MEMILIH PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN 2009

PENDAHULUAN

Dapatkah anda membayangkan 34 partai peserta pemilu 2009 dan betapa besar dana yang harus dikeluarkan dalam rangka pesta demokrasi serta mungkinkah gulput akan meningkat serta berdampak ketidak puasan jiwa. Kenyataan inilah yang kita hadapi dalam reformasi kehidupan berbangsa dan bernegara dimana daur hidup Negara makin terpuruk.

Why ? tidak lain karena pemimpin partai belum siap menerima demokrasi sebagai alat melaksanakan reformasi perubahan pola pikir yang radikal kedalam sikap dan perilaku yang mementingkan kepentingan individu dan kelompok bukan bangsa / Negara.

When ? tidak lain karena pola pikir pemimpin dan pengikutnya sebelum dan sesudah merdeka dalam orde lama, orde baru, orde reformasi telah menjadi budaya sikap dan perilaku yang kiblat kepada manusia / atasan-nya, sulit untuk berubah.

What ? tidak lain karena tidak satupun partai memberikan pembelajaran demokrasi, sehingga demokrasi hanya suatu retorika belaka, ditambah lagi ketidak jelasan peran pendidikan formal dan non-formal yang ada.

How ? tidak lain karena pemimpin masa lalu tidak memiliki kemampuan mengidentifikasi situasi dan merumuskan masalah mana yang kritis, pokok dan insidentil, sehingga setiap pemecahan masalah menimbulkan masalah baru.

Who ? tidak lain karena pemimpin eksekutif, legislatif dan yudikatif dan pelaku ekonomi tidak memiliki kepekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, mampukah dari 34 partai dalam usaha untuk menyadarkan kepada para anggotanya mengikuti pemilihan umum 2009 baik memilih anggota legislatif maupun pemimpin nasional, hanya saja yang menjadi masalah besarkah partisipasi masyarakat dalam peran mengikuti pesta demokrasi 2009 dalam rangka melihat masa depan yang penuh ketidakpastian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menjelang pesta demokrasi atas pelaksanaan PEMILU 2009, kita dihadapkan dengan isu politik yang banyak dibicarakan oleh orang yang resah dengan peran kepemimpinan nasional masa depan yang sangat menentukan arti kebangkitan Indonesia baru, Isu yang berkembang membicarakan tentang Politikus Busuk. Dua kata tersebut, memang tidak sedap kedengarannya dan hanya mengarah kepada satu peran artinya politikus mengandung arti ahli politik, ahli kenegaraan atau orang yang berkecimpung di bidang politik, sedang busuk artinya berbau tidak sedap, jahat, buruk. Selain dari itu timbul pula isu yang berkaitan pemimpin nasional sudah waktunya ditangan kaum muda.

PERAN KEPEMIMPINAN DALAM MEMBANGUN INDONESIA BARU

Kita menyadari sepenuhnya, kekuatan ekonomi mungkin bersumber dari AS dan dalam banyak hal menuju ke Eropah dan Pasifik, disinilah letak peluang yang harus kita rebut dalam kurun waktu 10 tahun untuk kita bangkit dalam menemukan Kepribadian Bansa Indonesia sebagai Negara yang ikut menentukan kebangkitan Ummat Islam di dunia.

Oleh karena itu untuk dapat meraih peluang-peluang di kawasan Asia – Pasifik, yang kita bangun dalam tatanan baru dalam kekuasaan yang bersifat kologial berdasarkan synergy individu menjadi inovasi kekuasaan negara, karena itu kita bayangkan mundur 20 tahun kebelakang karena kita dihadapkan mencari Kepemimpinan pada semua tingkat yang dapat mendukung secara utuh langkah reformasi yang ingin kita perjuangkan dalam menata Bangsa Indonesia itu. Mengapa hal ini kita ungkapkan sebagai sentral permasalahan yang bersifat strategis karena tidak mudah merubah sikap dan perilaku dari keperibadian yang kiblat kepada manusia menuju kepada kiblat kepada prestasi yang di ridhoi oleh Maha Kuasa.

Sejalan dengan pemikiran diatas, bila kita ingin meletakkan landasan yang kuat setelah Pemilu 2009, maka kita membutuhkan Kepemimpinan nasional bukan sekedar merebut kekuasaan demi kepentingan individu dan kelompok melainkan yang mampu meletakkan landasan kolaborasi untuk kepentingan bangsa dan negara dalam membangun Indonesia baru dengan kekuatan pikiran sbb. :

1. Merebut peluang untuk kemenangan kelompok reformis agar mampu meletakkan landasan sikap dan perilaku yang berkesinambungan untuk kebangkitan ummat beragama dan bangsa Indonesia, bila kesempatan berlalu maka kita tidak dapat merebut dari kelompok status quo, ini berarti kita akan mundur lagi dalam 10 tahun.

2. Kita syukuri rahmat Tuhan yang memberikan langkah awal untuk menyatukan perubahan sikap dan perilaku untuk mewujudkan demokrasi sebagai strategi perjuangan, bila kita menghilangkan peran kepemimpinan yang tidak bermoral.

3. Kita syukuri rahmat Tuhan yang memberikan langkah kedua sebelum PEMILU dengan kesepakatan untuk menggalang kekuatan untuk menahan lajunya keinginan yang mempertahankan status quo oleh kepemimpinan tidak bermoral.

4. Perlu menyiapkan strategi untuk memenangkan dalam PEMILU dalam membentuk opini bahwa kemajuan masa depan sangat tergantung keinginan bersama mewujudkan demokrasi sebagai alat perjuangan oleh peran kepemimpinan yang bermoral.

5. Meningkatkan acara dialog yang produktif untuk menyepakati prinsip-prinsip untuk berkolaborasi demi kebangkitan demokrasi, yang sejalan dengan tuntutan perubahan yaitu prinsip-prinsip proses perubahan, prinsip-prinsip mentransformasi perubahan, dan prinsip-prinsip perbaikan yang berkelanjutan. Selanjutnya dapat ditindak lanjuti untuk forum diskusi untuk melahirkan rumusan-rumusan ksepakatan.

Kita sadari bahwa reformasi kehidupan bernegara telah bergulir, sejak tumbangnya rezim orde baru, dengan penuh harapan akan ada perubahan secara radikal dalam berpikir, tapi kenyataan yang kita hadapi sampai saat ini bahkan dalam menuju Pemilu 2009, banyak pemimpin yang mengaku beragama Islam sendiri memperlihatkan gaya yang saling salah menyalahkan satu sama lain dan tidak jarang menyerang tentang peribadi seseorang.

Dengan memperhatikan hal-hal yang kita utarakan diatas, agar kita mampu membangun Indonesia Baru, sangatlah ditentukan oleh keberhasilan ummat menentukan pilihan peran peran Kepemimpinan yang bermoral. Begitu resahnya orang-orang yang peduli akan reformasi, maka lahirlah isu-isu yang sedang dikumandangkan apa yang disebut dengan POLITIKUS BUSUK. Sejalan dengan pemikiran itu apa yang dapat kita lakukan pada saat sekarang ini dan harapan apa yang dapat kita bayangkan ditengah kemelut pelaksanaan reformasi kehidupan bernegara yang sedang kacau balau ini.

Oleh karena itu marilah kita mendukung pemikiran dalam mensosialisasikan isu politikus busuk menjadi mencari KEPEMIMPINAN YANG BERMORAL, agar perubahan yang kita harapkan bukanlah sekedar perubahan hanya membuat kebijakan-kebijakan yang hanya kepentingan sesaat, melainkan perubahan-perubahan untuk kepentingan jangka panjang yang harus ditopang dengan komitmen bersama dan juga tidak mempertentangkan keharusan sudah waktunya kaum muda yang tampil 2009. Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan untuk mempertemukan kesenjangan dalam pola pikir yang sejalan dengan tuntutan perubahan sikap dan perilaku dalam menatap masa depan yang kita dihadapkan disatu sisi memilih anggota legislatif secara tidak langsung disisi lain pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung yang menekankan dari partai.

PENDEKATAN DALAM MEMECAHKAN KESENJANGAN BERPIKIR

Pola pikir yang tumbuh dan berkembang dalam masa orde baru dan masa reformasi dalam mentalitas bangsa Indonesia, pada dasarnya dapat kita kelompokkan menjadi : Pertama, pola pikir yang berlandaskan kiblat kepada manusia dalam hubungan antara atasan dengan bawahan atau pengikut ; Kedua, pola pikir yang berlandaskan kiblat kepada karya yang diridhoi oleh Allah Swt.

Pengalaman telah menunjukkan kehancuran yang kita alami sampai saat ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena mereka tidak dapat melepaskan diri dalam pola pikir untuk bersikap dan berperilaku yang berlandaskan kiblat kepada manusia, walaupun katanya kita telah memasuki alam demokrasi. Setiap peran yang dimainkan oleh mereka dalam kedudukan baik di pemerintahan maupun swasta sangat mengagungkan benda dan kekuasaan dalam kehidupan demi untuk memperlihatkan status sosial yang bertentangan ajaran agama yang dipeluknya.

Sejalan dengan pemikiran yang telah kita ungkapkan diatas, maka salah satu pendekatan yang dapat kita pergunakan adalah menyamakan persepsi berpikir kedalam kesepakatan untuk merumuskan kereteria apa yang dapat dipergunakan untuk menilai kepemimpinan seseorang dalam menatap masa depan sbb. :

1. Kedewasaan rohaniah, dengan bobot : 20
1.1. Kejujuran dengan nilai (4)
1.2. Rasa cinta (4)
1.3. Bersyukur (4)
1.4. Sabar (4
1.5. Silahturami (2)
1.6. Memahami aturan main (2)

2. Kedewasaan sosial, dengan bobot : 20
2.1. Keteladanan dengan nilai (4)
2.2. Kebenaran (4)
2.3. Kepekaan (4)
2.4. Gaya hidup (4)
2.5. Berkarya untuk ummat (4)

3. Kedewasaan emosianal dengan bobot : 20
3.1. Kesadaran emosi dengan nilai : (5)
3.2. Kebugaran emosi (5)
3.3. Kedalam emosi (5)
3.4. Alkimia emosi (5)

4. Kedewaan intelektual dengan bobot : 10.
4.1. Ilmu dengan nilai : (2)
4.2. Pengetahuan (2)
4.3. Penguasaan informasi (2)
4.4. Penguasaan bahasa (2)
4.5. Penguasaan kumputer (2)

5. Kedewasaan dalam KKN dengan bobot 10:
5.1. Korupsi dengan nilai : (4)
5.2. Kolusi (3)
5.3. Nopotisme (3)

6. Kedewaan dalam hukum dengan bobot : 10
6.1. Pemahaman tentang hukum dengan nilai : (4)
6.2. Pemahaman perlakuan hukum (3)
6.3. Menjalani hukuman (3)

7. Kedewasaan dalam melaksanakan prinsip2 kepemimpinan : 10
7.1. Kolaborasi dengan nilai : (1)
7.2. Komitmen (2)
7.3. Komunikasi (1)
7.4. Kreatifitas individu (1)
7.5. Kreatifitas kelompok (1)
7.6. Inovasi organisasi (1)
7.7. Analisis masa depan (1)
7.8. Merespon dalam antisipatif (1)
7.9. Proses pengambilan keputusan (1)

Untuk menerapkannya, maka setiap unsur yang disebutkan diatas dijabarkan lebih lanjut, misalkan menjabarkan kedewasaan rohaniah.
Kreteria ini merupakan tonggak utama yang memberikn sinar kejiwaan seseorang, apakah ia mampu mengenal tentang dirinya, sebagai awal untuk apa ia hidupini dan bagaimana ia harus menjalankan dalam kehidupan sesuai dengan ajaran agama yang dipahaminya.

1.1. Kejujuran dengan nilai 4 :
Kejujuran merupakan sumber membentuk individu yang memiliki intergritas dan komitmen dalam berkarya sesuai dengan niatnya dalam bertindak :
• Berperilaku amar ma’ruf dan nahi munkar (4)
• Berperilaku amar ma’ruf tanpa melaksanakan nahi munkar (2)
• Berperilaku tanpa berprinsip hidup (0)
Dan seterusnya.

PENUTUP

Gagasan ini dilontarkan untuk menghindari silang pendapat yang terkait dengan isu-isu yang telah dikemukakan diatas, maka dalam usaha mencari solusi keresahan terhadap ketidak puasan yang ada dipelopak mata ini terhadap orang-orang yang sedang merebut peran dan kekuasaan yang sudah tidak dapat dipercaya lagi, maka sangat sulit untuk menyadarkan bagi orang-orang untuk belajar mengenal tentang dirinya, sebaiknya kita tidak usah membuat isu-isu yang dapat mendorong orang menjadi golput dan penuh kebingungan yang akan menimbulkan masalah baru dalam kita ingin memenagkan pelaksanaan PEMILU 2009

Oleh karena itu, marilah kita merumuskan kesatuan visi dalam sikap dan misi dalam perilaku melalui proses perumusan Kreteria Kepemimpinan Bermoral, setelah itu kita aplikasikan dalam kehidupan untuk mendidik pemilih setelah daftar nama calon diumumkan untuk dibentuk satu komite menilainya sesuai dengan kreteria yang ditetapkan secara kuantitatip untuk disebar luas kepada masyarakat tentang informasi yang dapat dipergunakan oleh pemilih mengambil keputusan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: