BAB IV MAKNA AMANAH DALAM OTAK

Amanah merupakan tanggung jawab manusia sejalan dengan fitrah dan bakat yang dimilikinya sejak lahir, oleh karena itu manusia yang diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang mulia disisi Tuhan, maka dengan memanfaatkan otak, ia harus mampu meningkatkan kesempurnaan dalam perja-lanan hidup abadi.

Dengan pemikiran itu setiap manusia ibarat kata pepetah bah-wa manusia sebagai individu berusaha menemukan tentang di-rinya, itu berarti ia akan mengenal tentang Tuan. Hikmah berpikir tersebut hanyalah sebagai daya dorong dalam setiap langkah menuju kejalan kesempurnaan

Mencintai kesempurnaan merupakan fitrah yang kuat untuk menuntun manusia dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di dunia ini sebagai tanggung jawab yang harus dipenuhinya.

Dengan pikiran itu marilah kita mencoba merenung dari huruf menjadi kata bermakna dalam amanah sebagai suatu pemaham-an yang lebih mendalam apa arti hidup di dunia ini. Dengan pemahaman itu ia akan berusaha menempatkan perjalanan hidup ke arah yang diridhoi oleh Allah SWT. Sikap dan perilaku akan dituntun oleh kemampuan berpikir, oleh karena itu dibawah ini diungkapkan kata amanah sebagai berikut :

A menjadi Amal
M menjadi Martabat
A menjadi Akhlak
N menjadi Nasib
A menjadi Azab
H menjadi Hari

Jadi untuk mendalami makna AMANAH dilihat dari unsur tiap huruf dalam kata tersebut memberikan daya dorong dalam menangkap hikmah berpikir agar wujud percaya dan menyerah menjadi satu kenyataan dalam bersikap dan berperilaku.

AMAL, adalah menyangkut perintah Allah SWT melalui pesu-ruh-Nya Nabi Muhammad SAW untuk menjalankan syariat yang menyeluruh persoalan hidup lahir dan batin, artinya Allah SWT menetapkan bahwa syariat lahir adalah untuk diamalkan oleh jasad lahir, sedangkan syariat batin adalah untuk diamal-kan oleh jasad batin (roh)

Didalam Al Qur’an kata amal dapat kita ketemukan dalam surat dan ayat pada S.Q. 2 : 167, 223 ; 3 : 57 , 136, 139 ; 5 : 53 ; 6 : 88 , 160 ; 7 : 53 , 171 ; 11 : 7 ; 17 : 13 ; 42 : 15 ; 49 : 2, 14 ; 50 : 17 ; 58 : 6 ; 67 : 2.

Sebagai contoh S.Q. 2 : 167 “Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api Neraka “

S.Q. 2 : 223 “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”

Bila kita renungkan ayat tersebut diatas dan memahami pula arti amalan, maka kita akan dapat lebih mendalami kandungan surat dan ayat lain yang akan memberikan arti dalam pemahaman keberadaan manusia sebagai khalifah di dunia ini untuk menjalankan AMANAH sesuai dengan perintah-NYA.

Untuk itu sebagai daya dorong dalam usaha-usaha manusia untuk selalu ingat kepada keyakinan dan berserah diri kepada Allah SWT, maka diperlukan adanya suatu cara pendekatan dalam mendorong untuk menciptakan hihmak berpikir agar kita selalu dapat menempatkan sikap dan perilaku untuk menjalankan AMANAH dengan mengingat hal-hal yang termuat dalam surat dan ayat yang menjadi batasan tentang diri kita yaitu :

• Pemahaman arti amal saleh.
• Balasan Allah kepada amal seseorang menurut niatnya.
• Balasan masing-masing tergantung amalannya.
• Balasan untuk yang beramal baik
• Derajat seseorang disisi Tuhan sesuai dengan amalnya.
• Hendaknya segala amal dikerjakan karena Allah.
• Balasan terhadao orang beramal buruk.
• Jaji Allah bagi yang mengerjakan amal saleh.
• Kemuliaan manusia terletak pada amal dan imannya.
• Amal salleh mempertemukan manusia dengan Tuhannya.
• Amal saleh yang kekal lebih baik dari perhiasan dunia.
• Setiap amal mendapat pahala dari Tuhan.
• Setiap orang akan memetik buah amalnya sendiri.
• Setiap orang telah ditetapkan amal perbuatannya.
• Tuhan tidak menyianyiakan amal seseorang.
• Amal untuk kebaikan dirinya sendiri.
• Yang menerima buku amal dari kanan akan menerima pemeriksaan yang mudah.
• Yang menerima buku amal dari belakang akan masuk neraka.
• Yang mengerjakan amal dalam keadaan beriman akan diberi pahala.

Demikianlah bila kita selalu mengingat-ingat hal-hal yang kita sebutkan diatas, maka setiap kita berpikir dalam melaksanakan sesuatu akan menuntun kita dalam bersikap dan berperilaku ke jalan yang benar, maka disitulah letak kebahagian kita menyiapkan bekal dalam menuju perjalanan abadi.

MARTABAT, tingkat harkat kemanusiaan dimata Allah SWT, dimana manusia memahami secara bulat apa maksud ia diciptakan-Nya untuk beribadah, sebagai khalifah, sebagai Ummat Nabi Saw dalam melanjutkan perjuangannya.

Untuk beribadah bukan hanya manusia tetapi seluruh makhluk di muka bumi ini beribadah menurut caranya masing-masing. Untuk itu perhatikan perintah Allah SWT dalam Al Qur’an seperi yang termuat dalam

S.Q. 24 : 41 “Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Jadi ibadanya Matahari yaitu dengan bergerak setiap hari dari tumur ke barat, begitu juga ibadahnya air yaitu senantiasa me-ngalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Apalagi manusia makhluk yang paling sempurna asal kejadiannya.

Sebagai khalifah, ketika Allah SWT menciptakan manusia, maka malaikat proten, seperti yang termuat dalam surat :
S.Q. 2 : 30 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Oleh karena itu, manusia sebagai penanggung jawab di muka bumi dan sebagai khalifatullah yang diberi sifat kasih sayang kepadea seluruh manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sejalan dengan pikiran itu bahwa pada diri setiap manusia ter-dapat empat sifat sesuai dengan kehendak Allah SWT yaitu 1) sifat hewanniyah, menggunakan harta dan diri untuk makan, minum, dan keperluas jasmani lainnya ; 2) sifat Malaikat menggunakan harta dan diri untuk ibadah ; 3) sifat Khalifah menggunakan harta dan diri untuk memberi manfaat kepada orang lain ; 4) sifat Nubuwwah menggunakan harta dan diri di jalan Allah (untuk memperjuangkan agama Allah).

Sebagai Ummat Nabi Saw, setelah meninggal Rasulullah Saw, maka tugas untuk mangajak manusia taat kepada Allah SWT, maka tugas ini diembankan kepada ummat ini. Seperti yang termuat dalam surat dibawah ini :

S.Q. 12 : 108 “Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”.

Cobalah renungkan bahwa orang yang bertaqwa kepada Allah dengan martabat yang tinggi seperti yang tercantum dalaam Al Qur’an pada S.Q. 25 : 75 “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”

AKHLAK, sistem nilai yang sesuai dengan ajaran dianut oleh manusia yang sejalan dengan keyakinan dan kepercayaan yang dapat menuntun manusia dalam bersikap dan berperilaku.Oleh itu dalam islam maka sistem yang dimaksud adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber nilainya.

Jadi akhlak yang menuntun dan membentuk kepribadian indi-vidu manusia sehingga setiap individu berbeda dari orang lain, oleh karena itu seberapa jauh seseorang dapat berakhlak dengan kepribadian sesuai dengan tuntunan Allah SWT, tergantung yang bersangkutan mengangkat derajatnya di mata Allah.

Mengenai dasar-dasar akhlak dapat kita ketemukan dalam Al Qur’an pada surat-surat S.Q. 7 : 199, 200, 201 ; 2 :109 ; 3 : 134, 159 ; 4 : 149 ; 5 :13. Dibawah ini kita ungkapkan surat dan ayat yang dimaksud sebagai berikut :

S.Q. 7 : 199 “Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

S.Q. 7 : 200 “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

S.Q. 7 :201 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

S.Q. 2 : 109 “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.
Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

S.Q. 3 : 134 “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

S.Q. 3 : 159 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Dari contoh surat dan ayat yang kita ungkapkan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa bimbingan yang diberikan Islam merupakan pendekatan yang paling luhur dan paling ber-harga yang dapat menuntun akhlak dengan kepribadian yang luhur sehingga dapat menuntun dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan fitrah dan bakat untuk meman-faatkan hikmah berpikir ke jalan Allah SWT.

NASIB, adalah sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang. Apa kita dapat merubahnya. Tergantung kepada perjalanan hidup yang ditempuhnya.

Oleh karena itu ingatlah selalu kata mutiara seperti “Sesungguhnya Allah menjadikan rejekiku dibawah bayang-bayang usahaku”

Kata nasib didalam Al Qur’an terdapat pada surat dalam S.Q. 5 : 3, 26, 90 ; 27 : 47.

Sebagai contoh kita ungkapkan pada S.Q. 5 : 3 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sejenak bila kita merenung surat-surat dan ayat didalamnya tentang nasib, maka kita dapat menuntun perjalanan hidup ini dengan penuh keyakinan dan berserah diri kepada-NYA dalam memanfaatkan hihmak berpikir untuk usaha hidup kedalam :

• Bagi duniamu (perumpamaan dunia seperti air hujan ; perumpamaan kehidupan dunia yang mempesonakan maanusia ; kehidupan dunia ini kesenangan yang menipu ; dunia itu indah dalam pandangan manusia ; kehidupan dunia adalah senda gurau dan main-main ; kehidupan dunia jangan sampai memperdayakan ; kehidupan dunia jangan sampai menipu ; kenikmatan dunia jangan membuat kikir ; kehidupan dan kenikmatan dunia jangan sampai menyeret ke dalam neraka ; kehidupan dunia memperbudak oraang yang mengabdinya)

• Bagi pekerjaanmu (bekerja sebagai tanda syukur kepada Allah ; sebgian besar yang dimakan manusia dari hasil bekerja ; Allah menjadikan siang agar manusia berusaha / bekerja ; ketika bekerja ingatlah ibadah kepada Allah ; pekerjaan manusia memang berbeda-beda ; bekerjalah seadanya yang penting halal jangan malas ; tak ada yang lebih baik makan dari hasil usahanya sendiri ; para nabi juga bekerja ; ingatlah bahwa rezeki masing-masing manusia itu berbeda).

• Bagi saat kayamu (kaya yang sebenarnya adalah kaya jiwa ; kaya yang teladan, patut diirikan ; kebanyakan orang hidup mewah adalah mendustakan kebenaran ; janganlah rakus / tamak terhadap dunia ; tabungan anda yang sebenarnya adalah sedekah anda ; mendermakan kelebihan harta suatu kebajikan ; jika kaya ingatlah orang-orang miskin ; jangan berlaku boros tidak pula kikir ; jangan terperdaya oleh harta dan wanita ; jangan menjadi hamba harta )

• Bagi saat miskinmu (kaya atau miskin itu kehendak Allah, tak perlu hiri hati ; dialah orang yang sesungguhnya miskin ; orang miskin masuk surga lebih dahulu ; kebanyakan yang masuk surga adalah orang-orang miskin ; rasulullah hidup sangat sederhana ; keluarga rasulullah juga sangat sederhana ; doa nabi untuk memohon rezeki ; qona’ah terhadap pemberian Allah ; meski miskin jangan meminta-minta ; jika mengetahui balasannya, maka akan minta miskin.)

• Bagi waktu luangmu (gunakan lima perkara penting se- belum datang lima yang lain ; selalu ingatlah terhadap mati agar waktu bermanfaat ; hari demi hari hendaklah amalan ibadah semakin meningkat ; berlomba-lomba dalam kebajikan unrtuk mengisi waktu ; perlu menyusun rencana untuk masa depan / akhirat ; senantiasa ingat kepada allah agar tidak merugi ; sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi ; banyak berbuat kemanfaatan untuk orang lain ; jangan menghabiskan waktu seperti orang-orang kafir ; jangan mengisi waktu dengan dosa.

• Bagi waktu sempitmu ( mohon perlindungan allah ; tidak memanfaatkan kesempitan untuk kejahatan ; selalu ingat bahwa kehidupan dunia hanya sebentar ; beramal kebajikan meski dalam kesempitan ; dalam kesempitan hendaklah selalu bersabar ; dalam kesempitan hendaklah bersegera untuk taubat ; meskipun dalam kesempitan iangan melanggar larangan allah ; meski dalam kesempitan jangan melanggar hak orang lain ; meski dalam kesempitan janganlah berharap akan kematian ; mohon kelapangan keepada allah)

• Bagi masa mudamu (pemuda yang mendapat naungan allah ; menjaga masa muda senantiasa dekat kepada allah ; mulai muda banyak mengisi dengan amat ibadah ; mulai muda banyak mencari ilmu dan mengajarkannya ; ingatlah perjuangan jihad mumpung masih muda ; jadilah anak yang saleh ; senantiasa yang muda menghormati yang tua ; Yang muda mengetahui hak yang lebih tua ; yang muda ingin panjang umur dan lapang rezeki ; berusahalah jika allah menghendaki segala sesuatu akan berubah atau terjadi)

• Bagi masa tuamu (sadar dengan cukupnya umur ; umur panjang yang tidak berkah ; sudah berapakah umur di badan ? ; meski tua jangan berharap mati ; kiat umur panjang penuh berkah ; akhlak yang baik menambah beratnya timbangan ; semakin tua semakin banyak berdzikir ; semakin tua banyak istighfarnya ; beramal yang tiada putus pahalanya ; orang tua yang baik selalu menyayangi yang muda ;

• Bagi kala sehatmu (sehat adalah kenikmatan yang perlu disyukuri ; menggunakan waktu sehat sebaik-baiknya sebelum datang sakit ; memperbanyak amal ibadah agar usia lebih berkah ; jangan sombong karena badan sehat dan kuat ; badan dan dan mental sehat,hati harus juga sehat dan selamat ; meski sehat memperbanyak doa, itu tanda tidak sombong ; menjaga kesehatan dengan berhati-hati mengisi perut ; ingaat banyak mati, orang sehat ada juga mati ; menjaga diri dan kesehatan tidak membinasakan diri ; dilarang keluar masuk daerah yang terserang wabah.)

• Bagi kala sakitmu (sadar bahwa sakit itu dengan izin allah dan dia yang menyembuhkannya ; sabar dan tabah di kala sakit dan berbaik sangka kepada allah ; sakit dapat menghapus dosa-dosa ; perlu bersyukur meski sakit, karna amalan harian ketika sehat diberi pahala ; boleh mengadu kepada allah atau seseorang asalkan bukan karena kecewa ; bila sakit segera berobat ; dilarang berobat dengan barang haram ; boleh berobat dengan doa-doa dan mantra yang tidak syirik ; dilarang memakai jimat dan isim ; banyak mengingat mati, tetapi jangan minta mati.)

Oleh karena itu, apa yang telah kita ungkapkann diatas untuk merenung nasib apa yang harus kita kembangkan dalam pikiran ini agar selalu ingat bagaimana sebaiknya bersikap dan berperilku. Sejalan dengan pikiran tersebut, marilah kita renungkan bahwa Allah tidak mengubah nasib seseorang kecuali mereka merubah keadaan, seperti termuat pada surat :

S.Q. 8 :53 “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,”

S.Q. 13 : 11” Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Begitu pula halnya untuk kita renungkan dalam menjalankan hidup ini yang kita sebut dengan :

Nasib Malang karena perbuatan sndiri, yang dimuat dalam surat S.Q. 36 : 19 “Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas”.

Nasib orang yang menentang ayat Allah, yang dimuat pada S.Q. 40 : 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76 .

Sebagai contoh pada
S.Q. 40 : 69 “Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan?

AZAB, adalah siksa atas perbuatan manusia yang diturunkan oleh Allah SWT, karena manusia tidak mengikuti perintah dan menjahui larangan yang telah di tetapkan-Nya.

Seharusnya manusia memahami benar atas tiga alat yang harus kita perhatikan dalam menjalankan hidup ini : 1) Otak letaknya lebih tinggi dari jantung, tempatnya juga lebih rapi dari tempat jantung yaitu di kepala ; 2) Jantung lebih tinggi dari perut besar dan tempatnya lebih rapi dari perut yaiti di dada ; 3) Perut besar hanya di bungkus dengan kulit saja sedang tempatnya juga lebih rendah. Dari ketiga tempat masing-masing itu mempunyai hikmah dan arti bagi orang yang berpikir.

Bertitik dari pemikiran diatas, maka Allah SWT telah menetapkan tempat tinggal sementara bagi manusia dan makhluk-makhluk lain yang hidup berdampingan. Dalam menempuh kehidupan ini manusia sangat membutuhkan sarana dan fasilitas hidup yang memadai dan semua itu telah Allah sediakan jauh sebelum manusia diciptakan. Sejalan dengan itu begitu banyak telah diungkapkan dalam surat dan ayat mengenai Azab seperti pada surat No. 3, 4,5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 51, 52, 53, 54, 57, 58, 59, 61, 64, 65, 67, 68, 70, 71, 72, 73, 75, 76, 77, 78, 79, 83, 84, 85, 88, 89, berikut dengan ayat-ayat yang ada dalam surat tersebut. Sebagai contoh dibawah ini diungkap dalam surat

pada S.Q. 3 : 77 “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

S.Q. 3 : 106 “pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.

Begitu banyak surat dan ayat yang mengingat manusia dalam bersikap dan berperilaku, tapi manusia masih saja kita mengerti arti keberadaannya di dunia dan oleh karena itu lebih sering kita mengingat hal-hal seperti dibawah ini :
• Allah mengazab orang kafir
• Allah mengazab suatu kaum setelah diperingatkan
• Azab Allah pasti datang pada waktunya
• Azab Allah pasti kepada yang mendustakan karunianya
• Azab bagi orang kafir di neraka
• Azab buruk untuk orang yang tidak percaya akhirat
• Azab Tuhan atas kaum yang durhaka
• Dan seterusnya.

Dengan sering kita merenung dan menghayati tentang datangnya azab oleh Allah SWT dan dalam Al Qur’an pun menye-butkan istilah dan penamaan yang berbeda seperti Fitnah, Musibah, Bala’, dsb, namun manusia masih saja tidak mampu memanfaatkan hikmah berpikir untuk mngingat dalam perjalanan hidupnya bahwa :

• Kalau jasmani makan, rohani juga makan yaitu dengan pengetahuan.
• Kalau jasmani berpakaian, rohani mesti berpakaian yang kita sebut dengan budi.
• Kalau jasmani berlatih, rohani juga dilatih yaitu dengan kesusahan.
• Kalau jasmani dibersihkan, rohani juga dibersihkan dengan kesucian bathin.
• Kalu jasmani diobati, rohani juga harus diobati.

Oleh karena dengan itu hikmah berpikir, menuntun manusia untuk memahami ajaran islam tidak mau tumbuh di atas jiwa yang dibungkus oleh kemusyrikan dan kebendaan.

HARI, adalah bagai sepatu yang harus dipakai untuk berjalan. Kita akan berpikir pula bahwa hari yang terpanjangpun akan berakhir. Oleh kareena itu bayangkan pula hari-hari tanpa tujuan akan berakhir dengan kehampaan, sedang kehampaan akan berakhir dengan kehancuran.
Jadi dengan pikiran tersebut diatas untuk menuntun perjalanan hidup dengan memahami hari-hari yang akan kita lalui dalam hidup ini. Oleh karena itu Allah menciptakan manusia melalui beberapa fase kehidupan kedalam hari-hari yang dilalui yaitu

• Alam Roh, alam sebelum jazad manusia diciptakan.
• Alam Rahim, alam kandungan ibu tempat menyempurnakan jazad manusia dan penentuan kadar nasibnya di dunia yaitu hidupnya, rezekinya, kapan dan di mana ia meninggal dunia
• Alam dunia, alam tempat ujian bagi manusia, siapakah di-antara mereka yang paling baik amalnya.
• Alam kubur, alam tempat menyimpan amal manusia. Di alam ini Allah menyediakan dua keadaan yakni nikmat atau azab kunur.
• Alam akhirat (alam tempat pembalasan amal-amal manusia) Di alam ini Allah menentukankeputusan dua tempat untuk manusia, apakah ia akan menghuni surga atau menghuni neraka.

Hari-hari yang dilalui manusia di dunia merupakan usaha manusia menempuh ujian dalam perjalanan hidupnya untuk meningkatkan amal dan iman.

Untuk mengingat hari yang kita maksudkan itu, kita dapat me-mahaminya dalam Al Qur’an pada Surat No.3, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17 dengan ayat-ayat yang tercantum dalamnya, sebagai contoh dibawah ini diungkapkan :

S.Q. 3 : 9 “”Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

S.Q. 3 : 25 “Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).

S.Q. 4 : 38 “Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.

S.Q. 5 : 3 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dengan kemampuan manusia untuk berpikir diharapkan manu-sia menyadari arti hidup baginya dalam menatap dalam perjalan an hidup pada hari-hari yang dilalui dengan mengingat seperti hal-hal dibawah ini :

• Hari anak dan harta tak berguna.
• Hari hisab / perhitungan
• Hari kemenganan
• Hari akhirat
• Hari kiamat
• Yang percaya pada kiamat akan mendapat pahala
• Dan seterusnya.

Jadi dengan bepikir, manusia dapat menghayti arti hidup yang hari-hari dilaluinya, oleh karena itu brusahalah selekas-lekasnya berbuat yang baik sehingga lebih baik berbuat demikian hari ini daripada hari esok hari. Sebab hidup adalah pendek sedangkan waktu berlari kencang.

Dengan mengungkap makna huruf dalam kata AMANAH sebagai unsur A dalam kata “OT(A)K mengandung makna dari untaian huruf menjadi kata bermakna bahwa AMANAH adalah(A)MAL dalam menjalankan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan percaya dan menyerahkan diri dalam amalan lahir dan amalan batin kedalam usaha menumbuh kembangkan (M)ARTABAT menjadi kepribadian individu yang memiliki(A)KHLAK untuk menuntun (N)ASIB agar menjahui (A)ZAB yang diturunkan Allah SWT bagi manusia yang tidak percaya akan (H)ARI Akhirat dalam menuju perjalanan abadi.

Dengan memahmi makna amanah dari unsur huruf menjadi kata bermakna, mampukah kita secara berkelanjutan untuk mening-katkan kesadran dari tingkat yang paling rendah yang disebut indrawi ke tingkat kedua yang disebut berpikir logis ke tingkat ketiga yang disebut berpikir rohaniah ke tingkat yang paling tinggi disebut berpikir tauhid. Itu berarti secara bertahap kita berusaha untuk mengenal tentang diri kita. Oleh karena itu, makin lama saya hidup makin terasa indah hidup ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jadi ingatlah selalu dalam bersikap dan berperilaku untuk selalu menyiapkan diri menuju ke perjalanan abadi karena itu janganlah kamu menyesali hidup ini tapi pandanglah hidup itu adalah lautan pengorbanan untuk mencapai sesuatu yang luhur yang tak terbatas. Dengan begitu kita menyadari sepenuhnya arti penderitaan hidup yang mengajarkan kepa-da manusia menghargai kebaikan dan keindahan hidup.

One Response to “BAB IV MAKNA AMANAH DALAM OTAK”

  1. Hendy Damanik Says:

    sukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: