MENGUPAS MAKNA KATA BERMAKNA DALAM MEMBANGUN AKHLAK MELALUI PEMAHAMAN KEBIASAAN YANG PRODUKTIF

By suaraatr1938

MAKNA KATA BERKATA BENAR, BERZINA, BOROS, BENCI, BUNUH DIRI, BALAS DENDAM (B6)

1. PENDAHULUAN

Bertitik tolak dari pemikiran dengan pendekatan pemahaman makna kata pada A4, maka dibawah ini akan dituangkan makna kata B6 sebagai bagian dari pemikiran bahwa dengan membangun kebiasaan yang produktif, kita mampu mengendalikan pemanfaatan harta, nafsu syahwat dan pangkat duniawi kedalam ruang dan waktu dalam menumbuh kembangkan ke dalam hati agar kita mampu meningkatkan arti kesadaran dalam diri manusia.

Tingkat kesadaran hanya dapat ditingkatkan bila kita menghayati sepenuhnya keinginan ingin tahu yang mendalam makna kata BERKATA BENAR, BERZINA, BOROS, BENCI, BUNUH DIRI dan BALAS DENDAM sebagai daya dorong agar kita selalu meyakini bahwa dalam bersikap dan berperilaku kita selalu diawasi oleh Allah Swt.

Dengan cara begitu pikiran kita akan dibawa ke alam yang penuh keyakinan bahwa kita diciptakan oleh Allah Swt sebagai mahkluk yang paling mulia disisinya, oleh karena itu kita harus menyadari arti sepenuhnya keberadaan kita di dunia untuk tujuan ahkerat. Hal tersebut hanya dapat dicapai bila kita setiap waktu mampu memanfaatkan kemampuan berpikir dalam usaha untuk mensucikan hati agar kita selalu diingatkan untuk mengetahui diri kita.

2. BERKATA BENAR

Disini kita dihadapkan dengan dua kata yaitu berkata disatu sisi dan disisi lain benar. Berkata artinya melahirkan isi hati dengan kata-kata (berbicara). Jadi dalam hidup ini kita akan sering berkata-kata, untuk menunjukkan sikap disatu sisi yang menggambarkan kemampuan kita mengkomunikasikan suara hati ini kepada orang lain, disisi lain untuk kita menunjukkan perilaku yang menggambarkan gaya atau tingkah laku dalam kita berbuat.

Dengan mengungkapkan pemikiran diatas, maka makna „berkata“ dalam „Perintah berkata yang adil seperti yang termuat dalam SQ. 6 : 152“ Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa`at, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat“

Sejalan dengan pemahaman „Perintah berkata yang adil“, mampukah kita melaksanakan dalam sikap dan perilaku yang sejalan dengan jiwa tanpa topeng kepalsuan. Untuk itu perhatikan pula makna lain seperti dibawah ini
„Perintah berkata yang baik kepada Rasulullah, termuat SQ. 2 : 104 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa`ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.“

Perintah kata benar, seperti yang termuat dalam SQ. 4: 8“ Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.

SQ. 4 : 9“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

SQ. 17 : 39“ Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).

SQ. 33 : 70“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,

Orang yang benar (ucapan dan perbuatannya), dapat kita hayati seperti yang termuat dalam SQ. 33 : 35“ Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.“

Perintah berada di tengah orang yang benar dalam SQ. 9 : 119“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.

KESIMPULAN

Tidak gampang untuk membangun dan meningkatkan kedewasaan berpikir dalam usaha untuk meyakini bahwa dengan mendalami makna kata menjadi daya dorong dalam sikap dan perilaku yang sesuai dengan keinginan mata hati yang sesuai dengan kesiapan orang untuk berubah kedalam kebiasaan yang produktif.

Oleh karena itu, kebiasaan yang produktif hanya bisa tumbuh dan berkembang dalam jiwa tanpa topeng kepalsuan sehingga diperlukan peningkatan terus menerus dalam penguasaan ilmu, keterampilan dan keinginan untuk mampu mengaktualisasikan makna „Berkata Benar“ sebagai bagian dalam kebiasaan untuk menemukan diri sendiri.

3. BERZINA

Kehidupan ini penuh dengan jiwa yang bertopeng kepalsuan, inilah satu kenyataan yang dihadapi manusia sebagai akibat ia tidak mampu mengenal dirinya, sehingga ia tidak tahu siapa dirinya.

Dalam kehidupan banyak orang dengan tingkat kedewasaan intelektual yang tinggi, namun dangkal dalam kedewasaan rohaniah sehingga ia tidak mampu menangkap segala sesuatu yang menjadi larangan seperti berzina sebagai suatu musibah yang lebih besar dari pada musibah menolak mengikuti ajaran syari’at muslimin.

Mengapa manusia terjebak dengan kehinaan sebenarnya perbuatan yang buruk sebagai akibat pandangan hidub yang kiblat kepada kebendaan sehingga sangat sulit ia mampu menempuh kebiasaan yang produktif dalam kehidupan agar ia mampu membangun kebiasaan menegakkan kehormatan dalam hidupnya, karena disitu terletak makna takwa dalam sikap dan perilaku yang akan menuntun manusia keluar dari kehinaan.

Bertambah jauh usaha manusia untuk mengenal tentang dirinya, maka akan bertambah jauh pula hubungan hamba dengan Tuhannya sehingga begitu mudah syetan berusaha mempengaruhi jiwa manusia dan disitulah pula tingkat kesadaran inderawi yang paling rendah dimana didalam diri seseorang tidak mampu berfungsi dalam intrasaksi positip atas lingkungannya sehingga kebiasaan yang buruk mudah menimpanya.

Oleh karena itu, renungkan kembali makna „berzina“ dalam kehidupan anda, maka berdoalah agar anda dapat menuntun jiwa untuk tidak tergoda oleh syetan dengan selalu mengingat apa yang terungkapkan dalam Al Qur’an sebagai berikut :

Allah mengampuni orang yang dipaksa melakukan zina SQ. 24 : 33 „Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).

Dilarang berzina SQ. 4 : 24 „dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni`mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

SQ. 5 : 5“ Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.

SQ.25 : 68“ Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya),

SQ. 60 : 12“ Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dilarang mendekati zina SQ. 17 :32“ Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

Hukum bagi yang berzina SQ. 4 : 15“ Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.

SQ. 24 : 2“ Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.

Pria pezina untuk perempuan pezina SQ.24 : 3“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu’min.

SQ. 24 : 26” Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).

KESIMPULAN

Dengan membangun kebiasaan yang produktif, diharapkan dapat menumbuhkan sesuatu perubahan dalam sikap dan perilaku tetapi dalam hal ini sangat bergantung pada keinginan dengan niat yang kuat dari suatu pemikiran untuk menemukan tentang diri.

Kebiasaan menemukan diri merupakan langkah dalam perjalanan hidup ini yang penuh dengan tantangan dari godaan syetan, salah satunya adalah berzina. Oleh karena itu, kita dapat keluar dari godaan itu bila kita berkeinginan untuk tidak lalai kepada Allah, sehingga kerjakanlah oleh kalian apa yang telah Allah perintahkan, niscaya Dia akan memenuhi janji-Nya kepada kalian.

Bila pikiran tersebut diatas, kita renungkan melalui pemahaman kita kedalam Surat dan Ayat yang tertuang dalam Al-Qur’an diharapkan menjadi daya dorong untuk membangun kebiasaan dari kesadran inderawi menjadi kesadaran rasional / ilimiah menjadi kesadaran spiritual.

Dengan mendalami yang terungkap dalam Surat dan Ayat Al-Qur’an diatas, maka perubahan tingkat ksadaran mendorong melakukan kebiasaan yang prodktif, karena dengan kebiasaan itulah manusia mengetahui kadar jiwanya sehingga dia tidak akan mengotorinya dengan maksiat kepada Allah.

4. BOROS

Membangun kebiasaan yang produktif akan mendorong kekuatan pikiran dalam bersikap dan berperilaku yang dapat menuntun atas perubahan kesadaran inderawi kedalam kesadaran yang lebih tinggi. Itu berarti manusia menempuh kehidupan ini semuanya untuk terus berdzikir.

Manusia yang berakhlak akan berusaha dalam perjalanan hidupnya akan menunjukkan keteladanannya, sehingga perbuatan “boros” merupakan perbuatan yang tidak terpuji, namun pengaruh godaan syetan dengan tingkat kesadaran yang rendah, soal boros jadi kebutuhan untuk menunjukkan status sosial.

Untuk keluar dari kebiasaan menjalankan hidup dengan “boros” berarti anda menyadari sepenuhnya untuk berubah, sebagai landasan untuk berubah, marila kita ungkapkan seperti yang termuat dalam surat dan ayat Al-qur’an sebagai berikut :

Larangan memboroskan harta SQ. 17 : 26 “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

SQ. 17 : 27” Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Tidak bertindak boros SQ. 25 : 67” Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

KESIMPULAN

Salah satu pesan Rasulullah “sesungguhnya orang yang paling saya cintai dan paling dekat kedudukannya dengan saya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya” (H.R. Tirmidzi).

Bila kita renungkan pesan tersebut, sebagai daya dorong untuk meletakkan landasan yang kuat dengan mendalami kandungan surat dan ayat yang telah diungkapkan diatas, maka kerjakanlah oleh kalian apa yang telah Allah perintahkan, niscaya Dia aka memenuhi janji-Nya kepada kalian.

Jadi membangun kebiasaan yang tidak boros berarti bagian dari usaha membangun jiwa tanpa topeng kepalsuan, sehingga di dunia ini tidak ada satupun orang yang tidak ingin hidup dalam keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. Oleh karena itu, meretas jalan untuk menemukan diri sendiri dengan menciptakan kehidupan yang harmonis, menerapkan kebiasaan yang produktif (ilmu, keterampilan, keinginan) dan mendalami serta mempelajari Al-Qur’an.

5. BENCI

Memahami arti keberadaan anda di dunia yang sejalan dengan jiwa tanpa topeng kepalsuan agar mau menjauhi akhlak tercela yang akan merusakkan hubungan kita dengan sesame. Oleh karena itu “BENCI” merupakan salah satu yang dapat mrusak hubungan manusia, sehingga dengan adanya perasaan tidak suka ini menyebabkan seseorang tidak mau saling memberikan dan menerima nasehat.

Dengan mengungkapkan pikiran diatas, marilah kita mencoba untuk mendalami makna “benci” seperti yang termuat dalam surat dan ayat Al-Qur’an sebagai berikut :

SQ. 2 : 130” Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

SQ. 2 : 216” Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

SQ. 3 : 118” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

SQ. 3 : 119” Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.

SQ. 4 : 22” Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).

SQ. 5 : 2” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi`ar-syi`ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

SQ. 5 : 8” Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Yang membenci Nabi Muhammad terputusi Rahmat SQ. 108 : 3” Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Kebanyakan kafir membenci kebenaran SQ. 23 : 70“ Atau (apakah patut) mereka berkata: “Padanya (Muhammad) ada penyakit gila.” Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran.

SQ. 43 : 78“ Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.

Yang dibenci ternyata baik SQ. 4 : 49“ Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.

KESIMPULAN

Dengan mendalami makna surat dan ayat dalam Al-Qur’an diatas, maka kekuatan pikiran untuk meretas jalan menemukan tentang diri, haruslah menjadi tantangan untuk terus membangun kebiasaan yang prouktif agar terjaga kebiasaan dari sikap dan perilaku yang dapat merusak akhlak yang tercela.

Oleh karena itu, bangunlah jiwa tanpa topeng kepalsuan, agar anda selamat menempuh perjalanan hidup ini, diperlukan untuk membangun kebiasaan yang produktif agar anda tertuntun untuk memanfaatkan pengetahuan, keterampilan dan keinginan yang selalu menjadi daya dorong untuk melepaskan diri dari godaan syetan yang selalu mendorong manusia terperangkap dari keinginan mempertahankan kesadaran inderawinya.

6. BUNUH DIRI

Bila seseorang yang tidak biasa membangun kebiasaan yang produktif, maka dengan mudah mereka tidak mampu mengendalikan kekuatan pikiran yang dapat merusak jalan hidup mereka, bahkan tidak jarang mendorong orang menjadi putus asa dengan „BUNUH DIRI“ sebagai manusia yang tidak beriman karena tidak berilmu.

Oleh karena itu dengan membangun kebiasaan yang produktif, mendorong orang untuk berpikir dan belajar seperti yang dimuat surat dan ayat yang mengajarkan bahwa „Allah membri pahala kepada orang beriman „ seperti yang termuat dalam Al-Qur’an sbb. :

SQ. 2 : 62“ Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

SQ. 4 : 152”Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

SQ.5 : 69”Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Bertitik tolak dari pemahaman mengenai „beriman“ seperti yang termuat dalam surat dan ayat yang diungkapkan diatas, maka setiap manusia akan mengetahui apa arti keberadaan di dunia sebagai mahluk yang dimuliakan oleh Allah Swt. Oleh karena itu mampukah manusia selalu ingat apa arti kehidupan ini. Manusia dengan kemampuan berpikirnya harus mampu meletakkan suatu keinginan yang berlandaskan niat yang sejalan dengan pemahamannya mengenai „beriman“ kepada Allah Swt. Sehingga manusia seharusnya secara sadar, apa yang terungkap dalam surat dan ayat yang mengungkapkan bahwa „Allah pelindung orang beriman „ oleh karena itu renungkan surat dan ayat dibawah ini :

SQ. 2 : 257“ Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

SQ. 2 : 54“ Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

SQ. 18 : 6“ Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an

SQ. 2 : 72“ Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.

SQ. 2 : 84“ Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.

SQ. 3 : 112“ Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

SQ. 3 : 114“ Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.

SQ. 3 : 152“ Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.

KESIMPULAN

Manusia sebagai mahluk yang mulia di mata Tuhan, maka untuk dapat dekat dengan-Nya diperlukan usaha meningkatkan kesadaran rohaniah secara berkesinambungan agar manusia mengerti arti keberadaannya di dunia sebagai khalifah.

Apapun yang terjadi pada diri anda, maka asahlah kekuatan jiwa anda agar tidak berpikir keputus asahan yang mendorong menjadi manusia yang tidak beriman yang akan menjadi pemicu „bunuh diri“ sebagai jalan pintas untuk melepaskan diri dari segudang masalah hidup yang tidak terpecahkan.

Apa yang kita ungkapkan diatas dalam kaitan dengan „bunuh diri“ dimaksudkan untuk menggugah setiap manusia harus mampu menyadari untuk menemukan tentang dirinya, dengan secara teratur untuk menumbuh kembangkan kebiasaan yang produktif.

7. BALAS DENDAM

Balas dendam merupakan salah satu cara setan memasuki jiwa manusia dan disinilah manusia dengan tingkat kesadaran inderawi sangat mudah terumbang ambing karena ia tidak mampu dalam kesiapan dan wajib memerangi syetan.

Bila manusia secara sadar membangun kebiasaan yang produktif, maka manusia tersebut memiliki kekuatan jiwa untuk melepaskan diri dari „balas dendam“ sebagai sikap dan perilaku sebagai manusia yang tidak beriman.

Sejalan dengan ungkapan pemikiran diatas, maka marilah kita menghayati untuk berbuat sesuatu dalam usaha menemukan tentang diri sendiri agar kita selalu dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Oleh karena itu simaklah ungkapan mengenai „balas“ dibawah ini:

Balasan Allah kepada orang yang berbuat baik SQ. 76 : 5“ Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.

SQ. 76 : 6“Ia bertanya: “Bilakah hari kiamat itu?”

Balasan masing-masing tergantung amalnya SQ. 46 : 19” Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.

SQ.47 : 4” Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

Balasan perbuatan buruk adalah buruk SQ. 6 : 160” Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

SQ. 10 : 27” Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Balasan terhadap segala perbuatan manusia SQ. 82 : 13” Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh keni’matan,

SQ 82 : 14” dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.

SQ. 82 : 15” Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.

SQ. 82 : 16” Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.

Balas SQ. 2 : 15“ Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

QS. 3 : 4“Sebelum (Al Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).

QS. 4 : 86“ Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.

QS. 5 : 29“ “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.”

QS. 6 : 10“ Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (`azab) olok-olokan mereka.

QS. 7 : 41“ Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.

Membalas penganiayaan SQ. 22 : 60“ Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.

Memaafkan lebih baik dibanding membalas SQ. 42 : 40” Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.

SQ. 42 : 43” Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.

Dari surat dan ayat yang kita ungkapkan diatas memberikan petunjuk untuk membuka mata hati agar sebagai manusia dapat memahami sikap dan perbuatan yang terkait dengan aktualisasi dari makna “balasan” ; “dibalas”, “membalas”.

Sejalan dengan pemahaman dari surat dan ayat tersebut diatas, maka bukalah mata hati yang terkait dengan makna “Dendam” seperti yang tertuang dalam surat dan ayat yang mengungkapkan bahwa “ Tuhan lenyapkan rasa dendam bagi yang di surga SQ. 15 : 47” Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

KESIMPULAN

Balas dendam suatu penyakit yang membutakan mata hati manusia yang tidak beriman, maka disitulah pintu masuk cara syetan memasuki jiwa manusia. Oleh karena itu wajib bagi manusia untuk melawannya.karena 1) sebab syetan merupakan musuh yang nyata bagi manusia yang beriman kepada Allah, sehingga syetan menghendaki manusia jatuh ke lembah kemaksiatan ; 2) kita diharuskan memusuhi syetan karena syetan memang sejak dilahirkan sudah bertabiat memusuhi kita.

Yang menjadi persoalan, bagaimana manusia meretas jalan menjadi diri sendiri, maka disinilah letak kekuatan keinginan dengan niat yang tulus sebagai bagian dari usaha untuk membangun kebiasaan yang produktif selain penguasaan ilmu dan keterampilan yang mampu memberikan daya dorong jiwa tanpa topeng kepalsuan. Dengan perubahan cara pandang menjalani hidup ini diharapkan secara bertahap mengubah kesadaran inderawi ke tingkat yang lebih tinggi yang kita sebut ketahap kesadaran rasional menuju ke kesadaran rohaniah dalam usaha menuju perjalanan hidup yang abadi.

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply