MEMBANGUN DEMOKRASI TANPA KONSEP

PENDAHULUAN

Saat ini yang sudah kita capai adalah empat kali amendemen UUD ’45 yaitu perubahan pertama disahkan 19 Oktober 19999, perubahan kedua disahkan 18 Agustus 2000, perubahan ketiga disahkan 10 November 2001 dan perubahan keempat disahkan 10 Agustus 2002. Tapi apakah bangsa dan negara ini telah tumbuh dan berkembang dengan sumber kekayaan bumi dan alam yang luar biasa dianugerahi Allah SWT.

Apa yang kita hadapi saat ini satu kenyataan bahwa dikatakan pendapatan per kapita sebelum krisis ekonomi Asia Tenggara (Mei 1997 tercatat pendapatan per kapita sebesar US $ 1,600. per tahun dan dikelompokkan dalam “negara berpendapatan menengah”, itulah bayangan semu bila kita hubungankan dengan jumlah hutang Pemerintah, BUMN, dan Swasta yang begitu besar, maka perdapatan per kapita akan memberikan gambaran minus. Semua ini baru terkuah setelah kita menghadapi krisis ekonomi di Asia Tenggara pada Mei 1997.

Apa artinya itu semua bagi memasuki orde reformasi dimana budaya KKN bukannya dapat kita meminimumkan bahkan menjadi meluas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mampukah kita keluar dari daur hidup berbangsa dan bernegara dengan masalah penyakit yang kritis dan pokok. Kita hanya bisa bangkit bila kita mengadakan perubahan berpikir secara radikal, kalau tidak kita akan terus akan terpuruk dan inilah yang diinginkan pihak ketiga supaya NKRI tetap menjadi negara yang terkebelakang dengan penduduk memeluk agama islam yang terbesar. Mampukah kita keluar dan memecahkan masalah penyakit yang kita hadapi saat ini tanpa adanya komitmen dalam berbangsa dan bernegara dengan kepemimpinan yang dapat memberikan keteladanan.

Kalau begitu keadaannya, apakah kita menyadari pentingnya meletakkan landasan dalam revolusi berpikir, agar kita mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu sendiri. Dengan kondisi itu, dari mana kita memulainya ?
Apakah perlu kita mengungkit semua penyakit yang timbul karena sikap dan perilaku individu dan kelompok yang telah menyebabkan ketidak mampuan kita untuk tumbuh dan berkembang dan mudah diombang ambingkan oleh pihak ketiga.
Seandainya itu kita persoalkan, kita tidak pernah bertemu pandangan untuk masalah yang sedang kita hadapi bila telah menyangkut kepentingan individu dan kelompok, pengalaman itu telah mengajarkan kepada kita.

Dalam masa pemerintahan manapun kita dapat membaca dan menganalisa pertanggungan jawaban setiap tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Begitu banyak informasi yang kita dapatkan baik yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, Biro Pusat Statistik, Analisis dari para ahli dari berbagai bidang pengetahuan.

Sebaliknya tulisan ini dalam bentuk lain artinya kami mencoba memikirkan sesuatu tidak dengan model berpikir methodis artinya menyatukan kemampuan otak dan hati melainkan berpikir dalam kerangka dalam mengembangkan kemampuan berpikir intiutif kami untuk “Merenung Mampukah Kita Membangun Bangsa Untuk Tumbuh dan Berkembang”

PERUBAHAN POLA PIKIR SECARA RADIKAL

Pengalaman telah menunjukkan kepada kita peran-peran yang dijalankan sesuai dengan UUD 1945 sebelum dan sesudah perubahan ternyata tidak menunjukkan harapan dalam merealisasikan jabatan, fungsi, tugas, kerja seperti apa yang ditetapkan.

Jabatan, peran dalam berbangsa dan bernegara silih berganti dengan gaya kepemimpinan yang berbeda yang tidak sejalan dengan persfektif bangsa dan negara, oleh karena itu setiap terjadi penggantian kepemimpinan peran tidak berjalan sebagai mana mestinya, mengapa ? Inilah satu kenyataan yang kita jawab bersama sebagai bangsa dan bernegara.

Jadi setelah kita memasuki reformasi kehidupan bernegara dan berbangsa, dimana realita menunjukkan kehadapan kita sebagai bangsa apakah kita masih bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan cita-cita bangsa.

WHY ? Tidak lain, karena belum siapnya kita menerima demokrasi, sebagai alat untuk melaksanakan reformasi dari seluruh aspek kehidupan bernegra.

WHEN ? Tidak lain, karena sejak lama kita dijajah dalam proses berpikir, dalam masa penjajahan, merdeka sampai kini kita sulit untuk berubah.

WHAT ? Tidak lain, dalam masa orde baru demokrasi bernafas hanya suatu retorika belaka, sehingga lembaga pendidikan tidak mampu untuk menjadi daya dorong sebagai basis kehidupan berdemokrasi dan sudah menjadi budaya bahwa setiap pemimpin mementingkan individu dan kelompoknya.

HOW ? Tidak lain, karena ketidak kemampuan kita merubah pola pikir lama dari memecahkan masalah ke menghindari masalah, sehingga selalu salah dalam menyelesaikan masalah.

WHO ? Tidak lain, karena kepemimpinan dalam semua peran dalam menjalankan tugas bangsa dan Negara saat ini tidak memiliki sensitivitas dalam mewujudkan kepentingan bangsa dan Negara.

Jadi tidak heran kita menghadapi seorang pemimpinan yang tidak memiliki sensitivitas sehingga menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak memiliki intergritas berbangsa dan bernegara.

Coba simak kepemimpinan nasional masa Soekarno dan Hatta dimana Hatta yang bertentangan pandangan dengan senang hati untuk mengundurkan diri dari kekuasaan, satu contoh keteladanan yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh siapapun saat ini. Hubungan mereka tetap baik, bahkan saling surat menyurat diantara mereka.

Semua pemimpin saat ini kiblatnya kepada manusia, sehingga sikap dan perilakunya sangat sulit berubah, lebih-lebih kalau kepentingannya dan kelompoknya ditentang. Kesemuanya itu lahir dari sifat kepribadian yang materlistiik, sehingga ia tidak mampu untuk mengenal tentang dirinya. Inilah satu kenyataan yang kita hadapi

Oleh karena itu disana sini lahirlah ketidak puasan, yang menginginkan perubahan dengan cepat, yang tidak mungkin kita capai, siapapun dia. Tapi gelombang perubahan tidak dapat dibendung yang selalu dimotori oleh MAHASISWA yang telah menunjukkan hasil perubahan berbentuk tumbangnya kekuasaan orde lama yang melahirkan orde baru, sekali lagi tidak ada perubahan mindset untuk keluar dari ketidak mampuan meninggalkan kepentingan individu dan kelompok yang memliki dampak yang luas lagi sampai tahun 1995.

Begitulah kenyataan yang kita hadapi harus gelombang ketidak kepercayaan bergulir dengan kekuatan mahasiswa sebagai penggerak ketidak puasan disana sini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kekuatan MAHASISWA harus ditafsirkan dari haruf menjadi kata kedalam untaian kalimat, artinya kata MAHASISWA terdiri dari (M)anusia ; (A)mbisi ; (H)ati) ; (A)kal ; (S)ehat ; (I)ntelektual ; (S)asaran ; (W)awasan ; (A)ngkatan.

Jadi MAHASISWA adalah (M)anusia yang memiliki (A)mbisi yang digerakkan oleh cahaya mata (H)ati dengan keputusan (A)kal yang (S)ehat dengan landasan (I)nteletual sebagai (S)arana untuk menumbuh kembangkan (W)awasan ke dalam (A)ngkatan penggerak dalam pembaharuan dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, MAHASISWA sebagai angkatan penggerak dalam revolusi berpikir, maka apakah tidak ada arti pengalaman untuk mengajarkan perubahan tingkat kesadaran kepemimpinan dari masa lalu ke masa kini menuju ke masa depan dimana letak kesenjangan itu terjadi. Kesenjangan itu terus bergulir seperti hidup ini dikejar bayangan ketidak pastian dari seluruh aspek kehidupan.

Kalau begitu keadaannya, apakah kita menyadari pentingnya meletakkan landasan dalam revolusi berpikir, agar kita mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan itu sendiri. Dengan kondisi itu, dari mana kita memulai-nya ? Apakah perlu kita mengungkit semua penyakit yang timbul karena sikap dan perilaku individu dan kelompok yang telah menyebabkan ketidak mampuan kita untuk tumbuh dan berkembang.
Mampukah kita bajar dari pengalaman masa lampau dan masa kini untuk menangkap perubahan berpikir menuju ke masa depan. Masih perlu kita pertanyakan kepada diri kita masing-masing, tapi ada bukti bahwa kekuasaan dapat mempengaruhi kesadaran seseorang bisa merubah mempengaruhi perubahan dari kesadaran tauhid (paling tinggi), berubah mejadi kesadaran spiritual (tingkat ketiga), berubah menjadi kesadaran rasional / ilimiah (tingkat kedua) dan akhirnya terbentuk menjadi kesadaran inderawi (tingkat pertama / terendah).

Begitulah perjalanan hidup ini, ternyata yang diutamakan kepentingan pribadi dan kelompok sangat sulit menangkap perubahan apa yang sedang bergerak, sehingga ucapan tidak sama dengan perbuatan yang menggambarkan jiwa dengan topeng kepalsuan.

MENYAMAKAN POLA PIKIR

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka diperlukan satu pendekatan agar terwujud kebersamaan dalam memandang masa depan agar dapat memberikan daya dorong bagi semua pihak yang dapat memberikan sumbangan pemikiran agar wujud berbangsa dan bernegara dapat kita realisasikan dari kehidupan masa kini ke masa depan melalui perubahan berpikir secara radikal dalam memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi.

Pendekatan yang dipergunakan adalah melaksanakan demokrasi dan manusia dalam pemahaman secara utuh. Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka apa yang telah kita ungkapkan diatas agar kita dapat mememahami untuk melaksanakan pendekatan tersebut dengan tujuan :

• Memberikan peluang untuk kita bisa bertukar pikiran tentang pentingnya menyatukan kesamaan visi dalam bersikap dan misi dalam berperilaku
• Menyatukan kesamaan pandangan dalam merumuskan masalah yang kita hadapi terhadap pelaksanaan demokrasi dan manusia secara utuh.
• Mengembangkan kebersamaan dalam komitmen untuk mewujudkan keseimbangan kepentingan berbangsa dan bernegara.
• Merumuskan pemikiran pemecahan untuk tumbuh dan berkembang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kalaulah kita sependapat dengan pemikiran diatas, maka harapan dalam persfektif untuk memecahkan kesenjangan model berpikir masa lampau menuju ke model berpikir ke masa baru, kita harus pertama-tama meyakinkan diri sendiri bahwa kita bisa berubah sesuai dengan tuntutan perubahan yang kita kehendaki bersama.

Tanpa niat dengan keinginan yang ikhlas tidak mungkin kita dapat menemukan titik pandang yang sama untuk mewujudkan cita-cita yang termuat dalam mukadimah UUD 1945.

Bertitik tolak dari hal-hal yang kita kemukakan diatas, marilah kita secara terbuka untuk mengungkapkan jalan pikiran kita sehingga kita mampu berpikir untuk menyatukan pandangan yang sama bagaimana sebaiknya sikap dan perilaku individu dan kelompok mencari bentuk dalam memanfaatkan demokrasi dan manusia seutuhnya.

PENUTUP

Dari jejak perjalanan maka perjuangan mahasiswa dari orde lama ke orde baru ke orde reformasi terkesan suatu perjuangan yang berlatar belakang situasi yang menimbulkan masalah ketidak puasan dari para pelaku peran dalam lembaga eksekutif, legislatif dan judikatif serta pelaku ekonomi tidak mampu merubah pola pikir yang berlandaskan kesadaran inderawi yang mendewakan materialisme dalam kehiupan.

Keadaan tersebut mendorong Negara dan bangsa Indonesia tidak bisa keluar dari daur hidup yang terpuruk yang disebut dengan masalah yang komplek dan penyakit dan situasi tersebut yang dikehendaki pihak ketiga agar Negara dan Bangsa Indonsia dengan berpenduk hamper 90 % memeluk Agama Islam dianggap menjadi pendobrak dunia masa depan.

Kenyataan tersebut terus berlangsung dimana angkatan muda dan mahasiswa diadu domba dengan angkatan tua dan tak jarang pula tokoh Islam juga terlibat.

Untuk menambah wawasan Bacalah buku Islam Demokrasi Atas Bawah, polomik strategi perjuangan ummat model Gus Dur dan Amien Rais ; Fakta Diskrimansi Rezim Soehato terhadap Ummat Islam. Begitu juga buku-buku dermokrasi banyak ditulis Seperti Soekarno, Hatta, Gus Dur Amin Rais, Mochtar Lubis, Soedjatmoko, dan sebagainya.

Tak jarang pula memberi arti tersendiri bila membaca seperti “Dibawah bendera oposisi, pembelaan alhilal dalam perkara mahasiswa Indonesia di pengadilan Negeri kelas 1 Bandung” ; Hati Nurani Seorang Demonstran, Hariman Siregar” ; Jalur Baru Sesudah runtuhnya ekonomi terpimpin ; “Opini Masyarakat, Reformasi Kehidupan Negara” Menggugat masa lalu, menggagas masa depan ekonomi Indonesia “ Dialog Indonesia kini dan esok” Menuju masyarakat baru Indonesia, antisipasi terhadap tantangan abad XXI “ Membangun Indonesia Baru “ Kapan Badai Akan Berlalu” dan banyak lagi buku-buku seperti untuk membangun inspirasi.

Lihat pula pada kenyataan setelah Mantan Presiden Soeharto wafat, fihak ketiga sangat mudah sekali mengadu dombakan fihak-pihak yang pro dan kontra sehingga kita terjerat kepada bukan mencari pemecahan masalah tapi menimbulkan masalah baru, biarlah situasi berjalan sebagai mana mestinya, tapi dibalik itu marilah menyusun dan mencurahkan pikiran serta energi kita untuk melihat kemasa depan kedalam satu konsep pemahaman demokrasi seabagai sistem yang hendak ditegakkan, aplikasi konsep dari sub-sistemnya dan menuangkan kedalam GBHN yang akan menjadi bagi calon pemimpin nasional yang terpilih.

Sejalan dengan pemikiran diatas forum ini dapat kita jadikan langkah awal untuk bertukar pikiran dalam merumuskan “Pemahaman Demokrasi sebagai suatu konsep perjuangan”, tidak salah tulisan ini kami tujukan kepada “Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan” (ketua M Fadjroel Rachman) atau pihak-pihak yang memiliki minat untuk berpartisipasi.

Tags: , , ,

Leave a Reply