<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Batang; panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; mso-font-alt:바탕; mso-font-charset:129; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1342176593 1775729915 48 0 524447 0;} @font-face {font-family:”\@Batang”; panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; mso-font-charset:129; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1342176593 1775729915 48 0 524447 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Batang; mso-fareast-language:KO;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:3.0cm 109.35pt 6.0cm 2.0cm; mso-header-margin:48.2pt; mso-footer-margin:1.0cm; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
PENDAHULUAN
Menjelang Pemilu 2009, kita akan dihadapkan gelombang perubahan yang komplek dan cepat yang terkait dengan „Dinamika Sosial Politik Lokal“. Disatu sisi kita dihadapkan pada „dinamika perubahan“ artinyan bila kita tidak dapat menangkap perubahan itu berarti kita akan kehilangan peluang untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dalam NKRI, jangan sampai kita kehilangan napas karena bila kita salah melangkah dalam dahur hidup kematian demokrasi. Pada sisi lain kita dihadapkan pada situasi „dinamika sosial“ dan „dinamika politik“ yang menggambarkan gerak masyarakat yang menimbulkan perubahan secara berkelanjutan dalam tata kehidupan lokal dari masyarakat yang bersangkutan.
Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka dituntut dalam era reformasi ini, untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan agar kekuatan pikiran dapat menuntun perubahan sikap dan perilaku secara radikal sehingga dapat meretas jalan menjadi diri sendiri, dalam dinamika sosial politik lokal.
Sejalan dengan pemikiran tersebut, marilah kita menyatukan pikiran yang terkait dengan „Dinamika Sosial Politik Lokal“ dalam peran kita sebagai masyarakat untuk menyatukan dinamika pembagunan gerak yang penuh gairah dan penuh semangat dalam melaksanakan Pemilu 2009 sebagai warga masyarakat yang bertanggung jawab.
Oleh karena itu, untuk menyatukan pikiran dalam bersikap dan berperilaku, maka untuk memahami makna dari „Dinamika Sosial Politik Lokal“ diperlukan satu pendekatan yang kita sebut dengan pemahaman dari sudut huruf menjadi kata bermakna sebagai suatu pendekatan pengetahuan bukan ilmu agar kita tidak terjebak oleh pandangan ilmu dari dunia barat.
Jadi pendekatan ini bersandarkan pada pengetahuan dari keterampilan yang dipetik dari pengaalaman yang dapat menjadi daya dorong kedalam dinamika kelompok sebagai sekelompok orang dalam masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan pola pikir dalam dinamika sosial politik lokal.
Dengan pemahaman pendekatan yang diuraikan dibawah ini, diharapkan kita memiliki suatu persepsi dalam pola pikir yang sama untuk ikut serta dalam tuntutan perubahan yang sejalan dengan gerak „dinamika sosial politik lokal, sebagai suatu pembelajaran.
PENDEKATAN UNTUK MENYATUKAN PERSEPSI
Untuk membangun kepribadian manusia yang bertanggung jawab atas “kebebasan berkehendak dalam dinamika sosial politik lokal“ diperlukan perubahan pola pikir secara radikal artinya orang yang mampu menemukan tentang dirinya, maka ia akan selalu bertindak yang sejalan dengan apa yang diperlukan oleh tuntutan perubahan dalam melaksanakan demokrasi yang bertolak dari kerjasama dalam membuat impian menjadi suatu kenyataan.
Apa yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana dalam masa orde reformasi, pemimpin hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan dengan begitu banyaknya lahir partai-partai baru, tapi terbayangkah olehnya mengenai pemberdayaan dinamika sosial politik lokal, yang menuntut perubahan pola pikir, dimana gerakan kelompok haruslah dapat memberikan motivasi baru kedalam apa yang disebut „demokrasi politik“ berlandaskan pola pikir yang radikal dalam menata hidup dengan kebebasan berpolitik.
Oleh karena itu untuk melaksanakan pemberdayaan dalam „Dinamika Sosial Politik Lokal“, maka diperlukan wawasan dalam pemahaman yang lebih mendalam. Sejalan dengan pemikiran tersebut dibawah ini akan diuraikan makna huruf dalam kata DINAMIKA, SOSIAL. POLITIK, LOKAL sebagai suatu pendekatan. Dalam merumuskan makna huruf menjadi suatu kata yang bermakna kedalam untaian kalimat sebagai berikut :
Kata „DINAMIKA“ bila diuraikan dari huruf menjadi kata bermakna sbb.:
D menjadi (D)inamis M menjadi (M)anusia
I menjadi (I)nspirasi I menjadi (I)katan
N menjadi (N)asional K menjadi (K)elompok
A menjadi (A)ntusias A menjadi (A)turan
Untuk melaksanakan pemberdayaan DINAMIKA sebagai suatu konsep dalam melaksanakan perubahan, maka haruslah dipahami sebagai berikut :
DINAMIKA adalah (D)inamis dalam semangat dan tenaga dalam usaha menumbuh kembangkan (I)nspirasi yang bertolak dari kekuatan berpikir intuitif dalam mewujudkan kepentingan (N)asional untuk mendorong apa yang disebut dengan (A)ntusias dalam sikap dan perilaku (M)anusia kedalam (I)katan komunitas (K)elompok berdasarkan (A)turan yang disepakati bersama.
Kata „SOSIAL“ bila diuraikan dari huruf menjadi kata bermakna sbb.:
S menjadi (S)ekelompok
O menjadi (O)rang
S menjadi (S)emangat
I menjadi (I)ntensitas
A menjadi (A)komodasi
L menjadi (L)ingkungan
Untuk melaksanakan pemberdayaan SOSIAL sebagai suatu konsep dalam melaksanakan perubahan, maka haruslah dipahami sebagai berikut :
SOSIAL adalah komunitas yang menggambarkan (S)ekelompok dimana didalamnya (O)rang-orang yang memiliki (S)emangat dengan (I)ntensitas yang mampu membangun (A)komodasi sebagai proses penyesuaian sosial (L)ingkungan.
Kata “POLITIK bila diuraikan dari huruf menjadi kata bermakna sbb.:
P menjadi (P)embela
O menjadi (O)rang
L menjadi (L)indungan
I menjadi (I)ngkar
T menjadi (T)anggung jawab
I menjadi (I)ngat
K menjadi (K)arunia
Untuk melaksanakan pemberdayaan SOSIAL sebagai suatu konsep dalam melaksanakan perubahan, maka haruslah dipahami sebagai berikut :
POLITIK adalah suatu konsepsi yang menggambarkan peran politikus sebagai (P)embela kepentingan (O)rang untuk memberikan (L)indungan yang sejalan dengan tugas dan tanggung jawab agar tidak (I)ngkar dalam ucapan dan perbuatan sebagai (T)anggung jawab moral agar (I)ngat atas suatu (K)arunia yang diamanahkan sebagai seorang politikus.
Kata “LOKAL“ bila diuraikan dari huruf menjadi kata bermakna sbb.:
L menjadi (L)okalisasi
O menjadi (O)bjek
K menjadi (K)arya
A menjadi (A)ktivitas
L menjadi (L)apangan
Untuk melaksanakan pemberdayaan LOKAL sebagai suatu konsep dalam melaksanakan perubahan, maka haruslah dipahami sebagai berikut :
LOKAL adalah suatu konsepsi yang menggambarkan (L)okalisasi untuk menyatakan pembatasan pada suatu tempat atau lingkungan sebagai (O)bjek yang menjadi sasaran dalam (K)arya yang terkait dengan (A)ktivitas operasi oleh pelaku di (L)apangan.
Bertitik tolak dari pemahaman kata DINAMIKA, SOSIAL, POLITIK dan LOKAL diatas, maka kita dapat merumuskan pemahaman kita secara yang lebih berwawasan melihat setiap peristiwa yang terkait dengan pemikiran dalam persfektif (jangka panjang), posisi (jangka menengah) dan kinerja (jangka pendek) dalam mengamati masalah-masalah yang timbul dalam “Dinamika Sosial Politik Lokal”
Oleh karena itu, yang kita maksudkan DINAMIKA SOSIAL POLITIK LOKAL (D.S.P.L.) adalah wujud perubahan yang diinginkan dalam suatu tantanan DINAMIKA sebagai kekuatan yang dimiliki oleh sekelompok SOSIAL dengan penuh gairah dan penuh semangat dalam pola pikir yang terus ada untuk memanfaatkan kekuatan POLITIK menjadi alat untuk dapat menyatukan sikap dan perilaku yang menimbulkan perubahan dalam kelompok masyarakat LOKAL yang bersangkutan.
Jadi dengan pemahaman makna kata menjadi untaian kalimat diatas dapat mendorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun menjadi wujud dalam kesamaan persepsi memandang yang kita maksudkan “Dinamika Sosial Politik Lokal” sebagai alat perjuangan untuk menyatukan kepentingan manusia bukan tujuan merebut kekuasaan
Dengan kesamaan persepsi diatas, kita harapkan terbentuk suatu pola pikir yang terpola agar kita secara bersama-sama mampu mengidentifikasi gelombang situasi dalam dinamika sosial politik lokal untuk merumuskan secara jelas masalah-masalah persfektif, posisi dan kinerja yang menjadi tantangan kita bersama bagaimana kita saling bersinergi untuk memberikan peran pemberdayaan dalam dinamika sosial politik lokal.
Sejalan dengan pemikiran diatas, maka pendekatan yang kami ungkapkan diatas diharapkan dapat memberikan daya dorong dalam perubahan pola pikir yang sangat kita butuhkan bersama, menjadi satu kekuatan pikiran untuk menumbuh kembangkan kekuatan sikap dalam kerjasama membuat impian menjadi kenyataan, bila kita memiliki persepsi yang sama dalam semua impian untuk berani berubah sesuai dengan tuntutan perubahan.
PEMBELAJARAN DEMOKRASI DALAM D.S.P.L.
Sejak kita memasuki dalam era reformasi sampai kini baik oleh Pemerintah maupun Partai tidak ada usaha-usaha secara jelas untuk memberikan arah pembelajaran tentang demokrasi.
Oleh karena itu dalam kesempatan ini, kami mencoba untuk memberikan satu pemikiran mengenai konsep pembelajaran demokrasi sebagai pilar penting dalam dinamika sosial politik lokal dilihat dari sisi persfektif sebagai suatu pemikiran yang kami ketengahkan disini bahwa mungkin kita tidak dapat mengubah situasi lokal dan nasional yang kita lihat di sekeliling anda, tetapi kita dapat mengubah cara kita memandang wajah Indonesia didalam diri kita.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa apa yang sedang bergolak dalam pikiran para pemimpin partai saat ini dalam proses untuk memberikan apa yang disebut pembelajaran demokrasi, dimana kami tidak terbayangkan sampai di mana anda hari ini dan akan sampai ke mana anda besok akan ditentukan oleh pikiran anda.
Tapi sebaliknya kami disini mencoba menyampaikan suatu konsep yang selama ini telah menjadi perenungan kami dan dilaksanakan dalam wujud nyata dalam kehidupan sehari-hari bagi warga
Seperti halnya untuk melaksanakan pemberdayaan Demokrasi bila kita uraikan dari unsur kata yang bermakna sbb.
Kata D menjadi (D)ewasa
Kata E menjadi (E)mosional
Kata M menjadi (M)emahami
Kata O menjadi (O)rang
Kata K menjadi (K)erjasama
Kata R menjadi (R)asional
Kata A menjadi (A)kal
Kata S menjadi (S)sistem
Kata I menjadi (I)ntergritas
Makna kata tersebut mendorong kekuatan berpikir anda untuk mendalami demokrasi dalam pemahaman huruf menjadi untaian kalimat yang bermakna sebagai berikut :
(D)ewasa dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses berpikir yang tidak ditentukan oleh umur manusia tapi lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan dari manusia itu sendiri. Jadi muda dan atau tua dalam bersikap dan berperilaku sangat dipengaruhi oleh kedewaasan berpikir yang bersangkutan sehingga terlihat dari ucapannya dengan perbuatan. Dengan demikian Dewasa dalam berpikir juga ditentukan oleh peran lingkungan anda berada tapi tergatung pula prinsip hidup yang anda jalankan. Oleh karena itu diperlukan peningkatan kedewasaan berpikir dalam rohaniah, sosial, emosional dan intelektual.
(E)mosional dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses mengendalikan emosi yang mempengaruhi sikap dan perilaku sangat tergatung kepada kemampuan mereka dalam meningkatkan arti kecerdasan emosional pada potensi manusia sebagai penuntun dalam bersikap dan berperilaku. Oleh karena itu, betapa pentingnya meningkatkan apa yang disebut dengan “kecerdasan emosional” agar memberikan daya dorong yang kuat dalam meletakkan kekuatan pondasi dalam :
Pertama, apa yang disebut “kesadaran emosi” dalam membangkitkan hal-hal yang berkaitan dengan kejujuran, energi, intuisi dan umpan balik.
Kedua, apa yang disebut “kebugaran emosi” dalam membangkitkan hal-hal yang berkaitan dengan penampilan autentik, radius kepercayaan, ketidakpuasan konstruktif, ketanguhan dan pembaharuan.
Ketiga apa yang disebut “kedalaman emosi” dalam membangkitkan hal-hal yang berkaitan dengan potensi unik dan pangglan hidup, komitmen tanggng jawab dan kesadran, integritas terapan, pengaruh tanpa otoritas.
Keempat apa yang disebut dengan “alkimia emosi” dalam membangkitkan hal-hal yang berkaitan dengan aliran intuitif, alih waktu reflektif penginderaan peluang, menciptakan masa depan.
(M)emahami dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam proses kemampuan peran anda dalam mempengaruhi orang lain dalam bersikap dan berperilaku. Oleh karena itu perlu ditingkatkan kemampuan berpikir dalam memahami kepentingan untuk mendalami setiap setuasi yang berubah dan mampu mengidentifikasinya kedalam rumusan masalah.
(O)rang dalam Demokrasi adalah manusia yang secara terus menerus berkemauan untuk memahami arti keberadaannya dalam suatu komunitas dalam memahami siapa, darimana dan kemana. Oleh karena itu, diperlukan suatu pemahaman yang mendalam mengenai makna manusia itu sendiri.
(K)erjasama dalam Demokrasi adalah pangkal usaha bersama untuk membangkitkan impian menjadi suatu kenyataan, tanpa itu tidak akan tumbuh kemajuan dalam membangun kebiasaan dalam bersikap dan berperilaku. Oleh kerena itu dituntut secara terus menerus untuk terus berusaha mengembangkan bagaimana caranya agar dapat diwujudkan kerjasama yang lebih baik.
(R)asional dalam Demokrasi adalah dorongan dari pengalaman yang dapat mengungkapkan kebutuhan yang didasarkan pada pikiran yang logis yang ditunjukkan hasil analisis yang seksama dan cermat dari pikiran yang sehat, tertib, dan teratur. Oleh karena itu, maka diperlukan peningkatan secara teratur pemikiran yang bersifat rasional dalam menanggapi sauatu situasi.
(A)kal dalam Demokrasi adalah pengaruh kekuatan jiwa dalam memanfaatkan alat pikiran untuk menggerakkan proses dalam membuat keputusan, bagaimana seharusnya dijalankan dengan proses kesadaran dan kecerdasan secara terintergrasi kedala proses berpikir.
Oleh karena itu, diperlukan peningkatan yang terus menerus untuk memanfaatkan kekuatan alat pikir dari kesadran, kecerdasan dan akal dalam proses berpikir.
(S)istem dalam Demokrasi adalah pedalaman suatu paham yang menjurus kepada penataan kehidupan dalam berbangsa dan bernegara seharusnya kekuatan pikiran yang diaktualisasikan atas dasar sistem yang memiliki unsur sebagai sub-sistem yang saling keterkaitan satu sama lain sehingga membentuk suatu totalitas. Oleh karena itu, diperlukan usaha-usaha yang dapat mendorong secara terus menerus untuk memanfaatkan suatu pola pandang ke dalam suatu sistem.
(I)ntergritas dalam Demokrasi adalah membangun kebersamaan dalam sikap dan perilaku kedalam komitmen yang datang dari diri sendiri bukan sesuatu yang dipaksakan menjadi kebiasaan dalam membentuk keutuhan, keterpaduan dan kebulatan. Oleh karena itu, peningkatan integritas individu menjadi suatu kebutuhan yang sangat mendasar dalam memahami akna nilai dalam bersikap dan berperilaku.
Dengan bertitik tolak dari pemahaman kata tersebut dalam demokrasi, maka dapat kita rumuskan pemahaman yang mendalam mengenai wawasan kita, apa yang kita maksudkan ber-DEMOKRASI dalam suatu pola pikir yang dapat menuntun kita ke arah tindakan yang positip.
Jadi yang kita maksudkan DEMOKRASI disini adalah suatu konsep yang dapat memberikan daya dorong untuk berpikir lebih (D)ewasa dalam setiap situasi dengen menggerakkan kecerdasan (E)mosional dalam berpikir agar secara sadar dapat dengan cepat (M)emahami makna dalam kebebasan berkehendak bagi setiap (O)rang yang berada dalam suatu komunitas agar ada kesiapan melaksanakan (K)erjasama dalam wujud yang lebih baik secara (R)asional dalam suatu proses keputusan melalui (A)kal dengan suatu pendekatan berpikir kedalam (S)istem dalam rangka mewjudkan (I)ntegritas sebagai nilai yang dapat dipahami bersama.
Dengan melaksanakan pemberdayaan DEMOKRASI sebagai suatu model untuk melakukan perubahan sikap dan perilaku diperlukan suatu pemikiran untuk mengembangkan pembelajaran demokrasi dalam „Dinamika sosial politik lokal“ diperlukan seperangkat pengetahuan dari pengalaman sebagai keterampilan untuk memberikan arah perubahan yang sejalan dengan pendekatan yang telah kita rumuskan pada bagian terdahulu.
Oleh karena itu, maka diperlukan wawasan demokrasi dengan arah persfektif yang jelas sebagai pedoman dalam pembelajaran agar wujud pelaksanaan demokrasi yang sejalan dengan usaha-usaha menemukan jati diri manusia Indonesia seutuhnya agar kita terlepas dari doktrin liberalisasi, dengan harapan dari perubahan pola pikir tersebut diatas dapat menuntun perubahan sikap dan perilaku kedalam pola pikir baru secara radikal. .
Dengan membangun kebersamaan dalam melaksanakan pemberdayaan demokrasi diperlukan suatu pendekatan sistem yang mengungkapkan kebutuhan dari sisi prosesnya, tapi tidak berarti kita keluar dari sisi kontennya, sehingga dalam mensiati jiwa manusia sebagai sistem, maka bagaimana kita mampu untuk mengintergrasikan manusia kedalam sub-sistem yang ada dan memiliki sifat ketergantungannya yang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan pemikiran jiwa subjektif dan jiwa objektif, itulah pentingnya melihat dari proses.
Untuk memberikan daya dorong kedalam pola pikir yang radikal dalam kebersamaan untuk membahas manusia dalam sub-sistem maka diperlukan usaha-usaha kerjasama yang lebih terfokuskan untuk melaksanakan pemberdayaan demokrasi secara konseptual dalam lingkungan „Dinamika Sosial Politik Lokal.
Hal ini hanya dapat kita capai bila program-program untuk melaksanakan pemikiran diatas, bila terdapat kebersamaan persepsi dalam memandang „Demokrasi“ dengan arah perfektif yang jelas dan dapat diterima, sehingga semua pihak dalam D.S.P.L. akan dapat memberikan konstrubusinya bagi semua pihak yang ingin mewujudkan era reformasi menjadi impian yang dapat mengubah pola pikir menjadi satu kenyataan.
PEMBELAJARAN POLITIK DAN KEKUASAAN DALAM D.S.P.L
Issu lain yang penting adalah yang menyangkut pembelajaran politik dan kekuasaan dalam „dinamika sosial politik lokal“. Mengapa issu ini kita angkat karena dalam era reformasi telah tumbuh partai yang begitu banyak, dimana demokrasi telah disalah gunakan kedalam demokrasi politik.
Keadaan tersebut telah menyebabkan manusia yang memilki peran hanya sekedar untuk mengejar kepentingan individu dan kelompok, yang terpikirkan hanya memikirkan kepentingan pribadi untuk merebut jabatan Presiden dan wakil presiden sebagai politikus, tapi tidak pernah membayangkan dengan kekuatan pikirannya untuk memerangi dan atau melepaskan diri dari pola pikir kapitalisme.
Mampukah kita menarik dari kesusahan mendapatkan pengalaman, dari kesalahan mendapatkan kesempurnaan dari kekhilafan dapat berbuah kesadaran. Hal ini diharapkan memperkuat daya kemauan, apabila semuanya ini dilakukan dengan segala keinsyafan, maka rasa tanggung jawab akan tertanam didalam dadanya sebagai seorang politikus.
Pengalaman telah menunjukkan bahwa dalam masa era reformasi tidak ada perubahan yang terjadi untuk meletakkan landasan yang kuat untuk membangun demokrasi politik seperti apa yang diharapkan. Bahkan konflik terus berkembang sebagai suatu situasi yang diciptakan untuk mempertahankan status quo disatu sisi dan disisi lain KKN terus berkembang ke seluruh pelosok kehidupan berbangsa dan bernegara setelah otonomi daerah dijalankan.
Pasca pemilu 2004, dikatakan proses demokratisasi berjalan pada jalur dan arah yang benar kedalam transformasi kehidupan sosial politik. Inilah satu kesalahan besar yang ditunjukkan dalam kebebasan berkehendak yang tidak bertanggung jawab, yang berdampak masyarakat dan Negara makin menuju daur hidup kematian demokrasi dengan tingkat kemiskinan yang terus menerus bertambah.
Bagaimana bila sebuah kesempatan datang untuk melaksanakan perubahan setelah pemilu 2009 muncul ditangan orang yang berperan tidak memiliki kompetensi yang sejalan dengan tuntutan dari perubahan abad ini dalam menuju masyarakat pengetahuan sedangkan tantangan begitu besar bagi bangsa dan negara Indonesia dalam abad 21 ini.
Itulah suatu bukti dari pengalaman yang mengajarkan kepada kita masa lampau bahwa demokrasi politik dijadikan tujuan hanya untuk merebut kekuasaan demi kepentingan individu dan kelompok, sehingga tidak ada usaha konstribusi dalam usaha melaksanakan pemberdayaan demokrasi politik sebagai alat untuk menyatukan kebersamaan dan keseimbangan kepentingan.
Dengan situasi tersebut diatas, marilah kita bersama-sama untuk memberikan konstribusi pemikiran agar perubahan dalam pola pikir secara radikal dapat dilaksanakan sebagai suatu kebutuhan yang mendesak bila kita ingin membangun kerjasama membuat impian menjadi satu kenyataan melalui pelaksanaan demokrasi politik kedalam satu sistem yang mendorong manusia kedalam sub-sistem sesuai dengan kebutuhan dalam pembangunan yang terintergrasi dan konsisten menjalankan konsep dari paham pandangan yang disetujui bersama.
Sejalan dengan pemikiran yang kita ungkapkan diatas, mendorong kita secara bersama-sama dalam dinamika sosial politik lokal untuk dapat memberikan konstribusi pembelajaran politik dan kekuasaan dalam usaha untuk mempengaruhi pola pikir yang dapat mendorong ke arah prubahan yang lebih baik.
Kita sadari bahwa Politik adalah seperangkat ilmu pengetahuan mengenai ketatanegaraan seperti sistem pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan. Oleh karena itu setiap politikus adalah ahli politik dan ahli kenegaraan sehingga ia harus mampu menunjukkan keteladanannya dalam cara bertindak. Gambaran inilah yang kita perlukan dalam dinamika sosial politik lokal yang perlu kita sebar luaskan menjadi suatu wawasan demokrasi politik yang bertanggung ke masa depan.
Dalam praktek politik tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai tujuan dalam memecahkan semua persoalan, tapi pengalaman juga menunjukkan bahwa menjadi politikus lebih menekankan untuk kepentingan kelompok dan individu, dengan kebiasaan-kebiasaan tersebut maka tumbuh dan berkembang kebiasaan menjadi manusia yang kiblat kepada manusia bukan kepada prestasi yang dikehendaki oleh Allah Swt. Sejalan dengan itu banyak politikus lupa sebagai manusia, siapa, darimana dan kemana. Itulah satu kenyataan yang kita hadapi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam mewujudkan politikus yang bertanggung jawab ke masa depan.
Sebagai konsep pemkiran yang akan kami ketengahkan dibawah ini, bertitik tolak dari rumusan yang telah kita utarakan pada bagian terdahulu bahwa „POLITIK adalah suatu konsepsi yang menggambarkan peran politikus sebagai (P)embela kepentingan (O)rang untuk memberikan (L)indungan yang sejalan dengan tugas dan tanggung jawab agar tidak (I)ngkar dalam ucapan dan perbuatan sebagai (T)anggung jawab moral agar (I)ngat atas suatu (K)arunia yang diamanahkan sebagai seorang politikus“.
Dengan wawasan dari rumusan tersebut diatas, maka dapat kita uraikan lebih lanjut kedalam suatu pemikiran untuk memperdalam wawasan tersebut sebagai berikut :
(P)embela dalam politik adalah peran politikus untuk memperjuangkan keharusan adil dan tidak memihak dalam menetapkan hukum yang harus dijalankan. Jadi harus mampu untuk mengambil keseimbangan dalam kepentingan.
(O)rang dalam politik adalah manusia yang secara ikhlas melakukan aktivitas politik bukan sekedar bayangan mimpi yang tidak jelas.
(L)indungan dalam politik adalah tugas dan tanggung jawab yang harus diberikan kepada siapa saja yang membutuhkannya.
(I)ngkar dalam politik adalah ucapan dan perbuatan tidak sejalan dalam bersikap dan berperilaku.
(T)anggung jawab dalam politik adalah ucapan dan perbuatan sejalan dengan tanggung jawab yang dibebankan dan oleh karena itu melaksanakan kekuasaan dengan bijaksana.
(I)ngat dalam politik adalah suatu peringatan kepada kematian untuk memberikan daya dorong untuk memperbaiki sikap dan perilaku dan cinta pada orang miskin.
(K)arunia dalam politik adalah apapun yang terjadi sebagai seorang politikus menyadari sepenuhnya makna manusia sebagai siapa, darimana dan kemana untuk meletakkan kekuatan karunia dalam prjalanan hidup.
Dengan pemahaman unsur kata politik menjadi untaian kalimat yang bermakna diatas diharapkan menjadi daya dorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun agar wujud pemberdayaan politik menjadi suatu kenyataan sebagai alat penyatu kepentingan ummat manusia bukan tujuan merebut kekuasaan belaka.
Dalam praktek politik tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai tujuan dalam memecahkan semua persoalan, tapi pengalaman juga mnunjukkan bahwa menjadi politikus lebih menekankan untuk kepentingan kelompok dan individu, dengan kebiasaan-kebiasaan tersebut maka tumbuh dan berkembang kebiasaan menjadi manusia yang kiblat kepada manusia demi kekuasaan.
Kekuasaan dalam berpolitik merupakan satu kesatuan yang akan terkait dalam tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan.
Hal-hal yang disebutkan diatas merupakan prinsip-prinsip dasar yang harus menjadikan kekuatan pikiran dalam bersikap dan berperilaku. Untuk mendorong prinsip-prinsip tersebut dijalankan sesuai dengan arah persfektif, maka diperlukan suatu pendekatan melalui pemahaman unsur huruf dalam kata kekuasaan itu sendiri.
Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan untuk membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan dengan meretas jalan melalui pemahaman atas unsur kata dalam „kekuasaan“ itu sendiri sebagai berikut :
K menjadi (K)elola dalam Kekuasaan
E menjadi (E)ksper dalam Kekuasaan
K menjadi (K)olaborasi dalam Kekuasaan
U menjadi (U)mat dalam Kekuasaan
A menjadi (A)manah dalam Kekuasaan
S menjadi (S)ombong dalam Kekuasaan
A menjadi (A)ngkuh dalam Kekuasaan
A menjadi (A)zab dalam Kekuasaan
N menjadi (N)iat dalam Kekuasaan
Bila diuraikan lebih lanjut makna kata tersebut kedalam untaian kalimat yang bermakna sebagai model untuk mningkatkan wawasan berpikir seperti dibawah ini :
(K)elola dalam Kekuasaan adalah pemain peran harus mampu mengelola kekuasaan yang terkait tanggung jawab untuk setiap perbuatan yang dibuatnya.
(E)kper dalam Kekuasaan adalah pemain peran dengan keahlian untuk menjalankan kekuasaan melalui pelimpahan wewenang yang sejalan dalam struktur.
(K)olaborasi dalam Kekuasaan adalah pemain peran melaksanakan kerja sama yang sejalan dengan standar yang terbaik
(U)mat dalam Kekuasaan adalah pemain peran mendorong setiap orang untuk menikuti pelatihan dan pengembangan.
(A)manah dalam Kekuasaan adalah pemain peran disatu sisi mampu memanfaatkan pengetahuan dan informasi dan disisi lain memilki kemampuan untuk memberikan umpan balik dari pelaksanaan keputusan.
(S)ombong dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan pengakuan dirinya.
(A)ngkuh dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku sejalan dengan keercayaan yang diberikan.
(A)zab dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku akan selalu menerima kegagalan sebagai sesuatu pelajaran.
(N)iat dalam Kekuasaan adalah pemain peran dalam bersikap dan berperilaku haruslah sejalan dengan kebiasaan yang dilandasai oleh niat yang benar.
Dengan pemahaman unsur kata kekuasaan menjadi untaian kalimat yang bermakna diatas diharapkan menjadi daya dorong kedalam apa dan bagaimana proses berpikir itu terbangun agar wujud pemberdayaan keuasaan menjadi suatu kenyataan sebagai alat penyatu kepentingan ummat manusia bukan tujuan menjalankan kekuasaan yang tidak sejalan dengan arah yang ditetapkan.
Oleh karena itu, pemimpin masa depan haruslah mampu menjalankan kekuasaan secara bijaksana yang akan terkait dalam tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan sebagai suatu ukuran keberhasilan.
PENUTUP
Dengan memperhatikan uraian diatas, yang bertolak dari pendekatan pemahaman atas huruf yang bermakna dan unsur kata tersebut disusun menjadi untaian kalimat yang bermakna dalam DINAMIKA, SOSIAL, POLITIK, LOKAL, DEMOKRASI, KEKUASAAN akan menjadikan satu sarana dalam menggugah pola pikir sebagai suatu kekuatan untuk memikirkan kemungkinan perubahan sikap dan perilaku.
Dengan meningkatkan wawasan dalam memikirkan kemungkinan, maka pemahaman kita dengan membangun jiwa tanpa topeng kepaluan diharapkan menjadi suatu kebiasaan baru dalam menghayati, memahami dan mengamalkan makna DEMOKRASI, POLITIK dan KEKUASAAN dalam “Dinamika sosial politik lokal”
DEMOKRASI adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa menjadi manusia (D)ewasa dalam berpikir agar dapat menuntun kecerdasan (E)mosional untuk mendorong potensi (M)emahami suatu komunitas (O)rang dalam organisasi yang membutuhkan (K)erjasama membuat impian menjadi kenyataan berdasarkan analisa fakta secara (R)asional dan diputuskan dengan (A)kal yang sehat kedalam suatu (S)istem yang mendukung komitmen kedalam (I)ntergritas.
POLITIK adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa menjadi manusia (P)embela dalam mewujudkan (O)rang dalam berdemokrasi dengan melaksanakan (L)indungan dalam arah berorganisasi agar iklim (I)ngkar, (T)anggung jawab, (I)ngat menjadi suatu kewajiban untuk disyukuri sebagai (K)arunia dalam usaha meretas jalan menjadi jati diri sendiri.
KEKUASAAN adalah suatu paham yang dapat menggugah jiwa manusia dalam usaha (K)elola sebagai (E)ksper untuk melakukan (K)olabrasi dalam rangka pemberdayaan peran (U)mmat untuk menjalankan (A)manah dengan sikap dan perilaku tidak (S)ombong dan (A)ngkuh serta (A)zab yang datang bila keinginan yang tidak berdasarkan (N)iat untuk melaksanakan tanggung jawab, wewenang, standar yang terbaik, pelatihan dan pengembangan, pengetahuan dan informasi, umpan balik, pengakuan, kepercayaan, kegagalan, harapan sebagai suatu ukuran keberhasilan
Bertolak dari pemahaman diatas, maka timbul pertanyaan mengapa lahirnya begitu banyak PARTAI di Indonesia karena mereka pemimpin masa kini hanya berpikir sesaat untuk kepentingan individu dan kelompok dengan mengabaikan kepentingan bangsa dan negara yang. Bila mereka memiliki prinsip kepemimpnan masa depan, mungkin partai dalam arah posisi masa depan cukup tiga sampai lima partai saja sehingga demokrasi, politik dan kekuasaan lebih sederhana untuk diaplikasikan kedalam pola pikir kebersamaan untuk mencari penyelesaian masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
Dengan situasi yang berkembang dan komplek saat ini, maka dalam Dinamika Sosial Politik Lokal, betapa pentingnya kita mewujudkan kerjasama merumuskan situasi menjadi masalah kedalam masalah strategis, masalah pokok dan masalah insidentil agar wujud impian menjadi kenyataan.
Yang menjadi pertanyaan pertama adalah bagimana caranya dalam dinamika sosial politik lokal mampu menciptakan kerjasama yang lebih baik dengan mensiasati keinginan untuk merumuskan kesamaan dalam persepsi untuk mengungkapkan arah persfektif membangun demokrasi sosial politik lokal dalam merebut kekuasaan.
Bandung, 30 Desember 2008.
Abdul Talib Rachman
Mohamad Fauzan Rachman