANJI

A menjadi ADIL

BAB  VI  PENUTUP

KATA PENGANTAR

Dari bacaan dan percakapan, timbullah keinginan untuk mengaktualisasi kebiasaan yang produktif untuk menuangkan kedalam satu tulisan dengan judul “ Makna Otak Dalam Pandangan Islam” sebagai satu pendekatan untuk menggugah perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupan.

Dalam perjalanan hidup yang singkat ini sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah Swt, maka ia harus mampu berpikir tanpa ada keragu-raguan bahwa orang harus mau hidup dan harus tahu bagaimana meninggalkan dunia yang fana ini.

Sejalan dengan pemikiran tersebut diatas marilah kita menyimak satu ungkapan “Tidak ada bahan lain untuk surga dan neraka bagi manusia setelah mati, kecuali atas amal perbuatannya selagi di dunia”

Oleh karena itu manfaatkan makna “OTAK” karena kita sadar bahwa segala tempat dapat dipenuhi oleh isinya selain dari tempat ilmu.

Tempat ilmu makin diisi makin bertambah besarnya. Tempat ilmu ialah di akal. Semakin bertambah ilmu semakin terasa kebodohan kita. Orang yang merasa diri pandai ialah orang tidak menambah pengetahuan.

Akhirnya kita menyadarinya bahwa air laut bila ditimba akan kering, tapi lautan ilmu pengetahuan, kian ditimba kian bertambah airnya.

BAB I : PENDAHULUAN

Bayangkan, apakah memang benar orang-orang islam begitu banyak berperan baik sebagai pelaku ekonomi, eksekutif, legislatif, yudikatif dan berbagai lembaga lainnya, tidak mampu memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi saat ini dalam berbangsa dan bernegara, ataukah kita memang tidak mau berubah dalam bersikap dan berperilaku ataukah kita memang selalu menginginkan untuk dijajah oleh pihak ketiga yang tersembunyi yang sebenarnya bayangan itu diketahui adanya. Inilah semua kenyataan yang kita hadapi bersama sebagai bangsa. Kita menginginkan demokrasi sebagai alat untuk mengangkat derajat bangsa yang terbesar adalah pemeluk islam.

Adakah jalan keluarnya. Masalah untuk tumbuh dan berkembang dalam berbangsa dan bernegara yang kita hadapi masa lampau, masa kini dan masa depan, mampukah kita dalam waktu singkat untuk merubah pola berpikir dalam memecahkan masalah yang kita sebut komplek dan penyakit. Tingkat intisitas dalam mempengaruhi perubahann sikap dan perilaku melalui pendekatan yang kita sebut dengan memaksimumkan pemanfaatan OTAK.

Renungkanlah Rasullullah saw, bersabda:

“ Barangsiapa melapangkan seorang Mu’min dari salah satu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan-kesusahan hari  kiamat.

Dan barangsiapa meringankan penderitaan seseorang, maka Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan di akhirat.

Dan barangsiapa menutupi cacat seseorang Muslim, maka Allah akan menutupi cacatnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan memberikan pertolongan kepada seseorang selama orang tersebut suka menolong saudaranya. Dan barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Dan tiada berkumpul  suatu kaum dalam sebuah rumah dari antara rumah-rumah Allah (masjid) untuk membaca Al-Qur’an dan mengkajinya bersama-sama, melainkan keetenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka dan malaikat akan mengerumuni mereka, serta oleh Allah mereka akan disebut di kalangan  orang-orang yang berada di sisi-Nya. Dan barangsiapa  terlambat amalnya, maka dia tidak akan dipercepat oleh nasab keturunannya “ (H.R. Muslim)

Apakah manusia yang memiliki kekuasaan, mudah dipengaruhi  untuk membalikkan tingkat kesadaran yang begitu dilihat dari sudut INDERAWI merupakan tingkat yang paling rendah menjadi berubah. Kita bayangkan kalau orang yang kiblat kepada manusia dan materialistik, tidak mudah orang bisa berubah, begitu saja.

Tetapi sebaliknya apakah memang benar orang yang berkuasa saat ini sedang memanfaatkan OTAK dalam arti bahwa setiap unsur huruf memiliki makna yang berdiri sendiri tetapi memiliki saling ketergatungan.

Jadi kata OTAK sebagai suatu pendekatan akan kita uraikan dari unsur huruf menjadi kata yang bermakna, bagi orang islam bahwa unsur huruf  dalam OTAK begitu banyak surat dan ayat yang mengungkapkan artinya agar mereka tertuntun ke jalan yang benar sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT.

Jadi huruf dalam kata OTAK terdiri dari :

O menjadi ORANG

T menjadi TAWAKAL

A menjadi AMANAH

K mennjadi KERJA

Marilah kita mencoba untuk mengungkapkan unsur kata dalam beberapa surat dan ayat dalam Al Quran yang menjadi tuntunan kita bersikap dan berperilaku sebagai berikut :

ORANG : S.Q.5.42 “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar kata bohong, banyak mereka memakan yang haram (seperti uang sogokn dan sebagainya). Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan) makaputuskanlah (perkara itu) di antara mereka atau berpalinglah dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepada sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.

TAWAKKAL : S.Q. 8:49 “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang aada penyakit di dalam hatinya berkata : Mereka itu (orang-orang mu’min) ditepi oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barang-siapa yang tawakkal kepada Allah , maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

AMANAT : S.Q. 33 :72 “ Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat (yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sessungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

KERJA : S.Q. 2 : 134 “Itu ummat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakan nya dan  bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidk kan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.”

S.Q.  5 : 8 “ Hai orang-orang beriman , hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kamu sekali-kali kebencianmu terhaadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepadaa takwa. Dan bertakwalah kepada Allah , sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjaakan”

Kami ingin menyimpulkan, apakah orang sebagai manusia yang diciptakan sebagai mahluk oleh Allah SWT yang paling mulia dimana dalam perjalanan hidupnya mengaku memeluk islam sebagai pandangan hidupnya, maka adakah kita menyadari seutuhnya sebagai pemeluk islam telah mampu memanfaatkan MAKNA OTAK seperti yang kami rumuskan diatas.

Apakah yang terjadi saat ini  dimana-mana ada demontrasi, apa artinya bagi kita semua sistom tersebut, apakah tidak terbayangkan bahwa dalam tubuh eksekutif, yudikatif dan legislatif adakalanya mempertontonkan ketidak puasan secara phisik, kita tidak pernah berubah dalam pola berpikir secara radikal untuk memecahkan kehidupan berbangsa dan bernegara ini Inilah satu bayangan bahwa negara kita dikendalikan oleh pihak ke tiga agar kita masuk kedalam daur hidup yang penuh permainan politik, dimana bila kita salah langkah dapat menuju kehancuran.

Dadapatkah kita bayangkan, apakah pernah pemimpin kita mau berbagi rasa untuk memikirkan keadaan yang sebenarnya, bahwa ia mampu mempergunakan OTAK untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita bangsa ini. Kalau ada pemimpin saat ini berpikir akan memaksimumkan OTAK kedalam pemecahan masalah yang opnormal  dari “KOMPLEK” merubah menjadi  ”PENYAKIT”, itulah satu tanda adanya satu kebutuhan untuk memanfaatkan “OTAK” sebagai penuntun dalam bersikap dan berperilaku.

Apakah yang dapat kita kerjakan bila semua pihak mau mene-rapkan OTAK secara dioptimalkan, cabalah renungkan Rusulluh saw bersabda :

“Sesungguhnya dunia ini indah dan manis, dan Allah akan menyerahkannya kepadamu, dan kemudian Dia akan melihat bagaimana kamu memperlaku-kannya.Maka berhati-hatilah kamu terhadap godaan dunia, dan berhati-hatilah  (pula) kamu terhadap (godaan) wanita. (H.R. Muslim).

Jadi pada BAB ini merupakan jawaban atas pertanyaan yang telah kita ungkapkan untuk menggugah pihak-pihak yang merasakan pentingnyanya arti memanfaatkan makna OTAK dalam menggugah perubahan sikap dan perilaku. Pada tingkat intensitas yang tinggi pendekatan ini mungkin dapat mempengaruhi jalan hidup artinya ia meyakini kehidupan dunia dan akherat, sebagai makhluk diciptakan oleh Allah SWT.

Dengan pemikiran pendekatan memaanfaatkan OTAK, timbul dalam pikirannya apa arti hidup di dunia dan pada waktunya ia juga bakal mati setiap saat ia dipanggil oleh sang penciptanya. Apakah model pendekatan ini akan merubah pola pikirnya sehingga menimbulkan rangsangan terhadap perubahan atas tingkat kesadarannya yang paling rendah yang kita sebut dengan kesadaran INDERAWI menuju ketingkat kedua dan seterusnya.

Perubahan tingkat kesadaran tersebut bisa terjadi bila ia dapat merenung tentang dirinya artinya ia menggerakkan keinginan dengan niat yang ikhlas dengan berpikir menghayati dengan maksud membuka mata hatinya, inilah yang disebut berpikir intuitif. Dengan tingkat kesadran yang berubah, maka kemungkinan melihat masa depannya yang akan dituju yaitu “hidup setelah mati”. Apakah arti hidupnya dalam dunia, segala yang dimilikinya tak dapat dibawanya setelah mati, kecuali menuju “PERJALANAN ABADI” sejalan dengan manfaat “OTAK” yang diyakininya.

Ada baiknya dibawah ini kami ungkapkan suatu uraian mengenai OTAK dilihat dari sisi ANATOMI sebagai berikut :

Untuk memahamkan bangunan otak perlu kita ingat bahwa sistem syaraf pusat berkembang dari suatu struktur yang berbentuk bumbung. Pada bbumbung tersebut dapat dilihat sebuah dasar , sebuah atap dan dua dinding sisi sebagai pembatas suatu terusan yang terletak di tengah. Dalam perkembangan selanjutnya terjadi masalah oleh karena bumbung itu pada beberapa tempat menjadi tebal, sedangkan pada tempat-tempat lain dindingnya tetap tinggal seperti semula.Di sebelah depan berkembang dua gelumbung yang setangkup letaknya. Gelumbung-gelumbung ini kemudian menjadi kedua belahan otak besar. Di sebelah belakang terbentuk otak kecil oleh karena atap bumbung di sini menjadi mangkin tebal. Bagian lain otak yang dinamakan batang otak tetap berbentuk bumbung dan merupakan tangkai otak besar dan otak kecil, yang ke bawah dilanjutkan menjadi sumsum belakang. Di atas-belakang dan juga di sisi batang otak itu sama sekali tertutup oleh otak  besar dan otak kecil , hanya pada dasar otak  saja batang otak dapat dilihat dari luar. Pada batang otak dapat dibedakan beberapa bagian yaitu :

  1. bagian bawah, yaitu sumsum lanjutan yang merupakan lanjutan langsung sumsum  belakang. Ke atas bentuknya semakin melebar. Dasar bumbung syaraf disini semakin menebal, sedangkan atapnya tetap tipis dan berupa selaput ; rongganya, yang merupakan lanjutan terusan pusat sumsum belakang, adalah dan agak luas dan dinamakan bilik otak ke 4. Permukaan depan sum-sum lanjutan memperlihatkan beberapa benjolan, antara lain limas di kedua sisi sebelah garis tengah dan zaitun yang letaknya agak lebih ke sisi. Bentuk-bentuk tersebut disebabkan oleh tumpukan substansi putih (inti) atau substansi kelabu (jalur) setempat.
  1. Ke atas terletak otak antara. Dasar bumbung syaraf menjadi jembatan varol oleh karena bertambahnya serabut-serabut syaraf. Dari atap bumbung saraf berkembang otak kecil. Dari dinding sisinya berkembang lengan jembatan yang menghubungkan otak kecil dengan jembatan. Bilik otak ke 4 meluas sampai di sini dan memasuki otak kecil sebagai sebuah relung dalam yang dinamakan tenda.
  1. Bagian batang otak berikutnya bernama otak tengah. Dasarnya berupa sepasang tangkai batang otak besar yang meenaik secara serong dari jembatan pada kedua sisinya untuk memasuki kedua belahan otak besar. Lembar atapnya mempu-nyai dua buah gunduk atas dan dua buah gunduk bawah. Keempat benjolan ini dibatasi oleh alur-alur yang bersilangan. Rongga otak di batasi oleh alur-alur yang bersilangan. Ronggo otak disini berupa terusun sempit, yang dinamakan saluran otak besar Sylvius yang di belakang berhubungan dengan bilik otak ke 4 dan di depan bersambungan dengan bilik otak ke 3.
  1. Bagian paling atas batang otak membentuk otak antara. Dinding sisi bumbung syaraf di sini amat menebal seraya membentuk badan-badan lutut  ; oleh karena itu rongga-nya menyempit , menyeerupakan suatu celah yang dinamakan bilik otak ke 3. Atapnya tipis dan berupa selaput , di sebelah belakang terdapat badan runjung. Dasar bilik otak ke 3 agak rumut bangunannya, berturut-turut dari depan ke belakang terdapat di sini palang penglihat , hypofisis (seperti badan runjung termasuk golongan kelenjar buntu) dan kedua badan puting.

Belahan otak besar kiri dan kanan berasal dari gelumbung-gelumbung pada bumbung saraf. Kedua gelumbung semakkin membesar dan oleh karena itu menutupi bagian-bagian batang otak, tetapi tetap berhubungan dengan otak antara. Rongga bumbung saraf meluas sampai kedalam ke dua belahan otak besar, maka terbentuklah dua bilik sisi, yang masing-masing tetap berhubungan dengan bilik otak ke 3 melalui sebuah lubang kecil yang dinamakan lubang antarbilik Monro. Di tengah , di atas dan di depan otak antara kedua belahan otak besar saling berhadapan, sehingga kedua bidang tengahnya menjadi rata. Kedua belahan otak besar saling berhubungan melalui beberapa berkas serambut melintang ; yang penting antaranya dinamakan balok. Di bawah balok terdapat sebuah berkas membujur yang bernama kubah. Permukaan otak besar memperlihatkan banyak gelung otak yang dibatasi satu terhadap yang lain oleh beberapa alur, yang terpenting antaranya adalah alur sisi Sylvius, yang dapat dilihat pada bidang sisi otak besar. Alur-alur itu juga membatasi baga-baga  otak besar ; baga dahi, baga ubun-ubun, baga belakang kepala, baga pelipis. Juga dapat tiga buah kutub pada tiap belahan otak bsar , yaitu kutub dahi, kutub belakang kepala dan kutub  pelipis.

Dari otak keluar 12 pasang saraf otak, yaitu saraf penglihatan, saraf penghidu, tigaa pasang saraf otot mata, saraf kembar tiga yang mempersarafi kulit wajah dan semua otot kunyah, saraf pendengar, saraf wajah untuk otot-otot mimik, saraf glosofaring yang antara lain melepaskan cabang kepada selaput lendir lidah dan tekak, saraf kelana yang meluas ke bawah sampai dalam daerah dada dan perut dan mempersarafi alat-alat dalam dada dan perut, saraf tambahan yang mempersarafi beberapa otot leher, dan saraf bawah lidah yang mengurus persarafan otot-otot lidah.

Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar YANG TERLAMPIR mengenai otak dilihat dari sisi  ANATOMI.

Dengan memahami kedudukan otak dari sisi anatomi yang diuraikan diatas, maka memanfaatkan “OTAK” sebagai suatu pendekatan diperlukan pula pemahaman dari unsur huruf menjadi kata bermakna.

Jadi OTAK harus diterjemahkan huruf (O) menjadi ORANG sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT, sebagai mahkluk yang paling mulia dan oleh karena itu huruf (T) menjadi TAWAKAL untuk menjalankan semua perintah dan hukumnya aku taati, suruhnYa aku kerjakan, laranganNYa aku hentikan dengan segenap kerelaan dalam menjalankan sesuatu yang diterjemahkan dari huruf (A) menjadi AMANAH/   AMANAT untuk menunntun dalam menuntun dalam bersikap dan berperilaku yang selalu memancarkan dari huruf (K) menjadi KERJA kedalam wujud untuk mempersiapkan diri menuju perjalanan abadi.

Dengan memahami makna OTAK sebagai suatu pendekatan yang kita kemukakan menjadi daya dorong untuk menarik hihmak berpikir artinya orang yang bijaksana mencari kesempurnaan tetapi orang bodoh mencari kekayaan.

BAB II :  MAKNA ORANG DALAM OTAK

Seperti yang telah kita ungkapkan pada bagian terdahulu bahwa kata orang yang termuat dalam Al Qur’an bahwa :

ORANG : S.Q.5.42 “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar kata bohong, banyak mereka memakan yang haram (seperti uang sogokn dan sebagainya). Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan) makaputuskanlah (perkara itu) di antara mereka atau berpalinglah dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepada sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan

perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil “

Dengan memahami makna ayat tersebut diatas, maka timbul pertanyaan pada diri kita untuk mendalami bahwa “Allah menyukai orang adil”, oleh karena itu mari kita mencoba untuk menguraikan huruf dalam kata orang sehingga dapat kita rumuskan kedalam untaian kalimat menjadi lebih bermakna untuk mendalami tentang  kata “ORANG” dalam “OTAK”

Bila kata ORANG kita uraikan dari huruf menjadi kata yang bermakna yang terdiri dari unsur kata yaitu :

O menjadi Organ ;

R menjadi Roh ;

A menjadi Akal ;

N menjadi Naluri / Nafsu ;

G menjadi Golongan.

Selanjutnya kita uraikan makna huruf menjadi kata bermak-na sebagaiberikut :

ORGAN adalah alat yang mempunyai tugas tertentu dalam tubuh manusia. Tentang manusia begitu banyak diungkapkan dalam  Al Qur’an pada surat-surat :

NO.2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,28,29,30,31,32,33,34,35,36,38,39,41,42,43,44,45,46,47,49,50,51,52,53,54,55,56,57,58,59,62,63,64,66,70,71,72,80,82,83,84,86,89,90,95,96,99,100,103,110,114. Dalam setiap surat terdapat ayat-ayat yang mengungkapkan tentang manusia.

Sebagai contoh S.Q.2 : 8 “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman “ Maknanya adalah untuk menjelaskan tentang go- longan munafik.

Jadi kalau kita sejenak untuk mengingatkan kembali dengan membaca surat dan ayat yang kami ungkapkan diatas, maka ia akan memberikan daya dorong kedalam pikiran kita untuk menyadari apa arti hidup sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT ini.

ROH / Ruh adalah salah satu keyakinan yang diajarkan Al Qur’an  dan mempercayai soal-soal gaib merupakan salah satu sendi keyakinan beragama. Jadi kepercayaan mengenai soal-soal gaib itu justru merupakan perwujudan dari kebenaran iman dan islam.

Dalam Al Qur’an tentang Ruh dapat kita ketemukan dalam S.Q. 17 ; 85 ; 4:171 ; 19:17 ; 32:9 ; 38::72 ; 66:12 ; 78:38 ; 81:7

Sebagai contoh dalam S.Q 17:85 mengungkapkan sebagai berikut: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang Roh. Katakanlah : “Roh itu termasuk urusan Tuhan-Ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”

Dengan pemahaman tersebut diatas, maka sejak manusia lahir, roh berangsur dewasa sesuai perkembangan jasmani. Jadi dengan mempercayai adanya roh itu berarti soal-soal gaib dapat kita rasakan, sehingga kepercayaan mengenai Roh tidak dipaksakan kepada pikiran untuk memanfaatkan otak melalui alat pikiran kesadaran, kecerdasan dan akal untuk mencari jawaban tentang Roh yang tidak diketahui hakkikatnya

Cobalah renungkan S.Q. 22 : 5 “ Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari Kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepadamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian  (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara Kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”

S.Q. 6 : 62 “ Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepaada Allah. Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.

Dengan kita merenung untuk memahami makna dari kedua surat tersebut diatas, maka kita dapat mengetahuinya ada dua unsur dalam diri manusia yaitu jasad / tubuh / badan yang dapat diketahui tuntutan serta keinginannya disatu sisi dan disisi lain pada waktunya manusia setelah meninggal Roh-nya kembali kepada Allah.

AKAL, adalah salah satu mesteri lainnya yang diciptakan oleh Allah SWT untuk orang sebagai manusia yang memiliki kemampuan untuk berpikir.

Oleh karena itu dalam Al Qur’an telah diungkap dalam surat-surat dan ayat tentang akal seperti yang tercantum dalam . 2:142,179,197 ; 4:5 ; 5:58 ;  7:66,67,155 ; 10:100 ; 12:94,111 ; 26:28 ; 30:24 ; 39:21 ; 45::5 ; 53::6 ; 65:10.

Sebagai contoh mari kita renungkan S.Q. 2:142 “Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata : “Apakah yang memalingkan mereka (umat islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya ?” Kata-kanlah : “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat ; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”

Dengan Surat tersebut telah menunjukkan kepada kita bahwa “ke-esaan tuhanlah akhirnya yang menang”, oleh karena itu dengan akal yang dianugerahkan oleh Allah SWT, orang dapat berpikir sebagai manusia seutuhnya artinya ia mampu menggerakkan alat pikir yang lainnya dalam satu kesatuan yang disebut dengan kesadaran dan kecerdasan.

Dengan menggerakkan Kesadaran dalam berpikir artinya dengan  kesadaran kita dapat berorientasi meninjau serta me- rasakan diri seendiri serta menangkap situasi diluar diri kita.

Kesadaran tidak berarti apa-apa dalam berpikir bila tidak dibantu oleh Kecerdasan karena kesadaran menyadarkan tentang apa-apa namun kecerdasan melaporkan kepada kita keadaan perkara dan hubungannya. Jadi melalui kecerdasan kita dapat menangkap fakta dan informasi untuk mengingat masalah kita hadapi atau dengan kata lain seberapa besar resiko yang dihadapinya, tapi laporan itu akan menjadi penting bila kita dapat mencari jawaban untuk memecahkan.

Kecerdasan  menjadi bermakna, bila Akal menunjukkan mencari jalan untuk memenuhi maksud dan tujuan kita. Oleh karena itu dengan Akal adalah potensi rohaniah yang memiliki pelbagai kesanggupan seperti kemampuan berpikir, menyadari, menghayati dan memahami sehingga kegiatan akal itu berpusat atau bersumber dari kesanggupan jiwa yang disebut dengan intelengen. Akal berpusat di otak bawah sadar yang disebut hati.

Sejalan dengan pikiran diatas, cobalah renungkan S.Q. 2 : 269 “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah, ia benar-benar dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”

NALURI / Nafsu, dimana setiap orang adalah manusia pasti memiliki naluri. Naluri artinya fitrah dan oleh karena itu naluri adalah sesuatu yang tidak dipelajari dan sifatnya wajar yang dibawa manusia sejak lahir yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu tindakan tertentu.

Sifat dorongan itu, manusia bertindak dengan nalurinya pada dasarnya untuk kebaikan dan ada pula dasar untuk kejahatan,  sehingga manusia diberi ikhtiar untuk berusaha dalam  pelbagai bentuk pendekatan untuk memberikan bimbingan terhadap potensi kebaikan dan memberikan arah pada potensi kejahatan ke jalan yang baik.

Seperti kita maklumi bahwa dalam Islam faktor baik dan buruk merupakan sunnatullah  keberadaannya, sebab tidak sempurnalah Kekuasaan Allah itu jika hanya mampu mengadakan yang baik-baik saja, sedangkan yang buruk tidak.

Dorongan itu yang disebut Nafsu. Nafsu adalah bagian dari rohani yang memiliki pengaruh yang besar dan menguasai untuk memerintahkan kepada anggota jasmani. Didalam Al Qur’an dapat kita ketemukan dalam surat dan ayat yang tercantum pada S.Q. 2:87 ; 4:27, 135 ; 5:29, 48, 49, 70, 77 ; 6:119, 150 ; 7:81, 176 ; 12:53 ; 13:37 ; 18:28 ; 20:96 ;27:55.

Sebagaai contoh S.Q. 2 :87 “ Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya  (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah kami berikan bukti-bukti kebenaran  (mu’jizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dkeinginanmu lalu kamu angkuh ; maka beberapa orang (di antara  mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh ? “

Dari surat tersebut mengingat kita bahwa sikap orang Yahudi terhadap para rasul dan kitab-kitab yang diturunkan Allah. Sebaliknya Allah mengunci hati orang yang menuruti nafsu, seperti yang termuat dalam S.Q. 45:23 ; 47:16.

Dalam S.Q.45:23 berbunyi “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat ber-dasarkan ilmunya dan Allah telah mngunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannnya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? “

Sejalan dengan itu maka naluri yang ada pada manusia merupakan anugerah tuhan untuk dipakai secara bijaksana, karena dalam kehidupan manusia akan dihadapkan pada pelbagai kebutuhan baik sebagai individu maupun sebagai warga masyarakat.

Dengan demikian sebagai individu, maka berkat dorongan naluri berupa hawa nafsu, kebutuhannya akan dapat terjaga dan terpelihara. Sebaliknya sebagai anggota masyarakat, ia dapat menyesuaikan diri sebab ada naluri seperti keinginan berkumpul, menyelamatkan diri, minta tolong  dsb.

Dengan mengutarakan hal diatas bahwa pada setiap manusia terdapat naluri dari pembawaan lahirnya, maka seberapa jauh seseorang dapat mengendalikan naluri yang ada dalam jiwanya akan sangat ditentukan  oleh tingkat kedewasaan seseorang dalam berpikir.

Oleh karena itu, pahamilah nafsu yang memainkan peran dalam mempengaruhi pikiran yang kita sebut dengan :

  • Nafsu Amarah adalah nafus yang belum mampu membedakan kebaikan dan keburukan sehingga mendorong kepada perbuatan yang tidak terpuji.
  • Nafsu Lawwaamah adalah nafsu yang memiliki rasa insaf dan  menyesal sesudah melakukan sesuatu pelanggaran.
  • Nafsu Musawwalah adalah nafsu yang dapat membedakan sesuatu yang baik dan buruk. Melakukan keburukan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.
  • Nafsu Mulhammah adalah Nafsu yang mendapat ilham dari Allah dikaruniai ilmu pengetahuan dan akhlak yang terpuji.
  • Nafsu Raadhiyah adalah nafsu yang ridha (ikhlas) kepada Allah, memiliki sikap yang baik dalam kesejahteraan, mensyukuri nikmat qanaah atau merasa puas dengan apa adanya.
  • Nafsu Mardhiyah adalah nafsu yang diridlai Allah. Yaitu keridlaan yang dapat terlihat pada anugerah yang diberikannya, berupa senantiasa berdzikir, ikhlas, memiliki karamah, dan men-dapatkan kemuliaan.
  • Nafsu Kaamilah adalah nafsu yang telah sempurna bentuk dan dasarnya.  Sudah dikategorikan cakap untuk mengerjakan irsyad dan menyempurnakan ikmal terhadap hamba Allah.
  • Nafsu Muthmainnah adalah nafsu yang telah mendapat tuntunan dan pemeliharaan yang baik. Nafsu ini bisa menyebabkan ketenangan jiwa, melahirkan sikap dan perbuatan yang terpuji, membentengi serangan kekejian dan kejahatan.

GOLONGAN adalah mengkelompokkan orang-orang yang memiliki tingkat kesadaran yang mempengaruhi pola berpikir dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidup-annya sebagai manusia. Oleh karena itu kita dapat mengkelompokkan manusia kedalam golong-an yang disebut :

Dalam Al Qur’an mengenai Golongan terdapat dalam S.Q. 18:36 ; 35:6 ; 37:83 ; 38:11, 13 ; 40:5,30 ; 40:5,30 ; 42:7 ; 43:65.

Pada S.Q. 18 : 36 “dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mmendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”

S.Q. 35 : 6 “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggap ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Golongan kanan yang termuat dalam S.Q. 56 : 8, 27, 38, 90,96, ;  74 : 39 ;  90 : 18.

Sebagai contoh pada S.Q. 56 : 8 “ Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu “

Yang dimaksud golongan kanan ialah orang-orang yang menerima buku-buku  catatan amal mereka dengan tangan kanan.

Golongan kiri yang termuat dalam S.Q. 56 : 9, 41 ; 90 : 19. Sebagai contoh pada S.Q. 56 : 9 “ Dan golongan kiri . Alangkah sengsaranya golongan kiri itu”.

Yang dimaksud golongan kiri adalah orang-orang yang menerima buku-buku catatan amal mereka dengan tangan kiri.

Jadi dengan pemahaman itu adalah bukti kebenaran hari kebangkitan dan penggolongan manusia pada hari itu kepada mu’min dan kafir.

Untuk jelasnya marilah kita menyimak dalam S.Q.30 : 14 “Dan pada hari terjadi kiamat, di hari itu mereka manusia) bergolong-golongan.

S.Q.30 : 15 “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira.”

S.Q. 30 : 16 “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (Al Qur’an) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap berada di dalam siksaan (neraka).

Dengan mengungkapkan huruf dalam kata “ORANG” yang telah kita utarakan diatas, maka manusia yang diciptakan oleh Allah SWT merupakan mahluk yang mulia sebagai khalifah di bumi.

Oleh karena itu, harus kita pahami bahwa ORANG sebagai unsur O dalam kata “(O)TAK mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa ORANG adalah (O)RGAN sebagai jazad  yang didalamnya terdapat (R)OH yang menggerakkan (A)KAL untuk menuntun (N)ALURI / NAFSU kedalam (G)OLONGAN umat yang selalu berpegang kepada Al Qur’an dan sunnah.

Memahami orang sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT berarti kita harus mampu mempergunakan otak sebagai sarana agar dalam bersikap dan berperilaku taat melaksanakan perintah Allah, menetapi peraturan-peraturan yang ditentukan Allah dan meninggalkan segala larang-annya.

Jadi manusia memanfaatkan OTAK dalam kemampuan untuk berpikir haruslah sejalan ajaran agama untuk mengaktualisasikan alat berpikkir yang disebut kesadaran (otak kanan atas), kecerdasan (otak kiri atas) dan akal (otak bawah sadar).

Oleh karena itu, manusia dengan kemampuan berpikir itu, ia harus menyadari benar dalam mewujudkan hikmah berpikir untuk menjauhi ma’shiat, sehingga proses dalam berpikir dapat menuntun arti mata, telinga, lidah, perut, aurat, tangan, kaki kejalan yang benar.

Untuk itu cobalah renungkan S.Q. 8 : 22 “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya  pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.”

Dalam perjalanan hidup ini orang sebagai manusia penuh dengan tantanngan dimana ideologi dan beragam aliran tumbuh dan berkembang yang akan mempengaruhi jalan pikiran manusia. Oleh karena itu, orang yang dapat menangkap makna “OTAK” sebagai ciptaaan Allah SWT, akan dapat menghayati hikmah berpikir untuk menuntun dalam bersikap dan berperilaku.

Dengan jalan pikiran itu , maka manusia berpikir, bekerja dan belajar selama hidupnya dapat membentuk kesadaran dari satu tingkat ke tingkat yang lebih sempurna sehingga dengan bantuan kecerdasan dan akal, ia dapat menolak ajaran materialisme histori dengan berpegang teguk pada Al Qur’an dan Sunnah yang menuntun manusia berbuat kebajikan dan pantang akan kejahatan.

Mengungkapkan huruf O dalam kata (O)TAK sebagai suatu pendekatan dimaksudkan untuk memahami arti manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia di bumi sehingga ia selalu berpikir dalam satu kebiasaan untuk :

  • Memberi kepada orang yang tidak suka memberi.
  • Membuat kebaikan kepada orang yang tidak senang pada kita.
  • Waktu diam digunakan untuk berpikir.
  • Bila berbicara juga berisi nasehat.
  • Apa dilihat dijadikan contoh dan pelajaran.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka orang hanya bisa dengan berkembang jikalau ia bisa mengatasi kesukaran-kesu-karan krena itu harus bertekun dengan tekad maju terus, meskipun mendapat pukulan dan rintangan. Mati karena melaksana-kan cita-cita adalah yang mulia. Penderitaan dan kesusahan hidup adalah pengalaman yang berharga dan membuat seseorang berjiwa besar.Tidak ada jalan yang senang menuju jalan keberuntungan hidup.

Jadi dengan daya dorong dalam memahami arti kebera-daannya di dunia berarti orang yang mendidik dirinya lebih berharga dari mendidik orang lain. Orang yang tidak dapat menguasai dirinya dia tidak dapat memimpin orang lain. Barang siapa yang pandai memelihara isterinya berarti pandai pula memelihara arti kehidupan ini.

BAB III : MAKNA TAWAKAL DALAM OTAK

Tawakal adalah berserah kepada kehendak Allah artinya percaya dengan sepenuh hati kepada Allah. Tidak cukup hanya percaya te-tapi juga menyerah. Jadi percaya dan meyerah adalah dua kata yang berbeda tapi memiliki saling keterkaitan yaitu disatu sisi  kita percaya karena aqidah dan disisi lain menyerah karena ibadah.

Dengan pikiran itu marilah kita mencoba merenung dari huruf menjadi kata bermakna dalam tawakal yaitu

T menjadi (T)aat ;

A menjadi (A)qidah ;

W menjadi (W)ahyu ;

A menjadi (A)llah ;

K menjadi (K)itab ;

A menjadi (A)l Qur’an ;

L menjadi (L)ailatul qodar.

Jadi untuk mendalami makna TAWAKAL dilihat dari unsur tiap huruf dalam kata tersebut memberikan daya dorong dalam menangkap hikmah berpikir agar wujud percaya dan menyerah menjadi satu kenyataan dalam bersikap dan ber-perilaku.

Untuk jelasnya dibawah ini kita ungkapkan makna huruf dalam kata tersebut seperti dibawah ini :

TAAT, adalah senantiasa menurut perintah dan hukum-Nya aku taati, suruhnya aku kerjakan, larangan-Nya aku hentikan, dengan segenap keyakinan dan kerelaaan.

Mengenai kata Taat dalam surat-surat dan ayat kita dalam Al Qur’an seperti yang tercantum dalam S.Q. 2:93, 173 ; 3:17, 173 ; 4: 13, 34, 59, 65, 69, 80, 1 ; 5 : 7, 92 ; 8 :20, 46 ; 9 : 71 ; 20 : 90 ; 24 : 52, 53, 54,56 ; 26 : 108, 110, 126, 132, 144, 150, 163, 179 ; 29 : 65 ; 31 : 32 ; 33 : 31, 35, 66 ; 38 : 17, 19, 30, 44 ; 43 : 63 ; 47 : 21, 33 ; 48 : 17 ; 49 : 14 ; 51 : 50 ; 58 :13 ; 64 : 12, 16 ; 66 :5, 12 ; 71 : 3 ; 72 : 14 ; 81 : 21 ; 98 : 5.

Sebagai contoh, kita simak S.Q. 2 : 93 “Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursi-na) diatasmu (seraya Kami berfirman) : “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu  dan dengarkanlah”. Mereka menjawab : “Kami mendengarkan tetapi tidak menta’ati “  Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).”

Dari ayat tersebut, jelaslah bahwa penyembahan yang dilakukan bangsa Yahudi terhadap anak sapi, merupakan tanda bagi kecen-derungan mereka kepada benda.

Oleh karena itu Taat yang kita maksudkan adalah taat dengan percaya dan penyerahan diri sebagai satu keyakinan kepada sang pencipta Allah SWT.

Jadi simaklah apa yang tercantum dalam S.Q. 3 : 173 “(yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan : “Sesungguhnya ma-nusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab : “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”

AQIDAH, adalah keyakinan dan percaya serta berpegang teguh atas panggilan hati kepada tingkat pemahaman aqidah yang bersifat haqqul yakin artinya orang berserah diri secara bulat dengan tingkat kesadaran yang tinggi kepada rukun iman yang akan menuntun perjalanan hidup ini yang didukung oleh pemikiran rasional, ilimiah dan mendalam serta pengalamannya dalam pengalaman ajaran agama.

Jadi dengan keyakinan dan percaya serta berserah diri terhadap rukun iman  yaitu : Percaya kpada Allah Ta’ala ; Percaya kepada para Malaikat ; Beriman kepada Kitab-kitab Allah ; Beriman kepada para Rasul ; Beriman kepada hari Kiamat ; Beriman pada suratan Takdir.

Dalam Al Qur’an banyak diungkapkan dalam surat-surat dan ayat-ayat tentang :

  • Iman
  • Allah memberi pahala kepada orang yang beriman
  • Allah pelindung orang beriman
  • Balasan terhadap orang beriman dan kafir
  • Beriman
  • Beriman kepada yang ghaib
  • Ciri iman yang sebenarnya
  • Diwaktu azab datang iman tak berguna lagi
  • Ganjaran untuk orang iman dan jihad di jalan Allah
  • Hukuman untuk orang yang tak beriman
  • Keimanan
  • Kemuliaan manusia terletak pada iman dan amalnya
  • Iman kepada kehidupan Akhirat
  • Iman kepada semua nabi dan kitab
  • Menambah keimanan
  • Nikihailah wanita beriman
  • Orang beriman dan berilmu ditinggikan derajadnya
  • Kenikmatan di akhirat hanya untuk beriman
  • Penghargaan Allah pada manusia yang sempurna imannya
  • Perintah beriman kepada Allah dan Rasulnya
  • Sikap yang lemah iman dalam menghadapi cobaan
  • Surat orang-orang yang beriman
  • Tuhan murka terhadap orang yang mengingkari iman
  • Unsur iman
  • Tak beriman
  • Dan seterusnya.

Beberapa contoh mengenai surat-surat dan ayat-ayat tersebut sbb.S.Q. 3 : 49 tentang Iman Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka):

“Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”

S.Q. 2 : 3 tentang Beriman

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,

S.Q. 3 : 17 tentang Unsur Iman

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

WAHYU, adalah petunjuk yang diturunkan hanya kepada para Nabi dan Rasul melalui mimpi dsb. Nabi Muhammad saw, menerima wahyu yang pertama  ketika beliau berusia empat puluh tahun.

Dalam Al Qur’an kata wahyu kita dapatkan dalam surat dan ayat yang tercantum dalam S.Q. 2:23 ; 3:44 ; 4:105 ; 6:50,51, 106,145 ; 7:75, 203 ; 10:15 ; 11:12, 49 ; 17:39, 60,73,86 ; 18:27, 110 ; 20:114 ; 21::45, 73, 108 ; 22:8 ; 29:45 ; 34:6, 50 ; 35 :31 ; 40::70 ; 41:6, 12, 14, ; 42:3,52, ; 46: 9 ; 54:25 ; 72:1 ; 77:5.

Sebagai contoh dalam S.Q. 2:33 “

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

S.Q. 3:44 “

Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.

Dengan controh surat dan ayat tersebut diatas mengingatkan kepada kita  tentang wahyu dan oleh karena itu, maka Al Qur’an selama masa dua puluh tiga tahun diturunkan secara berangsur-angsur di sekitar pribadi Muhammad, di mana antara satu wahyu dan wahyu berikutnya terdapat jarak waktu pemisah yang berbeda-beda panjang dan pendeknya.

Kita meyakini dan percaya tentang wahyu yang diungkapkan dalam banyak surat dan ayat mengungkapkan :

  • Cara wahyu diturunkan
  • Kebenaran adanya wahyu
  • Nabi adalah laki-laki yang diberi wahyu
  • Nabi Muhammad hanya mengikuti apa yang diwahyukan Tuhan
  • Penegasan Tuhan bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad benar
  • Pokok agama yang diwahyukan kepada para rasul sama
  • Dan seterusnya.

Jadi dengan memahami mengapa wahyu itu diturunkan secara berangsur-angsur, memberikan daya ingat kita nilai pendidikannya bagaimana memerangi kegelapan bangsa jahiliyah, perang badar, perang Uhud dan seterusnya.

Dengan demikian maka daya ingat kita tentang arti dan  fungsi  wahyu itu sendiri untuk mengingatkan kita untuk berpikir menyelami dari satu ayat ke ayat lainnya sebagai sebagai kesatuan kuantitas artinya kita memahami dimana setiap wahyu itu berdiri sendiri dan menghimpun satuan-satuan baru sehingga sampai kepada kumpulann Al Qur’an.

Allah, adalah dia ciptakan berupa berbagai ciptaan-Nya yang ada di daratan, lautan, lembah dan ngarai. Dengan kesempitan ilmu mereka menuju kekufuran. Dan dengan kelemahan nalar, mereka keluar menuju pendustaan dan kedurhakaan.

Oleh karena itu, hingga mereka mengingkari penciptaan segala sesuatu. Mereka menganggap hal itu tercipta tanpa kesengajaan , tiada penciptaan, pengaturan dan kebijakan dari Pengatur dan Pencipta.

Sejalan dengan pemahaman tersebut, Allah telah mene-tapkan sejumlah kewajiban yang menyertai syahadat tauhid. Ia dimaknai dengan rukun-rukun islam. Hikmah dari dilaksana-kannya rukun-rukun ini adalah melatih manusia untuk senantiasa taat kepada Allah, tunduk kepada-Nya dengan sebaik-baiknya dan menjauhkan diri dari larangan-Nya serta kburukan-keburukan.

Dari isi Al Qur’an yang tercantum dalam 114 Surat dan terperici kedalam 1.133 Ayat, hanya sedikit sekali yang tidak mengungkapkan kata Allah pada Surat 54, 55, 56, 68, 75, 77, 78, 80, 83, 86, 90, 92, 93, 94, 97, 99, 100, 101, 102, 103, 105,106,107,108, 109, 111, 113-133.

Sebagai contoh bacalah S.Q. 1:1 “

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. “

S.Q. 2.7 “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

S.Q. 2:8 “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

S.Q. 2:9 “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Bila kita renungkan dari Surat dan Ayat, maka Al Qur’an diantaranya akan mengungkap hal-hal sebagai berikut :

  • Mata manusia tidaka melihat Allah
  • Kekuasaan Allah yang tergambar pada alam semesta
  • Keagungan Allah
  • Balasan Allah untuk orang yang berbuat kebajikan
  • Allah Mengazab setelah memperingatkan
  • Ketenteraman bagi orang yang mengingat Allah
  • Allah mengetahui yang lahir dan yang bathin.
  • Dan seterusnya.

Dengan merenung apa-apa yang terkandung dalam Al Qur’an, maka kita meyakini dan percaya sehingga dapat merubah jalan pikiran ketidaktahuan orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan dan maknanya.

Jadi dengan ilmu, bila kita memperhatikan alam ini dengan pikiran kita dengan mengkaji dengan kesadaran, kecerdasan dan akal, maka engkau mendapatinya seperti rumah yang dibangun dan tersedia semua kebutuhan yang ada didalamnya yang dibutuhkan oleh manusia. Kita dapat membayangkan mengenai langit terbentang sebagai atap, bumi terhampar sebagai alas, bintang-bintang bercahaya sebagai lampu dan mutiara-mutiara terpendam sebagai simpanan.

Begitulah adanya bahwa alam ini diciptakan-Nya dengan perhi-tungan, keteraturan dan keserasian. Dan penciptanya adalah satu.Mahaagung kesucian-Nya, Mahatinggi kemurahan-Nya, Ma-hamulia wajah-Nya dan tiada tuhan selain-Nya.

Demikian pula kita meyakini dan percaya atas ciptaan-Nya atas manusia dan pengaturan janin di dalam rahim, cara kelahiran ja-nin, makanannya, tumbuhnya gigi dan mencapai dewasa, dsb.

KITAB, adalah wahyu Tuhan yang dibukukan sebagai kitab suci yang mempercayainya. Sebelum Al Qur’an diturunkan terdapat taurat, zabur, injil seperti yang termuat dalam Surat-Surat No. 2,3, 4,5, 9,10,11, 12,13, 14, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 33, 34,35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 44, 45, 46, 57, 61, 62, 66, 68, 69, 83, 84, 87, 98 beserta ayat-ayat yang tercantum didalamnya. Sebagai contoh diungkapkan seperti dibawah ini :

S.Q.2: 144 “

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

S.Q. 2 :145 “

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.

S.Q. 2:146

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.

Tuhan menurunkan Al Qur’an membenarkan kitab sebelumnya, oleh karena itu kita harus meyakini bahwa Al Qur’an sebagai kitab yang terakhir diturunkan untuk menuntun manusia sebagai makhluk yang paling mulia dimata-Nya.

Dan oleh karena itu manusia yang diungkap Qur’an dan bagi yang mempercayai, maka dengan hikmah berpikir dapat me-nuntun sikap dan perilakunya dalam perjalanan hidubnya didunia dan berusaha menyiapkan diri menuju kepada perjalan-an yang abadi.

AL QUR’AN, adalah kitab suci yang diturunkan Allah SWT Tuhan Alam Semesta, kepada Rasul dan Nabi-Nya yang terakhir Muhammad  SAW melalui Malaikat Jibril AS untuk di sampaikan kepada seluruh umat manusia sampai akhir zaman.

Kata Al Qur’an dapat kita ketemukan dalam surat-surat beserta ayat-ayatnya pada S.Q. 2 : 2, 23, 41, 89, 91, 97, 129, 185 ;

6 : 90 ; 10 :15 ; 11 : 51 ; 12 :104 ; 25 : 30 ; 41 : 42 ; 42 : 7, 17, 23, 24, 52 ; 43 : 2, 3, 4, 5, 8, 29, 30, 31, 44 ; 44 : 2, 58 ; 45 : 11, 20 ; 46 : 4, 8, 10, 11, 12, 29, 30 ; 47 : 9, 24 ; 81 : 19, 25, 27 ;84 : 21 ; 85 : 21 ; 86 : 13 ;  87 : 6 ;  97 ; 98 : 2 ; 50 : 1, 45 ; 52 : 34 ; 56 : 77 ; 57 : 9 ; 68 : 44, 51, 52 ; 69 : 40, 41, 48, 50, 51 ;

72 : 1, 13 ; 73 : 5,20 ; 74 : 18, 21, 24, 25, 54, 55 ; 75 : 116, 31.

Sebagai contoh dibawah ini diungkapkan makna kata Al Qur’an dalam S.Q. 2 : 2 “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

S.Q. 2 : 23 “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Dengan memahami surat dan ayat tentang Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat (bangsa-bangsa) dan diturunkan dalam bahasa Arab , sehingga bahasa Arab menjadi bahasa kesatuan umat islam sedunia.

LAILATUL QODAR. Artinya suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Qur’an.

Untuk jelasnya dapat kita ketemukan dalam Surat dan ayat seperti pada S.Q. 97 dengan 5 ayat didalamnya yaitu

S.Q. 97 ; 1 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.

S.Q . 97 : 2 “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

S.Q. 97 : 3 “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

S.Q. 97 : 4 “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

S.Q. 97 : 5 “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Dengan mengungkap makna huruf dalam kata TAWAKAL sebagai unsur T dalam kata “O(T)AK mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa TAWAKAL adalah (T)AAT dalam menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan percaya dan menyerahkan diri atas  (A)QIDAH  yang termuat dalam KITAB suci terakhir  yang diturunkan-NYA seecara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW yang disebut AL QUR’AN pada suatu malam yang sangat mulia disebut dengan malam LAILATUL QODAR.

Jadi dengan kemampuan berpikir manusia dapat melaksanakan makna TAWAKAL dalam kata O(T)AK dalam usaha agar dalam hidup ini mempunyai arti atas keberadaan di bumi ini sesuai dengan rencana Allah SWT sebagai penciptanya.

Oleh karena itu manusia dalam kehidupannya dengan bertawa-kal akan menunjukkan kehadapan Allah SWT sebagai orang yang beriman dengan tanda :

  • Mendengar Allah bergeletar hatinya.
  • Dibacakan ayat Allah bertambah keimanannya.
  • Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
  • Mendirikan sembahyang
  • Mendermakan sebahagian dari rezekinya.

Dengan tawakal berarti pula akan  dapat menuntun manusia da-lam bersikap dan berperilaku, maka manusia dengan hikmah berpikir, maka ia akan sampai kepada tujuan dengan lidah sebagai alat manusia yang lebih mulia dalam tubuhnya. Dengan lidah itu pula seorang di lempar kedalam neraka, sebab itu jagalah dia dengan baik karena lidah itu adalah anjing yang setia, jangan lidah anda mengutuki seseorang sebab kutukan itu akan kembali kepada diri anda sendiri.

Akhirnya sebagai daya dorong perlu kita memahami bahwa tawakal tak ada paedahnya bila 1) perkataan kalau tak disertai dengan perbuatan ; 2) kepintaran kalau tidak disertai budi ; 3) derma kalau tidak disertai niat suci ; 4) harta kalau tak dengan santun ; 5) jujur kalau tidak sanggup memegang janji ; 6) hidup kalau tak disertai kesehatan ; 7) negeri makmur kalau hati penduduknya kecewa.

Dengan demikian bahwa orang takwa senantiasa mendapat pimpinan dari Ruhan dalam penghidupan dan perjuangannya di jamin oleh Tuhanakan memperoleh kemenangan. Tinggalkanlah semua yang haram anda akan jadi manusia yang paling utama dalam beribadat pada Allah SWT.

Oleh karena itu tingkatkan manfaatkan dalam hikmah berpikir agar menjadi orang yang disegani bukan pada orang kaya tetapi pada orang berbudi tinggi.

BAB IV :  MAKNA AMANAH DALAM OTAK

Amanah merupakan tanggung jawab manusia sejalan dengan fitrah dan bakat yang dimilikinya sejak lahir, oleh karena itu manusia yang diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang mulia disisi Tuhan, maka dengan memanfaatkan otak, ia harus mampu  meningkatkan kesempurnaan dalam perja-lanan hidup abadi.

Dengan pemikiran itu setiap manusia ibarat kata pepetah bah-wa manusia sebagai individu berusaha menemukan tentang di-rinya, itu berarti ia akan mengenal tentang Tuan. Hikmah berpikir tersebut hanyalah sebagai daya dorong dalam setiap langkah menuju kejalan kesempurnaan

Mencintai kesempurnaan merupakan fitrah yang kuat untuk menuntun manusia dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di dunia ini sebagai tanggung jawab yang harus dipenuhinya.

Dengan pikiran itu marilah kita mencoba merenung dari huruf menjadi kata bermakna dalam amanah sebagai suatu pemaham-an  yang lebih mendalam apa arti hidup di dunia ini. Dengan pemahaman itu ia akan berusaha menempatkan perjalanan hidup ke arah yang diridhoi oleh Allah SWT. Sikap dan perilaku akan dituntun oleh kemampuan berpikir, oleh karena itu dibawah ini diungkapkan kata amanah sebagai berikut :

A menjadi Amal

M menjadi Martabat

A menjadi Akhlak

N menjadi Nasib

A menjadi Azab

H menjadi Hari

Jadi untuk mendalami makna AMANAH dilihat dari unsur tiap huruf dalam kata tersebut memberikan daya dorong dalam menangkap hikmah berpikir agar wujud percaya dan menyerah menjadi satu kenyataan dalam bersikap dan berperilaku.

AMAL, adalah menyangkut perintah Allah SWT melalui pesu-ruh-Nya Nabi Muhammad SAW untuk menjalankan syariat yang menyeluruh persoalan hidup lahir dan batin, artinya Allah SWT menetapkan bahwa syariat lahir adalah untuk diamalkan oleh jasad lahir, sedangkan syariat batin adalah untuk diamal-kan oleh jasad batin (roh)

Didalam Al Qur’an kata amal dapat kita ketemukan dalam surat dan ayat pada S.Q. 2 : 167, 223 ; 3 : 57 , 136, 139 ; 5 : 53 ; 6 : 88 , 160 ; 7 : 53 , 171 ; 11 : 7 ; 17 : 13 ; 42 : 15 ; 49 : 2, 14 ; 50 : 17 ; 58 : 6 ; 67 : 2.

Sebagai contoh S.Q. 2 : 167 “Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api Neraka “

S.Q. 2 : 223 “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”

Bila kita renungkan ayat tersebut diatas dan memahami pula arti amalan, maka kita akan dapat lebih mendalami kandungan surat dan ayat lain yang akan memberikan arti dalam pemaham-an keberadaan manusia sebagai khalifah di dunia ini untuk menjalankan AMANAH sesuai dengan perintah-NYA.

Untuk itu sebagai daya dorong dalam usaha-usaha manusia untuk selalu ingat kepada keyakinan dan berserah diri kepada Allah SWT, maka diperlukan adanya suatu cara pendekatan dalam mendorong untuk menciptakan hihmak berpikir agar kita selalu dapat menempatkan sikap dan perilaku untuk menjalankan AMANAH dengan mengingat hal-hal yang termuat dalam surat dan ayat yang menjadi batasan tentang diri kita yaitu :

  • Pemahaman arti amal saleh.
  • Balasan Allah kepada amal seseorang menurut niatnya.
  • Balasan masing-masing tergantung amalannya.
  • Balasan untuk yang beramal baik
  • Derajat seseorang disisi Tuhan sesuai dengan amalnya.
  • Hendaknya segala amal dikerjakan karena Allah.
  • Balasan terhadao orang beramal buruk.
  • Jaji Allah bagi yang mengerjakan amal saleh.
  • Kemuliaan manusia terletak pada amal dan imannya.
  • Amal salleh mempertemukan manusia dengan Tuhannya.
  • Amal saleh yang kekal lebih baik dari perhiasan dunia.
  • Setiap amal mendapat pahala dari Tuhan.
  • Setiap orang akan memetik buah amalnya sendiri.
  • Setiap orang telah ditetapkan amal perbuatannya.
  • Tuhan tidak menyianyiakan amal seseorang.
  • Amal untuk kebaikan dirinya sendiri.
  • Yang menerima buku amal dari kanan akan menerima pemeriksaan yang mudah.
  • Yang menerima buku amal dari belakang akan masuk neraka.
  • Yang mengerjakan amal dalam keadaan beriman akan diberi pahala.

Demikianlah bila kita selalu mengingat-ingat hal-hal yang kita sebutkan diatas, maka setiap kita berpikir dalam melaksanakan sesuatu akan menuntun kita dalam bersikap dan berperilaku ke jalan yang benar, maka disitulah letak kebahagian kita menyiapkan bekal dalam menuju perjalanan abadi.

MARTABAT, tingkat harkat kemanusiaan dimata Allah SWT, dimana manusia memahami secara bulat apa maksud ia diciptakan-Nya untuk beribadah, sebagai khalifah, sebagai Ummat Nabi Saw dalam melanjutkan perjuangannya.

Untuk beribadah bukan hanya manusia tetapi seluruh makhluk di muka bumi ini beribadah menurut caranya masing-masing. Untuk itu perhatikan perintah Allah SWT dalam Al Qur’an seperi yang termuat dalam

S.Q. 24 : 41 “Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Jadi ibadanya Matahari yaitu dengan bergerak setiap hari dari tumur ke barat, begitu juga ibadahnya air yaitu senantiasa me-ngalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Apalagi manusia makhluk yang paling sempurna asal kejadiannya.

Sebagai khalifah, ketika Allah SWT menciptakan manusia, maka malaikat proten, seperti yang termuat dalam surat :

S.Q. 2 : 30 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Oleh karena itu, manusia sebagai penanggung jawab di muka bumi dan sebagai khalifatullah yang diberi sifat kasih sayang kepadea seluruh manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sejalan dengan pikiran itu bahwa pada diri setiap manusia ter-dapat empat sifat sesuai dengan kehendak Allah SWT yaitu 1) sifat hewanniyah, menggunakan harta dan diri untuk makan, minum, dan keperluas jasmani lainnya ; 2) sifat Malaikat menggunakan harta dan diri untuk ibadah ; 3) sifat Khalifah menggunakan harta dan diri untuk memberi manfaat kepada orang lain ; 4) sifat Nubuwwah menggunakan harta dan diri di jalan Allah (untuk memperjuangkan agama Allah).

Sebagai Ummat Nabi Saw, setelah meninggal Rasulullah Saw, maka tugas untuk mangajak manusia taat kepada Allah SWT, maka tugas ini diembankan kepada ummat ini. Seperti yang termuat dalam surat dibawah ini :

S.Q. 12 : 108 “Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”.

Cobalah renungkan bahwa orang yang bertaqwa kepada Allah dengan martabat yang tinggi seperti yang tercantum dalaam Al Qur’an pada S.Q. 25 : 75 “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”

AKHLAK, sistem nilai yang  sesuai dengan ajaran dianut oleh manusia yang sejalan dengan keyakinan dan kepercayaan yang dapat menuntun manusia dalam bersikap dan berperilaku.Oleh itu dalam islam maka sistem yang dimaksud adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber nilainya.

Jadi akhlak yang menuntun dan membentuk kepribadian indi-vidu manusia sehingga setiap individu berbeda dari orang lain, oleh karena itu seberapa jauh seseorang dapat berakhlak dengan kepribadian sesuai dengan tuntunan Allah SWT, tergantung yang bersangkutan mengangkat derajatnya di mata Allah.

Mengenai dasar-dasar akhlak dapat kita ketemukan dalam Al Qur’an pada surat-surat S.Q. 7 : 199, 200, 201 ; 2 :109 ; 3 : 134, 159 ; 4 : 149 ; 5 :13. Dibawah ini kita ungkapkan surat dan ayat yang dimaksud sebagai berikut :

S.Q. 7 : 199 “Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

S.Q. 7 : 200 “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

S.Q. 7 :201 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

S.Q. 2 : 109 “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.

Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

S.Q.  3 : 134 “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

S.Q. 3 : 159 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Dari contoh surat dan ayat yang kita ungkapkan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa bimbingan yang diberikan Islam merupakan pendekatan yang paling luhur dan paling ber-harga yang dapat menuntun akhlak dengan kepribadian yang luhur sehingga dapat menuntun dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan fitrah dan bakat untuk meman-faatkan hikmah berpikir ke jalan Allah SWT.

NASIB, adalah sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang. Apa kita dapat merubahnya. Tergantung kepada perjalanan hidup yang ditempuhnya.

Oleh karena itu ingatlah selalu kata mutiara seperti “Sesungguhnya Allah menjadikan rejekiku dibawah bayang-bayang usahaku”

Kata nasib didalam Al Qur’an terdapat pada surat dalam S.Q. 5 : 3, 26, 90 ; 27 : 47.

Sebagai contoh kita ungkapkan pada S.Q. 5 : 3 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sejenak bila  kita merenung surat-surat dan ayat didalamnya tentang nasib, maka kita dapat menuntun perjalanan hidup ini dengan penuh keyakinan dan berserah diri kepada-NYA dalam memanfaatkan hihmak berpikir untuk usaha hidup kedalam :

  • Bagi duniamu (perumpamaan dunia seperti air hujan ; perumpamaan kehidupan dunia yang mempesonakan maanusia ; kehidupan dunia ini kesenangan yang menipu ; dunia itu indah dalam pandangan manusia ; kehidupan dunia adalah senda gurau dan main-main ; kehidupan dunia jangan sampai memperdayakan ; kehidupan dunia jangan sampai menipu ; kenikmatan dunia jangan membuat kikir ; kehidupan dan kenikmatan dunia jangan sampai menyeret ke dalam neraka ; kehidupan dunia memperbudak oraang yang mengabdinya)
  • Bagi pekerjaanmu (bekerja sebagai tanda syukur kepada Allah ; sebgian besar yang dimakan manusia dari hasil bekerja ; Allah menjadikan siang agar manusia berusaha / bekerja ; ketika bekerja ingatlah ibadah kepada Allah ; pekerjaan manusia memang berbeda-beda ; bekerjalah seadanya yang penting halal jangan malas ; tak ada yang lebih baik makan dari hasil usahanya sendiri ; para nabi juga bekerja ; ingatlah bahwa rezeki masing-masing manusia itu berbeda).
  • Bagi saat kayamu  (kaya yang sebenarnya adalah kaya jiwa ; kaya yang teladan, patut diirikan ; kebanyakan orang hidup mewah adalah mendustakan kebenaran ; janganlah rakus / tamak terhadap dunia ; tabungan anda yang sebenarnya adalah sedekah anda ; mendermakan kelebihan harta suatu kebajikan ; jika kaya ingatlah orang-orang miskin ; jangan  berlaku boros tidak pula kikir ; jangan terperdaya oleh harta dan wanita ; jangan menjadi hamba harta )
  • Bagi saat miskinmu (kaya atau miskin itu kehendak Allah, tak perlu hiri hati ; dialah orang yang sesungguhnya miskin ; orang miskin masuk surga lebih dahulu ; kebanyakan yang masuk surga adalah orang-orang miskin ; rasulullah hidup sangat sederhana ; keluarga rasulullah juga sangat sederhana ; doa nabi untuk memohon rezeki ; qona’ah terhadap pemberian Allah ; meski miskin jangan meminta-minta ; jika mengetahui balasannya, maka akan minta miskin.)
  • Bagi waktu luangmu (gunakan lima perkara penting se- belum datang lima yang lain ; selalu ingatlah terhadap mati agar waktu bermanfaat ; hari demi hari hendaklah amalan ibadah semakin meningkat ; berlomba-lomba dalam kebajikan unrtuk mengisi waktu ; perlu menyusun rencana untuk masa depan / akhirat ; senantiasa ingat kepada allah agar tidak merugi ; sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi ; banyak berbuat kemanfaatan untuk orang lain ; jangan menghabiskan waktu seperti orang-orang kafir ; jangan mengisi waktu dengan dosa.
  • Bagi waktu sempitmu ( mohon perlindungan allah ; tidak memanfaatkan kesempitan untuk kejahatan ; selalu ingat bahwa kehidupan dunia hanya sebentar ; beramal kebajikan meski dalam kesempitan ; dalam kesempitan hendaklah selalu bersabar ; dalam kesempitan hendaklah bersegera  untuk taubat ; meskipun dalam kesempitan iangan melanggar larangan allah ; meski dalam kesempitan jangan melanggar hak orang lain ; meski dalam kesempitan janganlah berharap akan kematian ; mohon kelapangan keepada allah)
  • Bagi masa mudamu (pemuda yang mendapat naungan allah ; menjaga masa muda senantiasa dekat kepada allah ; mulai muda banyak mengisi dengan amat ibadah ; mulai muda banyak mencari ilmu dan mengajarkannya ; ingatlah perjuangan jihad mumpung masih muda ; jadilah anak yang saleh ; senantiasa yang muda menghormati yang tua ; Yang muda mengetahui hak yang lebih tua ; yang muda ingin panjang umur dan lapang rezeki ; berusahalah jika allah menghendaki segala sesuatu akan berubah atau terjadi)
  • Bagi masa tuamu (sadar dengan cukupnya umur ; umur panjang yang tidak berkah ; sudah berapakah umur di badan ? ; meski tua jangan berharap mati ; kiat umur panjang penuh berkah ; akhlak yang baik menambah beratnya timbangan ; semakin tua semakin banyak berdzikir ; semakin tua banyak istighfarnya ; beramal yang tiada putus pahalanya ; orang tua yang baik selalu menyayangi yang muda ;
  • Bagi kala sehatmu (sehat adalah kenikmatan yang perlu disyukuri ; menggunakan waktu sehat sebaik-baiknya sebelum datang sakit ; memperbanyak amal ibadah agar usia lebih berkah ; jangan sombong karena badan sehat dan kuat ; badan dan dan mental sehat,hati harus juga sehat dan selamat ; meski sehat memperbanyak doa, itu tanda tidak sombong ; menjaga kesehatan dengan berhati-hati mengisi perut ; ingaat banyak mati, orang sehat ada juga mati ; menjaga diri dan kesehatan tidak membinasakan diri ; dilarang keluar masuk daerah yang terserang wabah.)
  • Bagi kala sakitmu (sadar bahwa sakit itu dengan izin allah dan dia yang menyembuhkannya ; sabar dan tabah di kala sakit dan berbaik sangka kepada allah ; sakit dapat menghapus dosa-dosa ; perlu bersyukur meski sakit, karna amalan harian ketika sehat diberi pahala ; boleh mengadu kepada allah atau seseorang asalkan bukan karena kecewa ; bila sakit segera berobat ; dilarang berobat dengan barang haram ; boleh berobat dengan doa-doa dan mantra yang tidak syirik ; dilarang memakai jimat dan isim ; banyak mengingat mati, tetapi jangan minta mati.)

Oleh karena itu, apa yang telah kita ungkapkann diatas untuk merenung nasib apa yang harus kita kembangkan dalam pikiran ini agar selalu ingat bagaimana sebaiknya bersikap dan berperilku. Sejalan dengan pikiran tersebut, marilah kita renungkan bahwa Allah tidak mengubah nasib seseorang kecuali mereka merubah keadaan, seperti termuat pada surat :

S.Q. 8 :53 “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,”

S.Q. 13 : 11” Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Begitu pula halnya untuk kita renungkan dalam menjalankan hidup ini yang kita sebut dengan :

Nasib Malang karena perbuatan sndiri, yang dimuat dalam surat S.Q. 36 : 19 “Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas”.

Nasib orang yang menentang ayat Allah, yang dimuat pada S.Q. 40 : 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76 .

Sebagai contoh pada

S.Q. 40 : 69 “Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan?

AZAB, adalah siksa atas perbuatan manusia yang diturunkan oleh Allah SWT, karena manusia tidak mengikuti perintah dan menjahui larangan yang telah di tetapkan-Nya.

Seharusnya manusia memahami benar atas tiga alat yang harus kita perhatikan dalam menjalankan hidup ini : 1) Otak letaknya lebih tinggi dari jantung, tempatnya juga lebih rapi dari tempat jantung yaitu di kepala ; 2) Jantung lebih tinggi dari perut besar dan tempatnya lebih rapi dari perut yaiti di dada ; 3) Perut besar hanya di bungkus  dengan kulit saja sedang tempatnya juga lebih rendah. Dari ketiga tempat masing-masing itu mempunyai hikmah dan arti bagi orang yang berpikir.

Bertitik dari pemikiran diatas, maka Allah SWT telah menetapkan tempat tinggal sementara bagi manusia dan makhluk-makhluk lain yang hidup berdampingan. Dalam menempuh kehidupan ini manusia sangat membutuhkan sarana dan fasilitas hidup yang memadai dan semua itu telah Allah sediakan jauh sebelum manusia diciptakan. Sejalan dengan itu begitu banyak telah diungkapkan dalam surat dan ayat mengenai Azab seperti pada surat No. 3, 4,5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 51, 52, 53, 54, 57, 58, 59, 61, 64, 65, 67, 68, 70, 71, 72, 73, 75, 76, 77, 78, 79, 83, 84, 85, 88, 89, berikut dengan ayat-ayat yang ada dalam surat tersebut. Sebagai contoh dibawah ini diungkap dalam surat

pada S.Q. 3 : 77 “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

S.Q. 3 : 106 “pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.

Begitu banyak surat dan ayat yang mengingat manusia dalam bersikap dan berperilaku, tapi manusia masih saja kita mengerti arti keberadaannya di dunia dan oleh karena itu lebih sering kita mengingat hal-hal seperti dibawah ini :

  • Allah mengazab orang kafir
  • Allah mengazab suatu kaum setelah diperingatkan
  • Azab Allah pasti datang pada waktunya
  • Azab Allah pasti kepada yang mendustakan karunianya
  • Azab bagi orang kafir di neraka
  • Azab buruk untuk orang yang tidak percaya akhirat
  • Azab Tuhan atas kaum yang durhaka
  • Dan seterusnya.

Dengan sering kita merenung dan menghayati tentang datangnya azab oleh Allah SWT dan dalam Al Qur’an pun menye-butkan istilah dan penamaan yang berbeda seperti Fitnah, Musibah, Bala’, dsb, namun manusia masih saja tidak mampu memanfaatkan hikmah berpikir untuk mngingat dalam perjalanan hidupnya bahwa :

  • Kalau jasmani makan, rohani juga makan yaitu dengan pengetahuan.
  • Kalau jasmani berpakaian, rohani mesti berpakaian yang kita sebut dengan budi.
  • Kalau jasmani berlatih, rohani juga dilatih yaitu dengan kesusahan.
  • Kalau jasmani dibersihkan, rohani juga dibersihkan dengan kesucian bathin.
  • Kalu jasmani diobati, rohani juga harus diobati.

Oleh karena dengan itu hikmah berpikir, menuntun manusia untuk memahami ajaran islam tidak mau tumbuh di atas jiwa yang dibungkus oleh kemusyrikan dan kebendaan.

HARI, adalah bagai sepatu yang harus dipakai untuk berjalan. Kita akan berpikir pula bahwa hari yang terpanjangpun akan berakhir. Oleh kareena itu bayangkan pula hari-hari tanpa tujuan akan berakhir dengan kehampaan, sedang kehampaan akan berakhir dengan kehancuran.

Jadi dengan pikiran tersebut diatas untuk menuntun perjalanan hidup dengan memahami hari-hari yang akan kita lalui dalam hidup ini. Oleh karena itu Allah menciptakan manusia melalui beberapa fase kehidupan kedalam hari-hari yang dilalui yaitu

  • Alam Roh, alam sebelum jazad manusia diciptakan.
  • Alam Rahim, alam kandungan ibu tempat menyempurnakan jazad manusia dan penentuan kadar nasibnya di dunia yaitu hidupnya, rezekinya, kapan dan di mana ia meninggal dunia
  • Alam dunia, alam tempat ujian bagi manusia, siapakah di-antara mereka yang paling baik amalnya.
  • Alam kubur, alam tempat menyimpan amal manusia. Di alam ini Allah menyediakan dua keadaan yakni nikmat atau azab kunur.
  • Alam akhirat (alam tempat pembalasan amal-amal manusia) Di alam ini Allah menentukankeputusan dua tempat untuk manusia, apakah ia akan menghuni surga atau menghuni neraka.

Hari-hari yang dilalui manusia di dunia merupakan usaha manusia menempuh ujian dalam perjalanan hidupnya untuk meningkatkan amal dan iman.

Untuk mengingat hari yang kita maksudkan itu, kita dapat me-mahaminya dalam Al Qur’an pada Surat No.3, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17 dengan ayat-ayat yang tercantum dalamnya, sebagai contoh dibawah ini diungkapkan :

S.Q. 3 : 9 “”Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

S.Q. 3 : 25 “Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).

S.Q. 4 : 38 “Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.

S.Q. 5 : 3 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dengan kemampuan manusia untuk berpikir diharapkan manu-sia menyadari arti hidup baginya dalam menatap dalam perjalan an hidup pada hari-hari yang dilalui dengan mengingat seperti hal-hal dibawah ini :

  • Hari anak dan harta tak berguna.
  • Hari hisab / perhitungan
  • Hari kemenganan
  • Hari akhirat
  • Hari kiamat
  • Yang percaya pada kiamat akan mendapat pahala
  • Dan seterusnya.

Jadi dengan bepikir, manusia dapat menghayti arti hidup yang hari-hari dilaluinya, oleh karena itu brusahalah selekas-lekasnya berbuat yang baik sehingga lebih baik berbuat demikian hari ini daripada hari esok hari. Sebab hidup adalah pendek sedangkan waktu berlari kencang.

Dengan mengungkap makna huruf dalam kata AMANAH sebagai unsur A dalam kata “OT(A)K mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa AMANAH adalah(A)MAL dalam menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan percaya dan menyerahkan diri dalam amalan lahir dan amalan batin kedalam usaha menumbuh kembangkan (M)ARTABAT  menjadi kepribadian individu yang memiliki(A)KHLAK untuk menuntun (N)ASIB agar menjahui (A)ZAB yang diturunkan Allah SWT bagi manusia yang tidak percaya akan (H)ARI Akhirat dalam menuju perjalanan abadi.

Dengan memahmi makna amanah dari unsur huruf menjadi kata bermakna, mampukah kita secara berkelanjutan untuk mening-katkan kesadran dari tingkat yang paling rendah yang disebut indrawi ke tingkat kedua yang disebut berpikir logis ke tingkat ketiga yang disebut berpikir rohaniah ke tingkat yang paling tinggi disebut berpikir tauhid. Itu berarti secara bertahap kita berusaha untuk mengenal tentang diri kita. Oleh karena itu, makin lama saya hidup makin terasa indah hidup ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jadi ingatlah selalu dalam bersikap dan berperilaku untuk selalu menyiapkan diri menuju ke perjalanan abadi karena itu janganlah kamu menyesali hidup ini tapi pandanglah hidup itu adalah lautan pengorbanan untuk mencapai sesuatu yang luhur yang tak terbatas. Dengan begitu kita menyadari sepenuhnya arti penderitaan  hidup yang mengajarkan kepa-da manusia menghargai kebaikan dan keindahan hidup.

BAB V : MAKNA KERJA  DALAM OTAK

Salah satu pemenuhan kebutuhan hidup ini adalah kerja selain daripada itu manusia harus berpikir dan belajar, oleh karena itu apapun usaha manusia sangat tergantung kepada pandangannya terhadap mengapa Tuhan menciptakannya sebagai mahkluk yang paling mulia di muka bumi ini.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, kita merenung untuk meng-hayati makna KERJA dalam unsur kata OTA(K) itu dalam mencari jawaban arti keberadaan hidupnya dari unsur huruf dalam kata “KERJA” menjadi kata yang bermakna yaitu :

K menjadi KEBAJIKAN

E menjadi ENERGI

R menjadi RASIONAL

J  menjadi JANJI

A menjadi ADIL

Kerja adalah suatu usaha yang terkait pada kegiatan dalam kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, yang menjadi masalah apa kgiatan itu sejalan dengan perintah Allah SWT, disinilah letak kemampuan manusia untuk berpikir apa ia harus melakukan yang sejalan dengan keyakinan dan kepercayaan yang dianutnya.

Jadi untuk mendalami makna kerja yang sejalan dengan keyakinan dan kepercayaannya itu sebagai manusia muslim, maka ia menjawab bahwa islam yang dipahami Rasulullah, sahabat dan para tabi’in adalah islamnya jiwa secara utuh kepada Allah.

Dengan pemikiran itu, marilah kita merenung unsur huruf da- lam kata KERJA menjadi kata bermakna dengan menyadari sepenuhnya bahwa eksentensi manusia seutuhnya dituntut untuk menyerahkan diri kepada Allah, dengan pikirran itu simaklah uraian berikut dibawah ini :

KEBAJIKAN, adalah kebaikan atau dapat juga kita katakan dengan segala perbuatan yang baik, jadi dalam suatu situasi memperlihatkan semakin tinggi penghargaan orang kepada harta benda, semakin dalam pulalah turunnya penghargaan pada orang yang terkait dengan kebaikan.

Coba kita renungkan ungkapan dari Al Hadisth, riwayat At Tabrani yang mengungkapkan bahwa “Ada empat macam yang bilamana seseorang mempunyai keempat-empatnya, seolah-olah dia mempunyai seluruh kebajikan dunia dan akherat: lidah yang selalu memberi ingat, hati yang selalu berterima kasih, tubuh yang selalu tabah atas setiap datang benncana, isteri yang tak pernah menghianati suaminya.”

Sejalan dengan ungkapan diatas, marilah kita merenung apa-apa yang diungkapkan dalam Al Qur’an tentang kebajikan dalam surat dan ayat : S.Q. 2 :215, 224, 269, 286 ; 3 : 115, 134 ; 4 : 40, 53, 125, 127, 144 ; 5 : 2, 48, 85, 93 ; 6 : 17, 154, 156 ; 10 : 11 ; 11 : 31 ; 16 : 76, 90, 128 ; 17 : 11 ; 21 : 73 ; 22 : 11, 17

Sebagai contoh diungkapkan pada :

S.Q. 2 : 200 “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”

S.Q. 3 : 115 “Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.”

S.Q. 4 : 40 “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”

Jadi bila kita renungkan makna kebajikan yang diajarkan oleh Allah SWT seperti yang termuat dalam surat dan ayat diatas  untuk mengingatkan kita dalam bersikap dan berperilaku, oleh karena itu kita harus selalu meyakini bahwa :

  • Allah mengetahui kebajikan yang dikerjakan manusia.
  • Balasan Allah terhadap orang yang berbuat kebajikan.

Dengan pemahaman itu melaksanakan kebajikan menjadi suatu kebiasaan dalam perjalanan hidup ini, sehingga ia dapat tum-buh dan berkembang dalam pikiran karena kesenangan hati dan ketenteraman jiwa lebih berharga dari kesenangan pangkat dan kekayaan.

Sejalan dengan pikiran tersebut, simaklah ungkapan dibawah ini sebagai daya dorong dalam menuntun kemampuan melihat kedepan, apa yang terpikirkan dalam bersikap dan berperilaku “Carilah kebaikan diantara kaum melarat ummatku, hiduplah ditengah-tengahnya. Kamu tidak akan memperoleh kebajikan dalam lingkungan orang yang berhati bengis. Laknat Allah turun atasnya, hai Ali ! Tuhan menciptakan kebajikan dan menciptakan pemangku-nya lalu menamakan dalam hati mereka kerinduan kepada kebajikan dan keinginan buat mengerjakan-nya dan menumpahkan minatnya seluruhnya untuk itu, seperti air tumpah kepada bumi yang tandus, maka tercipta kehidupan disitu serta kehidupan penghuninya. Pemangku kebajikan di dunia ini itulah juga pemangku keebajikan diakherat. (Al Hadisth, riwayat Ali bin Abi Thalib)

ENERGI, adalah daya (kekuatan) yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan. Daya (kekuatan) harus dibangun atas dasar kebiasan yang produktif yang ditopang oleh kekuasaan disatu sisi dan disisi lain oleh kebenaran.

Kata Kekuasaan yang kita maksudkan disini, kita merujuk apa yang tertera dalam Al Qur’an seperti yang disebutkan pada surat dan ayat dalam S.Q. 2 : 251, 258 ; 4 : 153 ; 12 : 101 ; 18 : 84 ; 20 : 23, 54 ; 21 : 32 ; 22 :56 ; 23 : 50, 88 ; 25 : 2 ; 26 : 8, 44, 103, 121, 139, 190 ; 27 : 86 ; 28 : 35 ; 29 : 44 ; 67 : 16, 17 ; 69 : 2 ; 72 : 11 ; 74 : 14 ; 43 : 59 ; 45 : 16.

Sebagai contoh kita ungkapkan S.Q. 2 : 251 “Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”

S. Q. 4 : 153 “Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma`afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.”

Dengan mengungkapkan dua surat tersebut diatas, mengingatkan kepada kita bahwa kekuasaan haruslah sejalan dengan perintah, sehingga harus dapat meyakini dan menghayati yang terkait dengan kekuasaan mengenai :

  • Kekuasaan Allah adalah mutlak
  • Kekuasaan Allah dan kesempurnaan ilmunya
  • Kekuasaan Allah meliputi alam semesta.
  • Dan seterusnya.

Kata Kebenaran terdapat pada surat dan ayat dalam S.Q. 4 : 83, 105, 135, 170, 174 ; 5 : 8, 48, 119 ; 6 : 25, 104, 115 ; 7 : 43, 53, 168, 174, 180 ; 8 : 5, 6 ; 9 : 48, 76 ; 10 : 32, 35, 36, 76, 94, 108 ; 11 : 20, 5, 64, 120 ; 12 : 35, 51 ; 15 : 64, 85 ; 17 : 41, 105.

Sebagai contoh S.Q. 4 : 83 “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”

S.Q. 5 : 8 “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dari kedua contoh surat yang kita ungkapkan diatas, apapun yang kita lakukan bertolak dari pikiran-pikiran dalam mewujudkan dayaguna dan hasilguna sehingga disitulah terletak akhir usaha mencari kebenaran. Oleh karena itu untuk membangkitkan daya ingat bahwa dunia adalah tempat usaha menyempurnakan iman, ujian amal manusia.

Sejalan dengan pikiran tersebut, maka dalam pikiran kita akan selalu digerakkan oleh adanya keyakinan atas :

  • Akibat yang menolak kbenaran
  • Bukti kebenaran Allah yang mengharuskan kita menyukurinya.
  • Bukti kekuasaan dan kebenaran Allah
  • Larangan mentaati orang yang mendustakan kebenaran.
  • Kebenaran selalu mengalahkan kebathilan.
  • Dan seterusnya.

Untuk mewujud energi yang berdayaguna dan berhasilguna yang sejalan dengan kekuasaan dan kebenaran yang telah kita utarakan diatas harus dibangun menjadi satu kebiasaan yang produktif artinya harus dibina dalam usaha untuk menuntun sikap dan berperilaku kedalam kemampuan untuk menggerakkan berpikir dengan memanfaatkan pengetahuan, keterampilan dan keinginan menjadi usaha untuk menuntun kehidupan.

Jadi energi harus didorong pemanfaatannya untuk mencapai tujuan hidup ialah kebahagian dan ini tidak dapat dicapai kare-na keinginan dengan niat memburu kesenangan, tetapi adanya di dalam suatu kehidupan yang sederhana dan sewajarnya, sedapat mungkin bebas dari segala alat benda kediniaan.

RASIONAL, adalah menurut pikiran dan pertimbangan yang logis yang sejalan dengan akal yang bermanfaat. Jadi berpikir logis adalah proses nalar, menyusun ketahuan-ketahuan yang ada menuju kepada suatu kesimpulan yang memiliki kebenaran.

Kata berpikir terdapat pada S.Q. 3 : 65 ; 13 :4 dan pikiran yang terdapat pada S.Q. 6 : 46 ; 11 :63, 88 ; 12 :35 ; 17 :51 ; 68 : 28.

Sebagai contoh kita ungkapkan apa yang termuat pada surat :

S.Q. 3 : 65 “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? “

S.Q. 13 : 4 “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”

S.Q. 6 : 46 “Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).”

S.Q. 11 : 63 “Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian.”

Menyimak dari surat dan ayat yang diungkapkan diatas, untuk memahami arti berpikir bahwa  dari yang  tidak tahu menjadi tahu. Dengan berpikir manussia juga tidak boleh puas dengan satu pemikiran karena adakalanya apa yang terpikirkan itu hanyalah sebuah bayangan atau sebuah fatamorgana belaka.

Itulah satu kenyataan yang kita hadapi saat ini khususnya Bangsa Indonesia dimana semakin bertambah terhadap orang-orang islam dapat berkurang bila kita sendiri menutup pintu rahmat dan menggunakan segala cara yang menyebabkan kemurkaan Allah SWT.
Manusia yang tidak mempergunakan alat pikiran berupa kesa-daran, kecerdasan dan akalnya untuk memikirkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan tuhan sehingga hatinya beku, matanya buta dan telinganya tuli, maka semua perbuatannya dikendalikan hawa nafsu kedalam tingkat kesadaran inderawi, maka pembalasan datang kepadanya bisa dalam bentuk peringatan , musibah dan azab yang menimpa manusia dalam kehidupan akibat perbuatannya.
Kehidupan masa kini, manusia terjebak dalam kemampuan berpikir ketidaktahuan orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan dan maknanya, dimana mereka tidak mampu me-nangkap arti menuju perjalanan abadi dalam kehidupannya.

Oleh karena itu manusia masa kini, dengan kesempitan ilmu mereka menuju kekufuran serta dengan kelemahan nalar mere-ka keluar menuju pendustaan dan kedurhakaan.

JANJI, adalah perkataan yang diucapkan untuk menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat seperti hendak memberi, menolong dsb.

Untuk mendalaminya makna kata janji ini banyak diungkapkan dalam Al Qur’an  seperti yang tercantum pada S.Q. 2 : 40, 63, 83, 84, 93, 177 ; 3 : 9, 76, 77, 80, 81, 112, 152, 187, 194 ; 4 : 21, 90, 92, 95, 120, 122, 154 ; 5 : 9, 13 ; 6 : 34, 52 ; 7 : 102, 137, 142, 150 ; 8 : 56 ;  : 4, 12, 112, 114 ; 10 : 4, 55, 64 ; dan seterusnya.

Sebagai contoh diungkapkan pada S.Q. 2 : 40 “Hai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).”

S.Q. 3 : 9 “”Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.”

S.Q. 4 : 21 “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Dengan mngungkapkan surat dan ayat diatas, maka kata janji haruslah mengingatkan kita dalam bersikap dan berperilaku artinya sekali kita mengucapkan apa yang dinamakan janji, tidak bisa dibayar dengan apapun kecuali melaksanakan janji itu. Jadi dengan lebih sering kita menghayati makna janji seper-ti yang termuat dalam Al Qur’an akan memberikan daya dorong dalam kebiasaan untuk memenuhi janji untuk setiap janji yang kita ucapkan bukan hanya sekedar  bayangan yang tidak pasti.

Begitu banyak dalam surat dan ayat pada Al Qur’an untuk me-ngingatkan kepada kita agar kita dapat membentuk kepribadian sebagai manusia yang utuh dalam kehidupan dengan mengingat ingat hal seperti yang kami ungkapkan dibawah ini :

  • Janji Allah dalah benar pada S.Q.35 : 5
  • Janji Allah kepada orang mukmin pada S.Q. 67 : 12
  • Janji Allah pasti terjadi pada S.Q. 77 : 7
  • Janji Allah untuk orang bertaqwa pada S.Q. 3 : 15, 16, 17
  • Dan seterusnya.

Jadi dengan jalan pikiran yang kita utarakan diatas akan selalu terbina dalam kemampuan berpikir yang dapat menggambar dengan janji adalah sebagai ukuran sampai dimana keluhuran budi seseorang sehingga dalam pikirannya terbina kesetiaan pada janji yang diucapkannya. Dalam situasi dimana kita membuat kesalahan, maka dengan sendirinya terdapat dorongan dalam pikiran untuk tidak malu untuk mengakuinya dan ia melangkah untuk memper-baikinya.

ADIL, adalah berpihak yang benar, berpegang pada kebenaran atau dalam bersikap dan berperilaku menun-jukkan kepribadian yang tidak berat sebelah atau tidak memihak.

Untuk menggugah apa yang kita katakan adil, maka renungkanlah apa yang tertuang dalam Al Qur’an mengenai kata adi se-perti yang termuat dalam surat pada S.Q. 3 : 8 ; 4 :3, 58, 105, 127, 129, 135 ; 5 : 8, 42, 95, 106 ; 6 : 157 ; 7 : 89 ; 10 : 4, 54 ; 11 : 85 ; 16 : 90 ; 20 : 112 ; 21 : 112 ; 33 : 5 ; 38 : 22, 26 ; 3 9 : 69, 75 ; 40 : 78 ; 42 : 15, 17 ; 45 : 9 ; 60 : 8 ; 65 : 2.

Sebagai contoh kita ungkapkan dari surat dan ayat diatas :

S.Q. 3 : 8 “(Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).”

S.Q. 4 : 3 “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

S.Q. 5 : 8 “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dengan menghayati makna yang tercantum dalam Al Qur’an seperti yang kita ungkapkan diatas, memberi daya dorong kita dalam bersikap dan perilaku, maka setiap kita melangkah dalam kemampuan kita berpikir menumbuhkan benih-benih untuk menghayatinya menjadi keyakinan dalam kehiddupan bahwa orang tak mungkin adil tanpa perikemanusiaan.

Oleh karena itu, keruntuhan umat islam saat ini, apapun yang diperlihatkan oleh pemimpin kita tidaklah memberikan ketela-danan dalam kehidupan ummat, apapun usaha untuk memperbaikinya menemukan jalan buntu bahkan penyakit bertambah, peringatan, musibah dan azab timbul dan silih berganti, tapi manusia sebagai pemimpin ummat tidak menghayati belajar 1350 tahun yang lalu , ketika di dunia ini terjadi kekafiran, kegelapan dan kebodohan (kejahilan), maka dari balik pegunungan Makkah terpancarlah cahaya hidayah menembus ke arah timur, barat, utara dan selatan. Seluruh penjuru dunia mendapat cahaya hidayah tersebut. Hanya dalam waktu singkat yaitu selama 23 tahun, Nabi Muhammad Saw.dapat membawa manusia kepada kemajuan

Inilah kehidupan manusia di dunia, diciptakan sebagai mahkluk yang paling mulia dimata Allah Swt, tapi sebaliknya manusia tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai khalifah-Nya. Sedangkan manusia tahu bahwa Tuhan itu adil dalam segala jalannya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatannya. Jadi ingatlah selalu bahwa Allah Swt itu hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.

Dengan mengungkap makna huruf dalam kata KERJA sebagai unsur K dalam kata “OTA(K) mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa KERJA adalah (K)EBAJIKAN yang harus kulakukan dalam perjalanan hidup ini sebagai baktiku  dalam menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan percaya dan menyerahkan diri dalam amalan lahir dan amalan batin dengan memanfaatkan (E)NERGI dengan berpikir (R)A-SIONAL kedalam usaha menumbuh kembangkan   menjadi kesadaran dalam berpikir agamis menuju tauhid untuk memenuhi (J)ANJI sebagai manusia yang menyiapkan untuk menuju perjalanan abadi agar dalam bersikap dan berperilaku  memiliki kepribadian individu yang selalu (A)DIL menjalankan amanah sebagai khalifah yang dutugaskan untuk meneruskan jejak dan langkah nabai Muhammad Saw.

Bila sejenak kita merenungkan unsur huruf menjadi kata ber-makna dalam kata KERJA yang kita kemukakan diatas, dapatkah ia menuntun dalam bersikap dan berperliku. Bahkan banyak orang telah mengetahui dan tidak jarang pula selalu mengungkapkan isi Al Qur’an dan Sunnah sebagai pegangannya tapi mengapa orang sebagai pemimpin ummat di negeri ini tidak mampu melakukan perubahan ke-pribadian yang berakhlak dan bermartabat yang sangat dicintai dan dikasihi oleh Allah Swt, karena itu ketidktahuan orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan daan maknanya.

Jadi pergunakanlah ilmu dan belajarlah dari pengalamanmu itu untuk merubah kemampuan berpikirmu dengan meme-lihara jasmani dan rohani hendaklah seimbang, jngn berat sbelah bahkan lebihkan kepentingan jiwa. Karena keadaan jiwa itulah terjadi orang bertinggi brendah. Jiwa itulah yang dapat mengangkat ketingkat yang lebih tinggi. Kepada jiwa itu Tuhan memberikan kekuasaan yang dapat menguasai bumi dan alam sekelilingnya.

BAB  VI :  P E N U T U P

Bumi Indonesia diciptakan oleh Allah Swt, penuh dengan kekayaan alam yang melimpah ruah untuk kehidupan ummatnya, tetapi mengapa keruntuhan ummat islam yang terbesar ada disini tapi ummatnya saling mengejar kekuasaan untuk kepentingan individu dan kelompoknya, tahukah anda begitu banyak pemimpin ini mengaku sebagai muslim, tapi jiwanya penuh dengan topeng kepalsuan karena mereka meangaggungkan kesadaran inderawi, kiblat kepada paham materialisme, kiblat kepada manusia sehingga ulamapun tidak berani mengkritik akhlak dan martabat mereka, bisa-bisa berbalik ia dituduh mencemar nama baik mereka. Begitu lantangnya orang menentang bahwa berbuat kebaikan dalam membuat aturan yang terkait dengan perbuatan zinah dsb dituduh bertentantangan dengan UU RI yang lebih tinggi atau melanggar hak azasi manusia Jadi tidak heran kita bahwa perbuatan KKN adalah budaya baginya.

Yang menjadi pertanyaan kita pada saat ini mampukah kita memperbaiki keadan ini, atau pemimpin ummat kita saat ini termasuk Ghuru’r seperti yang tercantum dalam Al Qur’an :

S.Q. 31 : 33 “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”

S.Q. 57 : 14 “Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mu’min) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.”

Kedua surat dan ayat tersebut menunjukkan kepada kita yaitu Apa yang terjadi saat ini itulah yang diperlihatkan pemimpin ummat kita saat ini adalah termasuk apa yang yang disebut Qhur’ur atau kebodohan artinya manusia memiliki OTAK tapi tidak mempu memaksimumkannya untuk kepetingan Ummat.

Lihatlah dalam kehidupan ini begitu banyak manusia di peringatkan oleh Allah SWT bagi pemimpin tentang keluarganya yang dipermalukan tentang akhlak dan martabatnya, begitu juga muzibah yang diturunkannya seperti kemiskinan, kelaparan, KKN, penyakit dan akhirnya diturunkannya azab berupa letusan gunung api, tsunami, banjir dan tanah longsor, angin kencang dan badai dsb.

Jadi manusia yang diciptakan oleh Allah Swt tidak mampu mengenal tentang dirinya, walaupun ia mahkluk yang paling mulia tapi ia tidak mampu mempergunakan buah pikiran dalam jiwanya karena ia tidak mampu memerangi bujukan setan sehingga buah pikirannya mengatakan bahwa dunia yang bersifat tunai sementara akhirat adalah sesuatu yang bersifat ditangguhkan, begitulah model pemimpin ummat kita berpikir. Mengapa, tidak lain karena ia tidak mampu membuka mata hati yang sejalan dengan pengakuannya sebagai muslim, bujukan setan menuntun nyamenjadi orang-orang yang ragu terhadap sebab penciptaan dan maknanya.

Mereka tidak mampu mengaktualisasikan kedalam kehidupan atas makna “OTAK” ciptaan Tuhan, sehingga tidak heran ketidakmampunnya untuk memerangi bujukan setan karena sifat keragu-raguan yang mendorong setan menguasai jiwanya hingga mata hatinya tertutup tidak mampu mengendalikan diri dari tipuan setan dalam kehidupannya sehingga menimbulkan dampak cara dalam berbikir memandang hal-hal yang berkaitan dengan marah, dengki, kenyang, tergesa-gesa, rakus, bakil, mengejek dan berdebat.

Untuk menghilangkan keragu-raguan itu cobalah kita merenung untuk berpikir, bekerja dan belajar untuk mengatasi Ghur’ur dalam arti kebodohan dalam menuju perjalanan hidup abadi dengan memanfaat makna “OTAK” tentang :

  • Permulan penciptaan langit, bumi dan malaikat.
  • Sifat-sifat Allah
  • Malaikat maut
  • Bagaimana melihat Allah
  • Keagungan Allah Swt dan keindahan ciptaannya
  • Orang yang mengharapkan Allah tapi tak beramal untuknya
  • Dan seterusnya.

Dengan mengungkapkan hal-hal yang perlu kita pahami diatas diharapkan dapat menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan untuk mengaku beriman dan muslim dalam bersikap dan berprilaku dengan tingkat kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan inteletual yang diridhoi oleh Allah Swt.

Jadi membangun kebiaasaan yang produktif dalam berpikir, maka perlu menuntun sikap dan perilaku yang sejalan dengan keyakinan dan keprcayaan, itu berarti merupakan laangkah awal untuk mengenal tentang diri kita sendiri, dalam usaha untuk mengenal kebesaran Allah Swt.

Ungkapan dibawah ini dapat menggugah jiwa kita seperti :

“Orang takwa senantiasa mendapat pimpinan dari Tuhan dalam penghidupan dan perjuangannya di jamin oleh Tuhan akan memperoleh kemenangan. Tinggalkanlah semua yang haram anda akan jadi manusia yang paling utama dalam beribadat pa-da Allah Swt.”

“Orang bertakwa tidak pernah merasa resah atau kebingungan dalam hidupnya karena selalu mendapat bimbingan dan petunjuk dari Allah Swt serta tidak pernah merasa susah karena kekurangan harta benda sebab ia merasa cukup atas segala apa yang telah dilimpahkan Allah kepadanya.