1. PENDAHULUAN
Bila kita merenung sejenak untuk memanfaatkan kemampuan kita berpikir dalam menemukan diri menuju ke perjalanan hidup ini, maka kita harus berusaha menemukan tentang diri kita melalui suatu pendekatan yang kita sebut dengan menghayati makna kata sebagai daya dorong untuk membangun diri menuju perjalanan hidup yang abadi.
Dengan membangun kebiasaan yang produktif tersebut, kita menarik satu kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan kita mengenal tentang diri, agar kita mampu dapat menuntun dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan tuntunan ajaran agama yang mendidik manusia yang memIliki AKHLAK / MORAL.
Oleh karena itu hanya dengan membangun kebiasaan yang produktif, kita mampu mengendalikan pemanfaatan harta, nafsu syahwat dan pangkat duniawi kedalam ruang dan waktu dalam menumbuh kembangkan ke dalam hati agar kita mampu meningkatkan arti kesadaran dalam diri manusia dari kesadaran inderawi ke sadaran rasional dalam kesiapan menuju kesadaran spiritual.
Tingkat kesadaran hanya dapat ditingkatkan bila kita menghayati sepenuhnya keinginan ingin tahu melaluiproses kekuatan berpikir dari tidak tahu menjadi tahu dengan usaha-usaha dengan membangun kebiasaan yang produktif dengan memiliki kemampuan ilmu sebagai informasi, pengetahuan sebagai keterampilan dari pengalaman dan keinginan yang ditopang dengan niat untuk melakukan perubahan pola pikir dalam bersikap dan berperilaku dalam hubungan dengan manusia dan hubungan dengan Allah Swt.
Untuk membangun kebiasaan yang produktif diatas, maka dengan kebiasaan dapat menuntun manusia ke jalan yang lurus dan benar yang sejalan dengan tuntunan agama. Sejalan dengan pikiran tersebut, maka untuk mengungkit kekuatan ingatan dalam menghayati , cabalah anda renungkan ungkapan Nabi Muhammad s.a.w “ Musuhmu yang paling besar ialah dirimu sendiri yang ada dalam badanmu” “Bekerjalah bagi kehidupanmu, seakan-akan kamu akan hidup selamanya dan beribadahlah kepada Tuhanmu seakan-akan kamu akan mati besok”.
Jadi diperlukan suatu pendekatan untuk memanfaatkan otak dan hati dalam pola proses berpikir dalam membangun kebiasaan – kebiasaan yang produktif.
Dalam hal ini untuk mengungkit kekuatan berpikir diperlukan satu pendekatan disatu sisi apa yang disebut dengan mendalami makna kata dan disisi lain menganalisa huruf dari unsur kata menjadi kata yang bermakna sebagai daya dorong dalam proses berpikir agar mampu memberikan inspirasi untuk berhasil untuk mewujudkan keinginan dalam kebiasaan yang produktif.
Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dengan otak dan hati, mendorong kita untuk “Membaca, Menterjemahkan, Meneliti, Mengkaji, Menghayati, Memahami dan mampu Mengamalkan (7M)”, itulah tanda kemampuan untuk melakukan perubahan. Untuk itu ubahlah cara berpikir anda, maka dunia anda akan berubah sejalan dengan perubahan kesadaran.
Menerapkan 7M diatas untuk mengungkap daya dorong dari kekuatan pikiran agar kita mampu memanfaatkan „otak dan hati“ dalam proses membangun kebiasaan yang produktif dengan pendekatan yang kita sebut 1) Menguraikan huruf dalam kata menjadi kata bermakna ; 2) Mendalami pemahaman makna kata menjadi menjadi untaian kalimat yang berharga.
Menemukan jati diri, bukanlah sesuatu yang sederhana, oleh karena itu diperlukan satu usaha denga ketekunan untuk secara berkelancutan untuk menumbuh kembangkan kebiasaan yang produktif sebagai suatu cara untuk menuntun kekuatan pikiran dalam bersikap dan berperilaku baik dalam hubungan antara manusia dan hubungan dengan Allah Swt.
Dengan mengungkapkan pikiran diatas, maka pergunakanlah sebaik mungkin atas alat pikiran berupa kesadaran, kecerdasan dan akal untuk kita selalu mengingat dalam melakukan perubahan dalam pola pikir sejalan dengan semangat jiwa yang bersih.
Fitrah dan bakat manusia akan tumbuh dan berkembang sejalan dengan kebiasaan yang produktif yang didorong oleh kekuatan energi-energi yang dimilikinya yaitu ilmu, pengetahuan dan keinginan yang dilandasi oleh niat yang kuat sebagai manusia dengan sikap dan berperilaku menuju kesempurnaan melalui proses penyucian diri.
Manusia menurut fitrahnya beragama tauhid, yang termuat dalam Q.S. 30 : 30 “
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Selanjutnya cobalah renungkan pula bahwa jadi dengan kekuatan fitrah dan bakat, maka ingatlah selalu Nabi Muhammmad saw, bersabda :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci bersih, fitrah. Orang tuanyalah yang akan menjadikan ia sebagai orang Nasrani atau Yahudi. Keimanan orang tua dan pola pikir mereka akan mempengaruhi pikran anak yang memang masih mudah terkena pengaruh”
Bertolak dengan pendekatan 7M, manusia bergerak menuju kesempurnaan melalui proses penyucian diri untuk membangun moral / akhlak yang terpuji dengan menyadari pemahaman yang mendalam mengenai sebab-sebab kejahatan dan belajar adakah manusia terlahir sebagai penjahat, oleh karena itu renungkan mengenai manusia siapa, darimana dan kemana ?
Sebagai langkah untuk terus mengingat hal-hal yang diungkapkan diatas diperlukan apa yang disebut dengan pedoman untuk pikiran, pedoman untuk organ tubuh, pedoman untuk jiwa., melalui daya dorong dengan pemahaman yang mendalam tentang moral / akhlak.
2. PENDEKATAN 7M DARI HURUF (A) MENJADI KATA BRMAKNA
Bertolak dengan 7M, maka makna kata AMANAH, AMPUNAN, ANIAYA dan ANGKUH sebagai daya dorong agar kita selalu meyakini bahwa dalam bersikap dan berperilaku kita selalu diawasi oleh Allah Swt.
Dengan cara begitu pikiran kita akan dibawa ke alam yang penuh keyakinan bahwa kita diciptakan oleh Allah Swt sebagai mahkluk yang paling mulia disisinya, oleh karena itu kita harus menyadari arti sepenuhnya keberadaan kita di dunia untuk tujuan ahkerat. Hal tersebut hanya dapat dicapai bila kita setiap waktu mampu memanfaatkan kemampuan berpikir dalam usaha untuk mensucikan hati agar kita selalu diingatkan untuk mengetahui diri kita. (more…)