MENCARI MODEL PROSES BERPIKIR UNTUK MELAKSANAKAN PERUBAHAN

PENDAHULUAN

Menjelang Pemilu 2009, pada saat ini sudah terdapat pada Departemen Hukum dan Ham 95 buah partai lama dan baru mendaftarkan untuk mendapatkan pengesyahan berbadan hukum. Diantaranya lahir dari partai-partai besar dimana muncul dari gagasan yang ingin pembaharuan tapi tidak tersalurkan akhirnya mereka berontak menderikan partai tandingan.

Begitu mudahnya isu berkembang keinginan angkatan muda mengambil alih tampuk pimpinan dari angkatan tua, isu ambisi para politikus merebut kekuasaan aparil 2009, isu kasus-kasus KKN, isu pemekaran wilayah, isu pilkada, isu wafatnya Soeharto dsb, semua situasi tersebut mudah sekali dijadikan oleh pihak ketiga untuk melahirkan sikap dan perilaku yang pro dan kontra, dalam kehidupan masyarakat yang terpuruk.

Apakah situasi tersebut tidak mendorong manusia menemukan jati diri dalam berusaha untuk kebangkitan ummat dalam usaha mencari penyelesaian masalah daur hidup berbangsa dan bernegara yang sudah hampir pada daur posisi kematian. Mampukah angkatan muda dan tua bersatu menemukan jiwa tanpa topeng kepalsuan.

Seandainya kita percaya kerjasama membuat impian menjadi kenyataan , berarti dengan kedewasaan berpikir (dewasa disini tidak ditentukan oleh tingkat umur) manusia dapat memikirkan kekuatan pikiran untuk mmanfaatkan “OTAK” dalam arti rohaniah menjadi (O)rang, (T)awakal, (A)manah, (K)erja untuk memahami arti “Perubahan” bagi manusia yang tidak dewasa berikir berarti krisis bagi mereka yang tidak tahu, sebaliknya manusia yang mampu berpikir dewasa berarti kesempatan bagi yang tahu.

Dengan pemikiran itu, orang akan mengerti mengenai manusia “siapa, darimana dan kemana” untuk menuntun sikap dan perilaku dalam perjalanan hidup yang abadi, sehingga ia memahami benar makna kebebasan berkehendak.

Jadi kebebasan berkehendak sebagai landasan kita berpikir karena ia merupakan unsur dar keseluruhan dalam tubuh kebebasan manusia yang utuh dan lengkap yang tidak dapat dipisahkan dari unsur lainnya dengan kekuatan manusia yang bersedia memikul amanat.

Bagi seorang muslim sejenak ia akan merenungkan “kehancuran orang yang mendustakan kebenaran dan pertanggungan jawab masing masing manusia atas perbuatannya seperti yang termuat dalam QS. 53 : 39 – 42 :

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, (39) ; Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya) (40) ; Kemudian akan diberi balasankepadanya dengan balasan yang paling sempurna, (41) ; dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu) (42)

Dengan memperhatikan pemikiran diatas, marilah kita pertama menemukan titik temu dalam proses berpikir sehingga dengan membangun kesamaan pola berpikir sebagai pemahaman konsep dapat menuntun sikap dan perilaku sehingga setiap ucapan akan sejalan dengan perbuatan.

PEMAHAMAN POLA PIKIR SEBAGAI PENDEKATAN

Bila kita sependapat bahwa “nothing is permanent except change” (tak ada yang permanent kecuali perubahan itu sendiri) seperti yang diperjuangkan oleh MAHASISWA dari masa ke masa, tapi kenyataannya jauh dari harapan seperti yang dibayangkan sebelumnya bahwa “there is nothing wrong with change if it’s in the right direction (tak ada yang salah dengan perubahan jika itu mengarah pada yang benar).

Seperti halnya begitu mudah orang memikirkan perubahan UUD 1945 sampai empat kali terjadi, bahkan saat ini sudah ada isu untuk melakukan perubahan lagi, itu artinya kita tidak memiliki konsep dalam pola pikir, untuk menutun bahwa konsep

” kita tidak berubah sesuai dengan tuntutan perubahan berarti kita kehilangan banyak kesempatan berarti pula sikap dan perilaku tidak mengingkan perubahan itu yang akan berdampak buruk pada diri kita sendiri” inilah satu kenyataan kita hadapi saat ini, banyak orang ingin melaksanakan perubahan tapi ia sendiri tidak kemana akan pergi.

Oleh karena itu, perlu adanya semangat yang mendorong untuk menemukan kekuatan “berpikir besar” artinya dimulai dengan meletakkan landasan berpikir dimana perubahan sikap dan perilaku dalam proses berpikir haruslah radikal, agar kita mampu menuangkan pikiran dari tingkat masyarakat bawah, tapi harus berpikir global, agar kita bisa mengikuti perubahan.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka pendekatan yang akan dipergunakan untuk mewujudkan proses berpikir menjadi alat penyatu pola pikir dalam bersikap dan perilaku adalah pemahaman konsep sebagai alat perjuangan yang kita sebut “kebebasan berkehendak” yang ditata kedalam pemahman konsepsi “Demokrasi”

PENUTUP

Untuk melakukan perubahan proses berpikir secara radikal diperlukan satu model pendekatan yang dapat diterima oleh semua pihak dalam rangka mewujudkan kerjasama membuat impian menjadi kenyataan.

Sejalan dengan itu diperlukan jiwa tanpa topeng kepalsuan agar setiap manusia ada rasa bertanggung jawab dalam melaksanakan suatu konsep yang diyakini untuk melakukan sebagai alat perubahan sebagai pendekatan dalam bersikap dan berperilaku, yang kita sebut dengan pemahaman konsep “Kebebasan berkehendak atau dengan kata lain Demokrasi”

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: